Journey 1-2 Another route [Test subject #3 / Jean]
Bio lab lightalzen
Suara bisikan miss Leina terdengar sangat samar di telingaku. Seluruh perhatian yang aku miliki kini teralihkan sepenuhnya kepada 3 manusia buatan yang perlahan-lahan berjalan kearah kami berdua. Wajah mereka tidak sedikitpun menunjukan secercak emosi, tetapi kedua bola mata tajam yang terus memandangku lurus tersebut memamerkan nafsu membunuh yang sangat kental dan kuat.
Aku meregangkan sedikit tubuhku yang terasa tegang, mengambil posisi berdiri siap bertempur sebelum aku merasakan sedikit tarikan kasar pada leher bajuku. Di belakangku, miss Leina terlihat sangat panik, dia terus mencoba menarikku agar kami berdua bisa lari dari ke tiga mahluk buas itu, tetapi aku tetap tidak bergeming dan berdiri siap menerima serangan yang akan dilancarkan oleh ketiga mahluk buas yang kini semakin mendekat.
"Apa yang kau lakukan!?, jangan diam saja di sana Jean. Kita harus sege," kata-katanya terpotong di saat aku melepaskan genggaman kasarnya pada bahuku dengan lembut. "Melarikan diri adalah hal yang percuma, mereka akan menyusul kita dengan cepat." Pandangan mataku tetap, tidak sedikitpun meninggalkan ketiga mahluk buas yang kini berhenti berjalan.
Sang pria berambut merah dan berjubah cream mulai mundur 2 langkah, sehingga membuat posisi mereka terlihat seperti segitiga. Wanita pengguna pisau dan wanita pengguna pedang kini berdiri sejajar, mereka berdua menanggkat senjatanya dan mulai berlari kearah kami berdua dengan kecepatan luar biasa yang tidak bisa dijelaskan oleh manusia biasa.
Dengan cepat aku mendorong miss Leina jauh kebelakang, pikiranku yang tadi kosong mulai terisi dengan berbagai pertanyaan dan keinginan. Pertanyaan bagaimana aku bisa mengalahkan mereka bertiga, dan keinginanku untuk memenangkan pertarungan ini dan bertahan hidup dari ancaman ini. Wanita pengguna pisau menyerangku dengan kecepatan yang lebih cepat di bandingkan si wanita pengguna pedang.
Tusukan-tusukan tajam dan berbahaya ia tujukan kepadaku, tusukan itu cepat, tetapi semakin aku menghindari serangan tersebut, tusukan tersebut bertambah lebih cepat setiap serangannya. 'Jika terus menghindar maka aku yang akan kalah,' tusukan cepatnya lurus mengarah kearahku, sebelum tusukan tersebut menemukan targetnya, yaitu dadaku, aku melakukan lompatan kecil kearah kiriku. Setelah berhasil menghindari serangan tersebut, aku menggenggam pergelangan tangan dan juga bahunya, dan menaikan dengkulku untuk melakukan serangan keras tepat kepada persendian siku lengannya.
Raungan keras dari sang wanita menggelegar keras di telingaku, tangan kanannya patah dan ia pun menjatuhkan pisau tajamnya ke atas lantai. Sebelum ia sempat melakukan serangan balik aku melakukan tendangan menyamping cepat dan penuh tenaga langsung keperutnya. Membuat sang wanita pengguna pisau terpental jauh kebelakang. Aku yang merasakan lega setelah berhasil menyerang balik langsung kembali dipaksa untuk fokus kedalam pertempuran. Sang wanita pembawa pedang panjang secara tiba-tiba muncul di belakang tubuhku, kedua tangannya memegang erat pedang panjang dan tanpa sedikit pun keraguan melakukan tebasan panjang vertical yang ditujukan langsung kepada pundakku.
Tetapi sebelum pedang tersebut sempat memotong pundak ku, aku terlebih dahulu menghindar dengan melompat cepat ke samping kiri. Aku berputar di udara dan menggunakan tembok sebagai tumpuan untuk melakukan lompatan cepat kearah sang wanita, dengan menggunakan bahu dan tambahan tenaga dari loncatanku, sang wanita terpental jauh setelah kedua tubuh kami bertabrakan dengan cepat. Tubuhnya membentur tembok dengan keras, memanfaatkan kesempatan tersebut, aku langsung berlari sembari mengambil pisau yang tergeletak di atas tanah.
Sang wanita yang kini mulai bangun, terkejut dan panik melihat diriku yang kini sudah berada tepat beberapa langkah darinya. Dia melakukan tebasan cepat menyamping yang berhasil aku hindari dengan menundukan tubuhku, dan tanpa membuang waktu sedikit pun, aku langsung menebas pergelangan tangan kanan sang wanita sehingga pedang yang di genggamnya terlepas dan melayang di udara.
Tanpa memperdulikan teriakan histerisnya, aku langsung melompat ke atas dan menangkap pedang itu menggunakan tangan kiriku, yang aku teruskan dengan melakukan tebasan lurus dan cepat kearah sang wanita. Tebasan itu sukses merobek pundak sampai ke perutnya, membiarkan darah mencuat dari daging yang kini terpisah. Seranganku belum sepenuhnya selesai, setelah mendarat, aku langsung memutar badanku 360 derajat untuk menambahkan tenaga pada tebasanku selanjutnya, sisi tajam dari pedang yang aku genggam ini dengan cepat dan halus menebas leher sang wanita hingga kepalanya terputus, dan jatuh tergeletak di atas tanah.
Tubuh tak bernyawa tersebut kini tergeletak lemas tak berdaya di atas lantai dingin dari laboratorium ini. Bau anyir darah dan kentalnya cairan bernama darah menempel hampir di seluruh tubuhku, wajahku kini hampir tertutupi oleh darah yang mencuat dari tubuh sang wanita. Baju kain putih yang aku kenakan kini telah berubah warna menjadi merah pekat kerena darah.
Perasaan lega dan juga bangga akan kemenangan dapat aku rasakan ketika darah-darah dari musuhku mulai mengalir jatuh dari wajahku. Perasaan aneh yang sama sekali tidak enak untuk aku rasakan, 'jika aku bangga dapat membunuh wanita ini apa artinya aku senang membunuh?'. Terhanyut dalam pikiranku membuat diriku kehilangan fokus dengan apa yang saat ini terjadi di sekelilingku.
Tanpa aku sadari aku merasakan seluruh badanku terbentur dengan lantai di sertai rasa nyeri dan perih di pundak kananku. Pedang es berukuran sedang kini menancap dengan pasti di pundakku.
'Cold bolt? Kapan dia menembakannya? Aku tidak mendengar dia membaca mantra..'
Darahku kini mengalir dengan perlahan dari sela-sela lubang yang ditimbulkan oleh pedang es ini. Pisau dan pedang yang tadi aku genggam pun kini terpental jauh dari jangkauanku. Di saat aku hendak mencabut pedang es tersebut, sang wanita pengguna pisau yang beberapa saat yang lalu berhasil aku lumpuhkan sudah berada di hadapanku yang masih terbaring.
Ia duduk dan mengunci tubuhku, tinjunya yang membabi buta ia hantamkan langsung kepada wajahku berulang-ulang. Pandanganku mulai memudar di saat tinju tersebut kini menghantamku dengan tenaga yang semakin bertambah, kesadaranku mulai di uji di saat aku mulai kehilangan nafas akibat cepat dan kerasnya tinju tersebut hingga aku mendengar suara benturan keras yang aku rasa berasal dari tendangan.
Aku berusaha membuka mataku yang terasa nyeri, beban berat yang tadi berada di atas tubuhku kini tidak dapat aku rasakan. Di hadapanku yang saat ini terbaring aku dapat melihat miss Leina dengan samar, ia duduk berlutut di sampingku yang saat ini memegang jamur berwarna merah di tangannya dan botol granat di tangan kirinya.
Tanpa ragu ia melemparkan jamur berwarna merah tersebut kearah sang wanita pemegang pisau yang saat ini berusaha bangun dan terlihat agak hangus. Sebelum jamur tersebut menyentuh tubuh sang wanita, jamur terlihat hancur menjadi serpihan-serpihan kecil.
"Ap-a ya-ng an-da laku-kan,-" kata-kataku di potong langsung oleh miss Leina yang saat ini terlihat sangat serius dan di penuhi oleh keyakinan. "Aku akan melindungi mu sekarang, tenanglah.." bisiknya tegas tidak memberikanku ruang untuk berargumen.
"Graaaaaa…!" sang manusia buatan yang wajahnya terbakar hangus berlari teresok-esok kearah kami. Sebelum akhirnya wajahnya hancur bertebaran akibat ledakan dengan kekuatan sedang yang membuatku terkejut. Hal tersebut juga membuat manusia buatan yang berada lumayan jauh di belakang sang wanita yang kini terjatuh tidak bernyawa terkejut. Raungannya bergema dengan keras memenuhi lorong yang dipenuhi oleh pertarungan dan kematian ini.
"Spore Explosion," ucap miss Leina sambil tersenyum. setelah mengucapkan hal tersebut dia langsung melempar botol granat besar ke atas tanah. Setelah botol tersebut pecah membentur tanah, api besar mulai menyebar mengelilingi sang manusia buatan yang saat ini mulai menangkat tongkat kayunya dengan kedua tangannya. Mulutnya bergerak dengan cepat, membaca sesuatu yang tidak bisa aku dengar karena suaranya tertelan oleh kobaran api yang mengelilinginya.
Pedang-pedang es mulai muncul secara perlahan di sekitar manusia buatan. Pedang tersebut tetap terus terbentuk dengan kecepatan yang pasti walaupun mereka dikelilingi oleh lautan api yang berasal dari skill Demonic fire milik miss Leina. Melihat hal ini miss Leina hanya tersenyum kecil, wajahnya kini di selimuti oleh ketenangan dan kepercayaan diri yang sangat luar biasa. Dengan tenang dia mengambil botol berukuran sedang berwana hijau pekat dari dalam tas pinggangnya, dengan hanya sekali aku melihatnya, aku mengetahui bahwa itu adalah botol acid.
Sekuat tenaga ia melemparkan botol tersebut dan langsung memeluk tubuhku sambil membisikan sesuatu di telingaku. "Tutup mata mu Jean." bisiknya cepat dan tegas, meninggalkan banyak pertanyaan yang kini memenuhi kepalaku.
Apa yang akan terjadi sehingga miss Leina memintaku memejamkan mata..
Dan yang paling penting, siapakah Jean ini? Dia menujukan panggilan tersebut kepadaku, tetapi hal yang aku tahu selama ini bahwa namaku adalah Test subjet # 3.
Tepat setelah botol tersebut dilahap oleh lautan api dari skill Demonic Fire, timbulah ledakan yang sangat besar. Angin dari ledakan tersebut hampir saja menerbangkan kami berdua dari tempat kami berada, debu-debu berterbangan membuat mataku yang saat ini masih terbuka untuk mengintip ledakan besar tersebut terasa sangat perih. Setelah beberapa saat ledakan besar tersebut mereda dan hanya menyisakan api-api kecil yang masih berkobar di atas lantai.
Aku tidak lagi melihat atau merasakan keberadaan dari sang pria yang tadi ada di tengah lautan api tersebut. "Ap-a yang terjadi mi-ss Leina?" seluruh penjuru wajahku terasa sangat nyeri saat aku berusaha berbicara.
"Fire Expansion, aku dapat membuat berbagai macam efek dengan melemparkan salah satu bom buatanku Jean, tetapi skill ini memiliki syarat, yaitu aku harus mengeluarkan bom Demonic fire terlebih dahulu.." ekspresi wajahnya kini kembali menjadi ekspresi tersenyum dan lembut seperti biasanya, kedua tanganya dengan lincah mengoleskan cairan berwarna kuning tepat pada luka-luka lebam di wajahku dan pada lubang tusukan yang ada di pundakku.
"Sebenarnya kamu tidak membutuhkan Yellow potion ini, karena luka mu akan sembuh dengan sendirinya," ucapnya lambut. "Tetapi aku tetap ingin merawat dan melindungi mu Jean.." tawa kecil dapat aku dengar lepas dari kedua bibir tipisnya.
Membuat wajahku yang masih terasa sakit dan nyeri ini membentuk senyum yang tidak terlihat. "mi-ss L-eina," tangannya yang kini masih merawatku seketika terhenti, perhatiannya kini tertuju kepadaku sepenuhnya.
"Hmm?"
"Si-apa se-benarnya Jea-n?"
Mendengar pertanyaanku ini, kedua bola mata miss Leina terbuka dengan lebar. Ekspresi terkejut yang kini ada di wajahnya tidak bisa ia sembunyikan dariku, dia memandangku tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang aku ajukan. Dia memejamkan matanya dan membuang nafas panjang sebelum kembali menunjukan ekspresi lembut khas miliknya.
"Aku," dia terlihat ragu sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. "Aku akan memberitahukan semuanya kepadamu nanti, tetapi sekarang yang perlu kamu ketahui adalah nama asli mu.."
"Na-ma asl-i ku?
"Jean Asker, ingatlah nama itu baik-baik okay. Dan mulai saat ini kamu bukanlah test subject #3, kamu adalah manusia biasa dan normal, yang akan menjalani hidup normal.." bisiknya kepadaku sambil menggenggam erat tanganku dan memandang kedua bola mataku dengan tulus. Aku hanya menganguk menandakan bahwa aku mengerti dengan apa yang ia minta dan bicarakan.
"Ada banyak hal yang ingin aku ajarkan di luar sana Jean," genggaman tanganya semakin erat aku rasakan. "Aku akan memberikanmu kehidupan milikmu yang telah di rampas oleh kakak Rensel." kali ini aku dapat merasakan sedikit kemarahan terselip dalam kata-kata halusnya. Rensel thorose adalah ilmuwan yang bertanggung jawab langsung atas semua perkembanganku. Dia adalah orang aneh dengan seringai yang menyeramkan, pernah sekali aku berfikir bahwa ia sudah gila.
Dan konon yang aku dengar, dia adalah pemimpin dari semua ilmuwan yang bekerja pada laboratorium ini. Lalu satuhal lagi yang membuatku heran, tuan Rensel dan miss Leina adalah kakak beradik, mereka memang mirip, tetapi sifat mereka sangat bertolak belakang. Tuan Rensel sangatlah kasar dan menyeramkan bagi kami para test subject, sedangkan miss Leina begitu lembut dan perhatian.
"Kelihatannya kemampuan regenerasimu sudah mulai bekerja," suara lembut miss Leina menarikku kembali dari lamunanku. "Apa kamu sudah bisa bangun?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung menggapai tangannya, menerima tawarannya untuk membantuku bangun dari tidurku.
Underground control room
Setelah seluruh lukaku terobati, kami mulai berjalan dengan perlahan dan hati-hati menuju ke ruang control bawah tanah. Ruangan ini berada di ujung lorong dari lantai ini, ruangan ini di buat untuk mengendalikan pembuangan limbah dari selokan bawah tanah yang ada di bawah bangunan besar ini. Setelah kami berjalan dengan hati-hati selama beberapa menit akhirnya kami sampai di depan ruangan tersebut.
Miss Leina kembali mengoprasikan terminal komputer berukuran kecil yang ada di samping pintu besi di depanku ini, sementara aku terus bersiaga di depan pintu sambil menggenggam pisau dan pedang di tangan kanan dan kiriku. Pintu besi tersebut terbuka secara perlahan, memeperlihatkan beberapa layar-layar besar yang menunjukan gambar saluran air bawah tanah.
"Aku yang akan masuk lebih dulu miss.." bisikku pelan dan mendapatkan respon angukan kepala yang mengartikan bahwa ia setuju atas usulanku.
Aku melangkah masuk dengan langkah yang pelan dan halus sebelum aku melakukan lompatan ke samping sambil berteriak. "miss Leina, menunduk!," seketika teriakanku menggema di dalam ruangan, miss Leina langsung bersembunyi di balik tembok di luar ruangan. Dan terdengarlah letusan senjata api yang bergemuruh keras di dalam ruangan kontrol ini.
Setelah 6 tembakan lepas, ruangan ini menjadi sunyi senyap. Sosok pria berambut merah yang tadi ada di ujung ruangan kini menghilang saat aku mencoba mengintip dari tempat ku bersembunyi. Aku yang kini mulai bersiap untuk bertarung di hentikan oleh suara miss Leina yang terdengar cukup keras dari luar ruangan.
"Kami bukanlah musuh tuan gunslinger, kami hanya datang kesini untuk mencari jalan keluar.."
Kesunyian menggema di dalam ruangan ini sebelum suara keras menghancurkan kesunyian tersebut. Suara tersebut berat dan dapat aku dengar di penuhi oleh rasa tidak percaya dan keputusasaan.
"A-apa maksud mu? Apakah kau adalah peneliti dari lab ini? Huff, huff.. " dia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya sebelum kembali berbicara. "Kalian tahu jalan keluar dari lab bodoh ini huh?"
"Ya, kami mengetahui bagaimana cara keluar dari tempat ini," seru miss Leina tenang. "Aku akan masuk kedalam lab sekarang, jadi jangan tembak aku.."
"Suruh anak buah mu untuk melemparkan senjatanya ketengah ruangan." perintahnya kepada miss Leina.
"Kenapa aku harus menuruti perintah anda tuan?" tanyaku mengancam. "Aku bisa membunuh anda jika aku mau sekarang.." lanjutku mengancamnya.
"Jean..!," miss Leina berteriak dengan keras, ekspresinya terlihat sangat marah dan aku belum pernah sekalipun melihat dia semarah itu kepadaku, membuat diriku terkejut dan terdiam tanpa kata. "Turuti apa yang dia inginkan, dan jangan pernah mengatakan hal 'membunuh' lagi dengan mudah.."
"A-aku.."
"Maaf, aku tidak bermaksud kasar, tetapi untuk saat ini tolong turuti apa yang ia minta." Perintah miss Leina kepadaku dengan nada lembut. "Tetapi anda juga harus melemparkan semua senjata yang anda miliki tuan." tambah miss Leina.
"Baiklah, deal.." disaat sang pria berbicara, aku dapat mendengar suara benturan keras yang berada tidak jauh di depanku. Aku mengintip dari tempatku bersembunyi dan melihat 2 model senjata api dan pisau, satu jenis sniper rifle dan satu lagi jenis handgun.
"Baiklah, giliranmu sekarang.."
Dengan hati-hati aku melempar kedua senjataku yaitu pisau dan pedang ketengah ruangan, sebelum aku melihat kearah miss Leina dan memberikan sinyal tangan kepadanya bahwa aku yang akan keluar terlebih dahulu. Miss Leina mengangukan kepalanya pelan, mengerti akan apa yang aku inginkan.
"Baiklah kita keluar secara bersamaan okay?" seru sang gunslinger yang masih dalam persembunyiannya itu.
Kami berdua pun keluar secara bersamaan dan perlahan dari pesembunyian kami dengan mengangkat kedua tangan kami.
"Semua aman miss Leina."
Dengan perlahan pun miss Leina keluar dari tempat persembunyiannya dan masuk kedalam ruang kontrol. "Baiklah, anda bilang bahwa anda mengetahui bagaimana caranya keluar dari sini nyonya.." tanya sang gunslinger dengan warna rambut merah bermodel lancip dan jabrik.
"Ya, aku mengetahui bagaimana caaranya kita bisa keluar dari sini. Tetapi sebelum aku memberitahukan mu, aku ingin kita mencapai kesepakatan terleih dahulu.." seru miss Leina dingin. Ini adalah pertama kalinya aku melihat ekspresi dingin dan marah muncul di wajahnya, hal tersebut membuatku sedikit terkejut karena selama ini dia selalu terlihat lembut dan penyayang di hadapanku.
"Huff, okay. Aku mendengarkan.." balas sang gunslinger dengan nada menyerah.
Read and Review please :D hehe
ah dan Ragnarok online bukan kepunyaan saya, saya hanya menggunakan dunianya untuk membuat cerita fiksi. Terima kasih banyak..
