Park Jihoon, gadis manis berambut hitam panjang sepunggung dengan postur tubuh yang tidak begitu tinggi dan sedikit montok di tempat-tempat tertentu merupakan sulung dari tiga bersaudara. Jihoon memiliki dua adik laki-laki kembar yang berusia sepuluh tahun. Jihoon lahir dalam keluarga yang berkecukupan, Ayahnya seorang pegawai pemerintahan dan Ibunya seorang guru SD.

Sejak kecil Jihoon sudah dididik mandiri dan bertanggung jawab oleh kedua orang tuanya. Saat TK dia sudah bisa mengikat tali sepatunya sendiri meski tidak rapi dan harus diulangi oleh Ibunya. Terbiasa meletakkan peralatan makannya ke tempat cuci piring sesudah makan. Saat SD Jihoon sudah bisa melipat selimutnya sendiri dan merapikan kamarnya sendiri. Mulai bisa mencuci alat makannya sendiri. Membantu Ibu merawat adik-adiknya.

Memiliki kedua orang tua yang bekerja membuat Jihoon bertanggung jawab pada kedua adik yang berjarak tujuh tahun dengannya. Jihoon merupakan orang terdekat untuk si kembar, sejak SMP dia terbiasa menjemput adiknya dari sekolah lalu menyiapkan makan siang mereka yang telah dimasak Ibu sebelum berangkat bekerja. Karena Ibunya akan pulang mengajar setelah makan siang.

Beranjak SMA, tanggung jawab Jihoon semakin besar. Kadang dia memasak untuk keluarganya jika Ibunya kelelahan. Membersihkan rumah jika Ibunya tidak sempat bersih-bersih. Dan dia juga yang selalu belanja bulanan untuk kebutuhan rumah tangga. Karena didikan orang tuanya inilah Jihoon tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan serba bisa.

Sore itu, pukul empat sore Jihoon sedikit terburu-buru keluar dari kelasnya. Hari ini dia waktunya berbelanja bulanan dan dia baru saja selesai melakukan tugas piketnya. Dia tidak mau pulang ke rumah terlalu larut karena bahan persediaan makanan di rumah telah habis.

"Kak Jihoon!" seruan dari suara yang selalu mengganggu Jihoon akhir-akhir ini.

Jihoon hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan langkahnya, membuat si pemanggil sedikit kaget. Lalu segera beranjak menjajari langkah kaki Jihoon yang lebih pendek dari langkah kakinya.

"Kok buru-buru amat?" tanya Lai Kuanlin

Beberapa siswa yang belum pulang melihat pemandangan Jihoon dan Kuanlin yang berjalan beriringan dengan pandangan heran. Tidak biasanya kedua siswa itu terlihat bersama. Mereka tidak tahu bahwa Jihoon dan Kuanlin menjadi dekat karena insiden UKS satu minggu lalu.

"Gue mau ke supermarket belanja bulanan" jawab Jihoon singkat.

"Oh, sama dong" seru Kuanlin semangat.

"Lo belanja bulanan?" tanya Jihoon jelas heran. Karena seorang Lai Kuanlin nggak mungkin belanja bulanan sendiri.

"Bukan. Stok camilan gue abis hehehe" ringis Kuanlin, "Yaudah bareng gue aja yuk"

Mereka sudah sampai didepan audi hitam, mobil jemputan Kuanlin. Jihoon ingin menolak dan memilih untuk naik subway aja.

"Udah bareng gue aja, lebih hemat uang dan waktu. Kasihan yang di rumah kelaperan nungguin lo kelamaan" ucap Kuanlin membuat Jihoon menerima tawarannya.

Mereka akhirnya sampai di supermarket tujuan mereka. Jihoon mengambil trolli dan Kuanlin hanya mengambil keranjang belanja. Kuanlin mengikuti Jihoon yang berjalan menuju bagian sayur mayur.

"Lo selalu belanja bulanan tanggal segini?" tanya Kuanlin yang melihat Jihoon memilih beberapa tomat dengan teliti.

"Nggak selalu tepat tanggal segini sih. Tapi emang selalu awal bulan gini" jawab Jihoon sambil memasukkan tomat yang sehat dan bagus ke dalam troli.

"Lo belanja sayur sebulan sekali?"

Jihoon memandang Kuanlin dengan raut heran, "Ya Nggak lah! Sebenarnya yang belanja sebulan sekali tuh belanja sabun, deterjen, pewangi pakaian, kopi, gula. Kalo sayuran mah seminggu sekali Bunda belanja ke pasar"

Kuanlin hanya mengangguk-angguk paham. Jihoon yang melihatnya terkekeh pelan. Dia tahu bahwa Kuanlin tidak paham hal semacam ini, dia tahunya pasti semua sudah tersedia lengkap dihadapannya.

"Lo duluan nggak apa-apa kok,Lin. Lo kan Cuma beli camilan" ucap Jihoon.

"Gue tungguin lo lah. Ntar pulangnya bareng gue, bawa barang segini banyaknya masak mau naik subway?"

"Biasanya juga gitu. Gue bisa"

"Itu kan sebelum ada gue. Kalo sekarang gue nggak bakalan ngebiarin lo repot sendiri"

"Nggak jelas lo. Udah sana"

"Tsk, kok lo sering banget nolak niat baik gue sih. Udah terima aja kan nggak ada ruginya di lo"

Jihoon akhirnya membiarkan Kuanlin membuntutinya, tipe kayak Kuanlin ini memang bebal banget dan nggak bisa ditolak. Dan pada akhirnya, Kuanlin lah yang mendorong troli dan Jihoon memilih dan mengambil barang.

Memasuki area camilan, Kuanlin mengambil berbagai jenis keripik, mulai kentang, singkong higga talas semua masuk keranjangnya. Dia juga mengambil banyak cokelat. Jihoon yang melihat ada jelly bentuk dinosaurus memutuskan untuk membelinya untuk kedua adiknya.

Kuanlin berhenti didepan rak yang mendisplay hite beer.

"Pengen beli?" tanya Jihoon dengan tatapan menyelidik.

Kuanlin menoleh dan mengamati raut wajah Jihoon, "pengen sih, ada varian baru soalnya. Tapi mana boleh, gue pake seragam gini"

Hati Jihoon mencelos mendengar ucapan Kuanlin secara tidak langsung membenarkan rumor yang beredar tentangnya, tapi Jihoon tetap memasang wajah tenang.

"Gue kira lo nggak sadar seragam. Udah ayo" Jihoon menepuk pelan punggung Kuanlin lalu melangkah ke kasir lebih dulu.

Kuanlin menyusul lalu meletakkan keranjang camilannya disamping belanjaan Jihoon, "jadiin satu aja mbak" ucap Kuanlin pada kasir perempuan itu.

Jihoon menoleh kaget lalu memasang wajah kesal, "Apa-apaan sih lo. Ini belanjaan gue, kenapa lo yang bayarin?"

"Biar cepet aja. Kan mempermudah kerjaan mbak kasirnya juga"

"Bodo amat ya! Ini tuh kebutuhan keluarga gue dan nggak ada hubungannya sama sekali sama lo. Jadi Please, gue nggak butuh duit lo"

Kuanlin sedikit kaget ketika melihat Jihoon benar-benar marah kali ini. Kuanlin memang selalu menguji kesabaran Jihoon untuk selalu menuruti kemauannya, tapi biasanya gadis itu Cuma sedikit tidak nyaman. Dan ini pertama kalinya dia melihat Jihoon semarah ini.

"Oke oke. Mbak, pisahin aja" Kuanlin kembali bicara pada kasirnya.

Kasir nya menghitung belanjaan Kuanlin yang lebih sedikit terlebih dahulu. Setelah itu Kuanlin menunggu Jihoon menyelesaikan pembayaranya.

"Nih" Kuanlin menyodorkan beberapa bungkus cokelat yang baru dibelinya tadi.

Jihoon hanya mengangkat alisnya tanpa menerima cokelat itu, "gue beli ini emang buat lo. Sekalian mau minta maaf kalo gue bikin lo marah"

Jihoon menghela napas, "gue nggak marah. Dan gue nggak minta dibeliin cokelat. Kalo lo emang nggak mau, balikin aja ke mbak nya" ucap Jihoon lalu meraih cokelat di tangan Kuanlin dan mengembalikannya ke counter "Mbak, cokelatnya nggak jadi. Tolong uang kembaliannya"

Kuanlin menepuk dahinya melihat tingkah Jihoon, "aduh nggak mbak. Jadi kok cokelatnya" Kuanlin buru-buru mengambil kembali cokelatnya dan memasukkannya ke kantong belanjanya sendiri.

Si Mbak kasirnya Cuma melihat dua muda mudi dihadapannya dengan pandangan datar. Dikiranya tadi mereka sepasang kekasih yang harmonis yang sedang belanja bareng, eh taunya ternyata Cuma temen yang kelakuannya nggak jelas gini.

_THE BLOOM_

Jihoon berada di dapur sedang menyiangi tauge untuk dimasukkan ke dalam kimchi jiggae, sedangkan Ibunya sedang menyiapkan side dish yang lain. Ayahnya baru saja pulang dari kantor dan sekarang sedang mandi. Kedua adiknya tengah bermain di ruang keluarga.

"Bundaa, tadi Kakak diantar cowok" ucap Jungmin si bungsu.

Jihoon mendelik mendengar aduan adiknya itu. Dasar berandal kecil.

"Oh ya? Ganteng nggak cowok yang nganter Kakak tadi?" jawab si Bunda sambil mengerling putri sulungnya.

"Ganteng. Tapi masih lebih ganteng Junghyun" jawab kembar yang lain.

"Ganteng Jungmin kali. Kakak yang tadi kayak vampir, pucat banget"

Jihoon hanya memutar bola matanya malas mendengar jawaban terlalu percaya diri dari kedua adiknya itu. Dan diam-diam membenarkan perkataan adiknya tentang Kuanlin yang kayak vampir. Terlepas dari kulit Kuanlin yang terlalu putih mendekati pucat, mana ada manusia yang berwajah nyaris sempurna seperti Kuanlin?

Jihoon memang tidak merasakan apapun pada Kuanlin, tapi sebagai gadis normal yang bisa membedakan mana cowok ganteng tentu dia bisa mengatakan bahwa Kuanlin ini masuk kategori cowok ganteng. Terkadang dia harus menahan napasnya karena takjub ketika berhadapan langsung dengan Kuanlin. Takjub ketika melihat wajah cowok itu dari dekat. Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tapi Jihoon merasa wajah Kuanlin mungkin pengecualian.

"Kak?" Bunda menyadarkan lamunan Jihoon tentang Kuanlin.

"Eh,iya Bund?"

"Nglamunin pacar kamu ya, Kak?"

"Nggak Bund. Bukan pacar kok, Cuma adik kelas Jihoon"

"Loh, pacar kamu brondong?"

"Brondong apasih Bund? Cuma beda setahun ini"

"Berarti bener pacar kamu?"

"Nggaaaak. Ih Bunda!"

Bunda hanya tertawa pelan karena berhasilnmenggoda anak gadisnya itu, "Iya juga nggak apa-apa. Yang penting Kakak bisa bertanggung jawab dan bisa membagi waktu, tahu mana prioritas. Ayah dan Bunda percaya sama Kakak, jadi Bunda dan Ayah berharap Kakak nggak merusak kepercayaan ini ya"

"Iya Bunda. Tapi dia emang bener Cuma temen kok"

"Yaudah. Sekarang masukin tauge nya, Kak"

_THE BLOOM_

Jihoon baru saja dari perpustakaan, ditangannya ada setumpuk paket. Dia dan Sohee teman sekelasnya diminta guru untuk mengambil paket di perpustakaan, dan temannya itu sudah kembali ke kelas terlebih dahulu. Di tengah perjalanan berat menuju kelas dia melihat tubuh jangkung Kuanlin menaiki tangga menuju rooftop.

'dia mau bolos?' batin Jihoon.

"Kuanlin!" seru Jihoon membuat cowok itu berbalik dan menghampiri Jihoon.

Tampilan Kuanlin jauh dari kata rapi. Kerah kemeja seragamnya tidak terkancing hingga tiga kancing memperlihatkan t-shirt yang digunakannya sebagai dalaman, dasinya tidak terpasang, lengan kemejanya digulung hingga dibawah siku, seragamnya keluar dari celana secara tidak beraturan. Yang lebih utama adalah wajah Kuanlin terlihat lelah, kantong matanya menghitam, matanya memerah serta rambut yang biasanya selalu di beri pomade hingga keningnya terlihat kini nampak terkulai lembut menutupi dahi Kuanlin.

'sial, lagi berantakan aja tetep ganteng' batin Jihoon gemas.

"Lo sakit?" tanya Jihoon pada Kuanlin yang sudah dihadapannya dan mengambil alih paket-paket berat itu dari gendongan tangan Jihoon.

"Nggak. Cuma ngantuk aja, pengen tidur"

"Dengan bolos ke atap?"

Kuanlin hanya mengedikkan bahunya lalu berjalan menuju kelas Jihoon terlebih dulu, lalu gadis itu mengikuti Kuanlin dalam diam. Diperhatikannya cowok itu dengan seksama. Kuanlin memang terlihat lelah sekali dan sialnya dia jadi tidak tega ketika melihat wajah yang biasanya memberi seringai jahil padanya menjadi lesu tidak bersemangat seperti ini.

"Lo tunggu sini aja. Bentar lagi gue anter ke UKS"

Mereka sudah sampai di depan kelas Jihoon. Jihoon mengambil alih buku paket itu dari Kuanlin.

"Tapi gue nggak sakit"

"Udah diem aja. Tunggu gue sebentar"

Setelah mengantar buku paket ke dalam, Jihoon ijin ke kamar mandi pada guru nya. Lalu menemui Kuanlin yang masih bersandar di tembok kelasnya. Untung mereka tadi berhenti agak jauh dari kelas Jihoon, sehingga teman-temannya tidak tahu Kuanlin membantunya.

"Ayo" Jihoon menarik lengan Kuanlin.

"Sama-sama bolosnya, mending gue tidur di atap banyak anginnya"

"Lo bisa masuk angin, di UKS kan ada AC nya. Dan Lo nggak bolos. Gue bikinin surat ijin sakit, ntar gue anterin ke kelas lo" ucap Jihoon.

Tidak ada sahutan dari Kuanlin dan Jihoon hanya memikirkan perilakunya ini dalam diam. Kenapa dia peduli? Kalaupun Kuanlin bolos itukan bukan urusannya. Dan Kuanlin memang sudah terkenal tukang melanggar aturan. Dan kenapa Jihoon harus repot-repot membuatkan surat ijin ? jihoon tidak memahami dirinya sendiri, yang pasti dia melakukan apa yang dianggapnya benar.

.

.

.tbc

Haloo..Balik lagi bawa terusannya cerita nggak jelas ini..duh maaf malah update yang ini, karena aku lagi mabuk panwink..aduh nggak kuat bangeeet..makin lama mereka makin ngegemesin bangeeet...Jadi inspirasinya diotak isinya cuma PanWink... NEVER TEAM masih dalam tahap pengetikan dan stuck di 1k words, mohon bersabar yaaa..

Oiya, ada yang nyaranin buat posting di wattpad ya.. sebenernya aku juga punya akun wp sih tapi nggak punya followers karena cuma buat baca doang hahaa.. Jadi nggak yakin bakal ada yang baca disana hehehe

Udah gitu aja cuap-cuapnya..Masih dan selalu mengharap feedback dari kalian semua...maaciuuww..see you~