Because you are the medicine
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author: PuppyBee04
Cast: Chanbaek, Hunhan, Kaisoo.
Other cast: Member Exo, Blackpink, Bts, dll.
RATE: M
Genre: Romance, hurt/comfort.
Desclaimer: Semua tokoh adalah milik emaknya masing-masing, saia hanya meminjam tokoh-tokohnya tanpa ijin. Muehehe.
Warning: BoyXBoy, Typo bertebaran, OOC, cerita abal, gaje, dan blah blah blah.
Summary: Dia datang, dengan puluhan luka dipunggungnya. Namun tidak menangis dan tidak bersedih. Segalanya tertutupi wajah tebal tanpa senyum, datar. Tak satupun ekspresi tergambar dalam garis tegas wajah tampannya.Dan Ia bertemu, seorang Lelaki mungil yang berprofesi sebagai psikolog itu bertugas menangani dirinya. Mereka saling menatap dan luka itu jelas terpancar. Bukan dari salah satu, tetapi keduanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Motor besar itu mulai memasuki pekarangan luas nan terawat milik keluarga Park yang terkenal karena kesuksesan Park Corp. Bahkan kesuksesannya begitu tersohor hingga menarik minat perusahaan luar negeri untuk membuat hubungan berbisnis dengan Park Corp. Tetapi bukan itu yang Chanyeol inginkan. Ia sama sekali tidak bahagia hidup dengan kemewahan, ia tidak peduli jika suatu hari ia akan jatuh miskin. Asal ia memiliki keluarga. Keluarga seperti yang ia lihat disekitarnya. Ia ingin itu, tetapi dalam mimpipun itu mustahil.
Orang tuanya terlalu memuliakan uang.
Dengan ekspresi datar seperti biasa, ia mulai melangkahkan kakinya menuju mansion megah tempat tinggalnya.
Matanya melirik puluhan orang pria berjas hitam dan berkaca mata hitam, mereka memiliki wajah seperti seorang preman. Bahkan hanya sekedar melirik saja, ia sudah mendapat tatapan membunuh dari para pria-pria berwajah seram tersebut. Mereka berjajar rapi disisi kanan dan kiri mansion besarnya.
Dengan santai, ia mulai memasuki ruang kerja sang ayah. Jantungnya berdetak kencang, keringat sedikit demi sedikit membasahi kulitnya. Tubuhnya sedikit bergetar. Selalu, ia akan selalu seperti ini saat akan bertemu dengan Ayahnya. Namun sekali lagi, ia menutupinya dengan wajah datar andalannya.
Dengan tarikan nafas panjang, ia memutar kenop pintu ruang kerja Ayahnya.
Tubuhnya kaku sesaat. Mata besarnya menatap lurus kearah ibunya yang kini duduk disofa dengan santai, ia tak bereaksi selama beberapa detik. Sebelum akhirnya sang ibu menghampirinya dengan senyum.
"Chanyeol sayang, bagaimana kabarmu nak? sudah lama tidak bertemu ya" Wanita paruh baya itu tersenyum, namun senyum yang dipaksakan.
Chanyeol tak bereaksi, tangannya menggenggam erat.
"Mengapa hanya diam? Jawab aku!" Ibu Chanyeol berbisik pelan namun penuh penekanan.
"Baik, bagaimana denganmu?" Balas Chanyeol.
"Ibu sangat merindukamu" Dustanya.
"Hn" Chanyeol tahu, apa yang membuat ibunya bersandiwara. Karena diruangan ini terdapat dua sosok lain selain ayah dan ibunya. Entah siapa mereka tetapi mereka tampak begitu percaya melihat drama ibu dan anak didepannya dan Chanyeol terlihat sangat menyedihkan.
Sang Ibu mengajaknya duduk, senyum palsu itu senantiasa terpatri menghiasi wajah cantiknya. Diikuti sang ayah yang duduk disamping ibunya.
"Jadi ini putramu? dia tampan, tidak jauh beda denganmu park" Puji orang asing itu kepada Chanyeol.
Ibu Chanyeol tertawa renyah "Kami selalu memberikan yang terbaik untuknya" Ucapnya diselingi nada gurauan.
Chanyeol ingin berteriak. Ia ingin marah. Ia muak mendengar kata-kata dusta ibunya, tapi ia tidak bisa. Tubuhnya kaku, hatinya berdenyut nyeri. Mereka berkata seolah Chanyeol tak memiliki perasaan. Seolah apa yang mereka ucap tak akan berdampak pada Chanyeol.
"Perkenalkan, namaku Kim sungwoo dari perusahaan Kim dan ini putri tunggalku kim jisoo. Kami ingin menjalin hubungan berbisnis dengan Park Corp" Sungwoo tersenyum ramah "dan kami juga ingin berteman baik dengan keluarga Park, karena bisnis akan berjalan lancar dengan adanya hubungan pertemanan" jelasnya.
"Kami mengerti, semoga kita bisa bekerja sama" Ayah Chanyeol tersenyum tipis.
"Jika begitu, kami mohon pamit. Saya berterimakasih atas kesediaannya berbisnis dan berteman dengan kami" Sungwoo berjabat tangan dengan keluarga Park diikuti Jisoo. Namun entah kenapa jabatan tangan jisoo mengerat ketika berjabat dengan Chanyeol. Gadis itu tersenyum malu. Sedangkan Chanyeol membuang muka.
Mereka berdiri dan berojigi sebelum akhirnya melangkah keluar.
Ekspresi ibu Chanyeol berubah seketika, ia menatap kesal Putra bungsunya "Kau membuatku malu dengan wajah datarmu itu" Ucapnya.
"Maaf" Balas Chanyeol singkat.
"Maaf? astaga, bagaimana bisa aku memiliki anak sepertimu!" Ibu Chanyeol memandang jijik kearah Chanyeol "Kau menghancurkan hidupku, gara-gara kau lahir, putri kesayanganku meninggal!" Matanya mulai memburam, ia tidak bisa menahan emosinya saat bertemu Chanyeol. Ia melihatnya, mata putrinya. Memandangnya diraga Chanyeol. "Kau pembunuh sialan! kembalikan putriku" Tangisnya pecah, tanganya yang bebas menampar wajah Chanyeol dengan keras. Selalu seperti ini, ia sungguh membenci Chanyeol hingga keulu hatinya. maka dari itu mereka jarang dipertemukan. Ayah Chanyeol hanya tidak ingin melihat istrinya menangis terus-terusan.
Didalam sana, hati Chanyeol bergetar. Ia menyesal dilahirkan. Ia membenci takdir yang menempatkannya diposisi ini. Kenapa harus dia yang merasakan ini?
Tetapi wajahnya tak pernah berubah, ia tidak terlihat sedih atau apapun. Terus terlihat kuat karena jika ia menangis didepan Orang tuanya. Ia yakin, mereka akan tersenyum senang karena berhasil menghancurkan hidupnya.
Ayah Chanyeol segera memeluk istrinya dari belakang, ia mencoba menjauhkannya dari Chanyeol. "Keluar bodoh, kenapa masih disini?" Teriaknya.
Chanyeol berdiri, ia berojigi sesaat sebelum akhirnya keluar dari dalam ruangan. Kakinya melangkah cepat, menjauh dari mansion yang ia sebut sebagai neraka. Jantungnya bergemuruh, membuat kakinya semakin cepat melangkah. Entah kemana tujuannya, ia bahkan tidak membawa motor. Tetapi semua tak dipedulikannya. Ia hanya ingin sendiri, ia ingin pergi sejauh mungkin.
Sementara sang ibu terus menangis dipelukan suaminya, sejak Chanyeol bayi hingga sebesar ini. Rasa benci itu tak pernah pudar. Karena mata itu, mata yang ada pada Chanyeol mengingatkannya pada mendiang anak sulungnya. Park Yoora, yang meninggal sehari setelah Chanyeol lahir.
Ia ingin berhenti, ia tahu Chanyeol sangat terluka. Tetapi ia tidak bisa, rasa cintanya terhadap sang mendiang putri sulung dan kerinduannya yang tak dapat terobati membuat rasa benci hingga tempat terdalam dihatinya.
"Kenapa bukan dia saja yang mati, kenapa harus putri kita" Jeritnya. "Aku merindukannya, aku ingin memeluknya. Karena dia aku tidak sanggup melakukannya" Ia tidak bisa menghentikan tangisnya.
"Aku tahu, jangan menangis. Kau harus belajar merelakan. Aku akan selalu bersamamu" Ucap Ayah Chanyeol mencoba menenangkan sang istri walau ia sendiri belum sanggup merelakan sang putri. Namun terkadang, ia berfikir tentang bagaimana menderitanya Chanyeol selama ini yang refleks membuat hatinya berdenyut nyeri. Tetapi sekali lagi, rasa ingin peduli itu sangat tipis jika dibandingkan rasa benci yang ia tanam sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
ಥಥ
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun berjalan pelan menelusuri jalanan seorang diri, pandangannya bergerak menyapu sekitarnya. Hari ini jalan terlihat sepi dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hanya ada beberapa orang yang berjalan sama seperti dirinya. Ia mengira karena hari ini sangat dingin, bahkan jaket tebal yang membungkus kulitnya masih membuatnya kedinginan.
Malam ini, ia kehabisan bahan makanan. Sehingga ia harus berjalan menuju mini market terdekat, tetapi tetap saja terasa jauh karena ia berjalan kaki.
Sementara dilain tempat, Chanyeol terduduk seorang diri dibangku yang menjadi favorit Baekhyun. Bangku tua yang sudah jelek tetapi masih kuat. Kedua lengannya ia gunakan untuk memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Tetapi ia tidak ingin pulang, ia merasa tidak memiliki tempat untuk pulang. Tempat ini jauh lebih baik dari pada rumahnya.
Pandangannya terfokus pada ponselnya, entah kenapa ia ingin melakukannya. 'Haruskah aku menghubunginya?' Batinnya bermonolog.
Seseoerang yang mengaku sebagai sahabatnya, orang yang akan ada disaat dia butuh. Tetapi ia tidak bisa merepotkan orang lain, mereka baru berkenalan dan posisinya hanya sebagai seorang pasien. Mungkin begitulah cara seorang psikolog dalam menangani pasiennya. Jadi ia bodoh, jika berharap mereka benar-benar berteman.
Baekhyun keluar dari dalam mini market dengan dua plastik besar ditangannya. Ia akan sibuk akhir-akhir ini, jadi akan lebih baik jika ia berbelanja banyak untuk kebutuhan beberapa hari kedepan.
Entah kenapa ia tak ingin langsung pulang, kakinya secara otomatis melangkah menuju arah yang berlawanan dengan arah apartemennya. Ia berencana membeli tteokbokki kesukaanya, sudah lama ia tidak merasakan jajanan pinggir jalan tersebut.
Ia baru saja akan menyeberang jalan untuk membelinya diseberang jalan sana, jika saja pandangannya tak menangkap sosok pria yang dikenalinya. Tengah duduk meringkuk dikursi tua favoritnya.
"Chanyeol?" Gumamnya.
Refleks kakinya melangkah menuju kursi tersebut, matanya melebar sesaat karena dugaannya benar "Chanyeol? apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya.
Chanyeol menoleh dan terkejut namun keterkejutannya segara hilang karena wajahnya kembali datar "Hanya berjalan-jalan" Balasnya.
"Dengan udara sedingin ini? tanpa pakaian tebal?" Baekhyun tidak yakin dengan ucapan Chanyeol, matanya memandangi sekitarnya dan ia tidak menemukan benda yang dicarinya "Dimana motormu?" Tanyanya sekali lagi.
"Mogok, jadi aku tidak membawanya" Chanyeol kembali berbohong.
"Hm? kau berbohong?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan menyelidik. ayolah, siapa yang coba Chanyeol bohongi. Seorang psikolog? jangan bercanda.
"..." Chanyeol terdiam.
"Apa yang terjadi?" Baekhyun duduk disamping Chanyeol, matanya menerawang jauh kedalam bola mata Chanyeol. Sekali lagi, ia melihat sesuatu yang tertahan disana. Chanyeol menahannya, seorang diri. Luka yang besar.
"Ya tuhan, ujung bibirmu berdarah?" Bodohnya Baekhyun baru menyadari hal itu karena minimnya pencahayaan "Katakan sesuatu yeol, apa seseorang melukaimu?" Paniknya.
Chanyeol bimbang, haruskah ia menceritakannya? luka ini? luka tamparan sang ibu. Haruskah ia bilang? Tentang betapa rapuhnya ia saat ini?
"Apa kau lupa? Aku sahabatmu, didalam maupun diluar lingkungan rumah sakit" Baekhyun tidak bisa berbohong bahwa ia merasa hawatir.
Chanyeol menunduk, ia tengah menahan sesuatu yang akan terjatuh dari kedua matanya. Ia tidak boleh menangis. Saat ini, perasaanya sedang ia coba kendalikan.
Setelah merasa lebih baik, kemudian kepalanya kembali mendongak, ia menatap Baekhyun. Ia akan mempercayainya, mulai sekarang. Kepada Baekhyun dan ia membenarkan ucapan Baekhyun tentang seorang sahabat. Ia memang membutuhkannya.
"Ini tentang orang tuaku" Chanyeol mengalihkan fokusnya kejalanan "Mereka tidak menginginkanku, aku hanya sampah bagi mereka" Ia memejamkan matanya.
"Kenapa?" Baekhyun menatap Chanyeol penasaran.
Chanyeol terdiam. Ini tentang masa lalunya. Tentang kakak perempuannya yang telah pergi. Kejadian disaat ia lahir.
"Maaf, belum sekarang" Ia mengusap kasar wajahnya.
Baekhyun mengangguk mengerti "Baiklah aku tidak memaksamu untuk menggali lukamu" Ia terdiam sejenak "Tapi tolong jujur padaku, ada apa dengan bibirmu?" Lanjutnya.
"ini" Ia enggan melanjutkan "Ibuku menamparku" Chanyeol berkata jujur.
"Apa? bagaimana bisa? apa kau melakukan kesalahan?" Baekhyun terkejut.
"Mungkin, aku bahkan selalu merasa salah dimatanya" Chanyeol tersenyum miring.
Baekhyun terdiam, ia melihatnya. Chanyeol tidak berbohong, terlihat dari gerak geriknya.
"Lalu, apa kau berniat pulang? kau pergi tanpa motormu sementara bus sudah jarang dijam segini" Baekhyun memikirkan hal apa yang harus ia lakukan.
"Aku tidak ingin pulang" Balas Chanyeol. Ia tentu tidak ingin semakin tersakiti. Jika boleh, ia ingin lepas dari keluarganya. Ia ingin mencopot marganya. Tetapi itu akan sulit, mengingat betapa terkenalnya perusahaan sang Ayah. Itu akan membuat media mencari celah untuk menjatuhkan perusahaan Park.
"Lalu kau ingin kemana?" Baekhyun benar-benar harus melakukan sesuatu.
"Disini lebih baik, dari pada rumahku" Chanyeol sedikit menggigil, sedari tadi ia menahan hawa dingin yang menusuk kulitnya.
Baekhyun tahu, Chanyeol orang asing. Mereka baru bertemu tadi siang, walau hampir seluruh masyarakat seoul telah mengenal keluarga Park bagi Baekhyun, Chanyeol tetaplah orang asing. Tetapi pria ini sedang terluka dan membutuhkan bantuannya.
"Kau bisa tidur diapartemenku untuk malam ini" Ucap Baekhyun, Ia percaya Chanyeol orang yang baik.
"Tidak perlu" Tolak Chanyeol "Aku tidak ingin merepotkanmu" Ia tidak menyangka Baekhyun akan menawarinya tempat tinggal.
"Tidak tidak, kau pasienku dan aku memiliki tanggung jawab atas dirimu. Tidak apa, tubuhmu akan membeku jika terus berada disini. Jangan menolak atau aku akan berhenti menjadi doktermu" Ancamnya, walau itu tidak serius.
"Hm, baiklah" Chanyeol tidak memiliki pilihan lain, Baekhyun benar. Tempat ini sangat dingin.
"Anak pintar" Baekhyun tersenyum senang "Ayo pulang, disini semakin dingin" Ucap Baekhyun sembari menepuk Bahu Chanyeol.
Dan mereka berjalan menuju apartemen Baekhyun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
ಥಥ
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Drrt
Ponsel yang berada diatas meja kerja berbunyi, memperingati pemiliknya tentang adanya panggilan masuk.
"Yeobseoyo, tuan park" ucap seseorang diseberang telepon.
"Ya, tuan kim. Apa terjadi sesuatu?" Balas Ayah Chanyeol.
"Ya, sesuatu terjadi. Aku membatalkan pemberian saham 15% ku untuk usaha bisnis kita" Ucap Kim sungwoo.
"Apa? kenapa?" Lelaki paruh baya itu terkejut, baru tadi siang mereka mengesahkan pemberian saham tersebut. Bagaimana bisa, sungwoo membatalkannya.
"Karena aku akan menggantinya menjadi 45%" Sungwoo tersenyum miring dibalik telepon.
"Apa kau serius?" Ayah Chanyeol tentu merasa senang.
"Ya, tetapi aku ingin satu hal" Ucap Sungwoo.
"Apa yang kau inginkan?" Alisnya terangkat satu.
"Aku ingin putramu" Sungwoo menjeda kalimatnya "Menikah dengan putriku" Lanjutnya.
Ayah Chanyeol terkejut.
--TBC--
Anyong, saia apdet egen.
Huaaaa.. saia nistain bapa cahyo..
soalnya gemes ama chanyeol yang brengsek nyakitin baek mulu, wekaaaa.
Maap ya kalau kurang panjang, soalnya saia sudah kasih batasan. Satu Chap 2k.
Saia cepat apdet karena kalian yang udah kasi respon bikin semangat saia tumbuh, gomawo.
Karena satu aja ripiu dari kalian adalah semangat saia.
Untuk Chap depan bakal ada flasbacknya Chanyeol, tentang kenapa dia dibenci. Jadi jangan sampai ketinggalan.
Untuk Cinta Chanbaek keknya masi perlu waktu, namanya juga cinta ga mudah tumbuh. Kecuali bagi cewe yang bapeuran *Heuh nyindir diri sendiriT_T
Megumi30
Hng, iyaa sama. Jadi mereka sama-sama punya luka. Terus sama-sama ngobati gitu. muehehe
Chanbaek09
iyaa, ni apdet cepet 3. Gomawo udah riview
kasih saran buat ff nya dong, saia masih baru dari dalam toples*ngawur_-
Alurnya kecepeten ga si? kok saia ga pede.
Yang riview pasti saia bales kok.. jadi semangat reviewnya :3
jann luoa favs foll jugak.
see you next chap.. muwah
