Cahaya redup dari lampu meja seolah hanya menjadi satu-satunya penerangan di kamar itu, di samping rak buku, tepatnya di hadapan ranjang berukuran kingsize berspray biru yang tertata rapi, seorang gadis manis duduk sambil memeluk lututnya. Disampingnya, sebuah boneka teddy bear besar berwarna senada dengan mata indahnya tengah memandang dengan tatapan penuh tanda tanya, seakan mengerti perasaan empunya yang termenung duduk di pojokan sejak pukul tujuh malam tadi, tepatnya sejak kepulangannya dari festival musim panas bersama pemuda berambut coklat yang memiliki tanda seperti sebuah segitiga merah di pipinya. Sinar mata gadis itu menunjukkan bahwa ia sedang punya masalah belakangan ini.
Hinata membelai pelan boneka teddy bear itu, seakan hendak mengucapkan sesuatu yang amat mengganjal di hatinya. Gadis bermata lavender itu menatapnya lama, yang tentu saja dibalas dengan tatapan polos tak bermakna dari boneka pemberian Kiba tersebut. Hinata mengalihkan pandangannya ke arah jendela, sebuah boneka kyuubi teronggok manis disana, seakan ikut memandang indahnya langit malam berhiaskan bintang-bintang yang saling berlomba menunjukkan cahayanya yang kerlap-kerlip.
"Kau tau, Hinata.. suatu saat nanti, aku juga akan bersinar seperti bintang itu!" Hinata seolah teringat pada perkataan bocah pirang yang sangat didambakannya di masa lalu. Saat itu, Hinata tak terlalu mengerti dengan apa yang diucapkannya.
"Bagiku.. menjadi seorang hokage seperti menjadi bintang, tentu tidak mudah menjadi sebuah bintang yang mampu bersinar terang di atas sana. Aku akan menjaga desaku, aku ingin menjadi pelindung untuknya, juga.." Hinata menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan tangis yang hendak keluar. ".. aku ingin menjadi bintang untukmu.."
'Ah, Naruto-kun..'
Kali ini air matanya dengan mulus meluncur melewati pipi putihnya yang bersemu agak merah.
Hinata berjalan pelan mendekati jendela kamarnya yang sengaja belum ia tutup, tempat sang kyuubi menatap bintang. Gadis bermata lavender itu menyentuhnya pelan, menyentuh warna orange yang takkan pernah ia lihat lagi keberadaannya, menatap semangat yang tersirat dibalik warna itu, semangat seorang Naruto Uzumaki dengan jaket orange bergaris hitam-nya yang telah menjadi ciri khas dari pemuda pirang itu.
.
.
.
"Hinata-chan.." bayangan Naruto tiba-tiba tergantikan oleh sosok Kiba.
"Tempat inilah.. saat pertama kalinya aku bersamamu. Saat ketika kata itu kau ucapkan, kata terindah yang pernah aku dengar terucap oleh suara indahmu, mengalun bagai musik terlembut yang pernah ku dengar. Aku.. ingin kau tetap bersamaku.. Jika ada hal yang kau inginkan, katakan saja.. Aku bersedia untuk memenuhinya walau harus menukar dengan harga diriku sendiri.."
Pikiran Hinata teralih, bayangan Kiba saat ini memenuhi pikirannya. "Kiba-kun.." tanpa sadar Hinata mengucap nama pemuda itu.
"Sejak.. dulu.. bahkan sebelum dia hadir dalam kehidupanmu.. aku akan selalu menantimu.."
"Maaf.. aku terlalu egois.." gadis itu sedikit menyesali dirinya yang tak bisa lepas dari seorang Naruto Uzumaki. Apa Naruto mempunyai hal sehebat itu sampai dia tak bisa sedikit saja meluangkan waktunya untuk pemuda lain? Bahkan saat dia tengah berkencan dengan pemuda lain, Naruto pun masih memenuhi pikirannya?
"Bisakah.. aku menjadi penggantinya? Hinata-hime?"
FIRST LOVE
story by naruchiha
chapter 2: He's back
Pandangan mata Hinata kosong, pikiran gadis ini melayang jauh ke tempat saat Kiba menariknya dengan paksa.
-flash back: on-
"Mau kemana, Kiba-kun?" Hinata terlihat kaget saat tangan mungilnya ditarik dengan tiba-tiba oleh pemuda berambut coklat itu. Kiba terdiam sesaat, lalu menatap gadis di belakangnya dengan tajam, membuat Hinata sedikit takut. Apalagi cengkraman tangan pemuda itu, tak mungkin gadis selembut Hinata dapat melepaskan diri.
"Ke suatu tempat." jawab pemuda itu akhirnya, masih dengan sikap dingin yang jarang, ah! Bahkan tidak pernah sekalipun ia tunjukkan pada Hinata. Gadis itu menatap punggung Kiba dengan perasaan merasa bersalah, tak seharusnya ia mengingat Naruto kembali saat ia tengah bersama Kiba, bersama orang yang telah berjanji membahagiakannya, orang yang mengatakan bahwa Hinata adalah satu-satunya gadis yang ia cintai. Dan gadis bermata lavender itu sangat yakin kalau Kiba sangat kecewa padanya saat ini.
'Aku memang bodoh.. maafkan aku..'
Hinata membiarkan dirinya 'dibawa' oleh Kiba, entah kemana pemuda itu membawanya pergi saat ini, yang jelas, Hinata ingin menebus kesalahannya.
Mata lavender itu membesar ketika melihat tempat yang terasa tak asing baginya. "Tempat ini.."
Kiba membalikkan badannya, sehingga sekarang mereka berdua berhadapan, saling melihat satu sama lain. Hinata bisa melihat kekecewaan dengan jelas di wajah Kiba saat ini, ternyata perasaan seorang Hyuuga memang tak pernah meleset. Pemuda berambut coklat itu memandang wajah cantik Hinata yang terlihat sempurna dengan tatapan sendu.
'Oh tidak! Kiba-kun..' Hinata menatapnya dengan khawatir bercampur rasa bersalah yang amat dalam.
"Kau lihat tempat ini?" atmosfer yang Hinata rasakan disekitarnya tidaklah nyaman, setidaknya sikap Kiba yang seperti itulah yang membuat Hinata merasa tak enak.
Gadis itu mengangguk pelan. "Ya.."
"Dulu.. waktu aku masih berumur 5 tahun, ada seorang gadis kecil yang sedang menangis di tempat ini.." Kiba tersenyum mengenang masa kecilnya. Hinata hanya terdiam mendengarkan, seolah membiarkan pemuda berambut coklat itu melanjutkan ceritanya.
"Yang kulihat dari gadis kecil itu, bukanlah sebuah hal yang biasa. Aku merasa kalau ia adalah gadis tercantik yang pernah kutemui, matanya yang indah, wajahnya yang manis, wangi lavender yang tercium dari aroma tubuhnya.. aku sangat yakin bahwa ia adalah gadis impianku. Mungkin terdengar konyol, tapi sudah sejak lama aku memikirkan itu.." Kiba terlihat menerawang.
"Kiba-kun.."
"Gadis kecil itu menangis karena kerajinan tangannya dirusak oleh anak-anak nakal yang mengganggunya, karena takut dimarahi oleh guru, akhirnya ia memutuskan untuk tidak masuk kelas dan berdiam diri disini, di… ayunan berwarna cat biru itu.." mata Kiba menatap sebuah ayunan tua yang terlihat masih kokoh, namun warna birunya sudah pudar, terkikis oleh hujan dan panas yang terus mengeluarkan teriknya, seleksi alam.
Hinata hanya terdiam, tak terlintas satu kata pun di benaknya.
"Karena penasaran, aku ikuti gadis kecil itu dan menyapanya saat ia menangis tersedu sambil memegang kerajinannya.." Kiba memberi jeda. "Ku tanya mengapa ia menangis, lalu aku berusaha menghiburnya, pikiranku saat itu, sayang sekali seorang gadis cantik menangis, dia lebih cantik kalau tersenyum.."
Kiba mendekati ayunan itu, lalu tangannya meraih pegangan dari ayunan tersebut. "Untung saja, tangis gadis kecil itu mereda, dan hal yang paling indah tercipta di wajahnya, senyumannya yang sempat membuat wajahku bersemu merah. Ternyata senyumannya sangat.. manis. Dan gadis kecil itu.. adalah kau, Hinata-hime.." Kiba menatap wajah Hinata yang dihiasi semburat merah saat ini.
"Aku.." Hinata terlihat bingung.
Pemuda itu mendekati gadis lavender yang berjarak satu setengah meter darinya, tangannya menggenggam lengan mungil Hinata. "Jadi.. alasan apa lagi yang dapat ku berikan untukmu?"
Hinata menggeleng, "Tidak.. aku minta maaf soal tadi. Aku percaya padamu, Kiba.." gadis itu tersenyum, sangat manis di mata Kiba.
"Terima kasih.." ucap Kiba seraya memeluk Hinata erat, Hinata membalas pelukan Kiba.
-flash back: off-
'Aku akan berusaha melupakannya, Kiba-kun..' dan gadis bermata lavender itu terlelap di samping teddy bear pemberian Kiba.
###
"Hai Hinata-chan, tumben main ke tokoku. Mau membeli bunga apa?" sapa gadis blonde itu ramah.
Hinata tersenyum. "Ino-chan, aku minta bunga lavender saja, ibuku menginginkannya untuk ditaruh di dalam vas bunga di ruang tamu."
"Oh, untuk memperharum ruangan ya? Tapi kebetulan sekali, sangat cocok denganmu. Kau juga wangi dan cantik seperti lavender." puji Ino, terlihat semburat merah di pipi Hinata yang putih.
"Hmm.. kau manis sekali, wajahmu merah." gurau gadis pirang itu. "Pantas Kiba sangat menyukaimu, ternyata kau cantik sekali.."
"Ino-chan, jangan menggodaku.." mendengar itu Ino hanya bisa tertawa, betapa lugunya gadis di depannya ini.
"Ng.. Ino-chan juga sangat cantik.." ucap Hinata malu-malu, Ino menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi aku tak semanis dirimu, Hinata-chan." puji Ino lagi.
"Kau memang pintar memuji.. Sai pasti sangat senang memiliki gadis sepertimu.." ujar Hinata membuat Ino sedikit blushing mendengar nama pacarnya disebut.
"Tidak juga.. kelihatannya dia cuek-cuek saja padaku." wajah Ino berubah murung.
"M-maaf.. aku tak bermaksud.."
"Apa yang kau bicarakan Hinata-chan? Aku tak apa-apa kok.. Oh iya, saat ini Sai sedang ada misi bersama Sakura dan Kakashi-sensei. Katanya dia akan memberikan bunga jenis langka padaku, bunga yang hanya tumbuh di tempat saat dia misi sekarang. Ada-ada saja dia itu.." Ino geleng-geleng kepala, Hinata tersenyum mendengarkannya.
"Oh ya, apakah Kiba juga sedang ada misi?" tanya Ino berubah serius.
"Tidak." jawab Hinata singkat.
"Bagaimana hubunganmu dengannya?" tanya Ino lagi.
"Aku merasa senang, Kiba sangat baik." tutur Hinata.
"Syukurlah.." perasaan Ino lega. Siapapun di Konoha, memang mengetahui perihal hubungan Hinata dengan Naruto. Hinata yang paling sedih ditinggal oleh Naruto saat ia dikabarkan hilang dalam menyelesaikan misi masih terbayang di benak Ino. Untunglah ada seseorang yang mampu merangkul Hinata dari kesendiriannya, Kiba yang begitu mencintai Hinata. Meskipun Ino tidak yakin seratus persen kalau Hinata sudah melupakan Naruto. Yang Ino tau, Hinata menyukai Naruto sedari akademi ninja, bahkan mungkin saat gadis itu pertama kali bertemu dengan pemuda pirang itu. Mungkin bisa dibilang, kalau Naruto itu cinta pertama Hinata, begitu sulit untuk dilupakan.
"Kau harus semangat, Hinata." ujar Ino memberi semangat.
"Arigatou.." ucap Hinata tulus. "Aku pulang dulu ya, sampai jumpa, Ino-chan." pamit Hinata, gadis itu melangkah menuju pintu keluar dan menghilang dibaliknya.
Telpon rumah klan Yamanaka berbunyi, Ino mengangkat gagang telpon itu.
"Ya, toko bunga Yamanaka, ada yang bisa saya Bantu?"
"Ino, ini keadaan mengejutkan!" balas suara di seberang sana.
"Shikamaru? Ada apa? Kenapa tiba-tiba?" tanya Ino menyebutkan nama teman se-timnya.
"Aku tak tau ini merupakan berita baik atau tidak bagi seseorang.. dia telah kembali!" pemuda nanas itu sengaja menekankan pada kata "dia".
"Apa?" tanya Ino tak percaya.
"Dia kembali dari misi itu, ternyata kabar yang dahulu disampaikan memang salah." ulang Shikamaru. Ino tak menjawab dan meninggalkan gagang telpon begitu saja. Ia berlari agak terburu-buru menuju ke luar rumahnya.
"Hinata!" panggil Ino. Tapi sosok yang dipanggilnya tidak terlihat lagi sekarang, yang dilihat oleh gadis itu hanyalah pemandangan di luar rumah seperti biasanya.
"Aku harus segera memberitahunya.." ujar Ino agak cemas.
Sementara suara Shikamaru masih terdengar di telpon. "Ino? Hei?! Kau masih ada disana?!" tentu saja tak akan ada yang menjawab.
###
"Aku sangat senang kau kembali." sang Godaime tersenyum menatap pemuda di hadapannya, pemuda itu membalas senyumannya.
"Seperti juga aku, Godaime-sama." ujarnya.
"Hei, sejak kapan kau jadi lebih sopan seperti itu? Kemana panggilan "baachan-mu" untukku?" gurau Tsunade. Pemuda itu hanya tersenyum.
"Jadi, ceritakan padaku mengapa kau baru pulang sekarang.. Naruto?"
###
"Hinata-neechan, ada yang mencari neechan." Hanabi mengetuk pintu kamar Hinata dengan tiba-tiba, Hinata agak kaget mendengarnya.
"Ah iya, aku segera turun. Ng.. siapa Hanabi-chan?" Hinata merapikan penampilannya di cermin riasnya.
"Kiba-niisan," jawab Hanabi singkat.
Hinata membuka pintu kamarnya, Hanabi sudah menghilang disana. Gadis itu geleng-geleng kepala, kebiasaan adiknya menghilang begitu saja.
Hinata segera menghampiri Kiba yang sedang duduk di ruang tamu. Begitu melihat Hinata muncul, pemuda itu tersenyum. "Hinata-chan.." sapanya.
Hinata duduk di sebelah Kiba. "Biar ku ambilkan dulu minuman untukmu," Hinata hendak bangkit dari duduknya, namun tak jadi karena ditahan oleh Kiba.
"Tak usah, Hanabi-chan sudah mengambilkannya untukku."
"Oh." Hinata duduk kembali.
"Jadi kau mau kan menemaniku berlatih?" tanya Kiba langsung pada inti dari rencana mereka, Hinata mengangguk. "Tentu saja Kiba-kun, aku juga sudah menyiapkan bekal untuk makan siang."
"Kau memang baik, Hinata-chan." puji Kiba.
"Ehemm, maaf mengganggu, tapi minuman sudah datang, untuk tuan Kiba dan nona Hinata." Hanabi meletakkan dua buah gelas berisi jus jeruk di hadapan mereka.
"Terima kasih Hanabi-chan." ucap Hinata dan Kiba hampir bersamaan, Hanabi hanya tersenyum dan segera berlalu, tak ingin mengganggu kakaknya.
"Baiklah Hinata-chan, sebelum latihan, aku harus membeli sesuatu dulu ke kota, kau mau menemaniku?" tanya Kiba penuh harap, Hinata mengangguk.
"Bagus! Hhehe.."
.
.
.
Keadaan kota saat ini sangat ramai, etalase dari berbagai toko dengan apiknya memajang barang-barang yang bernilai lebih. Kiba melangkahkan kakinya dengan perasaan gembira. Bagaimana tidak? Hinata, gadis yang dipuji-pujinya berada di sisinya saat ini. Tak lupa dia membawa Akamaru, anjing kesayangannya. Sebenarnya tujuan Kiba hanya ingin membeli makanan untuk Akamaru, tapi sekalian juga mengajak Hinata jalan-jalan.
Begitu semua barang yang diinginkannya terbeli, Kiba dan Hinata bermaksud untuk langsung melakukan latihan mereka yang telah direncanakan. Sikap Kiba sangat ceria, malah jadi terlihat seperti anak kecil, Hinata tersenyum geli, dan tak jarang membuat Kiba blushing.
"Aku punya jurus baru yang ingin ku tunjukkan padamu." Kiba membuka pembicaraan pada saat mereka sedang berjalan di distrik Konoha menuju tempat latihan.
"Oh ya? Jurus apa itu?" tanya Hinata tertarik.
"Hehe, nanti aku tunjukkan.."
Tubuh Hinata perlahan merasa tegang, ada satu firasat aneh yang tiba-tiba menyergapnya saat ini. Perasaan seperti beberapa tahun yang lalu, saat dia masih..
Hinata tiba-tiba menghentikan langkahnya. 'Perasaan ini..'
"Hinata-chan?" Kiba ikut menghentikan langkahnya dangan heran.
Pada waktu yang bersamaan, muncul dua shinobi yang mereka kenal baik berjalan ke arah mereka. Dan Hinata lah yang pertama kali menyadari itu, dan hal yang paling mengejutkan adalah kehadiran seseorang yang sangat ia kenal baik.
Mereka berjalan menghampiri Hinata dan Kiba yang terbengong-bengong menatap pemuda di depannya, terutama Hinata yang berusaha menahan keinginannya untuk memeluk pemuda itu saat ini juga. Kiba terlihat bingung melihat kehadiran sosok itu dengan tiba-tiba, sedangkan yang ditatap berekspresi seperti biasa saja, sangat tenang.
"Konnichiwa, Hinata-chan." sapa pemuda itu, Shikamaru yang berada di sampingnya mulai mencium situasi yang tak enak, apalagi menatap wajah Kiba saat ini.
"N-Naruto-kun?" gadis bermata lavender itu masih belum percaya akan apa yang dilihatnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya pemuda berambut pirang itu.
"Aku.." sangat menderita saat kau meninggalkanku saat itu.
"Naruto, lama tak bertemu." sela Kiba.
"Hai Kiba, oh ya, bagaimana juga kabarmu saat ini?" Naruto tersenyum ke arah Kiba, dan pandangannya tertuju kembali pada gadis lavender itu.
"Baik. Kau? Kemana saja sampai menghilang begitu?" ada kilat kecemburuan di mata Kiba saat melihat cara Naruto menatap Hinata, gadis manisnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Ada hal yang harus aku bereskan dulu, ada hubungannya dengan akatsuki." Kiba dan Shikamaru terdiam, enggan memberi komentar apapun. Sedangkan Hinata masih kaget dengan kehadiran Naruto yang tiba-tiba, saat malam sebelumnya ia memutuskan untuk melupakan pemuda yang ada dihadapannya ini. Tekad Hinata yang semula kuat perlahan menjadi lemah, benteng pertahanannya sedikit demi sedikit terkikis oleh kerinduan yang membuncah, memenuhi dadanya hingga ia merasa sesak saat ini. Ingin rasanya Hinata berlari menghambur pemuda pirang yang sangat dirindukannya itu, menangis sejadi-jadinya, mengungkapkan semuanya, betapa ia sangat menderita. Namun Hinata masih punya akal sehat, ia merasa tak enak pada Kiba. Sejujurnya ia juga menyukai Kiba, pemuda yang selalu ada untuknya. Namun soal siapa yang paling Hinata sukai masih menjadi bagian pertanyaan di hatinya selama ini. Apakah ia adalah gadis yang egois? Yang menginginkan keduanya? bukankah yang seperti itu tidak baik? dan apa yang harus dilakukannya?
Melihat sosok Naruto saat ini, Hinata seakan-akan teringat pada masa silamnya, tepatnya saat malam ketika Naruto mendapat misi yang membuatnya hilang begitu saja.
"Hinata-chan, besok ada misi yang Tsunade-baachan tujukan padaku, misi tingkat S."
"Naruto-kun.. cepat kembali ya?"
"Tentu saja."
Wajah Hinata bersemu merah, Naruto mendekati gadis itu dan mendekatkan diri padanya. Pemuda itu mengatakan sesuatu di dekat telinga Hinata.
"Aku sangat merindukanmu.."
Wajah Hinata semakin memanas. 'Aku juga Naruto-kun.. aku juga..' air matanya hampir meleleh.
Naruto merasa kaget saat bahunya ditarik dengan kasar oleh Kiba, Hinata juga mengalami hal yang sama.
'Apa yang ku lakukan?'
"Maaf, Naruto. Tapi saat ini dia adalah gadisku."
###TSUZUKU###
Whew~ maap lama banget ngapdetnya! Soalnya kemaren saia sibuk banget, dan sempat kena penyakit wb -__-" *dasar author ga baleg*
Kok fanfic saia jadi beraroma sinetron ginih ya? *garuk2 kepala stress*
Hhoho, tapi makasih ya buat yang sebelumnya udah ripiu! Saia sangat senang dan merasa terharuu~ *sembah sujud*
Makasih buat Fariacchi, cumanakecil, Melody-Cinta, kennko-hime
Oh iya.. menurut kalian mendingan saia jadiin NaruHina atau KibaHina? o.O
Habis peluang keduanya sama besar.. –w-" *halah*
Dimohon jawabannya lewat review yah! Review dari temen-temen sangat berharga buat saia, apabila ada kritik atau saran, atau komentar, atau apa lagi lah (?), jangan sungkan untuk menyampaikannya. *jadi serasa iklan*
Akhir kata, makasih buat yang mau repot baca, dan makasih banyak buat yang mau ripiu.
With love
_naruchiha_
