"Dari bumi"
"Apaan sih maksudnya, kok nunjuk kebawah, emangnya kamu terbuat dari inti sel bumi? Apa jangan-jangan kamu sadako? Shodaqoh? Yang film horor jepang gitu yang keluar dari sumur"
Karena Yaya dulu SMA anak IPA, jika berhubungan dengan IPA ia langsung melenceng ke pelajaran.
"Intinya aku dari bumi, jika kamu pintar kamu bakalan ngerti apa yang aku omongin.", Halilintar meninggalkan Yaya sendirian
"Huh akunya yang bego apa dianya terlalu pintar sih."
Yaya menuju kamarnya dan mulai menghubungi teman kampusnya, Amy.
Yaya menceritakan semua tentang Halilintar, dan asalnya yang dari Bumi melalui Hp
"Aduh Yaya, yang bego mah kamunya atuh, gini nih intinya. Hali nunjuk bumi emang dia terlahir dibumi bukan di planet uranus. Dan seandainya dia berasal dari kuala lumpur, emangnya kuala lumpur di planet neptunus.", Amy menjelaskan ke Yaya dengan nada frustasi.
"Lah... Iya ya bener juga Amy"
"Bego mah boleh, tapi jangan bego-bego banget ih. Eh btw tu cowok ganteng gak?"
"Kata aku si biasa aja, tapi kata tante aku ganteng banget."
"Kapan-kapan kenalin ke aku yee"
"Iya iya"
"Ok bye sayang"
"Idih najis"
Yaya memutuskan teleponnya. Yaya melempar hp nya ke tempat tidur, ia mulai merenggangkan tangannya ke atas, dan mulai pemanasan ringan.
"Aku harus menjadi penulis best seller, harus.", gumam Yaya semangat.
Tok tok tok
Dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Yaya.
"Iya iya sabar"
Yaya membukakan pintunya, dan dihadapan ia sekarang adalah Hali. Hali bertelanjang dada, dan bagian 'terpentingnya' dibungkus handuk saja.
"Duh ganggu iman aja si", batin Yaya sambil menahan agar tidak mimisan.
"Bisa ga ambil peralatan berharga kamu dulu?"
Yaya melongo dan mulai berpikir keras.
"Maksudnya apa ya?"
"Bisa ga pakaian dalem kamu diambil? Aku mau mandi ga tenang"
Seketika wajah Yaya memerah dan segera buru-buru ke kamar mandi.
"HALI MESSUUMMMMMM"
"Hei yang meninggalkan barang dikamar mandikan kamu. Bukan aku.", Halilintar segera masuk ke kamar mandi.
"Tadi udah semangat buat naskah novel, jadi ga mood gara-gara Hali." , batin Yaya tak kuat menahan imannya
"Pliss yang aku butuhin ide buat bikin novel, bukan orang aneh dengan roti sobeknya."
Yaya semakin tidak bisa berkonsentrasi pada karya tulisnya.
"Dek Yaya, ayo makan malam, sama dek Gopal. Suruh dek Hali makan gih.", tantenya Yaya mengetuk pintu kamar Yaya
"Iya tantee, sebentar."
Yaya keluar dari kamarnya, menuju kamar Halilintar dan mengetuk pintu kamarnya.
"Hali?"
Tidak ada jawaban
"Kamu makan dulu yuk ama aku, ama tante, om, ama kak Gopal yuk", Yaya agak berteriak supaya terdengar sampai ke dalam kamar Halilintar.
"Aku ga nafsu makan."
"Nanti kamu sakit Hali."
Pintu kamar Hali dibuka secara kasar oleh Hali
"Ayo makan dulu Hali, ntar kamu sakit.", Yaya meraih tangan Hali tapi segera Hali menepis tangan Yaya
"Aku membayar lunas untuk ngekost saja, bukan untuk makan. Aku ga mau makan."
"Makan disini gratis Hali, bisakah kau ramah sedikit ke orang?", tanya Yaya dengan nada tidak menerima.
Hali menatap Yaya cukup lama.
"Tidak", Hali masuk ke kamarnya dan menutup pintunya dengan kencang.
"JIKA KAU TIDAK ADA TUJUAN NGEKOST DISINI MENDINGAN KAMU GA USAH NGEKOST DISINI.", teriak Yaya
Hali langsung keluar dari kamarnya
"Bukannya aku udah bilang sebelumnya, aku punya rahasia yang ga mau kasih tau kesiapapun. Dan siapa kamu berhak ngusir aku dari kost ini?.", tanya Hali dingin.
"Eh asal kamu tahu, aku keponakan dari pemilik kost ini."
"Iya aku tahu.", Hali memotong pembicaraan Yaya.
"Aku belom selesai ngomong"
"Lanjutkan"
"Ah tuh kan lupa mau ngomong apa.", yang tadinya emosi Yaya sudah sampai puncaknya menjadi surut hanya karena lupa ingin bicara tentang apa.
Hali langsung masuk ke dalam kamarnya lagi. Dan Yaya hanya memasang wajah cemberut.
"BODO AMAT", Yaya langsung menuju lantai 1 ke meja makan untuk makan malam bersama.
"Lho, mana dek Hali?", tanya Tantenya Yaya
"Au da tu bocah"
"Wey lagi pms ya, haha", ledek gopal tanpa rasa bersalah.
"Kak gopal minta di sambit asbak punya om ya?"
"Becanda doang kok, hehe", Gopal mengancungkan jari tulunjuk dan tengah.
"Udah udah, nanti Yaya kamu anterin ke kamar Hali aja pas kamu udah selesai makan", perintah omnya Yaya
"Tapi om...arghh baiklah."
Yaya, tantenya, omnya, dan Gopal makan malam bersama. Setelah selesai makan, Yaya menuruti perintah omnya untuk menghantarkan makanannya ke kamar Hali.
Yaya mengetuk kamar Hali
"Hali"
Tidak ada jawaban.
"Hali"
Hali membukakan pintunya, dan memasang wajah kesal.
"Ap-..."
Yaya menerobos masuk ke kamar Hali dan duduk ditempat tidur Hali. Yaya masih membawa makanan dari tantenya.
"Siapa suruh kamu masuk hah?", tanya Hali dingin yang sebenarnya menahan emosi
"Ga ada sih, daripada kamu sakit terus nyusahin tante ama om ku gimana?"
Hali terserentak, Hali langsung mendekati Yaya dan mengambil makanannya.
"Baiklah aku makan, tapi keluar"
"Iya-iya", Yaya keluar dari kamar Hali
"Oh ya Hali, kalau udah selesai ke kamar aku aja, ntar aku aja yang cuci piringnya.", Yaya memasang wajah memelas, dan membuat Hali jijik.
Hali segera menutup pintunya dan memakan makanannya tidak nafsu.
Yaya terus menunggu Hali di depan kamar Hali. Mungkin Yaya terus menunggu Hali selama 1 jam
"Ini anak makan apa dzikir sih, lama banget.", gerutu Yaya kesal.
Karena Yaya tidak sabaran, Yaya membuka pintu kamar Hali.
"Tidak dikunci?", gumam Yaya terkejut.
Dan ternyata Hali tertidur ditempat tidurnya. Yaya kesal, mengapa ia menunggu orang selesai makan padahal orang yang ia tunggu sedang tidur.
"Ya Tuhan, apa dosa hambamu ini Tuhan.", Yaya menutup kamar Hali dan berdiri disamping Hali yang sedang tertidur.
"Bocah idiot", gerutu Yaya kesal.
Yaya menatap wajah Hali cukup lama, dan menatap Hali dengan cukup seksama.
"Dipikir-pikir kembali, lumayan juga sih dia.", tanpa Yaya sadari, ia tersenyum tanpa sebab.
Yaya mengelus kepala Hali dengan pelan supaya Hali tidak bangun, dan memegangi rambut Hali yang lembut secara perlahan.
"Kalo lagi tidur dia lucu juga ya, kayak ada manis-manisnya", batin Yaya geli sambil berusaha menahan tawanya.
"Ada apa denganku?", Yaya langsung menjauhi Hali. Yaya mengambil piring yang kotor lalu keluar dari kamar Hali.
Hali membuka matanya secara perlahan dan beranjak dari tempat tidur.
"Tadi kayak ada yang megang kepala aku deh", gumam Hali heran sambil menggaruk tengkuknya
Handphone Hali berbunyi, dan dilayar handphonenya bertuliskam 'Mamah'
"Halo?"
"Hali pulang. Sampai kapanpun kamu mencari gadis itu takkan kau temui. Dia mungkin sudah bersama orang lain, Hali.", isak tangis ibunya Hali melalui telepon genggam
"Mah, ku mohon. Hali pengen mencari dia mah, aku yakin dia masih cinta sama aku mah", ucap Hali tak mau kalah.
"Hali, lebih baik kau pilih gadis lain jangan pernah mencari dia lagi Hali", isak tangis Ibu Hali semakin menjadi-jadi
"Kalo mamah sayang aku, mamah seharusnya mendukung aku harus melakukan sesuatu, aku udah besar.", Hali langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Apa yang salah dengan dia? Apa salah juga karena aku mencintainya? Aku yakin dia masih mencintaiku", gumam Hali dengan nada sedih sambil menutupi wajahnya.
Hali keluar dari kamarnya dan tiba-tiba di depan dia sekarang ada Yaya.
"Ku dengar kau marah-marah dikamar."
"Tidak", jawab Hali singkat.
"Mau ikut bersamaku sebentar saja?", tawar Yaya kegirangan seperti meminta es krim dari ibunya
"Tidak"
"Kumohon kamu pasti suka , yayayayyayayyayayaya", Yaya memohon ke Hali dengan tatapan memelas
"Huh, iya iya"
"Ayo mau nunggu apa lagii", Yaya menarik tangan Hali.
"Ga usah narik tangan aku", bentak Hali, tapi Yaya tidak menggubrisnya.
Dan sampailah mereka diluar kos.
"Hanya keluar saja?", tanya Hali tidak suka.
"Emangnya kita mau ke Amerika hah? Ya gak lah, kita cuman keluar aja"
"Mendingan di dalem aja", Hali membalikkan badannya tapi tangannya ditahan oleh Yaya.
"Bisakah kau menurut permintaan seseorang? Jangan terlalu keras kepala, orang-orang yang kamu sayangi akan pergi hanya karena kamu keras kepala."
Hali hanya menatap Yaya dengan tatapan kosong, mengigat ibunya, dan mengigat orang yang ia cari.
"Baiklah, apa tujuanmu membawaku keseni?", tanya Hali tidak sabaran.
"Liatlah keatas", Yaya menunjuk ke atas.
Diatas ada langit yang ditaburi bintang-bintang, ada banyak sekali sehingga dihitung takkan sanggup.
Yaya langsung jongkok di samping Hali.
"Kau tadi berbohongkan sama aku? Aku yakin sekali kamu tadi marah-marah di kamarkan? Dan aku tahu kok hanya melihat bintang-bintang takkan menyelesaikan masalahmu, aku yakin kamu bakalan tenang, dan cukup lega", Yaya terlihat berkaca-kaca, seperti mempunyai masalah tapi tidak ia perlihatkan
Hati Hali teriris hanya mendengarkan ceramahan Yaya, rasanya memang lega walaupun tidak akan selesai masalahnya.
Rasanya Hali ingin mengelus kepala mungil Yaya, tapi terkalahkan oleh egonya, Hali tidak bisa mengelus kepala Yaya.
"Gimana aku benar kan?", Yaya segera menyeka air matanya.
"Sok tahu", jawab Hali bohong sambil duduk di samping Yaya.
Hali sadar, sebego-begonya Yaya, senyebelinnya Yaya, semarah-marahnya Yaya, jika dia serius, Yaya lebih serius dari dirinya.
"Masuk yuk udah mulai dingin"
"Jangan, nanti dulu", Hali masih setia ditempat yang sama.
"Oh baiklah, akhirnya mau jugakan diluar hahaha, dibilangin jangan keras kepala, akhirnya seneng sendirikan?."
Hali menatap Yaya dengan tajam, jiwa psikopat Hali ingin keluar. Yaya segera bungkam takut dibunuh secara tiba-tiba oleh Hali.
Yaya memegang lengan kirinya dengan tangan kanannya, begitu pun sebaliknya. Ia terlihat kedinginan, kebetulan Hali menggunakan jaket, ia melepaskan jaketnya dan mengenakannya ke Hali.
"Eh? Apaan nih?", Yaya terlihat kebingungan
"Itu jaketlah", Hali terlihat jengkel karena menjawab pertanyaan Yaya.
"Iya aku tau ini jaket, kenapa kasih ke aku? Aku kan udah pake lengan panjang"
"Gapapa", Hali terlihat malu-malu untuk mengatakan Yaya terlihat kedinginan. Ya karena gengsi Hali tingkat tinggi
Yaya tahu, pasti Hali tahu jika Yaya kedinginan. Jadi Hali memberikan jaketnya ke Yaya.
"Terima kasih", ucap Yaya lembut.
"Untuk apa"
"Tidaak, tidak apa kok", Yaya menahan tawanya.
Hali masih ingin sekali melihat bintang, tapi Yaya terlihat ngantuk dan hampir tertidur. Hali langsung memegang pipinya Yaya, dan menidurkan kepala Yaya dibahunya.
"Eh", Yaya terkejut.
"Tidak usah banyak bertanya", Hali terlihat salah tingkah.
Sekali lagi Yaya tahu, pasti Hali tahu jika Yaya sudah mengantuk, tapi Hali masih ingin diluar, Hali tidak enakkan. Maka Hali memberikan bahunya untuk Yaya.
Terakhir kali Hali seperti ini bersama orang yang ia cari-cari saat ini, dan biasanya ia tidak mau berdekatan dengan wanita lain apalagi bersama wanita yang ia tidak kenal selain orang yang ia cari sekarang.
"Kali ini aja aku baik padamu", Hali menatap Yaya dengan lekat-lekat sambil mengelus pipi Yaya.
"Aku...-aku takut jika..."
Tbc :')
Hola readersku sayang, karena lusa aku uas, jadinya aku harus update sekarang biar ga kepikiran readers trus :'). Dan bagi yang ga paham maksud Hali yang dari bumi gini lho. Hali lahir di? (Reader :bumi), Kuala lumpur di? (Reader : bumi). Nah emangnya kuala lumpur di venus :') Hali bukan terbuat dari inti bumi, dia buatan ibu bapaknya kok :'). Oh ya danmakasi yg riewes, ok aku jawab yaa
Family-love : wattpad aku adalaahhhh *bunyi drum* namanya adalah miftaaaul. Ok udah dijawab ya
: maapkan ku, cerita ini pendek maafkan akuuuu
Miss blank : keknya hali bukan manusia deh :v, canda deh. Dia manusia kok
Floral lavender : suatu saat nanti kamu akan tau apa masa lalunya Hali
Zahra-chan610 : muncul kok, tpi taufan aja :v. Justru taufan lah yg merusak masa lalu hali *spoiler dikit laa*
Ok udh dijawab kan? Terima kasih sudah baca, semoga syukaaa. Sampai jumpa dichap 3. :*:*:*:*:*:*
