"Berkah dari Tuhan untuk kita semua. Selamat pagi, selamat beraktifitas…"

Kalimat terakhir dari Levi tadi menutup acara pemberkatan pagi di gereja. Satu persatu jemaat berjalan menghampirinya, meminta percikan air suci dan mengucapkan terima kasih. Meski dia berwajah dingin dan jarang tersenyum, dia adalah pendeta yang paling disegani penduduk Trost. Dia tidak sendirian menjalani rutinitas ini. Didampingi 3 orang pendeta muda dan seorang biarawati, setiap pagi dia akan menyambut pada jemaat yang datang untuk berdoa di pagi hari sebelum memulai aktifitas mereka.

"Father Levi, saya diminta untuk menyampaikan pesan dari Father Erwin kepada Anda," kata salah satu pendeta pendampingnya yang bernama Erd.

"Dia tidak muncul di altar pagi ini. Di mana dia?" tanya Levi.

"Anda diminta untuk datang ke ruang kerjanya."

"Pergilah ke sana, katakan padanya aku akan segera datang. Aku perlu melakukan suatu urusan sebentar."

"Baik, Bapa."

Levi tidak ingin buru-buru memenuhi panggilan pimpinannya itu. Dia sudah berjanji kepada Eren untuk membawakan sarapan pagi ke kamarnya. Dia belum mengenalkan Eren kepada siapa pun di gereja. Bahkan penjaga gereja yang semalam mengizinkan mereka masuk, diminta olehnya untuk pura-pura tidak tahu akan keberadaan Eren.

Tiba di kamar asramanya, Levi mendapati Eren sedang duduk di lantai dekat tempat tidurnya sambil membaca buku. Levi mengizinkan dia berbuat sesukanya, selama itu masih berada di dalam kamarnya. Dan yah, tidak berbuat kekacauan yang menimbulkan keributan.

"Ini sarapanmu, Eren," kata Levi sambil meletakkan nampan berisi menu sarapan untuk Eren.

"Maaf sudah merepotkanmu, Bapa. Terima kasih," jawab Eren berseri-seri.

"Setelah kau menghabiskan sarapanmu, kau akan ikut aku pergi bertemu dengan kepala gereja ini. Biar dia yang memutuskan bagaimana kehidupanmu selanjutnya."

"A-apakah aku tidak boleh tinggal di sini lebih lama lagi, Bapa? Aku tidak tahu ke mana aku harus pergi."

"Maka itu, biar Erwin yang menentukan. Apa dia akan mencari orangtua asuh di kota ini, atau memasukkanmu ke panti asuhan supaya ada orang yang merawatmu."

"I-iya…"

Melihat Eren menjadi sedikit lesu, Levi menghampirinya dan duduk di dekatnya. "Selama belum ada keputusan apa pun darinya, kau boleh berada di sini selama yang kau mau, Eren," katanya lembut.

"Be-benarkah?" sahut Eren sedikit lebih bersemangat. "Tapi aku hanya akan merepotkanmu saja, Bapa. Ti-tidak masalah jika aku memang harus keluar dari sini-"

"Kau akan sangat merepotkanku jika kau terus berpikiran seperti itu, bodoh!" tukas Levi cepat. "Sudah jangan pikirkan itu sekarang. Cepat habiskan sarapanmu dan ikut aku bertemu Erwin!"

Tidak ingin membuat Levi menunggu, Eren secepat mungkin menghabiskan sarapannya dan bersiap pergi dengan pendeta berbadan kecil itu bertemu dengan kepala gereja. Eren sangat suka pemandangan di taman gereja ini. Bunga berwarna warni, berpadu dengan warna hijau rumput dan pepohonan rindang. Kompleks gereja ini tidak begitu besar, tetapi lalu lalang orang di dalamnya memberi kesan seakan gereja ini seperti kompleks bangunan besar dengan berbagai kesibukan.

"Erwin, ini aku," Levi mengetuk pintu ruang kerja Erwin. Setelah mendapat jawaban dari dalam, Levi dan Eren memasuki ruangan itu. Levi melihat Erwin sedang berbicara cukup serius dengan seorang pendeta paruh baya berbadan tinggi dan berjanggut tipis di wajahnya.

"Maukah kau menunggu, Levi? Sebentar lagi aku akan selesai berbicara dengan Mike," kata pria bermata biru itu sambil tersenyum. Levi menanggapinya dengan mengangkat kedua bahu dan menghela nafas. Dia mengajak Eren duduk di sofa dan menunggu Erwin menyelesaikan urusannya dengan pendeta bernama Mike itu.

Tak lama kemudian, pendeta berbadan tinggi tegap itu keluar dari ruangan Erwin. Namun dia berhenti sejenak dan melempar pandangan tajam kepada Eren. Dia bergerak mendekati Eren, lalu dengan cepat langsung mengendus leher Eren beberapa kali. "Hey! Apa yang kau lakukan!? Be-berhenti!" seru Eren gelisah, dan mencoba mendorong tubuh pria itu menjauh. Tidak perlu disuruh, pria berambut pirang kecokelatan itu langsung menjauh dari Eren.

"Dia tidak melakukan itu tanpa maksud apa pun, Eren," jelas Levi. "Dia bisa menebak perilaku dan sifatmu dengan mencium aroma tubuhmu. Walau yah, itu agak menggelikan."

Mike menegakkan kembali tubuhnya, kedua matanya masih tertuju kepada Eren. Kali ini dia memandang anak laki-laki berambut cokelat itu dengan curiga. Pandangannya kemudian berpindah kepada Levi, lalu berpindah kepada Erwin sebelum kemudian dia meninggalkan ruang kerja Erwin.

"Jangan hiraukan dia, Eren," kata Levi sambil berdiri dari sofa dan mengajak Eren berhadapan dengan Erwin. "Erwin, aku sudah menemukan sumber suara yang selama ini sering menggangguku setiap malam. Kenalkan, ini Eren. Dia penduduk Shigansina." Begitu namanya disebut, Eren langsung membungkuk dan menyapa pria bermata hijau di depannya.

"Salam kenal, Eren. Namaku Erwin Smith," sapa pria itu ramah. "Kau dari Shigansina? Kau tahu kota itu jauh sekali dari Trost?"

"Ya, saya meninggalkan kota itu karena mendapat serangan para monster," balas Eren sedikit gugup. "Mu-mungkin Anda tidak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Tetapi Father Levi sudah bertemu dengan monster yang menyerang saya dan keluarga saya."

"Benarkah, Levi?" tanya Erwin kepada Levi.

"Aku membunuh satu monster dengan bayonetku," jelas Levi. "Sulit dipercaya memang, tetapi aku memang melakukannya. Anak itu melihatku membunuhnya."

"Monster apa yang menyerang kotamu itu, Eren?" tanya Erwin kemudian kepada Eren.

"Saya bahkan tidak tahu dari mana asalnya, Father Erwin. Mereka merangsek masuk ke rumah-rumah dan mengambil segalanya. Tidak hanya harta benda, nyawa penduduk tak berdosa pun diambilnya. Mereka muncul dalam berbagai bentuk yang mengerikan."

"Kau dan keluargamu berhasil melarikan diri sampai di hutan. Monster-monster itu kemudian menyerang kalian. Benar begitu?"

Eren hanya mengangguk. Perasaan sedih dan takut itu kembali menguasai dirinya, "Saya selamat karena orangtua saya menyuruh meninggalkan mereka. Saudara perempuan saya sempat ikut berlari, namun sayangnya dia juga diserang hingga tewas. Saya berhasil melarikan diri dan terjebak di hutan itu."

"Berapa lama kau berada di sana, Eren?"

"Saya tidak tahu. 2 hari, lebih, entahlah…saya pikir akan mati di hutan itu. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Father Levi."

"Mengapa kalian memutuskan untuk pergi ke sini? Apa kau punya sanak saudara atau seseorang yang kau kenal di sini?"

"Sebenarnya tidak, Father Erwin. Kami hanya mencari perlindungan."

Erwin menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela nafas setelah mendengar penjelasan dari Eren. Dia masih belum bisa mempercayai cerita itu sepenuhnya. Bukan berarti dia tidak percaya akan keberadaan iblis dalam berbagai wujud. Tetapi jika mereka sudah berani menampakkan diri dan berbuat kekacauan di muka bumi, ini akan menjadi masalah serius jika tidak ditangani secepatnya.

"Mereka akan terus menyerang manusia," gumam Erwin. "Trost bisa jadi sasaran mereka selanjutnya. Levi, aku ingin kau mengirim anak buahmu ke Shigansina untuk menyelidiki bekas penyerangan mereka. Paling tidak 3 hari sudah kudapatkan hasilnya."

"Ya, Erwin," jawab Levi.

"Eren, apa kau keberatan untuk tinggal di sini dalam pengawasanku dan Levi?" tanya Erwin kepada Eren.

"Anda mengizinkan saya untuk tinggal di sini, Father Erwin?" tanya Eren bersemangat.

"Kau sudah berada di tempat berlindung yang tepat, Eren. Di gereja ini, kau akan lebih aman. Levi dan anak buahnya akan membantumu."

"Bukankah itu kabar baik untukmu, Eren?" tanya Levi menyambung pembicaraan. "Berjanjilah kau tidak akan merepotkanku selama berada di sini. Mengerti?"

"Ya, Bapa! Terima kasih! Sungguh terima kasih banyak!"

"Mumpung kegiatan gereja sudah selesai untuk hari ini, pergilah berjalan-jalan di kota. Kau perlu pakaian untuk tinggal di sini, bukan, Eren? Levi, temani dia."

"Kau sungguh membuatku repot, Erwin," gerutu Levi sambil menggelengkan kepalanya. "Ayo, Eren. Kita pergi."

-000-

Trost bukan kota besar, sebenarnya. Tetapi penduduknya cukup padat, terlihat dari aktifitas harian mereka. Pasar tradisional begitu ramai dengan para pedagang dan pembeli yang sibuk dengan urusan tawar menawar mereka. Rumah makan dan bar pun ramai pengunjung. Aroma khas masakan di beberapa kios makanan cukup membuat perut Eren berbunyi.

"Father Levi, aku lapar. Boleh makan ayam goreng itu?" tanya Eren sambil menarik-narik lengan baju Levi.

"Kau baru beli roti daging di toko sebelum ini kan? Perutmu sudah lapar lagi, hah?" balas Levi dingin.

"Tapi aku lapar. Ini yang terakhir. Aku janji. Boleh ya? Kubelikan kau sekalian untukmu. Kita makan di depan kiosnya."

"Kau pergi saja ke sana duluan. Aku mau beli minuman sari anggur di sebelah sana," kata Levi kemudian meninggalkan Eren pergi ke kios minuman sari anggur yang disebutnya tadi. Sementara Eren sudah sibuk memesan ayam goreng kesukaannya.

Keduanya menikmati makan siang di kota. Eren begitu senang melihat aktifitas orang-orang di sekitarnya. Dia juga bercerita kepada Levi bagaimana suasana kota tempat tinggalnya. Levi merasa senang melihat Eren sudah bisa melupakan segala macam kengerian itu. Anak itu awalnya sulit tersenyum saat bertemu dengannya. Sekarang dia sudah bisa tersenyum, sedikit tergelak ketika bercerita sesuatu yang lucu.

"Father Levi, maaf mengganggu Anda," seorang pria paruh baya tiba-tiba datang menghampirinya. Pria berambut sedikit beruban itu membawa tongkat gembala ternak. Dia membungkuk memberi hormat kepada Levi. "Jika tidak keberatan, saya ingin berbicara dengan Anda."

"Duduklah. Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Levi sambil mempersilakan pria itu duduk di dekatnya.

"Saya tahu ini bukan tanggung jawab Anda, Bapa. Tetapi Anda adalah orang yang paling dekat dengan penduduk. Tidak hanya Anda, juga para pendeta di Gereja Suci Trost. Ada kejadian aneh di kandang ternak saya."

"Ternakmu hilang? Dicuri? Atau dimakan binatang buas?"

"Ya, sudah 2 malam ini saya kehilangan kurang lebih 4 ekor domba yang akan saya jual di pasar. Saya merugi karenanya. 3 diantaranya hilang tanpa jejak. Satu ekor domba yang hilang itu saya temukan di pinggiran hutan dalam kondisi sudah dicabik-cabik. Seperti dimakan binatang buas."

Levi sempat terdiam sebentar, kemudian berkata, "Beruang?"

"Kalau dilihat dari cakarnya, memang nampak seperti beruang yang sangat besar," jawab penggembala itu. "Yang mengejutkan adalah bahwa beberapa peternak lain pun mengalami hal yang sama dengan saya. Makhluk itu menyerang setiap malam. Kami jadi khawatir akan keselamatan hewan ternak kami, Bapa. Juga keluarga kami."

"Mengapa tidak ada yang memberikan laporan kepada pemerintah?" tanya Levi sedikit gusar.

"Kami sudah memberikan laporan kepada pemerintah. Tetapi tidak ada tanggapan. Maka itu saya memberanikan diri melaporkan hal ini kepada Anda. Saya yakin Anda bisa memberikan solusi untuk kami."

"Apakah ada yang pernah melihat sosok makhluk yang memakan ternakmu?"

"Tetangga saya pernah melihatnya dan mencoba mengejar sampai ke hutan. Namun dia tidak cukup berani karena hewan itu menggeram terus. Dia bilang sosoknya seperti beruang sangat besar, berjalan dengan dua kaki dan cakarnya yang panjang. Monster…ya, begitu dia menyebutnya."

Begitu mendengar kata monster, Eren tiba-tiba berhenti makan. Satu tangannya yang menggenggam paha ayam goreng itu gemetar. Segala kengerian itu kembali berulang dalam pikirannya. Rasa takut dan sedihnya berubah menjadi kebencian. Dia ingin marah, tetapi dia tidak bisa melakukannya di sini. Orang lain, bahkan Levi, akan menganggapnya aneh.

"Terima kasih laporanmu," kata Levi menyudahi pembicaraannya. "Akan kulaporkan kepada kepala gereja, dan dia yang akan menyampaikan laporanmu kepada pemerintah. Sebaiknya tetap waspada. Jaga baik-baik hewan ternakmu. Jika ada perkembangan, kau boleh melaporkannya kembali padaku."

"Baik, Father Levi," balas pria itu, kemudian dia meninggalkannya sambil mengucapkan terima kasih.

"Semoga Tuhan memberkatimu, dan memberimu perlindungan."

Kekacauan akan segera muncul di kota ini, demikian pikir Levi. Sebisa mungkin dia tetap tenang menanggapinya. Makhluk buas itu hanya menyerang hewan ternak, mungkin mereka kelaparan. Tetapi jika tidak ditindak, mereka bisa menyerang warga.

"Father Levi," panggil Eren tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

"Ya, Eren," jawab Levi, sedikit memandang tajam kepadanya.

"Kau akan melakukannya kan?"

"Membunuh monster itu? Sayangnya itu bukan pekerjaan utamaku, Eren. Aku hanya pendeta yang bekerja menjadi pelayan Tuhan di rumah-Nya."

"Tetapi kau menbunuh monster yang mengejarku di hutan itu dengan senjatamu, benar?"

"Mengapa tiba-tiba kau berkata begitu, Eren?"

"Aku ingin ikut denganmu, Bapa. Aku akan membantumu membunuh monster itu. Mereka harus membayar segala perbuatan keji mereka terhadap keluargaku."

"Kau tidak punya kekuatan apa pun untuk melawan mereka, Eren. Jangan gegabah! Ini juga bukan pekerjaan orang gereja!"

Levi terkejut tiba-tiba Eren berkata demikian. Sorot mata anak itu berubah menjadi penuh benci. Dia tahu bahwa Eren sangat membenci para monster yang telah mengacaukan kota tempat tinggalnya, juga telah membunuh keluarganya.

"Kita pulang, Eren. Matahari hampir tenggelam," kata Levi kemudian mengajak Eren kembali ke gereja.

-to be continue-

Chapter 3 coming up next!