A/N. Mohon maaf karena saya rada lelet update fict ini. Persiapan PKL membuat saya keteteran hingga gak sempat ngetik. Padahal script alur sudah saya buat sampai beberapa chapter kedepan, tapi waktu untuk mengetik itulah malah yang nyaris gak ada. Terimakasih untuk para reader yang rela meluangkan waktu me-review chapter 1. Dan kali ini saya mempersembahkan chapter 2 yang semoga lebih baik daripada chapter 1. Chapter 2 ini 90% diisi oleh flashback yang dialami Shizuo selama setahun semenjak kecelakaan naas itu terjadi. Jadi, Selamat membaca, dan saya nantikan reviewnya.

.

+= Animosity=+

Durarara! © Ryougo Narita & Akiyo Satogiri

Animosity © Okumura Arale

Pair: ShiZaya

Genre: Angst/ Hurt/Comfort

Rated: T

Warning: TYPO, Shounen Ai, OOC, dan kekurangan lainnya…

.

Part 2:

Terlupakan

.

0o0o0o0o0o0o0

.

Sosok itu terlihat berjalan santai di bawah guyuran hujan yang mulai melebat. Payung plastik transparan yang digenggamnya dengan tangan kanan membuatnya terhalang oleh basahnya tetesan air yang turun berombongan ke permukaan bumi. Lengan kekarnya menggapai tombol pada mesin penjual rokok otomatis di hadapannya setelah memasukkan beberapa koin ke lubang masukan yang tersedia dan langsung menggapai lubang keluaran yang berada di bagian tepi agak ke bawah setelah terdengar bunyi benda terjatuh.

Kini sang pemuda tampan berambut pirang itu segera membuka segel kotak rokok barunya dan menyalakannya sebatang, sedangkan yang lainnya disimpannya ke dalam saku-vest seragam bartendernya. Matanya menatap langit mendung yang masih menurunkan cairan bening yang mengandung senyawa metana, besi dan neon itu.

Bibirnya mendesah panjang sambil menghembuskan asap rokok yang baru dihisapnya.

"Sudah setahun," bisiknya lirih pada dirinya sendiri.

Ya, setahun berlalu sejak kejadian naas itu. Setahun berlalu semenjak pemuda yang dibencinya itu berlumuran darah di atas badan jalan Ikebukuro. Setahun berlalu sejak Kishitani Shinra, teman sejak kecilnya, memberi vonis mengejutkan itu.

Ingatannya kembali ke masa setahun lalu. Ketika sosok itu dibawanya tertatih-tatih menuju Rumah Sakit Raira.

~Flashback Start!~

Sudah lima hari sosok licik itu terbaring tak sadarkan diri dengan luka di sekujur tubuhnya. Untungnya nyawa pemuda berambut raven itu tak sampai melayang setelah tubuhnya terlempar keras akibat tertabrak mobil Van yang melanggar lampu lalu lintas itu. Kini di kaki kanan dan tangan kirinya dipasangi gips, begitu pula dengan lehernya yang dipasang penyangga. Kepalanya terbalut perban ditambah beberapa lebam dan luka gores yang terpahat tak beraturan di beberapa sisi wajah rupawannya. Alat kardiogram yang terpasang di meja samping kasur pasiennya mengalunkan nada yang sama berkali-kali dan memampangkan ritme jantung sosok yang terbaring itu.

Dua gadis SMA terlihat sedang membaca majalah dengan santainya di sofa yang tersedia dalam ruangan itu.

"Ah," seru salah seorang gadis dengan potongan rambut pendek. "Aniki sadar," ucapnya datar sambil melirik saudaranya yang mengambil ponsel dalam saku seragamnya dan menghubungi seseorang.

"Halo, Kishitani-san? Sepertinya aniki sadarkan diri. Dia—" ucapan gadis itu terputus karena pihak lawan bicaranya memutuskan sambungan secara sepihak.

Beberapa waktu kemudian terdengar derap langkah memantul di sepanjang lorong rumah sakit yang biasanya tenang itu.

GRAK!

Pintu geser terbuka dengan sedikit kasar dan menampilkan sosok seorang Kishitani Shinra dan kekasih Dullahan-nya yang langsung menghampiri tempat tidur Izaya. Tangannya cepat menggapai senter kecil dalam jas putihnya dan menyalakannya setelah membuka kelopak mata sang informan untuk mengetahui pergerakan pupilnya.

"Celty, hubungi yang lain. Dia akan sadar,"

Kepala gadis yang tertutup helm kuning bertelinga kucing itu mengangguk cepat dan segera mengetikkan pesan singkat di ponselnya.

"Biarkan kami yang menghubungi Shizuo-san," tegas kedua gadis itu pada Celty yang langsung mengangguk ragu. Seandainya kepala Celty ada, dia pasti memasang ekspresi heran sambil memandang kedua gadis yang langsung berlari ke luar ruangan itu.

.
***

.

"Terima kasih Kasuka," ucap pemuda bersetelan bartender itu pada sosok adiknya yang baru saja mengantarkannya ke halaman depan Rumah Sakit Raira dengan mobilnya.

"Aniki tidak apa-apa?" tanyanya cemas tapi tetap dengan paras datarnya sambil memandang kakak lelakinya yang bergerak turun dari mobil.

"Demamku sudah turun, kau jangan khawatir. Sebaiknya kau cepat pergi. Kalau tidak, managermu yang cerewet itu akan memarahimu," ucapnya meyakinkan adik kesayangannya itu sambil tersenyum lembut.

Kasuka mengangguk dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan komplek rumah sakit itu.

Shizuo langsung melangkahkan kakinya secepat yang ia bisa melewati lorong berdinding putih itu menuju sebuah kamar pasien. Saat tangannya membuka pintu geser di hadapannya, terlihat jelas segeromblan orang telah berada dalam kamar itu. Mulai dari tiga siswa berseragam Akademi Raira yang dikenalnya, Kadota yang diikuti Yumasaki dan Karisawa, bahkan Simon.

"Ah, Shizuo-san. Masuk-masuk," dua bersaudari Orihara yang dari dulu sudah menyukai pemuda pirang itu langsung menarik lengannya agar tubuhnya mendekati tempat tidur Izaya.

"Siapa yang kalian bawa itu, Mairu, Kururi?" tanya sosok yang berbaring itu.

Perlahan beberapa penjenguk melangkah menyingkir agar Shizuo yang ditarik Mairu dan Kururi dapat mendekati sosok Izaya yang terbaring.

"Shizuo-san datang menjenguk Aniki," ucap gadis berambut kepang dua sambil tersenyum lebar.

Shizuo yang sedikit rikih atas perlakuan dua bersaudari itu mau tak mau mendekatkan dirinya ke kasur pasien sambil memasang tampang risih.

"Shizuo? Siapa?"

Pertanyaan yang keluar dari bibir Orihara Izaya itu kini membuat semua mata memandang ke satu arah, termasuk Shizuo.

"Wah-wah, kau berani sekali membawa kekasihmu kemari," pemuda bermata crimson itu tersenyum pada sosok Shizuo yang kini tepat berada di samping kasurnya dengan wajah heran.

"Kakak jangan bercanda disaat seperti ini," ucap gadis berambut pendek.

Pemuda itu mengacuhkan kata-kata adik perempuannya, "Jadi? Kau ini pacar Kururi atau Mairu?" tanyanya lagi pada sosok bartender yang kini sukses mengerutkan dahinya.

"Izaya! Kau jangan bercanda," seru Simon sedikit emosi dengan logat anehnya.

"Apa? Aku hanya bertanya pada pemuda yang baru kulihat ini?" tanya Izaya sambil memandang heran Simon.

"Izaya, jangan bilang kau lupa Shizuo?" Shinra bertanya keheranan.

"Oh, jadi namamu Shizuo? Salam kenal. Aku kakak dari Kururi dan Mairu," Izaya malah mengulurkan tangannya kehadapan Shizuo yang berdiri mematung sambil memandang mata crimson itu.

"Izaya!" bentak Shinra.

"Apa sih! Kalian cerewet sekali! Bukannya senang aku selamat dari maut! Kalian malah memarahi aku!" kesal Izaya. "Lagipula aku harus tahu siapa pemuda yang di kencani adikku!" lanjutnya.

"Dia Heiwajima Shizuo, teman satu sekolah kita di Akademi Raira," Kadota angkat bicara.

"Baru kali ini aku melihat orang amnesia lho, Erika-chan," ucap Yumasaki bersemangat.

"Aku juga," gadis bertopi itu mengangguk cepat.

Kadota langsung melirik tajam dua rekannya yang berbisik-bisik heboh itu. "Kalian! Tunggu diluar!" ucapnya dengan penuh penekanan.

"Yaaaahhhh, Dotachin payah!" dua sejoli itupun mau tak mau melangkahkan kaki mereka keluar ruangan.

"Lho? Kok aku tak pernah tau kalau ada pemuda setampan ini yang bersekolah dengan kita? Kau dari kelas berapa?" tanyanya polos pada Shizuo yang urat pelipisnya kini berkedut.

"KAU JANGAN PURA-PURA LAGI KUTU BRENGSEK!" teriaknya keras sambil mengambil ancang-ancang menyerang Izaya yang masih terbaring. Untungnya Kadota, Simon, Celty dan Kida dengan sigap menahan pergerakan Shizuo.

"Tahan Shizuo-san! ini rumah sakit," teriak Kida.

"Tahan emosimu, Shizuo. Dia sedang cedera!" ketik Celty pada ponselnya cepat.

"So-sonohara-san, sebaiknya kita keluar dulu," Mikado menarik Anri keluar ruangan itu.

Shizuo berdecak keras dan melangkah cepat keluar rungan itu disusul Kida dan Simon, meninggalkan Izaya yang memandang kepergian Shizuo heran.

"Dia kenapa sih? Kenapa marah begitu padaku?" heran Izaya.

"Izaya, sekarang aku benar-benar serius! Apa kau benar-benar tidak mengenali Shizuo?" tanya Kadota lagi.

"Kalian ini kenapa sih? Aku benar-benar tidak mengenalnya. Bahkan bertemu wajah dengannya saja baru sekali ini! Lagi pula aku bukan tipe pelupa yang akan melupakan seseorang. Apa lagi kalau orangnya setampan pemuda bartender itu," rutuknya kesal.

Ketiga orang yang tertinggal di ruangan itu saling berpandangan heran.

"Benar-benar menarik," Shinra tersenyum penuh misteri.

.

.

"Jadi? Bagaimana Kishitani-san?" tanya Kida dengan wajah penasaran.

"Dia mengalami amnesia,"

"Ta-tapi dia mengingat kami semua. Tadi malah dia menanyakan keadaanku dan dengan jelas menyebutkan namaku dan yang lainnya, kan?" ucap Mikado terburu-buru.

"Itu permasalahannya!" Shinra menggosokkan buku jarinya ke dagunya. "Hanya satu sosok yang dilupakannya," ucapnya sambil memandang sosok pemuda berpakaian bartender yang sedang berusaha berdiri tegak sambil menyenderkan dirinya pada dinding lorong.

"Dan parahnya lagi. Dimataku, dia seperti sosok yang berbeda. Bukan Sosok Orihara Izaya yang kukenal," lanjut Shinra sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Maksudmu, Shinra?" ketik Celty.

"Dia seolah-olah di cuci otak,"

"Cuci otak?" Mikado keheranan.

"Apa kalian tidak sadar dengan sikap dan cara bicaranya tadi?"

Karisawa dan Yumasaki menggeleng cepat.

"Itu bukan gaya bersikap Orihara Izaya yang kukenal. Izaya yang ku kenal tak pernah bersikap sesopan dan setenang itu,"

"Yah, sejujurnya aku juga menyadari kejanggalan itu," ucap Kida. "Dan jujur saja, aku sedikit— jijik," lanjutnya dengan ekspresi aneh.

Yang lain berfikir dan mulai mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan membenarkan pendapat Kida.

"Se-setahuku, Izaya-san selalu sinis dalam setiap kata-katanya," ucap Anri.

"Dan menganggap dialah yang paling istimewa," lanjut Mikado.

"Angkuh," Karisawa menambahkan.

"Selalu melompat-lompat seperti kutu busuk!"

Ucapan yang dilontarkan Sizuo barusan membuat Shinra dan yang lainnya tertawa.

"Kau ada-ada saja, Shizuo," sikut Shinra pada sosok Shizuo.

"Yah, kalau dipikir-pikir bagus juga kutu brengsek itu melupakanku. Hidupku bisa jauh lebih tenang mulai hari ini," ucap Shizuo sambil memasang sunglasses-nya dan melangkah meninggalkan rombongan yang kini menatap kepergiannya. Yah, paling tidak itu yang ada dalam pikirannya saat itu.

.

.

"Seharusnya kau senang setelah tahu kalau Informan yang sering membuatmu mengamuk itu melupakanmu dengan total," ucap Tom-san pada sosok pemuda berpakaian bartender yang terlihat tak bersemangat.

"Haaa," hanya jawaban itu yang keluar dari mulut pemuda pirang berpakaian bartender itu.

Tom-san mengangkat sebelah alisnya sambil memandang heran Shizuo yang menatap kosong ke seberang jalan.

"Oh ya, kudengar dia sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit minggu lalu," lanjut Tom-san sambil menyalakan api rokoknya.

"Begitukah?"

"Ternyata hanya perlu empat bulan agar semua lukanya sembuh total. Cukup cepat juga,"

Shizuo yang diajak bicara hanya diam dan memandang kosong ke titik yang sama.

Tom akhirnya meledak karena merasa diacuhkan, "Shizuo, ada apa denganmu belakangan ini?" bentaknya.

"Tidak ada apa-apa," ucap pemuda pirang itu datar sambil membetulkan letak sunglasses-nya dan melangkah meninggalkan Tom-san yang kini misuh-misuh.

Pemuda reggae itu akhirnya mengikuti kemana arah tatapan Shizuo sesaat tadi dan menemukan sosok Orihara Izaya yang terlihat baru keluar dari sebuah toko 24 jam di seberang jalan sambil membawa plastik belanjaan.

"Dasar tidak jujur," rutuknya sambil melipat tangan dan memandang Shizuo yang mulai menjauh.

.

.

"Yo, Simon!" panggil Shizuo pada sosok pelayan Russian Sushi resto yang dari kejauhan terlihat sedang berbicara dengan seseorang.

"Shizuo! Lama tak bersua! Sushi? Mau makan?" tawar sosok berbadan besar itu dengan logat anehnya yang masih sama.

"Bungkuskan aku dua paket special hari ini," ucap pemuda tampan itu sambil mematikan rokoknya yang sudah tandas di hisapnya.

"Ho! Dua? Makan banyak?"

Shizuo tertawa kecil, "Tidak-tidak. Adikku akan ke rumah malam ini. Untuk makan malam kami berdua,"

"Hooo, menyenangkan?"

Shizuo hanya tertawa. Tapi tawanya mendadak terhenti saat tahu siapa pemuda yang ada di samping Simon.

"Simon, aku pulang dulu. Terima kasih Sushinya," ucap sosok itu sambil melangkah meninggalkan sosok Shizuo yang kembali menatap punggung sosok itu.

"Izaya! Hati-hati. Kakimu masih sakit, kan?" ucapnya dengan nada khawatir.

Sosok itu hanya tertawa riang seperti biasanya, "Kau menghawatirkan siapa, Simon?"

Simon hanya bisa menggelengkan kepalanya pada sosok itu.

"Shizuo! Ayo masuk!" ajaknya pada Shizuo yang masih diam mematung di tempatnya.

"…" tapi sosok itu hanya diam dan masih memandang ke titik yang sama.

"Shizuo?" panggil Simon lagi.

"Ah, maaf. Aku sedikit melamun," akhirnya sosok tegap itu melangkah mengikuti sosok besar berkulit gelap itu.

"Masih lupa?" tanya Simon pada Shizuo.

"Hn?"

"Izaya? Padamu?" lanjutnya sambil menatap Shizuo yang kini kembali menyalakan rokoknya.

"Entah," hanya itu yang dikatakan Shizuo yang kini langsung duduk di salah satu meja sambil menunggu pesanannya selesai dibuatkan oleh master bermuka pucat di hadapannya.

.

.

"Kakak terlalu terobsesi pada Orihara Izaya-san," ucap sosok stoic itu pada kakak tersayangnya yang langsung tersedak potongan sushi yang sedang dimakannya.

"OHOK! Apa katamu, Kasuka?" teriaknya kaget.

"Kini obsesi itu perlahan berubah menjadi perhatian. Dan tinggal menunggu waktu saja hingga perhatian itu berubah menjadi rasa cinta," lanjutnya sambil meneguk segelas teh hangat yang disediakan Shizuo.

Geram amarah mulai terdengar dari bibir Shizuo. Urat-urat di pelipisnyapun mulai terlihat satu persatu menandakan amarahnya mulai memuncak. Dengan pasti diangkatnya kulkas yang berdiri diam di sampingnya dan berniat menghantamkannya ke kepala adik kesayangannya yang sudah mengatakan kalimat konyol barusan.

"Kalau kakak marah karena intuisiku tadi, artinya memang seperti itulah yang terjadi," tegas pemuda tampan berwajah datar yang kini hanya melirik sekilas kakaknya yang sedang diselimuti amarah itu.

"AAAAARRRGGGHHH!" pada akhirnya Shizuo hanya bisa berteriak sekeras mungkin dan meletakkan kulkas itu lagi dengan bunyi debam keras di lantai. "Terserah apa katamu!" ucapnya penuh emosi dan melangkah keluar apartemen dengan membanting pintu.

.

.

Hari itu, hari naas untuk seorang Heiwajima Shizuo. Bagaimana tidak, lagi-lagi hari ini dia diserang oleh orang-orang tak dikenal. Walau pada akhirnya luka-luka para penyerang itu yang lebih parah, tapi tetap saja tubuh Shizuo mengalami beberapa luka yang cukup serius. Kepalanya lagi-lagi mengalirkan darah segar. Tapi, tetap saja pemuda monster itu dengan santainya berjalan menuju kediaman kishitani Shinra.

"Oi, Shinra!" teriaknya sambil nyelonong masuk ke apartemen dokter illegal itu.

"Kishitani-san sedang keluar dengan nona kurir. Kalau kau ada perlu mendesak, tunggu saja. Sebentar lagi mereka kembali," ucap sebuah suara di balik sofa yang posisinya membelakangi sosok Shizuo yang sedang menerka siapa gerangan yang berbicara. Karena, otak ber-sel satunya mengatakan kalau dia mengenal sosok itu.

Saat sosok itu berbalik akhirnya Shizuo tahu siapa sosok yang membuat emosinya sedikit meningkat sejak pertama kali sosok itu mengeluarkan suara.

"Izaya," geramnya.

"Halo, sepertinya kita pernah bertemu?" ucap sosok Orihara Izaya itu dengan santainya.

Shizuo hanya diam sambil berusaha mengontrol emosinya.

"Ah, kalau tidak salah sekitar tiga bulan lalu, kau yang membeli dua bungkus paket Sushi special pada Simon, kan?" terkanya.

"…" Shizuo hanya menatap sosok itu dengan emosi yang bercampur.

"Waktu itu kita belum sempat berkenalan. Halo, aku Orihara Izaya. Kau?" ucapnya sambil mengulurkan tangan. Tapi, tangan itu ditepis dengan kasar oleh Shizuo yang kini berbalik cepat untuk melangkah pergi dari kediaman itu.

Tapi, langkahnya terhenti karena tangannya dicekal oleh sebuah tangan pucat dengan cincin di jempol dan telunjuknya.

"Hei, kau jangan gila. Jangan bilang kau mau berkeliaran dengan kepala bocor seperti itu!" Izaya menarik Shizuo hingga duduk diatas sofa. Yang lebih mengagetkan lagi, Shizuo tak melawan sedikitpun, malah kini dia duduk dengan tenang sambil melirik sekilas sosok Izaya yang bergegas mengambil kotak P3K di salah satu sudut ruangan.

Tak lama, Izaya sudah duduk di sebelah Shizuo sambil membersihkan luka yang menganga di pelipis pemuda berpakaian bartender itu.

"Luka ini sepertinya perlu di jahit. Sebaiknya kau tunggu hingga Kishitani-san kembali. Sementara aku akan memberikan pertolongan pertama pada lukamu ini," ucapnya sambil membersihkan darah dan menempelkan perekat luka.

Sedangkan yang sedang diobati hanya diam sambil menatap lekat pemuda raven yang sedang mengobatinya itu.

"Hm? Ada apa?" tanyanya saat sadar bahwa pasiennya sedang menatapnya lekat.

Shizuo hanya melengos dan memandang ke arah lain. "Tidak ada," ucapnya sambil tetap membiarkan Izaya mengobati lukanya.

"Shizuo," tiba-tiba pemuda pirang itu angkat bicara sambil kembali mengalihkan pandangannya pada mata crimson di hadapannya. "Heiwajima Shizuo,"

"Hn?" Izaya menelengkan kepalanya sedikit.

"Namaku," ucapnya lagi sambil kembali melepaskan bola matanya dari tatapan sepasang crimson itu.

Mata Izaya membulat seolah mengerti, "Salam kenal, Shizuo-san," ucapnya sambil tersenyum lebar.

Senyuman yang entah mengapa membuat dada Shizuo menghangat. Tawa itu bukan tawa yang biasanya dilepaskan oleh sosok Orihara Izaya yang dia kenal dulu. Tawa itu entah mengapa tak terlihat seperti tawa licik yang selalu terpahat di wajah manis Izaya, dulu.

Shizuo tertawa kecil sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangan hingga membuat sosok ramping di sebelahnya sedikit keheranan.

"Shizuo-san?"

Kini, tak ada lagi Izaya yang dia kenal dulu. Tidak ada lagi sosok yang selalu ingin membuatnya melepaskan sebuah palang lalu lintas dari tempatnya, ataupun melemparkan vending machine ke muka seseorang. Dan yang lebih parah lagi, dirinya seolah tak pernah ada dalam kehidupan orang yang sangat di bencinya itu. Tidak pernah ada.

"Shizu-chan,"

"Eh?" kaget Izaya.

"Panggil aku, Shizu-chan," ulang Shizuo sambil tersenyum lembut pada pemuda yang dulu sangat di bencinya itu.

.

TBC

.

A/N. Alamak, kok bagian akhirnya melenceng jauh dari script awal saya (jambak-jambak rambut gara-gara buku script-nya hilang entah kemana). Tetap ditunggu Reviewnya.

.

m(_ _)m

.

.

Special Thanks for, Phylindan, Crescent Crystal, ., DeeDee, Historia Aqua, dan sakurahimecool blue yang sudah menyempatkan me-review chapter 1.