.

.

Higher Than Dreams

Naruto is belong to Masashi Kishimoto, I take no profit of this and all the characters inside. All of the purpose for making this is just for fun and entertaining.

Uchiha Sasuke/Haruno Sakura; K, Romance/Friendship

© kazuka, february 3rd, 2013

.

.

For SasuSaku Fan Day 2013!

#2: Lost

.


Cabang utama kehidupan remaja itu biasanya ada dua, 'kan?

Mau pilih yang mana? Impian, atau cinta?

. . .

Sakura adalah pengejar mimpi dan cinta.

Sasuke hanyalah pengejar mimpi.

Dan itulah yang membuat mereka berpisah.

. . .

.

. . .

"Sasuke menyukaimu, Sakura."

Sakura melirik pada si rambut pirang yang ternyata sedang memandangnya. Lekas-lekas ia tutup bukunya, antisipasi kalau-kalau saja Naruto akan mengintip isinya yang belum selesai.

"Kau tidak perlu bohong untuk menghiburku, Naruto."

"Serius."

Sakura bukan ahli psikologi, tapi ia bisa menemukan kalau Naruto sedang tidak bohong ketika ia lihat mata birunya.

"Kalau dia suka, kenapa diam saja? Cowok aneh."

Naruto menyandarkan kepalanya di atas kedua tangan—menatap langit-langit kelas, ia melorot sedikit di kursi. "Dia memang aneh. Dia punya tujuan lain, sepertinya."

Sakura menggoyang-goyangkan pena dengan hiasan bulu di tangannya, "Selamanya aku tidak mengerti dengan laki-laki itu."

.

.

xxx

.

"Kau tidak nangis?" senggol Ino—Sakura tampak memandang kosong pada momen-momen terakhir di bandara itu. Seorang laki-laki rambut hitam sedang diajak mengobrol oleh teman-teman sekelasnya, sementara menunggu waktu keberangkatan pesawat tiba.

"Buat apa nangis?" cibir Sakura. "Toh dia tidak akan menangis karena aku juga. Percuma."

"Kau sudah jadi cewek kuat sekarang, ya, hahaha~" Ino melipat tangan seraya terkekeh, "Baguslah."

"Tapi tanggung sekali dia pergi, ya," Tenten menimpal. "Sebentar lagi 'kan ujian."

"Apa boleh buat," Sakura menjawab dengan bahu yang terangkat satu kali, "Pelatihan untuk tim nasional dimulai akhir bulan ini."

"Dia sekolah di sana, dong?" Tenten lanjut bertanya.

"Iya~" Sakura sudah seperti ahli saja, semua tentang Sasuke—yang akan berangkat sebentar lagi—ia hafal diluar kepala.

"Buang-buang uang sebenarnya, ya—pindah sekolah diwaktu tanggung mau ujian begini. Pindah sekolah 'kan tidak gratis."

"Ah, dia sih gampang kalau mau pindah-pindah sekolah begitu. 'Kan kaya," Sakura angkat bahu. "Apalagi... ini semua berhubungan dengan mimpinya. Sasuke-kun akan melakukan apapun demi mimpinya."

Keempat gadis itu diam kemudian, tidak ada yang memulai topik baru.

Ya, bahkan dia mengorbankan rasa sukanya pada seorang wanita demi mimpinya—Sakura membatin. Dirinya, dalam kasus ini. Pede sekali ya dia—mengatakan bahwa itu adalah dirinya.

Tapi ia punya bukti, kok. Perkataan Naruto—seorang sahabat penghubung dirinya dan Sasuke adalah hal yang patut dipercaya. Dia orang kepercayaan Sasuke dan dekat dengan Sakura pula.

Mereka sudah dekat dari kecil. Sakura adalah wanita pertama yang pernah diundang Sasuke ke rumahnya dan dikenalkan pada Itachi serta kedua orang tuanya, dan Sasuke adalah laki-laki pertama yang pernah Sakura kenalkan pula pada ayahnya.

Sakit hati, iya. Tapi Sakura mencoba dewasa, ia telah tujuh belas dan bukan usia untuk memikirkan semua dengan jalan kekanakan yang cuma menginginkan kesenangan cinta saja. Cintanya adalah cinta dewasa yang rela melepas demi sebuah jalan penting.

Demi mimpi Sasuke, demi mimpi orang yang ia cintai.

Dan perpisahan sore itu tak berjalan seperti apa yang terjadi pada drama, hanya ada pertukaran pandang sekian detik dan kalimat pamit yang tak seberapa panjang.

. . .

. . .

Waktu turun minum selama lima belas menit itu sukses membuat Sakura melayangkan pikiran kembali ke hal yang seharusnya sudah ia singkirkan dari fokus utama orientasi otaknya.

"Lupakan, Sakura!" ia bermonolog sambil memukul kepalanya. Lantas, ia kemudian bersandar malas di sofa tunggal di depan televisi—ocehan komentator sebagai pengisi kekosongan pertandingan itu tidak dihiraukannya. Ia tidak tertarik. Ia cuma mau melihat si nomor sembilan, sang idola.

Siapa lagi si idola itu kalau bukan si masa lalunya itu? Seseorang yang lebih memilih mimpi dan menyingkirkan segalanya demi itu.

Entah sampai kapan Sasuke akan terus mengejar mimpinya. Manusia memang tidak akan pernah puas, bukan?

Dan Sakura perlahan jadi ragu ... Apakah Sasuke benar-benar akan memikirkan cintanya setelah semua mimpi itu selesai dicapai satu per satu?

... Ah, berarti dirinya telah terlupakan, ya?

. . .

. . .

Sedang malas naik bus untuk kuliah—itu alasan Sakura pada ibunya hingga ia mau membongkar gudang untuk mengeluarkan sepeda tuanya. Sepeda yang dulu dia pakai untuk bersekolah semasa SMA—untung saja masih baik dan bisa dipakai meski dibiarkan tanpa disentuh selama lebih setahun.

Padahal, ia hanya ingin menikmati perjalanan lebih santai dan bisa memutar-mutar untuk menemukan kembali kenangan-kenangan lama lewat jalan yang ia sukai.

Ia bersenandung pelan, dan sedang melewati sekolah menengah pertamanya kali ini.

"Sasuke-kun, aku bawa payung! Yuk, pulang bersama!"

"Hn."

"Sasuke-kun, ibu membuatkan bento yang enak. Makan bersama di atap, yuk? Nanti kubagi bento-ku."

"... Aa."

"Ih, nilai Sasuke-kun lebih tinggi! Awas kau ya! Semester depan aku akan merebut peringkat satu!"

"Hn. Coba saja kalau bisa."

"Siapa yang membuatmu menangis, Sakura?"

"... I-itu... senior... dia melemparkan bola basket ke kepalaku..."

"... Siapa namanya? Kelas?"

"K—kenapa memangnya? Aku takut dengan mereka..."

"... Aku akan memberi mereka pelajaran."

Kalimat itu diputarkan otaknya dengan apik meski sudah tua dari segi usia. Yah, bilang saja tua. Sudah berusia tahunan. Memori yang indah memang tak akan usang, ya?

Mereka tahu mereka saling menyimpan perhatian namun tak ada yang bilang duluan.

Mereka adalah tipikal remaja yang akan berbicara tentang mimpi atau masa depan—ketika sedang berdua—bukan limpahan kata-kata romantis yang sebenarnya hiperbolis.

"Aku lebih suka membuat puisi lebih dari apapun."

Sasuke menghentikan gerakan bola yang dimainkan oleh kakinya—ia melirik Sakura dari ekor matanya. Gadis itu duduk di bangku di sisi kanannya. Tangan lentiknya memutar-mutar pulpen.

"Suatu saat aku akan membuat buku tentang sajak-sajakku!"

Sasuke menangkap bola yang ia lemparkan tinggi ke udara dengan tendangannya, kemudian duduk di samping Sakura sambil menyeka keringat.

Sakura tidak butuh jawaban. Ia hanya memberi senyum pada Sasuke kemudian—dan ketika senyuman itu berbalas dengan sebuah tarikan kecil kedua ujung sudut bibir Sasuke, ia tahu bahwa Sasuke sedang senang menghabiskan waktu bersamanya sekarang.

Sebuah kenangan yang ia rawat lebih baik daripada kenangan apapun yang ia miliki dalam perjalanan hidupnya.

Sakura terus mengayuh sepedanya.

Ah, sedang apa Sasuke sekarang? Sedang berlatih pastinya, bukan? Pasti impian adalah suatu hal yang menguasai pikirannya sekarang.

Dirinya tersingkirkan? Sakura tak tahu harus benci akan hal itu ... Ataukah senang-senang saja?

Sasuke adalah sosok yang ambisius. Tak mau mentolerir hal lain kalau ia sudah punya tujuan. Sakura sebenarnya kurang suka orang yang terlalu mengejar satu hal sampai melupakan yang lain. Namun ia sendiri tak bisa menghalangi Sasuke. Ia hanya ingin siapa yang ia cintai bahagia. Apalagi bahagia karena impiannya.

Ia hanya bisa menjalani semua dengan mengikuti arus takdir namun tetap juga untuk terus meniti jalannya sendiri. Menjalaninya dengan santai, sesantai kayuhan kendaraan roda dua tak bermesinnya ini.

. . .

. . .

"Sakura!" lambaian tangan gadis pirang modis berambut panjang adalah hal pertama yang menyambut Sakura di gerbang. Ia tidak sendiri, seorang pemuda sedang ia gandeng.

Sakura balas melambaikan tangan, dan memarkir sepedanya dahulu.

"Tumben pakai sepeda?"

"Mmm, lagi mood saja," Sakura membenarkan posisi tas di bahunya, "Sai-senpai ada kuliah juga hari ini, ya?"

"Aku hanya mengantarkan Ino," jawabnya datar, namun tersenyum. Sejak pertama Ino kenalkan dahulu, imej 'pemuda tukang senyum' sudah lengket pada Sakura akan kekasih sahabatnya ini.

Sakura biarkan Ino dan Sai berjalan duluan—ia di belakang dan bermaksud tidak mengganggu keduanya.

Um, bohong kalau tidak iri. Ia telah mencapai usia sembilan belas dan ... Sejujurnya belum pernah mengecap 'hubungan' seperti yang tengah ditampakkan di hadapannya sekarang. Ia menemukan jalan buntu kisah cintanya di Sasuke dan tidak bisa tahu mana jalan baru untuk berpindah.

Terlalu polos, padahal belum tentu Sasuke masih memikirkannya—Sakura berusaha menyadarkan diri dengan kesimpulan itu.

Yah, sudahlah. Sasuke sedang mengejar mimpinya, dan ada baiknya ia juga melakukan hal yang sama.

Hm, memang ia sedang mencoba itu. Sasuke saja bisa melupakan cintanya karena mimpi.

Tapi sayangnya...

... Mimpi Sakura sendiri, adalah cintanya.

. . .

. . .

Bukan, bukan sesederhana itu.

Mimpi Sakura adalah Sasuke sendiri? Memang, tapi tidak sesimpel itu.

Ia punya hal yang lebih rumit dari itu. Ia bukan si remaja pencari cinta yang cuma melulu mengurusi khayalan kisah cinta.

Sakura masih menggenggam mimpinya yang dulu ia sebutkan di hadapan Sasuke. Ia ingin menulis buku sendiri, yang menjadi kompilasi dari sajak-sajak yang terus ia tulis sejak dahulu.

Itulah mimpinya; menjadi penulis puisi yang terkenal sampai keluar negeri. Terkenal dan diakui.

Tapi apa tema yang ia tulis selama ini? Apa yang menjadi topiknya? Siapa yang menjadi inspirasinya? Siapa orang yang selalu ia pikirkan ketika bait-bait itu mulai terangkai?

Cintanya.

Uchiha Sasuke.

—Jadi, siapa yang mendasari mimpinya itu? Sasuke.

Siapa orang yang pertama kali ingin ia dengar pengakuannya ketika ia telah berhasil menjadi seorang yang dia impikan?

Cintanya.

Uchiha Sasuke.

—Jadi, bolehkah semua premis itu disatukan menjadi sebuah makna: bahwa mimpinya itu adalah untuk yang ia cinta, dan cinta itulah yang menjadi tonggak mimpinya?

Mimpi dan cintanya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dan tak bisa Sakura kejar salah satunya saja. Keduanya adalah hal yang ia genggam dan ia tuju. Ia tak bisa seperti Sasuke yang hanya mengejar salah satunya—karena bagi Sakura, dua hal itu adalah dua korelasi yang tak bisa dipisah-pisah.

Suatu saat, ia ingin Sasuke mengaguminya, mengakuinya hingga 'naik tingkat' menjadi mencintainya karena apa-apa yang telah ia capai sebagai seorang yang punya nama besar sebagai penulis.

Dan pena Sakura menari lagi setelah ia selesai dengan renungannya tersebut.

hei, ujung jalan belum kutemukan, wahai pangeran.

aku merajut temali untuk penunjangku mendaki tembok penghalang,

aku menyusun pohon mati untuk jembatanku ke seberang sungai,

tapi aku masih sesat.

bantu aku ke depan sana, bisa? bawa tanganku yang mulai lunglai ini dan aku akan memegang janji untuk terus tersenyum padamu.

bantu aku ke mimpiku sana, tolong? rangkul pundakku yang kotor ini dan aku akan berjanji untuk jadi yang kau sandari suatu saat nanti.

pangeran, aku hilang jalan. bawakan aku lentera, keluarkan aku dari kegelapan—dengan kau seret pun tak apa.

pangeran, aku buta arah. jadilah kompasku, bawa aku dari tempat tak dikenal ini—kau tak papah aku seperti putri pun tak apa.

aku tak tahu jalan keluar, pangeran.

apalagi tanpa kau.

Pulpen diletakkan ke atas meja, dan kertas notes tempatnya menuliskan puisi itu kemudian ia sobek—setelah sebuah paraf samar ia bubuhkan di sudut bawahnya. Sakura lantas beranjak dari kelas, menuju koridor utama kampus.

Papan besar itu ia buka kacanya, kemudian merekatkan kertas miliknya di sana. Kemudian ia tatap bangga beberapa lembar kertas serupa yang sejajar dengan kertas barusan.

Dia adalah seorang pengisi rutin mading kampus. Walau hanya sebait-dua bait puisi, tapi ia senang melakukannya. Apalagi ketika kebetulan ia melihat ada mahasiswa yang melintas dan membacanya, kemudian tersenyum—wow, kebahagiaan terbesar sedang melingkupinya saat itu.

Ya, ini langkah awalnya untuk dikenal sebagai seorang penulis sajak, penulis puisi.

Langkah awal untuk mimpinya, langkah awal untuk mendapat pengakuan seseorang yang ia cintai. Langkah awal untuk meraih kedua tujuan utama hidupnya.

Sebelum akhirnya melepaskan pandangannya dan pergi dari sana, Sakura tersenyum lagi.

Sesosok laki-laki datang menghampiri tempat yang barusan Sakura pandangi, beberapa lembar gulungan kertas ada pada tangannya dan kemudian ia membuka kaca penutup mading.

Lantas, ia lepas beberapa kertas dari sana. Termasuk kertas-kertas lama berisi tulisan Sakura. Membaca isinya—sebentar kemudian ia merasa cukup menyesal karena telah melepas puisi-puisi tersebut.

"Sakura!"

Yang punya nama menoleh.

"Sasori-senpai?"

Si rambut merah tersenyum kecil. "Ini milikmu, 'kan?" ia mengacungkan beberapa kertas yang baru ia lepas.

Sakura berbalik kembali, mendekati Sasori. "Senpai tahu?"

Gadis itu memang lebih senang memajang puisinya dengan status sebagai anonim. Ia bukan gadis yang suka menjadi misterius tapi rasanya malas saja menunjukkan identitasnya.

Sasori menunjukkan sebuah paraf pada sudut kertas, "Sebenarnya menebak saja. Soalnya paraf ini mirip dengan bunga sakura. Aku langsung ingat kau—soalnya katanya kau suka menulis, ya?"

"Yaaah, ketahuan," Sakura terkikik pelan. "Ya, itu memang buatan saya. Kenapa, senpai?"

"Maaf, tapi harus kulepas, ya? Ada beberapa pengumuman tentang kampus dan sepertinya papan ini terlalu sempit."

"Aku tidak keberatan," Sakura mengangguk. "Silahkan saja."

Sasori sekali lagi memandangi bait-bait singkat namun berisi penuh dengan bait yang menggelitik itu. "Tentang cinta semua. Buat seseorang ya?"

Sakura lekas-lekas membuang wajahnya, malu. "Ah, senpai tidak perlu tahu."

"Hahahaha, kau ini lucu," geleng Sasori. Kemudian, ia kembali pada tujuan asalnya: menempelkan beberapa kertas pengumuman di papan mading. "Kau sedang tidak ada kelas?"

"Ada, sih. Tapi aku datang terlalu cepat. Baru sedikit yang datang."

"Oh," Sasori selesai dengan apa yang ia lakukan. Ia tutup kembali kaca pelindung, "Selamat belajar, Sakura."

"Senpai juga. Sampai jumpa!"

"Ya."

Sasori masih memandangi kertas puisi yang rupanya belum ia lepaskan. Entah Sakura sadar apa tidak bahwa ia membawa ini—ah, yang penting gadis itu tidak keberatan puisinya dicopot, deh.

Alis bertaut sebentar, lantas baru bisa benar-benar Sasori ingat sesuatu yang sejak tadi ia cari-cari di pikirannya.

. . .

. . .

"Uchiha Sasuke, apa komentar anda tentang penempatan acak anggota tim nasional yang terkesan begitu mendadak dan rahasia ini?"

Pertanyaan wartawan di televisi sana membuat kuping Sakura berdiri—seperti radar yang menangkap sebuah sinyal berkekuatan tinggi. Ia melongok keluar kamar dan merasa untung karena ia tidak mematikan televisi tadi.

"Hn..."

Sakura menatap televisi dengan bangga. Senyum terulas tipis tapi sorot matanya diisi penuh dengan sinar bahagia yang bercahaya.

"... Aku menyerahkan semuanya pada mereka."

"Anda bersedia ditempatkan di tim daerah manapun di Jepang ini?"

"... Ya," tampak di televisi—Sasuke mengelap keringatnya dengan handuk dan kemudian beranjak dari si pewawancara. Rupanya interview dadakan ini diadakan setelah pertandingan beberapa hari sebelum ini.

Sakura mengerjapkan matanya tak percaya sekian detik setelah wawancara singkat itu berakhir.

... Sasuke akan ditempatkan di tim daerah?

Nah! Bolehkah ia berharap agar Sasuke kembali ke kota tempat mereka merajut kisah masa lalu ini?

. . .

. . .

"Nih."

Sakura menurunkan ponsel—yang sedang bosan ia pandangi isinya—ketika sebuah tablet Ino taruh ke atas mejanya.

"Apa?"

"Kau bisa baca, 'kan?"

'Tim nasional akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim dari Prefektur Osaka.'

Mata Sakura melebar. Mulutnya setengah terbuka dan kalau tidak ingat bahwa ini adalah ruang kelas, ia mungkin akan melompat pada Ino dan memeluknya sambil berteriak senang.

"Dia akan pulang, Ino! Dia akan pulang!"

.

.

xxx

.

Sakura sedang menempel dua lembar puisi baru ketika Sasori datang ke dekatnya.

"Mau melepas puisiku lagi, hm, senpai?" Sakura menyadari ada sebuah gulungan poster yang dibawa Sasori.

"Maaf, tapi aku harus bilang 'iya'," Sasori tersenyum kecil, sedikit rasa bersalah tertera di sana. "Iklan acara musim panas di Tokyo. Tapi tenang, aku hanya akan mencabut yang lama."

"Baiklah~ silahkan saja cabut puisi yang lama."

"Kau tak keberatan?" Sasori memastikan.

"Ya, tidak apa," angguk Sakura, selesai merekatkan kertas merah jambunya. "Aku punya arsip kok—untuk puisi-puisi itu, hihihi."

Pembicaraan ringan mereka berlanjut—pada hal-hal yang bersifat ringan dan mengundang tawa, hingga akhirnya Ino datang untuk menjemput Sakura.

"Sai mengajakmu ikut makan!"

Sakura terpaksa menghentikan pembicaraannya dengan Sasori. "Aku tidak mau jadi obat nyamuk kalian."

"Heh, dia juga mengajak Naruto, Hinata, Shikamaru, Neji dan yang lain. Dia mau merayakan suksesnya pameran lukisan yang dia adakan."

"Oh ..." angguk Sakura dua kali. "Senpai, aku pulang duluan, ya!"

"Baiklah."

Dan Sasori masih penasaran kenapa Sakura membiarkan saja dirinya mengambil puisi-puisi itu?

... Hm, tidak apa—Sasori menyeringai sedikit—itu berarti keuntungan baginya, bukan?

. . .

. . .

"Sore ini pertandingannya, 'kan ya?" Ino tidak tahan untuk tidak ikut juga tersenyum melihat Sakura yang seperti orang gila hari ini. Sepanjang pagi, dimulai dari jam kuliah pertama sampai saatnya pulang, ia begini terus.

"Ya! Hihihi~~ aku akan nonton! Pasti!"

"Kenapa kemarin-kemarin tidak kau coba menunggunya di bandara saja? 'Kan lumayan, bisa ketemu duluan."

"Kau lupa bagaimana tugas-tugas kita?" Sakura menutup laptopnya, "Aku mau kok—biar tengah malam datang ke bandara demi itu. Tapi ... sayang sekali semua tugas gila itu minta perhatianku."

Ino mengamini dengan hembusan nafas berat. Mengingat-ingat soal tugas membuatnya ingin melarungkan saja semua soal-soal itu ke lautan terdekat. Membiarkannya tenggelam tanpa ampun, atau dimakan piranha dan jadi rebutan para hiu, ia tidak akan peduli.

"Tapi tenang, aku akan menontonnya di bangku terdepan! Biar dia lihat aku dan... yah, entah apa yang akan terjadi selanjutnya~" Sakura mendekap tasnya. "Kau nonton?"

"Yaaah, mungkin tidak," Ino mengangkat bahu. "Sai tidak terlalu tertarik dengan sepak bola. Lagipula aku tidak beli tiketnya."

"Oh ..." Sakura diam sejenak. "Tunggu. Apa katamu tadi? Tiket?"

"Iya, tiket. Kau sudah beli, 'kan?"

"... Hah?"

"Sakura no baka! Jangan bilang kau tidak tahu kalau itu memerlukan tiket!"

"Lho?!" Sakura meninggikan suaranya, bangkit berdiri sambil menggebrak meja. "KATA SIAPA?!"

"Kau tidak baca benar-benar artikel yang kuperlihatkan waktu itu?! Ini tidak seperti pertandingan biasa—karena mendatangkan tim nasional, mereka mengharuskan penonton untuk beli tiket, yah kau tahu, mengundang tim nasional itu tidak murah. Apalagi mereka tahu yang mau nonton itu banyak, mereka mau cari untung."

"Ino no baka! Kenapa tidak kasih tahu dari awal?!"

"Kau tidak tanya! Lagipula kau juga, kenapa tidak dibaca dengan benar?!"

"Ugh!" Sakura mengeluh frustasi, "Di mana tiketnya bisa dibeli?!"

"Setahuku di stadionnya ... Terus—di mana lagi ya? Aku lupa. Tapi yang jelas, di stadionnya ada."

Tanpa ba-bi-bu lagi, Sakura menerobos Ino dan lari sekencang-kencangnya ke tempat parkir sepeda. Yah, Ino cuma bisa menggeleng. Antusiasme dan rasa rindu dalam hati sahabatnya itu pasti bergumul jadi satu—hingga ia jadi seperti orang tak waras begitu.

.

.

"Hosh, hosh ..." Sakura meredakan nafasnya. Bersepeda dengan kecepatan maksimal dari kampus ke stadion, bohong kalau tidak capek. Sampai-sampai kedua kakinya rasanya mau lepas.

Untung—ada tanda berupa kertas bertuliskan 'beli tiket di sini' yang mengarah ke loket kecil pintu masuk stadion—jadi Sakura tak perlu berkeliling lagi mencari tempat penjualannya.

"Sumimasen—tiket untuk pertandingan sore ini, masih ada?" Sakura bertanya dengan gugup. Hampir terbata karena nafasnya yang masih tersengal.

"Wah, maaf, nak. Sudah habis. Kau keduluan, baru sepuluh menit tadi pembeli terakhir meninggalkan tempat ini."

Dan kaki Sakura terasa makin lemas.

.

.

.

| t b c |

.

A/N: maaf soal puisi/sajaknya, ya—kalo kurang bagus. aku gak ahli, aku masih harus belajar, hahaha X"D tapi semoga makna dan alurnya sudah mulai dapet di chapter ini, ya? Oh, satu hal. itu yang ditulis Sakura, lebih tepat 'sajak' atau puisi? Aku sudah observasi lapangan(?) tentang perbedaan keduanya, dan nemu pendapat orang yang bilang kalau dia penganut aliran bahwa puisi dan sajak itu sebenarnya sama saja. Jadi, sementara aku ikut aliran itu aja dulu, kecuali kalo dari reader sekalian ada yang punya pendapat buat meluruskan? hehe, terima kasih sebelumnya :D

Nah, balas-balas review yang ada di chapter prolog dulu, ya!

mewmewmeoong: sasusaku fanday itu hari perayaan buat kita para savers :D detailnya bisa dilihat di fanpage fb, kok :D

karimahbgz: iya, konfliknya baru mulai dijabarkan di sini! udah mulai ngerti, 'kan gimana alurnya? XD

iya baka-san: terima kasih! hehe, di sini sudah mulai diceritakan, kok. terima kasih alert-nya! semoga suka! :D

skyesphantom: terima kasih! n / / / n syukurlah kamu suka :D dan terima kasih lagi buat fave-nya, ihihihi~

mako-chan: si nomor punggung 9? hayo siapaaa? hehehe Sasuke, kok. Sasori perannya beda lagi, soalnya XD

crystahime: terima kasih! n.n)9

Lia: terima kasih juga! nah, ini lanjutannya, bagaimana? :D

Grengas-Snap: terima kasih, wehehehe~ ini update-nya, semoga bisa dinikmati! :D

Yap yap! Terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca, apalagi yang menuangkan unek-uneknya di kotak review. semoga terhibur, minna-san! 8D tunggu chapter 3-nya, ya! Daaan~ mari ramaikan SasuSaku Fan Day 2013 XDd