BECAUSE YOU...

"Hahaha... mereka terlihat senang sekali yah!" kata profesor Agasa dengan begitu bahagianya. Ketika itu aku, Conan, dan profesor Agasa duduk di sofa sambil makan cemilan yang sengaja dibeli oleh profesor untuk acara menginap ini. Sementara itu Genta, Mitsuhiko, dan Ayumi tampak larut dalam keasyikan bermain game baru buatan profesor.

"Mereka itu kan memang selalu begitu." kata Conan merengut sambil bertopang dagu.

"Nah,kalau begitu aku ke kamar dulu yah. Sudah waktunya aku tidur."

Profesor pun bangkit dan menuju kamarnya. Yah, profesor pasti lelah karena dia sudah mempersiapkan acara menginap ini untuk kami. Sekarang tinggal aku dan si Kudo kecil itu.

Aku memakan beberapa keripik kentang sambil tetap asyik menonton Genta dan mitsuhiko yang sedang bersaing dengan sengitnya. Ayumi yang tidak mau kalah langsung menambah kecepatan mobilnya. Game mobil balap ini memang dibuat khusus oleh profesor untuk anak-anak yang suka sekali game balap. Jalur lintasan yang dibuat oleh profesor dalam game ini dibuat sesuai seperti imajinasi anak-anak. Profesor Agasa memang hebat!

"Sepertinya kau terlihat berminat dengan game itu!" tiba-tiba si Kudo kecil itu menyindir. Pasti sejak tadi dia memperhatikanku yang keasyikan melihat permainan Genta dan Mitsuhiko.

"Biar bagaimana pun, aku adalah anak-anak." jawabku. Aku kembali mengambil beberapa keripik kentang dan memakannya.

"Kalau begitu apa kau mau bertanding denganku setelah mereka selesai?" tantang Conan. Aku langsung menatapnya. Senyum menantangnya yang diperlihatnya padaku itu membuatku tidak bisa menolak tantangan itu.

"Huh, siapa takut!"

"Kami pulang dulu yah, profesor! Terima kasih karena sudah mengijinkan kamin menginap."

"Hahaha... tidak masalah. Kapan-kapan menginaplah lagi. Hati-hati di jalan." Profesor mengingatkan.

"Ya,terima kasih, profesor."

Genta, Mitsuhiko, dan Ayumi pun pulang ke rumah mereka masing-masing.

"Sepertinya tantangan itu harus ditunda dulu." kata si Kudo kecil itu sambil mengasah belakang kepalanya. Semalam karena terlalu banyak makan cemilan, kami jadi ketiduran dan lupa dengan tantangan main game itu.

"Ya, datang saja lagi." kataku kemudian. Ia pun langsung menyusul Genta dan yang lain.

"Ayo,masuk Ai!" ajak profesor.

"Ehm..." aku mengangguk.

Selepas mereka pergi, telepon rumah profesor berbunyi

"Biar aku yang angkat!"

"Kalau begitu, aku mau mandi dulu yah. Hehehe..." profesor pun menuju kamar mandi. Aku hanya tersenyum melihatnya. Aku mendekati telepon yang masih terus berbunyi itu dan mengangkatnya.

"Halo. Di sini kediiamam profesor Agasa."

"Untunglah kau yang mengangkatnya, Ai!"

Mataku langsung membelalak dan dadaku berdegup kencang mendengar suara orang yang ditelepon iitu. Ini suara kakak!

"A..ada apa?" tanyaku terbata-bata. Aku tidak menyangka kakak tiba-tiba menelpon kemari.

"Ada yang ingin keberitahukan padamu. Datanglah sore ini ke taman seorang diri. Aku akan datang ke sana."

"Ta..taman?"

Sore itu pun aku datang ke taman seorang diri. Aku duduk di sebuah bangku sambil memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Sebenarnya apa yang ingin diberitahukan kakak padaku? Apa ini tentang ayah dan ibu? Ataukah... aku tidak bisa berhenti menerka-nerka apa yang ingin dibicarakan kakak denganku. Aku khawatir, apa tidak apa-apa bertemu seperti ini.

Tiba-tiba seorang gadis dewasa berambut pendek dan berpakaian kantoran muncul di depanku.

"Boleh aku duduk di sini?" gadis itu tersenyum. Kacamata hitam yang dipakainya membuatku merasa dia orang asing. Mungkin sebaik-baiknya aku hati-hati.

Gadis itu lalu duduk ke sampingku.

"ini aku, Ai." Kata gadis itu dengan pelan hampir berbisik.

Aku kaget, tapi berusaha tidak memperlihatkannya dan tetap tenang.

"Kakak?"

"Maaf, aku memintamu datang diam-diam kemari. Ibu memintaku memberitahukan sesuatu kepadamu. Informasi penting yang didapat ibu dari dari organisasi mereka."

Informasi penting? Benar, ternyata ini memang tentang mereka.

""A...apa tidak apa-apa memberitahuku informasi itu dengan cara begini?" tanyaku sambil tetap tenang. Seorang penjual es krim keliling mendatangi kami.

"Mau es krim,nak?" tanyanya padaku.

"Yah, dua es krim rasa cokelat ya!" pesan kakak pada penjual itu.

Penjual itu lalu menyodorkan dua buah es krim cokelat satu-satu pada kami. Aku segera mengambilnya dan menjilatinya.

"Em.. enak! Terima kasih ya,tante." kataku sambil tersenyum ala anak kecil yang kegirangan.

"Sama-sama!" balas kakak sambil tersenyum.

Setelah kakak membayar es krim itu dan penjual itu pun pergi, kakak pun menjawab pertanyaanku.

"Tidak apa-apa." Jawabnya singkat.

Aku terus menjilati es krimku dengan senangnya, padahal sisi lain dalam diriku sedang mencoba berpikir.

"Lalu informasi apa itu?"

"Mereka sudah tahu identitasmu yang sebenarnya."

Aku menelan ludah saking kagetnya. Kurasakan keringat dingin mulai mengucur di wajahku. Kalau mereka benar-benar sudah tahun identitasku, berarti semua yang ada didekatku dalam bahaya. Profesor Agasa, Ayumi, Mitsuhiko, Genta, dan...tentang Kudo kecil itu, apa mereka juga tahu?

"Tapi mereka masih meragukan itu, karena itu mereka akan meminta seseorang untuk mengawasimu. Kau pasti tahu siapa kan?"

"Vermouth!" tebakku.

"Ya, dia akan mengawasimu dengan menyamar sebagai..."

To be continued...