Zyle Choi Presents

A FanFiction inspired by Autumn In Paris' Ilana Tan

.

Disclaimers

Some of the quotes and parts may belongs to Ilana Tan.

All similarity words and occurrences with Autumn In Paris by Ilana Tan is on purpose

Cover image credit goes to Light Year, via Ballerina_Petals on twitpic.

.

Warning(s)

No plagiarism, no harsh words, and no bashing characters allowed.

A newbie author, might be a boring story, might be late to publish the next chapter, might be stopped due to some reasons. No one knows what will happen.

I don't force you to read, so don't read if you don't like the story.

Thanks in advance and enjoy.


Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup menghempaskanmu begitu keras ke bumi.

.

"Hankyung!" suara itu seolah memecah indrea pendengaran pria berbalut kaos hitam selengan dengan jeans terkenal yang dibelinya di Paris tahun lalu.

Sesosok pria lain dengan wajah khas koreanya menempatkan diri dan menyesap white coffee milik Hankyung tanpa seijin pemiliknya yang menyebabkan dirinya menyergitkan dahi dan menjulurkan lidahnya.

"White coffee!" protes Heechul, namja berwajah khas Korea tadi, dan mendapat kekehan dari pemilik white coffee yang diminumnya. "Salah kau sendiri." Ya, begitulah. Sikap seenak jidat dan bebas Heechul bukan menjadi suatu masalah lagi bagi pria China ini, walaupun mereka baru mengenal masing-masing beberapa bulan yang lalu itu terasa seperti mereka sudah kenal sejak mereka kecil.

Kepolosan dan ketenangan Hankyung mampu mengimbangi sifat emosional dan kekanakan Heechul. Bahkan jika Heechul terjerat masalah, siapa lagi yang membantunya keluar selain pria tampan dengan hidung mancung itu? Bukan sekali duakali Hankyung memperingatinya untuk menjadi dewasa dan berhenti bertindak bodoh seperti, melakukan cross-dressing dan memasuki toilet wanita, misalnya. You only life once, and you have to be mean to survive, yah kira-kira begitulah jawaban sang primadona kampus a.k.a Kim Heechul ini saat penasehatnya berceramah panjang lebar dengan kata-kata yang itu-itu saja –menurut Heechul-.

"Kau tau, Han? Aku bosan~" pria cantik itu menggembungkan pipinya menatap sekerumunan orang brelalu-lalang di depan mereka. Suasana kantin memang sedang ramai saat ini, jam makan siang. Yang diajak bicara hanya menanggapi acuh tak acuh, sibuk dengan kertas-kertas print-an hasil pencariannya kemarin malam.

"Semua wanita itu sama saja, menginginkan apa yang dilihatnya kiri, kanan, atas, dan bawah. Moodnya berubah-ubah, sulit ditebak, menjengkelkan, manja. Tidak pengertian, egois, sebenarnya apa yang mereka pi— YAH! .GENG.! AKU BERBICARA PADAMU!"

"Aku mendengarkanmu, Yang Mulia Kim Heechul. Semua wanita itu sama saja, menginginkan apa yang dilihatnya kiri, kanan, atas, dan bawah. Sama seperti dirimu ketika kau melihat bunga matahari, dan aksesoris berwarna pink. Moodnya berubah-ubah, lalu bagaimana dengan dirimu yang mengomel saat ini dan bisa menangis kurang dari tiga detik setelahnya. Sulit ditebak, kau pikir menebak seseorang itu semudah menebak pertanyaan 'apa warna langit' pada anak kecil dan hanya memungkinkan ada tiga jawaban? Putih atau biru pada siang hari, dan hitam pada malam hari. Bagaimana dengan orang-orang dengan pemikiran kritis yang dapat menjawab lebih dari tiga warna dan menjelaskannya secara detail? Berhentilah bermain dengan perempuan-perempuan itu dan bersikaplah dewasa, Kim Heechul." Heechul merengut. Ya, jawaban panjang kali lebar milik Hankyung berhasil membuatnya tutup mulut. Tidak seperti yang lainnya, biasanya jika ada orang yang melawan pernyataannya, seorang Kim Heechul tidak akan tinggal diam membiarkan kebenaran yang dipegangnya teguh dikritik dan diubah begitu saja oleh seseorang. Berbeda dengan Hankyung, cukup dengan enam kalimat dan BAM! Kim Heechul, lose.

Melanjutkan aktivitasnya yang terganggu ocehan sahabat terdekatnya ini, Hankyung mengganti halaman bacaannya.

"Han, kau gay?"

PPPFFRTTTTT!

Minuman Hankyung tersembur keluar dari mulutnya begitu ia mendengar pertanyaan 'sensitif' dari Heechul. Heechul melebarkan matanya kaget. Kelegaan tersendiri menyadari dirinya tidak memutuskan untuk duduk di depan Hankyung, jika saja ia benar duduk di depan pria China ini, mungkin saja sekarang wajah cantiknya sudah tersembur white coffee yang ia cicipi beberapa menit sebelumnya.

Sebenarnya bukan salah pria berkaos pink ini untuk bertanya pertanyaan semacam itu. Bayangkan jika kau duduk bersama teman lelakimu yang membaca beberapa lembaran kertas tentang Boys Love. Apakah kau tidak akan mempertanyakan orientasi sex temanmu itu? Hanya saja mungkin kau memendam pertanyaan itu untuk dirimu sendiri, berbeda dengan Heechul. Kim Heechul, yang lahir pada tanggal 1o Juli ini akan terus terang mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, baik itu akan meyinggung perasaan orang lain atau tidak. My life, my rules. Heechul's another life motto.

"Kau gila?" balas Hankyung mendelik. Well, when your mouth says No, sometimes your heart says Yes. Tapi apakah tidak terdengar gila kalau Hankyung menjawab 'Ya' dengan wajah tanpa dosanya? Apa yang akan Heechul pikirkan nanti? Memilih untuk menertawakannya, mengejeknya, atau yang lebih buruk malah meninggalkannya? Berbeda kalau reaksi Heechul adalah memandangnya kagum dengan mata berbinar, bibir tersenyum lebar dan berkata 'Aku juga! Ah, ternyata aku mencintai seseorang yang gay juga, aku pikir kau straight!' Hankyung akan langsung mengatakannya sejak tadi.

Heechul menyipitkan matanya, "Lalu?" Curious Heechul is curious. "Itu, aku mendapat tugas untuk menyelidiki tentang Boys Love. Kau tau kan sekarang ini banyak manusia sesama jenis yang memiliki perasaan lebih antara satu sama lain?" —Termasuk aku. Berhobong. Hankyung bukanlah orang yang akan merelakan persahabatannya hanya demi kata cinta yang akan berakhir dengan peninggalan dan keterpurukan. Lebih baik memendam perasaan dan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya daripada mengatakannya segera tanpa pertimbangan dan harus menghancurkan persahabatan. Terdengar pengecut, tapi orang bijak tidak akan bertindak egois dan gegabah. Thinks before you speak, not thinks after you speak. "Bagaimana menurutmu?" tanya Hankyung abstrak.

"Menurutku apa? Boys Love?" Heechul meletakkan sikunya diatas meja dan menggunakan telapak tangan untuk menopang dagunya. "Boys love, aku rasa itu wajar-wajar saja. Orang-orang bilang love is blind, right? Dan aku pikir love knows no gender. Tapi untukku pribadi, untuk apa mencari hal yang sama jika kau bisa mendapatkan hal yang berbeda? Kau mengerti maksudku, kan, Hankyung? Hahaha" bagaikan petir di tengah siang bolong. Wajahnya cerah mendengar kalimat pertama dan kedua yang dituturkan Heechul. Tapi saat kalimat ketiga itu meluncur keluar dari bibir tebal kissable milik anak dari tuan dan nyonya Kim itu, hatinya mencelos. Untuk apa mencari hal yang sama ketika kau bisa mendapatkan hal yang berbeda? Itu sama saja seperti, untuk apa mengencani lelaki yang sejenis denganmu dan memiliki apa yang kau miliki secara fisik, jika kau bisa mengencani perempuan yang tidak memiliki apa yang kau miliki secara fisik atau singkatnya, -lebih sexy dan memuaskan? Dalam hal dewasa, tentunya.

"Pendapat yang bagus, Heechul." Pendapat yang bagus untuk meremukkan hati sahabatmu ini, Kim Heechul. "Tentu saja, Kim Heechul selalu memiliki pendapat yang memuaskan untuk para konsultannya" "You wish, Heenim." Candaan mereka menghasilkan tertawaan untuk mereka sendiri. If they were a couple, I'm sure the entire campus will envy them.

"Hankyung-ah, game center?" tanya Heechul yang lebih terdengar seperti ajakan, dan sebuah anggukkan menjawab itu. "Kau yang bayar,ya?"

"Yah! Kau yang mengajak dan aku yang bayar? Ashh, bailkah. Kau menyebalkan, Heechul-ssi." "Aku menyebalkan dan kau bisa menolaknya jika kau mau, tapi kau tetap mengiyakannya. Bukan salah ku, Hankyung-ssi." Heechul menjulurkan lidahnya meledek, sementara yang diledek hanya menggelengkan kepalanya heran. Heran kepada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia bertahan dengan memiliki sahabat seperti ini? Dan gilanya lagi, ia jatuh cinta dengan sahabatnyanya ini.

.

Apalagi yang dapat dua orang sabahat lelaku lakukan dalam waktu senggang ini selain pergi bermain? Mereka tidak akan berdiam diri di kamar atau pergi berbelanja bukan? Sebenarnya itu bukan hal yang aneh, Hankyung bisa saja menghabiskan waktu senggangnya seperti ini dengan pulang ke rumah, berdiam di kamar dan menelepon keluarganya di China. Sedangkan Heechul, pria ini bisa saja berbelanja ke mall, memilik aksesoris-aksesoris yang dianggapnya lucu, dan mengoleksinya. Tapi apa gunanya teman jika kau hanya melakukan itu seorang diri? So This is where they are, the game center, Seoul PC Game Center.

Tempat yang terkenal dikalangan pelajar, pasangan, ataupun hanya sekedar orang yang hobi bermain game, Kim Heechul salah satunya. Basketball Shoot, Dart Throwing, dan Taekwondo Punching Game adlaah tiga favorit Hankyung dari berbagai macam jenis game yang berada di sana. Omong-omong tentang Taekwondo, Hankyung menguasai bela diri. Hanya sekedar memberitahukan saja, sih.

"Hankyung-ah, Taekwondo Punching Game!" teriak Heechul memanggil Hankyung yang fokus dengan bola basketnya. "Hankyung-ah, ppali ya!" Hankyung menoleh setelah permainnannya selesai, berpikir sebentar, "Tidak tertarik, Kim Heechul. Tanganku sakit, bermain yang lain saja" dan wajah Heechul berubah datar. Jarang sekali pria ini menolak Taekwondo Punching Game, game yang hampir tidak pernah dilupakannya tiap ia berkunjung ke sini. Heechul mengangkat bahunya tidak peduli, melihat ke sekeliling dan menemukan objek yang menarik perhatian matanya. A box full of dolls.

Heechul meraik tangan Hankyung tidak sabar, menggesekkan kartu bermainnya, dna mulai menggerakan tool yang terdapat pada mesin permainan itu. "Kiri sedikit, Heechul-ah" Hankyung memberi pengarahan kemana alat penggerak Heechul harus bergerak, dan untuk yang kesekian kalinya Heechul mendengar perkataan Hankyung.

TAP!

Heechul menekan tombol enter untuk menjatuhkan pencapit itu, "AHH~" sayang sekali, boneka kucing berwarna abu-abu itu hanya terangkat seperempat perjalanan dan jatuh. "Payah kau, Heechul!" ejek Hankyung tertawa. "Jangan mengejek orang yang lebih tua darimu ini, Hankyung-ssi."

Memang, Heechul lebih tua setahun dari Hankyung, tapi tidak pernah menyuruh Hankyung untuk berlaku formal terhadapnya. Bahkan ia mempersilahkan Hankyung untuk memanggil namanya tanpa embel-embel hyung yang selalu ia tegaskan kepada orang yang lebih muda darinya. Sebaliknya, Heechul akan memberikan deathglare gratis kepada Hankyung jika pria itu memanggilnya dengan sebutan hyung.

"Yah lama sekali, Kim Heechul! Biar aku yang coba!" akhirnya kesabaran Hankyung sampai pada titik dasarnya juga setelah menonton berpuluh-puluh ronde antara Heechul yang sedang berusaha mendapatkan boneka kucing itu. "Kenapa tidak dari tadi, aku hampir saja menghancurkan mesin ini" cerca Heechul kesal.

TAP! Dapat.

"Milikmu" Hankyung mengulurkan tangannya ke arah Heechul. Mata Heechul berbinar melihat boneka yang berhasil Hankyung dapatkan hanya dengan sekali coba, walaupun hatinya bergerutu kesal kenapa begitu mudah Hankyung mendapatkannya sedangkan berpuluh-puluh kali ia mencoba dan boneka itu tetap tidak mau keluar dari dinding kaca mesin permainannya. Menyebalkan untuk Kim Heechul.

Tapi ya sudahlah, toh sekarang boneka ini sudah ada di tangannya berkat Hankyung. Heechul menarik tangan Hankyung dan memeluknya sebagai ucapan terima kasih. Mata Hankyung melebar secara tiba-tiba, hatinya berdegup kencang, berlainan dengan Heechul. Bibirnya membentuk garis lengkung, tersenyum. "Yah lepaskan, orang-orang memandang aneh terhadap kita, kau tau?" ucap Hankyung mendorong pelan tubuh Heechul. Tidak rela sebenarnya, tapi ia harus tetap sadar posisi dan tempat.

Bibir Heechul mengerucut, "Biarkan saja, aku tidak peduli dengan mereka yang penting sekarang kau d tanganku!" jawab Heechul menunjuk hidung boneka barunya. Hankyung tersenyum simpul tanpa Heechul sadari. Salah satu keberuntungan Hankyung yang tidak dimiliki orang lain, ia bisa melihat primadona kampus, Kim Heechul yang galak dan disegani, bertindak kenakan-kanakan hanya untuk sebuah boneka kucing. Siapa yang tau untuk membuat Heechul tersenyum ia hanya perlu menghadiahkannya sebuah boneka kucing? How cute.

Hankyung menggelengkan kepalanya, memerintahkan otaknya untuk berhenti memikirkan sosok lelaki yang ada di depannya dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya. Entah bagaimana Tuhan menciptakan manusia seperti ini. Sebuah pertanyaan yang akan Hankyung tanyakan kepada-Nya pada saat Hankyung kembali untuk bertemu dengan-Nya.

"Han, tebak apa! Aku menamainya Heebum, lucu,kan? Gabungan dari namaku dan Kibum!" Kim Kibum, mantan kekasih Heechul yang mungkin, atau pasti masih sangat Heechul cintai. Lagi-lagi Hankyung tersenyum tipis, dan untuk kedua kalinya hatinya yang masih belum utuh sempurna sudah harus menerima serangan dari seseorang yang selalu menjadi penyemangatnya.

.

Mereka berlajan berdampingan keluar dari game center itu, dengan Heechul yang terus selalu tersenyum memandang boneka kucing, yang mengingatkannya kepada Kibum –mantan kekasihnya- dan bukan Hankyung selaku orang yang mendapatkan boneka itu untuknya. Sementara the brokenhearted boy hanya berjalan tanpa suara dengan berjuta-juta pertanyaan dan penyataan yang ia pikirkan.

Tes..

Hankyung menoleh ke samping, mendapati Heechul yang sepersekian menit lalu masih tersenyum sekarang meneteskan air matanya. Lelaki itu mencoba tersenyum menatap Hankyung. "Aku tidak apa-apa, kau sendiri yang bilang aku ini kuat walaupun terlihat seperti wanita, kan?" He's sobbing. Hankyung menatap nanar pada Heechul. Mendekat dan mendekap tubuh Heechul. Merasakan kesedihan yang kembali menyerang ingatan Heechul saat dimana Kibum meninggalkanya. Saat dimana suara tembakan pistol itu bagaikan tombak yang menusuk hati Heechul.

"Han, kalau saja ada cara untuk memutar kembali waktu, aku akan datang lebih awal. Apapun resikonya, apapun yang harus aku korbankan, walaupun apabila itu berarti aku harus menyerahkan jiwaku sendiri. Aku pasti akan melakukannya demi Kibum."

Dan lagi, Hankyung tidak tau apa lagi yang bisa dilakukannya terhadap lubang besar yang mengaga di dalam dadanya. Tempat hatinya dulu berada. Heechul-ah, Kalau saja ada cara untuk memutar kembali waktu, aku akan datang lebih awal. Apapun resikonya, apapun yang harus kukorbankan, walaupun apabila itu berarti aku harus menyerahkan jiwaku sendiri. Aku pasti akan melakukannya demi kau.

.

Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya yang tidak boleh kudapatkan.


Chapter 1 done.

sedikit absurd dan boring, a big apologize for it.

Typo mohon dimalkumi, no edit soalnya.

Bahasa berantakan, alur cerita mengalir begitu saja tanpa kerangka dan dipikirkan terlebih dahulu.

.

SPECIAL THANKS TO

- JokerKiller as the first reviewer

- Kim Rae Sun as the second reviewer

- JiJoon ELF as the third reviewer

- Someone out there named Nadya (gengpetals) as an eternal ELF and HANCHUL shipper. I won't do this fic without her support

- All of HANCHUL shippers for loving HanChul.

.

There is a friend of mine.

His korean are poor, but his chinese are great.

.

Zy