Warning: OOC, gaje,TYPO
Jumping Danzes
"Zhulu Racheihuzk, nama panggilanku Lhuru... yoroshiku..." kata gadis bermata biru muda dan berambut gelombang. Para murid mengangguk-anggukan kepala mereka seakan-akan mereka dapat mengingat nama itu dengan sempurna, meskipun mereka telah membaca berkali-kali nama yang tertulis besar-besar di papan tulis itu, lidah mereka selalu keseleo dan tidak hafal-hafal juga, raut wajah mereka seakan-akan mengatakan "Nama macam apa itu?".
"Mikhaz Yonchizy, panggil saja aku Miyon, yoroshikuuuuuuuuu.." kata gadis mungil itu, pembawaanya ceria, namanya juga tidak terlalu sulit, tidak seperti nama gadis sebelumnya.
"Azriel Azrecheshka, kalian dapat memanggilku dengan Azriel, atau Al jika terlalu sulit, yoroshiku" kata gadis bermata hijau emerald. Kemudian mereka membungkukan badan mereka sambil mengucapkan "yoroshiku", murid kelaspun membalas dengan membungkukan badan dan mengucapkan "yoroshiku" juga.
"Baiklah...Lhuru, Miyon, dan Azriel... (bu Erika menghela napas setelah berhasil melafalkan nama mereka dengan benar) kalian dapat mengisi tempat duduk yang kosong, kita akan segera memulai pelajaran fisika kita hari ini." seisi kelas melihat kearah tempat duduk yang kosong, disamping kanan Chinen, didepan Yamada, dan di depan Yuto.
"Tenang Ryo... tenang... mereka hanya murid baru... ya.. mungkin mereka cantik... sangat cantik.. tapi kau sudah terbiasa dengan hal itu.. itu tak penting... mereka manusia biasa... sama sepertimu... mungkin..." Yamada berbicara sendiri dalam hati sambil menutup matanya. Krek..suara bangku di depannya di geser dan seseorang telah duduk disana, jantung Yama berdegup kencang... kemudian ia membuka matanya perlahan dan melihat rambut hitam panjang bergelombang, cepat-cepat ia memegang buku fisikanya dengan erat dan menunduk berusaha membaca rumus-rumus didalamnya.
"Kau tidak boleh begitu Ryo! Bersikap ramahlah sedikit! Ayo! Perkenalan pertama itu penting!" Yama lalu membuka mata dan mengangkat kepalanya, ia tersentak kaget mendapati gadis di depannya itu mengulurkan tangannya.
"Aku Lhuru... Siapa namamu?" kata gadis itu sambil tersenyum. Yamada menatapnya tanpa berkata apapun, setelah ia tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya, Yama menjabat tangan gadis itu.
"Yamada Sosuke.. Cigau! Yamada Ryousuke desu!" kata Yama dengan suara ditegas-tegaskan.
"Nama yang bagus.. seperti orangnya" Lhuru tersenyum lagi kemudian melepaskan jabatan tangan Yama, ia membalikan badan dan mulai membaca buku fisikanya. Yamada menarik tangannya yang terulur perlahan, ia menatapi tangannya itu dan tanpa sadar ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang meskipun tidak gatal sambil senyum-senyum sendiri.
Gadis berambut pirang berjingkrak-jingkrak ke tempat duduk kosong di samping Chinen lalu duduk, ia mengeluarkan buku fisikanya dan kemudian membacanya. Chinen yang berusaha konsentrasi dengan rumus-rumus dikepalanya, tak kuasa menahan keinginannya untuk melihat wajah gadis yang energic itu.
"Hai aku Miyon, siapa namamu..?" kali ini Chinen menoleh ke arah suara indah itu. Gadis pirang itu tengan berkenalan dengan orang-orang di sekelilingnya, sungguh pribadi yang menyenangkan pikirnya. Semua yang telah berkenalan dengannya pasti memancarkan wajah bahagia, mau perempuan atau laki-laki pasti senyam-senyum setelah berkenalan dengannya. Kini gadis itu menatap Chinen dengan mata yang berbinar-binar dan senyum yang...ugh.. manis...
Chinen salah tingkah.
"Siapa namamu?..." kata Miyon.
"Chi.. Chinen Yuuri desu"
"Anata no Kawaiiiiii desu" Gadis itu tersenyum lagi dan lagi, ia penuh dengan senyuman dan keramahan.
"..." wajah Chinen memerah.
"Yoroshiku ne" gadis itu mengakhiri pembicaraan.
"Anata mo... Kawaii" Kata Chinen dalam hati, entah mengapa baru kali ini ia tidak dapat memuji orang dan bicara blak-blakan secara langsung.
"Siapa namamu?" pertanyaan itu membuat bulu roma Yuto berdiri dan gugup.
"Nakajima Yuto desu" kemudian ia memberikan 'senyuman khasnya', ia berusaha tenang meskipun kakinya sudah mulai gemetar.
"Yoroshiku" Gadis itu menatap Yuto dengan tajam, ia tersenyum kemudian membalikan badan. Sesaat tadi Yuto terpukau cara gadis itu menatapnya, warnanya matanya, bentuknya yang bundar, garis matanya yang tegas, kini terlihat lebih jelas dibandingkan ia melihatnya tadi di depan kelas, Yuto menekan dada dan ia merasakan jantungnya seperti memberontak akan keluar.
"Kenapa aku seperti ini?" Tanya Yuto dalam hati.
~oOo~
"Hikaru, ayolah! Ini masih terlalu pagiiiiii!" gumam Inoo.
"Kau yang pemalas! Ini sudah siang!" kata Hika.
"Heeeeeeeeeeeeeeeehhhh! Sejak kapan kau disini?" Inoo terperanjat dari tidurnya dan tersentak kaget saat tersadar Hikaru sudah berada di tempat tidurnya.
"Sejak semalam..." Hika memasang wajah menggoda.
"Keluar kauuuuuuuuuuuu!" Teriak Inoo.
"Tidak-tidak aku bercanda... aku baru datang... ayolaaaaaah! kau sudah janji padakuuuu!" kali ini Hika menarik selimut Inoo.
"Janji apa Hikaruuuuu?" Teriak Inoo sambil tarik menarik selimut dengan Hika.
Hikaru langsung melepas selimutnya, menggigit bajunya dan memasang muka memelas.
"Kau sudah melupakannya Inoo? Hiks... aku sediiiihhh"
"Hahahaha... enyah kauuuuuuu!", "Ayolah Inooooooo!" Tanpa segan-segan kali ini Hikaru mengangkat Inoo bak seorang putri, mengantarkanya ke kamar mandi dan melemparnya kedalam bathub, memutar keran shower dan meninggalkanya. Inoo memasang wajah pasrah.
"Hikaru no BAKAAAA!" Terdengar suara Inoo setelah Hikaru sampai di depan pintu kamar mandi, Hikaru tertawa iblis. Hikaru pergi ke ruang tamu lalu duduk di sofa dan membaca beberapa majalah.
"Kau ingin makan sesuatu Hikaru?" tanya sebuah suara dari arah dapur yang membuat Hikaru berhenti membaca, ternyata sumber suara itu dari nyonya Inoo.
"Oh tante.. Tidak terima kasih, aku belum lapar, hehehehe." sahut Hika.
"Kalau ingin cemilan silahkan ambil snack di lemari makanan ya."
"Ah tante... Tidak usah repot-repot." cengir Hika sambil berjalan menuju lemari makanan, ia mengambil snack itu selayaknya pencuri yang telah berhasil mendapat hasil curiannya, lalu ia kembali duduk di sofa.
"Membaca majalah sambil makan cemilan itu memang paling mantap!" Hikaru memakan snack itu seperti orang kelaparan, kalau di tangan bassis Hey!Say!BAND! ini, cemilan akan dibabat habis seperti makan nasi, harus sampai kenyang pula. Satu-persatu majalah telah ditamatkannya, sesekali ia menggerutu karena entah mengapa Inoo mandinya lebih lama dari biasanya, sempat terpikir dibenaknya..
"Jangan-jangan Inoo jatuh dan pingsan di kamar mandi?" Baru saja Hika mengangkat bokongnya dari sofa, ia malah kembali duduk, mungkin ia teringat saat terakhir kali Hikaru menerobos masuk ke kamar mandi dan berakhir basah karena siraman seember penuh air oleh Inoo. Hika kembali santai membabat snacknya. Tiba-tiba handuk basah mendarat di atas kepala Hika, ia tahu siapa yang melempar handuk itu, langsung diambilnya segenggam penuh snack dan memasukanya ke mulut, kemudian meletakan handuk basah itu ke rak handuk.
"Ao hehaeats!" kata Hika tidak karuan.
"Nanii?" tanya Inoo. Hika mengunyah cepat dan menelan.
"Ayo cepat!"
"Oke" Sahut Inoo, kemudian Inoo tersentak kaget melihat toples snack yang tinggal seperempatnya.
"Astaga! Dasar maling makanan!" Inoo menggelengkan kepala.
~oOo~
Murid TRAIT bergegas ke lapangan basket indoor, pelajaran olahraga terasa berbeda saat itu, 3 orang gadis yang sangat cantik tengah menjadi pusat perhatian, sebenarnya sudah cukup lama anak-anak baru itu berada di sekolah, tapi tetap saja tidak ada yang berubah, atmosfernya tetap sama seperti pertama kali 3 anak yang tidak lagi jadi 'the mysterious 3' tapi 'the famous 3' itu menginjakan kakinya di kelas TRAIT.
"Hari ini kita akan main basket" kata pak Ashino, seorang guru olahraga di Horikoshi. Beberapa anak diperintahkan mengambil bola basket di gudang peralatan olahraga.
"Baik... yang akan memimpin pemanasan adalah..." mata guru olahraga itu menyapu seluruh murid TRAIT.
"Kamu..." telunjuk pak Ashino mengarah ke seorang gadis berambut pirang.
"Atashi?" tanya gadis itu dengan raut wajah gembira.
"I... iya... kamu" Pak Ashino gugup, sebenarnya sejak awal melihat '3 anak baru' itu pak Ashino sudah terasa seperti tercekik, tapi ia berusaha rileks, bicarapun sebenarnya sulit kalau diperhatikan oleh 3 pasang mata yang memancarkan aura yang sangat memesona itu, terkadang terpintas dibenaknya...
"Apakah iya mereka bukan artis? Masa iya produser film atau girlband tidak ada yang berminat ?". Miyon maju kedepan barisan dan memulai pemanasan.
"Minnaaaaaaaa... ayo kita mulaaaaiii" Miyon memulai dengan riang, semuanya menjawab dengan ceria, tanpa sadar Chi senyum-senyum melihat gerakan pemanasan 'si pirang' yang...ughhhh!... benar-benar lincah dan memukau.
Plakkk! Seseorang menampar pipinya pelan dari belakang, Chinen menoleh.
"Kenapa kau senyam-senyum sendiri Chi?" tanya Yama.
"Siapa yang senyam-senyum?" Chinen menyangkal.
"Kupingmu sampai memerah tahuuu! Kalau mau blushing jangan berlebihan begitu!" omel Yama sambil berusaha menyentuh ujung kakinya.
"AKU TIDAK BLUSHING!" kali ini Chinen menyangkal ketika kepalanya terlihat diantara kakinya, mudah bagi Chinen untuk menekuk tubuh lenturnya saat berdiri sekalipun. Yama menjulurkan lidah.
PRIIIITT! "Oke anak-anak! Silahkan kalian bermain basket! 10 menit sebelum bel pergantian pelajaran, kalian harus mengganti seragam kalian untuk pelajaran berikutnya"
"Baik paaaaakkkk" sahut para murid.
Permainan basket itu dimulai dengan murid putra yang dibagi menjadi 2 grup, Chinen dan Yamada di grup A dan Yuto di grup B, sorak-sorai suporter putri meramaikan pertandingan. Para pemain saling 'man to man' satu sama lain, ketika Chinen mendapatkan bola ia langsung dihadang Yuto, penjagaan Yuto ketat, tapi Chii dikenal dengan permainan bola yang cepat dan gerakan yang lincah, bola dipantulkan ke lantai diantara kaki Yuto dan Chinen berlari ke belakangnya, bola ditangkap Chinen dan ia melesat cepat, 'Lay up' dilakukan dan 2 point pun didapatkan oleh grup A. Yamada dan Chinen melakukan high-five sedangkan Yuto memasang wajah cemberut. Chi dan Yama bekerjasama mencetak point dan terus bertambah hingga skor yang dicapai 10-8 untuk grup A dan B. Babak penentuanpun akan dimulai.
"Aku ingin main!" Suara tersebut menghentingkan seorang murid putra yang akan meniup peluit. Miyon berdiri sambil mengangkat tangan kanannya, pemain basket putra saling menatap satu sama lain dan murid putri saling berbisik, 2 orang pun kini ikut angkat suara.
"Aku rasa tidak adil jika murid putri hanya melihat." Kata gadis bermata hijau emerald.
"Aku setuju" kata Lhuru. Anak putri yang ingin ikut bermain berdiri dan membentuk tim dengan 'The Famous 3' itu, sebagian anak putra yang bermain basket memilih beristirahat di pinggir lapangan dan sebagian lagi tetap termasuk Yamada, Chi, dan Yuto.
"Bagaimana jika pertandingan putri melawan putra?" kata Miyon dengan mata berbinar-binar, murid putra yang memilih untuk tetap bermain saling pandang dan tersenyum.
"Boleh!" Kata Yuto semangat.
Pertandingan basket putra melawan putripun dimulai, bola mudah dikuasai Yuto, ia melesat dan mencetak point, Yuto melakukan high-five dengan murid putra yang lain, sesekali ia melihat kearah Al, ia bingung kenapa dia tidak bergerak dari tempatnya, hanya memerhatikan bola yang melambung dan terpantul kesana-kemari dari tempatnya berdiri.
"Apa dia tidak bisa atau tidak tahu cara bermain basket?" tanya Yuto dalam hati.
PRIIIIIITTT! Bolapun dilempar, kali ini Lhuru berhasil merebut bola dan mengopernya ke Miyon, Chinen bertugas menjaga Miyon karena mengimbangi kelincahannya, Chinen berdiri sedikit membungkuk di belakang Miyon dan menjaga agar Miyon tidak mengoper bola.
"Terlalu dekaaaaaaaaatttt!" Teriak Chinen dalam hati. Entah mengapa Miyon menoleh ke belakang dan menatap mata Chinen.
"Jantung... Jantuuuuuuung... Tenanglaaaaaahhh!" sekarang Chi merasa lemas dikakinya, Miyon melesat melewati Chinen, para penonton dan pemain putra yang lain melotot dan tidak percaya akan apa yang terjadi, 'Chinen berhasil dilewati oleh seorang perempuan!'... tapi mereka kembali fokus pada Miyon yang semakin dekat dengan ring, Miyon mengoper bola ke Lhuru dan langsung dihadang Yama.
"Ayo Ryooo... Kau bisa... Fokus... Fokus..." Semangat Yama dalam hati, Ia benar-benar konsentrasi dan hanya melihat kearah bola yang didrible Lhuru, Yama berusaha mengikuti dan membaca gerakannya, lalu...TAP!... bola dapat direbut Yamada, tapi bola itu langsung dipantulkan asal ke lantai.
"Dingiiiiiiiiinnnn! Aduuuuuuuuhhhh!" tiba-tiba Yama menjerit dan berlari-lari membuat yang lain kaget. Bola yang terpantul kesembarang arah tadi ditangkap miyon dan dilemparkannya ke ring, 2 point untuk tim putri.
"Ada apa Yamada?" tanya Yuto sambil berlari kearah Yama.
"Bola itu... Bola itu dingiiiiiiinnn!" kata yama dengan muka ekspresif.
"HAAAHH?DINGIIINN?" Yuto langsung memegang kening Yama.
"Kau tidak keringat dingin ko" Kata Yuto dengan wajah polos.
"Bolanya yang dingin! Bukan keningkuu!" Yama meledak.
"Ooooohh.. aku rasa kau daydream Yama" Yuto meledek.
"TIDAK! Coba saja kau pegang bolanya!"
"Heeeemmm..." Yuto memutar bola mata dan berjalan kearah bola itu, ia mengambil bola itu dan...
"AAAAAAAHHHHH!" Yuto berteriak sambil memegang bola itu erat-erat, semuanya terkejut.
"BOLANYA BULAAAATTT!" Yuto langsung tertawa terbahak-bahak, murid putra yang disebelahnya langsung menepak jidatnya.
"Aku serius Yuto! Bola itu tadi sedingin es!" kini Yama berteriak dan wajahnya memerah karena emosi.
"Baiklah.. Baiklah maafkan aku, coba kau istirahat dulu Yama, kau kelelahan" Yuto berusaha menenangkan Yama.
"Atur nafasmu dan duduklah" kata Lhuru yang justru mendapat tatapan tajam Yama, lalu Yama merubah raut wajahnya seakan-akan menyadari sesuatu, ia mendekati Lhuru perlahan sambil menunjuknya.
"Kau Lhuru..." Yama berjalan makin cepat.
"Sebelum aku, kaukan yang memegang bola itu... jadiiii..." Yama menarik napas...
"Pasti kau merasakannya juga kan? Bola itu tadi dingin sedingin es! Ya kan?" Intonasi Yama meninggi. Lhuru menggelengkan kepalanya, Yama langsung membalikan badannya dan berjalan ke pinggir lapangan, ia duduk dan menenangkan diri.
"Aku mungkin hanya berhalusinasi, terlalu konsentrasi pada bola mungkin.." batin Yama.
"Oke kita lanjutkan" Kata Yuto.
Kali ini 'man to man' antara Yuto dan Al, Yuto berusaha tidak menatap wajah Al dan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Yama, fokus pada bola yang ia pegang agar tidak direbut, saat Yuto melesat melewati samping kiri Al, tak sengaja Yuto menyikut wajah Al dan membuatnya jatuh tersungkur, Al merintih kesakitan sampai akhirnya dia pingsan, serentak pemain berhenti saling menjaga dan suporter terdiam.
"GOMENESAAAAAIIIII! HONTOU NI GOMENESAAAAIII! AKU TAK SENGAJA!" Yuto langsung berlari ke arah Al.
"Kau tidak apa-apa?" Yuto langsung membuka mulut dan matanya lebar-lebar saat melihat wajah Al yang mulai lebam di bagian tulang pipi kirinya.
"Astaga Al! Aku tak sengaja! Sungguh! Gomenesaaaaii! aku akan mengantarmu ke UKS!" Yuto langsung mengangkat tubuh Al perlahan dan membawanya ke ruang UKS, semua murid bertatap-tatapan dengan raut wajah cemas, terlebih lagi Lhuru dan Miyon.
"Al akan baik-baik saja Miyon, kau tenang saja" Kata Chinen kepada Miyon, namun mata Miyon sudah berkaca-kaca.
"Jangan menangis" Kata Lhuru yang langsung memeluk Miyon dan menyembunyikan wajahnya yang mulai meneteskan air mata.
"Kami mengerti Yuto-kun tak sengaja, sebaiknya kita berganti seragam, sudah 10 menit sebelum bel pergantian pelajaran" kata Lhuru dengan suara tenang kemudian membawa Miyon pergi, murid putri lain langsung mengerubungi Lhuru dan Miyon berusaha menghibur, mereka semua pergi ke kamar ganti.
Sementara itu, di pinggir lapangan...
"Anak ini... BAKA! HONTOU NI BAKA!" kata seorang murid putra yang kesal melihat Yamada tertidur pulas di pinggir lapangan.
~oOo~
Yuto membaringkan Al di ranjang ruang UKS dan mencari es untuk mengompres memar di wajah Al.
"Hontou ni gomen.." kata Yuto berbisik sambil mengompres pipi Al.
"Ittaiii..." suara Al merintih dan perlahan membuka matanya.
"Kau sudah sadar?" tanya Yuto pelan.
"Ini... dimana?" Al memegang pipinya...
"Kau di ruang UKS"
"ITTAAAAAIII..." suara Al memecah keheningan ruang UKS, Yuto tersentak kaget.
"Pipiku kenapaa?" tanya Al panik.
"Eeeeee... Anooo... Eeeeeee." Yuto speechless.
"Yuto ada apa ini?" Al minta penjelasan, Yuto langsung berdiri dan membungkuk di depan Al.
"GOMEN! Aku tak sengaja menyikut wajahmu... makanya wajahmuuu..."
"MEMAR?" Sela Al emosi. Yuto mengangguk pelan dengan tampang memelas.
"Gomen, hontouni go.."
"Wakatta..." Al memotong permohonan maaf Yuto, suasana menjadi hening dan keheningan itu membuat Yuto gugup.
"A... Aku akan memanggil guru UKS, di sekolah ini banyak CCTV, pasti saat aku membawamu kemari, guru-guru sudah tahu, dan mereka juga tahu bahwa di ruang UKS ini hanya ada kau dan aku... Jadiii..." Yuto berhenti bicara saat mendapati sepasang mata indah berwarna hijau emerald tengah menatapnya dengan lembut. Bulu roma Yuto berdiri dan jantungnya mulai berontak lagi, ia langsung berdiri dengan gugup.
"A.. Aku akan memanggil guru" Yuto beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Kau yang menyikutku... apa guru yang harus merawatku?" Pertanyaan Al membuat Yuto berhenti lalu berbalik menatap mata Al dan tak mau melepaskan pandangannya.
"Lebih baik kau katakan saja kalimat yang sebenarnya ingin kau sampaikan padaku... tak cuma permintaan maafkan?" kata Al dengan suara lembut.
"Kalau boleh jujur..." Yuto diam sesaat.
"...Matamu... Matamu indah" Kalimat yang tanpa sadar terucap dari bibir Yuto merubah atmosfer yang tadinya canggung.
Yuto berjalan mendekat ke samping ranjang Al.
Lalu membungkuk mendekatkan wajahnya ke Al.
Tangannya mulai terangkat dan menyentuh pipi Al yang lembut.
Kini wajah mereka semakin dekat...
Notes : Minnaaaaa... maaf ya kalau Updatenya lama... baru abis selesai ujian nih... NAKAACHI mau ingetin kalau ini itu cerita fantasy, jadi jangan kaget kalau ditengah cerita ada hal-hal yang aneh. Bagi pembaca mohon di review ya... aku juga mengharapkan kritik dan sarannya. Tunggu cerita selanjutnya ya...Terima kasih^^
