A Star
Chapter Two: Beginning of My Life
Disclaimer: Bleach © Tite Kubo
Akhir April, SMP Swasta Seireitei…
"Rukia, kau baik-baik saja, kan?" tanya Byakuya, seperti biasa, sangat over-over-over protective padaku.
"Sudahlah Otou-san, aku baik-baik saja, nanti jemput saja aku jam 3 sore…" kataku, lalu keluar dari mobil.
"Rukia?" tanya seseorang, suara yang amat ku kenal, Momo.
"Hai Momo!" sapa ku.
"Rukia-chan, kenapa kau tak bilang kalau sudah boleh sekolah?" Katanya, merangkulku.
"Ehehehe, kejutan!" kataku senang, begitu pula dia.
"Hey Rukia!" Sapa seseorang seraya menepuk pundakku.
"Renji-kun?" tanya ku.
"Bagus! Aku senang sekali!" kata renji, tiba-tiba ia merentangkan tangannya, ingin memelukku.
"Duagh!" seseorang menendang Renji dari belakang.
"A-aduh, Hisagi, sakit, tahu…" kata Renji, lalu di Bantu berdiri oleh Uryuu.
"Makanya, bisa-bisa gara-gara kamu Rukia langsung masuk rumah sakit lagi…" kata Hisagi, santai.
"Ahahahaha…" tawaku bersama Momo.
"Eh, si 'Nona Rumah sakit' sudah masuk, rupanya…" ujar orang yang menurutku sangat menyebalkan, Ichigo.
"Hey Ichigo.." Tegur Toushiro.
"Sudah-sudah, ayo masuk saja, sebentar lagi bel mau berbunyi." Kata Uryuu, mendinginkan suasana.
------
"Hmmh, semua anak di kelas ini menatap aneh padaku, mungkin karena aku izin terlalu lama, ya?" Tanyaku, duduk termenung-menung di sebelah Momo.
"Tenang saja, Rukia pasti akan punya banyak teman!" semangat Momo.
"Siapa dia?" tanya Seseorang anak perempuan, menatap ke arahku, kalau tidak salah namanya Chizuru.
"Katanya sih dia anak yang izin dalam jangka waktu panjang itu…" jawab seorang anak yang berpenampilan Tomboi, Tatsuki.
"Hey, kalian tidak boleh menatapnya seperti itu!" kata Orihime. Lalu ia mendatangi ku. "Hai! Aku Orihime Inoue, kau Rukia Kuchiki, kan?" tanyanya langsung.
"Ya…" jawabku malas-malasan.
"Kamu, gabung bersama kami, yuk? Momo juga…" katanya lagi. Aku menatap Momo, Momo mengangguk.
"Hai…" Kataku, diantara kerumunan cewek itu.
"Hai juga, salam kenal, ya, aku Tatsuki, ini Chizuru, oh ya, itu Soi Fong, yang di sudut itu Yachiru…" kata Tatsuki, memeperkenalkan semua anak yang kebetulan ada di kelas.
"Oh ya aku lupa, Tatsuki ini ketua kelas kita…" kata Orihime.
"Oh, ya…" kataku, bingung mau bicara apa.
"Hey, hey, kenapa kau bisa dekat dengan si '5 Superstars' itu?" tanya Chizuru.
"Eh? '5 Superstars'?" tanyaku bingung.
"Iya, si Abarai, Shuuhei, Hitsugaya, Kurosaki dan Ishida?" tanya Orihime.
"Eh? Mereka? Kenapa mereka disebut begitu?" tanyaku.
"Mereka ber-lima itu kan sahabat sedari kecil, sampai sekarang, dan lagi, mereka semua itu merupakan orang kaya, Renji, adalah anak dari direktur Perusahaan Elektronik, Ichigo, seorang anak Dokter bedah terkenal, Hisagi, anak Direktur perusahaan pertambangan, sedangkan Ishida, memang Industri, tapi memproduksi panah dan sampai keluar negeri, begitu pula Toushiro, ayahnya memproduksi Pedang Katana asli yang harga nya sangat tinggi…" ujar Chizuru panjang lebar.
"Chizuru, kau ini kalau soal yang begituan aja hafal banget, kalau rumus fisika enggak pernah hafal…" kata Tatsuki.
"Biarin, umm, Rukia, balik ke tema awal,bagaimana kau bisa dekat dengan mereka?" tanya Chizuru.
"E-eh, i-itu…" kataku gugup, melihat tatapan serius dari semua orang yang mendengarkannya itu.
"Teng, tene, teng!" bel masuk berbunyi.
"Yaaaah…" kata Anak-anak yang mendengarkanku itu.
"Fiuhh…"
------
"Teng, teng, teng!" bel makan siang berbunyi.
"Rukia, kita makan di taman belakang saja, ya?" tanya Momo. Aku hanya mengangguk.
------
"Disini nyaman, ya…" kataku yang baru saja sampai di taman Belakang, tepatnya di bawah pohon yang cukup rimbun.
"Enak, kan?" tanya Momo. "Disini tempat favorit ku!" kata Momo, membuka Bento-nya.
"Itadaki…"
"Hey! Jangan makan duluan, donk…" omel seseorang, membatalakn niatku yang baru saja menyuap telur gulung.
"Renji?" tanyaku, dan lagi ia tak sendirian.
"Makan sama-sama, donk…" kata Toushiro, dan Hisagi.
"Silahkan!" kata Momo, senang.
"Nah, ayo makan…" kata Renji, setelah duduk manis di sebelahku.
"Itadakimasu…" kataku dan yang lainnya.
"Umm, Hinamori, itu Tempura, ya?" tanya Toushiro, yang kebetulan di sebelah Momo.
"Iya, kau mau?" tanya Momo.
"Umm, boleh?" tanyanya malu-malu.
"Silahkan!" kata Momo, menyodorkan bentonya. "Ah, aku minta sosis gurita-mu…" kata Momo.
"Umm, arigatou, Hinamori…" kata Toushiro.
"Panggil Momo saja..." kata Momo, tersenyum, cukup untuk membuat semu merah di pipi Toushiro.
"Curang, nih, masa kalian berdua saja yang tukaran isi bekal, sama-sama, donk!" kata Renji. Akhirnya Makan siang itu semuanya saling bertukar isi bekal.
"Hey, mana Ichigo?" tanya ku setelah selesai makan.
"Dia tidak mau ikut, katanya kepalanya agak pusing…" kata Hisagi.
"Iya, dia makan dikelas." Kata Uryuu.
"Hmm, begitu, nanti kita ke kelas 2-3, yuk Momo?" tanya ku pada Momo.
"Hmm, boleh saja…" kata Momo.
"Sekarang saja?" kata Renji, lalu menarik tanganku.
"iya, ayo!" kata yang lainnya.
------
"Hey…" sapaku, pada anak berambut orange yang melihat keluar jendela.
"Kau, ada apa?" tanya Ichigo, melihatku.
"Kau jangan ketus, dong, Ichigo…" kata Hisagi.
"Kata yang lainnya, kau di kelas karena pusing?" tanya ku.
"Hmmhh, bukan apa-apa, kok, tak usah khawatir…" kata Ichigo kembali memalingkan wajahnya.
"Hey!" kataku, memutar kepala Ichigo agar melihatku. "Kalau aku menyebalkan, bilang saja langsung, jangan mengabaikan orang yang bicara padamu, donk!" kataku kesal.
"E-eh?" katanya, sepertinya kaget karena sikapku yang tiba-tiba.
"Momo, ayo balik ke kelas, dagh semuanya!" kata ku seraya menggandeng Momo keluar kelas 2-3.
------
"Teng, teng, teng!" bel pulang berbunyi.
"Otou-san!" kataku melihhat Mobil otousan sudah di depan gerbang sekolah.
"Bagaimana sekolahnya?" tanya Byakuya.
"Sangat menyenangkan! Aku sudah punya banyak teman!" kataku kegirangan.
"Oh ya, Dokter bilang, kau boleh di rawat di rumah, kau sudah sehat..." kata Byakuya, senang.
"Sungguh?" tanyaku, benar-benar tak percaya.
"Ya, tapi kau tak boleh melakukan aktifitas berlebih, jadi mungkin untuk pelajaran Olahraga kau belum bisa ikut…" kata Byakuya.
"hmm, tak apa! Yang penting aku sudah tak ketinggalan pelajaran!" kataku senang. "Nanti boleh aku mengajak teman-teman ku ke rumah?" tanyaku. Dan Otou-san hanya mengangguk.
------
"Uwwah, kamarku!" kataku sesampai di kamarku itu. Aku langsung merebahkan diri di atas kasur empuk milikku itu. "Senang sekali, rasanya Hidup kembali…"
"Nona? Ada teman nona di luar…" panggil Kaori, pelayan di rumahku itu.
"Eh? Ba-baiklah.." kata ku, lalu turun ke bawah.
------
"Renji?" tanyaku, kaget, ternyata yang berada di ruang tamu adalah si anak berambut merah, Renji.
"Yap! Dan aku hanya mau memberimu ini! Aku sudah bicara pada ayahmu, kok! Sudah, ya, aku pulang, Jaa!" kata Renji dalam satu tarikan napas dan memberiku sepucuk surat, membuatku bengong.
"'Jadwal Menjemput Rukia'" gumamku, membaca judulnya. "Hah? Apa ini?" tanyaku bingung.
"Dia bicara pada Otou-san dan Okaa-san, dia bilang, Momo, dia dan kawan-kawannya yang akan mengantarmu pulang…" kata Hisana, muncul di belakangku tiba-tiba.
"Okaa-san dan Otou-san mengizinkan?" tanyaku tak percaya. Tapi Okaa-san mengangguk. "Hik-hiks-hiks…" aku menangis tiba-tiba, lagi-lagi aku tak dapat membendung tangisku.
------TBC------
