-_ Ui Present _-

000 Akairo Hoshi 000

Pairing : SasuFemNaru

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC maybe, FemNaru, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan

Rated : T aja

READ N RIVIEW PLEASE

DON'T LIKE READ

Ruang pribadi Rikudou tampak lebih terang dari sebelumnya dengan cahaya lampu. Tampak dua orang tengah berlutut menghormat padanya, Rikudou memandang mereka menanti kata-kata yang akan terlontar dari pasangan anak emasnya itu.

"Maafkan saya Rikudou-sama, seharusnya saya lebih berhati-hati. Saya siap menerima hukuman." Ucap pemuda bernama Ryu tanpa menatap Rikudou. Ia tahu, ia telah mengecewakan seseorang yang telah mendidik dan membesarkannya seperti sekarang. Runa yang berada disamping Ryu menatap sang kakak tajam, hukuman, ia takkan membiarkan Ryu mendapat hukuman.

"Lebih baik kalian pergi, aku hanya ingin melihat kalian kembali tanpa cacat. Dan kau Ryu, aku takkan segan-segan menghukummu jika kau mengulangi kecerobohanmu." Ucap Rikudou tajam, ia takkan menghukum Ryu, tentu saja karena Ryu masih sangat dibutuhkan dalam rencananya dan lagi Ryu adalah satu-satunya orang yang mampu mengontrol anak emas yang liar, Runa.

"Terima kasih banyak Rikudou-sama, saya janji hal seperti ini takkan terulang." Ucap Ryu yakin sambil membungkukkan badan, tak lupa menarik baju Runa untuk ikut membungkuk yang diikuti Runa walau terpaksa. Mereka melangkah keluar dari seseorang yang entah bagaimana merawat mereka dari kecil. Mereka tak ingat bagaimana mereka sebelum dipungut, siapa mereka, siapa orang tua mereka. mereka tak tahu sama sekali, yang mereka tahu, mereka bersama-sama menjalani segala bentuk pelatihan sejak kecil dan menjadikan mereka senjata utama Akairo Hoshi.

"Kau menyebalkan sekali, aku tak mau membungkuk. Kenapa menarikku ?" ucap Runa kesal. Ryu menatap tajam Runa, seingatnya dulu Runa selalu patuh dan sangat menghormati 'Suhu' mereka itu. Bahkan Ryu masih ingat pandangan kagum di mata Runa ketika melihat Rikudou-sama mempertontonkan aksi menembaknya. Tapi entah sejak kapan pandangan mata itu berubah, tak ada lagi tatapan kekaguman yang ada hanya rasa hormat. Atau bahkan mungkin hanya bentuk kewajiban mereka yang terlahir sebagai ' anak emas'.

"Kau ini, kita bisa hidup sampai sekarang karena Suhu. Kita dapat menikmati apa yang kita punya ini karena Suhu, kenapa kau tak mau membungkuk padanya ?" Ryu menatap adiknya yang kini terdiam, ia sama sekali tak dapat menartikan tatapan kosong yang kini menghiasi mata biru itu.

Runa hanya bisa terdiam, sejak kapan ia seperti ini? Tentu saja sejak kejadian tragis itu. Ia tak pernah menyangka sesosok yang dikaguminya dapat berubah menjadi seorang monster haus darah. Membantai semua keluar Fuma dengan cara yang tak manusiawi di depan matanya, di hadapannya. Itu semua membuat ia sadar kalau semua yang mereka lakukan tidaklah benar, jika ia bisa ia akan meminta Rikudou-sama untuk menghentikan semua ini. Membunuh, mencuri, menjual barang-barang yang tak semestinya. Namun apa yang bisa ia lakukan? Bahkan ia hanya terlahir sebagai alat, alat yang membuat semua ini berjalan lancar seperti kemauan sang tuan yang berkuasa.

"Aku tak tahu." Jawab Runa akhirnya, kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai 2 tempat istirahatnya. Tempat dimana ia menjadi sama seperti manusia pada umumnya membutuhkan tidur.

/..

/..

Pagi mulai merambat, sang surya menampakkan bias-bias kebangkitan menyinari seluruh jagad. Runa nampak sedang berlari santai menikmati karindangan pohon-pohon tak terjamah di hutan kematian. Tentu saja sangat jarang manusia lain datang kesini dengan segala berita keangkeran yang ada. Runa menikmati setiap jogging disini aroma pinus yang segar dan suara burung-burung alami yang memainkan simphoni indah. Hingga akhirnya sampai dialiran sungai bening dengan ikan-ikan yang masih berenang bebas. Namun ada yang berbeda di sisi sungai itu, terdapat sesosok pemuda tengah melakukan pemanasan, menggerakkan badannya mencoba membuat otot-otot kakunya rileks.

"Siapa kau?" Tanya Runa seraya mendekati pemuda berambut sedikit anah didepannya karena menantang grafitasi. Pemuda itu membalikkan badannya menatap Runa, wajah tampan dengan kulit putih, tak lupa tampang stoic yang membuatnya tampak ehmm 'cool'.

"Aku hanya seseorang yang sedang berwisata kesini." Ucap pemuda itu kemudian meminum air yang ia bawa.

"Berwisata di hutan kematian, yang benar saja." Runa tersenyum remeh, berwisata? Bahkan penduduk asli saja sangat jarang memasuki hutan ini.

"Kau sendiri, seorang gadis lari pagi di hutan kematian. Bukankah itu lebih aneh." Ucap pemuda itu dengan seringai mengejek.

"Karena aku gila." Ucap Runa tepat di telinga pemuda itu lantas pergi melanjutkan kegiatan lari pagi yang menurutnya tak lagi menyenangkan karena ucapan pemuda tak jelas itu.

' Memang kenapa jika seorang gadis berjalan di hutan kematian , dia pikir aku gadis lemah yang hanya bisa berteriak tak jelas. Dia tak tahu siapa aku.' Batin Runa.

'Tentu saja, ia tak tahu siapa aku. Runa Baka.' Runa baru saja tersadar dari pemikiran bodohnya, tentu saja pemuda itu tak tahu siapa dia. Kalau tahu pun itu bukan masalah yang berarti untuk Runa, ia hanya perlu membuat pemuda itu pingsan dan menyuntikkan cairan penghilang memori.

/..

/..

"Hei Sasuke, kau dari mana saja?" Tanya pemuda dengan tato segitiga diwajahnya.

"Jogging." Jawab Pemuda bernama Sasuke dengan singkat, padat dan jelas.

"Kau ini, cewek – cewek itu terus memaksa untuk menunggumu kembali. padahal perutku sudah sangat lapar." Ucap pemuda Inuzuka itu sambil mengelus-elus perutnya.

"Hn." Jawab Sasuke kemudian melangkahkan kakinya ke tendanya.

"Aarghh, kau ini. Ku bunuh kau." Kiba baru saja hendak melayangkan sepatunya jika saja tak merasakan aura mencekam yang berasal dari para gadis yang lengkap dengan berbagai alat memasak di tangan mereka.

"He..he…, becanda kok. Aku nggak akan mukul pangeran kalian. He..he.." Ucap Kiba kemudian mengambil langkah seribu sebelum semua benda di dapur umum menghujani dirinya.

Sedang di dalam tenda nampak Sasuke tengah merebahkan badannya, sebuah senyum aneh menghiasi wajahnya. Tentu saja aneh, karena hanya keajaiban yang bisa membuat seorang Sasuke tersenyum seperti itu. Dan keajaiban itu terjadi sekarang, untuk taka da fans girl nya yang melihat kalau tidak bisa terjadi kematian masal di tempat perkemahan ini.

'Rambut pirang, kulit menawan, mata biru. Cantik tapi ketus, sangat menarik.' batin Sasuke menutup kedua manik hitamnya mencoba memperjelas bayangan gadis canti yang baru saja ditemuinya, gadis yang membuat hati Sasuke pertama kali merasakan debaran yang membingungkan tapi indah. Dan Sasuke terlalu pintar unruk tidak menetahui debaran apa yang kini melanda jantungnya.

'Aku harus mengetahui siapa gadis itu, tapi bagaimana bisa aku mengetahui siapa dia?' dan Otak cerdas Sasuke serasa tak berguna dengan rasa cinta, mereka baru bertemu di hutan larangan dan itu tak sengaja, Sasuke tak tahu nama apalagi alamat gadis itu. Bagaimana bisa ia menemukan gadis itu? Apa ia harus menunggu setiap hari di tempat mereka bertemu tadi.

'Ini gila'

"Arrgghh.." Sasuke mengacak-acak rambutnya kasar melampiaskan semua kekesalan karena kebodohannya.

/..

/..

Disebuah tempat berwarna serba putih tampak sepasang suami istri tengah menunggu dokter yang kini tengah memeriksa keadaan anak mereka. terpancar jelas sebuah ketakutan di wajah sang istri yang menatap putra satu-satunya itu. Sang suami membelai lembut rambut merah panjang sang istri mencoba memberikan ketenangan.

"Tenanglah Khusina, Kyuubi pasti baik-baik saja. Ia anak yang kuat." Ucap pria berambut pirang itu, menenangkan istrinya yang bernama Khusina.

"Tapi Minato, ini sudah hampir satu hari tapi mengapa Kyuubi tak sadar juga. Aku tak bisa kehilangan lagi." Ucap Khusina, tetesan air mata mulai meluncur dari mata hijaunya yang kini tertutup duka.

"Takkan lagi Khusina, aku janji. Kyuubi akan baik-baik saja."

Dokter itu menyelesaikan tugasnya dan menghadap kea rah pasangan suami istri yang sudah di anggap kakak kandungnya itu.

"Tenanglah Nee-san, Kyuubi tak apa-apa. Racun itu tidak berbahaya hanya mengakibatkan kehilangan saja. Hanya dosisnya sedikit tinggi hingga menyebabkan Kyuubi belum sadar hingga sekarang." Jelas Kakashi, ia adalah dokter khusus kepolisian selain merupakan mantan ketua ANBU. Namun ia lebih memilih mengundukan diri dan menjadi dokter di kepolisian ini.

"Terima kasih Kakashi." Ucap Minato tulus.

"Sudah kewajibanku. Lagi pula sudah lama tak melihat wajah tenang pangeran iblis ini, kalau tidur seperti ini ia manis sekali." Canda Kakashi sambil tertawa, tawa yang disembunyikan di balik masker hitamnya.

"Kau benar juga, anak itu kalau tidak begini mana tenang." Jawab Minato ikut tertawa bersama sang adik. Sedang Khusina mendekati sang anak yang tengah terlelap, ia tersenyum lemah sambil membelai wajah Kyuubi.

Khusina terlalu takut kalau ia akan kehilangan lagi, tragedy 10 tahun lalu membuat trauma yang tak akan pernah hilang dalam hatinya. Kehilangan putri satu-satunya membuat ia takut kehilangan Kyuubi, putrinya yang saat itu baru berusia belum genap 6 tahun hilang bersama penyerangan besar-besaran kelompok Akairo Hoshi ke markas polisi yang saat itu tengah merayakan hari ulang tahunnya. Ia takut ia tak mau kehilangan lagi.

Khusina mendekatkan wajahnya, mengecup lama dahi Kyuubi dengan tetesan air yang tak bisa lagi ia tahan. Sedangkan dua pria yang bersamanya hanya menatap Khusina dalam diam, mereka tahu bagaimana perasaan Khusina tentu kehilangan anak perempuan dan keponakan bukanlah hal yang mudah mereka terima.

/..

/..

Gema langkah cepat Runa menggema di lantai marmer markas Akairo Hoshi, kekesalan tampak jelas tergambar di wajahnya membuat semua anggota yang melihatnya ciut untuk sekedar mengucapkan selamat pagi.

"Runa-sama tunggu sebentar." Ucap Zetsu memotong langkah Runa menuju kamarnya di lantai 2. Runa membalikkan badannya dan menatap tajam Zetsu.

'Kalau yang ingin kau ucapkan tidak penting, ku bunuh kau.' Begitulah arti tatapan Runa jika diterjemahkan dalam kata manusia.

"Maaf Runa-sama tapi Rikudou-sama memanggil anda." Ucap Zetsu, suaranya agak menciut melihat tatapan Runa.

Runa mendesah kesal, ia sungguh sedang tak mood sekarang. Mungkin berendam dapat menghilangkan kekesalan dalam hatinya. Runa menarik napas dalam mencoba mengontrol emosinya.

"Aku akan kesana setelah membereskan semua ini." Ucap Runa menunjuk baju olahraga yang ia pakai dan berlalu dari sana menuju kamarnya.

/..

/..

Runa memasuki sebuah ruangan besar yang sudah terlalu sering ia masuki. Ruangan itu masih sama hanya saja kini ada Ryu yang tengah duduk di salah satu kursi. Tanpa di minta Runa segera beranjak dan mendudukkan diri di kursi samping tempat Ryu, mengabaikan tatapan tajam Ryu yang mengatakan kalau yang di lakukannya sama sekali tak sopan.

"Baiklah karena kalian telah berkumpul aku akan mempersingkat pembicaraan ini. Mulai sekarang kau Runa tak perlu lagi menurusi soal transaksi biar Karin yang mengambil alih."

Memang Runa adalah ketua di bagian transaksi, ia hanya mengurus hal-hal jual beli. Karena ia sangat tidak suka memakai kekuatan bertarung apalagi membunuh. Dan itu pula yang membuat Runa tak begitu di kenal oleh ANBU, ia lebih akrab dengan polisi yang mengurusi bidang narkotika atau jual beli senjata.

"Dan mulai sekarang kau akan membantu Ryu mendapatkan dan menumpas para ANBU tak berguna itu." Ucap Rikudou.

Membantu Ryu berarti harus melawan para ANBU, bukan Runa takut hanya saja itu akan membuatnya semakin sering berkelahi dan ia tak suka jika pedangnya harus berlumuran darah.

"Dan satu lagi kau akan masuk ke salah satu sekolah yang sudah ku tentukan."

"Apa?" teriak Runa.

Sekolah, bahkan jika di lihat dari semua yang di pelajarinya ia sudah lulus SMA 3 tahun yang lalu. Dan bahkan sudah pantas di sebut jika ia sudah lulus kuliah.

TBC_-

Baiklah akhirnya jadi juga chapter kedua ini, gomen ya karena sangat lama sekali updatenya. Karena WB yang menyerang selain itu juga karena kesibukan sebagai seorang siswa SMA membuatku tak bisa update cepat.

Terima kasih untuk semua yang berkenan meriview fic ini, aku kira actionnya mengecewakan. Tapi syukurlah pendapat kalian positif.

Balesan riview :

Narusaku20 : ini update, gomen ya kalau lama.

Imperiale Nazwa-chan : Ryu n Runa bukan saudara kandung, mereka sudah kayak saudara soalnya di besarin bersama. Ini update gomen lama.

Jimi-li : makasih, kalau itu pasti bisa nebak. Akairo Hoshi itu bergerak disegala bidang kejahatan mulai dari narkoba, penjualan senjata illegal, pembunuh bayaran, hingga perampokan dan pencurian. Sasuke sudah muncul tapi dikit, kan nggak penting sih # di tabok Sasuke. Naru n Kyuu bisa ditebak dari fic di atas kan. Semua sudah di jawab di atas ok. Nggak papa kok aku suka jawabnya, asik kok.

Arisa-Takenouchi : benerkah actionnya bagus? Aku sangat nggak PD sama actionnya. Chap ini udah keluar tuh. Salam kenal juga, dengan senang hati boleh.

TaHaiWa : mas bro makasih dah baca n riview ya, tahu sendiri aku susah banget buat romance kok disuruh pakek cinta-cinta. Ntar deh aku usahain.

Nasumichan Uharu : gomen ya nggak update asap.

Aku ucapkan terima kasih sekali lagi untuk riviewnya, tidak lupa juga silent reader. Makasih kalian adalah semangatku dalam menulis.

MIND TO RIVIEW

-_Uichan…..