Winter Story
Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Serta cast yang lainnya
Rated : T—M
Warning : Boys love, Yaoi, GSHeechul [Cerita ini murni hasil pemikiran Author dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan apapun.]
Disclaimer :
Seluruh pemain disini bukan milik Author. Mereka adalah milik diri mereka sendiri, Management serta Tuhan YME. Author hanya meminjam sebentar, ne!
.
.
_This story Original _
by
HinaRiku-chan a.k.a Nyangiku
.
.
''If you don't like, Don't read it"
Tidak suka? Jangan baca!
.
.
Bagi yang sudah menyempatkan untuk membaca—
.
.
Onegaishimasu
~Selamat membaca~
.
.
"Huh! Aku tidak suka musim dingin!" Jaejoong mengeratkan sweater tebalnya hingga kedua tangannya yang sudah tertutup sarung tangan semakin tertutupi. Ia berjalan terburu-buru mendahului Yoochun dan Junsu yang berjalan santai seakan tidak merasakan udara dingin yang menusuk tulang.
"Kau mengatakannya lagi tahun ini." Junsu menyusul langkah Jaejoong yang berada jauh didepannya agar menjadi sejajar dengan Jaejoong, meinggalkan Yoochun sang kekasih sendirian di belakang.
Jaejoong mendengus. Ia mempercepat lagi kecepatan kakinya hingga sampai duluan didepan lokernya. "Aku tidak ingat!"
"Hari esok mungkin tidak akan datang lagi. Ini sudah musim dingin kau akan terus mendiamkannya?" tanya Yoochun sambil membuka loker Junsu yang berada tak jauh dari Jaejoong. Sedangkan sang kekasih sedang bergelayut manja di tangannya.
Jaejoong meniup-niup kedua telapak tangannya yang ia gesekkan dengan tempo cepat. Bermaksud untuk mengurangi rasa dingin yang menjalar hingga membuat kedua pipi tirusnya memerah. Menunggu Junsu selesai lalu mereka naik tangga bersama seperti biasanya.
"Aku tidak peduli!" dengusnya lagi.
Ah, anak ini benar-benar keras kepala.
"Suie kau mau kemana?" tanya Jaejoong saat tau Junsu malah membelokkan langkahnya ke arah lain, bukan menuju ke tangga menuju kelas mereka yang berada dilantai atas.
"Ke ruanganku. Jangan mengikuti kami." jawab Yoochun santai. Ia berjalan tanpa memperdulikan Jaejoong yang pastinya sedang mengumpat.
"LAGI PULA SIAPA YANG MAU MENGIKUTIMU HAH? DASAR PASANGAN MESUM!" Jaejoong berteriak kesal lalu berlari menaiki tangga menuju kelasnya yang berada dilantai dua dengan cepat tidak peduli kalau pun nanti ia akan menabrak orang atau bahkan terjatuh. Hah, walaupun ia berteriak keras begitu, sebenarnya ia tidak marah. Itu hal yang biasa terjadi diantara mereka.
Jaejoong memang senang berteriak. Persis sang Umma.
"Eh?" Yoochun dan Junsu tersentak tersentak saat seorang namja bermata musang dengan sweater berwarna abu berdiri disamping pintu ruangannya sambil mengetuk-ngetukan sebelah kakinya kelantai. Sesekali ia bergerak seperti menendang.
"Akhirnya kau datang." ucap namja itu lalu tersenyum hangat. Ia menegakkan tubuhnya lalu membungkuk ke arah Yoochun dan Junsu. Ah, sepertinya mereka akan melewatkan 'morning quicky sex' mereka hari ini.
"Kau menungguku?" tanya Yoochun melihat kedua pipi yang kini berubah tirus itu memerah karena kedinginan pasti namja Jung itu sudah menunggunya cukup lama. Sepertinya ia harus mengecek seluruh penghangat ruangan di sekolah ini memastikan kalau tidak ada yang rusak. Eh, bukankah itu tugas pengurus sekolah eh? Ia tidak peduli, yang jelas ia akan memastikan lebih dulu penghangat ruangan yang berada di ruangannya agar ia juga tidak kedinginan. Suhu hari ini memang lebih dingin dari biasanya.
Yunho mengangguk sambil mengeratkan syal berwarna hitamnya.
"Masuklah. Yunho-ah," ajak Yoochun setelah membuka pintu ruangannya. Namja itu mengikuti Yoochun dan Junsu dari belakang kemudian langsung duduk diatas sofa yang biasa dipakai Jaejoong untuk bersantai tanpa disuruh Yoochun. Yoochun sendiri menaruh tasnya diatas meja kerjanya dan Junsu duduk di atas kursi panas Yoochun. Setelah Yoochun mendaratkan pantatnya di sofa, Yunho malah bangkit menuju sudut ruangan, tempat dimana ada mesin kopi dan dispenser berada.
"Apa disini tidak ada coklat panas?" tanya nya sambil mencari-cari sesuatu didalam meja lemari kecil dibawah dispenser. Ia bertingkah seakan-akan sudah sering berkunjung ke ruangan ini dan hafal betul letak-letak benda yang berada disana.
"Pertanyaanmu sama seperti Jaejoong."
"Eh?" Yunho menoleh ke arah Junsu dengan tatapan bingung.
"Dia selalu mengucapkan hal yang sama saat masuk ke ruangan ini ketika musim dingin," lanjut Junsu lagi. Yoochun kemudian menghampiri Yunho lalu membuka laci kecil dibawah lemari yang tadi Yunho buka.
Yunho tersenyum kecil saat Junsu mengatakan kalau dirinya sama seperti Jaejoong. Ah, mereka berdua memang memiliki banyak kesamaan bukan? Selain bulan dan tahun kelahiran mereka yang sama.
"Jaejoong selalu membeli coklat instan yang banyak setiap kali musim dingin datang. Dia sangat benci musim dingin." Yoochun menyodorkan dua bungkus coklat bubuk pada Yunho.
DEG
Yunho terdiam. Bayangan saat Jaejoong meninggalkannya di malam musim dingin enam tahun lalu terlintas dibenaknya.
"AKU BENCI MUSIM DINGIN!"
"TUNGGU!"
"Jung Yunho? Kau masih disini?" Yoochun menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Yunho hingga Yunho tersentak tidak sengaja ia menjatuhkan bungkus coklat yang Yoochun berikan. Bukannya langsung mengambilnya, namja itu malah melamun. Jelas saja itu membuat Yoochun dan Junsu yang berada jauh dari mereka kebingungan.
Yunho menggeleng. "Tidak. Hanya teringat sesuatu." gumamnya. Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya menyeduh dua gelas coklat panas untuk mereka. Sekedar mengurangi rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
"Tentang Joongie? Saat musim dingin enam tahun yang lalu?" tebak Junsu entahlah tiba-tiba saja kata itu yang terucap tanpa dipikir terlebih dulu olehnya. Yunho membulatkan kedua matanya.
Ah, Bingo!
Tebakan Junsu memang tepat.
"Jujur, aku sampai sekarang tidak pernah mengetahui apa yang terjadi diantara kalian enam tahun yang lalu sehingga membuat Jaejoong enggan menganggapmu seperti ini." Yoochun meniup-niup uap dari coklat panasnya pelan setelah Yunho menyodorkan gelas berisi coklat panas itu padanya. Kedua tangannya menggenggam gelas berukuran sedang itu erat. Supaya suhu hangat itu berpindah ke tubuhnya melalui telapak tangannya.
"Tujuanku datang kesini memang untuk menceritakan semuanya padamu." lanjut Yunho, ia melirik ke arah Junsu yang ia yakini juga tahu tentang masalah ini mengingat Junsu dan Jaejoong saudara satu leluhur apalagi mereka memang dekat sejak kecil. Ia meminum coklat panasnya pelan. Meresapi rasa hangat yang menjalar ke tubuhnya lewat tenggorokannya.
"Enam tahun yang lalu, Jaejoong menyatakan perasaannya padaku. Tepat saat tiga hari sebelum kepindahanku ke Jepang."
"Eh?"
"Malam itu Jaejoong merengek minta ditemani bermain salju di taman, tadinya ia mau mengajakmu atau Junsu tapi katanya kau sedang pergi bersama kedua orang tuamu dan Junsu pergi bersama Junho. Jadi dia memaksaku untuk menemaninya. Kau tau? Malam itu sangat dingin." Yunho menyesap kembali coklat hangatnya. Membiarkan rasa hangat itu melewati tenggorokannya lagi.
"Lalu?" Yoochun juga ikut menyesap coklat panasnya sambil memakan cookies miliknya yang biasa Jaejoong makan. Junsu pun menghampiri mereka dan duduk di sebelah Yoochun, ingin lebih jelas mendengar cerita yang sering ia dengar dari Jaejoong versi Yunho.
"Aku pikir itu juga adalah saat yang tepat untuk mengatakan perpisahan padanya, tapi tiba-tiba dia malah menyatakan perasaannya padaku. Dia bilang kalau dia.. menyukaiku." Yunho menghela nafasnya. Entah kenapa saat menyelesaikan kalimat itu sebelah dadanya berdenyut.
"Hah.. sudah kuduga sejak awal. Tatapan matanya terhadapmu memang beda saat itu. lanjutkan!" Yunho mengangguk.
"Aku jadi semakin merasa bersalah untuk mengucapkan perpisahan kepadanya saat kulihat wajahnya yang memerah karena malu. Sebisa mungkin aku membuatnya tenang terlebih dahulu dan menahan perasaanku sendiri. Jujur saja jantungku berdetak tidak karuan saat Jaejoong mengatakan itu." Yunho memegang ujung syalnya erat untuk mengurangi rasa gugup yang menjalar ditubuhnya. Tubuhnya sedang bergetar sekarang menahan sesuatu yang begitu menyesakkan dadanya sama seperti enam tahun yang lalu.
"Lalu, apa yang membuat Jaejoongie bahkan tidak mau menemuimu saat kau pamitan? Bahkan dia mengunci dirinya di dalam kamar terus." tanya Yoochun semakin penasaran. Ah, sayang sekali bukan ia tidak terlibat kejadian itu. Ia sangat menyesal.
"Tadinya aku juga akan mengatakan tentang perasaanku juga dan memintanya untuk menungguku, tapi entah kenapa mulutku malah mengucapkan kata perpisahan duluan. Aku mengatakan padanya tentang kepindahanku. Awalnya aku pikir Jaejoong akan menangis dan merengek memintaku agar tidak pergi karna perasaannya itu. Tapi ternyata. Aku memang benar-benar bodoh." Yunho tersenyum kecut. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Yoochun tau ia sedang menahan tangisnya. Kebiasaan Yunho memang tidak pernah mau menunjukkan air matanya didepan orang-orang alias selalu memendamnya sendiri.
"Dia malah berlari meninggalkanku sambil menangis dan berteriak kencang.. ia mengatakan kalau ia membenciku dan menyuruhku agar jangan kembali."
"AKU MEMBENCIMU JUNG YUNHO."
"JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI KE HADAPANKU!"
Yunho memejamkan kedua matanya erat-erat ketika potongan kejadian enam tahun yang lalu terlintas di pikirannya. Ia menggigit bibir tipisnya guna mencegah agar tangisnya yang sudah berada diujung tidak tumpah. Hei, dia ini namja sejati. Tidak boleh menangis!
"Eh? Benarkah? Jaejoong berkata seperti itu? Tuhan.." Yoochun menggelengkan kepalanya pasrah. Ia benar-benar tidak menduganya sama sekali. Ternyata penyebabnya itu adalah cinta monyet yang tidak terbalaskan. Cinta monyet dua orang bocah ingusan yang bahkan tidak tahu arti rasa 'suka' yang sebenarnya.
Aish! Anak manja itu, bagaimana bisa ia menyimpan semua kebenciannya itu sampai sekarang? Namja sepolos Jaejoong ternyata menyimpan sebuah luka yang besar.
Disaat ia baru mendapatkan seseorang yang membuat dirinya merasa hangat, orang itu malah harus pergi. Bagaimana mungkin ia tidak terluka?
"Mungkin itu yang menyebabkannya membenci musim dingin, sama besarnya ia membenciku." Yunho memijat pelipisnya yang terasa sakit. Yoochun tahu kalau dia sangat merasa terluka. Bukan hanya Jaejoong saja yang terluka.
Cinta monyet anak sekolah dasar ternyata bisa membawa luka sedalam itu, eh?
"Kita akan cari cara agar ia kembali seperti dulu. Jujur aku juga jengah dengan sikapnya terhadapmu beberapa bulan ini." Junsu memeluk erat lengan Yoochun guna menenangkan namja cassanova yang sedang memijat keningnya yang terasa pusing. Mengingat beberapa kejadian yang tidak mengenakan diantara mereka berempat, lebih tepatnya pada Yunho.
Tanpa mereka sadari kalau ada siluet yang berdiri mematung didepan pintu ruangan itu. Kedua matanya menatap kosong pintu berwarna putih itu. Sepasang telinganya mendengar dengan jelas pembicaraan serius dua orang didalamnya.
"Aku membencimu." desisnya tajam. Kemudian melangkahkan kakinya dari sana. Mengurungkan niata awalnya datang kesana.
.
.
.
"Ck. Lihatlah sok arab dengan si murid pindahan." Jaejoong berbicara sendiri saat ia tidak sengaja lewat didepan ruangan klub dance dan mendapati Yunho sedang berlatih beberapa gerakan dance dengan..
Junsu?
Jaejoong melihatnya? Tentu saja karna ruang klub dance berbeda dengan ruang klub musik yang tertutup dan kedap suara. Siapapun di luar dapat melihat apa yang terjadi di dalam karena semua diruangan itu terdapat jendela besar yang sesekali ditutupi oleh gorden berwarna krem. Apalagi pintu besar itu selalu terbuka lebar seakan sengaja di buka untuk memamerkan mereka yang sedang berlatih. Berbeda dengan ruang klub musik yang ia pimpin, disana tidak terdapat kaca jendela karena ruangan itu kedap suara—kecuali kaca berukuran sedang yang berada di pintu. Disana hanya ada kumpulan alat musik saja.
Mereka terlihat akrab bukan?
Pertama-tama Yunho menampilkan beberapa gerakan pada Junsu yang kelihatannya tertarik untuk belajar. Lalu saat berusaha untuk menirukan gerakan itu mereka terlihat sangat dekat dan intim. Saling melemparkan senyum dan tawa yang tulus. Ingatkan dirinya sendiri untuk segera membeli obat tetes mata anti iritasi kalau ia masih ingin pengelihatannya baik-baik saja setelah melihat pemandangan barusan.
"Kenapa ruang klub musik harus berdekatan dengan ruang klub dance sih? Sial." Jaejoong kembali berbicara sendiri setelah ia sampai didalam ruang klubnya. Lalu sejak kapan pula kekasih Park Jidat itu tertarik pada dance? Bukankah dia masih terdaftar di klub musik yang ia pimpin?
Ah, sudah hampir satu tahun ini Jaejoong menjadi ketua klub musik menggantikan Yoochun yang terpilih menjadi Presiden Sekolah.
Kalau Yoochun tidak terpilih melalui polling yang di adakan serentak di seluruh lingkungan sekolah mungkin ia masih menjabat sebagai anggota biasa yang selalu berada di bawah komando Yoochun dan Junsu saat mereka berlatih untuk sekedar tampil di acara pentas seni sekolah ataupun beberapa lomba. Yoochun memang pantas menjadi ketua klub karena kemampuannya di bidang musik yang tidak bisa di anggap remeh. Ia ahli memainkan piano, suaranya yang serak pun terdengar merdu dan kemampuannya dalam membuat lagu sangat luar biasa. Junsu, bukan karena ia kekasih Yoochun maka ia menjabat sebagai wakil ketua klub.
Suaranya memang seperti lumba-lumba tinggi melengking apalagi jika tertawa uniknya keluar. Namun jika sudah menyanyi, suara itu benar-benar merdu dan seksi.
Walaupun suara Jaejoong sendiri tidak kalah merdu. Ia sangat ahli menyanyi di nada rendah maupun tinggi. Kontrol suaranya sangat bagus dan stabil. Tidak salah ia menjadi Lead vocal dan penyanyi utama di klub. Ia sudah sering menjuarai lomba menyanyi di segala tingkat sejak sekolah dasar. Bahkan dia pernah mengalahkan dua ribu peserta dan menjadi juara membuat sekolah sangat bangga kepadanya.
Jaejoong membuka piano yang sering di gunakan Yoochun saat ia masih tergabung dalam klub. Menekan satu tutsnya lalu terdiam. Ia menghela nafasnya memikirkan lagu yang pas untuk di nyanyikannya saat ini sekaligus yang menggambarkan suasana hatinya.
.
.
.
Yunho bergerak penuh tenaga namun terlihat indah dan teratur tanpa kesulitan yang berarti sama sekali. Semua gerakan yang terlihat oleh mata sulit dapat ia lakukan dengan mudah. Bahkan nafasnya tidak terlihat terengah sama sekali walaupun gerakan dancenya rata-rata energik dan penuh tenaga. Kali ini tanpa iringan musik, hanya suara decitan sepatu kets yang ia pakai dengan lantai kayu berwarna kecoklatan itu yang terdengar bersahutan dan menggema di seluruh ruangan.
Bahkan peluh yang mengalir di seluruh tubuh tegapnya tidak menggangunya sama sekali.
Memulainya dengan semangat dan mengakhirinya dengan semangat pula.
"Daebak! aku tidak menyangka kalau Yunho-hyung dapat menari seindah itu. Hyung memang pantas di sebut King of Dance! " puji Junsu. Ia duduk melipat kedua kakinya yang terasa pegal setelah belajar beberapa gerakan yang Yunho ajarkan tadi. Dan hebatnya Yunho sama sekali belum terlihat lelah dan masih bersemangat padahal Junsu sudah tumbang.
Menari memang benar-benar menguras banyak energi dibandingkan dengan bernyanyi. Apalagi kalau menyanyi sambil menari seperti idol grup, boyband atau girlband ya?
Satu gerakan terakhir akhirnya Yunho benar-benar berhenti. Ia berjalan ke sudut ruangan mengambil handuk kecil untuk menyeka keringatnya dan sebuah botol air mineral dingin dari dalam tasnya, meminumnya sedikit lalu menyodorkannya pada Junsu.
Junsu menggeleng menolak tawaran Yunho, Yunho pun mengernyitkan dahinya bingung. Bukankah Junsu belum minum sejak tadi? Apa dia tidak haus?
"Aku memang haus hyung. Tapi aku tidak mau berciuman tidak langsung denganmu." ucap Junsu seakan tahu apa yang Yunho pikirkan.
"Mwo?"
Junsu tertawa dengan tawanya yang khas. "Ue kyang kyang! Aku hanya bercanda. Aku hanya sedang menghindari air dingin hyung. Hyung tahu sendiri lah." Yunho mengangguk. Memang wajar seorang yang memiliki suara merdu menjaga minum dan makannya seperti halnya Junsu. Minuman dingin memang sedikit tidak baik untuk seorang penyanyi, yah jika minum sedikit tidak masalah sih.
Tapi sepertinya Junsu memang benar-benar menghindarinya. Berbeda sekali dengan adiknya, Jung Changmin. Anak itu terlahir dengan suara tenor yang luar biasa tapi sangat tidak menjaga makannya, dia memakan apapun yang bisa di makan!
He's foodmonstar.
"Aku bisa mengajarimu gerakan tadi setiap hari kalau kau mau," tawar Yunho tulus. Ia memang senang berbagi ilmunya dengan orang lain. Tidak ada salahnya bukan? Ilmu yang pelajari selama ini jadi berguna contohnya sang adik, Changmin pun sekarang sudah pandai menari sambil bernyanyi.
Namja berwajah imut itu tampak berpikir mengenai tawaran Yunho barusan. Tujuannya meminta Yunho mengajarinya menari awalnya memang iseng dan penasaran karena melihat gerakan Yunho yang indah dan terlihat 'mudah'. Ternyata setelah di coba baru lah kesulitan itu dirasakannya. Namun jika dipikir-pikir tidak ada salahnya bukan belajar terus lalu di gabungkan dengan menyanyi maka ia akan menjadi penyanyi yang bisa menari.
"Baiklah aku terima tawaranmu hyung!" ucapnya semangat. "Aku ingin menjadi penyanyi yang bisa menari hyung. Jadi ajari aku sampai hebat seperti hyung, oke?"
"Benarkah? Ah, senang sekali rasanya ada juga orang yang ingin belajar dariku dengan sungguh-sungguh." Yunho tertawa renyah. Ia bangkit dari sebelah Junsu menuju tasnya yang berada di bangku panjang yang terbuat dari kayu di sudut ruangan yang luasnya lebih kurang sama dengan luas ruang klub musik yang Jaejoong tempati. Ia merapihkan tasnya itu kemudian kembali menuju Junsu yang kini terbaring santai, meresapi pegal-pegal di sekujur tubuhnya, sepertinya malam ini ia akan menolak tawaran Yoochun untuk 'berhubungan' jika namja cassanova itu meminta jatahnya. Junsu benar-benar lelah!
"Hari ini cukup sampai disini. Aku tidak mau kena semprot Yoochun karena membuat namjachingunya kelelahan. Kau boleh pulang duluan, Junsu-ah." Junsu pun bangkit dengan wajah memerah, ini pertama kalinya Yunho mengakui Junsu sebagai namjachingu Yoochun. Karena awalnya Yunho terlihat agak canggung melihat hubungan teman masa kecilnya itu. Walaupun Yunho tahu kalau sejak mereka pertama kali saling mengenal hubungan kedua namja itu sedikit berbeda. Apalagi sekarang setelah enam tahun mereka tidak bertemu, Junsu dan Yoochun semakin menempel saja seperti di lem. Dimana-mana selalu pamer kemesraan walau kadang lebih banyak bertengkar.
.
.
.
BRAK!
Meja berbentuk persegi panjang di ruang pertemuan itu bergetar dan menimbulkan suara gaduh yang membuat beberapa orang disampingnya serta didepannya tersentak kaget. Bahkan beberapa kertas yang tergeletak diatasnya sampai bergeser sedikit. Untung saja minuman yang disuguhkan dalam pertemuan kali ini merupakan air mineral dalam botol, bukan teh hangat seperti biasanya. Kalau tidak mungkin cangkir-cangkir itu nantinya akan menumpahkan sedikit isinya serta membuat lembaran-lembaran kertas putih tak berdosa itu kotor.
"AKU TIDAK SETUJU!" namja cantik berambut hitam legam dengan poni yang sedikit menutupi wajahnya itu berteriak kencang. Dadanya naik turun menahan emosi yang bergejolak di dalamnya.
Yoochun meletakkan bolpointnya dengan tenang. Emosinya belum ikut tersulut karena baru namja cantik itu saja yang mengemukakan pendapat tidak setujunya. Ia mengarahkan tatapan tenang namun tajam itu pada sosok yang duduk disebelahnya.
"Alasanmu?" tanyanya.
Jaejoong menarik nafasnya guna menurunkan level emosinya. Bagaimana pun berbicara saat sedang emosi itu tidak baik.
"Aku ingin tahun ini klub dance menunjukkan penampilannya dengan kaset rekaman saja, seperti biasa ketika mengikuti lomba dan latihan. Aku rasa kerjasama itu tidak perlu dilanjutkan lagi. Biarkan saja klub musik fokus pada pertunjukkannya, mengingat ini merupakan pertunjukkan memperingati hari jadi sekolah sekaligus mempromosikan sekolah kita." Jaejoong kembali duduk setelah selesai dengan kalimatnya. Setenang mungkin mengatur nafasnya.
Semua anggota rapat pertemuan hari itu benar-benar terkaget oleh alasan penolakan yang di kemukakan Jaejoong mengenai rencana Presiden Sekolah untuk menggabungkan penampilan yang akan di lakukan oleh klub musik dan klub dance. Ia secara terang-terangan menolak dengan mentah-mentah.
"Tapi bukankah setiap tahun memang selalu terlaksana begitu? Tanpa kerjasama antara klub musik dan klub dance pertunjukkan inti tidak akan terlaksana." sela seorang ketua klub lain. Yoochun sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan menengahi perdebatan sepihak itu. Ia masih ingin menikmati ketegangan yang terjadi yang sudah ia duga sebelumnya. Bahkan sebelum rapat rutin ini akan diadakan.
"Aku hanya ingin membuat inovasi terbaru. Satu kali saja klub musik dan klub dance berdiri sendiri fokus pada pertunjukkan masing-masing. Tidak ada salahnya bukan?" lanjut Jaejoong lagi. Guna memperkuat argumennya. "Atau bagaimana jika klub musik fokus saja membantu klub drama dalam pementasan drama mereka kali ini? biarkan saja klub dance memikirkan sendiri tentang pertunjukkan mereka." lanjut Jaejoong sinis. Membuat sang ketua klub drama ciut mendengar nada suara Jaejoong yang terkesan dingin. Dia tidak berani membantah Jaejoong.
"Lalu bagaimana menurut ketua klub dance yang baru? Jung Yunho, menurutmu?" Yunho yang sedari tadi hanya diam mendengarkan dan menyimak apa yang terjadi dihadapannya, tepatnya antara klub yang ia pimpin dan Jaejoong pimpin pun membuka suara. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya diam, ia sedikit menahan emosinya setelah mendengar argument Jaejoong yang seolah memojokkan klubnya dan membuat klubnya seakan tidak dibutuhkan.
"Tidak ada salahnya memang fokus pada pertunjukkan masing-masing, kebetulan klub dance memang akan mempersembahkan pertunjukkan sendiri tanpa kerjasama dengan klub musik, seperti yang sudah kita sepakati kemarin, Ketua. Tapi akan lebih baik kalau kita juga menunjukkan pernampilan kolaborasi seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan klub dance juga akan menampilkan pertunjukkannya sendiri tanpa campur tangan klub musik seperti yang dikemukakan Jaejoong." jelas Yunho panjang lebar dengan tenang dan ramah. Mendapatkan beberapa respon positif dari beberapa anggota klub yang lain serta perwakilan ketua kelas yang menghadiri rapat.
'Cih. Bahkan dia membuat kesepakatan duluan dengan Yoochun.' Jaejoong berdecih dalam hati. Menatap malas pada Yunho yang sedang berdiri sambil menjelaskan pendapatnya layaknya seorang pebisnis yang handal.
Yoochun hanya menganggukan kepalanya sambil berpikir. "Pertunjukkan kolaborasi dan pertunjukkan sendiri? Idemu tidak buruk juga. Inovasi terbaru untuk tahun ini."
"Aku tetap tidak setuju. Itu akan menambah kerja klub masing-masing. Bukan hal yang mudah dalam menentukkan apa yang akan di tampilkan dengan waktu sesingkat ini! Memangnya kali ini pertunjukkan apa yang kalian usulkan untuk pertunjukkan kolaborasi antara klubku dan klub dia!" Jaejoong kali ini dengan emosinya yang mulai meledak kembali mengeluarkan argumennya kali ini bahkan ia sampai menunjuk-nunjuk Yunho yang duduk di sisi lain Yoochun. Berusaha untuk menjatuhkan Yunho yang sudah sok tahu dengan ucapannya.
"Bernyanyi sambil menari. Itu pertunjukkan yang akan kalian tampilkan. Atau lebih tepatnya kalian saling mengiringi. Pemilik suara paling bagus di klub musik akan bernyanyi dan di iringi oleh band yang didirikan klub musik. Lalu klub tari bertugas untuk menjadi penari latar yang menampilkan tarian yang sesuai dengan lagu yang di tampilkan oleh klub musik. Dan satu lagi, ketua klub musik yang juga penyanyi utama dan ketua klub dance akan menyanyi duet sambil menari. Jadi klub dance dan klub musik memiliki tugas paling berat tahun ini." jelas Yoochun lagi. Terdengar mutlak dan tidak dapat di sela lagi.
Dari nada bicaranya itu seperti sebuah perintah yang tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun. Lihat saja tatapan matanya yang tajam dan mengintimidasi itu. Membuat semua anggota yang menghadiri rapat itu benar-benar dibuat terdiam dan tidak berkutik. Hanya satu orang yang berani melawan Yoochun, yaitu Kim Jaejoong.
Jaejoong membulatnya doe eyesnya, ia benar-benar terkejut dengan keputusan sepihak Yoochun.
"MWO?! APA-APAAN ITU BERNYANYI DUET SAMBIL MENARI? KAU PIKIR INI BOYBAND?" teriakan Jaejoong terdengar penuh emosi dan memenuhi seluruh ruang rapat bahkan suara teriakannya itu melebihi teriakan lumba-lumba Junsu.
Semua orang di ruangan rapat itu terkejut bukan main, kecuali Yoochun. Ia sudah tahu sejak awal respon apa yang akan di berikan Jaejoong. Junsu yang tidak tahu apa rencana Yoochun pun ikut terkejut dengan apa yang di utarakan sang namjachingu, ia juga tak kalah kaget kala melihat Kim Jaejoong yang biasanya terlihat polos, ramah, baik hati dan manis serta jarang berbicara itu terlihat menakutkan dan berbeda seratus delapan puluh derajat.
Sedangkan Yunho yang memang membuat kesepakatan sepihak itu bersama dengan Yoochun terlihat santai.
Siapa yang tidak kaget bila di berikan keputusan sepihak yang mutlak tanpa persetujuan?
Apalagi harus di lakukan bersama orang yang paling kau benci?
Kesal? Marah?
Itu pasti!
Jaejoong menatap tajam Yoochun yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan bersuara, bahkan ia terlihat sangat tenang. Tidak takut sama sekali dengannya berbeda dengan Junsu yang meremas lengan Yoochun sedikit ketakutan melihat amarah sepupunya itu.
"Tenanglah Jaejoongie. Dan kalau kau membantah aku bisa saja menyuruh bendahara untuk memotong anggaran klubmu, atau.. lebih parahnya aku akan memberimu sanksi hingga mencopot jabatanmu sebagai ketua klub.." mata hitam Jaejoong membulat mendengar kalimat Yoochun barusan. Sanksi? Pencopotan jabatan?
HAHA. Bahkan Yoochun sama sekali tidak membelanya malah mendukung Yunho. Bagaimana pun kerja sama itu pasti akan tetap terjadi membuat Jaejoong membayangkan bagaimana hari-harinya nanti di jalani selalu bersama Yunho. Pasti akan buruk dan membosankan!
Baiklah.. Jaejoong bahkan sudah tidak peduli lagi kalaupun ia harus berakhir. Mendengar ancaman Yoochun yang terang-terangan di hadapan peserta rapat yang lain membuat hatinya benar-benar sakit!
"TERSERAH KALIAN SAJA! AKU TETAP TIDAK SETUJU!" Jaejoong bangkit dari kursinya menatap penuh amarah pada peserta rapat yang lain. Ia benar-benar tidak dapat melanjutkan rapat atau lebih tepatnya debatan antara dirinya dan Yunho.
Yunho refleks ikut bangkit saat Jaejoong bangkit karena masalah ini adalah masalah antara klubnya dengan klub Jaejoong, walaupun bukan masalah pribadi antara dia dan Jaejoong. Walau ia akui kalau kesepakatan diam-diam sepihaknya dengan Yoochun itu salah.
"Kita bisa membicarakannya baik-baik dan perlahan," cegah Yunho sebelum Jaejoong akan berjalan meninggalkan ruang rapat. Tangan Yunho mencengkram pergelangan tangan kurus Jaejoong.
Jaejoong hanya memandangi Yunho dari bawah sampai atas dengan tatapan nyalang sampai tatapan itu terhenti di lengannya yang disentuh Yunho tanpa permisi.
Ia berdecih. Kemudian menghempaskan cengkraman tangan itu dengan kasar sampai tubuh tegap Yunho terguncang beberapa langkah ke belakang. Tidak menyangka di balik wajah polos dan pendiam serta tubuh kurus dengan pinggang ramping itu terdapat tenaga yang besar bila ia sedang marah.
Yunho menatap nanar punggung Jaejoong yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Yoochun selaku pemimpin rapat pun akhirnya bertindak. Ia pun ikut bangkit dari kursinya, merengkuh bahu Yunho yang bergetar karna shock lalu membawanya kembali duduk dan melanjutkan rapat yang sempat tertunda. Di tambah dengan Junsu yang menyodorkan botol air mineral untuk di minum Yunho guna menghilangkan shocknya.
Yunho menatap nanar kursi di sebelah kanan Yoochun dan Junsu yang Jaejoong duduki tadi.
"Rapat tetap kita lanjutkan. Fokus!" suara berat Yoochun pun menginterupsi keheningan yang terjadi. Suasana panas yang bahkan dapat melelehkan salju yang sedang turun di luar sana tadi kini kembali normal. Seakan ia melupakan tentang ancamannya pada Jaejoong.
.
.
"Bahkan Junsu hanya diam saja. Sial!" Jaejoong melemparkan kumpulan partitur dengan kasar setelah sebelumnya merobeknya menjadi dua bagian. Ia juga melempar stand mic tanpa dosa itu sampai rusak dan patah menjadi dua. Tidak peduli walaupun ia harus menggantinya sepuluh kali lipat. Bahkan rasanya ia ingin sekali merusak seluruh alat musik yang ada di ruangan klubnya melampiaskan seluruh amarahnya. Sambil mengumpati Yunho dengan bibir merahnya yang terus bergerak-gerak mengeluarkan kata kasar Jaejoong mendudukkan diri di atas kursi di depan piano berwarna putih.
Kesabaran Jaejoong benar-benar sudah habis.
Ia benar-benar muak. Sangat muak!
Baru menjadi murid pindahan selama tiga bulan saja Yunho sudah banyak bertingkah. Ia sudah menjadi sorotan dimana-mana.
Mulai dari prestasinya di bidang dance hingga ia diangkat menjadi ketua klub dance yang baru sampai beberapa kali ia mengharumkan nama sekolah melalui kemampuannya menari yang luar biasa. Bahkan dia bukan di berikan julukan dancing machine lagi, dia disebut sebagai King of Dance!
Sekali lagi dengar, King of Dance!
Dalam sekejap ia sudah menjadi idola yang di elu-elukan satu sekolah!
Apalagi kelakuannya yang sok dekat dengan sepupunya yang bernama Kim Junsu itu, mereka begitu dekat bahkan terlihat bersama setiap hari bahkan lebih sering bersama dibanding dengan Yoochun namjachingunya sendiri. Ceh.
Kim Jaejoong cemburu, eh?
Apalagi saat rapat beberapa waktu yang lalu ia berbicara seolah-olah ia sudah berada di sekolah ini sejak lama. Apa-apaan kerjasama memuakkan itu bersama klubnya? Kalau begitu sama saja klub musik nya hanya menjadi pemanis bukan menjadi sorotan seperti yang seharusnya! Sungguh sok tahu!
Apalagi akibat sinarnya yang terang benderang itu ke eksisan klub musik nya yang selalu membawa prestasi seakan meredup dan kehilangan cahaya akibat tenggelam dalam pesona Yunho yang menyilaukan. Mau semenarik apapun klubnya selalu saja tertutupi oleh Jung Yunho.
Jung Yunho. Jung Yunho.
Jaejoong benar-benar sudah muak! Masa bodoh dengan sikap tidak sopannya saat rapat.
Ia-tidak-peduli.
Dan.. yang paling memuakkan adalah tentang kerja sama yang mengharuskan Jaejoong bernyanyi sambil menari bersama Yunho?
Bukankah itu berarti Jaejoong harus meminta Yunho mengajarinya menari dan Jaejoong harus mengajari Yunho bernyanyi?
Hell's NO!
Jaejoong benar-benar benci pada Yunho sekarang. Walaupun Jaejoong akui kalau Yunho itu sempurna dengan segala yang ada pada dirinya. Dia tampan, gagah, ramah dan mempesona. Sungguh berbeda dengan Yunho yang ia kenal tujuh tahun yang lalu walau wajahnya masih sama ukurannya, kecil seperti alien di film Men in Black.
Ck! kenapa pula ia malah memuji Yunho? Bukankah ia sendiri juga tampan dan mempesona? Atau bahkan kalau boleh sombong ia lebih bersinar dibanding Yunho dengan warna kulitnya yang putih cerah berbeda dengan kulit tan Yunho yang terlihat err.. seksi apalagi jika sedang berkeringat sehabis latihan dance keseksiannya bertambah berkali-kali lipat.
Arrgh!
Kenapa pula malah membayangkan tubuh topless Yunho. Jaejoong benar-benar kacau.
Jaejoong menekan tuts piano putih itu dengan kesepuluh jarinya hingga menimbulkan suara tidak menyenangkan di telinga dan tanpa sadar membuat penutup piano tersebut jatuh akibat getaran yang di buat oleh gerakan Jaejoong yang penuh emosi sehingga membuat kesepuluh jarinya itu terjepit.
"ARRRGGHH.. hiks.. hiks.. umma.."
.
.
.
Bersambung
.
.
Pojokan Rumah Author :
Gimana? Gimana? Dapet geregetnya ff ini?
Saya update cepet karena ff ini udah sampe chap 3 diketiknya, jadi tinggal publish aja~
Balasan review yang tidak log-in :
5351
Iyaa itu lah salah satunya yang bikin Jae benci sama Yunho, dan alasan lainnya yang ada di atas tuh. Intinya Jae Cemburu hoho. Gimana ga nyesek pas lagi suka-sukanya tapi ditinggalin gitu aja. Rasanya itu... ugh.. Ah, iya lupa Arigatou reviewnya~
Kimslovey
Rasanya itu nyesek.. pernah ngalamin? ._. yap! Jelas sekali Yunho first lovenya Jae, soalnya kan Yoochun udah di cap milik Junsu semenjak lahir (?). Yunho for Jaejae? Tunggu jawabannya di chap selanjutnya~ Udah asap kah segini? Sepertinya ini amat sangat lama :" mohon dimaafkan hiks. Terima kasih semangatnya~!
Ada yang nyadar kalau Changmin belum juga muncul? Apa ada yang mengharapkan dia muncul atau engga nih? Soalnya dia belum kebagian scene hihi. Masih penuh YunJae-YooSu.
Terima kasih untuk yang udah memfollow, Memfavorite dan mereview ff aneh ini~
Salam,
Nyangiku.
