..
.
Summary: "AP.. APA?! PERGI BELANJA?! BERDUA DENGAN SI BODOH INI?!" (Takane to Kenjirou-sensei)
.
..
Memories of Tanabata
.
Kagerou Project (Mekakucity Actors) © JIN (Shizen no Teki-P)
WARNING! PLOT TWIST ALERT!
.
Memories of Tanabata © Resai
.
.
Jumat, 02 Juli 20xx
.
"Chirp.. Chirp.."
.
.
Suara burung-burung kecil yang memekakan telinga mulai bersautan.. Ditambah lagi dengingan serangga musim panas yang semakin membuat suasana di luar sekolah ramai. Siang hari ini.. mereka bertiga dalam ruangan kelas spesial itu tampak membicarakan sesuatu.. Samar-samar terlihat paras perempuan yang nampaknya sedang berbicara. Dengan wajah bosannya, gadis itu pun mengakhiri pembicaraannya terhadap Kenjirou-sensei.
"Jadi.. begitulah sensei! Haruka memintaku menjelaskan tentang rencananya, untuk membuat festival tanabata di kelas kita ini.. Apa kau setuju?" Aku-pun menyandarkan pundakku ke kursi yang ku duduki dari tadi..
Rasanya aku sudah mengeluarkan banyak energi untuk pembicaraan tak penting ini. Harapanku tinggal satu. Semoga sensei tak menyetujuinya. Agar aku bisa tidur selama musim panas di rumah, sambil bermain game yang belum kuselesaikan.. Geez apa-apaan sih ide si bodoh ini, aku tak peduli apa harapannya pada kertas warna-warni itu, yang jelas aku tidak mau mengikuti kemauannya. Apapun alasannya!
"Baiklah. Kurasa.. jika keinginan kalian pada kertas tanzaku akan terwujud, kenapa kita tidak melakukannya saja? Aku setuju, oleh karena itu tunggu sampai besok. Aku akan mencari sedikit dana untuk kalian! Serahkan saja kepadaku! Hahaha! Bagus sekali! Semangat masa muda kalian ini, benar-benar membuatku bangga!"ujar guru bodohku itu sambil tertawa.
Aku pun tercengang dengan ucapan guruku yang bodoh itu.
HAH?! Ini bohong kan?!
"HORE! Takane! Kita bisa melakukannya kan?! Baiklah! Aku sangat menantikannya! Ayo berjuang Takane!"
"Hah? HAAAH?! Tu.. Tunggu! Sensei apa kau yakin dengan dana yang akan kau dapatkan?! Ini bahkan tak mudah seperti menyiapkan stand menembak, seperti pada saat festival sekolah tahun kemarin?! La-Lagipula aku tidak punya pengalaman tentang tanzaku, atau festival lainnya jadi…"
Sial, apa yang harus kukatakan?! Aku tak punya alasan yang bagus untuk menolak hal seperti ini. Masa iya aku harus berkata "Eto.. Ano.. Ada sebuah game yang harus kuselesaikan hingga akhir liburan musim panas, jadi aku tak bisa membantu kalian.. hahaha" seperti itu?! Bisa-bisa aku akan terkena tinju guruku yang bodoh ini..
SIAAAL!
"Takane aku akan membantumu menyiapkan segalanya kok, E..etoo aku juga kan yang meminta kepadamu untuk membuat festival ini, jadi aku akan membantu semampuku.. Meskipun aku tak tau apa yang harus kulakukan.. Jadi..Anoo.."
"Jadi?Apakah kau akan menolak persetujuan gurumu yang telah meluluskanmu pada beberapa mata pelajaran mu, yang merah?Apa kau mau aku tidak meluluskanmu lagi pada ujian esok, Ene-chan?"
MATI AKU.
"YA! Ba..Baiklah.. Akan ku lakukan.. Tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu yang tak kalian inginkan.. Karena aku belum pernah mendirikan pohon tanzaku atau apalah itu.."
"Aku mengerti! Akhirnya aku merayakan festival seperti ini bersama Takane.. Aku.. senang sekali.." ucap si Bodoh itu sambil tersenyum.
"Eh..Ya.. Mungkin ini.. Akan sedikit menyenangkan"
Akhirnya aku hanya bisa mengalah.. Kenapa aku tak bisa menolaknya seperti biasanya? Sambil termenung dengan pikiranku yang kacau, aku berusaha memikirkan sesuatu yang membuatku senang.. Tapi entah kenapa.. Selalu senyuman si bodoh itu yang menghantui pikiranku!
AAAAAH!? SIAAAL!
"Kalau begitu setelah aku memberikan dana kepada kalian, kalian harus segera membeli perlengkapan yang dibutuhkan! Secepatnya! Karena jika kalian tidak membeli barang tersebut, aku tidak akan menanggung jika barang yang kalian butuhkan sudah habis! Pastikan hari Sabtu ini kalian berangkat untuk pergi belanja. Kalian mengerti?" Sensei pun merapikan buku-buku miliknya dan bergegas pergi dari kelas kami.
"Okay Sensei~!" Ucap si bodoh dengan bangga.
Sepertinya.. Aku mendengar sesuatu yang mengganjal.. Tadi sensei bilang hari Sabtu? Benar kan? Tung..Tunggu , itu berarti.. HARI SABTU BERHARGA KU AKAN LENYAP!?
"Bagaimana Takane? Hari sabtu nanti? Apa kau ada waktu?" Tanya si bodoh itu dengan mata berbinarnya..
Aah.. Aku kalah telak.. Aku menyerah..
"Ya.. Kurasa ada.. Hahaha.." Aku berusaha senyum walaupun aku tak ingin melakukan ini.. Ada apa dengan ku? Sesuatu yang aneh dalam diriku ini benar-benar terasa menjijikan..
"Baiklah bagaimana kalau kita bertemu di depan Stasiun? Apa kau bisa?"
"Terserah kau sajalah"
.
Sabtu, 03 Juli 20xx
.
Pagi hari sabtu itu, matahari terasa menyengat hingga ke ubun-ubun. Tampak berdiri seorang perempuan berkuncir dua, sedang menunggu sesuatu. Gadis itu mengenakan jaket berwarna biru tua, dan dia pun mulai memperhatikan jam tangan yang dikenakannya.
Geez, lama sekali.. Apa yang dipikirkan si bodoh itu? Ini sudah lewat 5 menit dari waktu yang di janjikan.. Jangan-jangan dia tersesat? Terserahlah. Yang terpenting aku hanya akan menemaninya hari ini. Itu saja. Lagipula kenapa hari ini panas sekali sih?
Dari kejauhan tampak seseorang sedang berlari sambil melambaikan tangan, laki-laki itu memakai jaket warna hijau dengan kemeja putih sebagai dalamannya. Dengan nafas yang tak karuan, dia tetap berusaha tersenyum.
"Maaf! Aku terlambat! Apa kau sudah menunggu lama?"tanyanya sambil tersenyum.
Ap?! Apa? Dia tetap tersenyum meskipun sudah basah kuyup dengan keringat itu? Ba.. Bagaimana bisa?!
"Ti-Tidak, yah tapi aku memang sedikit menunggu sih.. Tapi tak apa-apa" jawabku sebisanya.
Setidaknya sekalah keringatmu itu.. Kau tampak berantakan.. Ucapku dalam hati, akupun mengeluarkan saputangan yang kumiliki dan kuberikan kepadanya.
"Ini, sekalah keringatmu itu, kau terlihat lelah"
"Ah.. Terima kasih Takane!" jawabnya sambil mengambil saputangan yang kuberikan.
"Lagipula kenapa kau bisa terlambat seperti ini? Tidak seperti biasanya, saat pergi ke sekolah pun kau tak pernah datang terlambat"
"Etoo.. Tadi di perjalanan ke sini aku melihat seekor kucing putih dengan bulu lebat!"
"Lalu?"
"Dan kucing itu ada di atas pohon di taman, kurasa dia tak bisa turun dari atas sana. Jadi aku memanjat pohon itu dan menurunkannya. Setelah ku gendong, dan ku bawa turun kucing itu dari pohon. Kucing itu tidak mau melepaskanku, jadi aku bermain bersamanya sebentar di taman hehehe"
Dia ini.. Aku tak mengerti apa saja yang ada di dalam kepalanya, selain makanan, menggambar, dan binatang kecil yang lucu..
"HAH? Kenapa kau tak biarkan saja kucing itu?"tanyaku lagi.
"Eh? Kenapa? Bukankah kata sensei kita harus berbuat baik selama masih hidup?" jawabnya.
Ah baiklah aku kalah lagi! Geez..
"Ah.. Sudahlah lupakan, lebih baik ayo kita berangkat"
"Baiklah! Kemana kita akan pergi Takane?"
"Kemana? Ya sudah pasti ke toko perlengkapan kan?!"
"Maaf, aku lupa hehehe"
Kau ini, jika hidungmu tak menempel pada wajahpun.. kau pasti lupa bernapas. Keluhku dalam hati sambil terus berjalan.
Mereka telah sampai pada Departement Store dan langsung memasuki sebuah toko. Belum lama merka masuk, Haruka sudah terlihat heboh sendiri.
"Takane! Takane! Coba lihat ini! Ini lucu kan?"
"Haruka! Diamlah! Kita tidak boleh berisik di sini!"
"Ah kau benar! Maaf! Tapi Takane bisakah kita membeli ini juga? Pita ini lucu untuk hiasan pohon tanzaku kita"
"Terserah kau saja"
"Takane apa kau marah terhadapku?"
"Tidak.. Kenapa memangnya?"
"Tidak bukan itu.. Etoo.. Bagaimana ya.. Kurasa aku sulit menjelaskannya"
"He.. mungkin itu hanya perasaanmu saja, apa segini sudah cukup? Kalau sudah bagaimana kalau kita segera pulang?"
"Eh.. Ya, mungkin sudah cukup. Ayo kita pulang"
Mereka pun melewati beberapa almari yang tersusun rapi pada toko tersebut, sebelum menuju kasir. Tiba-tiba Haruka berhenti di sebuah almari perhiasan yang berisi ikat rambut, serta jepitan khusus anak perempuan. Matanya yang hitam pun, tertuju pada salah satu hiasan rambut berbentuk bunga berwarna biru muda. Hiasan rambut biru itu berhiaskan Batu Swarovski yang berkilauan dengan indahnya.
Takane yang sedari tadi jalan terlebih dahulu pun menoleh ke belakang, untuk memastikan Haruka masih mengikutinya atau tidak. Melihat Haruka berhenti, Takane pun berbalik arah dan menuju ke arah Haruka untuk memarahinya.
Apa sih yang dipikirkan si bodoh ini?! Bisakah dia memfokuskan pada satu pekerjaan yang telah diberikan padanya! Menyebalkan! Akupun kembali menghampirinya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kita harus segera pu.."
"Kurasa hiasan rambut ini cocok untukmu.. Takane"
"Hah? Apa maksud-."
Belum selesai Takane berbicara, tangan Haruka sudah memasangkan hiasan rambut yang indah itu pada rambut Takane.
"Benar, kau terlihat manis."Ucapnya sambil tersenyum manis seperti biasa..
Kurasa wajahku mulai memanas kembali.˹Apa sih yang dipikirkan si bodoh ini?˼ Hanya kata-kata inilah yang terngiang-ngiang di kepalaku..
"Apa maksudmu?"
"Bisakah kita membeli hiasan rambut ini? Jika uangnya tak cukup, biarkan aku yang membayarnya."
"TIDAK! Ap- apa yang kau lakukan? Apa kau bodoh? Aku tak akan memakai hiasan ini!"
"Eh? Kenapa?"
"Aku tak perlu menjelaskannya kepadamu! Cepatlah kita harus pulang sekarang!"
Takane melepaskan hiasan rambut itu dan meletakkannya ke tempat semula.. Dia pun bergegas pergi sambil menarik Haruka.
"Ta—tapi-Tunggu Takane!"
Dengan wajah sedih Haruka pergi dari tempat itu menuju kasir. Lalu mereka pun pergi meninggalkan toko itu dengan wajah yang terlihat lelah. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah taman. Takane pun melepas lelahnya dengan duduk pada sebuah kursi panjang di bawah pohon yang menjulang tinggi di sudut taman itu.
"Haaah.. Panas sekali.. Aku tak tahan lagi!" keluhku dengan lantang. Aku sudah tak bisa menahannya! Apa-apaan hari ini! Benar-benar aneh! Aku sama sekali tak mengerti lagi!
"Ah eto—Aku akan membeli minuman, tunggu sebentar ya Takane!
Dia pun berlari ke salah satu vending machine pada sudut taman. Dan seperti biasa dia pun kebingungan cara memakai mesin itu.
"Geez—" aku pun menghampiri si bodoh itu, walau sebenarnya aku malas.. Tapi panas menyengat ini membuatku risau, dan kebetulan aku juga merasa haus, tak ada salahnya aku mencoba membantunya.
"Memangnya kau mau minum apa?" tanyaku. Aku pun mulai mengambil dompet yang berada dalam kantung jaketku.
"Eeh.. Etoo.. Eum.. apa kau bisa memberikan ku rekomendasi minuman yang cocok?" Tanyanya sambil menggaruk kecil kepalanya.
"Tidak."
Aku pun mulai memasukkan beberapa uang koin dan menekan beberapa tombol hingga Oolong Tea yang ku pilih keluar dengan sendirinya.
"Eh.. Takane apa yang kau minum itu?"
"Racun."Jawabku, sambil terus meminum.
"HA!? MUNTAHKAN ITU TAKANE! CEPATLAH!"
"Pfft,,ha… Ahahaha kau bodoh sekali ya?! Tentu saja aku tak meminum racun! Kau itu sebodoh apa sih?" ujarku sambil tertawa.. Ya kurasa dia terlalu polos hingga dia melakukan hal yang mungkin tak akan dipercayai orang lain.
"Ha.. Habisnya kau bilang itu racun, jadi.. Aku-"
" Aku membeli Oolong Tea.. Karena kurasa minuman ini yang paling cocok untukku."
"Oolong? Boleh aku mencobanya Takane?"
"Tidak. Beli saja sendiri sana." Aku pun menolak permintaannya.. Enak saja, kau pikir oolong tea ini murah.. begitu pikirku.
"Eeeh?! Um.. Baiklah.."
"Etoo, Takane.. Bagaimana cara memilih minuman pada mesin ini?"
˹Bodooh˼. Hanya itu kata yang terpikirkan olehku.. Yah.. Mau bagaimana lagi.. Lebih cepat kalau aku membantunya kan?
"Kemarikan uang mu"
"Ini"
"Kau mau minum apa?"
"Um.. Aku mau yang sama seperti milikmu!"
"Ini"
"Terima kasih, Takane!"
"Iya iya"
Gluk.. gluk..
"Takane! Minuman ini sangat enak?! Apa ada minuman teh seperti ini?!"
"Hah?! Apa maksudmu? Apa kau tak pernah minum teh ini?"
"Belum kok, ini untuk pertama kalinya!"
"Memangnya selama ini kau minum teh apa sih?! Sampai-sampai kau tak tau Oolong Teh?!"
"Etoo.. karena tubuhku yang rentan terhadap penyakit ini.. Dokter menyarankanku untuk tidak meminum teh selain teh hijau.. Jadi ini pertama kalinya untukku meminum jenis teh lain, selain teh hijau"
"Hah?! Jangan-jangan kau tak pernah tau soda atau minuman lainnya?!" Aku pun tercengang mendengar perkataannya. Untuk pertama kalinya aku melihat manusia yang merasa asing dengan softdrink.
"So..da? Aku hanya tau air mineral, teh hijau, dan susu saja.."
"Kau ini.. Sebegitu parahnya kah penyakit mu itu?" tanyaku.
"Entahlah..Aku juga tak pernah menginginkan terlahir dengan tubuh lemah dan berpenyakit seperti ini.. Sejak pertama kali masuk sekolah dasar dulu, aku selalu ingin. Sesekali bisa tertawa bersama teman-temanku yang lain.. Bermain.. Bercanda.. Tapi, karena penyakit ini bisa membuatku pingsan dimana saja.. Hal ini yang membuatku.. tak bisa berkenalan dengan seseorang, atau apapun itu.. Makanya ketika aku mulai masuk SMU, aku sangat ingin menjadi lebih kuat dan memiliki banyak teman.. Tapi.. Tak bisa kulakukan dengan mudah ya hahaha.. Tetap saja tubuhku selalu lemah dan ceroboh.."
Kenapa.. Kenapa kau menceritakan hal menyakitkan itu padaku.. Di tempat ini, dan kau menceritakan itu semua... Dengan.. Senyuman? Apakah kau tak tau betapa menyakitkannya menanggung beban berat itu sendirian..
"Oh ya.. Karena waktu aku kecil aku sering masuk rumah sakit, jadi aku mulai belajar menggambar, menggambar apa yang akan kulakukan di masa depan! Mungkin dengan sebuah gambaran yang kubuat, aku bisa terus bersemangat menjalani hidup dengan tubuh lemah ini! Walaupun aku tak tau sampai kapan tubuh ini akan bertahan. . Aku ini aneh ya? Hehehe"
"Kalau Kau.. Kau.. pasti bisa menjalaninya.. Pasti."
"Kau benar"
"Berjuanglah melakukan yang terbaik, kau bisa bertahan dan sembuh dari penyakit ini. Yaah itu hanya masukanku saja sih.."
Aku hanya bisa melakukan ini.. Ya, mungkin ini perkembangan yang cukup pesat bagi diriku, untuk peduli terhadap orang lain.
"Terima kasih, Takane" jawab Haruka sambil tersenyum.
Sudah cukup jagan berikan aku senyuman itu lagi.. Sudah cukup aku tak ingin melihat kau memaksakan sesuatu yang berlebihan Haruka..
"Yosh! Kurasa istirahat kita sudah cukup, ayo kita pergi ke sekolah.. Mungkin Kenjirou-sensei sudah menunggu kita."
"Baik"
Mereka pun kembali menyusuri jalan setapak dengan seksama. Tujuan mereka tak lain adalah sekolah mereka sendiri. Meskipun hari ini sekolah libur, mereka telah berjanji pada guru mereka untuk datang.
Apa yang terjadi sih. Aku tak bisa menatap matanya secara langsung. Kenapa sih dengan diriku ini?! Argh! Tapi melihatnya dari sisi ini.. Membuatku bisa melihat.. Pundak yang menanggung rasa kesepian itu selama bertahun-tahun..Sendirian, tak memiliki teman, dengan kondisi yang tak memungkinkan dia berusaha tetap tersenyum..Sedangkan aku..Aku yang sehat ini malah menyia-nyiakan semua keadaan ini. Aku wanita yang rendah. Haruka.. Jika aku diberi kesempatan untuk membuatmu selalu tersenyum.. Akan kulakukan semampuku..
Sambil berjalan Takane memandangi punggung Haruka dari belakang. Tak lama gerbang sekolah mulai terlihat. Mereka berdua pun segera masuk dan pergi ke kelas. Tampak Kenjirou-sensei yang sedang menunggu mereka. Mereka pun memberikan hasil barang-barang yang dibeli dan bergegas pulang.
"Ini sudah semua?" tanya sensei.
"Iya sensei sudah semua, urusan dekorasi ruangan ku serahkan pada Sensei ya. Lalu soal pohon bambu yang Sensei pesankan bagaimana?"
"Serahkan padaku! Kalian bisa mengandalkan ku!"
"Soal dekorasi pohon biarkan aku dan Haruka saja yang mengerjakannya. Kalau begitu aku pulang dulu"
"Baiklah. Hati-hati di jalan ya"
Mereka berdua-pun kembali pulang bersama.. Pukul menunjukkan 15.30 yang menandakan hari mulai sore. Tiba-tiba Haruka berhenti berjalan, hal itu membuat Takane menabraknya secara tak sengaja.
"Hei! Apa-apaan kau berhenti tiba-tiba!"
"Takane apa bisa kita pergi sebentar lagi?"
"Haah? Memangnya kenapa?"
"Aku ingin menunjukkan tempat yang indah kepada mu"
"Tempat indah? Apa maksudmu sih?"
Haruka-pun menggenggam tangan Takane dengan erat dan menariknya.
"He. EH?! Huwaa.."
"Apa-apaan sih kau ini?! Kau ingin membawaku kemana?!"
Haruka hanya terdiam, sambil terus menggenggam tangan Takane. Ia terus berjalan dengan langkah yang cepat, dia tersenyum layaknya anak kecil yang telah menemukan suatu benda yang bagus. Dan ingin segera menunjukkan sesuatu itu pada orang berharganya.
Mau kemana sih si bodoh ini. Tempat indah apa yang dimaksudkannya? Eh? Wajahnya.. di-dia tersenyum? Kenapa.. Kalau begini.. Aku tak bisa melihat wajahmu lagi.. bodoh! Dan kenapa wajahku terasa panas.. Aaah! Memalukan! Apa sih yang terjadi?! Jantungku juga berdetak lebih kencang dari biasanya!
Melewati pepohonan rimbun di hutan kota itu, membuat Takane jengkel, ia hendak memarahi Haruka.. Namun tiba-tiba Haruka berlari kecil, sehingga mau tak mau Takane menyamakan langkah kakinya. Dan lagi-lagi Haruka berhenti mendadak. Tanpa melihat sekelilingnya Takane ingin melepaskan amarahnya.
"Haah.. haah.." Takane terengah-engah.
"Kita ini dima- Eh?! Tempat apa ini?!"
Hamparan berbagai jenis bunga tersebar bagaikan samudra yang luas. Warna-warni indah bunga dengan sinar senja yang menyembul. Membuat seluruh bunga di taman luas itu berkilauan dengan indahnya. Takane pun tercengang. Karena untuk pertama kalinya, dia melihat berbagai jenis bunga dengan indahnya.
"I..Ini.. Bukit bunga..?! Bagaimana bisa!?" Ujarku tak percaya dengan pemandangan yang terhampar.
"Ini tempat rahasiaku, sewaktu kecil.. Mendiang Ibuku mengajakku ke sini.. Dia bilang ˹Jika tak ada yang mengerti tentang dirimu, serta mengabaikan dirimu. Datanglah ke tempat ini. Tempat ini akan mengajarkan sesuatu yang tak mungkin ada di tempat lain.˼ Tak lama kemudian diapun meninggalkanku dan ayah. Lalu ayah melarangku untuk datang ke tempat ini lagi, karena takut mengingatkanku pada Ibu yang dapat menyebabkan penyakit ku kambuh.. Tapi memang dasarnya aku menyukai tempat ini. Walau Ayahku melarang aku tetap datang ke sini. Tempat ini indah kan?"
Rasanya aneh.. Kenapa dia menceritakan hal ini kepadaku? Padahal aku selalu memarahinya..
"Kalau tempat ini rahasia bagimu, dan sangat berarti.. Kenapa kau mengajakku kemari? Aku.. bukannya hanya akan mengganggumu?"tanyaku heran.
"Takane kau berbeda. Kau selalu memasang sikap apa adanya. Jika tak suka kau akan berkata tidak. Baik, cerewet, dan pemarah. Bagiku kau orang yang aneh karena biasanya kebanyakan orang yang ku temui selalu saja baik di hadapanku, tetapi ketika aku tak ada mereka selalu mencelaku.. membenciku.. Karena itulah aku lebih memilih untuk sendiri dan terus tersenyum.. Membenci diriku yang lemah ini.. Tapi ketika melihatmu dengan sikapmu yang aneh.. Kau membuatku merasa nyaman dengan keadaanku ini..Terima Kasih telah menjadi temanku.. Oleh karena itu aku mengajakmu ke sini."
Oh.. ahaha memang benar aku aneh jadi wajar saja sih.. Tapi..membuatnya nyaman? Justru bukannya dia yang lebih aneh? Ah sudahlah tak perlu kupikirkan..
"Terima kasih atas pujian dua kali kata anehnya. Ya aku mengerti apa yang kau katakan.. Jika memang itu membuatmu merasa senang..Aku tak keberatan untuk mendengar keluh kesahmu.. Jadi tak usah sungkan untuk bercerita padaku.."
Haruka membalas perkataan Takane dengan senyuman. Sembari mengambil salah satu bunga, yang ada pada semak-semak penuh bunga cantik itu..
"Kau tau bunga ini? Ini merupakan salah satu bunga yang jarang tumbuh"
"Ini warna ungu? Aku tak tahu.. Bunga apa ini?"
"Ini Bunga Aster.. Biasanya bunga ini melambangkan keberuntungan dan kasih sayang.."
Semakin ku perhatikan bunga yang telah diambilnya, ternyata dia benar.. Bunga aster itu indah sekali.. Padahal aku sama sekali tak berminat dengan bunga-bunga.. Tapi jika melihat hamparan bunga di tempat ini.. Membuat perasaanku.. tenang.
"Ah.. bunga yang indah" ucapku dengan senyum.
"Warna yang sama dengan bola matamu.."
"Eh?Apa yang kau kata—"
Aku pun hendak bertanya padanya dan mendongak ke atas untuk melihat wajahnya.. Tapi tanpa kusadari.. INI MERUPAKAN POSISI YANG BERBAHAYA!
"Ap.. KAU TERLALU DEKAT BODOH!" aku pun mendorong dirinya.
Apa yang dipikirkannya! Dia gila ya.. Jantungku! Cepat kau stabil! Apaan sih dia ini! Menyebalkan!
"Maafkan aku"
"Aku ingin pulang.. "
"Um.. Baiklah.. Mari kita pulang Takane"
Haruka-pun hendak memegang tangan Takane, namun Takane menepisnya.
"Ja—jangan sentuh aku.. Memalukan"
"Ah.. Um.. Baiklah.. Maaf."
Mereka berjalan menyusuri hutan kota meninggalkan bukit penuh bunga itu. Sembari menyusuri jalan setapak Takane pun melihat keindahan langit senja yang sebelumnya tak pernah diperhatikannya.
Seandainya waktu bisa berhenti saat ini. Mungkin kebahagiaan ini.. Bisa kurasakan untuk selamanya. Apapun yang terjadi saat ini.. Kurasa sudah cukup untuk keadaanku.. Perasaanku.. Terima Kasih.. Haruka
Tiba-tiba suara menakutkan yang tampaknya berasal dari binatang-binatang kecil terdengar, hal ini membuat Takane tersadar bahwa mereka masih di dalam hutan.
"Ap- apaan suara itu?"
"Suara apa?"
"Hah?! Kau tak mendengarnya?"
"Sepertinya hanya suara kelalawar yang mulai berterbangan.."
Seketika tubuhku merinding, yap benar- Walaupun aku jago bermain game, aku takut pada binatang aneh semacam kelalawar atau reptil lainnya.
"Ke- kelalawar?"
"Ya.. kenapa?"
"Tidak apa-apa.."
Takane berusaha tenang.. Namun tiba-tiba kawanan penghisap darah itu, mendadak keluar secara bersamaan sehingga membuat Takane panik.
"GYAAAA!"
"Takane! Hati-hati!"
GUBRAK.
"Sa-sakiit.. "
"Takane? Kau tidak ap- Takane kakimu terluka!"
"Ugh... Hah? Sudahlah.. luka segini tak apa- Huwa! Duuh- sakit"
Apa-apaan ini kenapa kaki ku lemah sekali?! Woi! Kalau begini, bagaimana caranya aku pulang?! Ayo berdiri!
"Takane jangan memaksakan diri.. Baiklah. Biarkan aku menggendongmu"
"HE?! EH!? Ti-tidak usah! Aku bisa berjalan! Kau cukup jalan sendiri saja, la-lagipula aku berat kau pasti tidak ku- WUAH-"
Haruka pun mengangkat tubuh Takane dan menggendongnya. Hal ini membuat wajah Takane merona padam.
"Sudahlah.. Biar ku antar kau pulang.. Ini karena salahku mengajakmu ke sini. Maaf ya."sambil tersenyum bersalah Haruka mulai berjalan sambil menggendong Takane.
"HEI- Tu-turunkan aku! Aku bisa berjalan!"
"Tak apa.. Takane tidak terlalu berat kok.. Kau kan perempuan.. Hahahaha"
"uh- terserah kau- sajalah"
Apa boleh buat.. Lagipula kakiku memang sakit, ya sudahlah ini juga tidak terlalu buruk.
Sambil menyusuri jalan yang hanya diterangi lampu-lampu dan terangnya sinar bulan.. Takane terdiam sambil memandang leher Haruka.. Dia mulai meyadari perasaan yang kini semakin berkembang dalam dirinya..
"Haruka.. Terima Kasih.. Atas hari ini."
"Ya.. sama-sama Takane"
Sambil terus menggendong Takane, paras Haruka tersenyum lembut. Dia merasa cukup bahagia, karena telah menghabiskan waktu bersama orang berharganya.
.
˹Dan terima kasih, atas Kenangan Berharga ini˼
Takane.
.
.
Ujar Haruka dalam hatinya sambil tersenyum bahagia.
Author's Note:
* Swarovski: Sejenis batu perhiasan yang mirip berlian. Tapi menurutku malah mirip kristal sih- Lol
* Oolong Tea: Teh yang berasal dari China, biasanya mengandung kandungan yang baik untuk kesehatan.
* Aster: Bunga berwarna ungu atau berwarna lain, yang memiliki bau yang khas. Serius ini bunga cantik lho~
MAAPKAN AKU UPDATENYA TERLALU LAMA QAQ)/ *sungkem*. Sebenernya sepertiga(?) ceritanya waktu itu udah dibikin gak lama dari chapter 1- cuma malas melanda dan- SAYA KEBURU PKL selama 6 bulan- hahah;;; /cries
Sekali lagi maafin aku bagi yang udah nunggu update-an saya ;;A;;))/ Chapter 3 juga aku gak bisa janji bakal publish kapan- tugas ku banyak- urk..
Btw di chapter kali ini ada yang mau aku bahas sedikit XD Waktu bagian Haruka bilang warna bola matanya Takane itu ungu, menurut kalian gimana? Soalnya aku liatin di anime emang warnanya ungu sih- Btw~ Maaf aku buat Haruka jadi gentleman disini~ 3 Abisnya dia emang gak selemah yang kita duga juga kok~ Akhir kata~ Sampai jumpaaa! Ditunggu review-nya~ 3)/
