SCANDAL AND FAIRNESS

.

By: Kiyuchire

.

Naruto Belong Kishimoto Masashi

.

.

Chapter one

.

.

Aku memutuskan mengupdate ini As Soon As Possible.

Itadakimasu!

.

.

"Siapa nama ratu pertama di kerajaan Konoha?" ucap sebuah suara.

TRINGG!

"Hn? Himeka Uchiha?" jawab suara yang lainnya.

Tangan mereka saling terpaut pedang masing-masing. Seorang berambut soft pink itu melompat dengan kecepatan abnormal. Membuat laki-laki bermata onyx itu kebingungan mengedarkan pandangannya.

"Salah, Himeka-san adalah adik kembar dari ratu pertama, yang benar adalah Hanako Uchiha. Hanako-san adalah putri yang sempat ingin dibunuh karena ia terlahir kembar dengan Himeka-san, sebagai yang tertua, ialah yang harus dibunuh," ucap suara lainnya.

Uchiha Sasuke refleks langsung melirik ke kiri asal dari suara itu berasal. Awalnya, ia ingin melawan, namun terlambat karena justru Sakura langsung menepis pedang Sasuke hingga terjatuh.

Sakurapun langsung terdiam sejenak, pun Uchiha Sasuke. Ia memejamkan emerald-nya sejenak sebelum ia merapatkan kakinya kembali dan meletakkan pedangnya ke sarung di pinggangnya.

"Sayang sekali. Anda harus melatih multi tasking anda, Yang Mulia. Anda harus bisa berpikir dan melawan dalam satu waktu. Kalau tidak, kau akan lengah dan kalah dalam perang semudah apapun," ucap Sakura pelan di balik masker merah mudahnya.

Sasuke terjatuh. Kakinya melemas seketika itu. Ia tak habis pikir, baru pertama kalinya ia bisa dikalahkan oleh gurunya —wanita pula.

"Apa kau curang?" tanya Sasuke dengan nada mantap.

Sakura hanya menyipitkan matanya sejenak. Tanda kecil bahwa ia tengah tersenyum sarkastik di balik masker merah muda tersebut.

"Kesalahan Tuan ada tiga—" Sakura melangkahkan kakinya menuju tempat pedang Sasuke terlempar, "—pertama, anda terlalu percaya diri hingga terlalu meremehkan lawan. Itu amat tidak baik, Tuan. Kedua, anda merasa sedikit takut karena saya adalah perempuan hingga tidak berani mengeluarkan seluruh kemampuan. Padahal, bisa saja nanti yang melawan Tuan adalah seorang gadis yang amat Tuan cintai. Namun, Tuan tak boleh lengah sedikitpun demi rakyat. Terakhir, anda kurang dapat berpikir dan melawan dalam satu waktu. Itu membuat refleks juga kecepatan Tuan menurun. Padahal, teknik melawan dan berpikir sangat wajib untuk dikuasai dalam perperangan."

Sakura mengambil pedang tersebut. Lalu memberikan kepada tuannya yang masih terduduk. Sasuke yang merasa harga dirinya terjatuhpun langsung berdiri dan meraih pedang tersebut.

"Satu kali lagi," ucap Sasuke mantap.

Sakura hanya tersenyum tipis hingga matanya menyipit.

"Sayang sekali, waktu latihan sudah habis, Tuan. Sekarang saatnya makan siang. Tugas saya selesai saat ini. Saya akan bertemu dengan Tuan jam 3 siang dalam pelajaran etika. Tuan bisa beristirahat selama itu. Saya permisi," ucap Sakura seraya membungkukkan tubuhnya dan meninggalkan tempat.

Sasuke pun hanya menatap punggung Sakura dari jauh dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

.

Langkah kaki itu terus berjalan. Perlahan, ia membuka masker merah mudahnya. Saat ini, istana sedang sepi karena semuanya terfokus dalam acara makan siang sang Pangeran. Hal tersebut memberikan ruang leluasa untuk Sakura melancarkan aksinya. Target pertama adalah: Mikoto Uchiha. Target pertama yang harus ia bunuh secara mental. Melakukan hal diluar perintah Anbu tidak akan membuat masalah besar, 'kan? Ia hanya ingin menerornya sedikit.

.

KRESSEKK!

Mata onyx itu dengan gesit langsung mengedarkan pandangan. Entah mengapa, sejak tadi pagi saat suaminya ijin untuk pergi ke kerajaan sebelah, ia memiliki sebuah firasat buruk.

Berulang kali ia berusaha menarik nafasnya dan menghembuskannya guna memberikan rasa tenang pada dirinya. Sebagai seorang Lady, ia harus bersikap tenang dengan sempurna.

"Yang Mulia Ratu, apa ada masalah?" ucap salah seorang yang tengah mengekorinya saat ia dengan sengaja menengok ke arah belakangnya.

Ia pun memejamkan matanya. Menyembunyikan Onyx-nya yang sesungguhnya telah dipenuhi rasa takut mendalam.

"Tidak apa-apa." bohongnya. Ia terus melanjutkan langkah kakinya dan diekori oleh kedua pelayannya.

.

"Nah, sekarang biarkan aku sendiri. Aku ingin beristirahat. Bangunkan aku pukul 16.00 dan persiapkan keperluanku untuk pesta di Kerajaan sebelah nanti jam 19.00. Jangan ada yang menggangguku," ujar wanita itu setelah sampai di depan sebuah pintu.

Kedua orang yang tadi mengekorinya pun langsung membungkukkan badannya dan meninggalkan dirinya —Uchiha Mikoto dalam kesendirian.

.

Onyx-nya melebar tak percaya dengan pemandangan yang terpantul jelas di indera penglihatannya. Bibirnya nampak bergetar tak percaya. Ia bahkan sulit untuk mengutarkan satu patah kata. Keringat bahkan sudah mengucur melewati pipi tirusnya.

"Me-Mebuki?" ujar wanita bermarga Uchiha tersebut.

Sosok di hadapannya hanya tersenyum sarkastik. Ia pun bangkit dari tempat tidur yang sempat ia duduki.

"Ini seharusnya bukan menjadi tempat tidurmu," ujar perempuan berambut soft pink dan bermata ruby tersebut.

Ia melangkahkan kakinya mendekati Mikoto yang mematung tak percaya. Pasalnya, Sudah 14 tahun ia tidak bertemu dengan sosok di depannya. Bagaimana mungkin sosok itu tidak mengalami penuaan sedikitpun? Apa sosok di hadapannya adalah hantu?

"Hai Mikoto. Apa kabarmu, Sahabat Lama?" ujar sosok itu masih mempertahankan senyum sarkastiknya.

Mikoto tetap terdiam kaku. Wajahnya menjadi pucat pasi dalam sekejab.

"Maaf...," ujarnya dengan nada lirih.

Sosok berambut merah muda itu justru memasang tatapan mengejek dan menampilkan senyum miringnya —senyum mengejek yang amat khas.

"Setelah semua ini? Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah itu? Kepada kau yang kuanggap sahabat terbaik hingga orangtuaku mau mengangkat gelandangan sepertimu? Hingga kau menjadi penyebab kematiaan orangtuaku dan aku memaafkanmu dengan membiarkanmu berkeliaran dan hanya mencabut status persahabatan kita? Lalu kau datang dan menggoda suamiku hingga sekarang kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku kau renggut? Apa kau pikir itu cukup untuk memaafkan semuanya, Murahan?" ujar sosok itu dengan suara yang mengejek.

Mikotopun langsung memundurkan langkah kakinya saat sosok bermata ruby tersebut berjalan mendekatinya. Ia terlihat amat panik dan terselimuti oleh perasaan takut mendalam.

PRANG!

Tak sengaja sebuah guci justru menjadi korban karena tersenggol oleh sikut Mikoto.

Saat sosok mereka hanya tinggal satu sentimeter, sosok itu menghentikan langkahnya dan berbisik di telinga Mikoto.

"Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu. Akan kubuat kau menderita secara perlahan-lahan. Aku sudah tidak menginginkan kerajaan ini ataupun keadilan konyol dari hukum kerajaan. Yang kutahu, aku akan menghantui kalian semua dalam penderitaan terdalam yang tak akan pernah kau sangka sebelumnya. Aku akan membunuhmu, tidak sekarang. Tapi akan kubuat kematianmu amat menderita. Ingatlah," ucap bibir itu yang membuat Mikoto memejamkan matanya erat dan menutup telinga. Ia langsung jatuh terjongkok saat itu. Perasaan takut mendalam benar-benar tengah menghantuinya. Lebih dari itu, perasaan menyesal sangat amat menghantuinya. Kejadian 17 tahun yang lalu. Sesungguhnya, ia tidak menginginkan hal tersebut. Namun, takdir memaksanya melakukan hal hina yang menyiksa penyelamatnya —Uchiha Mebuki.

TOK TOK TOK!

"Yang Mulia Ratu, apa Anda baik-baik saja?"

Mikoto pun membuka matanya. Menampilkan onyx-nya yang kini semakin kelam. Ia memeluk tubuhnya rapat untuk memperoleh kekuatan tersendiri.

Tiba-tiba, banyak orang kini tengah mengerumuninya. Ia terus mengedarkan pandangannya, namun sosok yang dicarinya tak kunjung ditemukan.

"Ada apa Yang Mulia Ratu?" tanya salah seorang dari mereka.

Mikotopun hanya memejamkan matanya sejenak. Menyembunyikan onyx kelamnya dalam balutan kegelapan. Ia pun menggeleng pelan.

"Tidak. Hanya mimpi buruk yang membuatku berjalan," dustanya.

.

Sakura menyender di balik dinding. Nafasnya nampak terengah-engah. Ia menyentuh dada tempat jantungnya berdetak tak karuan. Berulang kali dirinya mencoba menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.

"Tadi, hampir saja."

Sejenak, ia tersenyum. Senyum kepuasan yang tak pernah ia rasakan semasa hidupnya.

Tadi, ia sempat hampir tidak bisa mengontrol diri untuk langsung membunuh Mikoto. Lebih dari itu, ia masih memiliki banyak rencana yang belum diturunkan langsung oleh Anbu. Ia tidak boleh merusaknya begitu saja.

Ia pun menutup wajahnya kembali dalam balutan masker merah muda. Kalau saja tadi ia tidak cepat-cepat melompat dari balik jendela dan menutupnya kembali saat mendengar suara langkah kaki, mungkin dirinya sudah tertangkap. Sepertinya, Anbu mendidik kegesitan dan kewaspadaannya dengan baik. Dan dalam hitungan menit, ia sanggup melompat ke jendela lain di koridor yang kosong tak ada orang saat ini.

Ia lalu menyentuh kelopak matanya yang memerah. Dalam hitungan detik, warna merah tersebut perlahan berubah warna menjadi hijau. Warna awal matanya. Teknik perubah warna mata mungkin terlihat amat konyol, namun sekarang terlihat amat berfungsi.

Ia pun terkekeh kecil. Mungkin saat ini, Mikoto akan menganggapnya sebagai hantu. Rasanya amat puas telah memberikan teror kecil kepada sumber inti penderitaannya.

Sepertinya, ini perasaan puas yang didapat dari perasaan benci sesuai dengan yang diajarkan oleh laki-laki itu?

.

"Aku tidak mengiyakan kamu untuk meninggalkanku sendirian, 'kan?" ucap sebuah suara menuntut. Sakura pun hanya memiringkan kepalanya tak mengerti.

"Aku sudah selesai makan siang. Aku ingin tidur siang sekarang. Tolong temani aku," ucap laki-laki bermata onyx itu lagi dengan seburat merah yang muncul malu-malu dari pipi putihnya.

Sakura hanya melebarkan matanya sejenak. Adik kecilnya terlihat cukup manis dan terlalu polos untuk tetap dalam target pembunuhannya. Ia pun terkekeh kecil.

"A-apa yang lucu?" ucap Sasuke panik.

Sakura pun langsung menghentikan tawanya sejenak dan membungkukkan tubuhnya sebagai permintaan maaf.

"Baiklah, saya akan menemani anda tidur sampai anda terbangun, Yang Mulia," jawab Sakura lalu berjalan menuju tempat tidur Sasuke. Ya, saat ini mereka memang sedang berada di tempat tidur Uchiha Sasuke.

Sakura pun menepuk ranjang Sasuke 3x. Tanda kecil untuk mengundang Sasuke mendekati dan tidur di kasur tersebut.

Entah mengapa, Sasuke menurutinya dan tidur di ranjang berukuran king size tersebut.

Sakurapun tersenyum dari balik maskernya seraya memeluk Uchiha Sasuke yang kini mulai memejamkan matanya perlahan. Rasanya, sedikit nostalgia.

"Aku ingat. Kau mirip kakak perempuanku yang menghilang saat aku berumur 3 tahun... Kalian sangat mirip. Ia juga sering memelukku saat aku tidak bisa tidur seperti ini. Sayang, kata kaa-sama, ia sudah meninggal. Walau mereka bilang ia hanyalah anak dari Lady yang mengaku istri tou-sama, ia seorang yang paling kusayangi. Hanya ia yang pernah memelukku. Dan yang kedua adalah kau," ucap Sasuke sejenak sebelum akhirnya tertidur dalam pelukan Sakura. Ia mengenggam erat pakaian pelayan Sakura. Entah mengapa, wangi tubuh Sakura yang amat khas membuatnya merasa nyaman seolah kembali ke masa kecil.

Sakura hanya melebarkan matanya tak percaya. Ia sendiri bahkan tidak mengingat hal tersebut karena ia masih kecil saat itu. Satu-satunya yang ia ingat hanyalah kematian sang ibu di umurnya yang ketujuh tahun. Mungkin, perasaan benci memang sudah mengurung rapat seluruh kenangan indahnya saat kecil. Dan ya, ia amat menyukai memeluk sosok di pelukannya.

Perlahan, sedikit rasa menyesal telah ingin mencelakai adiknya pun mulai menyelimuti dirinya. Bagaimana bisa ia mencelakai adik nya yang tidak tahu apapun? Ia terlahir tanpa mengerti apa yang sedang terjadi. Umm... Apa pertahanannya kini telah runtuh?

.

"Kaa-chan, apa yang sedang teljadi? Kenapa kita dipanggil oleh Tou-chan?" sosok mungil itu tak bergulir. Ia hanya menarik-narik lengan baju sosok wanita yang berambut merah mudah di sebelahnya. Sosok wanita dewasa itu berlutut, menundukkan kepalanya di hadapan seorang yang kini telah berdiri dari kursi bertahta emasnya.

Sosok mungil itu pun terdiam, ia balas menatap sosok lelaki dewasa yang kini telah berdiri dengan intens. Ia hanya menatap kedua sosok tersebut berulang kali dalam diam. Ia benar-benar tak mengerti apapun saat itu.

"Mebuki, maafkan aku. Hukum kerajaan memang keras. Andai kau melahirkan sosok laki-laki, mungkin aku tidak perlu melakukan ini," ucap sosok bermata kelam itu.

Wanita yang dipanggil Mebuki itu pun hanya mengepalkan tangan dan menggertakkan giginya. Sosok mungil di sebelahnya masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Ia pun melepaskan eratan tangan dari baju Mebuki, dan menatap sosok lelaki di depannya dengan tatapan polos.

"Negakari Uchiha, maafkan ayah." ucap sosok itu lagi lalu menundukkan kepalanya. Ia pun ikut menggertakan giginya dan mengepal tangan. Seorang berwajah pucat pasi dengan rambut putih di sebelahnya pun hanya mengelus pundak laki-laki yang kini mulai menggeram kesal.

"Yang Mulia, ini demi kebaikan kerajaan," ucap sosok berambut putih tersebut. Sosok yang dipanggil yang mulia itu pun langsung menepis tangan yang tengah mengelus pundaknya dengan kesal. Seolah tak mau menerima kenyataan dan berperilaku yang menyakiti orang yang paling ia cintai.

"Tidak bisa begitu, bagaimanapun aku istri sah mu, Fugaku," ucap Mebuki. Sosok mungil itu pun memundurkan langkahnya ketakutan saat Mebuki mulai bangkit dan menatap mata laki-laki bernama Fugaku itu.

"Bagaimana dengan Negakari? Kau ingin membuangnya begitu saja? DIMANA HATI KECIL KALIAN!"

Sosok mungil yang dipanggil Negakari itupun menutup telinganya rapat. Tak pernah sekalipun ia melihat ibunya bisa semarah itu.

"KENAPA TIDAK SI UCHIHA SASUKE YANG KAU BUANG, BODOH!"

Percuma, Negakari kecil tetap dapat mendengar makian itu dengan jelas. Tanpa ia sadari, ia pun memejamkan matanya erat dan bulir air matanya kini telah lolos dari pertahanannya.

"PENGAWAL!"

"KALIAN TIDAK BISA LAKUKAN INI! JANGAN SENTUH NEGAKARI-KU!"

Namun percuma. Sebagaimanapun Mebuki melawan, ia dan Negakari kini sudah di tahan oleh para pengawal. Bahkan, salah seorang dari mereka sampai menutup rapat mulut Mebuki yang kini telah melototi Fugaku dengan tatapan berkaca.

Negakaripun hanya terdiam. Tanpa sengaja, ia melihat ke arah lain. Ke arah pintu yang kini telah terbuka kecil. Tanpa sengaja, emerald-nya menangkap sosok wanita dewasa dan seorang laki-laki kecil dengan warna mata dan rambut yang sama. Ia pun membentuk sebuah ucapan kecil dengan bibirnya.

"T-O-L-O-N-G"

Namun, percuma. Kedua sosok itu justru menghilang begitu saja, membuat Negakari melebarkan emerald-nya dengan tak percaya. Ia pun terdiam. Takdir benar-benar telah membuatnya merasa sakit yang amat. Sekarang, ia tidak bisa berdiam diri seperti sekarang ini. Ia pun menengok ke arah ibunya yang sudah terlihat amat kacau. Bahkan, beberapa di antara pengawal tersebut dengan sengaja menyentuh bagian-bagian yang tak seharusnya mereka sentuh.

"JANGAN SENTUH IBUKU!"

Seketika pandangan menggelap. Ia tak dapat mengingat apapun yang terjadi setelah itu. Yang ia tahu, ia amat tidak menyukai orang-orang di sekitarnya dan ibunya, termasuk sang ayah dan adiknya yang pergi begitu saja.

.

Emerald itu terbuka dengan paksa. Nafasnya nampak terengah-engah. Sejenak, beberapa cahaya keremangan masih mentakbiri lensa matanya. Hanya sejenak hingga ia memutuskan untuk melepaskan pelukan dari sosok di hadapannya.

Ia pun bangkit dari tempat tidurnya. Tangan kanan ia gunakan untuk menyentuh kepalanya, sedangkan yang lainnya ia gunakan untuk menyentuh dada tempat jantungnya berdetak tak karuan.

Ia menundukkan kepalanya dan menarik nafas dalam-dalam.

Bagaimana mungkin ia bisa ragu untuk tidak membunuh adik yang telah mengkhianatinya? Dasar bodoh. Ia seharusnya tidak lengah. Apa ini berarti kebenciannya sudah mulai luluh?

Tidak akan.

"Nee-chan? Nande?"

Sakura pun langsung memutar kepalanya ke sosok yang kini masih tertidur. Ia pun bangkit dari tempat tidur dan merapikan pakaiannya yang berantakan. Bagaimana bisa ia tertidur tadi? Apa untuk mendapatkan peringatan? Apa itu peringatan dari ibunya yang memang ingin membalas dendam juga?

Emerald itu pun menatap sosok Sasuke dengan tatapan penuh amarah. Tidak akan ada keluluhan lagi setelah ini. Bagaimanapun, ia tidak boleh lengah. Demi dendam masa lalunya.

"Yang Mulia Pangeran, sudah jam 3. Sekarang sudah waktunya untuk latihan etika," ucap Sakura dengan suara normal namun tegas.

Sasuke pun langsung merenggangkan tubuhnya dan bangkit dari tempat tidur. Ia tersenyum tipis. Sakura ingin menanyainya, namun, itu bukan saatnya.

"Kalau tatapanmu berarti untuk menanyakan arti senyumanku, jawabannya adalah aku baru saja mimpi indah," ucap Sasuke. Sakura pun hanya memiringkan kepalanya .

Sasuke hanya tersenyum tipis menerima ekspresi yang dianggapnya konyol itu.

Sakura ingin memprotes, namun ia memilih untuk diam dan menunduk.

Sakura tidak tahu, bahwa sedari tadi Sasuke sesungguhnya sudah bangun dan mendengar Sakura yang berteriak memanggil ibunya. Hal tersebut membuat Sasuke kini menatap Sakura dengan tatapan simpatik.

.

Sungguh, Sakura tidak pernah mempercayai ini. Saat ia melewati koridor kerajaan seusai latihan etika dengan Sasuke, ia justru bertatapan langsung dengan Uchiha Mikoto yang kini sedang terdiam menatapnya.

Mata wanita dewasa itu tidak henti-hentinya menatap sosok Sakura dari atas sampai bawah. Membuat Sakura terdiam kaku merutuki dirinya yang tadi sempat sedikit mengusili Mikoto.

"Me-Mebuki?"

Meski wajah Sakura kini telah tertutupi masker merah muda, bagaimana ia bisa menyembunyikan rambutnya?

"Kamu Mebuki? Bisa coba kubuka masker-mu?

Bagaimana kalau semua rencananya gagal begitu saja karena keisengan kecilnya? Sekarang, ia menyesali sudah melakukan tindakan diluar perintah Anbu.

To Be Continue

.

Balasan review:

Hikari Matsushita: Sama sekali ga salah sangka kokkk :D kurasa sudah cukup jelas kan di chapter ini kalau Sakura ga salah tempat sedikitpun? XD Wah? aku upload di opmin. cuma ya ga bisa di edit lagi.

Nurulita as Lita-san: Ini sudahhh lD

Fivani-chan: Tetoottt! Salah. Chapter ini sudah jelas kalau Sakura sama sekali ga salah lokasi, 'kan? hehehe. Akan kubuat kejutan kecil nanti di akhirrrr. hehehehe. Udah nih lanjutannyaaaa.

lila: Udah updateeee :D hehehehe. ini masih rahasia pabrik. Tunggu saja ;)

sakakibaraarisa: Ini update cepet (banget) XD

A/N:

Aku sedang berusaha konsisten untuk meng-update cerita ini setiap harinya. Dan paling lama seminggu. Berhubung aku sekarang lagi liburan XD udah selesai UAS 2 dan sekarang persiapan naik kelas 12 (kalau naik sih) XD. Dimana itu artinya aku mungkin akan sibuk karena pengen banget buat dapet ptn atau beasiswa ke Jepang :x doakan ya! hehehe.

Di sini, Mebuki yang notabene punya mata kelam dan rambut coklat terang, aku gambarkan dengan mata merah dan rambut pink demi keselarasan cerita yaaaa.

Oh ya, ini diketik dan dipublish lewat ponsel (lagi). Apa jadinya cacat? Maaf kalau iya ya. Aku udah usaha cek berulang kali kok. Maklum nihhh, lappy di bawa koko(sebutan untuk kakak laki-laki) ke Bangka. Hufttt bnget kan? X(

Kalian udah baca ampe titik ini, 'kan? Mau review kan? hehehe :D