Hello Mitsuki here! Yap ini Chapter ke-2 dari Uni Indonesia-Netherlands! Makasih yang udah ngereview fanfic Hetalia Mitsuki yang pertama…! #terharu

Ya, seperti yang Mitsuki bilang di Chap 1. Mitsuki nga terlalu tau tentang Hetalia… Jadi klo ada yang OOC atau apalah yang menurut kalian semua gaje, mohon dimaapkan!

Disclaimer : Hetalia punya Himaruya Hidekaz. OC!Indonesia punya bangsa Indonesia.

Selamat Membaca

^w^


Tok… Tok… Tok…

"Japan-san… Japan-san… Konniciwa." panggil Indonesia dari luar.

"Chotto matte…" kata seseorang dari dalam, "ah! Nesia-san, ayo masuk-masuk" suruh Japan.

"Iyaa… Oh! Germany sama Italy ada di sini juga toh!" kata Indonesia ketika melihat 2 orang teman Japan yang sedang meminum teh di rumahnya.

"Ahhh…. Nesia… Lama tak bertemu…." Kata Italy sambil memegang tangan Indonesia.

"Iya!" jawab Indonesia, "dan juga Germany, lama tak bertemu."

"Iya Indonesia." jawab Germany singkat.

"Nesia-san ada apa datang kemari?" Tanya Japan sambil memberikan Indonesia secangkir teh hijau asli dari negaranya sendiri.

"'Ah.. Gini… Sebenernya aku mau curhat sama Japan-san tentang sesuatu…." Indonesia lalu meneguk tehnya.

"Oh… Berarti kami berdua harus pergi dulu ya." kata Germany, dan lalu membawa Italy dan kucingnya pergi, tapi ternyata mereka dicegah oleh Indoneisa.

"Germany sama Italy juga boleh dengerin kok! Aku kepingin denger tanggapan kalian tentang ini" kata Indonesia, lalu Germany dan Italy kembali duduk, "jadi gini, kemarin Neth datang ke rumah, entah dia mau apa aku nga tau. Tapi pas keesokan harinya, dia datang ke Istana Merdeka untuk bertemu dengan Boss-ku. Dan ternyata dia ingin membahas... Tentang surat yang dikirim oleh Ratu Netherlands..." Indonesia lalu menundukan kepalanya.

"Surat apa itu Nesia-san?" Indonesia kemudian mengangkat kepalanya kembali dan berkata,

"Dia mau melakukan Uni denganku..."

"O-Oranda-san… Ingin… Melakukan Uni..?" Tanya Japan yang mukanya kelihatan kaget banget setelah medengarkan cerita Indonesia yang panjang lebar tadi.

"Iyaa…" jawab Indonesia.

"Waahhh…. Selamat ya Nesia..! Jangan lupa undang aku!" seru Italy yang sedang memakan pasta yang entah kenapa bisa ada di sana.

"Oi Italy, Indonesia belum menyetujuinya" tegas Germany.

"Ehh… Kenapa Nesia nga terima aja…? kalau begitu Nesia bisa lebih bahagiakan…?" kata Italy dengan wajah unyu-unyunya itu.

"Memangnya apa yang membuatmu menjadi ragu untuk menerimanya, Indonesia?" Tanya Germany.

"Y-ya… Ka-karena… Dia itukan pernah jajah aku! 350 tahun lagi! Dia juga pernah melakukan Uni denganku… Tapi…" Indonesia berhenti sejenak, sedangkan 3 orang yang lainnya terdiam mengingat masa lalu yang tidak ingin mereka ingat lagi, "aku tidak mau kejadian serupa terjadi lagi…" lanjut Indonesia.

"Tapi menurutku… Netherlands itu sudah berubah…" kata Germany tiba-tiba.

"Eh? Apa maksudnya?"

"Rumahku dekat dengannya, jadi aku sering melihatnya… Dahulu itu dia orang yang sangat pelit dan—" jelas Germany tapi terpotong oleh Italy.

"Iya! Itu benar! Aku saja tidak dibolehin ke dapurnya doang!" tangis Italy.

"Hahahahah… Itu karena dia tidak ingin dapurnya kotor… Aku saja pernah dimarahinya dahulu…" kata Indonesia dan kemudian ia mengingat masa itu lagi.


Flashback

"Indie!" teriak seseorang bersyal garis-garis putih biru, Netherlands di sebuah dapur.

"I-iya meneer!" kemudian datang seorang anak kecil bernama Indie atau Indische yang sepertinya sehabis bangun tidur.

"Kenapa dapurku ini ada jejak lumpur?!" tanya Netherlands.

"I-itu karena… Saat aku pulang kerumah kemarin malam, aku kehujanan… Lalu aku pergi ke dapur untuk membuat teh hangat supaya nga kedinginan…" jelas Indie.

"Tapi seharusnya kamu bersihkan dulu kakimu! Apa kau tidak tau yang namanya kebersihan?!" tegur Netherlands yang kejam itu. (author : Ya Allah Neth… kenapa kau begitu kejam pada Indie kecil…? :'( )

"Ma-maaf meneer… ha.. haaachi!" setelah Indie bersin, Netherlands kemudian mendekati tangannya ke Indie seperti ingin memukulnya, "ja-jangan meneer!"

Pluk!

Ternyata Neth hanya ingin menyentuh dahi Indie dan memeriksa apakah dia terkena demam atau tidak… (author : ciee ciee Neth ciee… #digiles)

"Hah… Seharusnya kau mandi air hangat dulu baru pergi tidur…" Netherlands kemudian berdiri dan memalingkan wajahnya dari Indie.

"Ma-maaf meneer"

"Ya sudahlah, kau pergi istirahat, biarkan aku yang membersihkan dapurnya…"

"Ta-tapi meneer… "

"Indie! Pergi tidur! Kalau kau sakitnya lebih parah lagi, aku yang repot!" teriak Netherlands.

"Baik!"

End Flashback


"Neth…" gumam Indonesia.

"Yaa seperti yang ku bilang tadi ia sudah berubah, entah kenapa dia menjadi lebih baik daripada sebelumnya… Coba saja kau lihat Japan, dia berubahkan?"

"Do-Doitsu-san…"

"Hm? Kalau Japan-san pastinya sangat berbeda dari yang dulu… Aku saja terkejut saat bertemu dengan Japan-san lagi setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya!" seru Indonesia.

"Jadi mungkin ia tidak seburuk yang kau kira… Tapi itu hanya menurutku, aku tidak akan memaksamu untuk menerimanya" kata Germany.

"Begitu ya… Bagaimana dengan Japan-san?" Tanya Indonesia ke Japan yang dari tadi ngomongnya cuma dikit doang.

"Umm… Sebenernya sih… Aku tidak terlalu setuju…" kata Japan dengan mukanya sedikit merah.

"Eeh? Kenapa Japan nga setuju..?" Tanya Italy yang dense banget.

"I-itu…" Japan mulai gugup pemirsa! #authorditendang

Kringg… Kringg… Kringg…

"Eh? Ada telephone, tunggu bentar ya" kemudian Indonesia pergi keluar untuk mengangkat telponnya yang entah dari siapa itu, sedangkan 3 negara yang ditinggalkannya…

"Japan… Kenapa kau tidak setuju…?" Tanya Italy lagi.

"Ehh… I-itu…" Japan sekarang menjadi lebih gugup lagi bung! #dilempar, "Gomenasai Italia-kun, aku tidak bisa memberitaumu…" jawab Japan.

"Japan…" panggil Germany, "kau belum mengatakannya pada Indonesia? Bagaimana kalau dia terima lamaran dari Netherlands itu?"

"Belum… Aku hanya tidak bisa seberani Oranda-san… Lagipula jika aku mengatakannya, Nesia-san pasti akan sebingung ini juga" jawab Japan, "walaupun aku benar-benar menyukainya… Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, aku yakin ia masih trauma dengan yang terjadi beratus-ratus tahun yang lalu"

"Hmmm…."

"Japan… Germany… Sebenarnya apa yang kalian bicarakan dari tadi…?" Tanya Italy.

"Itu bukan urusanmu Italy!" kata Germany dengan wajahnya yang… yang sangat menyeramkan itu sehingga membuat Italy ketakutan.

Krek

"Maaf Japan-san Italy Germany, aku harus segera pergi… Barusan abang China telpon kalau, Komodo peliharaanku lepas dan sekarang ini lagi berantem sama pandanya abang China dan koalanya Aussie yang sedang berkunjung ke sana…" jelas Indonesia, "jadi aku harus pergi sekarang, dadah!"

"Sayonara Nesia-san…" kata Japan saat Indonesia pergi meninggalkan rumahnya.


Rumah Abang China

"Aiya! Kalian jangan berantem mulu, aru!" teriak China.

"Ayo, mate! Pukul ekornya!" dan yang ini nih Australia.

"Abang China! Bukain pintunya! Ini Nesia!" teriak Indonesia dari luar rumah.

"Tunggu sebentar aru!"

Krek

"Aiya! Nesia! Itu gimana cara berhentiin mereka berempat, aru?!" Tanya China yang udah stress gara-gara 4 hewan di dalam rumahnya. (readers : kok 4 bukannya cuma ada 3? Author : Aussie belom diitungkan? :3 #plak)

"I-iya… Sabar sebentar… Budi! Jangan berantem! Ayo sini!" teriak Indonesia memanggil Komodonya yang bernama Budi(?) itu, kemudian Budi berhenti berantem dan menuju bossnya.

"Wah! Ada Nesia mate!" seru Australia ketika melihat Indonesia dan kemudian mereka bertiga juga berhenti berantem dan duduk tenang di ruang tamu China sambil ngeteh lagi.

"Maaf ya abang China… Aku nga tau kenapa Budi bisa keluar dari kandangnnya…" kata Indonesia meminta maaf pada China.

"Iya iya… Tidak usah dibahas lagi aru…"

"Oiya Nesia… Kenapa nama Komodomu itu Budi? Nga ada nama yang lebih bagus lagi, mate?" Tanya Australia.

"Kau tak tau ya Aussie… Nama Budi itu berharga banget bagiku… Karena tanpa Budi, ayahnya Budi, ibunya Budi dan keluarganya Budi yang lain rakyatku pasti tidak bisa membaca saat ini…" kata Nesia sambil tersenyum sedangkan yang lain hanya sweatdrop mendengarnya, "oiya! Mumpung ada di sini.. aku boleh nga curhat dikit sama abang China dan Aussie."

"Ohh… Boleh boleh, curhat apa aru?"

"Jadi awalnya gini…. Kemarin malam Neth ke rumahku da—"

"APA ARU?! Tulip itu kerumahmu?! Kamu nga diapa-apainkan aru?" Tanya China yang sayang banget sama adiknya, sehingga dia takut banget klo Nesia diapa-apain sama Negara yang lain. Apalagi sama Netherlands yang itu…

"Ng-nga… Aku baik-baik aja kok bang…."

"Dia mau ngapain ke rumahmu, Nesia?" Tanya Aussie.

"Emm…. Gini… Dia ke rumahku itu mau menanyakan soal surat yang dikirim sama Ratu Netherlands..."

"Apa isinya, mate?"

"Mereka ingin melakukan Uni lagi... Dan karena itu aku bingung, terima atau nga…"

"Aiya! Kenapa harus bingung lagi?! Tolak saja si Tulip itu, aru! Abang nga setuju, aru!"

"Iya, mate! Pokoknya aku nga setuju!" teriak Australia.

"Yaaa… Aku sih mau nolak dia, tapi… Kalauku tolak sayang juga…"

"Hmmm… Benar juga sih, aru… Indonesia jadi akan sedikit membaik dengan itu, aru…" kata China, "Tapi, aru! Abang China masih tetap menolaknya, aru! Kalau kau butuh sesuatu, kenapa tidak minta padaku saja, aru?!"

"Itu benar, mate! Kau juga boleh minta kepadaku, mate!" tambah Australia.

"Ta-tapi… Aku tidak mau mendapatkan sesuatu seenaknya saja tanpa ada imbalannya… Lagipula keuanganku juga sedang menurun, jadi aku tidak bisa membeli sesuatu … Tetapi kalau aku melakukan Uni, aku masih bisa membalasnya dengan semua yang negaraku punya"

"Aiya! Adikku ini sangat baik aru!" kata China sambil memeluk adik tersayangnya itu.

"Tapi aku tetap menolaknya mate…" ujar Australia, "jadi…. Sebaiknya kau melakukan Uni de—"

*Kringg…. Kringg…. Kringg…*

"Eh? Tunggu bentar aku ada telepon…"

"—nganku…" lanjut Australia saat Indonesia sudah berada di luar rumah China diikuti oleh Budi, komodonya, "hah… Nesia…"

"Yang sabar ya, aru…" kata China sambil menepuk bahu Australia.

"Iya, mate…. Tapi sebenarnya, hubungan negaraku dengan Nesia saat ini juga sedang memburuk… Rakyatku pasti tidak akan menerimanya, mate… Aku berharap… Negara kita berdua hubungannya bisa membaik… Seperti dulu, mate…" jelas Australia yang sekarang gantian curhat sama China.

"Iya iya… Aku mengerti perasaanmu, aru… Kuharap semua masyarakat kalian berbaikan, aru…" kata China, "tapi apa yang akan kau lakukan jika seandainya Nesia menerima lamaran itu, aru?"

"Yaa… Aku akan tetap bersamanya dan mendukungnya sebagai teman baiknya, mate…" jawab Australia sambil melihat ke jendela yang terlihat Nesia sedang menelpon seseorang, "Kalau dia bahagia, aku juga akan ikut bahagia…"

"Begitu ya, aru…"

"Hah... Kalau diingat-ingat aku juga pernah ngelamar Nesia…" kata Australia.

"Eh…?"

*Krek*

"Abang China, Aussie… Aku pulang dulu ya. Bentar lagi mau Magrib…" kata Nesia di ambang pintu.

"Oh iya aru… Kapan-kapan datang lagi ya aru!"

"Bye Nesia!"

"Bye!"

TBC

Akhirnya selesai Chap 2...

Balasan Review :3

Faracchi Neko Darkblue : Arigatou Faracchi-san udah mau nge-review ff Mitsuki! Yaa… Emang sih, Mitsuki ngaku, Mitsuki nga terlalu bisa buat alur panjang… Pasti dicepet-cepetin mulu #plak dan arigatou buat koreksi tentang tanda bacanya!

Yuki Hiiro : Arigatou buat Yuki-san! Yaa… soal bahasa Malaysianya dan tanda bacannya makasih udah ngasih tau soal yang itu, btw bahasa Malaysia-nya 'saya' apa…? #plak

Shirokuro hime : Arigatou Shirokuro-san! Maaf buat kalimat Malaysia yang saya tulis… Yaa, itu mungkin karena Mitsuki jarang nonton Upin & Ipin #plakdor

Pokoknya semua yang nge-review Arigatou! Dan kesalahan yang Mitsuki buat di Chap 1 (sepertinya) sudah diperbaiki semua!

Wait for the third chapter!

Arigatou for Reading

Gomen for Mistakes

Please Review