Disclaimer : Bukan punya saya
Story Of Three Uzumaki
Genre : Family/Humor
Rated : T Mungkin M untuk bahasa kasar
...
...
Naruko terbangun dari tidurnya, mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah kesadarannya pulih sepenuhnya, dia gerakkan iris safirnya ke arah sang kakak yang sedang duduk bersila dengan mata terpejam di dekatnya. Dahinya pun mengernyit, heran dengan tingkah sang kakak yang selalu seperti ini malam harinya.
Sebenarnya apa yang sedang dilakukan sang kakak setiap malam [?]. Begitu pikirnya. Dia hendak bangkit dari berbaringnya, namun gerakannya terhenti tatkala kelopak matanya melihat sosok bayangan hitam yang sedang berdiri di luar jendela kamar itu.
Dia tersentak, rasa takut mulai menjalar di hatinya. Dia pun kembali membaringkan tubuhnya menghadap samping kiri, diurungkannya niatnya untuk membangunkan sang kakak. Kondisi kamar itu yang agak gelap semakin menambah kesan seram kamar itu.
Dia segera memejamkan matanya setengah untuk memperhatikan gerak-gerik sosok itu.
Slapph
Secepat kilat sosok itu sudah berdiri di dalam kamar itu. Naruko terkejut bukan main ketika melihat sosok hitam itu sekarang sudah berdiri 2 meter dari kasur yang ditempatinya. Dia ingin berteriak, tapi suaranya sama sekali tak bisa keluar dari mulutnya. Jantungnya terasa sangat berdebar-debar ketika matanya yang setengah terpejam menelusuri tubuh sosok itu.
Tidak ada yang tampak di mata Naruko kecuali bayangan hitam dan mata biru sosok itu yang tampak menyala terang, menyorot ke arah sang kakak yang duduk di dekatnya.
Tap
Sosok hitam itu melangkah. Naruko memejamkan matanya semakin takut melihat sosok itu.
Tap
Suara derap langkah kaki kembali terdengar di telinga Naruko.
Tap
Debaran jantung Naruko semakin menjadi-jadi ketika derap langkah kaki sosok itu terdengar makin mendekat ke arah mereka.
Tap
'Onii-chan, bangun... Aku takut,' batin Naruko ketakutan.
Tap
Sosok itu mengangkat tangannya, mengarahkannya ke arah pemuda bersurai merah yang duduk bersila di antara ke dua adiknya tersebut. Sorot mata birunya yang tampak menyala terus membidik ke arah Naruto.
Tap
Gerakannya terhenti tepat ketika mata birunya menangkap getaran tubuh yang sedang tertidur di kanan Naruto dan mendengar suara napas tak beraturan gadis cilik di sebelah Naruto.
Splash
Secepat kilat sosok itu pun segera menghilang begitu saja dari kamar tersebut. Beberapa menit kemudian Naruko membuka matanya sedikit untuk melihat keadaan. 'Ke mana orang itu?' tanya Naruko dalam hati.
"Haahh...," desah napas lega berhamburan dari mulut gadis cilik itu. Segera saja ia membangkitkan tubuhnya seraya memeluk erat-erat tubuh sang kakak.
"Onii-chan, bangun...," kata Naruko pelan. Tapi Naruto masih tampak bergeming, tak kunjung membuka matanya.
"Onii―" panggilan Naruko berhenti saat mendengar helaan napas Naruto.
Naruto menggerakkan wajahnya ke arah gadis cilik itu, menatap puncak kepala sang adik yang sedang memeluknya.
"Ada apa, Naruko-chan?" tanya Naruto sambil merangkul pundak kanan Naruko serta mengusap pelan surai pirang sang adik.
"A-aku takut," jawab Naruko semakin mempererat pelukannya pada tubuh sang kakak.
Naruto mengernyitkan dahinya kebingungan apa yang dimaksud Naruko. "Apa yang membuat takut adik kesayangan Nii-chan ini?"
Gadis itu masih tak mau membuka matanya, hanya tangannya saja yang ia gunakan menunjuk tempat sosok itu berada tadi. Naruto pun mengikuti ke mana telunjuk adiknya mengarah.
"Tadi ada orang yang berdiri di situ. A-aku takut sekali Onii-chan...," kata Naruko dengan nada suara bergetar. Dan membuat Naruto langsung kaget.
"Di mana? Di mana?" tanya Naruto beruntun. Naruko membuka matanya seraya melepaskan pelukannya dari tubuh sang kakak. Kemudian Naruko menunjuk tempat sosok itu berdiri tadi.
"Tadi orang itu berdiri di situ. Aku takut sekali dan tidak berani melihatnya. Tapi aku dengar orang itu berjalan di sekitar kamar ini...," balas Naruko polos.
"APA?!" teriak Naruto ketika mendengar penjelasan Naruko. Teriakannya membuat makhluk yang sedang tertidur pulas di kirinya terganggu.
Wusshhh
Naruto loncat dari kasur dan menyenggol kaki Menma.
Brukkk
Menma jatuh dari atas kasur.
"Itttaaii!" teriak Menma. Namun tak dipedulikan oleh Naruto.
"Kusho! Siapa yang mengganggu tidurku!" teriak Menma pada orang yang berani-beraninya mengganggu tidur nyenyaknya.
Namun teriakan kesal Menma sama sekali tak diacuhkan Naruto. Pemuda itu terlihat mengambil sapu dan berlari keluar kamar secepat mungkin. Sementara Naruko cuma bengong saja menatap sang kakak yang berlalu dari kamar itu.
'Sial!' umpat Naruto dengan wajah garang sambil terus berlari cepat di ruang tengah. 'berani-beraninya mereka mengganggu keluargaku. Apa mau mereka? Apa tidak cukup mereka memperlakukan ku dan keluargaku dengan sikap mereka itu.'
Cklek
Naruto membuka pintu secara kasar. Terlihat lorong agak gelap sepanjang lima meter dengan lebar satu setengah meter di depannya. Tanpa pikir panjang lagi ia pun langsung berlari memasuki lorong agak gelap itu.
Setibanya ia di ujung lorong itu, dipegangnya daun pintu, kemudian dengan tenaga penuh dibukanya pintu itu cepat dan tanpa memperhatikan sosok yang ada di depannya di depannya, ia langsung melompat ke luar dari lorong itu.
Tapi―
Braaggh
Dia menabrak sesuatu, sesuatu yang terbuat dari logam lebih tepatnya. Dia pun terjengkang ke belakang dan mendarat dengan pantatnya semeter dari tempatnya.
"Aduh!" rintih Naruto dengan wajah meringis. Sesaat kemudian dibukanya matanya cepat untuk mengetahui apa yang ditabraknya tadi.
Srap
Dan hampir saja jantungnya copot karna saking kaget menyaksikan sosok hitam tinggi yang sedang berdiri di depannya.
Dia tidak bisa melihat jelas wajah orang itu karna yang tampak hanya warna hitam dan mata birunya yang menyala sedang menyorot ke arah dirinya.
"S-siapa k-k-kau?" tanya Naruto pada orang itu dengan gagap.
Klip
Dia mengedipkan matanya, sosok itu pun seketika menghilang dari hadapannya.
XxXxX
Siang harinya di Konoha...
Naruto sedang duduk beristirahat di sebuah pohon rindang di tengah-tengah desa tersebut. Dari tadi pagi mengamen berkeliling desa tak sepeser pun didapatkannya. Sama seperti hari-hari biasanya.
Bush
Tiba-tiba seseorang berambut ikal panjang berwarna hitam pekat dengan jubah putih yang membalut seluruh tubuhnya, melempar sebuah alat musik petik di depan Naruto.
Naruto mendongakkan kepalanya menatap orang yang berdiri di depannya dan tentu saja wajah orang itu sudah tidak asing lagi bagi dirinya. Karna selama pekerjaan mengamennya, orang itulah yang selalu memberinya uang.
"Eh, Paman. Apa ini?" tanya Naruto kebingungan dengan alat musik yang ada di depannya saat ini.
"Aku ingin kau memainkan benda itu. Akan ku beri kau sekantung uang emas," kata orang itu sambil mengeluarkan sebuah kantung dari jubahnya.
"Tapi bagaimana caranya, paman?"
"Mainkan saja. Benda itu akan menemukan nadanya sendiri nantinya,"
Mendengar kata-kata pria itu, Naruto pun mulai menggerakkan tangannya untuk membetulkan posisi benda itu. Setelah posisinya benar ia pun mulai memetik alat musik itu secara acak sambil menajamkan pendengarannya.
Beberapa lama kemudian nada-nada yang dihasilkan petikan tangannya masih terdengar datar.
Tiba-tiba di benaknya mulai muncul wajah tersenyum ke dua adiknya. Reflek jemari tangannya pun bergerak mencari-cari nada yang tepat.
Terbayang lagi di benaknya ketika dirinya dan ke dua adiknya tertawa bersama. Nada-nada merdu pun mulai terbentuk dari alat musik itu. Menterjemahkan segala perasaan bahagianya ketika bersama ke dua adiknya.
Ke dua kelopak matanya terpejam pelan, menikmati setiap nada yang dihasilkan tangannya. Otaknya mulai memutar kenangan demi kenangan kala dirinya bersama Naruko dan Menma. Ketika dirinya menyuapi mereka, membersihkan noda-noda makanan di mulut mereka, melerai mereka ketika mereka berkelahi, menghibur mereka saat mereka sedang sedih. Tanpa sadar air matanya mulai berlinang dari ke dua sudut matanya yang terpejam. [1]
'Bahagia,' batin pria itu tanpa mengalihkan mata hitamnya dari wajah bahagia pemuda itu.
Tapi permainan jemari tangan mulai berubah seiring dengan ingatannya mulai terbayang wajah-wajah benci orang-orang di desa itu. Sehingga aliran air matanya seketika terhenti, wajahnya yang semula tampak tenang dan bahagia berubah merengut.
Alunan nada-nada yang dihasilkan permainan tangannya berubah menusuk, yang awalnya terdengar tenang dan lembut menjadi cepat dan kasar. Jemari ke dua tangannya bergerak lincah memetik satu-persatu senar alat musik petik itu. Seolah dirinya sudah ahli dalam bidang ini. Tak ada satu pun nada cacat dalam setiap permainan musiknya.
Dengan lihai terus dimainkannya alat musik petik itu, kadang disentaknya cepat senar-senar itu dengan jari-jari tangannya. Amarah yang tertahan dalam hatinya terus bergejolak.
Angin yang tadinya berhembus melewati desa itu pun bergerak kembali secara pelan ke tempat pemuda itu berada. Daun-daun yang berguguran ikut berterbangan mengikuti arah hembusan angin. Sampai gerakan dedaunan serta hembusan angin itu terpusat dan berputar-putar pelan di atas pohon tempat naungan Naruto..
"Hah? A-apa itu?!" tanya seorang penduduk pada penduduk lainnya yang juga melihat hal itu.
Kerikil-kerikil kecil yang berada di sekitar Naruto mulai berterbangan di sekitarnya, kemudian gerakan kerikil-kerikil terhenti saat sudah setinggi lutut pria itu. Api-api yang sedang menyala di rumah-rumah penduduk bergerak-gerak tak beraturan, mengikuti deru napas Naruto yang terdengar memburu.
'Benci, dendam, amarah,' batin pria di depannya lagi masih tetap enggan berpaling dari wajah Naruto.
Semua Shinobi dan orang-orang termasuk Hokage ke tiga yang melihat pusaran angin di tengah-tengah desa yang tampak semakin cepat itu pun mulai merasakan sesuatu yang tidak enak di hati mereka.
"Cepat kalian periksa tempat itu!" perintah Hokage pada tiga orang ANBU yang ada di ruangan itu tanpa membalik tubuhnya yang sedang menghadap jendela.
"Baik, Hokage-sama," patuh ke tiganya dan menghilang begitu saja.
Shinobi-shinobi yang ada di desa itu pun segera bergerak cepat menuju tempat pusaran angin itu berada.
Sementara dalam benak Naruto terbayang sosok dirinya berdiri di atas puing-puing desa Konoha yang sudah hancur, memandang datar mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. [2] Hah, kayaknya bersambung deh...
DISCONTINUED... hkwkwkwkwkwkwkwkk
AN : Tema fic ini ane angkat dari film Clash of The Titan, Wrath of The Titans, dan Immortal... Fic ini ane bagi menjadi tiga bagian. Pertama Naruto di Konoha, ke dua petualangan Naruto, dan ke tiga kembali ke Konoha saat invasi pain... Dan mungkin akan menjadi crossover dengan OP... ada yang mau ngasi saran nama buat chara-chara ciptaan ane sendiri di atas? hkhkhkhkhkhkhkhhk wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk
[1] Soundtrack Three kingdoms Resurrection Of The Dragons - Zhao Army
[2] Soundtrack Three kingdoms Resurrection Of The Dragon - Battle On The Phoenix Heights...
Balasan Review :
Guest : Lol xD Mendingan Login aja gan... biar ane bisa nanya sama ente somplak... wkwkwkwk
Nanda setiawan : iya gan, soalnya fic ini updatenya tidak tentu...
Kainan : iya gan, ane harap juga gitu.. Soal request pairnya, udah dari fic Naruto The King pairnya udah ditentukan, jadi mohon maaf...
BIG THANKS TO : Kainan, Nanda setiawan, Guest dan buat yang udah fave and follow fic ini kaboorrrrrrrrrrrrrrrr hkwkwkkwkwkw
