"Hero, istirahat dulu, ne!" seru Changmin sembari menyelimuti putranya. Ia mengelus puncak kepala Hero dengan lembut.
"Papa akan menemani Hero sampai tertidur, kan?"
"Tentu!" Changmin membalas senyuman bocah yang mulai menutup matanya perlahan.
"Saranghae, Papa!"
"Nado saranghae, Hero!" balas Changmin lalu mendaratkan kecupan di kening putranya ia. Berharap bocah itu takkan meninggalkan dirinya.
.
.
.
JaeMin Fanfiction
Present
With All My Heart © Ran Hime
DBSK Themselves
Genre: Drama, Hurt/comfort
Rate: M
Warning: Yaoi, OOC, Typo, etc
Ini hanyalah fanfiksi.
Segala sikap dan sifat tokoh ditulis demi alur cerita.
Dan tidak ada sangkutpautnya dengan kehidupan mereka di dunia nyata.
Bijaklah dalam menilai sesuatu hal.
.
.
.
Chapter 2
.
Above us is just one sky
People living under the same roof
The birds flap in the dawning sky
Singing about the eternal hope
.
Langkah Jaejoong terhenti ketika ia baru saja masuk ke dalam sebuah cafe. Lagu itu mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh ke samping dan menemukan dua orang tengah bernyanyi dan berjoget di sebuah tv lcd yang terletak di ujung cafe. Ia tersenyum ketika melihat gerakan dari mereka. Ternyata sudah lama ia tidak lagi bisa sepanggung dengan mereka. Semenjak ia memutuskan untuk meninggalkan Korea dan menetap di Jepang.
Jaejoong kembali melangkah. Bukankah ia telah berdamai dengan managemen lamanya? Hingga tidak menutup kemungkinan, ia akan bisa kembali sepanggung dengan TVXQ. Jaejoong berhenti lalu tersenyum kepada dua orang yang sedang duduk menatapnya.
"Kalian sudah lama?" tanyanya lalu menarik kursi dan duduk.
Junsu menunduk lalu kembali menatap hyung-nya.
"Ada apa hyung menyuruh kami ke sini?"
Yoochun meneguk minumannya.
"Shim Youngwong!" seru Jaejoong ambigu.
Tiba-tiba Yoochun mengeratkan genggaman di gelasnya. Ia melirik Junsu lalu kembali menatap wajah pucat di depannya.
"Apa yang hyung maksud?"
"Kalian pasti tahu tentang ibu bocah itu, bukan?"
Yoochun berdiri dari kursi setelah meletakkan gelasnya. "Kalaupun aku tahu, aku tidak berhak memberitahumu," ujarnya dingin lalu meninggalkan Junsu dan Jaejoong.
Jaejoong tertegun tidak percaya. Sejak kapan Yoochun sedingin itu. Satu setengah tahun tidak bertemu, kenapa dia serasa berubah.
"Hyung!"
Jaejoong tersadar dari lamunannya. Ia menatap Junsu meminta jawaban. Namun Junsu menggeleng.
"Maaf, hyung! Aku tidak berhak atas itu. Sebaiknya hyung tanyakan saja kepada Yunho hyung." katanya lalu berdiri, "Aku harus pergi. Junho membutuhkanku," lanjutnya lalu beranjak pergi.
Jaejoong kembali terdiam. Sebenarnya ada apa? Kenapa semua serasa berubah setelah ia pulang dari wamil. Siapa Shim Youngwong? Ia menatap layar ponselnya dan menggumamkan nama Yunho.
.
.
ooO~Ran Hime~Ooo
.
.
Changmin berjalan memasuki gedung SME. Setelah Hero tertidur, ia mendapatkan telephon dari Presdir SME, agar ia datang ke kantor. Ia tidak habis pikir, mengapa di hari libur, ia masih disuruh ke kantor. Harusnya Presdir Lee tahu, ia juga butuh waktu untuk Hero.
Changmin membuka pintu di depannya setelah mendengar instruksi dari dalam. Ia berjalan perlahan lalu duduk di kursi di depan meja Presdir SME itu. Ia terdiam menunggu Presdir Lee berbicara.
Brakk...
Changmin terkejut ketika sebuah kertas melayang di wajahnya. Ia baru datang, namun sudah disuguhi wajah murka atasannya.
"Apa-apaan semua itu, heh?" bentak pria bermarga Lee itu penuh amarah, setelah melempar koran yang memuat foto TVXQ bersama seorang bocah laki-laki.
"Hero butuh liburan."
"Hero?" beo Presdir Lee, "sudah kubilang jangan membuat skandal. Itu bisa merugikan TVXQ."
Changmin hanya diam. Dari awal pria di depannya memang menolak kehadiran Hero. Bukan hanya karena nama Hero, namun juga karena fisik bocah itu semakin mirip dengan mantan artisnya.
"Dari awal sudah kubilang, berikan saja bocah itu kepada Ayahnya. Tapi kau menolak dan malah merawatnya."
"Tapi dia putraku, Presdir. Aku Papanya!" Changmin sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Anak haram Kim Jaejoong kau sebut putramu, heh! Harusnya kau bilang dari awal kalau bocah itu anak Kim Jaejoong. Dan kau tidak perlu merawatnya."
"Presdir!"
Presdir Lee berdiri lalu berjalan mendekati Changmin. Ia meraih dagu Changmin dan mencengkeramnya.
"Kukatakan sekali lagi, Max! Aku tidak suka orang-orang tahu kau berjalan dengan bocah itu." peringatnya lalu melepaskan cengkeramannya.
Changmin meringis. Pasti cengkeraman itu membekas. Ia berdiri lalu membungkuk, "Saya permisi, Presdir!" serunya lalu melangkah keluar dari ruangan atasannya.
.
.
ooO~Ran Hime~Ooo
.
.
Yunho tersenyum ketika Changmin memasuki ruang makan di drom TVXQ. Ia duduk sambil terdiam dan menunggu Yunho selesai memasak. Memang semenjak Jaejoong meninggalkan TVXQ bertahun-tahun yang lalu, Yunho lah yang menggantikan Jaejoong dalam segala hal.
Yunho mengerutkan keningnya ketika Changmin hanyalah diam dengan wajah letih. Pemuda itu terlihat frustasi.
"Ya, Ayah! Kimchi lagi? Aku bosan!" seru Hero membuyarkan lamunan Yunho.
Yunho tersenyum ke arah Hero lalu duduk di depannya, "Hari ini makan kimchi dulu, ne! Besok kita makan di luar. Ayah janji!"
"Tapi Hero bosan, Hero ingin-"
"Kenapa kau cerewet, eoh!" bentak Changmin membuat ke dua orang di depannya terlonjak kaget.
"Harusnya kau bersyukur ada yang mau memasakkan makan malam untuk anak haram sepertimu."
Changmin lelah. Bukan tubuhnya, akan tetapi perasaannya. Ia meruntuki kalimat yang telah keluar itu, namun tetap saja kata demi kata terlontar membuat Hero menangis.
"Hiks..." satu isakan keluar dari bibir Hero. Ia takut. Selama ini papanya tak pernah membentaknya.
"BERHENTI MENANGIS BOCAH! KAU-"
"Changmin-ah! Kau membuat Hero ketakutan," potong Yunho. Ia tidak tahan melihat sikap Changmin, "Ada apa denganmu?"
Tanpa berkata apa pun, ia beranjak dari kursi lalu meninggalkan ruang makan.
Yunho berdiri dari kursi. Direngkuhnya tubuh gemetaran Hero ke dalam pelukannya. Hero masih syok. Tidak mengerti kenapa ayahnya membentaknya. Yunho menggendong Hero ke kamarnya. Kamar yang dulu pernah ditempati Jaejoong.
Dibaringkan olehnya tubuh Hero ke tempat tidur. Mencoba menenangkan bocah yang telah di anggap anaknya sendiri, agar mau berhenti menangis.
"Hero tidur dulu saja, ya!"
Hero menarik tangan besar Yunho, ketika laki-laki bermata musang itu hendak pergi.
"Ayah!" serunya masih dengan isakan.
"Iya!" Yunho tersenyum lalu duduk di tepi ranjang Hero.
"Apa maksud Papa tentang anak haram? Kenapa Papa marah?"
Hati Yunho mencelos. Bisa-bisanya Changmin mengatakan kalimat yang belum sepantasnya di dengar oleh anak sekecil Hero.
"Tidak usah dipikirkan. Papa hanya lelah hari ini, makanya bicara melantur."
"Ayah mencintaiku, kan?" Hero semakin mengeratkan pegangan di pergelangan tangan Yunho.
"Tentu saja Ayah mencintaimu!" Yunho mengusap kening Hero dengan tangannya yang bebas, "sekarang Hero tidur dulu, ne!"
Yunho masih mengelus kening Hero hingga ia mendengar suara nafas teratur Hero yang perlahan tertidur. Ia menyelimuti Hero ketika cengkeraman di tangannya terlepas. Kenapa harus Hero yang tersakiti? Kenapa bocah yang tidak tahu apa-apa yang harus menanggung semua ini? Yunho memejamkan mata mengingat hari itu. Kenapa harus terjadi?
.
.
ooO~Ran Hime~Ooo
.
.
"Changmin-ah!" seru Yunho setelah membuka kamar Changmin. Ia berjalan mendekati Changmin, yang tengah duduk di tepi ranjang membelakanginya sambil meremas rambut.
"Ia memang anak haram. Anak haram Kim Jaejoong, Hyung!" ujar Changmin membuat langkah Yunho terhenti.
"Changmin-ah!"
"Dan Presdir tidak suka jika aku menyayangi anak mantan artisnya."
"Changmin-ah!"
Bagi Changmin, semua itu terlalu menyakitkan hatinya.
"Changmin-ah!"
"Dan seharusnya dunia tahu, KIM JAEJOONG PUNYA ANAK HARAM YANG IA TELANTARKAN BEGITU SAJA."
"Changmin-ah!" seru Yunho lagi. Ia tidak tahan lagi mendengar suara parau Changmin. Tanpa sadar ia menaiki ranjang lalu memeluk Changmin dari belakang.
"Jangan berkata seperti itu. Jaejoong tidak sepenuhnya salah."
"Aku lelah!"
"Bukankah dari awal kita sudah berjanji untuk merawat Hero?"
Mendengar Changmin kembali menggumamkan kalimat menyesakkan itu, Yunho meraih dagu Changmin dan mempertemukan bibir mereka. Membuat Changmin melotot tidak percaya.
"Hero lebih membutuhkan kita, mengerti!"
Dan Changmin hanya bisa mengangguk.
.
.
ooO~Ran Hime~Ooo
.
.
Changmin membuka pintu kamar Hero. Ia berjalan mendekati putranya yang tengah tertidur pulas. Tak seharusnya ia membentak bocah itu. Tak seharusnya ia membuat bocah itu ketakutan. Dan benar kata Yunho, Hero memang lebih membutuhkan dirinya ketimbang Jaejoong.
Changmin mendudukkan diri di tepi ranjang Hero. Memperhatikan wajah pucat yang sedang menutup mata. Kenapa harus mirip Jaejoong? Kenapa tidak mirip sedikitpun dengan orang yang telah mengandung Hero?
Changmin mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Hero. Ia mengernyit merasakan dinginnya kulit wajah Hero.
"Hero yah!" seru Changmin sambil menepuk pipi Hero. Namun tidak ada respon dari bocah itu.
"Hero yah!" Changmin menahan nafas. Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit.
"HYUNG ... HERO!" teriaknya lalu mengangkat tubuh lemas itu. Hal yang paling ia takutkan adalah kehilangan Hero.
.
.
.
To be Continue
Maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang ada, karena jawabannya akan ada di setiap Chapter selanjutnya. Tapi saya berterima kasih karena ff JaeMin ini bisa diterima dengan baik.
Thank's to:
elleinakartika. devyanti, Galaxy YunJae shiho kun, xxx, JaeminLove, mochi, Guest, roma, hana, jm
