Pabbo Beruang Seonsaengnim
Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Rated : T—M
Warning : Boys love, Yaoi, [Cerita ini murni hasil pemikiran Author dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan apapun.]
Disclaimer :
Seluruh pemain disini bukan milik Author. Mereka adalah milik diri mereka sendiri, Management serta Tuhan YME. Author hanya meminjam sebentar, ne!
.
.
_This story Original _
by
HinaRiku-chan a.k.a Nyangiku
.
.
''If you don't like, Don't read it"
Tidak suka? Jangan baca!
.
.
Bagi yang sudah menyempatkan untuk membaca—
.
.
Onegaishimasu
~Selamat membaca~
.
.
"Maafkan aku, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf Park-Saengnim, aku tidak bermaksud meneriakimu tadi," Junsu menundukkan kepalanya berkali-kali merapalkan permintaaan maaf pada Yoochun yang kini sedang memegangi sebelah telinganya yang berdengung sejak insiden teriakan Junsu yang membahana.
Yoochun meringis. Telinganya benar-benar terasa sakit, seperti ada suara gaduh serta dengung yang begitu ramai didalam telinganya. Jangan lupa rasa berdenyut-denyut sampai membuat kepalanya terasa sakit.
"Sepertinya sepulang sekolah nanti aku harus pergi ke dokter THT."
Junsu semakin menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah. Baru kali ini teriakannya yang melengking itu sampai membuat seseorang merasa sakit ditelinganya. Seyakin itu kah? Hm? Bagaimana dengan korban lainnya yang pernah diteriakinya?
Junsu meremas kedua tangannya, menunggu penerimaan maaf dari sang Seonsaengnim. Entah kenapa saat ini Junsu tidak bisa berteriak protes pada manusia berjidat lebar itu, padahal jika ia merasa kesal atau ada yang berbuat tidak baik padanya ia akan terus berteriak protes atau bahkan membuat keributan.
Dan sekarang Junsu akui, ia berada diujung jurang yang sama dengan Jaejoong, bersiap terlibat masalah sama seperti sepupunya itu.
"Aku akan memaafkanmu.." Yoochun memotong kalimatnya. Junsu pun mendongak menatap gugup sang Saengnim.
"..Jika kau mau menjadi kekasihku atau menemaniku satu malam." Yoochun menyeringai setan. Menunggu jawaban Junsu atas dua pilihan yang ia berikan. Junsu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan emosi dengan wajah memerah sempurna.
PLAK!
Satu suara tamparan keras itu lah yang menjadi jawaban atas pilihan yang Yoochun berikan kepadanya.
.
.
"Ya, kau kenapa? Cepat buka pintunya kau belum makan sejak siang, Suie." Jaejoong menempelkan telinganya pada pintu berwarna biru bertuliskan 'Junsu Private Room' dengan gambar bebek dan lumba-lumba yang menempel dikedua sisi tulisan itu. Saat Jaejoong baru saja pulang dari mengantar Yunho ke apotik tadi siang, Kim Ahjumma dan Junho—saudara kembar Junsu mengatakan kalau si pecinta bebek bersuara lumba-lumba itu terus mengurung diri didalam kamarnya. Mengabaikan panggilan sang umma dan kembarannya yang cemas.
Belum ada jawaban dari Junsu dan tidak terdengar suara apapun yang aneh karena seluruh kamarnya dipenuhi oleh suara dari lagu Keep Your Head Down milik boyband terkenal se-Asia, DongBangShinki yang terus diputar berulang-ulang sampai Jaejoong hafal.
Urat kekesalan dipelipis Jaejoong semakin berdenyut. Tidak tahukan kalau Jaejoong itu sangat lelah? Ia bahkan masih memakai seragamnya lengkap dengan tas sekolahnya. Intinya ia sama sekali belum pulang kerumahnya yang berjarak satu blok dari rumah Junsu. Ia langsung melesat ke rumah Junsu setelah Ummanya meneleponnya menyuruhnya langsung kerumah Kim yang satu ini. Apalagi tadi ia berdebat dengan Yunho perihal kondom sepanjang jalan dengan beberapa insiden Yunho yang sempat hendak mencari kesempatan padanya.
"Bagaimana, Joongie?" tanya Junho. Jaejoong menggeleng sebagai tanda tidak adanya hasil.
"Ah, aku menemukan ini," tiba-tiba Kim Ahjumma datang dengan sebuah kunci ditangannya. "Ini kunci duplikat kamar Junsu, cepatlah masuk Joongie lihat keadaan Junsu." Kim Ahjumma mendorong Jaejoong setelah menyerahkan kunci duplikat itu. Sedang ia dan Junho kembali ke aktivitasnya masing-masing. Meninggalkan Jaejoong sendirian.
Jaejoong menghela nafasnya setelah berhasil membuka pintu yang terkunci dari dalam itu, tangannya memegang knop pintu dengan hati-hati masuk ke dalamnya dengan perlahan.
"Pabbo! Pabbo! Jidat mesum pabbo! Mati kau, YA! YA! menyingkir, aku akan menyerangmu sekarang. Menendang jidatmu dengan tendangan mautku dan GOOOOOOOL! Kim Junsu kau memang hebat~!" Jaejoong hampir saja menjatuhkan rahangnya yang terbuka lebar saat dilihatnya Junsu sedang asyik bermain game sepak bola sambil berteriak girang.
Jadi ini yang dilakukannya seharian dikamar? Bermain game? Dengan musik yang mengalun keras dan ia asyik bermain game?
Padahal tadinya Jaejoong pikir Junsu sedang menangis bombay meratapi nasibnya yang selalu dijahili oleh Changmin. Ck. Sia-sia rupanya usahanya.
"Hah~ rasanya lega sekali setelah membobol gawang Park jidat mesum. Lihat saja aku akan mengalahkanmu MESUM!" Junsu merebahkan tubuhnya setelah meletakkan stik Playstationnya dengan televisi yang menampilkan selebrasi kemenangan tim yang dimainkan Junsu. Ia menggulingkan tubuhnya hingga kedua mata sipitnya menangkap sosok Jaejoong sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya kesal.
"Dasar lumba-lumba menyebalkan! Kau bersenang-senang disini sedangkan yang lain mencemaskanmu tahu!" Jaejoong melempar tasnya dan hampir mengenai Junsu kalau ia tidak segera berguling ke arah lain.
"Ada apa Joongie? Siapa yang kau cemaskan?" tanya Junsu polos. Benar-benar wajahnya itu minta dihajar, Jaejoong benar-benar kesal. Ia menghentakkan kakinya berjalan menuju ke arah Junsu lalu mendudukkan pantat ratanya di atas karpet didekat Junsu.
"Aku pikir kau sedang menangis karena diganggu oleh Changmin lagi," Jaejoong memajukan bibirnya. Sia-sia sudah kedatangannya kesini, kalau saja ia langsung pulang kerumahnya tadi, pasti ia sudah bersantai sekarang.
Di ganggu Changmin? Junsu memiringkan kepalanya berpikir, mengingat-ingat sesuatu. Dan, AH!
Dia ingat.
"Hueee Joongie, tadi Changmin memang mengangguku. Tapi tapi ada seorang lagi yang mengangguku, bahkan tadi dia memintaku untuk menjadi kekasihnya dan menemaninya satu malam. Si mesum itu benar-benar membuatku kesal!" Junsu pun akhirnya menangis dengan manja di atas pangkuan Jaejoong. Ia meletakkan kepalanya yang lumayan berat itu di atas paha Jaejoong yang tentu saja membuat si pemilik paha terganggu.
"Park Seonsaengnim?" tebak Jaejoong hingga Junsu bangkit dan langsung duduk. Menatap Jaejoong dengan tatapan kaget.
Bagaimana Jaejoong bisa tahu?
"Kau terus menyebut namanya sejak tadi." jawab Jaejoong seakan tahu kalau Junsu tengah memikirkan dari mana Jaejoong tahu tentang orang yang ia sendiri belum memberitahu Jaejoong.
"Aku kan tidak menyebutkan namanya, Joongie!" protes Junsu merasa curhatannya itu dipotong.
Jaejoong menghela nafasnya. Hari ini Junsu benar-benar manja sekali padanya, merepotkan. Keluhnya dalam hati.
"Aku tanya, siapa pemilik jidat lebar dan mesum yang kita kenali selama ini selain Park Seonsaengnim?" tanya Jaejoong.
Junsu menggembungkan kedua pipi chubbynya, "Park Jidat Seonsaengnim." jawabnya malas. Jaejoong hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi, apa yang terjadi selama aku pergi tadi bersama si Beruang Saengnim?" tanya Jaejoong lagi. Dan kali ini Junsu langsung menerjang Jaejoong, memeluk tubuh kurus pemilik pinggang ramping itu dengan erat dan memulai kembali rengekannya.
.
.
.
Jaejoong merebahkan tubuhnya dikasur empuknya yang sudah ia rindukan sejak siang. Akhirnya ia bisa beristirahat juga setelah menjalani hari yang melelahkan.
Setelah mendengar cerita Junsu tadi mengenai Park Seonsaengnim, Jaejoong jadi berpikir entah kenapa di sekolah barunya ia mendapatkan dua Saengnim mesum yang benar-benar menyebalkan.
Yang satu Beruang Saengnim dan yang satu Jidat Saengnim. Apakah mereka terlalu lama menjomblo sehingga mereka menjadi mesum begitu?
LINE!
Suara ponsel serta getarannya menggangu sejenak Jaejoong dengan pikirannya. Ponsel dengan casing bergambar gajah itu diambilnya. Di tekannya satu tombol yang membuat layar ponsel dengan wallpaper foto dirinya sendiri menyala. Satu pesan di LINE diterimanya dari sebuah akun dengan foto dan ID yang asing buatnya.
Ia membuka pesan itu dan membuat keningnya berkerut.
"Aku sedang berpikir waktu yang pas untuk kita merasakan ini, ah lebih tepatnya aku memakai ini dan kau merasakannya Jaejoongie~"
Jaejoong merinding seketika saat sebuah gambar yang ia kenali muncul tak lama setelah satu chat munsul dari akun bergambar boneka beruang itu.
Gambar itu, gambar kondom yang tadi siang ia kira sebagai permen! Dan jangan lupa sebuah stiker bergambar beruang coklat dengan wajah minta di hajar dan gambar hati berwarna merah.
Jaejoong melihat ke profil akun LINE aneh yang belum berteman dengannya, dan saat ini foto profil akun tersebut berubah menjadi gambar beruang.
Gambar beruang.. pasti akun LINE ini milik si Beruang Mesum itu!
Tapi..
LINE!
"Kau sedang berpikir aku mendapatkan ID LINE-mu dari siapa kan?"
Yah.. baru saja Jaejoong akan bertanya darimana si mesum itu mendapatkan ID LINE nya lagi-lagi si mesum itu mendahuluinya, seakan tahu apa yang Jaejoong pikirkan dan akan dikatakan padanya. Ugh.. apakah ia seorang cenayang sehingga tahu segalanya tentang Jaejoong?
Changmin. JUNG CHANGMIN dongsaeng si mesum itu memang minta di hajar! Siapa lagi kalau bukan dia yang memberikannya akun LINE milik Jaejoong pada sang hyung?
"BERUANG MESUM!"
Balas Jaejoong tanpa membalas chat Yunho sebelumnya. Tak lupa dengan emoticon kelinci yang sedang marah.
LINE!
"Aigoo.. aku tahu kau tidak sabar Jaejoongie~ bagaimana kalau besok di ruanganku saja saat jam istirahat?"
Balas Yunho lagi yang sangat out of topic bukan out of topic sih hanya saja topiknya itu masih sama dengan tadi siang, yaitu mengenai KONDOM!
"DALAM MIMPIMU SAJA!"
Balas Jaejoong setelah balasan itu sampai pada Yunho ia langsung mematikan ponselnya, mencabut baterainya dan langsung melempar ponsel serta baterainya yang sudah terpisah itu ke sembarang arah. Masa bodoh kalau ponsel barunya itu rusak. Saat ini ia benar-benar sedang kesal pada duo JUNG mesum itu!
.
.
"Hyung, sepertinya kau sedang senang sekali?" Changmin yang saat ini dikelilingi oleh berbagai macam makanan tersenyum jahil ke arah Yunho—sang hyung. Walaupun Changmin tahu apa yang membuat sang hyung tersenyum mesum begitu.
"Diam dan habiskan saja imbalanmu itu, dongsaeng!" seru Yunho yang kegiatannya tidak ingin di ganggu. Kegiatan menjahili Kim Jaejoong.
Changmin hanya menggendikkan bahunya acuh. Oh, tidak tahu saja kalau besok ia akan mendapatkan nerakanya di tangan Kim Jaejoong.
.
.
.
"AMPUN HYUUUNG!"
"Suie! Cepat buang semua makanannya dan ambil semua uang yang ada didompetnya!" Jaejoong, dengan mata berkilat penuh amarah memerintahkan Junsu sang sepupu yang sedang menenteng tas Jung Changmin yang hanya berisi makanan didekat tong sampah yang berada didepan pintu masuk ke gedung sekolah untuk mengeluarkan seluruh isi bawaan Jung junior.
Junsu dengan cepat pun menuruti perintah Jaejoong dengan cara mengeluarkan seluruh makanan yang dibawa si foodmonster itu dan membuangnya satu persatu ke dalam tong sampah.
Sedangkan Jaejoong sendiri dengan tenaga yang entah dari mana ia dapatkan sedang menahan Changmin yang tak berdaya menempel didinding dengan kerah baju yang dicengkram oleh Jaejoong sekuat tenaga. Sungguh sial saat Changmin memutuskan untuk berangkat sekolah sendirian sehingga ia dicegat oleh Jaejoong dan terjadilah penyiksaan terhadap Changmin saat ini.
"Makanya jangan seenaknya memberikan ID LINE-ku pada hyung mesummu itu!" Jaejoong kembali berkata dengan wajah yang dibuat seram. Sebenarnya bukan karena takut pada ancaman Jaejoong sehingga Changmin tak berdaya seperti orang paling lemah sedunia hanya saja para kekasihnya itu—makanannya dibuang semua sehingga ia merasa separuh jiwanya pun ikut terbuang dan menjadi lemah seketika.
Kemana pula dua evil yang menjadi sekutunya berada. Padahal ia sedang membutuhkan bantuan mereka.
"HAHAHA!" Junsu tertawa setan saat memperlihatkan dompet Changmin yang cukup tebal. Mengambil seluruh isinya dan langsung dimasukkan ke dalam kantung seragamnya dan tanpa dosa melemparkan tas yang telah kosong beserta dompet itu ke lantai.
Sedang Jaejoong hanya menyeringai setan.
"TIDAAAAAAK!" pekik Changmin berlebihan.
Tubuhnya merosot ke tanah, meratapi nasib sialnya pagi ini. Semoga saja ada pahlawan pagi yang menolongnya sekarang juga.
"Jangan pernah meremehkanku, JUNG Changmin." ucap Jaejoong menekankan kata JUNG dikalimatnya tanpa menyadari kalau dibelakangnya kini telah muncul JUNG yang lain dengan wajah datar serta seringai iblis di bibir hatinya.
Junsu yang menyadari kehadiran 'musuh' Jaejoong pun perlahan melangkahkan kakinya dan setelah langkahnya sampai didekat pintu ia langsung berlari menuju ke dalam gedung sekolah.
"Ada apa Suie?" tanya Jaejoong bingung melihat sang sepupu tiba-tiba memasang wajah horror sambil berjalan mundur. "YA! SUIE YA! JANGAN KABUR, AISH!" Jaejoong menghentakkan kakinya saat melihat Junsu telah benar-benar hilang dari pandangannya.
"Seharusnya aku yang mengatakan padamu untuk tidak kabur, Kim Jaejoong." suara bass bernada rendah dan maskulin itu terdengar bagaikan nyanyian iblis ditelinga Jaejoong. Tanpa menolehkan wajahnya pun ia tahu, ia sangat hafal pemilik suara bass itu.
Siapa lagi kalau bukan..
"Hai, Kim Jaejoong. Mari kita ke ruanganku sekarang." ucap Yunho sambil menarik kerah baju Jaejoong.
Changmin yang tadinya menangis tersedu-sedu meratapi makanannya kini tertawa puas saat melihat Jaejoong dengan wajah horror dan bibir pucat dibawa Yunho, sang hyung.
.
.
.
BRUK!
"Akhhh.." ringis Jaejoong saat tubuhnya terjatuh diatas salah satu ranjang yang berada di ruang kesehatan. Saking kerasnya dorongan itu hingga gorden yang berada di kedua sisi sebagai pembatas antar ranjang itu putus karena terkena tangannya.
Yunho dengan wajah iblis dan seringainya yang menyeramkan perlahan naik ke atas ranjang bersprei hijau itu, mendekat perlahan ke arah Jaejoong yang sedang terbaring tak berdaya.
"Berani sekali kau menyiksa adikku, eoh? Apa kau benar-benar ingin ku makan?" Yunho berbisik tepat disamping telinga Jaejoong yang kini ia ketahui sebagai salah satu titik kelemahan namja cantik itu. Bagaimana ia tahu? Lihat saja sekarang namja cantik itu sedang terpejam sambil menggigit bibir plumnya menahan susah payah agar desahan dari rasa geli yang menjalar di seluruh tubuhnya tidak keluar
"A—aku.. aargh!" mata hitam bening itu melotot kala merasakan sensasi menyakitkan di lehernya, Yunho menggigit perpotongan leher putih Jaejoong setelah tanpa ijin membuka—atau lebih tepatnya menarik kasar seragam yang Jaejoong kenakan sehingga dua kancing teratasnya putus. Ia mendaratkan bibir hatinya di atas bekas gigitannya menjilatnya beberapa kali sesekali diciuminya noda kemerahan itu membuat si pemilik tubuh yang berada di bawah kungkungannya melenguh.
Ingin melawan, namun tidak bisa karena tubuhnya benar-benar terkurung oleh tubuh beruang mesum itu. Bahkan kedua kakinya saja saat ini di duduki pemilik tubuh besar seperti beruang itu.
Rasanya menyedihkan sekali dalam posisi tidak berdaya begitu sedangkan orang yang berada di atasmu sedang menikmati kegiatannya. Jaejoong jadi teringat pesan di LINE nya dari Yunho semalam. Tentang.. ARGH! Jangan bilang kalau ini saatnya, saatnya ia harus kehilangan kehormatannya yang direnggut oleh guru mesum yang selalu mencari masalah dengannya.
TIDAK!
Tapi.. ini kan belum jam istirahat? bahkan jam pelajaran pun belum di mulai, mungkinkah Yunho mempercepatnya?
Aish! Bagaimana ini? Jaejoong belum siap.
"Kepada Jung Yunho harap ke ruang Kepala Sekolah sekarang juga. Sekali lagi kepada Jung Yunho, atau Jung Seonsaengnim harap ke ruang Kepala Sekolah sekarang."
"CK!" Yunho berdecak kesal ketika kegiatannya meng'hukum' siswa yang telah menganggu adik dan kekasih makanan sang adik terganggu, namun bagi Jaejoong yang saat ini sedang komat kamit berdoa agar Yunho membatalkan kegiatan yang di lakukannya, panggilan dari pengeras suara yang menggema di seluruh penjuru sekolah itu merupakan penyelamat hidupnya.
Dan akhirnya tubuh beruang itu menyingkir juga dari atas Jaejoong. Yunho merapihkan kemejanya yang sedikit berantakan—menurutnya, padahal yang jelas-jelas berantakan itu kan Jaejoong. Lihat saja kancing kemejanya yang terlepas itu, lalu bagaimana cara ia mengikuti jam pelajaran nanti?
Jaejoong menggeser tubuhnya untuk bangun dari posisi sebelumnya yang setengah berbaring menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang kecil itu.
"Itu cuma hukuman biasa, kalau sampai kau berulah lagi aku benar-benar akan menghukummu." ucap Yunho datar namun terselip sebuah ancaman didalamnya. Meninggalkan Jaejoong begitu saja sendirian di ruang kesehatan, beruang mesum itu memang tidak bertanggungjawab!
Jaejoong menyentuh 'luka gigitan' yang tadi di torehkan Yunho. Mengingat dirinya yang hanya pasrah saja di bawah beruang mesum itu membuat seluruh pipinya memerah. Hingga suara panggilan telepon dari ponselnya menginterupsi lamunan Jaejoong.
.
.
"YA! JOONGIE~~ kau dimana? Aku benar-benar takut Changmin akan balas dendam padaku, sekarang aku harus pergi kemana Joongie~?" Junsu membekap mulutnya sendiri setelah kelepasan mengeluarkan teriakan lumba-lumbanya yang dahsyat itu. Saat ini ia sedang berada di ruang klub musik tempatnya bernaung. Lebih tepatnya ia berada didalam sebuah loker yang sempit, bersembunyi.
Sedangkan Jaejoong di ruang kesehatan yang berjarak ratusan meter dari tempat Junsu berada menjauhkan ponselnya saat teriakan yang bisa menyakitkan telinga itu terdengar. "Apa yang kau lakukan?! Bukankah jam pelajaran sudah dimulai Suie!" Jaejoong malah balik bertanya.
"Benarkah? Sudah dimulai? Aish, jadi Joongie kau sudah selamat dari Beruang mesum itu dan mengikuti pelajaran dengan damai? Kau benar-benar curang Joongieyaaa~" rengek Junsu sambil keluar dari loker setelah merasa aman karena jam pelajaran sudah di mulai itu artinya si evilmin dan sekutunya tidak akan mungkin berkeliaran untuk mencarinya. Untuk sementara mungkin ia aman disini.
"Mungkin sudah dimulai, mana aku tahu sedangkan saat ini aku sedang tidak ada di kelas!" kesal Jaejoong. Junsu selalu saja berprasangka buruk pada Jaejoong, memangnya dia saja yang sedang dalam keadaan darurat? Jaejoong lebih darurat dari Junsu, ia tidak mungkin keluar menuju kelas dengan keadaan seperti itu berantakan dan 'luka' di lehernya. Sedangkan kalau dia berdiam diri terus di sarang beruang itu, sama saja ia menyerahkan dirinya begitu saja pada beruang lapar. Haishh pilhan yang sulit.
"MWO?! KAU BOLOS?" lagi, Junsu mengeluarkan teriakannya yang dahsyat itu, hingga Jaejoong terpaksa menutupi ponselnya menggunakan bantal yang sejak tadi ia peluk.
Sementara di tempat lain.
"Changmin-ah, sudahlah dia pasti masih di area sekolah. Nanti pasti kita akan menemukannya, sebaiknya kita kembali ke kelas karena setelah ini aku akan ada test harian," Kibum si Snow Prince itu berucap dengan datar walau sebenarnya ia kesal dengan Changmin karena seenak jidat lebar si Park Saengnim, ia yang sedang belajar untuk test di tarik paksa oleh si Evilmin itu untuk mencari 'musuh satu sama lainnya' alias si Kim Junsu. Sedangkan Kyuhyun yang berada di sebelahnya dengan kadar kecerdasan otak yang setara dengan Changmin—walaupun Kibum juga cerdas setidaknya si GameKyu itu benar-benar terlihat santai sekali memainkan PSPnya!
Tidakkah ia berpikir kalau test itu penting?!
"Pokonya aku mau membalas si pantat bebek itu sekarang juga!" ucap Changmin menggebu-gebu. Saat ini mereka sedang berada dilorong gedung sekolah yang di khususkan berisi ruangan-ruangan praktek seperti ruang musik, ruang kesenian lain-lain. Di jam pertama tidak ada satu kelas pun yang menggunakan gedung ini sehingga hanya mereka bertiga yang berada disana.
"Kenapa tidak kau pikirkan saja tempat mana yang memungkinkan untuknya bersembunyi, gunakan otak cerdas yang selalu kau banggakan itu JUNG!" entah karena kesal juga seperti Kibum atau karena game yang sedang dimainkannya, Kyuhyun berbicara dengan nada kesal seperti itu dengan mata yang tidak beralih sedikit pun dari PSPnya.
"Diam! Aku sedang sedang berpikir, kalian pikir aku tidak memikirkannya, hah?!"
"Aku pikir begitu."
"Ya, kalau tidak begitu untuk apa kita berkeliling sejak tadi bahkan sampai membolos."
Dua. Kosong.
Jung, tidak ada yang memihakmu.
"Sudah! Karena sudah terlanjur membolos lebih baik kita ke ruang klub saja kalau begitu." dan mereka bertiga pun berpindah haluan ke gedung yang di khususkan berisi ruangan klub ekstrakulikuler sekolah.
Dan saat ini mereka sudah berada di koridor menuju ruang klub yang mereka ikuti, klub musik. Sebenarnya hanya Changmin yang mengikuti klub tersebut karena Kyuhyun sendiri mengikuti klub matematika sedangkan Kibum mengikuti klub memasak.
"MWO?! KAU BOLOS?!" langkah mereka berhenti bersamaan ketika mendengar suara teriakan yang cukup familiar di telinga mereka, teriakan satu orang yang setara dengan segerombolan lumba-lumba ditengah samudera yang luas.
"Ah, sepertinya aku sudah mendapatkan buruanku, malam ini kita makan bebek panggang!" Changmin dengan seringai iblisnya menatap dua sekutunya yang juga menampilkan seringai tak kalah evil dengan sang iblis.
.
.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kalau sampai Jidat Seangnim mesum bagian kedisiplinan memergoki kita membolos? Bagaimana? Huaaaa~" Junsu terus merengek dan merengek di telepon sampai membuat Jaejoong lelah sendiri. Bahkan dia pun belum memikirkan nasibnya sendiri.
"Kita terima saja," pasrah Jaejoong dari seberang telepon sana. Lagipula kalau sampai ia keluar dengan keadaan begini dan memasuki kelas toh ia akan tetap di hukum juga, sebaiknya sekalian saja membolos sampai pelajaran selesai.
"Kenapa kau pasrah sekali Joongie-ah~ ayolah pikirkan nasib kita~" Junsu benar-benar sedang kebingungan dengan nasibnya saat ini, ini akibat ia mengikuti rencana Jaejoong tadi pagi. Rencananya membalas dendam pada Changmin dengan cara mencegatnya dan membuang semua hidup dan matinya (baca: makanan) benar-benar keputusan yang ia sesali. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mondar mandir dengan gelisah takut-takut Changmin datang dan..
"KAU BERISIK SEKALI EOH? PIKIRKAN SAJA SENDIRI AKU—"
"KYAAA~!"
"I got you~ Duckbuut~" Changmin berdiri dengan dua sekutu evilnya dengan tampang seperti seorang tukang jagal yang di sewa oleh peternak untuk memilih sendiri hewan mana yang akan ia penggal dan ia kuliti.
"TIDAAAAAAAK!"
.
.
"Suie! YA! Junsu? Halo? HALOOO!" Jaejoong benar-benar kesal. Ada apalagi dengan sepupunya itu? kenapa ia tiba-tiba berteriak saat Jaejoong baru saja akan protes untuk menyuruhnya diam? Apalagi teleponnya tiba-tiba putus.
Apakah sesuatu terjadi dengannya? Apa benar Changmin sudah menemukannya? Aish! Bagaimana ini?
"Di larang membuat keributan di ruanganku, sayang." Yunho masuk ke dalam ruangannya dengan seringai tipis ketika di ketahui sang 'mangsa' masih betah berada disarangnya, bahkan dengan posisi yang sama seperti saat ia meninggalkan mangsanya itu sendirian.
Menyerahkan diri atau mengaku tidak berdaya?
"M-mwo?" Jaejoong melotot sambil melemparkan ponselnya ke arah Yunho hingga ponsel tersebut hancur menabrak pintu di belakang Yunho saat Yunho dengan mulus menghindari lemparan maut itu.
'Ponselku.' batin Jaejoong dalam hati meratapi ponselnya yang hancur dan sudah tamat riwayatnya.
"Sudah tidak sabar, eoh?" Yunho mendekati Jaejoong perlahan sambil terus memasang seringai yang mengancam kelangsungan kesucian Jaejoong. Ya Tuhan.. semoga saja ada penyelamat lagi.
"STOP! Berhenti disitu! A—aku akan melaporkanmu ke bagian komite sekolah kalau kau sudah melecehkanku!" Jaejoong menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Benar, ia harus bisa melawan seperti tadi. Siapa tahu dengan gertakan begitu si mesum itu akan menghentikan perbuatannya.
Yunho pun berhenti sesuai dengan perintah Jaejoong tepat satu langkah di depan ranjang bertirai rusak itu.
"Melaporkanku sama saja mencemari namamu sendiri Kim~" Yunho kembali melanjutkan langkahnya. Jaejoong benar-benar harus siaga, bisa saja tubuh besar itu tiba-tiba menimpanya seperti—
"AARRRGGHHH!"
'kau menambah masalah lagi Kim Jaejoong.' batin Jaejoong dalam hati setelah secara tidak sengaja berhasil menendang jidat Yunho dengan ganas sehingga tubuh besar itu terpental.
Bukannya meminta maaf pada orang yang sedang meringis kesakitan itu, Jaejoong malah bergegas kabur keluar dari sarang Yunho.
.
.
"KYAAA~"
"Halo, lama tak jumpa duckbutt. Merindukanku?" Changmin beserta dua evil sekutunya berjalan selangkah demi selangkah ke arah Junsu yang kini memasang wajah pucat pasi dan kedua kaki yang mulai melemas. Dengan seringai iblis yang tak berubah sedikitpun tiga makhluk evil itu terus memojokkan Junsu yang hanya bisa berjalan mundur. Terjatuh menabrak kursi sampai piano putih itu pun tak luput di tabrak oleh pantat seksi Junsu.
Mulai saat ini ia berjanji tidak akan menuruti ajakan Jaejoong jika ia mengajaknya balas dendam pada Changmin.
"TIDAAAAAK!" Junsu menjatuhkan ponselnya kemudian berusaha untuk berlari guna menghindari kepungan Changmin, Kibum dan Kyuhyun.
"Kau tidak akan bisa lolos lagi dari kami~" Changmin melepaskan simpul dasi yang ia kenakan.
Sedangkan Junsu sendiri sedang panik dan mencari-cari benda yang bisa ia gunakan untuk melawan Changmin. Mulai dari melemparkan stik drum yang ada di atas meja sampai partitur tak berdosa.
Namun semua itu jelas sia-sia saja karena mereka bertiga tidak terpengaruh sama sekali dengan perlawanan Junsu. Dan dengan satu isyarat mata dua evil yang kini berada di sisi kanan dan kiri Junsu pun bergerak dengan cepat memerangkap Junsu, memegangi kedua tangan Junsu agar si pemilik wajah polos itu berhenti memberontak.
"Welcome to my hell.." Changmin mengikat kedua tangan Junsu ke depan tubuhnya dan dengan satu sentakan dengan di kawal dua evil di kedua sisi tubuhnya, Changmin pun menarik ikatan tangan Junsu dan membawanya keluar dari ruang klub musik yang kini berantakan akibat aksi kejar-kejaran Junsu.
.
.
'aku harus lari. Aku harus lari.' batin Jaejoong dalam hati sambil sesekali menolehkan kepalanya ke belakang berharap si beruang mesum itu tidak mengejarnya. Walaupun ia tidak tahu harus kemana dan tidak tahu keberadaan Junsu dan nasib sepupunya itu.
Satu keuntungan Jaejoong karena sekolah ini cukup luas namun sekaligus kesialan baginya karena ternyata tak jauh di depannya kini telah muncul si jidat Seonsaengmin yang berdiri angkuh melipat kedua tangannya sambil memegang sebuah penggaris kayu. Melemparkan seringai kecil ke arah Jaejoong.
'mati kau. Kali ini kau benar-benar mati Kim.' batin Jaejoong menangis. Ia pun memutar arah menuju ke sudut lain koridor sekolah, atau lebih tepatnya ia menuju ke luar area gedung sekolah menuju ke lapangan yang sangat amat luas.
.
.
"Arrrghh sial kau Kim Jaejoong! Kalau sampai jidatku ini jadi selebar Yoochun aku benar-benar akan memperkosamu sampai habis! Shit!" umpat Yunho sambil menahan sakit di jidatnya yang kini tercetak garis sepanjang lima sentimeter berwarna merah kebiruan hasil karya Jaejoong.
Sambil sedikit meringis Yunho mengusapkan salep peredam rasa sakit yang ia ambil dari lemari kaca tak jauh dari tempatnya berdiri didepan cermin besar yang memang tersedia di ruangannya.
Mata musangnya melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja membuat sebuah ide terlintas di otak mesumnya. Ditekannya tombol pada ponsel layar sentuhnya beberapa kali.
"Chun, I need your help." Yunho kembali menyeringai.
Entah kenapa hari ini orang-orang banyak menyeringai.
.
.
"Aku berhasil menjebaknya keluar dari gedung sekolah, ayolah cepat kau kejar dia. Akan kupastikan dia masuk ke gudang yang berada di belakang sekolah. Disana Changmin dan sekutunya sudah menunggumu." Yoochun tersenyum sendiri kala mengingat wajah pucat Jaejoong ketika melihatnya tadi. Untung saja Yunho menghubunginya disaat yang tepat dengan kebetulan yang akurat serta jabatan Yoochun sangat menguntungkan.
"Tunggu aku disana, Chun." balas Yunho dari seberang telepon. Tidak peduli dimana ia sekarang dan pukul berapa ia mulai mengajar pelajarannya, Yunho dengan semangat balas dendam yang kuat segera berlari menuju tempat yang Yoochun sebutkan.
.
.
.
Bersambung..
.
.
Pojokan rumah author :
Hola~ sebelumnya saya mau ngasih tau kalau di chap sebelumnya ada sedikit kesalahan, sekutu evil Changmin itu Kyuhyun dan Kibum bukan Hyunjoong seperti yang ada di chap satu. Sepertinya waktu publish saya salah copy datanya ke flashdisk *nyengir
Jadi untuk seterusnya trio evil itu Changmin, Kyuhyun dan Kibum~
Ah, ya aku ga nyangka ff dengan ide cerita pasaran ini dapat review hiks~ aku terharu..
Dan untuk yang nunggu ff ini gomenasai.. maaf banget baru di update alias lama, semoga masih ada yang nunggu ff gaje ini. Sebelumnya terimakasih~ dan untuk review belum bisa saya balas satu persatu karena ini update lewat hp hi hi..
Salam,
Nyangiku.
