ONE CALL AWAY
CHAPTER SEBELUMNYA
"kaliam sudah mendapatkan nomor undian?"
"Sudah saem" jawab panghuni kelas dengan kompak.
"baiklah sekarang menggerombol dengan kelompok masing masing dan buka Bab 3. Saem akan membagi topik dengarkan baik baik"
"kelompok 1 ulasan A, kelompok 2 ulasan B, urut sampai seterusnya" terang kang songsaenim. Jongin melihat teman teman nya heboh mencari anggota kelompok sedangkan ia malas untuk mencari couple nya.
"yak Tuan Kim kenapa kau duduk saja, kemana anggota kelompomu, dan juga kau Oh Sehun sama saja dengan Jongin. Kau mendapatkan nomor berapa Tuan Kim"
"10 saem" jawab jongin sejujurnya, tak mungkin juga ia berbohong kepada kang saem dengan menyebutkan nomor 7, its silly
"Dan kau Tuan Oh?"
"10 saem" jawab Sehun dengan malas pasalnya ia sudah tau kalau si ingusan kim akan menjadi satu kelompok
"Bagus, dan tunggu apa lagi"
.
.
CHAPTER 2
Sekali ketik. Tidak sempat edit. Maaf jika ada typos
Kukira hari ini akan menyenangkan tapi nyatanya sial, sial karna aku terjebak sepanjang jam pelajaran prakarya dengan si idiot Sehun yang sialnya hari ini mendapatkan 4jam pelajaran.
"Kenapa aku bisa sesial ini Ya Tuhan apa salahku" helaan nafas Jongin yang terdengar teratur tak lupa dengan berbagai kata kata keluhan
"Sudahlah ini bukan salah Tuhan ini salahmu karna kau pembawa sial" timpal laki laki disamping Jongin yang masih saja membaca buku tebal dengan air muka serius, sesekali membalikkan beberapa halaman.
"bukan aku yang sial Oh tapi kau yang pembawa sial" tak mau kalah Jongin malah menarik buku yang sedari tadi menggangu pandangannya ke manik Sehun. Ooh atau ini hanya akal akalan Jongin agar bisa melihat manik Sehun yang katanya mempesona membuat Jongin seperti terkena penyakit jantung kronis.
Sadar jika dirinya sedang dipandangi Jongin, Sehun pun membalas tatapan mata lawan bicaranya. Jongin yang dipandangi atau malah ketahuan memandangi si ketua kelas buru buru menoleh ke samping kanan karna tiba tiba saja atmosfer disekitanya menjadi canggung dan sialnya pipinya memerah seperti lobster rebus.
"Kenapa kau merebut buku ku, kalau ingin meminjam tolong dengan sopan ahh tau kau ingin mengerjakan tugas kelompok kita sendirian?" Jongin mendengar kata kata sarkasme dari Sehun buru buru mengayunkan telapak tangannya dihadapan Sehun enak saja ia mengerjakanya sendirian.
"mana ada peraturan seperti itu lagi pula aku hanya ingin melihat halaman berapa yang kau baca" sanggah Jongin dengan manik mata meyakinkan
"sayang" apa Sehun memanggilnya sayang mamahh tolong Jongin
"sayang.. sayang sekali padahal aku sangat berterimakasih jika kau ingin mengerjakan tugas nya sendirian kau menghancurkan rencana kencanku Kim" apa kencan? Jongin tidak salah dengar apa si ketua kelas sudah punya kekasih? Kenapa tiba tiba rasanya panas mendengarnya, tidak boleh.
Sehun yang melihat Jongin seperti orang idiot memang sih orang didepanya ini sudah idiot dari awal tapi jika bertingkah seperti ini tambah sudah kadar keidiotannya.
"hey kau kenapa idiot"
"Tidak apa apa" nahkan tambah 1 point lagi kadar keidiotan Jongin kenapa tiba tiba judes dengan Sehun.
"kenapa kau menggelengkan kepalamu dan tidak tidakk" tanya Sehun tak lupa juga menirukan gerakan Jongin
"ku bilang tidak ada, sudahlah aku muak" dengan sekali hentakan Jongin mendorong kebelakang kursiyang sedari tadi digunakan dan dengan buru buru keluar kelas. ehh dikutuk apa Sehun dikehidupan sebelumnya.
Kenapa Jongin bisa keluar dari kelas dengan mudah, karna kelas ini sedang tidak diisi guru
.
"Dasar albino, dasar bodoh, dasar idiot mau maunya aku satu kelompok dengan muka triplek seperti itu" gerutu Jongin sepanjang lorong yang entah kenapa malah menuju ke kantin
Bruk
"aduh"
Buru buru Jongin menjongkokan diri mensejajarkan dengan seseorang yang tidak sengaja ia tabrak karna sibuk menyumpah serapahi Sehun
"sunbae tidak apa apa?"
Tidak dijawab, orang yang ditabraknya malah sibuk membersihkan debu di seragam sekolahnya
"maafkan aku"
"Tidak apa apa aku tau kau tidak sengaja menabrak ku" jawab laki laki dengan wajah mempesona ahh tidak cantik maksudnya.
"Apa benar benar tidak apa apa sunbae? Aku takut jika ada apa apa, mau ku antar ke UKS?" tawar Jongin sambil menepuk nepuk kemeja sunbaenya untuk menghilangkan debunya. Asal kalian tahu saja Jongin walaupun sok jutek tapi ia baik hati kok.
"Haha tidak usah panik seperti itu, dan kenalkan namaku Luhan, Xi Luhan" jawab orang yang ditabraknya tadi Jongin yang diajak berjabat tangan langsung saja menerimanya tidak buruk juga punya kenalan kakak kelas kkk
"n nama ku Jongin sunbae" sengaja Jongin tidak mengikut sertakan marganya karna yahh kata ibunya ia tak boleh memberitahu kepada orang asing
"hai Jongin salam kenal, dan jangan panggil aku sunbae panggil saja Luhan karna aku juga ditahun yang sama denganmu"
"Baiklah sun maksudku Luhan kalau begitu aku duluan ya" pamit Jongin agak kikuk karna yah ia mudah kikuk jika bertemu orang orang baru.
.
.
"Jongin pulang" seru Jongin masuk rumah dan disuguhi adegan tidak senonoh adiknya yang sedang memperkosa setoples kue kering didepan televisi
"ibu kemana joy?" dengan langkah gontai Jongin menghampiri setoples kue kering yang sepertinya enak dimakan saat saat seperti ini tapi sebelum tangan lentiknya menyentuh pinggiran toples naas sudah tangannya di tepis oleh joy.
"mana kutahu memangnya aku ibunya" jawaban yang sangat memuaskan yang menghasilkan plototan dari Jongin tapi naas diabaikan karna sepertinya para boyband yang sedang menari di dalam televisi lebih menyenangkan.
"Kau kan dari tadi hanya dirumah dan memperkosa setoples kue kering ibu maka dari itu aku bertanya kepada mu" sanggah Jongin
"Sudahlah kau belum mencari ibu saja protes, cari dulu saja mungkin di kamar"
"punya adik tidak berguna" cibir Jongin seraya menaiki satu persatu anak tangga
"aku bisa mendengarkanmu hitam"
"Ibuuu joy mengataiku hitam"
"tapi memang kau hitam Jongin sayang" balas ibunya tak kalah kencang dari arah kamarnya
"ibuuuu aku laparrrr"
"Ya makan dan berhenti berteriak Jongin"
.
.
Drrt
"Siapa sih mengganggu saja quality time ku dengan kasur" gerutu Jongin saat mendengar ponsel nya bergetar bukanya membuka pesannya ia malah semakin menggelung diri di selimut motif bunga bunganya. Eww girly sekali
Drttt
Drrt
Jongin yang merasa terganggu dengan keberadaan ponselnya yang tidak sekali dua kali tapi tiga kali bergetar dinakas, Jongin dengan segera menyingkap dengan sebal selimut nya
"Kenapa ada banyak panggilan masuk seolah olah aku sedang punya hutang dengan rentenir" walaupun terus menggerutu Jongin malah tetap menggeser tombol hijau.
'hallo' ucap Jongin sok manis tidak mungkin kan ia menyumpah serapahi nomor tidak dikenal siapa tahu nomor ini milik Shawn Menndes
'heh hitam kenapa lama sekali menganggkat telfonku' sembur orang disebrang sana
'siapa ini dan satu lagi enak saja kau mengataiku hitam dasar tidak tahu sopan santun' sembur Jongin tak mau kalah
'heh dasar tidak tahu diri jika sedang di telfon orang setampan aku kau malah memarahiku'
Jika ini di komik mungkin saja di sudut kepala Jongin sudah ada perempatan imaginer dengan uap yang muncul diatas kepalanya
'pede sekali kau idiot Oh'
Astaga astaga biarkan Jongin bernafas, mimpi apa ia semalam hingga ia bisa ditelfon Sehun, jangan tanya kenapa ia bisa mengenali suara Sehun karna yah namanya juga…
tapi dari mana Sehun mendapatkan nomor kontaknya setahu Jongin hanya Wendy yang menyimpan nomornya, ahh apa jangan jangan Sehun mengemis ngemis kepada Wendy agar memberi nya
Memikirkan perjuangan Sehun saja Jongin sudah merona
'mau apa kau, aku sibuk katakanlah to the point dan dari mana kau mendapatkan kontakku' Balas Jongin ketus
'aku hanya ingin menanyakan tugas dan juga aku mendapatkanya dari Seulgi noona yang notabene sepupuku'
Ooh hanya tugas seketika mimik wajah Jongin berubah, bohong jika ia tidak kecewa
'tugasmu baik baik saja didalam tasku'
'kenapa kau tidak mengerjakan nya anak baru'
'enak saja ini tugas kelompok kenapa harus aku sendirian yang mengerjakanya' sudah cukup Jongin kira Sehun menelfonya ingin minta maaf atau paling tidak kan menanyakan kabarnya selepas ia kabur tadi siang
'ya sudah kalau begitu kau kerumahku'
Nahkan Jongin dibuat merona lagi, karna apa Sehun mengajak kerumahnya astaga pikiran liar Jongin mulai mengebu gebu
'ehh u untuk apa kerumah mu' balas Jongin dengan nada was was padahal senang sekali rasanya ia ingin terbang ke Amerika untuk mencium patung liberty.
'tentu saja untuk mengerjakan tugas kelompok bodoh'
'aku tidak bodoh'
'baiklah idiot'
'aku tidak idi'
Tutt
Tutt
'-ot sialan kau Sehun seenak nya saja memutuskan ku" nahkan kata kata Jongin ambigu sekali
Rasanya Jongin butuh sebotol air untuk menyiram tenggorokannya yang kering setelah brperang dengan si ketua kelas tak lupa membuat ponselnya ke ranjang
"ehh apa lagi ini" dan rencana mengambil minumnya gagal karna ia mendengar notifikasi benda persegi yang baru saja diletakan dinakas Jongin buru buru menyambarnya, isinya hanya sederet alamat, alamat siapa lagi kalau bukan Sehun. Kyaaa mamahh.
"Aku harus bagaimana" Jongin jangan tanya lagi seperti apa ia sekarang, hanya mondar mandir di depan almari tempat ia menyimpan semua harta karunnya dan jangan lupakan semua baju sepatu syal atau apapun itu yang terongok diatas lantai di atas ranjang berserakan.
"Pakai turtle neck? Atau biasa?"
"Pakai wana mencolok atau lembut?"
"Pakai sepatu ini atau itu?"
"Apa aku perlu mengecat rambut ku?"
"Pakai lensa berwarna atau tidak?"
.
Dan disinilah Jongin didepan rumah yang sepertinya bukan rumah karna luasnya yang fucking fantastic.
"Ekhem ada yang bisa saya bantu?"
tiba tiba ada seorang yang sepertinya satpam disini karna terbukti dari baju seragam yang dipakainya menepuk bahu Jongin yang sedang memandangi pagar rumah Sehun yang menjulang.
"A a saya ingin bertemu Sehun"
"Silahkan masuk" perintah satpam Sehun sembari membuka pintu gerbang. Dan fyi halamanya fucking fantastic indah nya. Mungkin saja aku bisa berkemah disini karna yah saking luasnya dan jangan lupakan air mancur yanv dikelilingi oleg semak semak yang berada ditengah halaman luas yang nantinya bakal ku gunakan untuk berkemah. Haha ups.
Belum sempat aku menggengam ketukan pintu yang menempel di kayu yang penuh ukiran didepanku tiba tiba pintunya sudah terbuka dengan 2 orang berseragam maid di setiap sisinya.
"silahkan masuk tuan muda" tawar maid yang bersurai blonde berjawah Western tunggu sepertinya semua maid disini berwajah western apa jangan jangan maid maid ini di impor langsung dari eropa astagaaa kejutan.
"Ya a ya" jawab ku gagap karna fyi maid maid ini asdfghjkl hot sekali
"Tuan Sehun sedang berendam anda bisa menunggunya di ruang tamu tuan" tawar maid yang satunya dengan menggiringku ke ruangan yang bernama ruang tamu tapi bagiku ini ballroom. Langsung saja kududukan bokong berisiku di sofa yang empuknya melebihi kasur kesayangan ku. Dengan jelalatan metaku melihat sekitar ruangan ini Interior khas gereja Eropa di langit langitnya, guci guci antik membuat ku berasa di museum arkeologi.
"wah wah kau cepat juga ternyata"
"A astaga kau mengagetkan ku albino" ku pandangi Sehun dari atas sampai bawah dan setelahnya aku lupa bagaimana cara menegak ludahku karna demi Taeyong yang sering dielu elukan seksi oleh joy Sehun bahkan lebih ah bukan jauh lebih seksi dengan kaos putih polos celana santai selutut dengan handuk bertengger di lehernya dan jangan lupakan rambut basahnya menyumbang banyak alasan jika setelah ini Jongin pingsan.
"Heh hitam" Sehun yang sedit risih karna dipandangi intens mulai dari ujung rambut hingga ujung pen ah ujung kaki maksudnya, segera menyadarkan Jongin dengan menepuk nepuk pipi orang kelewat idiot didepan nya.
"Eeh iya" balas Jongin dengan tampang cenggonya yang baru saja tersadar dari acara mari menatap Sehun yang lebih hot dari Taeyong.
"iya iya, kau dengar tidak apa yang barusan kukatakan" tanya sehun sembari mengusak kan handuk nya ke rambut basahnya, ahh rasanya Jongin ingin membantunya
"tentu saja aku mendengarnya" jawab Jongin yang sembari mencari objek untuk dilihat dari lada melihat sehun dengan tampang sok hotnya
"Apa hem apa, mana mungkin kau dengar jika dari tadi hanya memelotototi ku dari atas sampai bawah" balas Sehun dengan memajukan dagunya sampai tepat didepan mata Jongin
Fuck sehun menyadari jika dari tadi Jongin memandanginya. Jongin jangan tanya lagi bagaimana merahnya saat ditatap Sehun sedekat ini
"Apa kau tau apa, jangan sok narsis aku hanya melihat mu yang sangat ew di usiamu yang sudah tua seperti ini masih saja tidak bisa mengeringkan rambut dengan benar" jawab Jongin tak kalah ketusnya sembari memandangi Sehun jijik seolah olah kalau Sehun seongok kotoran.
"oh ya kau benar aku tidak bisa mengeringkan rambut ku tuan muda kim" monolog Sehun yang diselingi dengan gerak tubuh seolah olah ia anak kecil yang belum bisa mandi sendiri
"Yasudah cepat keringkan rambut ku, kau tunggu apa lagi tuan sok bisa" dengan tidak sopan nya Sehun menggeret tangan Jongin dengan spontan, dan sekarang Jongin malah duduk di panggkuan Sehun, yang ditarik hanya memasang wajah syok
"ehh apa apaan kau, tidak akan kau kan bisa sendiri" jawab Jongin dengan nada yang kental akan kegugupan
"Kau keringkan rambut ku atau kutendang peeee…"
"Jangan" teriak Jongin tiba tiba
"hei biasa saja, dan kenapa kau memegangi selakanganmu?" mendengar ejekan sehun langsung saja Jongin melepas cengkramannya, huft selamat
"A anu ini gerakan reflek" jawab Jongin terbata bata tapi tangannya masih saja mengusap rambut Sehun
"jadi jika kau kaget, kau akan mencengkeram selakangan mu hahaa" taqa sehun pecah mendengar alasan Jongin yang sedikit konyol
"diam"
"Hahaha"
"sehun diam"
"Hahaha"
"berhenti bergerak bodoh aku semakin kesusahan menggeringkan rambut mu" tukas Jongin dengan sabar karna sedari tadi Sehun bergerak karna ttertawa
"diam ku bilang"
"Hahaha" naas gertakanya hanya dianggap angin lalu oleh Sehun
"Sudah cukup berhenti tertawa aku disini untuk mengerjakan tugas bukan untuk mengering kan rambutmu ataupun mendengar kan mu tertawa" dengan terburu buru Jongin mengambil tas ranselnya yang terongok mengenaskan di bawah meja
"Jong tunggu dulu" melihat Jongin mengambil ransel mililnya, segera Sehun menyusul Jongin yang buru buru pergi menuju pintu depan.
"jong berhenti"
'greb
Tangan Sehun berhasil menggapai pergelangan tangan Jongin yang hampir saja memutar knop pintu rumahnya
Sekali sentakan tanggan Sehun lepas dari pergelangan tanganya, kesempatan emas untuk pergi dari rumah Sehun batin Jongin
Sehun yang melihat bagaimana aura hitam yang menguar dari Jongin hanya diam saja saat tangan yang tadi menggenggam pergelangan Jongin disentak dalam sekali sentakan oleh empunya.
"Minggir"
Sehun hanya melihat langkah Jongin yang semakin menjauh dari balik pintu meninggalkan rumahnya
Dan sekarang apa, Sehun malah kalut sendiri.
.
.
.
TBC
.
Maaf telat
Terimakasih yang sudah review dan menunggu ff ga jelas ini dadaaa
Sampai jumpa dichapter berikutnya
