A/n:
Karena banyak yang minta ff ini dilanjutin, maka saya putuskan untuk bikin beberapa chapter lagi. Tapi mohon sorry ya dulur-dulurku sekalian, bulan ini gak bisa fast update karena tugas perkuliahan lagi edan-edannya. Seperti biasa, silahkan tumpahkan kekecewaan dan hujatan anda di kolom review karena chapter ini pendek sekali dan mungkin takkan cukup memuaskan bagi kalian yang haus akan CasWoo moment. Makasih juga yang udah review, much love 3
.
.
.
.
My Sexy Step Sister
.
.
.
Minho menatap khawatir pada handphonenya yang tergeletak di atas ranjang hotel. Sedari tadi, Lucas tak mengangkat panggilannya. Sumpah, ia bukannya mengkhawatirkan bocah setan itu, melainkan khawatir pada nasib anak tirinya yang cantik nan menggemaskan.
Minho sadar, di usia Lucas yang kelewat dewasa dan pantas disebut fase bujangan lapuk itu pasti Lucas sudah dikaruniai hormon seksual berlebih. Pertahanan diri Lucas yang payah ditambah kebolotan Lucas yang telah merambat sampai ke buah zakar membuatnya semakin khawatir. Bagaimana jika anak bujangnya malah kelepasan menggempur rahim Jungwoo? Ia tak mau berakhir menjadi besan Taemin.
"Haish! Semoga apa yang kubayangkan tak menjadi kenyataan. Awas saja bocah itu jika nanti malam masih tidak bisa kuhubungi!"
.
.
.
.
Hari ini, Jungwoo terlihat sedang bersantai di kamar Lucas. Wanita itu mengunyah popcornnya seraya menonton tv yang menampilkan film spongebob squarepants sedangkan sang pemilik kamar belum juga menampakan diri sejak satu jam yang lalu.
Brakk
"Kak Lucas, ada apa?" Tanya Jungwoo dengan suara kalemnya. Tak terlihat kaget sama sekali dengan tingkah bar-bar Lucas barusan.
"Tidak ada apa-apa. Kakak hanya terlalu bersemangat," jawab Lucas dengan senyum idiot yang terpampang di wajahnya.
Tangan kanan pria itu menenteng satu kresek berukuran besar sementara tangan lainnya bergerak lincah mengorek lubang hidungnya yang elastis. Ya, elastis. Percaya atau tidak, Lucas memang diberi keajaiban yang tak biasa. Konon menurut kesaksian beberapa tetangga, Lubang hidung pria berusia 27 tahun itu kabarnya bisa dimasuki jempol kaki.
"Itu apa?" Tanya Jungwoo. Tangannya terarah pada kantong kresek putih yang Lucas bawa.
"Perlengkapan khusus untukmu."
Lucas duduk dan melebarkan kedua kakinya kemudian menepuk area kosong di depannya agar Jungwoo duduk disana. "Kemarilah. Kakak mau mengepang-"
"Mengepang apa?"
"Rambutmu lah! Masa bulu ketiak!"
Dengan kepala tertunduk, Jungwoo berjalan mendekat lalu mendudukan diri diantara kaki Lucas. "Kakak marah padaku?"
"Tidak, sayang. Jangan buang air matamu di pagi hari, ok?" Mohon Lucas setelah melihat Jungwoo yang sepertinya siap menangis.
Merasa posisi duduk mereka kurang nyaman, Lucas memutar tubuh Jungwoo hingga gadis itu kini duduk membelakanginya. Sebenarnya alasan di balik itu semua bukan hanya karena posisi yang tidak nyaman, tapi iblis mesum dalam jiwanya kembali memberontak. Ia khawatir jika mereka terus duduk berhadapan, acara "mari mengepang rambut Jungwoo" berubah menjadi acara "mari menjepit sesuatu". Iya sesuatu. Sesuatu yang menonjol di balik tanktop biru yang Jungwoo kenakan.
"Kak Lucas, aku..."
"Ya? Kau apa?" Tanya Lucas penuh kelembutan.
"Maaf jika aku merepotkan."
"Siapa bilang-"
"Aku mau ke pantai."
"APA?!"
Lucas yakin bahwa dirinya tidak berada dalam satu garis keturunan dengan tarzan, tapi bagaimana bisa ia ditakdirkan memiliki suara yang teramat kencang? Adik sexynya itu pasti salah mengira bahwa pekikan kagetnya merupakan sebuah bentuk ketidaksetujuan, padahal ia kaget karena otaknya otomatis memikirkan beberapa kemungkinan.
Jika Jungwoo pergi ke pantai, maka tubuh molek adiknya itu pasti akan terumbar. Tidak mungkin ia menyuruh Jungwoo mengenakan mantel bulu tebal karena cuaca di pantai memang sangat panas. Jika harus memakai kemeja, para pengunjung pria mungkin bisa menerawang dada Jungwoo yang tak tertutup bra.
"Kakak tidak mau mengantarku?" Tanya Jungwoo dengan nada sedih.
"Dengar, jika kau ingin ke pantai, maka kita harus mempersiapkan banyak hal. Pertama, kita harus membawa bekal makanan jika memang kau mau berkemah disana. Kedua, kita harus membawa berbagai jenis pakaian yang bisa digunakan pada siang dan malam. Semua pakaian dalammu masih basah bukan? Kakak tidak mau tubuhmu-"
"Aneh. Biasanya jika aku mencuci di sungai, pakaian setebal apapun akan kering dalam waktu sehari atau paling lambat 2 hari. Tapi kenapa disini tidak pernah kering? Padahal itu hanya bra," sela Jungwoo dengan raut heran.
Lucas meneguk ludahnya gugup. Jelas cucian Jungwoo tidak pernah kering karena sejak tadi malam saja ia rajin membasahi bra Jungwoo setiap 2 jam sekali.
"Kakak tidak tahu tentang itu hehe. Oh ya, jika kau mau ke pantai, maka kau harus tahan berada di dalam mobil selama berjam-jam karena kita harus menempuh jarak puluhan kilometer. Kita akan pergi ke pantai yang sepi pengunjung. Bagaimana?"
Jungwoo sedikit memutar tubuhnya dan menatap Lucas seraya mengerucutkan bibir. Ia tampak sedang menimang-nimang.
"Baiklah. Lagipula aku tidak suka berada dalam keramaian. Kurasa pantai sepi pengunjung memang pilihan terbaik." Jungwoo mengelus rahang tegas Lucas dan tersenyum manis. "Karena aku tidak tahu apa saja yang harus disiapkan, aku hanya akan membantu menyiapkan bekal makanan. Kakak yang urus sisanya. Bagaimana?"
Lucas diam sejenak, merasa aneh dengan tindakan Jungwoo yang entah sejak kapan berani melakukan kontak fisik seintim ini. Jungwoo itu seperti gadis polos yang mencurigakan.
"Ok, sekarang kakak akan lanjut mengepang rambutmu. Berbaliklah sayang, nanti kakak kelepasan."
"Kelepasan?" Tanya Jungwoo seraya kembali ke posisinya.
"Ah lupakan," ujar lucas. Lelaki itu menyisir rambut Jungwoo pelan dan kembali melanjutkan ucapannya. "Hey, di pantai nanti kau mau main apa saja?"
Jungwoo tersenyum tipis. Wajahnya menghadap ke depan dengan pandangan kosong. "Aku mau membuat istana pasir. Winwin bilang tak lengkap rasanya jika kita ke pantai tanpa membuat itu. Lalu aku mau minum air kelapa muda sambil menikmati deburan ombak. Winwin bilang saat matahari tenggelam, lautan bagai lukisan. Pemandangan akan semakin indah dan entah mengapa hati akan terasa sedih setelah matahari tak nampak lagi. Saat itu tiba, kita akan terlarut dalam lamunan panjang. Dan aku...mungkin akan mengingat mendiang ayah, jadi jangan kaget jika nanti kakak mendapatiku menangis sendiri." Ujar Jungwoo lirih.
Gerakan Lucas terhenti sejenak. Ia terpana oleh ucapan polos Jungwoo yang entah mengapa bisa terdengar indah di telinganya.
"Nanti siang kita berangkat. Kakak akan menyewa dua kamar hotel untuk tempat tidur kita malam ini dan esok harinya kita akan berkemah. Jagung manis di kulkas masih ada kan? Bagaimana jika nanti kita panggang jagung dan daging? Untuk pemanggang-"
"Terima kasih." Jungwoo menoleh, menatap lucas dengan matanya yang berair. "Aku senang karena akhirnya seseorang bersedia mengantarku ke pantai," lanjutnya dengan senyum semanis gulali.
Lucas kembali terpana. Diameter mulutnya bertambah. Sadar akan ekspresi wajahnya yang mungkin akan terlihat konyol (walau ia yakin bahwa ketampanan wajahnya takkan pernah luntur dalam kondisi apapun), Lucas mengusap wajahnya seraya berkomat-kamit merutuki ayahnya yang bisa-bisanya mewariskan wajah seperti itu padanya. Selain julukan anak setan, sepertinya ia juga pantas mendapat julukan "makhluk laknat yang tak pandai bersyukur"
"Jungwoo, kau sungguh tidak pernah pergi ke pantai selama ini?"
Pertanyaan itu hanya dibalas anggukan singkat.
Jungwoo kembali mengalihkan tatapannya ke depan, sementara makhluk buram di belakangnya malah terlarut dalam lamunan.
Aku tidak tahu jika hidupnya ternyata semenyedihkan ini. Sejak kecil harus merawat ayahnya yang sakit keras sampai tidak sempat sekolah karena harus mencari uang. Ia membiarkan masa kecilnya dipenuhi kesedihan dan masa remajanya diliputi rasa kehilangan karena kepergian ayahnya sementara disini aku malah sibuk baku hantam dengan pak Choi sejak dahulu.
"Kak"
"Hng?"
"Tanganmu..."
"OMAYGHAD!" Pekik Lucas heboh saat sadar bahwa tangannya sudah bertengger di tempat yang salah selagi ia melamun tadi. Dan lebih bodohnya lagi, ia malah meremas dua gundukan itu sebelum melarikan diri ke kamar mandi.
Brakk!
"Ya tuhan, masih kenyal seperti malam tadi." Bisiknya kegirangan, tak mempedulikan nasib pintu kamar mandinya yang terkapar tak berdaya pasca mengalami kekerasan fisik berupa tendangan ala lionel messi.
Jungwoo mendecih dan menepuk-nepuk jejak tangan Lucas di dadanya. "Idiot!" Umpatnya nyaris tanpa suara.
Ekspresi innocentnya berganti menjadi ekspresi muak yang kentara.
"Bajingan mesum."
Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Lucas mungkin sedang mencuci muka atau mandi. Entahlah, Jungwoo terlalu malas memikirkan apa yang sedang dilakukan kakak tirinya di dalam sana.
Jungwoo beralih menatap handphone Lucas yang menyala. Handphone itu tergeletak di belakang tubuhnya dengan layar yang menampilkan sebuah nama.
Pak Choi.
"Halo?"
"Mana Lucas? Kau tidak diapa-"
"Dia melecehkanku, ayah."
"APA?!"
Jungwoo menyeringai tipis. "Hukum dia sekembalinya ayah nanti. Tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja dan tolong jangan beritahu ibu tentang hal ini. Sampai jumpa nanti~"
Jungwoo kembali menaruh handphone Lucas setelah menghapus riwayat panggilannya.
Lucas keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar. Titik-titik air yang jatuh dari ujung rambutnya tampak sedikit membasahi kaos yang Lucas kenakan.
"Jungwoo, maaf-"
"Maaf?" Tanya Jungwoo dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Ia berkedip pelan, tampak kebingungan. "Maaf untuk apa?"
"Insiden tadi." Jawab Lucas dengan senyum canggung.
Jungwoo terkekeh dan mengangguk. "Aku tahu kakak tidak sengaja hehe."
Lucas memalingkan wajahnya ke arah lain, tak mampu menahan debaran di dadanya karena senyuman Jungwoo yang teramat indah di matanya. Lucas tidak sadar bahwa senyuman indah Jungwoo hanyalah topeng.
Jungwoo kembali menyeringai. Akan kubiarkan kau bersenang-senang selama 2 minggu, membodohi, melecehkanku dan merasakan sensasi terbang ke langit ke-7. Hari-hari selanjutnya akan kubuat hidupmu bagai di neraka. Tunggu saja pembalasanku, bajingan mesum!
TBC
