Because I Love You
Chapter two: Hati yang Goyah
Disclaimer: Bleach © Tite Kubo
"Nggh…" Momo membuka matanya, dan mendapati dirinya di tempat yang serba putih.
"Momo, kau sudah sadar?" tanya Dua suara yang sangat di kenalnya itu.
"Izuru-kun? Renji-kun?" tanya Momo, melihat dua sahabat kecilnya ada di kanan-kiri nya.
"Sehabis kami Olahraga, kau tak sadarkan diri di kelas, kata Izuru, kau mungkin kekurangan darah…" jelas Renji.
"Ya ampun, ini jam pelajaran Mayuri-sensei, kan?" tanya Momo tiba-tiba. Renji dan Izuru mengangguk. "Kalian kembalilah kekelas, aku akan baik-baik aja.." kata Momo.
"Benar?" tanya Izuru.
"Ya, tak apa, pergilah kalian berdua…" kata Momo, seraya mendorong dua orang pria itu kea rah pintu.
"Ba-baiklah.." kata Renji.
"Huff, aku merepotkan mereka berdua lagi…" Kata Momo, seraya kembali ke kasurnya. "Apa yang dikatakan Rangiku benar, ya?"
------
"Hey, Izuru, apakah kau punya orang yang kau suka?" tanya Renji, saat itu mereka masih di koridor.
"Eh? Apa maksudmu?" tanya Izuru.
"Orang yang kau suka, atau mungkin cinta…" kata Renji.
"Hmm, aku tak tahu.." kata Izuru. "Ayo masuk, sensei pasti ngomel-ngomel.." kata Izuru lagi, membuka pintu kelas.
"Ya…"
------
"Teng, teng, teng!" bel pulang berbunyi.
"Momo, kau yakin ingin pulang sendiri?" tanya Izuru.
"Kalau mau kita antar pulang saja?" kata Renji, untuk kesekian kalinya.
"Sungguh, Izuru-kun, Renji-kun, aku bisa pulang sendiri…" kata Momo, meyakinkan.
"Umm, baiklah, ayo kita pulang, Izuru.." kata Renji.
"Oke, hati-hati dijalan, ya…" kata Izuru.
"Yaa…" kata Momo, melihat mereka keluar kelas. "Haaah, mereka itu baik sekali sih, jadi repot, tahu…" gumam Momo, seraya merapikan buku-bukunya.
"Dasar, kau ini tidak tahu, ya? Kau itu sudah membuat mereka repot, tahu…" kata suara seseorang yang baru saja masuk kedalam kelasnya, karena kebetulan pintu kelas tadi tak di tutup oleh Renji.
"Eh?" tanya Momo, seraya berbalik.
"Ah, eh, ah, eh! Kau tahu, kau itu selalu membuat mereka repot! Kasian Izuru dan Renji…" kata seorang perempuan dengan rambut blonde-nya itu.
"Apa maksudmu Rangiku?" tanya Momo tajam.
"Hah, kau pikir aku tak tahu? Semenjak kecil kau lah yang paling lemah, merepotkan, dan naïf. Aku kasian oleh mereka berdua, hanya kau peralat…" kata Rangiku, sinis.
"Jaga bicaramu, ya!" kata Momo, kesal. "Aku tak pernah memperalat mereka!" katanya lagi, ingin sekali menampar wajah Rangiku.
"Oh ya? Ah jangan-jangan kau mempengaruhi mereka agar mereka menyukaimu?" tanya Rangiku lagi.
"Eh? Apa maksudmu?" tanya Momo, bingung.
"Jangan pura-pura bodoh! Mereka menyukaimu, dan mereka mulai bersaing untuk mendapatkan mu!" kata Rangiku.
"Arrgh!" kata Momo, lalu ia memakai tasnya dan menabrak Rangiku dengan keras.
"Hey!" kata Rangiku. Namun Momo tidak memperdulikannya. Rangiku mengeluarkan Handphone nya dan menekan nomor. "Ya, di tempat yang kukatakan tadi."
------
"Apa maksud Rangiku tadi?" batin Momo, galau.
"Brukk!" ia menabrak seseorang, ternyata seorang anak SMU lain.
"Maaf!" kata Momo, seraya membungkuk.
"Aduh, sakit…" kata cowok yang di tabrak Momo itu.
"A-anu maaf, aku tadi tak melihat jalan…" kata Momo.
"Heh, kau piker minta maaf saja cukup?" kata cowok itu.
"Eh?" tanya Momo.
"Prok, prok!" anak itu menepukkan tangannya dua kali. Tiba-tiba ada beberapa orang yang berpakaian sama dengan anak itu.
"Grep!" seseorang teman anak itu, memegang kedua tangan Momo.
"Eh, a-apa maumu?" tanya Momo, gemetar.
"Bermain-main sebentar…" kata anak itu, melepas kancing atas seragam Momo.
"JANGAN! JANGAN LAKUKAN! RENJI! IZURU!" teriak Momo.
"Disini jarang ada orang lewat, lho…" kata anak itu.
"DUAGGH!" seseorang memukul anak itu dari belakang.
"Dasar kuman-kuman pengganggu.." kata orang itu.
"DUAGH! BRUKK! BUGH! DUAGHH!" dalam seketika anak itu menghajar sekawanan anak yang hamper meng'apa-apa'kan Momo.
"Hu-Huweeee!!!" tangis Momo langsung pecah.
"E-eh, k-kau tak apa, kan?" tanya anak itu bingung. Tanpa sadar Momo membenamkan wajahnya pada dada anak itu, karena anak itu dekat.
"Uhh, ma-maaf…" kata Momo sesenggukan.
"Er, tak apa, kau mau ku antar pulang?" tanya anak itu. Tanpa sadar Momo mengangguk.
------
"Lain kali hati-hati, ya…" ujar anak itu ketika sudah di depan rumah Momo.
"Ya…" kata Momo. Lalu masuk kedalam rumahnya. "Astaga! Kau ceroboh sekali, kau kan belum berterimakasih..." kata Momo, mengutuk dirinya sendiri.
"Hey.." kata Momo, seraya keluar rumahnya. Namun ia sudah tak melihat anak tadi. "Huuff, sial…"
------
"Huuhh…" kata Momo lemas, menaruh dagunya di atas meja.
"Momo, kau kenapa?" tanya Izuru.
"Ung, enggak apa…" kata Momo malas-malasan.
"Ayolah, kalau kau baik-baik saj tak mungkin begini…" kata Renji.
"Sungguh, aku tak apa…" kata Momo.
"Teng, teng, teng!" bel masuk berbunyi.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Unohana-sensei begitu memasuki kelas. "Hari ini kalian kedatangan teman baru…" katanya lagi.
"Eh? Siapa sensei?" celetuk Rukia.
"Nak, masuklah." Ujar Unohana-sensei. Lalu seseorang anak berambut seputih salaju masuk.
"Salam kenal, aku Hitsugaya Toushiro, mohon bantuannya!" kata anak berambut seputih salju. Momo yang tak memperhatikan, baru menyadari,
"Hey, kau kan yang kemarin?" Tanya Momo dan Toushiro bersamaan.
------TBC------
