Winter
.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Mereka semua milik Tuhan
Cast : DBSK, Super Junior, Astro, BTS dll
Genre : Yaoi, Family, Hurt, Angst, Drama, Romance
Rate : T
Happy reading!
.
.
.
.
.
~ Chapter 1 ~
.
.
.
.
.
.
" Moonbin ah... Kau yakin dengan keputusanmu?"
" Ya seonsaengnim, saya rasa ini yang terbaik"
" Kau melewatkan beasiswamu yang kesepuluh tahun ini"
" Aku... Tidak mungkin meninggalkan eommaku sendirian disini"
" baiklah kalau begitu"
" Saya permisi dulu"
Namja tinggi bernama Moonbin itu membungkukkan tubuhnya kemudian keluar dari ruang guru diiringi dengan tatapan sedih dan kecewa pada Moonbin yang kembali menolak beasiswa dari sekolah bergengsi di Seoul. Kali ini Toho International School yang ditolak oleh Han Moonbin.
Moonbin berjalan cepat menuju kamar mandi, dalam hatinya dia terus menggumamkan kalimat 'Aku baik – baik saja karena ini yang terbaik' berulang kali. Saat masuk ke dalam kamar mandi dia menuju wastafel dan membasuh wajahnya. Rasanya segar, namun tidak dengan hatinya. Moonbin melihat pantulan dirinya di kaca, menyedihkan! Matanya memerah karena menahan tangis yang hendak keluar!
Drrt~~
Ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, Moonbin merogoh kantong seragam celananya dan mengambil benda persegi empat itu.
'From : Suie Ahjumma tersayang
Bagaimana?'
'To : Suie Ahjumma tersayang
Aku sudah menolaknya ahjumma'
'From Suie Ahjumma tersayang
Gwaenchana? Kau pasti sedang di kamar mandi untuk membasuh wajahmu bukan?'
' To : Suie Ahjumma tersayang
Darimana ahjumma tahu?'
'From : Suie Ahjumma tersayang
Aku mengenalmu sejak dalam kandungan eommamu. Dan hanya aku yang tahu apa yang akan kau lakukan setelah menolak beasiswa – beasiswa sekolah bergengsi itu. Kau tidak mungkin menunjukkan wajah sedih dan kecewamu pada eommamu bukan? Hanya ahjumma yang tahu itu"
Moonbin diam, jarinya tidak bisa mengetik balasan untuk Junsu karena yang dikatakan oleh namja itu adalah sebuah kebenaran. Dia tidak mau membuat eommanya sedih karena keinginannya bersekolah di Seoul. Tidak, cukup sekali dia melihat eommanya menangis karena dia keras kepala ingin menerima sebuah beasiswa dua tahun lalu saat usianya sepuluh tahun.
Padahal Junsu sudah menjamin bahwa Moonbin akan aman tinggal bersamanya tapi eommanya masuk ke dalam kamar dan menangis seharian di sana. Darimana Moonbin tahu eommanya menangis? Tentu saja dia menguping dan itu membuatnya merasa sangat bersalah dan akhirnya selalu menolak beasiswa yang datang padanya.
Drrtttt~~ Drrttt~~
" Ne ahjumma..."
" Kenapa tidak membalas pesan ahjumma eoh?"
" Maaf"
" Sudah, sana kembali ke kelas. Berikan senyuman terbaikmu dan pasti akan ada jalan keluar dari masalahmu. Oke? Jangan putus asa"
" Terima kasih ahjumma"
" Iya"
PIK
Moonbin memutuskan sambungan ponselnya kemudian menghela nafasnya dan mencoba tersenyum dan keluar dari kamar mandi itu. Perjalanan menuju kelas diiringi teman seangkatan maupun hoobae yang menyapa Moonbin, Moonbin balas sapaan mereka dengan ramah. Mau bagaimanapun walaupun dia sudah kelas sembilan, usianya jauh dibawah mereka. Dia masih dua belas tahun tahu!
" Sudah kembali?"
" Ne Kai hyung"
Moonbin duduk disamping temannya dan menaruh kepalanya di atas meja.
" Tolak lagi?" Tanya temannya
" Iya"
" Eommamu lagi?"
" Yah mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin meninggalkan eommaku sendirian"
" Tapi kau berbakat Bin"
" Tidak apa hyung, yang penting eommaku tetap tersenyum"
" Kau anak yang baik, aku jadi ingin mengajakmu membolos"
PLETAKK~
" Awwhh!"
" Jangan ajarkan Moonbin kelakuanmu yang jelek itu"
Itu adalah suara ketua kelasnya, biasa dipanggil Jinjin hyung oleh Moonbin, pendek namun galaknya minta ampun. Tapi Moonbin tahu jika Jinjin menganggap Moonbin seperti adiknya sendiri, buktinya dia tidak akan membiarkan Moonbin bolos mengikuti apa kata si berandal Kai.
" Pulang sekolah makan es krim yuk?" Ajak Jinjin dan Kai mengangguk
" Tidak bisa, aku ingin membantu eomma saja" Jawab Moonbin
" Kau benar – benar anak yang baik" Ucap Jinjin
" Tidak usah memuji seperti itu hyung!"
Sementara itu seorang namja terbilang cantik tengah membuka sebuah pintu rumah yang tidak lain adalah tempat tinggal yang kecil namun nyaman. Dia harus memasakkan makan siang untuk anaknya sebelum kembali ke toko roti. Dia langsung memasuki area dapur setelah berhasil masuk, menyiapkan bahan makanan dan mulai memasak makanan kesukaan anaknya.
Satu jam lebih kemudian pekerjaannya selesai dan dia memutuskan untuk duduk di sofa ruang tengah, menyalakan televisi dan melihat acara televisi itu sampai tangannya berhenti di satu channel.
" Diketahui jika anak pengusaha Jung Yunho pergi ke sebuah taman bermain bersama dengan tunangannya..."
Jaejoong adalah nama namja cantik yang sedang menonton acara itu, dia menyunggingkan senyuman saat layar televisi menampilkan wajah seorang namja bermata agak bulat menunjukkan wajah datarnya.
" Sama sepertinya, datar..." Lirih Jaejoong " Tunanganmu manis..."
Drttt... Drtt...
Jaejoong menoleh, dia mendapati ponselnya bergetar. Dia mengambilnya dan mengangkat sambungat teleponnya itu.
" Kenapa Suie?" Tanya Jaejoong
" Sedang apa hyung?"
" Menonton televisi"
" Huh? Gosip?"
" Iya"
" Aigo..."
" Kenapa menelepon"
" Hanya rindu, memang tidak boleh?"
" Boleh kok. Tumben saja"
" Bagaimana toko?"
" Bagus, ah! Laporan bulan kemarin aku kirim besok ya, toko sedang ramai"
" Santai saja hyung. Hmm... Hyung... Bisakah kau melakukan sesuatu?"
" Apa?"
" Pergilah ke kamar Binnie"
" Untuk?"
" Lakukan saja hyung"
" Oke"
Jaejoong mengikuti interuksi yang diberikan Junsu, namja yang sudah menyelamaatkannya saat dia terdampar di daerah yang bahkan dia tidak tahu namanya dulu.
" Sudah" Ucap Jaejoong
" Buka laci pertama pada meja belajar Binnie"
" Huh?"
Walaupun bingung Jaejoong tetap mengikuti apa yang Junsu inginkan, dia pergi ke meja belajar anaknya dan duduk di kursi meja belajar Moonbin. Beberapa figura berisikan foto dirinya dan Moonbin terpampang jelas disana, juga ada foto Junsu, suaminya dan Moonbin ada di sana. Kenangan yang indah.
" Sudah hyung?"
" Sebentar"
Jaejoong meletakkan ponselnya di meja dan membuatnya menjadi mode loudspeaker, dia membuka laci pertama meja belajar Moonbin dan melihat isinya. Tidak ada yang aneh, hanya ada stok peralatan sekolah Moonbin yang memang dibelikan oleh Jaejoong.
" Hyung melihat sebuah kunci disana?" Tanya Junsu
" Ya, ada satu kunci berwarna emas"
" Ambil dan carilah sebuah kotak di bawah tempat tidur Moonbin"
" Huh? Kalian menyembunyikan sesuatu di belakangku?"
" Ikuti saja dan hyung akan tahu apa yang kami sembunyikan"
Jaejoong mengambil kunci berwarna emas dan ponselnya, meletakkan ponselnya di atas tempat tidur dan duduk di lantai dekat tempat tidur Moonbin, dia menunduk, mencari kotak yang dimaksud oleh Junsu. Ada beberapa kotak di bawah tempat tidur Moonbin tapi tanpa memerlukan kunci untuk membukanya.
Namja cantik itu mengeluarka kotak – kotak itu dari bawah kolong tempat tidur Moonbin sampai dia berhasil menggapai satu kotak berwarna hitam dan memerlukan kunci untuk membukanya.
" Kotak berwarna hitam?" Tanya Jaejoong
" Ya, kau bisa membukanya hyung, aku yang mengizinkan"
" Kenapa kau yang harus mengizinkan? Ini kan punya anakku?"
" Karena hanya kami yang berhak memberikan izin untuk membuka kotak itu hyung"
Jaejoong jadi semakin penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Junsu, perlahan dia membuka kotak itu dan matanya membulat. Lembaran amplop putih dengan dengan berbagai desain ada di sana, tapi bukan sembarang desain. Desain ini adalah lambang, lambang sebuah sekolah.
Diambilah satu amplop dari dalam kotak itu dan Jaejoong memperhatikannya, anaknya pernah memberikan amplop ini dan setelah Jaejoong membacanya dia merasa jengah dan lelah kemudian membuangnya ke tempat sampah tepat di hadapan Moonbin.
Anaknya tidak menunjukkan ekspresi apapun saat itu, tertawa tidak, menangis tidak, hanya wajah datar. Kemudian pergi meninggalkan eommanya begitu saja, Jaejoong tidak tahu jika Moonbin mengambilnya lagi dari tong sampah dan menyimpannya?
Jaejoong kemudian mengambil amplop lain dan membuka isinya, tanggal yang tertera adalah tanggal setelah amplop pertama, kenapa Moonbin tidak memberitahunya tentang hal ini? Kenapa dia menyembunyikannya? Apa... Moonbin tahu jika kertas – kertas itu hanya akan berakhir sama mengenaskannya dengan yang sebelumnya?
" Hyung sudah melihatnya? Semua?"
Suara dari ponsel itu membuat Jaejoong tersentak dan menolehkan kepalanya.
" Ap-apa maksud semua ini Su? Kenapa dia menyimpan semua surat beasiswa ini?"
Ya,
Yang disembunyikan oleh Moonbin dan Junsu adalah semua surat beasiswa yang Moonbin terima selama ini. Namja kecil yang sudah Junsu anggap anaknya sendiri itu mengyembunyikan semua ini karena dia tidak mau surat yang menurutnya berharga itu dibuang oleh eommanya lagi.
" Surat itu... Sangat berharga untuknya hyung... Binnie bahkan masih menyimpan surat beasiswa pertamanya di dalam kotak itu. Kau merobeknya dan membuangnya bukan? Tapi Binnie mengambilnya dan menyatukannya kembali. Dia menyimpannya"
" Kenapa?"
" Kau ingat saat terakhir Binnie memberikan surat beasiswa padamu, saat itu wajahnya datar bukan? Tidak lama dia izin padamu untuk main. Tapi dia tidak pergi main hyung, dia ke rumahku. Menangis dalam pelukanku"
" M-mwo?"
" Sejak itu dia tidak memberitahu hyung jika dia mendapatkan beasiswa dari manapun tapi dia bercerita padaku. Selalu... Aku bahkan tahu kebiasaannya setelah menolak beasiswa yang selalu diidamkannya itu. Dia pergi ke toilet, membasuh wajahnya... Ah bukan... Dia menangis tapi menyamarkannya dengan membasuh wajahnya, dia tidak mau terlihat lemah hyung" Jelas Junsu dengan suara bergetar, jelas saja dia tengah menahan tangisnya
" Ak-aku tidak tahu..."
" Binnie tidak mau mendengarmu menangis hyung, itu sebabnya dia selalu menolak semua beasiswa yang diterimanya walaupun itu berarti dia mengorbankan dirinya. Tapi... Beasiswa terakhir yang diterimanya adalah impiannya hyung... Dia ingin sekali bersekolah di sana"
" Tidak... Binnie tidak akan pergi dariku..."
" Hyung, Binnie tidak akan meninggalkanmu... Dia akan ada denganku di sini jika kau mengizinkan"
" Tidak Su... Aku tetap tidak mengizinkannya"
" Kenapa? Sebenarnya kenapa hyung tidak mengizinkannya pergi ke Seoul? Hyung teringat kecelakan yang membuat suami hyung meninggal?"
Jaejoong memejamkan matanya dengan erat dan airmata mengalir dari kedua mata indahnya.
" Hyung.." Panggil Junsu dengan lirih
"..."
" Jangan menangis, aku mohon"
CEKLEK
" Eomma, eomma disi-"
Saat Jaejoong mendengar suara anaknya dia langsung membuka matanya, di depan pintu sana berdiri sang anak dengan wajah kagetnya. Jaejoong segera memutuskan panggilan teleponnya dengan Junsu dan menatap Moonbin.
" E-eo-eomma... Itu..."
" Kenapa kau menyimpannya?" Tanya Jaejoong dengan suara lirih
" Eomma... Binnie mohon jangan buang semua surat itu"
Jaejoong tersentak mendengar suara lirih Moonbin juga mata berkaca – kaca yang ditunjukkan oleh Moonbin. Sudah lama sekali dia tidak melihat Moonbin menunjukkan wajah sedihnya.
" Eomma... Maafkan aku, tapi jangan buang semua surat itu"
" Kenapa?"
" Semua berharga untukku... Eomma boleh melarangku untuk pergi ke sekolah mereka tapi jangan membuang semua suratku"
" Han Moonbin"
Moonbin memejamkan matanya dengan erat saat sang eomma memanggil nama lengkapnya dan tentu saja itu bukan pertanda yang baik. Terlebih saat ini dia mendengar suara langkah kaki eommanya mendekat ke arahnya.
GREPP
Moonbin tersentak saat merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya, perlahan dia membuka matanya dan terpaku karena saat ini sang eomma tengah memeluknya dengan erat dan terisak.
" Eo-eomma... Jangan menangis... Ak-aku tidak akan menerima beasiswa manapun jika eomma menginginkan hal itu"
" Kenapa?" Tanya Jaejoong, dia merenggangkan pelukannya
" Jika eomma tidak sanggup aku berada jauh dari eomma maka aku akan lakukan. Melihat eomma menangis membuat hatiku teriris eomma... Aku sangat menyayangi eomma dan tidak mau eomma menagis karenaku" Lirih Moonbin
Jaejoong menarik anaknya kembali memeluk anaknya dengan erat.
" Maafkan eomma... Maaf Binnie ah..."
" Gwaenchana eomma" Lirih Moonbin, sepertinya dia memang harus melupakan impiannya untuk mendapatkan beasiswa yang dia inginkan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah kejadian mengharubiru itu Jaejoong mengajak anaknya untuk makan siang bersama dan mereka pergi ke toko kue milik Junsu. Di sana, Moonbin memang senang sekali membantu di dapur. Membuat adonan, menghias kue dan berbagai pekerjaan lainnya.
Yah...
Sikap Moonbin sangat dewasa padahal usianya baru mencapai dua belas tahun, hal itu karena dia sadar jika sang eomma hanya memilikinya. Appanya? Sang eomma bercerita jika appanya meninggal dalam sebuah kecelakaan di Seoul dan itu alasan pertama kenapa Jaejoong tidak mau kembali ke Seoul karena jika kembali ke sana, hanya akan mengingatkannya dengan kenangan pahit yang dia lalui.
Jaejoong menatap anaknya yang kini membuat adonan kue, wajah tampannya terkena tepung namun sepertinya Moonbin belum menyadarinya. Jika dilihat seperti ini Moonbin sama sekali tidak mirip dengannya, tapi mirip dengan seseorang... Appanya...
" Hah..."
" Kau kenapa oppa?"
Jaejoong menoleh, mendapati salah satu karyawan toko kue menatapnya dengan bingung. Jaejoong menggelengkan kepalanya.
" Seulgi yah... Boleh aku bertanya?"
" Hmm?" Seulgi bergumam sementara tangannya sibuk mengocok putih telur
" Kau kan sarjana, kenapa mau bekerja di toko kue yang kecil ini?"
" Oppa... Pendidikanku memang tinggi tapi itu bukan yang aku mau. Aku ingin meraih cita – citaku dan Junsu oppa membantuku melalui toko kuenya"
" Maksudmu?"
" Aku ingin menjadi seorang pembuat kue yang handal tidak peduli seberapa keras orangtuaku melarang. Aku tahu mereka ingin yang terbaik untukku tapi aku tahu apa yang terbaik untukku oppa"
" Begitu?"
" Ya... Aku selalu merasa berdosa jika sudah melawan kedua orangtuaku yang tidak senang dengan pekerjaanku saat ini. Hah..."
Tapi Moonbin tidak.
Anaknya itu selalu menurutinya, patuh terhadap apa yang Jaejoong perintahkan. Moonbin-nya yang mengorbankan impiannya karena keputusan egois yang Jaejoong berikan. Moonbin... Yang ingin meraih cita – citanya setinggi mungkin tapi Jaejoong terus mematahkan sayapnya bukan mendukungnya.
Orangtua macam apa kau, Jaejoong?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Binnie ah... Makan dulu..."
Jaejoong menaruh sepiring nasi beserta lauknya di atas meja makan sementara Moonbin sibuk dengan ponselnya entah sedang apa.
" Sebentar eomma"
" Sedang apa sih?"
" Ini, bendahara kelas sedang melakukan tutup buku kas bulanan dan meminta bantuanku untuk menghitung. Lalu Im Ssaenim memintaku datang pagi besok untuk membantunya di ruang guru, juga sekretaris komite memintaku untuk membantunya membuat proposal festival sekolah tahun ini"
" Kau sibuk sekali ya..." Gumam Jaejoong
" Sebentar... yap! Selesai, nanti lagi. Aku lapar"
Moonbin meletakkan ponselnya dan kini mendekatkan piring yang tadi diletakkan oleh eommanya, memakan semuanya dengan lahap sementara sang eomma memandangi anaknya dengan memangku wajahnya menggunakan tangan.
Anaknya itu makannya banyak juga lahap. Jaejoong jadi senang jika melihat seseorang makan seperti itu. Mungkin... Dia tengah teringat dengan seseorang?
" Eomma... Sup ayamnya enak. Masih ada?" Tanya Moonbin
" Ada, sini biar eomma ambilkan lagi"
Moonbin menggeser mangkuknya, kemudian Jaejoong mengambilnya dan membawanya menuju konter dapur sementara Moonbin mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan dari ahjummanya.
'From : Suie ahjumma tersayang
Otte?'
'To : Suie ahjumma tersayang
Aku sudah melupakan keinginanku ahjumma, aku tidak sanggup saat melihat eomma menangis'
'From : Suie ahjumma tersayang
Hah... Susah sekali ya...'
" Sedang apa?"
" Eoh?"
Moonbin mengunci ponselnya dan meletakkannya di atas meja, dia menggeleng dan mengambil mangkuk yang dibawa oleh eommanya kemudian dia melanjutkan makannya dalam diam. Satu jam kemudian Moonbin pamit untuk belajar, sang eomma tentu menginzinkannya tanpa tahu apa yang sebenarnya Moonbin lakukan.
Namja berusia dua belas tahun itu hanya berbaring di atas tempat tidur, memandangi sebuah surat eksklusif yang baru saja dia tolak tadi siang, beasiswa Toho School sampai jenjang kuliah. Dia ingin menjadi dokter, paling tidak ilmuwan atau seorang astronom dan Toho School adalah sekolah internasional yang memiliki pelajaran dan peralatan belajar yang paling lengkap.
TES
Airmata Moonbin menetes, dia sebenarnnya tidak rela beasiswa Toho School harus dilepaskan begitu saja karena sangat sulit mendapatkannya, tapi... Demi eommanya dia akan melupakannya. Juga melupakan keingintahuannya tentang kenapa foto seorang Jung Yunho dan Jung Changmin yang terlihat masih kecil tersembunyi di dalam dompet eommanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
CEKLEK
Jaejoong membuka pintu kamar anaknya, menatapnya sebentar kemudian berjalan menghampiri tempat tidur sang anak. Dia duduk dipinggir tempat tidur Moonbin dan mengusap rambut Moonbin dan dia melihat sesuatu tengah digenggam oleh Moonbin.
Jaejoong mengambilnya dengan perlahan karena takut membangunkan sang anak, sebuah surat. Dia perlahan membukanya dan membaca isi dari surat itu. Surat beasiswa dari Toho International High School. Jaejoong sebenarnya bangga pada anaknya yang sangat pintar, ingin sekali Moonbin sekolah di tempat yang paling bagus.
Bukan karena keuangan Jaejoong tidak memberikan izinnya, jika beasiswa itu tidak di Seoul pasti Jaejoong akan mengizinkannya tapi kenapa harus di sana?
" Kau begitu menginginkannya sampai kau menangis hum? Maafkan eomma ya baby..."
CUP
Jaejoong mengecup puncak kepala anaknya dan mengusap pinggir mata Moonbin yang terlihat bekas tangisannya. Dia tahu, Toho High School adalah tujuan utama Moonbin karena disana memiliki fasilitas yang lengkap tapi... Apa Jaejoong sanggup melepas Monnbin setelah kejadian buruk menimpa dirinya di Seoul?
" Hah..."
Jaejoong meghela nafasnya, dia beranjak dari sana setelah menempatkan surat beasiswa itu pada meja belajar Moonbin. Masuk ke dalam kamarnya, Jaejoong mengambil ponselnya dan menghubungi Junsu.
" Kenapa hyung?" Tanya Junsu
" Aniya... Hanya... Junsu... Soal beasiswa Moonbin"
" Kenapa hyung? Dia sudah menolaknya bukan?"
" Aku... Terlalu egois ya?"
" Boleh aku jujur kan? Ya... Kau terlalu egois hyung"
" Tapi aku takut Su..."
" Apa yang kau takutkan hyung? Moonbin akan baik – baik saja bersamaku disini, sebenarnya apa yang membuatmu berat melepaskan Moonbin, hyung?"
Jaejoong menggigit bibir bawahnya, dia akan menceritakan hal sebenarnya kenapa Jaejoong tidak mau Moonbin pergi ke Seoul. Yah... Semuanya, tanpa dia tutup – tutupi lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Pagi eomma..."
Moonbin menatap sang eomma setelah memakai seragam sekolahnya dengan rapi dan duduk berhadapan dengan sang eomma di ruang makan.
" Habiskan sarapanmu, eomma ada perlu pagi ini jadi kita langsung berangkat ya"
" Oke"
Tanpa banyak kata Moonbin memulai sarapannya, setelahnya mereka berangkat bersama menuju halte bus dan berpisah di sana karena toko kue milik Junsu letaknya tidak jauh dari sana. Moonbin berdiri di dalam bus karena sedang ramai, dia jadi ingat tentang surat beasiswa Toho School yang entah kenapa ada di atas meja, mungkinkah eommanya yang menaruhnya disana? Hmm...
" Stt... Sttt... Bin Bin"
" Hmm?"
Saat pelajaran terakhir, tepatnya lima menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi, teman sebangku Moonbin memanggilnya pelan – palan. Moonbin yang sedang malas hanya bergumam, dia sendiri sedang mencoret – coret bukunya. Dia sedang tidak mood untuk belajar.
" Bin, bukan itu eommamu?"
" Jangan membual hyung, eommaku sedang bekerja" Jawab Moonbin tanpa melihat Kai dan terus mencoret – coret bukunya
" Yak! Lihat itu, semua sedang melirik ke arah jendela. Eommamu sedang bersama kepala sekolah"
" Ish hyung~~ Jangan menggangguku"
Walaupun begitu Moonbin menoleh dan matanya membulat melihat eommanya berdiri di samping kelas bersama kepala sekolahnya, entah apa yang mereka bicarakan namun eommanya selalu menanggapinya dengan senyuman setelah berbicara.
" Aigoo... Binnie ah... Kau mau tidak hyung jadi appamu?"
" Hyung sudah tidak waras eoh? Sana berobat"
" Eommamu terlihat sangat muda, orang yang tidak tahu pasti mengiranya masih anak kulihan Bin"
Moonbin membenarkan ucapan Kai, eommanya sudah kepala tiga tapi lihat saja... Semua yang dikelas Moonbin bukan lagi melirik ke arah jendela tapi menatap jendela dimana eomma Moonbin berdiri. Tidak namja, yeoja juga itu mengagumi kecantikan eommanya.
" YAK! Perhatikan kemana mata kalian!"
Sang guru yang ada di depan kelas akhirnya menyadari kemana mata para siswanya tertuju, dia juga sangat mengagumi eomma dari salah satu siswa itu. Terlihat fresh dan menggiurkan ughh~~
" Yaaahhhh~ Pemandangan ini sayang dilewatkan ssaem, jarang – jarang kan eomma Moonbin datang ke sekolah" Ucap Kai dan di setujui oleh teman – teman sekelasnya
" YA! Dia eommaku!" Pekik Moonbin tidak terima
" Berbagilah sedikit Bin..."
" Mwo? Memangnya eommaku barang?!"
TRIIINGGG~~~~
Bel pulang sekolah berbunyi dan bertepatan dengan itu kepala sekolah masuk bersama eomma Moonbin.
" Silahkan dilanjutkan dulu"
Jinjin selaku ketua kelas memberi aba – aba untuk memberikan salam pada gurunya dan mereka pun mengakhiri pelajaran mereka. Beberapa orang sibuk memasukkan buku ke dalam tas dan sisanya menatap kagum pada Jaejoong.
" Eomma ada apa kemari?" Tanya Moonbin setelah memakai tasnya
" Binnie ah"
" Mari ke ruangan saya" Ajak kepala sekolah da Moonbin makin bingung jadinya
Di dalam ruang itu Moonbin duduk berdampingan dengan eommanya sedangkan kepala sekolahnya duduk berdampingan dengan guru pembimbing Moonbin.
" Jadi Moonbin ah, eommamu kemari untuk menandatangai surat persetujuan tentang beasiswa Toho High School"
" Hah?"
" Semua sudah beres dan kau akan berangkat ke Seoul minggu depan"
Moonbin mengedipkan matanya berkali – kali, dia pasti sedang bermimpi! Bagaimana tidak? Kemarin eommanya masih tidak mau melepaskannya dan tadi kepala sekolahnya berkata Moonbin akan pergi ke Seoul minggu depan?
" Eomma...?"
" Ya sayang? Seperti yang kepala sekolahmu ucapkan, kau akan pergi ke Seoul minggu depan dan bersekolah di Toho School, sekolah yang kau impikan"
" Be-benar? Ini bukan mimpi?"
" Kau maunya bagaimana? Dibatalkan saja?"
" ANIYA! Huuwwaaaaa~~~~ Terima kasih eomma!"
Moonbin bangkit dari duduknya dan langsung memeluk eommanya, menangis penuh haru dan terus mengucapkan teroma kasih pada eommanya. Kedua orang yang ada di depan mereka juga ikut terharu melihat pemandangan indah di depan mereka.
Selama perjalanan pulang mereka hanya diam namun tangan Jaejoong menggenggam erat tangan Moonbin. Menikmati pemandangan desa dalam diam dan Moonbin menyukai hari ini! Dia tidak sabar untuk menceritakan semua ini pada Junsu ahjummanya nanti!
Usai makan malam, Jaejoong meminta Moonbin untuk duduk berhadapan dengannya, dia mengambil dua buah kursi dan mereka duduk berhadapan. Moonbin gugup, dia tidak tahu apa yang akan eommanya katakan.
" Dengarkan eomma..."
" Ne eomma?"
" Suie akan datang tiga hari lagi. Kau akan tinggal bersama mereka dan jangan menyusahkan mereka. Mengerti?"
" Ne eomma"
" Ingat..." Jaejoong menggenggam kedua tangan anaknya, merasakan perbedaan yang signifikan saat mengingat betapa tangan Moonbin dulu tapi sekarang anaknya sudah besar " Jaga Jimin seperti dia saudaramu sendiri, kabari eomma setiap hari agar eomma tidak merasa kesepian"
Oh tidak...
Baik Jaejoong maupun Moonbin tengah menahan airmatanya agar tidak keluar tapi airmata Moonbin jatuh saat melihat eommanya menangis.
" Eomma..."
" Raih apa... Hiks... Yang kau inginkan, jangan menyerah dan eomma minta maaf karena sudah mengekangmu selama ini"
" Aniya~~"
Moonbin bangun dari duduknya dan memeluk sang eomma, rasa sedih mulai memasuki dirinya saat sang eomma berbicara seperti itu. Dia tidak mau meninggalkan eommanya tapi dia juga ingin meraih cita – citanya.
" Jaga kesehatanmu di sana eoh?"
" Iya eomma... Iya"
Dan Moonbin terus mencoba menenangkan sang eomma yang sebenarnya masih belum rela ditinggalkan olehnya.
.
.
.
.
- SATU MINGGU KEMUDIAN -
.
.
.
" Ingat! Jangan menyusahkan Suie ahjumma dan bantu dia, kau harus ingat Suie ahjumma tengah hamil sekarang"
" Ne!"
Saat ini mereka berada di depan rumah Jaejoong, beberapa karyawan juga ikut mengantarkan Moonbin karena Moonbin adalah kesayangan mereka. Moonbin memeluk erat eommanya.
" Eomma akan datang saat kau membutuhkan eomma, oke?"
Moonbin mengangguk dalam pelukan sang eomma. Jaejoong menepuk punggung Moonbin dan menangkup wajah anaknya yang sudah mulai dewasa, dia mengecup kening Moonbin lama dan melepaskannya. Bergantian dengan Junsu yang sekarang berada di depannya, dia memeluk sang sahabat dengan erat.
" Jaga Moonbin untukku"
" Tentu hyung"
" MOONNBIINNNN!"
Teriakan itu membuat Jaejoong melepaskan pelukannya dan melihat beberapa namja dan yeoja berlari menghampiri mereka. Jaejoong tahu mereka adalah teman sekelas Moonbin.
" Hyung? Noona deul? Kenapa kemari?" Tanya Moonbin mengerutkan keningnya
" Tentu saja mengantarmu pabbo" Ucap Kai
" Aigoo..."
Moonbin memeluk mereka satu persatu, yang Jaejoong lihat anaknya sangat supel dan bisa membaur dengan siapa saja jadi tidak ada kecanggunggan saat dia memeluk teman sekolahnya baik itu namja ataupun yeoja.
" Kabari kami di chat grup oke?"
" Iya hyung, noona... Tenang saja"
" Ya sudah"
Moonbin akhirnya masuk ke dalam mobil, setelah melihat Junsu dan Jaejoong berpelukan. Rasanya berat juga meninggalkan keluarga satu – satunya yang dia miliki. Tapi dia berjanji akan segera kembali membawa banyak penghargaan dan menjadi kebangaan eommanya.
Jaejoong tidak bisa menahan harunya, dia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya sementara salah satu karyawan toko kue merangkul dan mengusap punggung Jaejoong. Anaknya pergi tapi pasti kembali bukan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Selamat pagi ahjusshi"
Seorang namja berambut ikal masuk ke dalam apartemen modern yang sangat besar dan langsung menuju ruang makan, disana dia bertemu namja lainnya namun berbeda usai.
" Pagi"
" Ugh? Chwang belum bangun?"
" Belum"
" Astaga! Kami ada ulangan dan dia belum bangun juga? Ck"
" Bangunkan saja, kau bawa apa Kyu?"
" Ah... Ini kimchi untuk persediaan disini dan makan siang untukku dan Chwang"
" Oh..."
" Ya sudah, aku permisi untuk membangkan Chwang dulu ahjusshi"
" Ya"
Namja berambut ikal itu naik ke lantai dua di dalam apartemen itu dan langsung mengetuk pintu bercat putih yang ada di sana.
" Chwang?"
TOK TOK TOK
Tidak mendapatkan jawaban yang cukup lama membuat namja itu membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
" Tumben?"
Namja berambut ikal itu masuk dan melihat seseorang masih terbaring di atas tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang. Dia duduk dipinggir tempat tidur dan memperhatikan wajah namja yang biasa dia panggil dengan Chwang.
" Aku lebih suka melihatmu tidur daripada terbangun karena kau selalu saja berkata pedas padaku. Padahal aku sangat mencintaimu Chwang" Lirihnya kemudian jari telunjuknya bermain di atas pipi namja yang sedang tidur itu
Dia menatap meja nakas namja bernama asli Changmin, disana ada foto yang terpanjang. Foto dirinya dan Changmin saat bertunangan dua tahun yang lalu, saat usianya lima belas tahun. Dia menaruhnya dengan paksa di meja nakas Changmin karena namja itu tidak mau tapi saat dia menangis barulah Changmin mengizinkan, itu pun dengan setengah hati.
" Ngh..."
" Omo!"
" Sedang apa kau disini Cho Kyuhyun?"
'Tuh kan...' Batin namja bernama Kyuhyun
" Membangunkanmu, karena kita ada ulangan pagi ini"
" Lalu?"
" Hmm? Tidak"
" Keluar"
" Iya"
Kyuhyun bangkit dari duduknya, Changmin juga ikut bangkit. Baru beberapa langkah Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat ke arah Changmin.
CUP
TAP
TAP
TAP
TAP
CEKLEK
" YAK! CHO KYUHYUN!"
Kyuhyun terkekeh karena teriakan Changmin, namja itu tidak menyukai skinship tapi Kyuhyun masa bodo dengan hal itu. Dia tadi mengecup pipi Changmin dan berlari dari sana sebelum Changmin mengejarnya dan memukul bibirya, tidak kencang tapi tetap saja sakit.
" Aku tunggu di bawah Chwang!" Pekik Kyuhyun kemudian berjalan ke lantai satu dan melihat namja yang merupakan appa dari Changmin sudah bersiap di pintu " Ahjusshi sudah mau pergi?"
" Ya, ada meeting pagi ini. Kenapa dia?"
" Aku mencium pipinya dan dia berteriak hehehe..." Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Mr. Jung menggelengkan kepalanya kemudian beranjak dari sana, pergi ke kantor karena dia percaya jika Kyuhyun bisa menemani anaknya. Sementara itu Kyuhyun menatap lantai dua aparetemen itu dengan pandangan sendu.
" Sampai kapan kita seperti ini Chwang ah?"
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
Yaaaapppp...
Sudah up chap 1 nya, otte?
.
Special Thanks :
.
endahae (iya deh), zahra32 (ho oh), ismimimi05 (gak sambung"an kok, beda cerita semua hehehe), yong1237 (1 kotak aja kok tisunya), kjongsoo1214 (iyo), LittleOoh (iya), femix (hmm... gak tau?), Bunny (iya kan prolog makanya sedikit wkwkwkwk), shipper89 (kenapa cobaa), dyana280688 (mungkin?), Park RinHyun-Uchiha (iya~~~ mungkin?),
Sri Silvi98 (iya, maacih udah mampir yaa~), nanda (mungkin?), Guest (iyaa), Fanscho (iya iya), fani (kapan coba?), yuunhi (kyaaa juga), futari chan (gak kok, ini lanjut walaupun kalian nunggu sampe berkerak wkwkwkw), My Jeje (iyaa~), NaimChup (sip), jiraniatriana (uhhh~~ Sama), Sayuri Jung (iyaa, pasti lanjut kok), mitaichi (coba tebak~), shanzec (mungkin?), Rpuspitasary21 (coba kenapa?), el Ree (sippoo~~),
Buat yang udah follow, fav dan para Sider
Thanks a lot #bow
.
.
Ya ampun, udah setahun dan Cho baru up chap 1 #DiLemparReaderKeJurang. Maaf ya... Bukan mau Cho tapi ff baru emang harus nunggu ff yang lama end~~ kkkk~~ sekalian ini bonus update an di hari spesialnya Cho yuhuuuu~~
.
.
dah ah,
see u next Chap?
Chuuu~~
.
.
.
.
Selasa, 13 Maret 2018
