Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya dan saya cinta Indonesia! Merdeka! (?)
"Kau tidak apa-apa?" kata Cagalli dengan sedikit berteriak agar suaranya tidak tertelan deru mesin motor.
"Apa? Maaf, aku tidak dengar!" Cagalli menggeram lalu mengulangi perkataannya dengan sedikit lebih keras. Tetapi Athrun tidak merespon.
"Sebaiknya kita berhenti disuatu tempat," usul Cagalli. Athrun menuruti Cagalli dan memberhentikan motornya di depan gerbang taman kota. Ia memarkir motornya lalu mengikuti Cagalli yang melenggang menuju arena bermain. Cagalli melambaikan tangannya menyuruh Athrun duduk di ayunan disebelahnya.
"Kau marah?"
Athrun mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa mesti marah?"
Cagalli menggerakkan ayunannya perlahan. Matanya menerawang jauh kearah awan-awan kelabu yang menggelantung menyembunyikan matahari. "Tidak… cemburu?"
"Cemburu? Sama siapa?"
"Yamato-san."
"Memang kenapa sampai harus cemburu sama Kira?"
Cagalli menoleh dengan cepat lalu menjitak Athrun. "Tidak usah bohong atau mengelak. Aku tahu. Dua bulan lalu aku yang bukakan pintu untukmu saat kau mencari Lacus-san!"
Mereka berdua saling pandang selama beberapa saat. Cagalli mengerutkan kening menandakan keseriusan ucapannya. Athrun menghela napas lalu tertawa, membuat ekspresi serius Cagalli bertransformasi menjadi ekspresi kebingungan.
"Itu sudah berlalu Cagalli… Sekarang sudah tidak apa-apa."
"Tapi.. Kau kan suka sama La-," Athrun menyela dengan menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir Cagalli.
"Ya, memang. Tapi Kira sahabatku dan Lacus teman dekatku dari SMP. Kalau mereka bahagia, maka aku juga." Athrun tersenyum dengan lembut sembari mengacak-acak rambut Cagalli. Cagalli menatapnya dengan iba. Ia tahu sedikit tentang hubungan Athrun dan Kira. Mereka berteman sejak awal masuk kuliah. Sayangnya mereka menyukai gadis yang sama.
"Yamato-san tahu?"
"Hn?"
"Tentang perasaanmu…"
"Oh… Tidak tuh. Lagipula tidak penting juga," ujar Athrun sambil lalu.
"Hah?"
"Sudahlah Cagalli… Tidak menyenangkan kalau kita membahas ini di hari ulang tahunku…" Perkataan Athrun melahirkan reaksi yang tak terduga dari Cagalli. Serta merta Cagalli melompat berdiri dari ayunan yang masih bergoyang. Tindakannya menyebabkan ia terjungkal jatuh kedepan dengan kepala lebih dulu. Athrun membantunya berdiri sembari berusaha menahan tawa.
"Serius?" kata Cagalli tanpa menghiraukan Athrun yang kuatir akan keadaannya.
"Ya. Hari ini aku berulang tahun," jawab Athrun masih menahan tawa. Ia menepuk-nepuk telapak tangan Cagalli yang kotor terkena pasir.
"Yang keberapa? Kok tidak bilang?"
"Sembilan belas. Kan aku sudah bilang baru-"
"Kau lebih muda dariku?" potong Cagalli. Athrun mengangkat sebelah alisnya. "Aku lahir bulan Mei! Yei, aku yang lebih tua!" sorak Cagalli.
"Kita kan seumur. Kamu toh cuma lahir lebih awal lima bulan dariku… Itu tak membuatmu jadi yang lebih tua." Athrun tersenyum jahil. Entah kenapa rasanya menyenangkan mengusili dan mengganggu kesenangan Cagalli walau kadang ia harus menggunakan cara yang tidak logis.
"Eeeh! Kok begitu? Aku kan lahir bulan Mei dan kau Oktober. Sudah pasti dan tak dinyana lagi aku yang lebih-"
"Tapi kita lahir di tahun yang sama, Cagalli." Senyum Athrun mengembang, Cagalli memelototinya.
"Sesukamulah," gumamnya ketus sembari membuang muka.
Athrun bangkit dari ayunan kemudian melangkah pergi. Cagalli buru-buru mengikutinya. "Mau kemana?" Athrun berbalik menyentuh pundaknya. "Tunggu disini. Aku akan mentraktirmu," katanya sebelum berlari menuju penjual es krim di ujung taman.
Tak lama kemudian ia kembali dengan dua es krim cone, vanilla dan coklat, masing-masing di tangan kanan dan kirinya. Ia memberikan satu pada Cagalli, yang rasa coklat.
"Terimakasih!" Ia tersenyum lalu tanpa pikir panjang segera melahap es krimnya.
Cagalli dan Athrun menikmati es krim mereka dalam diam. Cagalli memainkan kakinya di atas pasir dibawah ayunan. Ia melirik Athrun yang duduk diam disebelahnya. Merasa bosan, ia memutuskan untuk menyuarakan apa yang ada di pikirannya.
"Pasti dia cinta pertamamu…"
"Cagalli…" tegur Athrun pelan, secara tidak langsung meminta Cagalli untuk tidak mengulang lagi topik pembicaraan mereka. Cagalli mengerutkan kening. Ia tahu Athrun merasa terganggu, tapi ia amat sangat ingin tahu mengenai hubungan di antara mereka bertiga.
"Maaf. "
Sunyi kembali menghampiri mereka. Keduanya saling mendiamkan sampai akhirnya Athrun menyerah dan menghela napas panjang. "Sebenarnya dua bulan lalu itu aku ditolak…" ujarnya pelan. "Ia minta maaf karena tidak bisa membalas perasaanku. Detik itu juga aku tahu kalau aku terlambat selangkah dari Kira."
"Jadi maksudmu…"
"Ya. Hari itu Kira lebih dulu bilang padanya…. Tapi kalau aku yang lebih dulu toh tidak ada jaminan perasaanku akan bersambut." Athrun menengadahkan wajahnya, memandang kosong arak-arakan awan mendung yang memblokade cahaya sinar matahari. "Dipikir-pikir aku memang bodoh. Menyesal sekarang pun tidak ada gunanya kan?"
Cagalli mendengarkan dengan simpati. Tanpa sadar tangannya menyentuh tangan Athrun. Athrun mengalihkan pandangannya ke Cagalli dan menatapnya dalam-dalam. "Apa aku salah kalau merasa kesal?"
"Dasar bodoh." Cagalli tersenyum,"Bukan salah, tapi wajar. Gadis yang kau taksir diserobot temanmu sendiri, memang siapa yang tidak kesal? Aku saja mengamuk kalau Miriallia memakan camilanku tanpa izin, apalagi kau…" Athrun terkekeh. "Merasa sebal sih tidak masalah, asalkan jangan sampai menyimpan dendam," lanjut Cagalli.
"Pokoknya jangan terus-menerus menyesal atau merasa sedih berkepanjangan. Lacus-san tidak akan berpaling padamu kalau kau seperti itu."
"Cagalli… Sekedar memberi tahu, tapi aku tidak berniat untuk merebut pacar orang…" sanggah Athrun dengan nada serius. Cagalli memutar bola matanya, bibirnya menirukan ucapan Athrun tanpa suara. "Aku bukan tipe orang seperti itu," tambahnya.
"Ya, ya, ya…" kata Cagalli dengan nada mengejek. "Aku kan cuma menyuarakan ide yang barangkali muncul."
"Sayang sekali ide itu sama sekali tidak terpikirkan dan tidak ingin aku pikirkan." Cagalli mencibir. "Lagipula Lacus itu tipe yang setia, jadi mustahil kalau…"
"Semangaaaaat!" teriak Cagalli tiba-tiba tanpa sebab-musabab yang jelas. Athrun menaikkan sebelah alisnya, dia sudah cukup terbiasa dengan perubahan topik pembicaraan secara tiba-tiba dan aksi-aksi tidak terduga dari Cagalli selama dua bulan ini (walaupun ia masih kesulitan mengikuti jalan pikiran Cagalli yang selalu membuatnya bertanya-tanya dalam hati) sehingga tidak menunjukkan reaksi yang berarti.
"Ayo kita ganti suasana! Tak baik bagi orang patah hati mengungkit lagi luka hatinya." Athrun ingin berkata,'Bukannya kamu yang lebih dulu mengungkit masalah ini?' namun diurungkannya. Ia lalu bangkit dan menarik tangan Cagalli.
"Ayo pergi."
"Hah?"
"Katanya mau ganti suasana kan? Ayo pergi. Aku masih belum puas mentraktirmu." Cagalli tersenyum. Wajahnya memerah karena Athrun tidak melepaskan gandengan tangannya saat mereka berjalan menuju tempat parkir.
"Cagalli…"
"Hm?"
"Terimakasih ya."
Cagalli duduk bersila memandang Miriallia yang duduk dihadapannya dengan mata setengah mengantuk. Sesekali ia menguap, berharap Miriallia menyadari kondisinya dan menghentikan sesi interogasi yang sudah ia lakukan sejak satu jam lalu. Tapi ternyata jurusnya tidak mempan pada Miriallia. Ia terus saja berceloteh 'betapa hebohnya asrama putri hari itu-terimakasih kepada Lacus Clyne, karena beredarnya berita bahwa Cagalli Yulla Atha-yang selama dua tahun tinggal disrama belum pernah sekalipun disambangi teman lelakinya-kini telah berpacaran dengan pemuda yang selama sebulan belakangan ini tiba-tiba sering mengunjunginya'.
Celotehan tanpa titik-koma Miriallia membuat Cagalli mendesah pelan. Dalam hati ia merutuki nasibnya dan kespontanan seorang gadis berambut pink yang sudah menyebabkan kesalahpahaman ini membengkak. Ia bergidik membayangkan senyuman penuh makna dari teman-teman di asramanya, candaan serius mereka mengenai 'pajak jadian', nasehat panjang dari ibu asrama mereka, dan cengiran 'selamat ya akhirnya kamu punya pacar' dari pemilik warung makan di depan asrama. Oh Tuhan, cara apa yang harus ia lakukan untuk meluruskan semuanya besok?
"Jadi?" Pertanyaan Miriallia menyingkirkan sementara rasa frustasi Cagalli.
"Jadi apanya?" Dengan sigap Miriallia langsung melemparnya dengan bantal.
"Dengarkan baik-baik kalau orang sedang bicara Nona Atha!" tegur Miriallia.
"Aku mendengarkan kok…" ujar Cagalli pelan.-Sambil mengantuk, tambahnya dalam hati.
"Akhirnya dia nembak kamu?"
"Pertanyaan apa lagi itu?" Miriallia menggeram kesal.
"Pasti ada hal bagus yang terjadi kan?"
"Hal bagus apa?"
Miriallia menggenggam telinga boneka panda dipelukannya dengan gemas,"Makannya aku tanya! Aku kan sudah cerita mengenai apa-apa saja yang terjadi di asrama selama kamu pergi kencan…" Miriallia berhenti sejenak untuk mengelak dari serangan bantal balasan yang dilemparkan Cagalli. "Karena itu sekarang giliranmu yang cerita. Minimal berikan aku penjelasan kenapa kamu baru pulang jam sembilan malam-setelah pergi seharian dari jam satu siang-dengan cengiran mencurigakan terpampang jelas diwajahmu serta helm cadangan milik Athrun yang katanya dititipkan padamu supaya lain kali ia tidak kerepotan membawa dua helm saat berkunjung kemari dan menculikmu pergi. Bersyukurlah kamu karena ibu asrama lupa menceramahimu untuk tidak keluyuran sampai malam. Sudah mana kau lupa janjimu tentang 'membawakan makan malam'… Untung aku sudah makan malam duluan kerena intuisiku berkata kamu pasti akan lupa…" Miriallia terdiam lagi untuk mengambil napas setelah 'ceramah' panjang lebarnya. "Oh ya, jelaskan juga soal Athrun dan Lacus-chan! Mereka saling kenal ya?" tambahnya kemudian.
"Jujur Milly… Aku tidak bisa mencerna semua ucapanmu barusan dan bingung harus jawab dari ma-"
"Ceritakan saja dari awal," sela Miriallia. Cagalli mengeluarkan suara gerutuan tak jelas lalu menjawab dengan setengah hati.
"Dia ulang tahun, jadi aku ditraktirnya makan."
"Terus kenapa baru pulang jam sembilan?"
"Sejak kapan kau jadi ibuku, Milly?" Miriallia berkacak pinggang dan memberinya tatapan mengintimidasi yang seakan berkata 'jawab pertanyaanku sekarang Nona Atha'.
"Tadi sore kan hujan. Jadi kita terjebak di mall sampai malam." Cagalli mencoba menjawab seluwes mungkin untuk menutupi kebohongan bahwa sebenarnya mereka kelamaan 'main' di toko buku sampai lupa waktu. Ia tak ingin bercerita terlalu banyak kepada Miriallia, mengingat kabar yang tersebar di seluruh penjuru asrama hari ini-sekali lagi terimakasih kepada Lacus Clyne.
"Alasan! Sepengetahuanku sore tadi cuma gerimis."
Oke, Cagalli terpojok dan bingung mencari kebohongan selanjutnya. "Athrun lupa bawa jas hujan. Walau cuma gerimis kita tetap akan basah begitu sampai asrama."
"Ding-dong! Berbohonglah dengan lebih baik lagi Cag. Aku tahu kamu pasti tahu bahwa sore tadi hujan turun tak lebih dari sejam."
Cagalli diam sejenak, menimbang-nimbang apakah dia akan bicara jujur. "Aku diajak… nonton..."
Senyuman penuh makna dengan cepat mengembang di wajah Miriallia. "Bagus! Kemajuan pesat. Kalau kamu sudah diajak nonton itu berarti pertanda bagus!" Miriallia berdeham,"Kita bahas masalah itu nanti. Kembali ke topik, pernyataanmu barusan masih belum membuatku puas. Kalau diakumulasikan, makan siang ditambah nonton ditambah perjalanan asrama-mall tidak sampai delapan jam…"
"Milly, yang aku tonton itu Inception yang durasinya hampir tiga jam."
"Oke, alasan diterima," kata Miriallia meniru ucapan hakim dalam sidang. Cagalli mendengus kesal. "Pertanyaan selanjutnya… Soal Lacus-chan."
"Lacus-san teman SMP Athrun." Miriallia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Puas? Aku tidur ya." Ia cepat-cepat merebahkan tubuhnya ke kasur agar Miriallia tidak menanyainya lagi. Miriallia tertawa melihat tingkah teman sekamarnya itu lalu bangkit untuk mematikan lampu.
"Ngomong-ngomong… Kamu mau memberi Athrun kado apa?"
"Nanti kupikirkan," gumam Cagalli.
"Dasar… Pikirkan sekarang dong! Semakin cepat kamu beri dia kado semakin baik, hitung-hitung balas budi karena sudah ditraktir." Cagalli hanya menanggapinya dengan gumaman. "Ayolah Cag… Kau mau memberinya apa? Mau menyerahkan dirimu sendiri?" Kali ini Cagalli melemparnya dengan guling.
"Serius Milly, kata-katamu barusan dapat bermakna ganda." Miriallia tertawa terbahak-bahak. "Akan kupikirkan nanti. Sekarang aku sudah terlalu mengantuk bahkan hanya untuk sekedar lanjut ngobrol denganmu. Aku sudah boleh tidur kan?"
Miriallia tidak menyahut. Cagalli menganggapnya sebagai pertanda baik karena itu berarti dia sudah diperbolehkan tidur. Sunyi sejenak sampai akhirnya Miriallia kembali bicara.
"Ah, ya… Sebenarnya aku tidak diperbolehkan bilang padamu sih… Tapi kupikir ini pasti penting buatmu," ujar Miriallia pelan.
"Hm?" Cagalli membalikkan tubuhnya agar dapat menghadap Miriallia yang duduk di tempat tidurnya di seberang ruangan.
Miriallia berkata pelan,"Tadi siang saat kamu pergi keluar dengan Athrun… 'Dia' datang…"
Athrun menarik napas panjang sebelum memutar gagang pintu dan masuk ke kamar kostnya. Ia melangkah masuk sambil memejamkan mata. 'Tiga, dua, satu'- ia menghitung mundur dalam hati. Dan… sesuai dengan apa yang telah ia prediksikan.
"Athrun Zala!" Suara teman sekamarnya menggelegar menyambutnya. "Kemana saja kau?"
"Hehehehe…"
"Jangan meng'hehehe'ku! Jangan bilang kau lupa soal acara main futsal hari ini! Kami sudah susah payah menyewa tempat futsal dalam rangka perayaan ulang tahunmu tapi kau malah pergi entah kemana tanpa memberi kabar?" semburnya murka.
"Heine, biar ku-"
"Demi Tuhan! Kau mematikan Handphone-mu selama delapan jam! Delapan jam, hah?" sela Heine tanpa ampun.
"Aku minta maaf. Tapi tolong dengar sebentar…"
"Memangnya kau melakukan apa saja seharian ini sampai-sampai kau lupa menggubris handphonemu?" tanya Heine, memutuskan untuk memberikan kesempatan bicara pada Athrun.
"Aku pergi ke bioskop. Kamu pasti tahu soal aturan yang melarang mengaktifkan handphone berkamera di dalam gedung bioskop kan?" jawab Athrun tenang.
"Nonton sampai delapan jam?" Kata-kata polos Heine sontak membuat Athrun tertawa.
"Tidak lah… Aku mampir ke toko buku. Handphoneku mati karena lowbatt beberapa saat setelah kuaktifkan begitu keluar dari bioskop."
"Hng…" Heine mengangguk-anggukkan kepalanya dengan khidmat. "Tapi aku masih marah! Kau harus tanggung jawab!"
"Iya… Besok aku traktir kalian sebagai permintaan maaf," ucapnya lirih. Mau tak mau ia merasa bersalah karena ia memang bilang akan ikut main futsal bersama teman-teman kostnya.
"Jarang-jarang kau ingkar janji," ujar Heine-masih bersungut-sungut, namun moodnya sudah berubah jadi lebih baik.
"Aku kan memang tidak bilang pasti akan ikut. Lagipula biasanya aku tidak kalian ajak kan?" Heine terdiam. Ia ingin membantah tapi tidak menemukan kata-kata yang tepat.
"Oke, oke. Memang bukan sepenuhnya salahmu. Huh, padahal tadi kami sudah menyiapkan cheerleader lengkap beserta kostumnya." Athrun geleng-geleng kepala. Dalam hati ia bersyukur tadi tidak datang. Setidaknya ia terhindar dari ide absurd Heine yang tak jelas.
"Terus, tadi kau pergi sama siapa? Kira?" tebak Heine. Biasanya Athrun memang mengajak sahabat kentalnya itu pergi merayakan ulang tahun. Tapi tidak tahun ini. Ia sudah merayakannya dengan Kira kemarin, karena ia tahu Kira sudah ada acara dengan Lacus hari itu.
"Bukan," jawabnya singkat.
"Jadi sama siapa? Nona Clyne-mu itu? Eeeh, salah. Sekarang objek cintamu kan sudah berubah menjadi Ca-siapa? Cagalli?" Kata-kata Heine membuat dahi Athrun berkerut.
"Tunggu dulu, Heine. Darimana kamu ta-maksudku kenapa kamu bisa berkesimpulan seperti itu?" Athrun yakin ia tak pernah menyinggung masalah perasaannya pada orang lain, terkecuali Cagalli dan ibunya. Selain itu dia juga merupakan pribadi yang introvert dan menyimpan semuanya rapat-rapat dalam benaknya. Jadi mustahil orang yang-agak-kurang-peka seperti Heine tahu. Kecuali kalau…
"Tak usah dipungkiri. Aku tahu setiap hari kalian mengobrol wall to wall di facebook. Akui saja perasaanmu itu! Namanya yang tertulis rapi di setiap baris buku diarymu membuktikan semuanya!" goda Heine.
Athrun langsung bereaksi cepat begitu mendengar kata-kata diary keluar dari mulut Heine. Ia menjitak kepala Heine, membuatnya mengaduh kesakitan. "Kau membaca jurnalku?"
"Eng… hehehe…" Heine memberikan Athrun tatapan tak bersalah yang justru membuat Athrun semakin sebal.
"Jawab aku Heine Westenfluss!" ucap Athrun dengan penekanan pada setiap katanya.
"Aku hanya kebetulan menemukannya saat mencari majalah bolaku kok," ujar Heine memberikan pembelaan pada dirinya sendiri. Athrun memelototinya. "Maaf deh… Lagipula mana ada anak cowok yang menyembunyikan diary-"
"Jurnal!" koreksi Athrun dengan kesal. Ia sudah akan melempar Heine dengan sepatu yang bari saja dilepasnya ketika Heine menatapnya dengan panik dan setengan mengiba 'Eits-jangan coba-coba menimpukku dengan sepatumu itu. Letakkan sekarang juga!'
"Ya, jurnal atau apaan-deh-itu di bawah bantal. Memangnya kau ini anak cewek yang menyembunyikan foto pacarnya dari ayahnya, hah?" canda Heine yang langsung disambut dengan jitakan lain di kepalanya. Melihat orang sekalem Athrun marah adalah sebuah hiburan tersendiri bagi Heine. Karena itu ia putuskan untuk mengompori kemarahan Athrun agar momen langka itu bertahan lebih lama.
"Heine," Athrun berkata dengan suara rendah yang mengancam. "Bagaian mana yang kamu baca?"
"Hm… yang mana ya? Biar kuingat-ingat…" Heine berpura-pura berpikir dengan memposisikan jari telunjuk ke pelipisnya. "Oh… soal Kira-Nona Clyne dan betapa menyesalnya kau mengajak sahabatmu itu di kencan pertamamu dengan gadis yang kau sukai dari TK-eh, salah… Playg-" Athrun melemparnya dengan ransel yang sedari tadi memang masih disandangnya. Masih belum puas mengerjai Athrun Heine melanjutkan,"Apaan sih? Dilarang melakukan aksi anarkis dan KDRT-Kekerasan dalam rumah kost! Dan lagi orang bodoh macam apa yang mengajak dan mengenalkan bishounen macam Kira di kencan pertamanya dengan sang gadis impian?"
"Maaf saja kalau aku bodoh," desis Athrun. Heine tak mengindahkan perkataannya sama sekali dan melanjutkan memprovokasi kemurkaan Athrun.
"Lalu lukisan objek cinta barumu yang kau gambar dengan penuh perasaan di halaman terakhir diarymu-Tuh kan, aku benar! Kau memang seperti anak cewek yang menyembunyikan foto pacarnya dari… Aduh! Berhenti menjitakiku, Athrun! Gimana kalau tiba-tiba aku jadi bodoh atau mengidap Alzheimer?"
"Aku akan bersyukur kalau itu benar-benar terjadi. Dengar, Heine! Awas kalau kamu berani membicarakan hal ini pada orang lain atau mengungkit-ungkitnya dihadapanku! Aku berani menjamin obituarimu akan dipajang diseluruh halaman surat kabar kota kalau kamu macam-macam," ancamnya dengan tatapan yang menusuk.
"Iya, iya. Tidak akan. Aku kan tidak suka bergosip. Aku juga tidak sekejam kau," Heine memutar bola matanya. Dalam hati ia bersorak-sorai dengan gembira karena lagi-lagi berhasil mempermainkan teman sekamarnya itu. "Masih untung aku yang baca, bayangkan kalau Yzak. Aku yakin diarymu itu langsung dia foto copy dan disebarkan ke seantero kampus."
Athrun menghela napas panjang, mencoba menjinakkan emosinya. Hilanglah sudah mood baik yang sudah ia bangun tadi siang dengan bantuan Cagalli. Ia seharusnya lebih hati-hati menyimpan dan menjaga barang-barangnya dari tangan usil Heine.
Athrun mendiamkan teman sekamarnya itu lalu masuk ke kamar mandi di ujung ruangan untuk mendinginkan pikirannya. Setelah selesai ia keluar dan bersiap-siap untuk tidur. Ia sudah setengah tertidur ketika Heine mengajaknya bicara lagi.
"Ada yang buat aku penasaran belakangan ini… Kau masih suka sama Nona Clyne?"
"Aku tidak akan menyukai pacar temanku," ujar Athrun sekenanya. Tak usah diberitahu pun Heine sudah tahu semuanya dari jurnalnya.
"Kalau begitu kau suka Cagalli?" Athrun tidak menanggapinya. "Kuberitahu ya… Cewek itu sering salah sangka karena tindakan kita, seperti halnya kita sering salah sangka karena tindakan mereka. Kalau kau cuma menganggapnya teman cepat luruskan, sebelum dia salah sangka dan sakit hati karena alasan yang salah."
Athrun pura-pura tak mendengarkan. Tapi mau tak mau perkataan Heine mengganggunya juga. Hubungannya dengan Cagalli bukan seperti 'itu'. Ia memang merasa nyaman dengan keberadaan Cagalli. Tapi ia ragu Cagalli juga merasa nyaman dengannya.
"Athrun?" tanya Heine memastikan kalau-kalau Athrun mendengarkan dan masih terjaga.
"Hm…" gumam Athrun pelan.
"Kau suka tidak sama Cagalli?" Athrun diam sejenak.
"Mungkin…"
Ia terdiam lagi sebelum menambahkan, "Aku tidak yakin. Tapi dia membuatku nyaman…"
Heine tertawa mengejek. "Sekedar saran… Cepat kau rumuskan perasaanmu itu dan putuskan apakah kau suka atau tidak padanya. Jaga-jaga barangkali ada 'Kira' lain atau mungkin aku yang mengincar objek cintamu. Setidaknya bilang terus ditolak masih lebih terhormat daripada kalah cepat dengan rival." Sarkasme Heine membuat Athrun tertawa kecil.
"Ya, pasti. Aku juga tidak suka kalau ada orang sepertimu yang mencoba mengambil kesempatan dari Cagalli…"
BGM (yang mungkin pas) : Fallin For You - Colbie Caillat, Zero Gravity - mas David Archuleta, Accidentally In Love - Counting Crows
Author's Note : Terimakasih banyak kepada Nagisa Archipelago-san, kak ShinkuNoArisu, kak Hiru, Ka-san, dan Aihsire Atha-san yang sudah memberi saya BBM (review) :) Terimakasih juga untuk para reader yang sudah sudi membaca fic ini... Mohon maaf bila ternyata chapter 2 ini mengecewakan, menyebalkan, membosankan, dan tidak nyambung dengan chapter kemarin... Saya sungguh berharap akan komentar, kritik, saran, masukan, usul, dll... Apakah fic ini layak lanjut ataukah lebih baik saya deportasi via Fe*Ex...
Review anda setara dengan seribu burung kertas :DD
