Stories

Ch 2: Kiku's ex-Lover

Desclaimer & Warning: liat di Chapter 1.

.

.

.

.

Hari kedua Ivan menangani Kiku. Semalaman ia tak bisa tidur. Salah satu alasannya adalah cerita masa lalu Kiku yang menyedihkan, dan alasan lainnya adalah karena adiknya, Natalya, memintanya untuk menikah dengannya lagi. Mana ada seseorang yang akan menikahi saudara sedarahnya sendiri? Gila aja. Setiap Natalya memintanya untuk menikah, Ivan selalu berpikir untuk memasukkan Natalya ke Psikiatris. Pernah , ia utarakan keinginannya itu ke kakaknya, Katyusha. Sayang, ide brilian itu ditolak oleh Katyusha.

"Tuan?" suara Toris menyentak Ivan dari lamunannya. "Ada apa, da?" Tanya Ivan sambil berusaha menutupi kekagetannya. "Ada Dr. Alfred ingin bertemu." jawab Toris. Setelah menyuruh Toris untuk mempersilahkan Alfred masuk, Ivan kembali ke lamunannya. sampai akhirnya, sebuah wajah yang dihiasi senyum bodoh, memasuki ruangannya. "Ada apa Alfred? Tumben sekali kau menemuiku." kata Ivan sembari menebar aura ungunya. "Bagaimana kabar Kiku?" Tanya Alfred. "Dia baik-baik saja. Dan, aku ingin menanyakan sesuatu, Alfred." jawab Ivan serius. "Apa itu?" Tanya Alfred. "Saat kau menangani Kiku, apakah kau menemukan sesuatu? Seperti kabar keluarganya, atau sebagainya?" Tanya Ivan. "Tidak, tidak sama sekali." Alfred terdiam sebentar, lalu melanjutkan. "Kapan kira-kira Kiku sembuh?"

Manik Violet milik Ivan menatap tajam orang Amerika didepannya dengan perasaan curiga. "Kenapa kau bertanya seperti itu, da?" tanyanya curiga. "Yaah, wajah, dan badannya cukup menarik. Jadi, aku berencana akan memacarinya setelah dia sembuh." jawab Alfred enteng. "Kenapa kau tidak bilang padanya? Siapa tahu dia bisa menjadi sembuh." saran Ivan. "Aku tidak mau mempunyai pacar orang gila." kata Alfred. Amarah Ivan mulai tersulut. Tetapi, ia mencoba untuk menahan amarah itu. "Bagaimana kalau dia tidak sembuh?" tanyanya. "Ya, akan ku tinggalkan saja dia." Plakk! Ivan menampar Alfred dengan keras karena jawabannya. "Hei! Apa masalahmu?!" gerutu Alfred. "Jadi, kau hanya mengincar tubuhnya? Dan, kau tidak benar-benar mencintainya?" Tanya Ivan mengacuhkan gerutuan Alfred. "Tentu. Apa lagi memangnya?" Plakk! Tamparan lain dari Ivan mendarat dengan mulus di pipi Alfred. "Kularang kau dekat-dekat dengan Kiku. Kalau tidak," Ivan mengarahkan Pipanya ke kepala Alfred. "Kau tahu akibatnya." desis Ivan yang segera meninggalkan ruangan. Di lain tempat, yaitu bangsal Kiku, Kiku sedang menatap kosong pintu bangsalnya. Seakan-akan ia sedang menunggu seseorang. Tapi, siapa? Dia sendiri bahkan tidak ingat.

Menunggu seseorang, ya, Kiku memang pernah melakukannya. Terlebih, saat yang ia tunggu adalah dia. Greek, pintu itu terbuka, menampakkan sesosok pria yang ada di mimpi Kiku semalam " Selamat pagi, Kiku. Bagaimana keadaanmu?" Tanya pria itu yang ternyata adalah Ivan. "Siapa? Kau mirip dokter Ivan." kata Kiku sambil menatap kosong Ivan. "Aku memang dokter Ivan, da." Kata Ivan dengan sedikit….sedih? 'Ada apa sebenarnya denganku? Pertama, aku melarang Alfred mendekatinya, dan kedua, aku merasa sedih saat Kiku melupakanku?' pikir Ivan. "Dokter? Kau dokter Ivan?" Tanya Kiku sambil menatap Ivan tepat di matanya. Manik Coklat bertemu manik Violet. Dan sebelum Ivan mengatakan sesuatu, Kiku sudah cekikikkan sendiri. "Kau benar dia. Kenapa dokter sedih? Apa, Kiku melakukan kesalahan?" Tanya Kiku lagi. Dan kini, Ivan tersenyum mengerikan pada Kiku sambil menepuk kepalanya. "Tidak, tidak. Aku hanya bosan kok. Bukannya sedih." Jawab Ivan. "Dokter bosan? Mau mendengar cerita Kiku?" Kiku yang masih menatap kosong Ivan, menggapai tangannya dan menariknya untuk duduk disampingnya. "Baiklah, kau ingin bercerita apa?" Tanya Ivan. Kiku segera mengambil boneka pria berambut pirang, dan miniature boneka Jepang yang ia gunakan kemarin. "Tentang Kisah cinta sang boneka Jepang."jawab Kiku sambil tersenyum layaknya orang gila.

Kiku POV's

Aku bersekolah di SMA lokal yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahku. Di sekolah, aku sangat pendiam, serta pemalu. Kedua sifat itu cukup untuk dijadikan alasan bagi seluruh murid angkatanku untuk menindasku. Awalnya hanya ejekan-ejekan biasa. Namun, lama kelamaan, mereka mulai menjambakku, menendangku, dan memukuliku. Bukan salahku, jika aku sangat pendiam, dan pemalu. Tapi, kenapa mereka menindasku? Apakah aku punya kesalahan pada mereka? Bahkan sampai sekarang aku tak tahu. Aku mulai berpikir, 'Jika aku mendapat nilai tertinggi di sekolah, apakah mereka akan berubah?'

Mulai saat itu, aku belajar sangat keras. Aku tak peduli lagi dengan apa yang ku alami di sekolah. Aku hanya peduli pada pelajaran, pelajaran, dan pelajaran. Sampai akhirnya, aku menjadi juara sekolah, dan semuanya berubah. Tidak ada lagi yang menindasku. Aku justru membuat banyak teman. Terutama, seseorang bernama Ludwig, Felliciano, dan Gilbert. Mereka sahabatku. Mereka selalu ada saat aku membutuhkan. Ahh, saat itu, aku merasa hidupku sempurna.

Dan kehidupanku saat itu semakin sempurna karena kehadirannya, seseorang dengan rambut pirang, dengan mata Hijau Zamrud yang sangat indah. Aku menikmati setiap detik bersamanya, menikmati caranya menatapku, dan terutama, caranya berbicara denganku. Singkatnya, aku telah jatuh cinta padanya. Dan, hidupku semakin sempurna begitu ia menyatakan perasaannya padaku. Begitu aku, dan ia resmi berpacaran, segeralah ku beritahu ketiga sahabatku. Felli tampak sangat senang, sementara Ludwig, dan Gilbert saling berpandangan. Lalu, Ludwig berkata padaku. "Berhati-hatilah, Kiku. Dan, selamat ya." Hari itu merupakkan hari terbaik dalam hidupku.

Sayang, keadaan tak bisa tetap seperti yang kuharapkan. Seluruh murid kembali menindasku. Hanya Felliciano, Ludwig, Gilbert, dan dia yang masih setia berteman padaku. Tetapi, semua berubah saat kesekian kali mereka menindasku. Dan hari itu merupakan penindasan yang terburuk. "Bagaimana keadaanmu, love?" suara itu, segera kuangkat wajahku agar bisa menatapnya. Tapi, bukan senyuman hangat yang tersungging di bibirnya kali ini. Melainkan, senyuman sinis yang mengerikan. Lalu aku sadar, ia tidak datang untuk menolongku, melainkan untuk menindasku juga.

Di sela-sela penindasan, aku mendengarnya berkata. "Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Kau membuatku jijik." JLEB! Seakan ada pisau yang menusuk jantungku saat ia mengatakan hal itu. Aku menangis. Bukan, bukan karena kesakitan. Tetapi, Karena aku telah di Khianati oleh orang yang sangat kucintai. Penindasanku pada hari itu berakhir pada saat ketiga sahabatku datang menolongku.

Kiku POV's end

Ivan menatap Kiku yang menyelesaikan ceritanya. Tampak butir-butir air mata disela-sela matanya. Dan tanpa sadar, Ivan memeluk Kiku dengan sangat erat. "Apa kau masih kecewa dengannya, Kiku?" tanyanya sambil menatap Kiku. Kiku hanya mengangguk. "Kiku, lupakan dia. Kalau kau mau, aku akan menggantikan tempatnya." ujar Ivan yang langsung bingung sendiri dengan perkataannya. Tetapi, rasa bingung itu tak bertahan lama, karena Kiku memeluknya sekarang. "Dokter, terima kasih. Berkat dokter, suara yang menghantuiku berkurang, dan sekarang, dokter juga telah membantuku melupakannya." kata Kiku. "Ya, aku tahu. Sekarang, jangan menangis, da?" Ivan tersenyum pada Kiku. Tapi, dia tidak menunjukkan senyum mengerikannya. Melainkan, senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan.

Tiba-tiba, "Kakak…buka pintunya, ayo kita menikah….." Oh tidak, pikir Ivan.

TBC

Hanny: wah! Akhir yang menggantung!*ketawa setan**digampar tetangga* ehm, ok, mari balas review!

KidoTsubomi 11: baguslah anda suka. Iya, saya sengaja ngebuat si Kiku disiksa. Agar, si Kiku bisa bercerita pada Ivan. Thanks sudah mereview, dan ini Update-annya!

KOLINnoKOLIN: benarkah fic ini bagus? Terima kasih! Saya turut senang anda tertarik dengan fic abal saya. Thanks telah mereview!

Syalala uyee : anda sedang suka fic bertema kejiwaan? Kalau saya sih lebih suka ada unsur Kiku disiksa.*digampar Japan-FC* thanks telah mereview!

Guest: terima kasih telah berpendapat fic saya keren. Ini Update-annya, silahkan dinikmati (?)!

Revantio Van Cario: salam kenal juga! Terima kasih telah bersedia mengoreksi fic saya, tenang, saya senang kok kalau ada yang member saran yang membangun. Thanks telah mereview!

Hanny: akhirnya Ch 2 selesai!

Hana: Kuso-author, bukannya author besok ujian ya?

Hanny: ujian apaan?

Hana: ituloh, UAS.

Hanny: hei, saya belum kelas 9, na.

Hana: bukan itu! Euhh, UKK! Besok Kuso-author UKK-kan?

Hanny: bukan UKK. Ulangan kok.

Hana: KUSO NO JOSEI! Iya, yang gue maksud Ulangan kenaikan kelas!

Hanny: AH! Baru inget! *buka-buka buku*

Hana: baiklah, readers, Review please?