Catherine : Akhirnya sampai kepada Part II!
Lirienne : Capek nih editnya ._. Jadi readers hargain yaa~
Natsu : LIRIENNE CAPER!
Lirienne : ETDEH! SIAPA YANG CAPER WOYY!
Sting & Rogue : EDITOR CAPERR!
Lirienne : HUAAA JANGAN KALIAN JUGAA! =_=
Lucy : Eh openingnya jelek ._.
Lirienne : *batin : no comment*
Leonard : Berisik! =_= Mulai aja nape! Kalo ndak gaji anda semua saya potong!
ALL : EEEH JANGAANN! *sujud depan Leonard (?)*
Lirienne : Okedeh, minna-san! Tanoshimi-mashou!
ALL : HAPPY READING!
...
Rogue : Eh Lirienne ._.
Lirienne : Yaa? *berbinar-binar dipanggil seorang Rogue Cheney #eh*
Rogue : Descriptionnya mana ._.
Lirienne : OIYAAA LUPAAA! _ ARIGATO ROGUE-KUN UDAH MENGINGATKANN!
Sting : Rogue, lo mau aja ngingetin cewek pelupa kayak gitu ._.
Lirienne : Heh, siapa yang lo sebut cewek pelupa hah?! #deathglare Daripada lo cowok belagu!
Catherine + Leonard : LIRIENNE MULAII! #emosi
...
Disclaimer : Yamaha (Vocaloid Character); Hiro Mashima (Fairy Tail Character); CatLiTwins (Leonard, Catherine, and Lirienne Character)
Genre : Fantasy, Adventures, Humor, Friendship
Rate : T
Summary : White Wind Kingdom, adalah nama dari suatu Kerajaan sihir ,yang terkenal akan kehidupannya yang aman sentosa. Namun,pada suatu hari terjadi perang yang berujung pada jatuhnya ke-12 Permata kerajaan tersebut oleh sang musuh. . . Dan ini adalah cerita dari beberapa pemuda dan pemudi yang berjuang untuk mendapatkan permata itu kembali. Berhasilkah mereka mendapatkan permata tersebut? Dan bisakah mereka mengalahkan sang musuh itu?
...
Part II
"Natsu-san! Di belakangmu!" seru Sting.
"Hah?" Natsu menoleh ke belakang. Nampak segerombolan shadow menyerang. Belun sempat mengeluarkan apinya, Lucy datang untuk mencegah mereka menyerang Natsu.
"Gate of The Great Bull, I open thee! Taurus!" Muncullah sapi besar yang langsung membantai shadow-shadow tersebut.
"Natsu, kau payah," ledek gadis pirang itu.
"Hey! Beraninya kau mengejekku!" Natsu protes.
"Sekarang bukan saatnya untuk berargumen, Natsu-san, Lucy-san!" Sting mengeluarkan aumannya sambil sweat drop. Tiba-tiba, sebuah shadow raksasa menyerang Sting dan membuatnya mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Gyaah!"
"STING!" teriak Lucy dan Natsu bersamaan. Seperti yang kalian lihat..
(Catherine : Li emg FF kita pke gambar =_='
Lirienne : Biasanya gitu kan O.O
Leonard : Suruh para readers bayangin aja.. Gampang kan *sweat drop*
Lirienne : Wokee!)
Baiklah, seperti yang kalian bayangkan, muka Natsu pun berubah kesal seketika. "Kauu!" teriaknya menghajar balik si shadow raksasa.
"IGNEEL'S MAGIC : FIRE DRAGON IRON FIST!"
Lenyaplah si shadow raksasa.
"Kau tidak apa-apa, Sting?!" tanya Lucy panik sambil menyentuh kulit Sting yang bersisik di tangannya.
"Ah.. Pukulan yang diberikannya sedikit sakit.. Gyah!" Sting mengeluarkan darah lagi dari mulutnya.
"Hey, Sting!" Lucy histeris.
"Hah, dasar Sting! Begitu saja tidak bisa ditangani sendiri!" sejenak Natsu kembali ke wujud manusia dan mengejek pria keturunan Weisslogia itu.
"Hey, apa maksudmu?! Aku sudah sangat serius, tahu!"
(Natsu : Woy Lirienne.. Kok gue ama si pirang bodoh itu dibikin berantem sih =_="
Sting : Apa maksud lo pirang bodoh, huh?!
Lirienne : Ehehe.. Semenjak Gray nggak dimunculin.. *maklum editornya nggak terlalu suka Gray XD -sorry Gray fans *bungkuk*- Natsu vs. Sting pun jadi :)
Natsu : Kalo gitu panggil aja Gray sekarang ._.
Lirienne : Gabisa! Private date sama Juvia!
Catherine + Leonard : LI IKLANNYA KELAMAAN! =_=" *sweat drop + death glare*
Lirienne : Ohiya ._. Oke back!)
"Gyaah!" Darah kembali keluar dari mulut pemuda pirang itu.
"Sting, kau benar-benar baik-baik saja?" Lucy khawatir. "Sebaiknya kau berubah wujud dulu.."
Sting pun segera melakukan anjuran Lucy, dan kembali ke bentuk manusianya.
"Astaga, Sting! Tubuhmu berdarah semua!" Lucy panik.
"Tidak usah khawatir, Lucy-san," Sting tersenyum. "Bukan apa-apa kok.."
"Hey! Hargai Lucy sedikit!" teriak Natsu. "Dia sudah sangat khawatir dengan keadaanmu, jadi jangan naif!"
"Kau yang naif! Sok membela Lucy-san!" Sting malah berargumen.
"Apa?!"
"Cukup!" Lucy berteriak. "Kalau kita seperti ini terus, kita tidak akan bisa mengalahkan musuh! Kita harus bersatu! Musuh-musuh inilah yang membuat kita stress sehingga kita bertengkar. Kalian mengerti?!"
Natsu dan Sting hanya bisa ternganga mendengar pidato singkat Lucy. Namun, mereka berdua tersenyum akhirnya.
"Oke!" seru Sting.
"I'm all fired up!" seru Natsu.
(Catherine : Curang! Natsu dipakein bahasa Inggris!
Lirienne : Eh biarin! :p *melet*
Catherine : LIRIENNE! *ngejar*
Lirienne : Kyaa! *kabur*)
...
"Kyaaaaa!" Sebuah teriakan menyita perhatian anak-anak itu.
"Miku!" teriak mereka melihat salah satu teman mereka yang di tangkap oleh shadow.
"Hey kau makhluk jelek, cepat lepaslan adikku!" seru Mikuo marah. Ia memukul bagian kepala shadow raksasa yang kebetulan menjarahi tempat itu juga.
"Mikuo, kau harus merebutnya kembali! Bisa gawat kalau kita kehilangan Miku!" seru Kaito.
"Aku tahu, Bakaito! Lagipula dia adikku!" Mikuo berseru saking emosinya.
"Berhenti memanggilku bakaito, mengerti?!" Sudut-sudut merah muncul di sekitar kepala Kaito.
"Haaaa...!" Mikuo berlari cepat dan langsung menendang bagian dada shadow raksasa tersebut.
"Kyaah!" Miku berteriak kesakitan.
"Miku!"
"Sepertinya, shadow ini bisa menghubungkan perasaan," Kaito mengelap bibirnya yang berdarah. "Mikuo! Hati-hati! Jangan sampai Miku terbunuh karena seranganmu!"
"Cih, penghubung indera, huh?" Mikuo bercuih. "Aku tidak setuju kau berhubungan dengan adikku!" Sekali lagi, Mikuo mengeluarkan aumannya, dan langsung menerbangkan si shadow raksasa itu.
"Onii.. chan.." Miku hampir tidak sadar.
"Bersabarlah, Miku!" teriak Mikuo.
...
Sementara itu, Leonard, Catherine, dan Lirienne telah sampai kembali di kerajaan. Mereka pun dapat melihat kekacauan yang terjadi meski dari jauh.
"Cih, apa mereka benar-benar ingin menghancurkan kita?" Lirienne tersenyum licik.
"Apa yang kau tahu? Shadow adalah percobaan untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Mereka gagal dan memutuskan untuk mengambil kekuatan permata suci sihir yang bisa mengabulkan permohonan mereka," Leonard menjelaskan.
"Kau tahu soal itu?" tanya Catherine. "Kukira hanya raja dan ratu yang.."
"Aku bilang raja dan ratu tahu cara menggunakannya, bukan berarti aku tidak tahu informasinya," Leonard sweat drop.
"Ada satu hal yang membuatku bingung," ucap Lirienne.
"Apa itu?" tanya Catherine penasaran.
"Seperti yang kau bilang, shadow adalah hasil percobaan gagal para ilmuwan dan penyihir gelap yang mencoba menghidupkan orang yang sudah tiada," Lirienne menganalisis. "Bagaimanapun juga, shadow tidak punya hati dan perasaan, jadi biasanya mereka akan langsung musnah ketika kita serang, kan?"
"Um," Leonard mengangguk.
"Tapi, aku merasakan kalau jenis shadow ini sedikit berbeda. Maksudku, aku tidak yakin mereka menginginkan permata suci untuk menjadi hidup seperti manusia normal."
"Eh?" Catherine dan Leonard sama-sama bingung.
"Aku merasa.. Mereka bukan shadow asli," Lirienne berujar. "Yozakura pasti melakukan sesuatu dengan shadow-shadow ini untuk tujuannya."
"Maksudmu, Yozakura telah meningkatkan fungsi shadow?"
"Kalau begitu, shadow-shadow ini adalah shadow buatan," Catherine mengambil kesimpulan.
"Um. Dan bisa jadi, tujuannya bukan membangkitkan orang mati," Lirienne mengangguk. "Permata suci bisa mengabulkan permintaan apapun, itupun hanya rumor. Apa kira-kira tujuan Yozakura?"
"Ayo, cepat ke istana!" seru Catherine.
Mereka bertiga menuju istana.
...
"Kau shadow jelek! CEPAT KEMBALIKAN ADIKKU!" teriak Mikuo geram. Dia masih terus berusaha menumbangkan shadow besar itu dengan kekuatannya, dibantu oleh yang lain.
"Haaa rasakan ini!" kata Kaito menyerang shadow itu bersamaan.
"Baru kali ini aku melihat kau begitu peduli pada Miku, Kaito," Mikuo menatap si pemuda berambut dark blue itu dengan senyuman liciknya. Mendengarnya, muka Kaito langsung memerah.
"H-Hey! Memangnya ada yang salah kalau aku peduli pada adikmu?! I-Itu tidak menjadi masalah bagimu, kan?"
"Tentu saja masalah, kan aku kakaknya."
"APA MAKSUDMU?!" Kaito berteriak.
...
"Apakah shadow itu sudah musnah?" tanya Luka yang menoleh melihat sebuah bayangan hitam besar yang sekarang melihat ke arah mereka.
"Sepertinya belum, dan sepertinya ini akan menyusahkan," tebak Luki melihat shadow tersebut yang terlihat sedang marah.
"Mereka benar-benar ingin permatanya, ya?" Yuuma terus menyerang. "Sampai-sampai mereka masuk ke tempat rahasia ini untuk mencari informasi cara penggunaannya."
"Ada apa dengan senyuman itu, Yuuma?" tanya Luka yang baru menghajar segerombol shadow dengan bola kristalnya.
"Tidak apa-apa," Yuuma menundukkan kepala santai. "Hiiya!" Kembali ia menghajar sebuah shadow.
...
Tiga kapten pun telah sampai di taman Istana. Anehnya, keadaan masih sangat sepi di sana.
"Benar-benar tenang," Lirienne menatap sekelilingnya.
"Keadaan ini yang justru membahayakan," Leonard berpendapat.
Tiba-tiba, terdengar sesuatu dari semak-semak.
"Siapa itu?! Kuperintahkan untuk keluar!" teriak Lirienne dengan tatapan tajam.
Ketiga kapten itu bersiap pada posisi menyerang dan bertahan.
"Kamu yang di sana, cepat keluar! atau kubakar!" teriak Catherine telah mempersiapkan sebuah bola api besar di masing-masing telapak tangannya.
SST! SST!
Segerombolan shadow muncul. Jumlahnya lebih banyak daripada yang berada dalam istana.
"Cih," Lirienne mencuih kesal. "Wind Magic : Max Torpedo!" Lirienne menyerang mereka semua dengan angin torpedo berputarnya. Beberapa dari mereka lolos.
"Menyenangkan, bertemu dengan tiga kapten kerajaan sekaligus," kata si pemimpin shadow.
"Hah, jadi rupanya shadow bisa bicara?" Nada bicara Lirienne berubah licik. "Kurasa kalian bisa lebih baik dari itu!"
Lalu, penyihir itu maju ke depan.
"Soil Magic : Soil Attack!" Segera tanah-tanah dibawah para shadow bergerak bebas menyerang mereka.
"Gyaah!" seru para shadow.
"Catherine-san, Leonard-san, serahkan padaku. Masuklah ke istana!" serunya.
"Oke, kami percayakan padamu!" seru Leonard. Bersama Catherine, ia pun meninggalkan Lirienne.
"Mereka bisa bicara? Rupanya analisisku tepat. Mereka shadow buatan," Lirienne bergumam dalam hati.
"Kurasa terlalu dini untuk kalian untuk menghajar tiga kapten sekaligus," setelah mengatakannya, Lirienne tersenyum licik. "Pestanya baru dimulai! HAA!"
"Jangan meremehkan kami, Penyihir Alam!" seru kapten shadow itu. Namun, Lirienne menyerangnya tanpa ampun.
"Hiiya!" Tangannya menebas. "Kalau begitu jangan meremehkanku juga."
Dalam perjalanannya masuk istana, Leonard dan Catherine juga bertemu sejumlah shadow, namun bukan shadow yang baru tiba. Mereka sepertinya sudah kalah di beberapa pertarungan sebelumnya.
"Mereka benar-benar bisa menyerang lebih sering!" Catherine berseru. "Mereka bahkan bisa bertahan hidup!"
"Ternyata benar. Shadow-shadow ini sudah diprogram," Leonard berujar.
"Heeyyy! Kamu tidak khawatir dengan Lirienne?" tanya Catherine ke Leonard tiba-tiba.
"Buat apa?" jawab sang pemuda itu.
BLEETAAAKK!
"ITTAI!" Leonard mengusap kepalanya yang benjol. "Tidak perlu pakai kekerasan kan?!"
"Jelaskan maksudmu!" paksa Catherine. "Atau mau aku tambahkan bola voli pink di kepalamu itu?!"
"Tidak, tidak! Maksudku buat apa aku khawatir. Lagipula aku percaya dia akan menang. Dia kan kuat," lanjut Leonard melihat raut wajah Catherine. "Dia bukan anak kecil lagi, Catherine. Penyihir Alam bisa melakukan semuanya."
"Haahh, kau benar juga. Baiklah, ayo kita rebut permata itu!" seru Catherine bersemangat.
"Anak ini, padahal baru saja ia memarahiku," Leonard berucap pelan.
"APA?!"
"Ah, tidak! Bukan apa-apa!" Leonard bergumam sambil cekikikan melihat tingkah sang kapten angkatan udara itu.
...
DUARRR!
"Argh," seru Jellal yang dilempar ke pintu oleh salah satu shadow.
"Jellal-san!" Rogue panik. Namun, ia segera menghadapi shadow lain dan kembali berubah wujud menjadi naga. Siluman tersebut mengibaskan sayapnya dan membuat sebagian shadow keluar jendela.
"Skyadrum's Magic : Shadow Dragon Roar!" Ia mengaum pada sebagian shadow yang berusaha mendekati Jellal. Akhirnya, shadow di markas utama musnah.
"Kau baik-baik saja, Jellal-san?" ujar Rogue.
"Aa, kau hebat bisa mengatasi semuanya sendiri," Jellal memuji bawahannya.
"Ayo, kita ke tempat Sting dan yang lain. Mereka pasti butuh bantuan."
"Um."
Keduanya berdiri, dan menuju tempat lain. Namun sebelum itu..
"Kingdom Shield Activate," ujar Jellal. Ia memasang perisai pada pintu masuk Markas Utama.
"Aku kira hanya tiga kapten dan raja yang bisa melakukannya.."
"Lirienne mengizinkanku menggunakannya, jadi tak masalah bukan?"
Di sisi Catherine dan Leonard, mereka telah berhasil menerobos masuk ke dalam Istana. Di sana mereka mulai memeriksa satu per satu ruangan demi menemukan permata itu.
"Apa-apaan Istana ini?!" teriak Catherine frustasi. "Ini pasti ulah wanita jelek itu. Dengan sihirnya dia berani mengubah istana menjadi aneh begini!" teriaknya kembali.
"Perempuan itu sepertinya tidak ada di sini, aku tidak merasakan sihirnya," Leonard berujar.
"Jadi shadow-shadow itu sendiri yang menghancurkan istana ini?!" Catherine menatap sang kapten angkatan darat. "Wow! Keren! Bisa jadi kita menggunakan shadow buatan ini sebagai prajurit kita nantinya!"
"Baka! Kau pikir semudah itu?!"
BLEETAAKK!
"Itte.." Leonard mundung di pojok ruangan sambil memegang kepalanya. Catherine tersenyum puas. "Jangan mengataiku baka, oke?"
"Tapi kau memang baka!" Leonard membela diri, sedikit ait mata mengumpul di sudut matanya. Ia menahan sakit.
"Catherine-san! Leonard-san!"
Leonard menengok begitu mendengar seseorang memanggilnya.
"Rogue, Jellal!" serunya, kembali berdiri. "Kalian baik-baik saja?"
"Kami berhasil mengusir shadow di markas utama, aku sudah menghubungi pasukan untuk menjaganya," Rogue menuturkan. "Jellal-san juga sudah memasang perisai istana, jadi tak perlu khawatir."
"Jellal?" Leonard bingung. "Sejak kapan kau bisa menggunakan mantra pengunci?"
"Lirienne mengajarkannya," ujar Jellal. "Dia bilang aku boleh menggunakannya saat ia tidak di tempat."
"Kalian akan kemana?"
"Kami akan ke singgasana raja, ada Natsu dan Lucy disana," ujar Jellal.
"... Perasaan tadi aku menyuruh mereka untuk menunggu kami," Catherine bingung.
"Eh?" Tanda seru muncul di kepala Jellal. Dan..
"Mohon maaf, Catherine-san!" Jellal bersujud bersama Rogue. "Kami tidak mengindahkan perintah anda!"
Catherine sweat drop. "Eto.. Kalian berlebihan.."
"Ahhh, geez! Sudahlah! Sebaiknya kita cari yang lain, mengerti?!" usul Leonard.
"Oohh baiklah."
...
"Hah, hah, hah.."
Natsu, Lucy, dan Sting berhasil melindungi singgasana, walau sudah porak poranda. Shadow-shadow itu berhasil ditaklukan. Namun, tubuh Lucy mulai sempoyongan, Natsu dan Sting pun bersamaan menopangnya.
"Lucy!" Natsu berseru.
"Penyihir Roh Langit seperti Lucy-san tidak punya begitu banyak sihir, kita harus cepat menyembuhkannya!" himbau Sting.
"Sting!"
"Rogue!"
Rombongan Jellal dan kawan-kawan pun sampai.
"Ada apa dengan Lucy?" tanya Jellal.
"Sepertinya dia kehilangan kekuatan sihir," ujar Natsu.
"Kita harus membawanya ke Miku, ayo cepat!" Leonard memerintahkan. Maka, Natsu menggendong tubuh Lucy di pundaknya, berlari menuju ruang bawah tanah.
"Hey, Natsu-san! Kenapa kau yang harus menggendong Lucy-san?!" Sting protes.
"Masalah buatmu?! Aku orang yang dekat dengan Lucy, aku takkan menyerahkannya pada orang sepertimu!" Natsu membalas.
"Mereka benar-benar tidak bisa diam," Rogue hanya bisa pasrah.
...
Di ruang bawah tanah, Miku masih disekap oleh sang shadow. Mikuo dan Kaito mencoba menyerang shadow tersebut namun gagal.
"Hah, hah, sial! Shadow jelek! KEMBALIKAN MIKUUU!" teriak Mikuo murka sambil menerjang menyerang shadow tersebut.
"Mikuo!" Kaito kehabisan tenaga.
...
Sementara itu, kelompok Leonard dan kawan-kawan berlari menuju ruang bawah tanah, namun Sting berhenti seketika.
"Ada apa, Sting?" tanya Lirienne.
"Ah, tidak.. Hanya saja.." Sting ragu-ragu. "Hey, taichou-tachi, bagaimana kalau kita berpencar?"
"Itu lebih baik, sebagian bisa menjaga menara istana," Rogue setuju.
"Kalau begitu, aku akan ke menara istana. Ada yang ikut?" Lirienne mengangkat tangan. Hasilnya : Rogue dan Catherine.
"Baiklah, kalau begitu aku, Sting, Natsu, dan Jellal satu kelompok," ujar Leonard.
"Baiklah. Ayo!"
Segera, semuanya mengambil jalan menuju lokasi masing-masing.
...
Luka, Luki, dan Yuuma sudah terpojok di menara istana itu. Mereka semua mulai kehabisan tenaga.
"Luka!" seru Catherine.
"Oh! Catherine-san! Lirienne-san!" seru Luki. "Kalian sudah kembali!"
"Apa ada buku yang terobek ataupun tercuri?" tanya Lirienne. Dengan sigap, ketiganya pun menggeleng yakin.
"Fyuh, syukurlah," Lirienne bernapas lega. Lalu, ia mengulurkan kedua tangannya. "Cloud Magic : Invisible Shield!"
Segera, siluet-siluet cahaya tampak melapisi setiap lemari buku di menara istana. Lirienne takkan membiarkannya hilang meski hanya satu ataupun setengah lembar.
"Lirienne, mengingat tugas dari dewan.." ujar Catherine berbisik.
"Ah ya, kita harus menyelesaikan ini sekarang juga!" Lirienne berubah serius, tatapan wajahnya.
Tak lama kemudian..
"Minna!"
Leonard dan yang lain mendengar suara itu, ketika menuruni tangga bawah tanah. "Catherine-san?" Jellal menebak.
"Kita harus menghajar shadow itu secara bersamaan! Hanya itu satu-satunya cara!"
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Sting.
Kebetulan, Mikuo dan Kaito mendengar pula suara itu. "Luka akan menggunakan bola kristalnya untuk mengumpulkan serangan sihir kalian, aku yang akan mengarahkannya agar tepat sampai di seluruh shadow dan mengusir mereka," Catherine kembali menjelaskan. "Ayo! Kita pasti bisa!"
Kaito yang mendengarnya, tersenyum. "Hara.. Bukan Catherine-san kalau tidak begini," gumamnya pelan. "Baiklah! Kami akan lakukan!" Pria itu tersenyum bersama Mikuo.
"Ayo, Catherine-san!" Natsu bersemangat.
Catherine pun mengangguk bersama Luka. Gadis berambut pink itu mengangkat bola kristalnya ke atas. "Aku siap!"
"Baiklah, semuanya! Siapkan sihir kalian!" teriak Catherine.
Semuanya meningkatkan kekuatan sihir mereka, bersiap untuk menyerang kompak.
"Haa!" Kaito mengangkat tangan dan memancarkan kekuatannya.
"AUUUUU!" Mikuo mengaum dalam wujud serigala. Dua pancaran sinar itu bergerak, dan akhirnya masuk ke bola kristal Luka. Giliran Leonard dan kawan-kawan.
"Grand Chariot!" seru Jellal menghubungkan tujuh bintang.
"Weisslogia's Magic : Holy Ray!" Sting mengeluarkan panah-panah cahaya.
"Kami mengandalkanmu, Luka!" Leonard mengeluarkan sihirnya.
"Igneel's Magic : Fire Dragon Roar!" Natsu mengaum. Sama seperti sebelumnya, kekuatan sihir masuk ke dalam bola kristal.
"Skyadrum Magic : Shadow Dragon Slash!" seru Rogue, tangannya pun berubah hitam.
"Haiya!" Luki dan Yuuma bersamaan memunculkan sihirnya.
"Sky Magic : Heaven's Gate!" Lirienne mengeluarkan cahaya dari tangannya yang tertutup.
"Baiklah, giliranku!" Catherine menyiapkan bola api di tangannya. "HAA!" Sang kapten menembakkan sejumlah besar bola api ke bola kristal itu. Pada akhirnya, bola kristal itu bersinar terang, dan Luka pun menaruhnya di depan dada, menggabungkan kekuatan teman-temannya dan kekuatannya sendiri.
"Shine!" seru Luka. Ketika ia mengangkat bola kristalnya ke atas lagi, semua kekuatan itu memancar bagai hujan meteor yang memusnahkan setiap shadow di istana. Satu per satu shadow hilang, tidak ada bekas dari mereka. Tak lama kemudian, istana pun bersih dari shadow. Hal itu ditandai dengan lepasnya Miku dari genggaman musuh.
"Miku!" Mikuo menangkap sang adik. "Kau baik-baik saja?"
"Mi.. Mikuo.." Miku tersenyum melihat sang kakak.
"Bagaimana?" tanya Luki.
"Um! Kita berhasil mengusirnya!"
"YEAY!" semuanya senang. Lirienne dan Catherine hanya tersenyum, tahu tugas mereka belum selesai hanya karena ini.
...
"Begitu.. Rupanya mereka sudah dihancurkan oleh kumpulan bocah itu.."
"Ya, ma'am. Kami tidak pernah menduga ini semua akan terjadi."
Sebuah senyum terlampir. "Baiklah, kau boleh pergi."
"Baik."
Ruang singgasana itu nampak gelap. Yozakura nampak tersenyum licik sambil mengelus bulu rubah hitamnya.
"Kalian tidak akan pernah mendapatkan permata itu, bagaimanapun juga."
...
"HEE?! 15 HARI?!"
"Yap," Lirienne menggangguk. "Kita harus berhasil merebut kembali semua permata itu. Bagaimanapun dan apapun yang terjadi."
"Ini gila! Kita baru menyelesaikan satu misi dan misi lain datang!" seru Sting. "Gyaah!"
"Sting, tenanglah," Rogue menepuk punggungnya.
"Bagaimana Lucy?" tanya Leonard pada Miku.
"Dia tidak mengalami luka serius, hanya kehabisan tenaga," Miku tersenyum pada Leonard. "Sepertinya dia tertidur."
"Lucy.. Untuk tidur di saat seperti ini.." ujar Luka.
"Aah! Apakah kita harus melakukannya, Lirienne-san?!" seru Natsu frustasi. "Kita bahkan belum.."
"PEDULI AMAT SOAL PERAYAAN KEMENANGAN! TARUHANNYA JABATAN KAMI, FLAME BRAIN!" seru Lirienne dan Catherine emosi.
"Ah, dasar mereka berdua," Leonard sweat drop.
"Baiklah, kita akan mulai besok pagi, jadi persiapkan barang-barang kalian," perintah Lirienne. "Ingatlah bahwa kita melakukan ini bukan hanya sekedar tugas dari dewan, tapi kita memang harus merebut kembali apa yang menjadi milik kita!"
(Catherine : Ini kayak mo perang kemerdekaan Indonesia aja sih Li =="
Lirienne : Eheh..)
"12 Permata Suci Kerajaan White Wind Kingdom!" Catherine mengangkat pedangnya ke atas. "Kita akan membawanya kembali!"
"HOOO!" semuanya berseru.
"Padahal baru saja mereka mengeluh, heh," Leonard pusing dengan anak buahnya ini. "Nah, itu kan cuma Sting dan Natsu," Lirienne menepis.
Namun, tidak semua prajurit-prajurit itu nampak senang. Jellal memalingkan muka, lalu pergi dari gerombolan itu menggunakan sihir teleportasinya. Lirienne kebetulan melihat bawahannya itu. Ia pun menjadi bingung.
"Jellal-kun?"
...
Pada sore hari sampai malam, Leonard dan kawan-kawan membantu para prajurit dan ksatria istana membersihkan dan memperbaiki istana. Dengan sihir yang mereka miliki, pekerjaan terasa mudah dan lebih cepat. Apalagi, beberapa pemuka rakyat bersedia membantu.
"Raja dan Ratu ternyata tidak diculik, mereka diantar ksatria ke istana peristirahatan," ujar Luki yang baru mendapat informasi dari prajurit kerajaan. Ia segera membantu Kaito dan Sting memasang atap.
"Syukurlah," Kaito tersenyum.
"Melegakan sekali," Sting ikut senang.
"Ada yang melihat Lirienne?" tanya Catherine.
"Oh? Dia baru saja selesai mengatur ulang singgasana raja," ujar Natsu yang sedang mengepel lantai.
"Natsu-kun! Mengepel itu yang benar!" seru Bibi Kepala Pelayan Istana.
"Hai, hai!" Natsu kembali ke pekerjaannya.
Rupanya, Lirienne selama ini bertengger di tembok balkon istana. Ia menggoyang-goyangkan kakinya dan melihat langit. "Hah, Lucy-chan belum bangun, jadi aku tidak bisa cerita apa-apa padanya.." Lirienne bergumam sendiri. "Membosankan!"
"Itu karena kekuatan penyihir langit yang terbatas."
"Eh?" Lirienne menoleh ke belakang. Dilihatnya seseorang berjalan menuju ke arahnya.
"Lucy menggunakan kekuatannya untuk memanggil roh, dan kekuatannya sampai sekarang belum mencapai maksimal," Jellal menjelaskan. "Itulah sebabnya ia butuh istirahat untuk memulihkan kekuatannya."
"Kenapa kau tahu ini semua?" tanya Lirienne sesampainya Jellal di tempatnya.
"Aku juga penyihir langit, Lirienne," Muka Jellal jutek.
"Walaupun kau vampir?"
"Vampir penyihir, mengerti?"
Lirienne tersenyum. "Ayolah, Jellal-kun.. Jangan judes seperti itu. Nanti banyak wanita yang tidak mau denganmu loh."
"Buat apa kau menasihatiku seperti itu?!" Jellal bermuka merah.
(Lirienne : Kyaa Jellal blush! XDD)
Keduanya hening sejenak, menatap pemandangan langit sore. Lalu, Jellal mengatakan sesuatu.
"Maaf."
"Huh?" Lirienne menoleh.
"Maaf. Karena aku lemah, permata itu hilang. Semuanya," Jellal terdengar sedih. "Maaf, Lirienne."
"Berhenti menyalahkan dirimu, Jellal-kun," Lirienne membalas. "Itu bukan salahmu. Ini salah kami semua karena kurang peduli dengan keadaan istana."
"Lirienne.." Jellal terkejut.
"Lagipula, aku tidak menyesal mengambilmu sebagai prajurit istana, bahkan mengangkatmu menjadi wakil."
"Itu semua karena kau suka padaku, kan?"
"Jangan bodoh. Kau memang pantas mendapatkannya."
Sebelum bergabung dengan White Wind Kingdom, Jellal adalah anggota kelompok Yozakura, yang berarti dia adalah bawahan wanita itu. Ia begitu setia kepada Yozakura, sampai-sampai ia menyakiti temannya sendiri hanya untuk mengabulkan keinginan Yozakura. Namun karena suatu alasan, Jellal meninggalkan kelompok itu dan bergabung dengan White Wind Kingdom. Awalnya, penduduk kerajaan tidak percaya, namun berkat Lirienne dan temannya, Jellal diterima.
"Siapkan yang terbaik untuk besok. Oke?" Lirienne memiringkan kepala. Mau tak mau, Jellal tersenyum. "Aa. Baiklah, kapten."
Lirienne pun turun dari balkon, dan berjalan masuk istana. Jellal hanya mengikutinya dari belakang.
...
Lirienne : YAA! ITU DIA UNTUK PART II!
Jellal : Lirienne, kenapa aku selalu jadi chara jahat dulu baru baik sih =_=" *sweat drop*
Lirienne : Eh, emang kenapa? Kan diaslinya gitu ._. *dihajar Erza*
Catherine : Lirienne ^^" Btw minna, ayo kita selesaikan FF ini!
ALL : YOOOSHHH!
Natsu : Pokoknya, kalo FFnya selesai, Leonard harus traktir kita makan!
Sting + Rogue : RT!
Lucy : Eh, ini bukan Twitter ._.
Leonard : KOK?!
Lirienne : JAA, MINNA-SAN! JIKAI O AISHIMASHOU, NE?!
MATTA AERU! XDD RnR tanomu!
