M For MAFIA

Kim Kibum, Cho Kyuhyun (super junior)

Kihyun fanfiction ini nggak nyata

Rating T

Genre romance

Boys Love

"Kelompok Mafia China dan Mafia Korea bertikai di perbatasan. Banyak kematian dari dua belah pihak. Karena itu dua kelompok mengadakan perjanjian damai. Kyuhyun dijadikan tumbal dari China dan Kibum dari Korea sebagai alat perjanjian itu."

Mafia vs Mafia

Kyuhyun digiring Ayah mertuanya ke sebuah tempat di bagian dalam rumah. Mereka berhenti di depan pintu kayu setinggi dua meter. Pintu itu berukiran klasik, dengan pelitur halus dan cat coklat gelap. Kangin membukanya, mendorong dengan tenaga besar hanya untuk membuat celah dari pintu doble itu. Saat Kyuhyun bermaksud membuat celah lebih lebar, dia merasakan sendiri beratnya daun pintu.

"Ini kayu jati berumur ratusan tahun. Diambil langsung dari hutan di Borneo," terang Kangin bangga hanya karena menantunya terheran mendapati daun pintu yang berat bukan main. "Seribu tahunpun kayu ini tak akan lapuk. Tidak ada rayap, semut, atau apapun mampu melubanginya. Pokoknya sampai kelompok kita beranak pinak ratusan kali, pintu ini akan tetap kokoh."

Kangin sengaja membuat pintu ruangan ini berbeda. Walau pintu-pintu lain sama-sama dari kayu, dengan ukiran dan cat yang sama, bahannya berbeda. Yang lain ringan, yang ini berat. Tujuannya adalah melindungi apa yang ada di dalamnya. Bukan emas permata memang, tapi sebuah taman kecil yang dipelihara oleh istrinya. Ibunya Kibum, Leeteuk.

"Ayo masuk, ibu mertumu ada di dalam!"

Setelah pintu ditutup kembali, Kyuhyun melihat apa yang ditunjuk Kangin. Tepian ruangan memang tempat biasa, tapi tengahnya luar biasa. Terdapat kubah raksasa berlapis kaca menjulang ke langit-langit. Atap ruangan itu berlubang, dibiarkan menganga agar cahaya matahari dapat masuk menyinari ruangan, khususnya pada apa yang ada di dalam kubah itu. Lubangnya juga bisa ditutup.

"Green house?" gumam Kyuhyun.

"Ibumu suka berkebun. Ini adalah kebun pribadinya."

Kangin mengkode Kyuhyun untuk mengikutinya. Berjalan ke arah kubah raksasa. Tepat di depan pintu green house, mereka berhenti lagi. Kyuhyun dibiarkan melihat seluruh dalamnya green house umtuk menganalisa tumbuhan apa saja yang ada di dalamnya. Di setengah lingkaran sebelah kiri ada tanaman hijau, merambat-rambat pada tiang-tiang pancang yang sengaja ditancapkan. Setengah lingkaran sebelah kanan masih sama hijau, seperti tumbuhan biasa, punya batang dan ranting. Hanya saja semua dalam fersi mini. Semuanya hijau kecuali sepetak tanah di tengah, berada di bawah matahari langsung ketika jam 12 siang. Sepetak itu berisi tanaman yang sangat banyak, hampir bisa dikatakan rimbun. Tanamannya setinggi paha dan sekarang sedang berbunga. Warnanya putih dan sangat cantik.

Di sela hamparan tanaman berbunga itulah, seorang wanita sedang menekuni pekerjaannya. Ibu mertua Kyuhyun, sedang memakai gaun putih dengan topi lebar seperti bangsawan kerajaan sedang berkebun. Senada dengan tanamannya, anggun sekali.

"Tanaman-tanaman di sini tumbuh dengan baik di bawah rawatannya." Kangin menunjuk istrinya dengan dagu. "Seperti dia merawatku, Kibum, adiknya, juga anak-anak lain. Maka dari itu kita tumbuh dengan baik." Anak-anak lain yang dimaksud Kangin pasti anak buahnya.

Kangin menjelaskan itulah alasan kenapa dia tidak mengirimkan wanita sebagai perjanjian damai. Karena setiap wanita dianggap memiliki keahlian ajaib. Hanya saja Kangin lupa tak membahas tumbal penjanjian itu dengan Hangeng. Keduanya jadi mengirimkan lelaki di perjanjian.

Tapi kalau menurut Kyuhyun, mempunyai kebun pribadi lalu merawat berbagai tanaman di dalamnya bukannya hal ajaib.

"Teukie!" panggil Kangin.

Wanita anggun tadi mengghentikan pekerjaannya. Dia mendongak, melihat suaminya bersama seorang yang asing lalu mengernyit. Tak lama kemudian wanita itu menyudahi pekerjaan berkebun, memilih mendatangi suaminya di bibir pintu green house.

"Ini menantumu." Kangin mengenalkan sedangkan istrinya itu keheranan. "Yang dinikahi Kibum," lanjutnya. "Namanya Kyuhyun.

"Bukankah kau bilang namanya Gui Xian?"

"Itu nama China-nya."

Kangin sebetulnya juga kaget saat Kibum membawa Kyuhyun kehadapannya. Apalagi putranya itu mengenalkan Kyuhyun sebagai orang yang telah dinikahinya di Macau. Dia mau mengoblok-goblokkan dua orang itu. Kenapa keduanya mau menikah kalau sudah tahu sejenis? Kenapa tak menundanya dulu, lalu telepon ayah masing-masing untuk membahasnya ulang? Memang Hangeng dan Kangin mau perjanjian damai itu segera dilaksanakan, tapi bukan dengan pernikahan yang menyiksa anak-anak mereka. Mereka pasti punya kompensasi dengan keadaan seperti itu. Tapi mau mengoblok-goblokkan sekarang juga percuma, mereka sudah sah jadi pasangan.

"Kyuhyun nama Korea-nya."

Sambil manggut-manggut Leeteuk mengamati Kyuhyun atas bawah, bawah atas. Kemudian manggut-manggut lagi. "Aku Leeteuk, Eomma-nya Kibum. Kau bisa panggil aku Eomma juga." Leeteuk mengulurkan tangan yang segera disambut Kyuhyun. Seumur-umur tidak pernah Kyuhyun menyalami ibu dan sekarang yang pertama. "Kau punya wajah seperti orang Korea."

"Ibuku orang Korea."

Leeteuk terhenyak sesaat mendengar suara Kyuhyun. Bukan soal Ibunya Kyuhyun yang orang Korea, tapi suara berat yang keluar dari kerongkongan menantunya itu. Sekali lagi Leeteuk memandangi Kyuhyun. Seakan menepis sesuatu di pikirannya, Leeteuk menggeleng lalu menggantikannya dengan senyuman. Senyuman berbonus lesung pipi bertajuk selamat datang untuk Kyuhyun di keluarga besar Kim.

"Sejujurnya kau manis di mataku, tapi mungkin tidak di mata anak-anak." Kyuhyun hanya tersenyum membalas mertua perempuannya, namun mertua lelakinya sudah melebarkan mulut siap tertawa. Seakan dia tahu apa yang akan dikatakan Leeteuk selanjutnya. "Kau terlihat gentleman. Sebenarnya jadi anak raja mafia tidak harus memotong kodrat. Tapi ya sudahlah, bagaimanapun penampilanmu, kau tetap menantuku."

Kyuhyun senang dia diterima, tapi masih janggal dengan pernyataan barusan. Dimana letak penampilan Kyuhyun yang memotong kodrat itu?

"Memang ada apa dengan penampilanku, Eomaa?"

"Seperti yang kubilang tadi, kau tampak gentleman. Seperti lelaki." Perasaan Kyuhyun langsung tidak enak. Sepertinya Leeteuk salah paham, sedangkan Kangin yang tahu kesalahpahaman itu malah tertawa keras. "Kau tomboy!"

Seketika Kyuhyun down.

"Leeteuk, dia memang lelaki!" tegas Kangin masih dengan tawanya.

Seketika Leeteuk ikutan down.

Dua menit Leeteuk dan Kyuhyun terdiam, dua menit itu pula Kangin terpingkal. Namun menit ketiga mereka sama-sama diam. Lama kelamaan Leeteuk menarik sudut-sudut bibirnya, terjadilan senyum janggal yang dianggap Kyuhyun sebagai ejekan, cemoohan.

Kyuhyun benar-benar down.

"Kenapa kalian setuju?" tanya Leeteuk sambil sedikit menutupi senyum gelinya. "Soal menikah," terang Leeteuk karena kalimatnya tak tertangkap jelas oleh Kyuhyun. "Ya ampun, jangan karena dijadikan alat perjanjian lalu kalian merasa jadi tumbal. Kalian tetap punya hak untuk menolak. Setidaknya bicara dulu sebelum menyetujui pernikahan."

"Maksud Eomma, kita bisa tak menikah saat itu?"

"Tentu saja. Kalian sama-sama lelaki, pasti saling tidak nyaman dengan hubungan yang seperti ini." Leeteuk menggeleng-geleng antara kasihan namun tetap geli. "Lagipula menikah dengan sesama tak akan menghasilkan apa-apa. Keturunan maksudku."

Benar juga. Jadi Kyuhyun berfikir kalau orang tua Kibum mengerti keadaan mereka, berarti peluang untuk berpisah dari Kibum sangat besar. Dia mau mengambil peluang itu. Kalau bisa pisah sekarang, tidak perlu tunggu satu tahun lagi. Toh orang tua Kibum sudah bilang punya toleransi sendiri.

"Jadi kita bisa berpisah?" tanya Kyuhyun sudah senang setengah mati.

Tapi ternyata yang dipikirkannya sampai senang setengah mati itu seketika membuat dua mertuanya mendelik tajam. Kangin tidak lagi tertawa, dia pasang muka garang ke arah Kyuhyun. Leeteuk juga. Senyum angelic-nya musnah digantikan gemelukan gigi yang seakan mengunyah Kyuhyun hidup-hidup.

"Tidak bisa!" Kangin berkata keras.

"Kalian bilang..."

"Sebelumnya. Tidak sekarang!"

Lalu apa yang salah dari kata-kata Kyuhyun? Delikan dua orang tua itu seketika menciutkan nyalinya. Sudah berada di negeri orang tanpa sanak saudara, membuat marah raja dan ratu mafia pula. Pertanda akan dibunuh di sini makin dekat.

Tahu Kyuhyun bingung, Leeteuk menyerah. Dia mendinginkan diri dari kemarahan untuk menantunya. "Kyu, kita tidak benar-benar marah padamu. Hanya saja banyak diantara kami mudah tersingung." Kyuhyun paham itu. Mereka mafia, Kyuhyun dan keluarga juga. Perasaan mereka sensitif, sedikit tersingung lalu akan marah. Meledak-ledak dan terakhir menindas, membunuh. Itu yang dikhawatirkan Kyuhyun barusan. "Yang sudah terjadi tidak bisa dibatalkan lagi."

"Tadi kalian bilang…"

"Iya, itu sebelum kalian menikah. Karena sudah terlanjur menikah, kalian tidak bisa berpisah," terang Leeteuk sambil menepuk-nepuk pundak Kyuhyun. "Dalam keluarga kita, pernikahan itu sakral hukumnya. Satu untuk selamanya."

Berarti Kyuhyun telah lancang. Belum ada sehari, dia sudah membuat geram mertuanya.

"Iya benar," ucap Kangin menyerobot bagian istrinya. "Sudah menikah, ya sudah. Kalian berpasangan, titik!"

Leeteuk berdecak sebentar. "Siapapun kau, bagaimanapun bentuknya, kau tetap menantu kami. Kami menerima apa adanya, sebagaimana anggota keluarga lain yang memiliki kekurangan." Kyuhyun tidak memiliki kekurangan, hanya salah posisi. Tidak seharusnya menikah dengan sesamanya. Itu saja. "Ayo sini, peluk Eomma!" Kyuhyun canggung namun akhirnya menyambut pelukan yang disodorkan Leeteuk padanya. "Selamat datang menantuku!"

Sekarang hanya itu yang bisa dilakukan Kyuhyun. Tidak bisa berpisah sekarang tidak masalah, perjanjian tak tertulis antaranya dan Kibum masih panjang. Selama itu dia bisa memikirkan cara yang tepat menyiapkan perceraian untuk nanti. Biarkan masa jadi tumbalnya mengalir begini dulu.

Leeteuk melepas pelukannya. "Ah, kutunjukkan tanaman-tanamanku." Dengan muka cerah dia menggiring Kyuhyun dan Kangin lebih dekat.

"Terakhir kali aku melihat tanamanmu sekitar 2 bulan yang lalu. Yang tengah itu apa?" Kangin menunjuk.

"Aku tidak kenal seluruh tanaman ini," ujar Kyuhyun.

"Tentu saja. Tak banyak orang tahu tanaman yang ada disini. Semuanya langka, bibitnya diambil dari tempat budidaya tanaman, hasil persilangan, dari hutan rimba, juga ada yang dari daerah kontroversi."

Kangin mengangguk membenarkan, meski dia sendiri tak tahu jenis-jenis tanaman itu. Baginya semuanya hijau, seperti rumput. Dia lebih tahu pohon-pohon besar, yang tumbuh di luar sana.

"Jadi itu pohon delima?" Kyuhyun menunjuk pada tanaman-tanaman yang diurus Leeteuk terakhir kali. Ada beberapa yang telah gugur bunganya. Terdapat semacam buah, persis delima. Muncul di ujung tanaman. "Itu masih mentah?" Karena masih hijau, Kyuhyun menganggapnya demikian.

Leeteuk hanya tersenyum. "Nanti kalau sudah banyak yang besar, kuajari cara menyadahnya." Apa delima disadah? Tidak dipetik? Kangin dan Kyuhyun saling pandang, tak mengerti. "Kenapa?"

"Delima disadah?"

"Aku tidak membenarkan bahwa itu delima. Delima itu berbuah menggantung, itu tidak."

Suami dan menantunya mengangguk.

"Itu opium."

Kangin dan Kyuhyun melongo.

Ternyata wanita memang punya bakat ajaib. Terutama ibu mertuanya. Bisa ya, di Korea Leeteuk merawat opium di rumahnya?

MAFIA

Hidup Kyuhyun penuh kejutan. Pertama punya masalah dengan kelompok mafia Korea, kedua dinikahkan dengan sesama lelaki dari Korea, selanjutnya ibu mertuanya yang cantik bukan main itu ternyata memiliki ladang opium mini di rumahnya. Kejutan yang akhir-akhir ini Kyuhyun terima adalah orang yang bertemu dengannya tidak sama tiap harinya. Hanya tiga orang saja yang sama. Orang yang tiap berangkat dan bangun tidur ada seranjang dengannya, Kibum. Ayah serta ibu mertunya. Selain itu silih berganti orang datang dan pergi. Kemarin kelompok yang dipimpin Jung, sekarang dari Lee, besok dari Kang. Ah pokoknya wajah orang-orang yang datang selalu baru.

Hari ini Kibum bilang adiknya akan mampir. Maka dari itu Kyuhyun bersiap menyambutnya. Sebagai orang baru di keluarga, setidaknya Kyuhyun bersikap netral dulu. Tidak ada yang tahu seumpama di balik itu semua, nyawanya terancam. Satu-satunya cara tentu saja harus merendah, berbaur dan berteman dengan semuanya. Termasuk adik ipar sendiri.

Melangkah ke ruang tamu, Kyuhyun melihat ada dua pistol di atas meja. Satu pistol FN 57 dan satu pistol Mark 23. Kedua pistol itu hanya digunakan oleh pasukan elite. FN 57 untuk kalangan militer dan penegak hukum, Mark 23 untuk pasukan khusus Amerika. Kyuhyun punya yang FN 57, tipe USG boleh dimiliki oleh masyarakat sipil.

"Apa kau kakak iparku?" Suara wanita mengalihkan pandangan Kyuhyun. Muda, rambut dikuncir kuda, dan badan kecil namun berotot. Tubuhnya padat seperti olahragawan wanita. Dia baru datang, berdiri di belakang Kyuhyun. "Panggil aku Re."

"Kau adiknya Kibum."

"Begitulah," jawabnya santai. "Punya pistol seperti itu, kakak ipar?"

"Ya. FN five-seven USG. Bagaimana kau bisa dapatkan keduanya?" Itu ilegal untuk masyarakat sipil. Mafia malah dilarang sama sekali untuk memilikinya.

"Dia tergabung dalam pasukan khusus Korea-Amerika," sahut Kibum yang berjalan kearah mereka berdua. "Hubungan Amerika-Korea Selatan sangat bagus. Dua tahu lalu Amerika membuat pasukan elite gabungan. Re masuk dalam satuan itu."

Kyuhyun tidak mau melongo lagi seperti saat dia melihat Leeteuk menunjukkan kebun opiumnya. Dia sekarang telah yakin kalau wanita memang punya keahlian ajaib. Dua orang sudah membuktikannya. Kalau Kyuhyun mau mengawasi wanita-wanita lain, pasti banyak lagi keajaiban tertangkap matanya.

"Anak mafia bisa jadi anggota satuan khusus?"

"Tidak. Tapi entahlah, mereka semua pura-pura tak tahu kalau aku anak mafia."

Lucu sekali. Bukankah mafia dan penegak hukum itu berseberangan? Kenapa pasukan tidak mempermasalahkan keberadaan Re?

"Apa saja yang harus dilakukan gabungan pasukan khususmu?"

"Banyak. Keamanan dua negara, penyelundupan senjata ilegal, narkoba, perbudakan, penyelundupan virus mematikan dan masih banyak lagi."

Kyuhyun memandang Kibum, tapi pasangannya itu hanya angkat bahu. Setidaknya beberapa pelanggaran hukum yang disebutkan Re barusan, dilakukan kelompok mafia. Kelompoknya pasti melakukannya juga. Apa karena pasukan khusus itu tak mau tahu, alasan Kelompok mafia Kangin damai sentosa di Korea?

"Kau bisa merakit dan menjinakkan bom?"

Re menggeleng. "Hanya bisa menembak dan berkelahi. Bagaimana denganmu?"

"Menembak, berpedang, tongkat, belati, berkelahi tangan kosongpun aku bisa." Benar, orang China punya tekat baja untuk bisa menguasai banyak hal, termasuk Kyuhyun. Dari kecil dia sudah dilatih bela diri oleh Hangeng. Ketika mulai besar, pelatihan diserahkan pada guru-guru yang lebih berpengalaman. "Aku juga bisa membuat bom dari yang sederhana sampai yang semi sulit. Tapi untuk menjinakkannya, aku tidak bisa."

Re tertawa renyah. "Kalau begitu kuharap kau tak buat bom di sini sebelum kau menguasai tehnik penjinakannya."

Kibum menambahkan. "Bawa satu detonator dari unit-mu, siapa tahu kakak iparmu ini berniat membuat peledak lalu menyembunyikannya di sela-sela rumah," ejek Kibum yang membuat Re makin tertawa sedangkan Kyuhyun merengut.

"Kakak ipar, aku belum tahu namamu."

"Panggil aku Kyuhyun."

"Aku akan memanggilmu kakak ipar saja." Re meringis. Kalau begitu untuk apa dia menanyakan nama Kyuhyun? "Teman-temanku pasti iri kalau aku ceritakan tentangmu yang bisa membuat bom."

"Lalu komandanmu akan mengiring sekompi pasukan untuk menangkap kakak iparmu ini?" Kibum mengeram, tapi Re tetap meringis.

Ah, kakaknya terlalu pelit berbagi Kyuhyun. Padahal dari kecil tidak pernah Re merasakan punya kakak yang hebat seperti kakak iparnya sekarang. Kibum bisa apa, selain setor tampang datar setiap hari? Re sudah bosan. Bahkan dia dan seluruh anak buah ayahnya tak tahu kelebihan Kibum itu apa? Ayah-Ibunya mau saja membiarkan lelaki yang beberapa tahun lebih tua darinya itu tumbuh besar tanpa sesuatu yang spesial. Tahu begitu buang saja dari kecil. Atau ditukar dengan Kyuhyun.

"Komandan tak akan melakukan itu. Malah bisa kakak ipar direkrut jadi anggota."

"Tidak. Dia akan tetap bersamaku disini."

"Disini dan membusuk bersamamu? Cih dasar posesif!" celetuk Re.

"Bukan posesif tapi itu bentuk perlindungan."

Kibum mencabut pistol dari belakang pinggangnya. Menaruhnya di meja yang sama. Dia mengeluarkan sepaket belati lipat dari kantung dalam jasnya, menaruh di tempat itu pula.

"Keluarkan seluruh senjatamu dan letakkan disitu!" perintah Kibum.

"Aku tak bawa senjata apapun."

"Baguslah. Segera temui Appa dan Eomma kalau begitu."

Disaat Kibum berjalan duluan, Re mencegah kakak iparnya untuk menyusul. Dia mau berjalan bersama kakak iparnya. Bicara dengan Kyuhyun lebih menyenangkan dari pada dengan Kibum. Siapa tahu dengan dekat dengan kakak ipar dia akan diajari cara merakit bom.

"Kakak ipar, aku percaya kau bisa menggunakan semua benda atau tanpa benda sekalipun untuk berkelahi. Tapi memiliki pistol akan lebih baik dari semuanya. Kita tinggal di kalangan orang-orang jahat, tiap detiknya selalu ada ancaman. Lebih baik, kau menyimpan paling tidak satu pistol ditubuhmu."

"Aku tak punya apapun disini."

"Akan kuberi."

"Tidak perlu!" potong Kibum yang telah berhenti dan membalik badan pada mereka. "Aku bisa menjaganya."

Re mendecih lagi. "Dengan apa? Bahkan kau tak punya kelebihan apapun."

"Siapa bilang aku tak punya kelebihan apapun. Anak raja mafia China telah kutahkluhkan, apalagi orang lain."

"Pembohong!"

"Aku tidak bohong," jawab Kibum santai.

"Tunjukkan buktinya kalau kau tak mau dibilang pembohong!"

Kibum menunjuk Kyuhyun. "Tanya padanya!" kemudian berjalan duluan.

Re minta penjelasan dari Kyuhyun, tapi kakak iparnya itu hanya tersenyum kecut. "Aku anak raja mafia China," kata Kyuhyun sedikit menutupi rasa malu.

Astaga. Re hampir-hampir mengelus dada. Ini bukan menahklukkan dalam artian peperangan, tapi dalam arti lain. Masalah internal pasangan Kibum dan Kyuhyun.

MAFIA

"Saat mereka datang nanti, berusahalah tidak mencolok. Diam disini dan jangan mengundang perhatian mereka." Kibum memberi intruksi Kyuhyun.

"Untuk apa kau mengajakku kalau akhirnya harus berdiam disini?"

"Mengajakmu keluar rumah saja aku tak suka, apalagi langsung berhadapan dengan teman bisnisku yang brutal." Kibum menghirup dan menghembuskan nafas berat sedari tadi. "Kamipun tidak jarang berkelahi dalam berbisnis, kalau ada mereka menyerangmu juga, bagaimana?"

Semenjak menginjakkan kaki di Korea, di depan rumah besar keluarga Kim, Kibum telah berjanji untuk melindungi Kyuhyun. Menjamin keselamatnnya selama di Korea. Tapi tidak harus mengurung Kyuhyun di dalam rumah, tidak harus memagarinya dengan petuah-petuah kecemasan. Kibum menjadi lain kalau sudah menyangkut keselamatan Kyuhyun. Terlalu protektif, terlalu cerewet. Re benar kalau Kibum jadi posesif.

Sudah sebulan lebih Kyuhyun di keluarga Kim. Banyak yang kenal dia, apalagi waktu itu sudah diperkenalkan secara resmi di hadapan bos-bos mafia di bawah pimpinan Kangin. Semuanya tahu kalau dia bagian keluarga. Mana berani orang cari gara-gara dengannya. Hari inipun, kalau Kangin dan Leeteuk tidak membujuk Kibum untuk mengajaknya, tak mungkin dia ada disini. Dan sekarang setelah disini masih diasingkan dengan dalih demi keselamatan. Apa Kibum lupa kalau dia juga anak mafia, berbisnis, berkelahi dan cari gara-gara juga pernah dilakukannya?

"Aku bisa menjaga diri."

"Aku tahu kau bisa segalanya, tapi tidak. Jangan lakukan ketika kau bersamaku!" Kibum jaminan keselamatan Kyuhyun. Walaupun bisa menjaga diri, Kibum tak akan ijinkan itu. Dia yang harus menjaga Kyuhyun. "Jangan membantah lagi. Aku ini suamimu!"

Lalu Kyuhyun istrinya, begitu? Kyuhyun juga seorang lelaki. "Tapi aku bukan istrimu," bantah Kyuhyun. "Dulu aku dikatakan sebagai orang tercerewet kedua setelah ibuku. Disini kau mengalahkan prestasiku itu. Kemana Kibum acuh tak acuh yang waktu itu datang ke Macau?"

"Ini masih aku."

Anak buah Kibum memberitahu kalau relasi bisnisnya sudah datang, jadi harus bersiap. Sesuai rencana Kibum akan meninggalkan Kyuhyun di meja ini, sedangkan dia dan anak buahnya di meja lain. Selang dua meja dari Kyuhyun. Menurut Kibum itu akan meminimalkan gangguan apapun terhadap pasangannya ini.

"Aku akan kesana. Sekali lagi Kyu, jangan buat sesuatu yang mencolok!"

Kyuhyun menggendikkan bahu. "Ya sudah, sana pergi!"

Kibum ingin menimpali namun orang-orang yang akan bertemu dengannya sudah berada di depan. Segera saja Kibum meninggalkan Kyuhyun, berpindah ke meja yang sudah ditentukannya sendiri. Kibum duduk di sana, memasang tampang cool seperti biasanya, namun kelihatan bahwa dia was-was. Ketika teman-teman bisnisnya datang, ikut duduk, Kyuhyun seolah tidak ada. Kelompok satu dengan lainnya berbicara, membahas bisnis dengan keras. Kyuhyun bisa dengar bisnis haram apa yang mereka bicarakan, dan biasa saja. Dia sendiri pernah berbisnis seperti itu, tidak ada yang enakutkan sama sekali.

Seorang lelaki tiba-tiba berdiri di samping mejanya.

"Boleh aku duduk disini?" Kyuhyun mengangguk saja. "Terima kasih!" Lalu lelaki itu duduk. "Sudah lama duduk disini, kau belum memesan apapun?"

"Aku belum lama, tapi memang belum memesan."

"Aku lapar sekali. Aku mau pesan, kau juga mau, aku yang bayar?"

Kyuhyun menimbang-nimbang sebentar. "Baiklah," jawabnya kemudian.

Lelaki itu memanggil pelayan dan suaranya itu menyedot perhatian Kibum. Tidak mengalihkan fokus dari teman bisnisnya, tapi Kibum berhasil melirik ke meja Kyuhyun. Dia menangkap seorang lelaki duduk bersama pasangannya. Mereka memesan dari buku menu yang sama, tersenyum bersama hanya karena pesanan mereka serupa. Dan Kibum benar-benar telah salah fokus.

"Kyu!" tiba-tiba Kibum sudah berada di sebelah meja Kyuhyun. "Ikut denganku!"

"Aku ada teman."

"Ikut denganku!"

Kyuhyun dan lelaki tadi saling pandang, sama-sama tersenyum. "Kalau aku harus ikut denganmu, bayari dulu makanannya!" Kibum tidak tunggu lama. Dia segera mengeluarkan dompet, menarik beberapa lembar lalu menaruhnya di meja. Baru setelah itu Kyuhyun mau berdiri. "Hari ini aku yang mentraktirmu, lain kali baru kau!" kata Kyuhyun pada lelaki tadi.

"Tidak ada lain kali-lain kali. Hari ini aku yang mentraktirmu, jangan mentraktirnya kapapun itu," tegur Kibum pada lelaki itu. Kibum juga langsung menggandeng Kyuhyun, membawa ke mejanya sendiri berhadapan dengan teman bisnisnya langsung.

Kibum benar-benar telah jadi posesif.

MAFIA

Dua buah mobil melaju kencang. Satu menikung dan menghalangi pasangan Kibum dan Kyuhyun yang sedang jalan berdua. Satu mobil lagi me-blok belakang mereka.

"Ada apa ini?" tanya Kyuhyun bingung.

Baru terlepas dari gerombolan kelompok tak mengenakkan di restoran tadi. Niatannya jalan berdua dengan Kibum tanpa pengawalan, malah mereka di kepung.

"Sialan!" umpat Kibum.

Kibum langsung mencabut pistol dari belakang tubuhnya. Dia menarik Kyuhyun, menyembunyikan di belakang punggungnya, seperti orang yang tak bisa apa-apa. Kyuhyun, membelakangi Kibum, inginnya mengantisipasi serangan dari belakang. Tetapi Kibum menariknya lagi, sejajar dengannya agar Kyuhyun terlihat oleh matanya.

"Jangan bergerak sembarangan, tetap di sebelahku!" perintah Kibum, gugup bukan main. Karena kegugupan itu, Kyuhyun yakin ini bukanlah Kibum yang sepuluh hari bersamanya di Macau. Kibum yang sekarang penuh ketakutan.

Melihat empat orang dari mobil di depan, empat lagi dari belakang, Kibum segera pasang kuda-kuda. Dia acungkan pistol ke segala arah, siapa yang bergerak duluan, akan ditembaknya. Beberapa orang membawa besi gelondongan, maju paling cepat untuk menyerang. Kibum menembak, sebagian jatuh dan sebagain terus maju.

Mereka kalah jumlah, tentu saja. Apalagi hampir semua anggota genk itu membawa pistol. Tidak semua mengeluarkan sejata api, bahkan sebagain lebih suka berkelahi. Empat orang maju untuk menyerang, sedangkan empat lainnya siaga. Kibum bisa berkelahi, empat orang bisa dikalahkannya, hanya saja setiap dua dipukul mundur, dua lagi maju. Begitu terus sampai puncaknya, semua maju. Kyuhyun tentu ingin membantu, tapi tak pernah diberi kesempatan. Kibum terus menempelinya, bahkan rela menerima bogem mentah, tendangan hebat hanya untuk menghalaunya dari Kyuhyun. Mungkin Kyuhyun dianggapnya barang berharga, sehingga tak dibiarkannya lecet sedikitpun.

Tidak ada kesabaran yang tersisa dari Kyuhyun, dia tak bisa diam sedangkan pasangan hidupnya berkelahi sendirian. Kyuhyun melepaskan diri dari Kibum, mengambil dua lawan dan dengan mudah menyelesaikannya. Membantingnya satu, menendangnya satu. Dua orang lagi berpindah pada Kyuhyun, mencabut pistol dan mengarahkan moncongnya pada Kyuhyun. Dia tahu, bisa diatasinya hal seperti itu. ditodong bukan lah hal susah untuk diatasi. Ketika Kyuhyun pasang kuda-kuda untuk menyerang orang berpistol itu, Kibum melemparkan diri kehadapan Kyuhyun, hingga ledakan pistol menancapkan peluru ke lengan Kibum.

Kyuhyun jatuh terguling bersama Kibum yang meraihnya saat tembakan terjadi, anak buah Kibum datang berbodong-bondong. Semua berhambur menyerang, orang-orang itu bisa dilumpuhkan dalam 15 menit. Dan perkelahian terhenti.

MAFIA

Kibum memusuhi ayahnya, ibunya, juga Kyuhyun. Karena kejadian penyerangan tempo hari, dia tak mau bicara pada ketiganya. Kembali pada Kibum yang dulu, atau lebih diam dari yang dulu. Bertemu Kyuhyun hanya saat dia mau berangkat tidur dan bangun tidur, ketemu orang tuanya sekali sehari. Hanya menyapa, kemudian pergi begitu saja. Sudah berlangsung seminggu, tapi Kibum tak tampak akan menjelaskan maksud diamnya.

Leeteuk sudah minta penjelasan tapi tidak ditanggapi. Kangin minta bicara berdua dengan Kibum, juga tak dipenuhi undangan itu. Apalagi Kyuhyun, setiap kali mau bicara, Kibum sudah tertidur. Menunggunya bangunpun tak ada guna, Kibum akan menyibukkan diri bersiap, lalu keluar begitu saja.

Hingga pagi ini Kyuhyun bangun lebih pagi. Dia mandi dan bersiap seperti orang akan bepergian. Kibum masih meringkuk di tempat tidur, tapi matanya fokus pada Kyuhyun yang sibuk sendiri.

"Kau mau kemana?" Itu kalimat pertama yang tak bisa ditahannya.

"Kupikir kau tak mau bicara denganku lagi," balas Kyuhyun masih sibuk dengan persiapannya.

Kyuhyun mengambil koper kecil di samping lemari. Diangkatnya lalu diletakkan di meja. Dia membukanya, baju dan barang-barang sudah tersusun di dalam sana. Kyuhyun memasukkan barang terakhir, mengecek sekali lagi kemudian menutupnya rapat.

Kibum buru-buru bangun, duduk terpaku di tepian ranjang. "Kau mau kemana?" tanyanya ulang.

"Jepang," jawab Kyuhyun tanpa menoleh pada Kibum. "Salah satu pamanmu akan berbisnis di sana, dan aku diperbolehkan ikut. Kata Appa, suatu saat dia akan mempercayakan satu dua bisnisnya padaku, jadi aku harus belajar dari sekarang."

Kibum menyipitkan mata, tidak suka. "Appa yang memaksamu?"

"Kau ini bebal atau apa? Sudah kubilang aku harus belajar bisnis, jadi aku yang minta pergi. Bukan paksaan siapapun."

"Kau tahu mafia Jepang lebih kuat dari mafia negara manapun?" Kyuhyun mengangguk. "Kenapa kau masih pergi?"

"Ini bisnis legal, tak ada sangkut pautnya dengan mafia. Lagi pula aku tidak suka duduk-duduk saja di rumah, itu membuatku tak ada gunanya. Seperti omongan Re tempo hari, aku bisa membusuk."

"Kau bisa ikut aku kemanapun."

"Nyatanya kau tak pernah mengajakku kan? Bicara denganku saja tak mau."

"Aku sedang marah."

"Jadi seperti itu marahmu? Merajuk seperti anak kecil," ejek Kyuhyun. "Lagipula kau marah pada apa?" Kyuhyun menggeleng-geleng lemas. "Dengar Kibum, kita punya lebih dari 10 bulan untuk dilewati, kalau aku diam dan kau diam, kita akan mati bosan. Dengan menyibukkan diri waktu akan terasa lebih cepat."

Kenapa rasanya aneh sekali setelah mendengar kalimat itu? 10 bulan atau lebih, maksudnya perjanjian di Macau itu benar-benar dijalankan? Kibum tak habis pikir dengan Kyuhyun, apa salahnya tetap berada di Korea? Apa salahnya duduk-duduk dan mati bosan? Kalau memang benar itu membosankan, kenapa Kyuhyun tak bicara padanya saja? Kibum akan mencarikan kegiatan untuk Kyuhyun, asal bukan pekerjaan yagn berhubungan dengan mafia dan kekerasan.

Percuma Kibum berjanji untuk melindungi Kyuhyun, orang yang diberinya janji tak mau menurut. Percuma Kibum marah lebih dari seminggu ini kalau ujung-ujungnya Kyuhyun akan pergi juga. Kibum marah itu karena Kyuhyun hampir celaka tempo hari. Walau akhirnya Kibumlah yang celaka, itu pertanda bahwa Kyuhyun tak boleh berurusan dengan dunia luar selama dia berada di Korea. Menghindari Kyuhyun adalah cara menjauhkan pasangannya itu dari masalah. Kalau Kyuhyun ke Jepang, siapa yang akan melindunginya disana?

"Kalau kubilang kau boleh ikut kemanapun aku pergi, kau akan batalkan kepergianmu ke Jepang?"

"Kalau kau mengijinkanku ikut tapi hanya sebagai pajangan, lebih baik aku ke Jepang. Aku akan lebih berguna disana."

Kyuhyun sudah menyiapkan kopernya. Dia beralih memakai kasos kaki dan sepatu. Sebelum dia meraih jas-nya di gantungan, Kibum menghampiri. "Katakan apa yang bisa membuatmu tetap tinggal disini? Asal semuanya bisa dilakukan berdua denganku, semua akan kukabulkan."

Kibum terdengar frustasi. Bicaranya saja sudah melantur. Terdengar memohon seperti lelaki yang akan ditinggalkan pasangannya seumur hidup.

"Aku mau ke Jepang," jawab Kyuhyun menolak usulan apapun.

Kibum terpaksa meraih kedua bahu Kyuhyun, membawa pasangannya itu fokus menghadapnya. "Kalau aku memohon agar kau tak pergi?"

"Aku akan tetap ke Jepang."

Seiring mantapnya Kyuhyun menjawab, Kibum menjadi makin frustasi. Tidak kentara di wajahnya tapi terlihat lewat gerakan badan dan perkataannya. Tidak rela Kyuhyun jauh darinya. Hal seperti ini mengandung maksud.

"Aku akan kesana juga," katanya kemudian.

Kyuhyun melongo, kemudian menutup mulutnya untuk tersenyum. "Kau punya banyak pekerjaan disini. Untuk apa ke Jepang juga. Lagipula aku kesana hanya untuk tiga minggu." Belum selesai Kyuhyun bicara, Kibum sudah menubruknya, menjatuhkan kepalanya ke bahu Kyuhyun. "Ini bukan perpisahan selamanya, Kibum!"

Kibum seperti orang patah hati. Lelaki bodoh yang akan ditinggalkan kekasih tanpa tahu cara mengatasi kekosongan. Dia memeluk Kyuhyun erat, seerat hatinya terikat tali-tali kasat mata berwujut kasih sayang. Kibum kemungkinan telah terjerat cinta Kyuhyun.

"Baiklah-baiklah. Aku akan tinggal tapi dengan banyak syarat. Aku boleh melakukan apapun di luar rumah, semauku. Tentu kau boleh mengawasiku." Kyuhyun melanjutkan. "Aku boleh memiliki senjataku sendiri, boleh ikut andil dalam bisnis, perkelahian atau apapun itu. Kau tidak lagi sendiran menjagaku, tapi kita saling menjaga. Buat posisiku sejajar denganmu."

Kibum belum melepas pelukannya.

"Setuju atau tidak?"

Kibum sedang bertarung dengan sebuah kalimat. Bukan kalimat setuju atau tidak yang barusan dilontarkan Kyuhyun, namun kalimat yang sedang ada di dalam otaknya. Dia mau kalimat itu meluncur, menambat lalu terikat kuat pada Kyuhyun. Sama seperti yang dirasakannya sekarang ini.

"Aku tak punya banyak waktu. Kau tak jawab sekarang, permintaanku batal. Aku akan bergerak semauku tanpa ada kau."

Kibum mengangguk-angguk di bahu Kyuhyun.

"Kalau begitu lepaskan aku sekarang. Kau seperti anak kecil saja!" Kyuhyun melepaskan diri dari Kibum. Bukannya meneruskan bicara dengan Kibum, dia malah bergegas untuk keluar kamar. Hanya saja kali ini tidak memakai jas, juga tidak membawa kopernya.

"Kau mau kemana?" Itu pertanyaan ketiga yang bunyinya sama.

"Aku mau bilang Appa, tak jadi ikut. Juga harus menelepon pamanmu agar dia tak perlu kemari untuk menjemputku." Kyuhyun melenggang ke arah pintu. Dia berhenti sejenak sebelum keluar. "Kau akan memberiku senjata api atau aku minta Re saja?"

"Kyu…" Dan Kibum memutuskan untuk jujur.

Kyuhyun tak mengubris. "Minta Re saja kan?"

"Kyu…"

"Ha? Oh iya, aku minta Appa akan lebih baik. Aku lihat koleksi senjatanya bagus-bagus. Dia tak akan keberatan memberikan satu padaku."

Kibum menggeleng. "Kyu…" sekali lagi Kibum mencoba peruntungannya, keburu apa yang akan dikatakannya mubazdir.

"Apa?"

"Sepertinya aku mulai menyukaimu."

"Oh. Ya sudah." Kyuhyun merespon seadanya. "Aku akan ke tempat Appa."

Blaaakkk.

Pintu ditutup dari luar.

Terserah Kyuhyun menanggapinya seperti apa, yang penting Kibum sudah mengucapkannya. Yang penting juga Kyuhyun tetap berada di Korea, di sampingnya sekarang ini.

Kreeek

Kyuhyun masuk lagi ke kamar, pelan-pelan jalannya. Menutup pintu, kemudian berdiri membalakangi. Hampir bersandar canggung di daun pintu itu.

"Kau bilang apa barusan?" Tidak berarti Kyuhyun tak dengar. Dia hanya ingin memastikan.

Kibum yang belum pindah kemanapun mengulang perkataannya. Tanpa kata 'sepertinya' dan kata 'mungkin', tapi to the point. "Aku menyukaimu!"

Lalu Kyuhyun tersenyum salah tingkah.

To be continue

Mungkin ada typo, maafkan ya. Chap ini nggak segreget chap awal, masih dalam fase mengembalikan ciri khas tulisan yang suka bercampur-campur. Dan masih mencari cara berdamai dengan Internet po... dan juga anonymox yang sering overload. Terima kasih, See you soon!