KRISTAL

Present by Fellycia Azzahra

Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki

Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya

AU, adult, hurt/comfort, drama, romance

Bab 1

Telah begitu lama, ia merasa hidupnya kehilangan separuh nyawa. Kilau dunia memudar, berganti dengan rona hitam putih yang membutakan mata.

Bagai burung dalam sangkar. Ia merasakan kaki-kakinya melangkah tiada bebas. Terkekang, diikat oleh rantai ketamakan dunia.

Pria tua itu dengan tidak berperasaan begitu ingin mengukir takdir putranya sendiri. Demi itu Akashi memiliki kuasa menolak, namun tetap merasa tiada guna. Begitu banyak cara untuk memberontak, akan tetapi nalurinya tidak berkata sama.

Sebab ia memiliki tujuan. Hidupnya, hanya berjalan pada satu arah.

Ketika beranjak dari tidur, sesuatu dalam hatinya kembali hadir. Telapak kaki mencium pijakan dingin, hidung yang mencecap bau dunia begitu amis, seakan tiada lagi tempat nyaman sepanjang semesta ini. Itu yang selalu terjadi. Selama puluhan tahun. Tetap tidak berubah.

Akashi bergeming menyaksikan bayangan dirinya dalam cermin. Rona wajah sarat akan kelelahan mendalam, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang sangat bugar.

Orang-orang tidak akan pernah tahu. Dalam pantulan pria paling sempurna itu, tertanam sakit hati yang hampir melumpuhkan jiwanya. Adalah takdir yang tidak membiarkan ia lepas dari belenggu, terus mengekang dalam jeratan tanpa akhir.

Semua adalah paksaan, siksaan, tidak ada lagi tempat sejuk untuk menghidup udara bebas. Bahkan ketika akhirnya kebahagiaan itu ada, seolah-olah seluruh semesta kompak menjauhkannya.

Fajar belum menjemput. Namun ia sudah bisa merasakan pergantian hari. Ini adalah tahun ke dua puluh limanya.

Lebih dari separuh nyawa, Kristal telah hilang dari hidupnya.

...

Alarm hanyalah hiasan semata, tiada guna. Sebab Akashi selalu terjaga tepat tiga jam sebelum benda kecil itu berbunyi.

Atau lebih tepat, Akashi tidak pernah tertidur dengan baik. Beberapa jam sudah cukup untuk mengistirahatkan mesin tubuhnya. Ia tidak pernah tidur terlampau lama.

Jendela kaca besar menghadirkan angkasa kelam tanpa taburan bintang, menambah suram ruangan besar minim cahaya. Menyibakkan selimut demi menyesap kedinginan yang menusuk, seakan-akan tubuh ini telah lebih dulu membeku. Bukan sebab angin malam, melainkan sesuatu dari dalam hatinya.

Akashi turun dari ranjang, berjalan menuju meja kerjanya untuk menyalakan laptop. Pada jam-jam seperti ini, Akashi rutin memeriksa data-data perusahaan pada aktivitas bisnis kemarin. Hanya sekadar mengisi waktu luang sebelum pagi menjelang.

Akashi mendapati beberapa E-mail dalam kotak surelnya. Semua berisi jadwal perjumpaan dengan kolega-kolega bisnis perusahaan. Surat-surat itu diperiksa, beberapa dikirim oleh sekretaris pribadinya

Mulai esok dan seminggu kedepan Akashi akan disibukkan oleh berbagai macam rapat. Sebagai CEO grup perusahaan besar keluarga, ia adalah orang paling utama untuk hadir di rapat itu.

Akashi melirik angka-angka pada kertas kalender, bulan ini akan segera usai. Sekali lagi, ia kehilangan waktu untuk mencari Kristalnya.

Suara ketikan jejarinya mengisi seluruh sisi ruang kamar yang luas. Begitu sepi dan tenang. Sebab di luar sana, puluhan pelayan sangat berhati-hati menimbulkan suara. Dari sini, Akashi dapat mendengar maid-maid itu berdesis kepada sesama agar sedikit lebih tenang, demi menjaga waktu istirahat tuannya.

Ia selesai memeriksa data perusahaan. Jarum pendek beker telah bergeser dua angka. Akashi harus segera memastikan sesuatu. Untuk itu Akashi beranjak dari kursi kerjanya.

Di ujung sana sepasang daun pintu biru gelap dan licin, berdiri dengan begitu gagah. Melindungi sesiapapun yang berada di dalam sini. Akashi memeriksa anak kuncinya, tidak bisa terbuka. Ia menghela napas lega.

"Terkunci."

Akashi tidak pernah absen mengunci pintu kamar setiap hari. Sebab di rumah ini, kerap terjadi hal yang tidak disangka-sangka. Paling sering menimpa kamar tidurnya.

Tepat beberapa menit setelah beker itu berbunyi, sebuah suara mengganggu akan mengusik kesunyian ini. Berulang-ulang, serupa bom halusinasi yang tidak kunjung meledak namun meracuni perlahan-lahan.

Tunangannya akan datang berkunjung. Entah itu kapan, Akashi tidak pernah bisa menebak. Yang jelas harus diantisipasi sebelum terlambat.

Tunangannya mengelola sebuah bisnis di New York, dan akan pulang ke Jepang jika sedang lengang. Tempat pertama yang akan dikunjunginya adalan rumah ini. Akashi tidak pernah bisa mencegah, sebab ayahnya akan selalu turun tangan.

Beker itu berdering tepat pada angka lima. Akashi meninggalkan tempat, berjalan menuju kamar mandi.

Sementara di luar sana, puluhan anak tangga emas melengkung indah tengah dijejaki oleh sepasang tungkai jenjang. Sepatu hak merah marun menyala dalam kulit seputih kertas, gaun mewah potongan rendah terbelai angin dingin malam. Pada sebuah dinding marmer, terpantul siluet tubuh gadis berperawakan tinggi, langsing, berisi.

Ketika gaun itu tersibak berkat langkah-langkah cepat, terpampang lah sepasang paha mulus nan indah. Sang gadis terus berjalan, menjemput hal yang selalu ia rindu-rindukan. Membangunkan kekasih tercinta.

Walau ini masihlah terlalu pagi untuk beraktivitas., ia tidak peduli.

Sebelum membuka mulut, ia pastikan tatanan suaranya. Sang calon suami tidak boleh sampai mendengar ia berbicara dengan nada yang sumbang. Sebab putra kepala keluarga Akashi itu begitu cinta pada kesempurnaan.

Wanita yang akan menjadi pendamping hidup seorang pangeran sempurna, haruslah juga tampil sempurna. Itu yang sejak kecil ditanamkan dalam dirinya.

Momoi membenahi letak rambutnya. Lepas itu, ia siapkan dua jejari lentik untuk mengetuk pintu kamar sang tunangan.

Dua ketukan halus bergetar pada permukaan daun pintu yang dingin.

"Sei-kun. Ini aku. Apa kau sudah bangun?"

Momoi memasang telinganya baik-baik, menyesap seluruh bunyi halus yang ada. Tidak sedikitpun terdengar suara kekasihnya.

Mungkin barusan terlalu pelan. Maka Momoi sedikit mengeraskan suaranya.

"Aku baru sampai dari New York. Apa aku menganggumu? Sei-kun sudah bagun?"

Masih tidak terdengar jawaban.

Momoi menghela napas. Selalu seperti ini. Walau sudah menduga, namun rasanya tetap tidak enak juga. Mereka begitu sulit dan jarang bertemu, bagaimanapun ia rindu pada pria itu.

Satu kali Akashi pernah berujar padanya, pria itu begitu menyukai warna biru langit. Terasa tenang, membawa pada kedamaian. Untuk itu Momoi mengenakan gaun berwarna sama. Hasil tangan desainer terkenal, dibuat hanya untuknya.

Ia bahkan merasa sangat cantik dengan gaun ini. Namun sepertinya itu sia-sia.

Momoi kembali menjejakkan anak tangga emas itu. Mendapati di bawah belasan pelayan telah berbaris menunggu dirinya, menunduk dengan sikap sopan, Momoi berlalu tanpa mengindahkan mereka.

...

Ini adalah hari kedelapan mogok makannya. Belasan pelayan telah berkali-kali masuk membawa kereta makan, namun Akashi kecil tetap bergeming. Meringkuk dalam selimut tebal.

Suara ketukan sepatu kulit menggema dalam ruangan. Pelan dan tenang, cerminan sifat lembut pemiliknya. Akashi tahu, itu adalah kepala pelayan yang telah mengabdi selama puluhan tahun di rumah ini.

Seraya mendorong kereta makan, kepala pelayan itu memasuki kamar dengan kehati-hatian. Ketika dilihat tuan mudanya tampak tidak terusik, ia meletakkan kereta makan itu di samping ranjang.

"Tuan muda. Jika tidak ingin makan, setidaknya minumlah walau sedikit."

Lembut dan tenang, Akashi begitu akrab dengan suara itu. Pria paruh baya yang baik hati.

Akashi yang tidak memiliki teman bermain, selalu ditemani olehnya. Walau begitu sibuk, lelaki itu selalu menyisikan waktu. Mereka bermain, sesekali membantu dalam pelajaran.

Akashi menyayangi pria itu. Lebih dari ayahnya sendiri.

"Aku membawakan susu kesukaanmu, Tuan muda," ujar pria tua itu.

"Aku tidak haus, Kiyoshi."

"Tapi tuan sudah tidak makan selama delapan hari. Tuan muda akan jatuh sakit."

Akashi masih bergeming. Alih-alih menjawab, ia menerbitkan seringai sinis pada bibir pucatnya.

"Percayalah. Jika aku mati, pria sialan itu yang akan ikut senang."

Kiyoshi terkejut mendengar itu dan langsung menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak. Tentu tidak, Tuan. Tuan besar pasti akan sedih. Tuan masih begitu muda, jangan terlalu menyiksa diri seperti ini."

Akashi setia pada posisinya memunggungi si pelayan tua. Ia hampir membalikkan badan ketika sekonyong-konyong suara besar dan berat menghampiri mereka.

Suara yang begitu khas. Mencetak kesan muak di dalam dadanya.

"Biarkan anak itu."

Kiyoshi tersentak. Seketika suasana kamar beringsut kelam.

Pelayan tua itu langsung mundur dan membungkukkan tubuh.

"Tuan Besar."

Masaomi memberi isyarat agar kereta makanan itu di bawa keluar. Cepat-cepat Kiyoshi bergerak sekaligus minta diri.

Kamar begitu senyap dan dingin oleh kehadiran Masaomi. Akashi memilih untuk tidak peduli. Lebih tepatnya, tidak sudi memandang pria itu.

Akan tetapi tetap saja, Akashi tidak bisa menahan hawa panas di tubuhnya. Kini, tepat di belakang sana, berdiri sosok yang paling ia benci di dunia ini.

Seolah-olah tidak merasakan amarah besar putra semata wayang, Masaomi tetap beringsut mendekat dengan tenang.

Masaomi memandang tubuh lemah putranya dengan tatapan dingin dingin itu.

"Apa yang kau inginkan, Seijuurou?"

Masaomi berbicara begitu jernih dan tenang, sarat akan kesan penuh dominasi berwibawa. Namun di telinga Akashi, suara itu tidak lebih baik dari iblis penghuni neraka.

Tanpa berbalik, dan dengan nada bicara setenang mungkin, Akashi berusaha mengimbangi suara ayahnya.

"Kau tahu apa yang kuinginkan."

Masaomi memerhatikan punggung kecil putranya. Tubuh lemah yang meminta perlindungan oleh selimut.

Walau begitu samar, Masaomi bisa menangkapnya dengan sejelas. Akashi Seijuurou tengah menahan emosi yang berkobar-kobar.

"Selama apapun kau berlaku seperti ini, Shiori tidak akan pernah hidup kembali."

Mendengar itu membuat Akashi menggeram, kesabarannya habis sudah. Dengan cepat ia menyibak selimut dan bangkit menghadap Masaomi. Iris merahnya berkilat penuh emosi terpendam.

"Kau pikir siapa yang telah membunuh ibu?"

Masaomi bergeming. Tetap tenang menghadapi emosi putra kecilnya.

"Kau berpikir aku yang telah membunuh Shiori?"

"Jika kau adalah pria baik. Jika kau adalah kepala keluarga yang sesungguhnya. Jika kau adalah suami yang sayang terhadap istrinya, ibu tidak akan mati semudah itu."

"Penyakit yang diderita Shiori telah bersarang di tubuhnya bahkan sebelum kau lahir, Seijuurou."

Akashi berusaha keras meredam amarahnya.

"Lalu apa kau tidak melakukan sesuatu untuk mengatasinya?"

"Aku sudah melakukan yang terbaik," balas Masaomi tenang.

Demi melihat ketenangan memuakkan itu, Akashi mengepalkan tangan kuat-kuat. Tubuhnya menggigil menahan emosi yang meluap-luap.

"Kau tidak mencintai ibu," geram Akashi.

"Kau masih kecil. Tidak tahu apa-apa."

Kemarahannya telah di ujung tanduk. Bahkan ketika tengah membicarakan kematian sang istri, Masaomi tidak menunjukkan kepedulian sedikitpun.

Dalam kepalanya kini, telah berkutat jutaan cara untuk menghabisi nyawa Masaomi.

Jika gorden emas itu bisa digunakan untuk menyumpal kerongkongannya, akan Akashi lakukan.
Jika guci mewah itu bisa dipakai untuk menghancurkan kepalanya, akan Akashi kerjakan.

Apapun, demi membalaskan dendam ibunya.

"Lakukanlah."

Akashi tersentak, mendongak memandang pria itu.

"Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Kau ingin membunuhku? Lakukanlah."

Masaomi meraih sesuatu dalam saku kardigan kasualnya. Meletakkan botol kaca kecil di atas bufet, kemudian berbalik tanpa menoleh sedikitpun. Beranjak ke keluar kamar.

"Namun sebelum itu, belajarlah cara memegang kendali grup perusahaan. Karena setelah kematianku, kau yang akan memegang seluruh bisnis besar keluarga."

Ketukan sepatu kulit pria itu mengiringi langkahnya keluar meninggalkan kamar. Semua kembali senyap. Akashi tercenung, melirik pada botol kecil di samping kasurnya.

Ia memerhatikan detail botol kaca itu. Bentuknya tidak terasa asing asing.

Ketika sadar, Akashi langsung bertanya-tanya.

"Obat demam?"

...

"Tuan muda ingin kemana?"

Akashi membuang pandangannya ke jalanan. Tidak berminat pada apapun.

"Kemana saja."

Mendengarnya, membuat Reo harus menghela napas.

Walau amat jenius, tuan mudanya ini yang tetaplah bocah biasa yang belum pandai mengatur emosi. Labil dan membingungkan, cukup membuat ia kewalahan.

"Saya ada satu tempat minum yang bagus, di pusat kota. Tuan muda mau ke sana?"

Reo berujar dengan suara seriang mungkin. Bentuk perhatian agar emosi tuan mudanya sedikit mereda.

"Terserah," balas Akashi acuh.

Reo menggendikkan bahu dan langsung membawa limousin besar ini menuju pusat kota. Jika ada tempat yang bisa menenangkan hati sang tuan muda, maka di sanalah surganya.

Pusat kota dengan segala macam bentuk kemewahan khas keluarga bangsawan. Tempat, barang, maupun penikmatnya bukanlah sembarangan. Mereka rakyat elit, kaum konglomerat.

Akashi kecil melihat itu tanpa minat. Berbagai tempat hiburan mereka lewati dan tidak satupun tampak menarik di matanya.

Atau lebih tepat, Akashi tidak ingin berkunjung ke manapun.

Bahkan ketika Reo membawanya pada sebuah tempat klasik, restoran besar dan mewah bergaya Eropa Barat, Akashi tetap tidak menaruh minat.

Gedung besar bertingkat itu adalah sebuah restoran klasik, surga bagi masyarakat borjuis. Tidak hanya menyajikan tempat makan yang begitu mewah, mereka juga menyediakan hidangan kelas atas.

Kepala restoran telah mengenal baik keluarga Akashi sebagai nama yang telah mendominasi sebagian besar bisnis. Untuk itu Akashi Seijuurou diberikan tempat terbaik. Lantai teratas, dekat jendela besar ala Victorian yang menghadap langsung pada mentari sore.

Reo tidak sembarangan memilih tempat, sebab tuan mudanya ini harus diberi sesuatu yang serba mewah dan sempurna. Jika tidak, tuan besar langsung turun tangan.

Setelah memastikan hidangan sampai pada tuan mudanya, Reo minta diri untuk ke bawah menemui kepala restoran.

Akashi memandang bergeming pada teh Gunung Wuyi di hadapannya. Menghiasi meja bundar klasik berenda, bersinar indah bersama hangatnya senja.

Beberapa jam lewat, Akashi masih belum menyentuh apapun. Ia hanya duduk diam, menyaksikan keramaian kota yang tengah menari di bawah mentari. Membuatnya sedikit terhibur dari keterpurukan.

Akashi memandangi setiap sudut-sudut kota. Riak-riak manusia itu tampak begitu gembira, berlawanan dengan suasana hatinya yang hampa.

Di tengah-tengah kota, berdirilah sebuah tiang besi tingi. Tampak menyendiri, memberi batas pada kota yang gegap gempita.

Namun, bukan itu yang menarik perhatiannya. Tepat di samping tiang besi itu, berdiri sosok bersurai biru cerah. Sendirian, menunduk memusuhi kota.

Siluet senja mengaburkan wajah mungilnya. Akashi mengira itu seorang gadis, tampak dari kulit pucat lembut dan tubuh ramping menawan.

Akashi mengawasi sosoknya. Terpaku ketika mendapati gadis itu perlahan menaiki tiang dengan kedua tangan. Begitu halus, memperlakukan besi panjang bagai seorang teman.

Sepasang tangan mungil terus membawa tubuhnya naik, menuju bagian paling atas. Dan betapa Akashi dibuat terkejut ketika dengan ritme lembut, sang gadis mengangkat kedua kakinya ke atas. Membentuk huruf T, dengan sepasang tungkai terbuka lebar dan tangan yang bertumpu pada ujung tiang.

Satu tangan diangkat ke samping. Gadis itu menumpu berat tubuhnya hanya dengan sebelah lengan. Posisi tubuh vertikal membuat surai pendek biru itu takluk pada gravitasi. Begitu indah. Menyatu dengan kehangatan surya.

Sepasang tungkai indah pucat dan mungil, menekuk meniru bentuk bumerang. Sedikit demi sedikit, tubuh itu menari-nari gemulai. Berputar lembut, mengikuti arah angin serupa baling-baling.

Entah apa yang membuat tubuh itu begitu lentur dan indah. Si gadis biru menari-nari dengan tiang amat mesra, ritme yang memikat jiwa.

Tidak berniat menganti posisi, namun sepasang tungkai itu tetap lincah bermain nada. Menekuk, menegak, berbalik arah.

Dari atas sini, Akashi seperti tengah menyaksikan dua selendang putih yang dimainkan oleh angin. Kulit pucat manis, surai biru memesona, paras seindah bidadari surga.

Akashi yakin tidak salah lihat. Sungguh, mata jernih itu tengah menusuknya dari kejauhan. Beradu selama beberapa detik, bagai berjumpa dengan kristal biru berkilauan. Tajam, menarik sesiapapun agar mendekat.

Ini seperti tipuan waktu. Tidak berselang lama, Akashi telah menemukan dirinya tengah berhadapan dengan Si Bidadari Surga. Berdiri di sini seorang diri, menyaksikan luapan pesonanya.

Namun mata biru itu tertutup, menolak untuk bersua.

Akashi tidak pernah melihat ini. Surai selembut biru langit, pasrah dibelai angin hangat. Tubuh polos, pakaian yang hanya mampu menutupi bagian intim, memperjelas lekuk indah tubuh pemiliknya. Sepasang kaki jenjang sempurna, manis layaknya gadis remaja.

Namun lihatlah penari tiang itu. Kini tepat berada di depan mata Akashi. Memunggungi mentari, berlenggak layaknya seorang dewi.

Beberapa pejalan kaki berkali-kali menumbur tubuhnya, anak-anak kecil bergantian menarik-narik bajunya. Namun di kota ini, Akashi merasa berdiri seorang diri. Hanya ia dan penari tiang itu.

Berjumpa dengannya, Akashi merasa seperti telah menemukan kristal dari surga.

Ia sudah bisa menduga. Wangi parfum, jas formal, serta benda yang tengah ia genggam, pastilah pria ini sudah berkeluarga. Bisnis besar, bergelimang harta, hidup makmur, namun tidak memiliki istri yang sempurna.

Karena jika pernikahan mereka bahagia, pria ini tidak mungkin akan menyusupkan tangannya ke dalam kemaluan seseorang.

"Ini bukan jam kerjaku, tuan."

Si pria masih tidak menggubris. Berkali-kali ia harus tahan napas ketika sepasang bibir menciumi pucuk lehernya.

"Aku akan pergi rapat. Tidak akan lama."

Sebesar apapun pengalamannya, jika pada hari libur masih saja ada pria lemah iman merangkup tidak tahu waktu seperti ini, kesal adalah hal sangat yang wajar.

Terlebih tidak tahu tempat. Prinsip hidupnya baru-baru ini: keluarlah dimanapun asal jangan di gang sempit. Tidak elit.

"Kau bisa telat bekerja, Tuan."

Pria itu menyunggingkan senyum. Memasang kembali bibirnya untuk berciuman namun ia tolak secara halus.

"Lima menit saja."

"Lima menit bagiku sangat berharga, tuan. Aku bisa menyelesaikan satu novel."

Alih-alih berhenti menjamah, pria dewasa itu justru semakin gencar membelai lekuk tubuhnya.

Ketika tangan kekar berhenti pada pipi pucatnya, merasai kehalusan yang ada, ia sudah tahu pria ini telah kehilangan akal.

"Cantiknya. Aku suka melihatmu yang tengah marah. Semakin menggoda."

Sesuatu yang lebih panjang dan besar menekan perut ratanya dengan kuat. Pria itu sengaja, ia tahu.

Ia juga telah melihat tanda-tandanya. Pria adalah konsumen yang tidak akan segan-segan melakukan hubungan badan walau di gang sempit sekalipun.

Sayang itu tidak berlaku baginya. Maka ia mengeluarkan senjata utama.

Kotak hitam yang sejak tadi ia genggam, dijatuhkan bersamaan dengan celana panjangnya yang ditarik paksa turun.

Tersisa satu penghalang lagi, namun pria itu langsung menyadari. Rengkuhan yang melekat di tubuhnya terlepas, si pria beringsut mundur.

Tidak lama kemudian, pria itu berlutut untuk memasang kembali celananya yang telah dipaksa buka.

Setelah memastikan celananya terpasang dengan baik, ia memandang pria itu dengan wajah dingin.

"Aku hanya bekerja saat jam kerja."

Pria itu menundukan kepala. Membenahi setelan jas formalnya.

"Aku tidak akan mengulanginya lagi," jawab pria itu.

Ia masih menatap dingin. "Aku tidak akan pernah menerima siapapun yang berani menggangguku pada hari libur. Kau tahu itu, kan, Tuan?"

Si pria mengangguk. "Aku tahu."

Ia melihat pria itu memungut kembali kotak hitam perhiasannya, sejenak membungkukkan kemudian berlalu pergi.

Ia menghembuskan napas lega. Gangguan di hari libur, sudah biasa. Namun tetap juga menjengkelkan.

Ia ambil tas ransel yang tadi sempat terlantar dan memakainya kembali. Belum sempat ia tinggalkan tempat ini ketika ponsel dalam sakunya bergetar.

Jika ada yang berani menelpon dirinya pada saat hari libur, maka hanya ada satu orang.

Panggilan tersambung. Jauh di sana, terdengar seorang pria menyapa dengan suara hangat. Berlainan dengan air wajahnya yang sudah mengeras.

"Apa kabar, Kristal sayang."

Ia menghela napas untuk kesekian kali. Satu gangguan sirna, kini muncul lagi.

"Ini bukan jam kerja, Nash-kun. Panggil namaku, Kuroko Tetsuya."

...

Kuroko tidak membetulkan letak headset-nya yang miring, fokus pada novel di pangkuannya.

Getaran suara kecil jauh di sana, tidak henti-hentinya berceloteh tanpa peduli diabaikan. Sedangkan Kuroko, sama sekali tidak terganggu walau kini telinganya telah tersumbat oleh suara manusia.

Salah satu cara Kuroko untuk memanjakan diri setelah sepekan bekerja adalah dengan menikmati hari libur. Biasanya seharian, ia akan pergi ke tempat-tempat yang sepi pengunjung. Taman atau gedung tidak terpakai, untuk menghabiskan novel-novelnya. Ia suka membaca, dan beranggapan itu bisa memperpanjang usia.

Kini tempat yang menjadi area bacanya adalah taman kota. Walau terletak di pusat, taman ini selalu sepi.

Karena tidak ada yang mau bermain di taman luas dengan beberapa bunga dan satu tiang besi sebagai hiasannya.

Akan tetapi tempat ini sejuk dan damai, Kuroko sangat suka. Tidak terasa satu novel telah habis di bacanya.

"Kuroko sayang, kau mendengarku?"

Kuroko membalik lembar terakhir novelnya dengan hati-hati, membetulkan letak posisi duduk agar lebih nyaman.

"Tentu saja, Nash-kun."

"Sedang dimana sekarang?"

"Taman kota."

"Ngapain?"

"Baca novel."

"Sendirian?"

"Berdua."

Terdengar jeda sesaat sebelum sebuah suara dengan tekanan lebih besar menyaring di headset-nya.

"Sama siapa?"

"Kamu," balas Kuroko kalem.

Sedangkan Nash jauh di sana, tengah berusaha menenangkan hatinya yang mendadak tidak terkendali. Rayuan dingin Kuroko Tetsuya adalah kelemahan terbesarnya

"Sialan kau, sayang. Berani-beraninya menggodaku dengan rayuan payah seperti itu."

Setelah itu, berbagai macam celotehan Nash tidak lagi Kuroko pedulikan. Sebab kini di hadapannya, tepat di samping tiang besi itu, telah berdiri seseorang. Berdiam diri, memandangi tiang seperti orang mati.

Kuroko jelas tahu tiang itu. Sejak dulu saat sampai sekarang, tidak ada satupun orang yang tertarik melihatnya.

Hanya sebuah tiang besi, yang dulu pernah ia pakai untuk belajar menari pertama kali.

Pria itu tetap diam di tempat. Bahkan ketika seorang gadis cantik—sangat cantik, menarik-narik ujung jas formalnya, ia tetap membeku.

Kuroko melihat pasangan di hadapannya bagai putri dan pangeran dalam masa modern. Yang sayang, akan berakhir tragis.

Sang putri bergaun cantik dengan rambut panjang terurai, dibiarkan membelai angin nakal. Dan pangeran itu, sempurna dengan jas formalnya.

Rambut mereka unik. Merah darah dan merah jambu. Kuroko penasaran, jika menikah nanti, warna rambut apa yang akan diturunkan kepada anak-anaknya?

Namun bukan itu yang membuat Kuroko tertarik pada mereka. Ia merasa, masa depan suram akan menimpa pasangan itu kelak. Cepat atau lambat.

Ketika Si Putri masih sibuk dengan kekasihnya yang bungkam, Kuroko memilih untuk beranjak pergi. Dibenahi buku-buku yang tadi ia keluarkan, memakai tas ranselnya, lalu beringsut meninggalkan taman.

Kala itu, Akashi telah melihatnya. Kilatan yang sama, aura yang sama.

Akashi dapat merasakannya walau samar. Biru, indah seperti langit lepas.

Namun tetap ia tidak mampu menyadari apapun. Bahwa mungkin saja, makhluk biru manis itu adalah Kristal yang selama puluhan tahun telah dicarinya.

TBC

Perkenalkan saya Fellycia Azzahra, baru kemarin sore belajar nulis. Saya akan sangat-sangat berterima kasih jika teman-teman mau memberikan kritik yang membangun untuk tulisan saya.

Terima kasih sudah mau membaca!