DISCLAIMER : J.K ROWLING and This Means War
TRIANGLE
Rated : M
Genre : Romance
Summary : dua agen CIA handal. Mengejar satu musuh yang sama, dan satu cinta yang sama. Akankah mereka dapat mempertahankan persahabatan mereka ?. Newbie.
Warning : OOC,Typo,Gaje dan sebagainya
Chapter 2 : Embarassing
Los Angeles, Mei 2012
CIA FIELD OFFICE
Draco dan Harry berjalan santai di lobby utama kantor CIA. Layar besar di dinding tengah lobby menampilkan foto dua orang mafia beserta data diri mereka. Tom Riddle dan adiknya, Jonas Riddle yang sudah diberi label 'DECEASED'
"Draco, Harry!." Seseorang meneriaki nama mereka dari balkon lantai dua. Mereka menoleh.
Oh, crap!
Bos mereka si wanita berambut ikal cepak, Adeline. Menunjuk jempolnya ke ruangan dibelakang tubuhnya.
"Baiklah, sidang dimulai." Celetuk Draco.
-000-000-000-
Adeline melemparkan Koran dengan Headline foto pria di atas mobil yang remuk dengan tulisan besar berjudul 'SEORANG PRIA TERJATUH DARI LANTAI 52.' Ke atas meja.
Draco dan Harry yang duduk di kursi depan meja tersebut pun mengernyit. Draco menghela nafasnya.
"Well, semuanya terkendali bukan?." Adeline melirik ke arahnya.
"Jika enam orang di kamar mayat dan satu mayat ditengah jalan bisa dikatakan terkendali, maka semuanya terkendali." Jawabnya ketus. Giliran Harry yang menghela nafasnya.
"Adeline -" Adeline meghentikan perkataan Harry dengan jari telunjuk yang terangkat keatas.
"Perkara kasus Riddle tidak seharusnya diketahui publik."
"Adeline, tapi kami sudah-" Adeline mengacungkan telunjuknya lagi. Harry terdiam. Adeline menghembuskan nafasnya.
"Yang aku mau hanya amankan alatnya. Namun kalian malah membunuh Jonas Riddle yang artinya Tom akan membalas dendam untuk kematian adiknya."
Harry mengusap wajahnya lelah, sedangkan Draco lebih memilih memainkan pulpen di sela jari-jarinya.
"Apa kalian sadar bahwa kalian membahayakan keamanan CIA dan diri kalian sendiri?." Adeline berkata dengan nada dingin yang menusuk.
"Aku menugaskan tugas ini pada kalian karena aku percaya pada kemampuan kalian. Kalian berdua adalah agen senior bagi CIA dan Riddle adalah buronan utama kami. Tapi kalian malah dengan ceroboh membongkar jati diri kalian sebagai agen kami dan itu adalah hal bodoh." Matanya meneliti Draco dan Harry bergantian.
"Maka dari itu, kami memutuskan bahwa kalian patut dihukum."
"APA!." Ujar Draco dan Harry berbarengan.
"Hukum?." Tanya Draco tak percaya. Adeline mengangguk.
-000-000-000-
Harry menyandarkan punggungnya pada kursi miliknya. Sesekali memutarkursinya kea rah kanan dan kiri. Ia menghela nafas.
Harry tak pernah menyangka bahwa perkara kasus Riddle akan membawanya kesini. Bekerja di belakang meja dengan laporan data dari ratusan kasus di seluruh Amerika.
Pekerjaan seperti ini bukanlah yang di sukai Harry.
Ia lebih memilih bekerja dilapangan membunuh tikus-tikus itu secara langsung dengan kemungkinan tewasnya ia sangat tinggi. Setidaknya pekerjaan seperti itu lebih memacu adrenalin dan tidak membosankan. Daripada duduk dihadapan komputer selama delapan jam non-stop, menganalisis data dan menentukan langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.
Sebenarnya Adeline masih baik dengan menempatkan ia dan Draco sebagai kepala bagian, Directorate of Intelligence. Setidaknya ia tidak ditarus di bagian staff dan menerima perintah dari orang lain yang pangkatnya lebih rendah darinya.
Harry memutar-mutar pistol di atas mejanya bosan, ia melirik kea rah meja didepannya yang berhadapan dengannya.
Draco lebih memilih menenggelamkan wajahnya ke meja dengan kedua tangan yang memegang pulpen dan sibuk mengetuk-etukkannya di meja seperti bermain drum. Jika perhitungan Harry tidak salah maka Draco sudah melakukan itu selama kurang lebih tiga puluh menit.
Harry berteriak frustasi.
-000-000-000-
Los Angeles, CA
SMART CONSUMER INC
Seorang wanita berambut cokelat ikal sedang menguji dua buah piringan logam berbentuk bulat dihadapannya dengan las listrik berukuran sedang.
Ia mematikan alat tersebut dan membuka pelindung wajah yang sedari tadi menutupi wajahnya. Ia beralih ke piringan logam pertama.
"Baiklah, jadi Coretex sedikit rusak. Ada perubahan struktur di tepinya." Ia beralih ke logam kedua.
"Tempolite, oh tidak bagus. Berkarat di suhu tiga ratus derajat celcius. Jadi kita pilih Coretex."
Seorang wanita lain dibelakangnya mencatat sesuatu di buku catatannya. Ia memiliki wajah oriental asia, dengan kulit putih, dan rambut serta mata hitam pekat.
Wanita berambut cokelat tadi melepaskan sarung tangan anti apinya dan berjalan keluar ruangan diikuti oleh si wanita asia.
"Lihat? Produk terbaik yang akan menang, Cho." Cho tersenyum tipis.
Mereka memasuki ruangan khusus milik manager dan Cho menghentikan langkah si wanita berambut cokelat.
"Mmm.. Hermione."
"Ya?." Jawab wanita itu.
"Bolehkah aku mengambil cuti lebih awal untuk akhir pekan nanti?. Cedric mengajakku ke peternakan Alpaca."
'Oh-." Jawab Hermione. "Ya,tentu saja. Itu hari libur dan akhir pekan. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk menahanmu, Cho Chang." Cho tersenyum lega.
"Terimakasih banyak."
"Sama-sama,Cho. Jangan berlebihan."
"Kau adalah atasan terbaik." Hermione terkekeh.
"Dan kau adalah asisten terbaik." Cho tertawa.
Hermione Granger, wanita berusia 30 tahun yang bekerja sebagai manager pemasaran swasta yang memproduksi alat-alat kebutuhan rumah tangga. Ia disenangi karena kepribadiannya yang ramah dan hangat pada bawahannya, namun juga disegani karena ketegasannya pada pegawai yang lalai dan teledor pada pekerjaan.
Semua orang tau bahwa selain cantik, Hermione juga jenius dan memiliki wibawa kepemimpinan yang kuat. Hermione sadar bahwa beberapa karyawan pria di kantor menyukainya tapi tidak berani mendekatinya. Ia sendiri bersyukur karena hal itu membuatnya tak harus mengusir mereka dari ruangan terlalu lama, meskipun ada beberapa juga yang menjengkelkan. Suara Cho berhasil menyadarakan Hermione dari lamunannya.
"Hermione, sekarang saatnya kau rapat dengan direktur."
-000-000-000-
Hermione mengenakan sweat pants dan tank top berwarna abu-abu pagi ini, dilengkapi dengan sweater warna senada dan sepatu warna biru metalik. Rambutnya ia sanggul kebelakang dengan bandana biru tua menghiasi kepalanya. Headset terpasang ditelinganya dan ia sesekali bernyanyi mengikuti lirik lagu. Tas kecil tersampir di bahunya.
Di minggu pagi ini ia memilih berjogging di kompleks taman kota dekat rumahnya dengan para pejogging lainnya sembari merelaksasikan otaknya sejenak dari kesibukannya selama dikantor.
Pagi itu benar-benar menyenangkan jika saja ia tidak bertemu dengan orang yang paling tidak ingin Hermione temui di dunia.
Masih dengan santai, Hermione berjalan di area taman dengan sedikit berjingkrak-jingkrak karena lagu yang berirama cepat.
Tiba-tiba sebuah sepeda berhenti tepat dihadapannya secara mendadak dan membuat Hermione mundur karena kaget.
"Wow, santai tuan. Kau hampir menabrakku." Celetuknya.
"Hermione!." Hermione melepaskan headsetnya dan menoleh ke asal suara. Ia meringis.
"Hai, Theo." Jawabnya. Tiba-tiba satu sepeda lagi berhenti tepat di samping Thoe, dikendarai oleh wanita berambut gelap dengan mata cokelat karamel yang benar-benar indah bahkan menurut Hermione.
"Apa kabarmu, Herm?."
"O-oh, aku baik." Jawab Hermione kikuk. "Sangat baik."
"Baguslah kalau begitu." Theo tersenyum sembari mengangguk-angguk.
Hermione merasakan lututnya gemetar. Matanya beralih pada wanita di samping Theo, tanpa sengaja ia melihat cincin berlian di jari manis wanita itu.
"Wow, berlian yang... sangat besar." Hermione merutuki omongan bodohnya dalam hati.
"Oh ya ampun, maafkan aku. Hermione, perkenalkan ini Katie. She's my fiancee." Theo dan Katie berciuman. Hermione merasa jantungnya merosot ke aspal dan hancur dilindas sepeda. Dadanya tiba-tiba merasa sesak.
"Tu-tunangan?." Tanya Hermione memastikan.
"Ya." Jawab Theo senang.
Kaki Hermione berubah menjadi jelly.
"Baiklah." Hermione berkata pelan mencoba menetralisir sesak napasnya.
"Kurasa aku harus pergi. Aku ada janji dengan.. kau tahu, pacarku. Ken. Dia seorang ahli bedah."
"Wow, kau beruntung. Hati-hati kalau begitu." Jawab Katie tersenyum.
"Aku turut bahagia untuk kalian. Untuk pertunangan kalian, hidup kalian, hubungan kalian, untuk... sepeda kalian. Yah, untuk segalanya tentang kalian." Hermione meringis mendengar ucapannya sendiri.
"aku pergi dulu, oke?. Peace." Hermione mengacungkan dua jarinya ke udara membentuk tanda 'peace'. Ia berjalan dengan gontai menjauhi dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu. Dari jauh ia sempat mendengar Katie berkata 'sampai jumpa' namun tak ia balas.
"I just say 'piece', and i wanna die now." Gumam Hermione pada diri sendiri.
Ia melanjutkan langkahnya ke restoran sushi langganannya tidak jauh dari situ.
"sushi for one!."
Teriakan itu sudah sangat familiar di telinga Hermione. Sapaan wajib bagi para pelanggan yang masuk restoran dari para pelayan.
Ia menghela nafas dan memilih duduk di meja panjang yang terhubung langsung dengan dapur. Jadi para pelanggan bisa langsung melihat proses pembuatan sushi segar langsung dari pada ahli.
Hermione meletakkan tasnya di atas meja dan bokongnya di kursi.
"Morning, Ken." Hermione menyapa pelayan dihadapannya. Ken tersenyum. Name tag nya sedikit berkilat terkena sinar matahari.
"Morning, Hermione. An exhausting day isn't it?."Tanya Ken saat melihat wajah kusut Hermione. Hermione hanya mengedikkan bahu. Ken berteriak dengan bahasa Jepang pada salah satu rekan kerjanya.
"Kau mau aku membuatkan menu yang biasa?." Hermione mengangguk.
"Yep, seperti biasa." Ken langsung menyiapkan pesanan Hermione. Ia cukup mengerti bahwa saat ini Hermione tak ingin bercerita.
Jadi begini, sebenarnya Ken bukanlah pacarnya. Ia adalah pria keturunan Jepang yang kurang lebih sudah dua tahun Hermione kenal karena ia sering dating ke restoran sushi tempatnya bekerja.
Ken memiliki perawakan pendek dengan wajah bulat lucu dan kepal plontos yang tertutupi topi koki. Badannya sedikit gemuk dengan jari-jemari yang – Hermione akui – sangat terampil membuat sushi.
Ken adalah orang yang baik dan ramah pada semua orang. Ia jugalah yang menjadi pelarian Hermione di saat ia butuh saran atau pendapat dari sudut pandang pria. Ia melakukan hal itu karena – terkadang– sahabatnya, Astoria terlalu menekan dan mencampuri urusan pribadinya.
Ken adalah satu-satunya orang – selain Astoria– yang tau seberapa kacaunya ia dulu saat masih bersama Theo dan segala tragedi yang menimpa hubungan mereka. Meskipun Ken sendiri belum pernah bertemu dnegan Theo, tetapi ia tetap mau mendengarkan setiap keluh kesah Hermione.
Dan sekarang dengan bodohnya ia berkata pada Theo bahwa Ken adalah kekasihnya dan ia seorang ahli bedah. Hah! Ahli bedah apa? Ikan!.
Hermione menenggelamkan wajahnya pada meja dengan tangan terlipat. Bagaimana bisa setelah dua tahun tidak bertemu ia tetap merasa bergejolak melihat pria itu?. Ditambah fakta bahwa ia telah bertunangan lagi benar-benar membuatnya syok bukan main.
"How funny, huh?." Hermione mendongak dan menatap orang yang baru saja berbicara di sampingnya.
Hell!
Theodore dan Katie tersenyum ke arahnya. Theo merangkul bahu Katie.
"Apa kursi disebelahmu ini kosong?." Tanya Theo menunjuk satu kursi kosong di sebelah Hermione.
"Oh ya, maafkan aku. Ini kursi kekasihmu ya? Ken?."
"Tidak–." Jawab Ken yang asli. "–Sushi hanya untuk satu orang. Selalu satu orang." Tambahnya.
Dan Hermione memilih dirinya dicincang untuk isian sushi.
TBC
Terima kasih pada kalian yang sudah follow, fav, dan review. Kalian semua warbyazah..
Balasan review :
Tenshi Kazenna : terima kasih untuk review mu. Dan untuk film This Means War kamu bisa tonton sendiri nanti. Tapi bakal ada beberapa scene yang berbeda dan ku tambahkan sendiri (biar lebih seru gitu .LOL.) sebenarnya ini bukan karya pertamaku, tapi karya PERTAMA yang berani ku publish di ffn. Btw, silahkan baca kelanjutannya.
GD : wow, easy oke? Sudah ku jawab di pairing. Tetep baca dan review ya.
Albavica and Bolt : udah di next ya.
Altherae : bukannya dari dulu emang playboy? :v
Naraa : hai terimakasih atas saranmu. Sebenernya dari awal nulis sudah ku beri spasi, tapi entah kenapa jadi begitu *Idunno* untuk typo akan kuusahakan untuk tidak ada lagi. Tapi mohon maaf jika masih ada ya, karena writer dan typo adalah hal yang lumrah *cmiw* *alasan* tetep baca dan review ya.
Untuk chapter selanjutnya aku akan membahas tentang Theo-Mione, kehidupan pribadi Draco dan Hermione, dan awal mula mereka bisa bertemu. Tapi aku nggak bisa janji untuk update cepet karena minggu depan aku UAS. Minta do'a nya ya.. hehe *apaansih*
Bailah sekian dulu basa-basinya.
Have a good day and bye…
