Kelopak mata Tao bergerak dan terbuka memperlihatkan sepasang mutiara hitam yang cantik. Dua bayangan mungil yang semula mengabur kini tampak jelas sudah. Dua pemilik wajah mungil itu, Sophia dan Zhuyi tersenyum merekah diatasnya.

"Mommy!" seru keduanya bersamaan. Keduanya berhambur didada Tao, melepas rindu dan khawatir yang sempat membelungu hati kecil mereka. Tao belum mampu menggerakan otot-otot lengannya jadi ia tidak membalas pelukan kedua buah hatinya.

"Jangan terlalu lama, Mommy masih lemas," Suara yang tak lain milik Kris memperingatkan si kembar.

Enggan, Sophia dan Zhu Yi melepas pelukan mereka dan memberikan ruang untuk Tao. Mereka berpindah kesisi kiri, disebelah kepala Tao dan memberikan kecupan ringan di wajah pucatnya. Tao membalas dengan senyum lemah.

Sophia dan Zhu Yi menyibukan diri dengan bermain saat melihat Kris muncul dari dapur membawa segelas air di sebelah tangannya. Mereka berasumsi bahwa ayahnya akan membantu ibu mereka.

Lengan Kris yang terbebas terselip disekitar bahu Tao dan membantu pemuda panda itu untuk duduk. Kepala Tao terlalu pening dan seluruh tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak sehingga Kris yang membantunya memegang gelas dan memberi minum untuknya. Setelah cukup meminum air, Kris meletakan gelas itu diatas meja, air itu tidak berkurang banyak, hanya seperempat. Kris memperhatikan wajah Tao yang masih pucat, ia menarik wajah Tao dan memberikan sebuah kecupan di dahinya, agak lama sebelum membiarkan kepala raven itu bersandar diatas bahunya.

Dari luar boleh jadi Kris kelihatan baik-baik saja, raut wajahnya masih sama. Tenang. Pria itu mudah menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya tanpa orang lain tahu. Tapi, siapa yang tahu jika dibalik raut wajah itu tersimpan kekhawatir yang sangat besar semenjak Tao pingsan tiga jam yang lalu. Jantungnya serasa mau melompat keluar saat Tao keluar dari lorong itu sambil berteriak dengan wajah pucat pasi sebelum pingsan dilengannya. Kris tidak tau, apa yang terjadi disana? Apa yang membuat Tao histeris dan pingsan seperti itu? Ia sudah memeriksa lorong itu selagi Tao berbaring tetapi setelah menelusuri lorong tersebut, semua kelihat baik-baik saja. Normal. Layaknya gudang tidak terpakai pada umumnya. Berdebu, bau, kotor, dan dipenuhi barang-barang rongsokan yang tidak terpakai.

Kris melewati sebuah kamar.

"Aku ingin keluar dari rumah ini," Suara Tao yang terdengar lemah menarik Kris dari lamunannya. Sepasang iris yang semula mengawasi putra-putrinya yang tengah bermain, menoleh dan memperhatikan wajah Tao yang belum berganti. Masih pucat.

"Tao," Nama itu keluar sangat lembut dari bibir Kris, ia tau kemana arah pembicaraan Tao. Ia mengusap pipi Tao dengan ibu jarinya sebelum menarik dagu mungil itu dan menatapnya. Ia tertegun. Tatapan mata itu kosong dan lemah. Jantungnya berdesir tidak baik. Ia membuka bibirnya, "Tidak ada apa-apa dirumah ini. Semuanya normal." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, tidak sejalan dengan isi hatinya.

Kris sangat egois. Dirinya tahu betul ada sesuatu yang aneh dirumah ini, saat matanya bertemu milik Tao, mata indah itu mengatakan apa yang tengah dirasakan pemiliknya.

'Vila ini tidak baik. Kumohon, bawa aku keluar!'

Iris itu berkata seolah demikian. Kris paham betul bahwa Tao tidak pernah berbohong. Tetapi Kris, dengan segala keegoisannya yang lebih dominan pelan-pelan membunuh perasaan aneh yang dirasakannya.

"Menetaplah beberapa hari lagi!" Kris tidak pernah tau bahwa ia menghancurkan harapan istrinya. Sampai ia terkejut Tao-nya menangis. Tangisannya sangat kuat, seolah seseorang yang berharga darinya direngut oleh Tuhan.

Kris yang bodoh. Ia tidak akan mampu membayangkan apa yang akan terjadi dikemudian hari

Tangisan Tao menarik perhatian si kembar yang tengah bermain. Mereka menemukan wajah 'ibu' mereka sembab oleh air mata. Si kembar mendekat. Sophia memegang kain celana Tao, sementara Zhu Yi sudah menangis mengikuti 'ibu'nya tanpa sebab.

"Daddy jahat!" Zhu Yi berteriak kepada Kris, ia berpikir ayahnya menyakiti 'ibu'nya. Bukan fisik yang dilukai oleh Kris, tetapi batin Tao yang sudah ia lukai.

Kris diam seolah mendapat tamparan keras dari jagoan kecilnya. Tao masih menangis, kini duduk agak berjauhan dari Kris. Sophia menemaninya, 'ibu' dan anak berpelukan. Tao butuh seseorang selain Kris sebagai sandarannya. Kris juga bisa mendengar suara tangisan putri cantiknya.

Dan tiga orang yang ia sayangi menangis karena dirinya

Kris benar-benar dilanda rasa bersalah. Ia tidak tahu bahwa Tao sangat sensitif hari ini. Dalam pikirannya, Tao akan membalas kata-katanya dan mereka mulai berargumen, tidak sampai bertengkar hebat. Tao dengan keinginannya untuk pergi dan ia dan kekeraskepalaannya memilih untuk menetap.

Tanpa mereka sadari seseorang berdiri dibalik kegelapan tengah memperhatikan mereka.

...

Semenjak Tao siuman dan setelah Kris lagi-lagi menolak keinginan Tao untuk pulang, keadaan pria manis itu memprihantinkan. Ia sering murung dan pendiam, tidak banyak bicara. Jika diajak bicara ia akan menjawab seperlunya tetapi adakalanya tidak menjawabnya sama sekali.

Ada juga masa dimana Tao kelihatan ceria dan manis seperti lazimnya. Ia bercerita dan bermain dengan si kembar, tertawa bersama dan mengerjakan tugasnya selaku seorang istri.

Kris sempat mencurigai Tao, tetapi disaat kecurigaan itu besar, ia dihadapkan oleh sosok Tao yang sebenarnya. Kecurigaan itu hilang.

Malam ini suasana rumah sangat gelap dikarena pemadaman lampu, hanya lilin dan lentera sebagai penerang seadannya. Vila tua itu terasa jauh lebih mencekam jika dalam keadaan gelap gulita, keadaan diluar yang tengah hujan deras semakin memperparah keadaan.

Aroma sedap dari dapur mengingatkan akan sosok ibu yang senantiasa meluangkan waktunya untuk menyiapkan makanan-makanan enak kepada orang-orang yang ia cintai. Demikian Tao, berdiri di belakang meja counter dapur, kelihatan mengaduk-aduk sup yang dimasak. Gerakan tangannya berhenti mengaduk, dan berganti menyibukan dirinya memotong beberapa sayuran.

Sophia dan Zhu Yi, kembar manis itu tengah duduk diatas sofa di dekat perapian yang tengah menyala. Kobaran api dari tungku berbahan batu bata menghangatkan ruangan dari udara dingin yang dibawa hujan. Buku bergambar hewan-hewan lucu sebagai teman pengisi waktu. Susu coklat dan beberapa cookies favorit yang telah disiapkan oleh sang 'ibu', masih tersimpan hangat diatas meja.

Sophia mengangkat wajahnya dari buku dongeng yang tengah dibaca. Tangannya terulur meraih gelas kaca yang berisikan susu, sekelebat bayangan melintas dan memukul lengannya. Alhasil, gelas kaca terlepas dari tangannya dan menghasilnya bunyi nyaring ketika pantat gelas bertemu permukaan meja. Tekanan yang kuat mengakibatkan susu di dalam gelas itu meluap keluar dan membasahi permukaan meja.

Spontan Zhu Yi menoleh dan menemukan saudara perempuannya tengah menahan sakit. Sophia tengah meringis sambil menahan lengan bagian dalam yang tiba-tiba sakit. Zhu Yi mendekat dan bertanya, "Apa yang terjadi, Jie," Suaranya dibuat agak berbisik. Zhu Yi memanggil Sophia 'Jie' karena bagaimana pun Sophia adalah kakaknya.

Kepala Sophia menggeleng kekiri dan kekanan. "Tidak tahu. Tiba-tiba lenganku sakit,"

Tubuh Zhu Yi merespon tidak baik. Tubuhnya merapat pada kakaknya, telinganya medekat di dekat pipi Sophia, ia berbisik sangat pelan, "Apa... mereka?"

Prang!

Bahu Sophia dan Zhu Yi terkinjat. Mereka berdua menoleh kearah sumber suara. Sebuah fas berisikan bunga mawar jatuh kelantai, air tergenang diatas karpet. Jendela terbuka dan menghasilkan suara decitan karena tertiup angin. Mereka menduga fas bunga itu jatuh karena jendela yang terbuka.

Sophia mengambil inisiatif lebih dulu, ia berpaling untuk melaporkannya pada sang 'ibu'. Zhu Yi memeluk kakaknya. Anak laki-laki itu sudah takut.

"Mommy~" Sophia memanggil Tao, tetapi Tao tidak menoleh.

Sophia menyangka 'ibu'nya tidak mendengar suaranya karena terlalu pelan-karena takut-jadi ia menambah volume suaranya. "Mo-mmy!"

Sophia sudah cukup yakin suaranya lebih besar dari yang sebelumnya. Tetapi kenapa Mommynya belum menoleh?

Tiba-tiba suasana rumah berubah mencekam. Tengkuk Sophia dan Zhu Yi meremang. Kedua tubuh kecil itu menggigil. Hujan semakin deras diluar, angin kencang bertiup hingga daun jendela mengeluarkan kuat yang kuat ketika bertemu dinding. Kain gorden putih melayang tertiup angin. Sepintas bayangan putih melintas dan menghilang.

Jantung Sophia berpacu makin cepat, seimbang dengan milik Zhu Yi, sampai-sampai keduanya bisa mendengar detak jantung mereka. Perut Sophia mendadak mulas. Sophia tidak bisa tahan untuk tidak ikut menangis. Ia takut.

Zhu Yi memeluk kakaknya erat, tidak mau melihat apa yang terjadi. Mereka berpelukan. "Mo-mmy, jen-delanya~" Sophia mulai ragu memanggil 'ibu'nya. Ia frustasi 'ibu'nya tidak mendengar suaranya, tapi beruntung sepertinya 'ibu'nya mendengar suaranya kali ini.

Suara pisau yang beradu dengan talenan berhenti. Sophia tersenyum diantara rasa takutnya. Leher Tao bergerak pelan. Saat kepala Tao berbalik. Sophia terperanjat, "Aaaaak," Ia menemyembunyikan wajahnya di bahu Zhu Yi.

Wajah Tao berganti menjadi orang lain. Mukanya pucat pasi seperti mayat. Darah keluar dari mulut dan hidungnya, dan matanya melotot marah.

Belum berakhir sampai disitu. Sayup-sayup suara seorang wanita terdengar menyanyikan sebuah lagu. Lagu nina bobo dalam bahasa belanda. Suaranya pelan agak berbisik-bisik. Makin lama suaranya sangat dekat dan makin lama makin dekat.

Tubuh Sophia dan Zhu Yi gemetar. Wajah mereka pucat karena takut. Suara itu sangat dekat, hembusan nafasnya mengenai telinga mereka. Sangat dingin. Jantung mereka berdetak makin liar.

Tubuh keduanya terperanjat dan membeku saat jemari-jemari dingin itu menyentuh tengkuk mereka. Sangat dingin seperti es.

Wajah basah oleh airmata. Pori-pori menghasilkan keringat. Tepat tangan dingin itu menyentuh bahu.

"Aaaaaaaaaaak,"

"Hei... sayang... Babies!" Tao sudah duduk di depan Sophia dan Zhu Yi, sembari kedua tangannya menyentuh pipi mereka. Sebelumnya ia menutup jendela dan membersihkan fas bunga yang pecah. Saat membuang pecahan beling ke tempat sampah, suara Zhu Yi dan Sophia mendengking, mengejutkan dirinya. Khawatir, Tao mendekati kedua buah hatinya. Mereka berteriak disamping terisak-isak.

Tangan mereka memukul tangan Tao bahkan ke sembarang arah, mengira bahwa tangan itu adalah kepunyaan hantu. Keduanya masih takut membuka mata. Takut jika yang dilihat mereka adalah hantu yang sama.

"Ini Mommy," Saat kalimat itu meluncur dari bibirnya, barulah si kembar berhenti memukul. Keduanya membuka mata pelan. Tangan mengusap mata akibat pandangan yang mengabur oleh airmata. Dada naik dan turun dari tempo yang cepat hingga lamat. Mereka mengamati sosok di hadapan dengan seksama.

Saat yang dilihat oleh mereka benar-benar Tao, keduanya berhambur di dalam pelukannya. Mereka menangis haru. Rasa takut masih ada, tetapi dengan adanya kehadiran Tao saat ini, perlahan rasa takut itu menjadi kecil.

Didalam tempat cuci piring, dua buah gelas kaca kosong dan sebuah piring yang hanya menyisakan rempah-rempah cookies, menumpuk bersama cucian kotor lainnya.

...

Kris baru saja menutup pintu kamar saat keluar. Pria tampan itu baru saja menyelesaikan acara mandinya sehabis sibuk mencari lentera dan lilin di rumah tetangga di tengah kampung. Beruntung ia mendapatkan tiga pack lilin dan lima lentera yang diberikan para tetangga yang murah hati mau berbagi. Kris berjanji akan membayar kebaikan mereka jika ia sudah kembali ke rumahnya. Berhubung hari sudah malam, ia akan memberikan sejumlah uang kepada mereka esok hari.

Ia menuruni tangga, senyum mengiasai paras tampannya saat melihat seisi ruangan di lantai satu bercahayakan lilin dan lentera yang ia dapatkan. Karena Tao dan si kembar tidak menyukai kegelapan maka dari itu Kris memakai semua lilin dan lentera tanpa menyisakan satupun. Lagipula vila itu benar-benar seram jika tidak ada satupun cahaya yang menerangi.

Kris melewati lorong gelap. Tiba-tiba udara yang sangat dingin menyentuh punggungnya. Spontan telapak tangannya meraba tengkuknya yang meremang dan menoleh kebelakang. Tidak ada apapun yang mengeluarkan mesin penghasil udara dingin dibelakangnya. Bahkan sangat tidak mungkin juga jika itu terjadi. Siapa yang tinggal ditempat gelap seperti lorong di hadapannya? Memangnya ada AC atau kipas angin disana?

Perasaan aneh menyelubungi batinnya. Aku baru menyadari jika lorong ini benar-benar menyeramkan saat keadaan vila kekurangan pencahayaan.

Tiba-tiba ia tersentak dari lamunannya, menertawakan dirinya yang bodoh karena berpikir yang tidak-tidak.

Apa yang aku pikirkan? Ini seperti bukan aku.

Ia berbalik dan beranjak dari sana.

Kris tidak akan pernah menyadari bahwa saat ia memperhatikan lorong itu, sosok yang lain juga tengah menatap balik dirinya dari dalam. Bahkan masih menatapnya saat ia menjauh.

Kris menghampiri kedua buah hatinya, ia mengagetkan si kembar hingga keduanya terlonjak sembari berteriak histeris. Kejadian beberapa saat lalu merekat sebagai mimpi buruk. Buku dongeng yang mereka baca ikut jatuh karena refleksi yang dialami tubuh keduanya. Tatapan tajam dihadiahkan mereka untuk sang ayah.

Kris memasang senyum dan meminta maaf. Ia duduk disalah satu sofa, dekat jendela.

Sophia adalah tipe gadis yang tidak akan membiarkan sebuah kesalahan lolos begitu saja. Ia akan menceramahi siapapun yang membuat kesalahan. Mirip Tao. Dan di mulailah Sophia menceramahi ayahnya, mengajarkan sopan santun dan menghargai. Sementara Zhu Yi mengangguk setuju dan sesekali menimpali dengan celotehan yang acak-acakkan. Sepertinya jagoannya terlalu kesal sehingga tidak ada niat menolong ayahnya dari ceramah Sophia.

Bagi sebahagiaan orang tua, apa yang dilakukan Sophia kelihataannya tidak baik. Menceramahi orang tua tidak sepantasnya dilakukan oleh anak. Tapi apa salahnya membiarkan anak-anak menyuarakan pendapat mereka? Ya. Pendapat. Apa yang dilakukan oleh Sophia ialah berpendapat, menyuarakan isi hati dan pikirannya. Kris adalah salah satu orang tua yang membebaskan anak-anaknya berpendapat dalam konteks tertentu. Mungkin karena ia dibesarkan di negara barat dimana orang-orang berpikiran terbuka, sehingga ia juga menerapkannya di dalam keluarganya.

Kris tertawa sesekali merasa lucu melihat tingkah Sophia yang tengah mengajari dirinya dan Zhu Yi yang hanya ikut-ikuttan. Ia menangkap mata si kembar agak memerah, tetapi memilih diam. Dirinya menebak jika Sophia dan Zhu Yi berkelahi seperti biasanya dan Tao sebagai penengah yang mendamaikan mereka.

Pemikiran yang sederhana.

Kris melirik Tao yang tengah sibuk di dapur, menduga bahwa pemuda manis itu juga akan menunjukan reaksi yang sama seperti dirinya saat mendengar suara Sophia yang mengajarinya dan Zhu Yi yang mengikuti.

Sayangnya, dugaan tidak seperti yang diharapkan. Punggung Tao masih menatap dirinya. Tao masih sibuk dengan makan malam yang sedang disiapkan. Kris memandangi Tao berharap pemuda manis itu merasakan tatapan Kris dan berbalik, tetapi tidak demikian. Tao acuh bahkan bisa dibilang tidak peka. Kris menatap punggung Tao. Mendadak perasaan tidak enak menyambutnya. Punggung itu kelihatan berbeda, terasa sangat dingin. Seperti orang asing. Gerakan tangan Tao yang sedang memotong wortel diatas telenan terdengar kasar ditelinga Kris. Sebelumnya Tao tidak pernah memotong sesuatu sekasar itu bahkan jika moodnya buruk.

Kris merasa ada suatu kesalahan di dalam diri Tao. Ia berdiri tanpa menghiraukan omelan lucu Sophia yang kini tengah mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan cepat, memutar dan memasuki dapur Tao.

Sophia menghempaskan tubuh kecilnya diatas sofa dan duduk membaca buku seperti yang dilakukan Zhu Yi.

Kris mendekati Tao dan ketika telapak tangannya menyentuh bahu Tao. Bahu itu dingin seperti es yang membeku. Sangat dingin.

Tao menoleh, reflek pisau yang digenggamnya mengacung di depan wajah Kris. Kedua matanya menatap tajam. Sorot mata itu sarat akan kebencian.

Kris terkejut dan mundur selangkah. Mata itu... bukan mata Tao yang selama ini dikenalnya. Tao juga tidak pernah bertingkah sedemikian rupa.

Secepat kejadian itu terjadi, secepat pula raut wajah Tao berganti. Tatapannya melembut seperti Tao yang sesungguhnya, wajahnya tenang dan kulitnya hangat saat Kris memberanikan diri menempelkan telapak tangannya di pipi Tao.

"Yifan," Suara itu masih sama, lembut dan manja saat memanggilnya. Senyum manis itu juga tidak berubah. Seketika kekhawatiran yang sempat membebani pikirannya perlahan-lahan runtuh dan menghilang layaknya debu yang tersapu angin.

Kris mengecup dahi Tao, sangat lama lalu turun ke mata dan terakhir dibibirnya. Kris tidak bisa mengatakan bagaimana perasaannya saat ini, tapi ia sangat merindukan sosok Tao yang sekarang. Rasanya seperti sudah lama tidak melihat Tao dan saat ia muncul, Kris meluapkan rasa rindunya. Ia memberikan tiga kecupan dibibir Tao sebelum mengakhiri dengan bisikan lembut.

"Kamu harus tahu, aku sangat mencintaimu, peach,"

Beserta itu, Kris meninggalkan Tao dan menghampiri si kembar. Kris melewatkan moment dimana Tao menitikan airmatanya. Tao tidak mengerti mengapa ia menangis setelah Kris mencium dan menyatakan perasaannya. Biasanya ia akan tersipu malu. Tetapi tidak untuk kali ini. Hatinya khawatir.

...

Entah sudah direncanakan atau tidak, malam itu Tuan Kim (lelaki tua yang mesum, julukan Kris untuknya) bertandang ke vila bersama wanita yang sama tempo hari, ketika kondisi vila gelap gulita (lilin dan lentera sebagai penerang seadaannya) dan hujan deras yang masih mengguyur desa. Katanya mereka datang sekedar mampir dan melihat keadaan penyewa baru.

Kris adalah tipe pria yang sangat menyukai hujan. Setiap kali hujan turun ia sangat suka melihatnya, dia punya alasan yang sederhana untuk menjawab setiap pertanyaan dari orang-orang yang menanyakan, "Mengapa kau menyukai hujan?"

'Karena aku menyukai hujan!'

Jawaban yang sederhana dari pria yang tampan. Dia pria yang tidak romantis.

Tetapi untuk kali ini, Kris akui bahwa ia benci hujan untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya hingga saat ini. Ketika ia membuka pintu dan menemukan Tuan Kim dan wanita bernama Bai Xu Yi (setelah perkenalan) berdiri dengan wajah penuh senyum, perasaannya jadi tidak enak dan hujan sebagai latar belakang kedatangan mereka seolah membenarkannya.

Semakin ia berusaha mengabaikan pikiran aneh itu, dirinya terlihat membongi diri sendiri.

Katakan angan-angannya terlalu tinggi, tetapi hujan kali ini pertanda tidak baik.

Ketika Kris mempersilahkan mereka masuk dan ketika mereka melewati tubuh Kris, tubuhnya menggigil singkat. Itu adalah pertanda pertama.

Pertanda kedua. Pada saat ia menutup pintu, hawa dingin menerpa punggungnya. Kejadiannya mirip ketika ia melewati lorong itu. Hawa yang sama, hanya beda waktu dan posisi. Namun kali ini hawa dingin itu membuat tulang punggung Kris terasa nyilu. Ia bahkan meringis.

Kris menoleh kebelakang tetapi tidak menemukan siapapun. Mungkin hanya karena suhu semakin turun saat turun hujan, pikirnya kala itu. Kris selalu berpikir rasional. Mungkin oleh sebab itu, Kris tidak akan pernah menyadari.

"Bagaimana kesan anda setelah tinggal di vila ini?" Kris baru saja menduduki sofa dan lelaki tua itu dengan lancang memberi pertanyaan padanya. Bertingkah sebagai bos.

Kris berdecak kesal. Punggungnya bersentuhan dengan kepala sofa, kakinya saling menyilang. Memperlihatkan siapa bos yang sebenarnya di rumah ini. "Cukup baik," Tatapannya tajam. Cukup mampu membuat kaki seseorang gemetar takut.

Sophia dan Zhu Yi sudah tidur. Mereka tidur diatas sofa yang berhadapan dengan televisi. Tubuh kecil mereka muat diatas sofa besar itu dilindungi selimut tebal. Kris tidak mau membiarkan anak-anaknya tidur dikamar berdua apalagi dalam keadaan gelap gulita. Dan malam ini ia tidak yakin membiarkan anaknya tidur atas sofa yang ditempati Tuan Kim dan dirinya. Rasanya cerobong asap disebelahnya tidak baik dan sofa disamping jendela pun sama.

"Saya senang anda berpikir demikian. Sudah lama sekali vila ini tidak disewa,"

"Kenapa?" Kris menunjukan ketertarikan, meskipun nadanya terdengar malas. Sudah lama ia ingin tahu informasi tentang vila ini. Beberapa informasi yang ia dapatkan lewat internet hanya berupa kisah menyeramkan vila ini yang belum tentu inkreditasnya.

Kris berpikir Tuan Kim akan menjawabnya, ternyata ia salah. Wanita disampingnya yang menjawab, "Mereka berpikir rumah ini menyeramkan. Banyak hantunya," Tepat sekali seperti kisah-kisahnya yang ditulis di internet. Ini pertama kalinya wanita itu mengeluarkan suaranya. Kesan yang didapat ialah wanita itu adalah tipe yang serius. Suaranya dalam, tenang sekaligus tegas.

Tatapan Kris mengedar keseluruh ruangan, matanya berhenti di lorong gelap itu, hanya sebentar. "Aku tidak pernah memikirkan rumah ini menyeramkan sebelumnya. Tapi setelah vila ini gelap, khususnya lorong itu benar-benar menyeramkan," Kris menunjuk lorong itu dengan dagunya. Tuan Kim dan Bai Xu Yi melirik lorong yang dimaksud Kris.

Sedetik kemudian tawa lelaki itu pecah. Kedengaran canggung ditelinga. "Yang benar saja, saya tidak merasa demikian. Lorong itu hanya menyeramkan karena tidak ada lampu disana," Bai Xu Yi mengangguk membenarkan.

"Kalau begitu anda bisa memperbaiki lampu di lorong itu?" Kris sekilas menemukan raut kaget Tuan Kim. Tetapi lelaki itu sangat cepat menutupi ekspresinya dengan wajah tenang.

"Memangnya kenapa?" Tuan Kim bertanya setelah berdehem, menjernihkan tenggorokannya.

Kris teringat kata-kata saat mereka pertama kali memasuki vila itu. "Istriku tidak menyukai tempat-tempat gelap dan ruangan itu satu-satunya yang paling gelap disini. Dia memintaku untuk mengatakannya padamu. Anda tidak keberatan bukan?"

"Aku tidak tahu bisa atau tidaknya memperbaiki lampu di lorong itu. Lorong itu sudah lama tidak dipakai dan bertahun-tahun digunakan sebagai gudang barang rongsokan. Aku tidak yakin kabel lampunya masih dalam keadaan baik,"

"Kuharap anda bisa mengusahakannya," Kris tidak membutuhkan jawaban yang bertele-tele untuk satu permintaannya. Ia hanya butuh 'Bisa'.

"Baiklah jika anda memaksa," Senyum yang ia pamerkan terkesan memaksa.

"Ngomong-ngomong, berapa lama anda akan tinggal di vila ini?" Bai Xu Yi bertanya, ada senyum kecil di wajahnya. Bagian posisi duduknya agak gelap, jadi Kris tidak bisa melihatnya.

"Satu minggu kurasa. Tapi tergantung. Jika Tao meminta pergi dari sini, maka kami akan pergi."

Kris tidak menyadari raut wajah Xu Yi berubah. Kecewa.

Tiba-tiba Tao muncul. Ia turun dari tangga, dan ia berpakaian aneh. Ia memakai terusan panjang yang longgar berwarna putih yang belum pernah Kris lihat sebelumnya. Kris terkejut. Tao tidak pernah berpakaian seperti itu saat malam hari.

Kris tidak bisa menolong dirinya untuk tidak bertanya, "Darimana gaun itu?"

Tao tidak menjawab. Bahkan untuk mengeluarkan satu kata pun tidak.

Tao berjalan mendekat. Ia seperti hantu. Kakinya tidak terlihat karena terusan panjang itu menutupi seluruh kakinya.

Kris tidak memperhatikan ekspresi Tuan Kim dan Bai Xi Yu, tatapannya terlalu fokus ke penampilan baru Tao. Ketika Tao duduk disebelahnya, mendadak tubuhnya menggigil. Wajah Tao sangat pucat, tatapannya datar dan terus memandang lurus.

"Apa istri anda baik-baik saja? Tampaknya dia kurang sehat," Tuan Kim bertanya sekedar berbasa-basi.

Kris memandangi wajah Tao sebentar. Wajah itu suram. Tidak ada senyum disana. Kris berbalik dan menjawab. "Ya, dia baik-baik saja," Kris kurang yakin dengan jawabannya.

Tuan Kim mengangguk paham. Ia menyeringai saat Kris tidak memperhatikan.

Tuan Kim membuka pembicaraan baru. "Sudah tiga puluh tahun rumah ini dibangun. Banyak kenangan manis disini. Saya berharap anda sekeluarga juga membuat kenangan manis yang sama seperti orang-orang yang pernah menyewa vila ini," Tuan Kim meracau sembari tersenyum. Ucapaan yang keluar dari mulutnya terkesan ambigu. Seolah punya maksud di dalamnya.

Kris tidak bodoh. Ia cukup tahu bahwa apa yang barusan diucapkan Tuan Kim tidak bermakna baik. Apa saja yang ada di dalam lelaki tua itu sudah di cap buruk oleh Kris.

"Aku tidak berniat menciptakan kenangan indah dirumah ini," Tiba-tiba kalimat itu keluar dari bibir Kris tanpa dipertimbangkan. Bai Xu Yi tetap mempertahankan Wajah datarnya.

Lelaki itu tertawa untuk kesekian kalinya. Dahi Kris berkedut tidak suka. Ia tidak meyukai suara tawa lelaki itu. Ia tidak suka cara ia tertawa. Dan paling tidak ia sukai ialah lelaki itu tertawa disaat momennya tidak pas. Kris merasa iritasi.

"Tawamu benar-benar canggung," Kris sejenak melupakan perbandingan umur mereka. "Membuat telingaku sakit," Pria blasteran itu sudah tidak bisa mengontrol mulutnya.

Lelaki tua itu diam dan menutup mulutnya rapat. Dahinya berkedut. Wajahnya mengeras. Tangannya terkepal kuat diatas pahanya, menahan amarah.

"Oh ya, berapa banyak keluarga yang pernah menyewa vila ini?" Kris hanya sedikit penasaran tentang jumlah keluarga yang disinggung Tuan Kim.

Tuan Kim masih marah tetapi ia mencoba tersenyum dan menjawab, "Tiga keluarga," balasnya sangat yakin. "Mereka juga melakukan perjalanan seperti anda,"

"Liburan musim panas, maksudmu?" tukas Kris tidak sopan.

"Tepat sekali,"

"Ngomong-ngomong, siapa pemilik vila ini?"

Tuan Kim sedikit ragu untuk menjawab tetapi akhirnya ia membuka mulut. "Vila ini milik keluarga Chevalier,"

Kris tertegun. Ia mengenal nama belakang itu. Chevalier adalah salah satu pengusaha penghasil anggur terbaik di dunia. Chevalier bahkan memiliki restaurant mewah dihampir seluruh Eropa dan America. Restaurant mereka adalah salah satu favoritnya bersama Tao.

"Anda mengenal keluarga Chevalier?" Tuan Kim bertanya, lebih tepatnya ingin mencari tahu.

Kris mengangguk bangga. "Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal salah satu pengusaha penghasil anggur terbaik di dunia? Restaurant mereka menjadi tempat favorit saya,"

"Anda mengenal Tuan Jhonny Chevalier?" Sebelah alis Kris terangkat, ia tidak tahu sudah mendengar nama itu atau belum. Dan Tuan Kim mengambil kesimpulan bahwa Kris tidak mengetahuinya. Lalu ia melanjutkan, "Bagaimana dengan Mary Chevalier?"

Kris diam dan sempat berpikir, ia belum pernah mendengar nama itu bahkan dari bibir keluarga Chevalier. Ini adalah pertama kalinya.

"Kurasa belum,"

Dan Tuan Kim membuang nafas lega. Entah untuk tujuan apa ia melakukannya.

"Siapa Mary Chevalier?"

"Mary Chevalier adalah gadis yang baik. Ia punya rambut yang panjang dan berwarna pirang. Matanya besar seperti boneka dan kulitnya putih dan halus seperti salju. Bibirnya merah seperti darah. Dia adalah sosok yang menawan. Dia adalah kembang desa. Gadis tercantik dan yang tercantik."

Kris menyeringai seperti rubah. Bahan godaan. "Kau terdengar seperti penggemar laki-laki. Kau pasti seorang penguntit,"

Andai Kris melihat rona merah di wajah yang agak keriput itu, ia pasti akan menggodanya habis-habisnya. Hingga membuat lelaki tua itu lupa dimana letak mukanya.

"A-aku tidak seperti itu," Tuan Kim merutuki dirinya yang tergagap di depan anak muda yang sombong itu. Ia pasti akan menjadi bahan ololan. "D-Dia adalah kembang desa. Semua lelaki memujanya," Maksud hati membela diri, Tuan Kim terkesan seperti meminta dibully.

"Kau pasti jatuh cinta padanya. Dan kau pasti bermimpi menciumnya," Kris menyerang Tuan Kim dengan rentetan godaannya. Ini bisa dibilang seperti bullyan.

Hanya Kris yang mampu melakukan itu kepada orang yang lebih tua. Mungkin itu untuk kesekian kalinya, setelah sepuluh tahun yang lalu dimana guru fisikanya yang galak, Tuan Brown tertangkap basah berselingkuh (making out) dengan guru barunya di ruang laboratorium. Tidak lupa Tuan McQueen, Mrs. Grengger, Tuan Rudolf, Tuan Cobly dan beberapa lainnya.

Tuan Kim tidak berkutik. Sekedar membalas perkataan Kris tidak mampu. Sepertinya yang dikatakan Kris benar adanya.

"Lalu dimana Mary sekarang?" Saat Kris menanyakan nama itu, Tao menoleh dan menatapnya. Kris beranggapan kalau Tao cemburu. Kris mendekat dan ketika merangkul pundak istrinya. Kris tersentak. Rasa dingin seperti es yang membeku merambat hingga ke pori-pori kulitnya.

Kris merinding. Tao masih memandang lurus kearahnya. Kris meraih puncak kepala Tao dan memberikan kecupan disana. "Aku selalu mencintaimu, peach,"

Lalu, Kris melepas Tao.

"Dia... pergi dari vila ini setelah kakeknya meninggal dunia. Kabarnya, ia pergi ke Belanda dan menikah dengan seorang pengusaha kaya disana,"

"Kakeknya? Jadi dia tidak tinggal sendirian di vila ini?"

"Kakeknya, Jhonny Chevalier."

Tuan Kim memperhatikan Bai Xu Yi. Kris pun ikut menatap wanita itu. Tao pun melakukan hal yang sama. Suasana terasa canggung setelah Bai Xu Yi mengangkat suara.

Cara wanita itu berbicara berbeda dari sebelumnya. Sedih?

Tuan Kim bertindak lebih cepat sebelum Kris membuka mukutnya. "Sebaiknya kami pulang. Malam sudah semakin larut. Tuan rumah juga ingin beristirahat," Tuan Kim berdiri, menyusul Bai Xu Yi dan Kris. Tao tidak bergeming. Ia masih dalam posisi duduk, tatapannya memperhatikan tiga orang yang berjalan mendekati pintu depan.

Kris mengantar kedua tamunya (tanpa diundang) ke depan pintu. Mereka mengenakan mantel hujan berwarna hitam karena hujan belum ada tanda-tanda akan berhenti.

Mereka pergi dan Kris menutup pintu.

Tepat setelah Kris menutup pintu dan berbalik, wajah pucat mendadak muncul di hadapan Kris. Reflek tangannya memegang dadanya karena kaget.

"Kamu mengagetkanku, peach,"

"Jangan bertemu lagi!" Tao menatap lurus wajah Kris.

Bulu kuduk Kris merinding. Entah karena penampakan Tao atau karena suaranya yang sangat halus hampir berbisik. Keduanya menghantarkan perasaan tidak nyaman.

"Siapa?"

"Dia," Pikiran Kris tidak menjangkau siapa yang dimaksud 'dia' oleh istrinya. Dia yang dimaksud Tao, Tuan Kim atau Bai Xu Yi? Sementara Kris masih tenggelam di dalam pikirannya, Tao sudah berbalik dan menaiki anakkan tangga. Dan menghilang saat mencapai tangga tertinggi.

Greeeek... greeeek...

Suara furnitur yang digeret-geret seolah menampar Kris kembali kedunia nyata. Pandangannya terlempar ke segala arah ruangan, tetapi tidak menemukan adanya furnitur yang digeret. Merasa tidak ada furnitur yang berpindah, Kris beranjak dan menghimpiri si kembar. Ia membawa si kembar di dalam lengannya dan menaiki tangga menuju kamar.

Seorang wanita duduk di salah satu sofa menghadap jendela, wajahnya tetutup rambut hitamnya. Ia tengah menyanyikan Nina Bobo.

Dua anak kecil berlarian sembari tertawa.

Seorang laki-lakk tengah memotong sesuatu di dapur.

Seorang wanita, merangkak keluar dari perapian. Wajahnya rusak, menyisakan tulang di sebahagian wajah.

Seorang wanita berambut pirang panjang, tergerai hingga menyentuh punggungnya. Ia tengah menyisir rambutnya di depan kaca, di wajahnya ada seringai sebelumnya bibirnya mengeluarkan nyanyian berbahasa belanda.

...

To Be Continue

...

Note:: Saya menggunakan handphone untuk menulis cerita ini, jadi jika readers sekalian menemukan beberapa kata yang hilang ataupun kesalahan pengetikan saya minta maaf.

Terima kasih kepada semuanya yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini.

Maaf sudah membuat kalian mrnunggu lama.