Summary: Chapter 2 is published. Rasanya sakit ketika seorang perempuan menabrakmu hingga kau nyaris terjungkal, tetapi jauh lebih sakit lagi mendengar curahan hatinya ketika kau tidak bisa melakukan apa-apa tentang itu. Terutama jika ia adalah perempuan yang telah kaucintai seumur hidupmu. / Kisah seorang pemuda dengan tanggung jawab besar yang diembannya. A side story before Meeting the Family. 2795.

Main Character(s): Sawada Tsunayoshi, Sasagawa Kyouko.

Rate: T for drama and some other things.

Genre: Romance & Family

Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira. All rights reserved. The author does not gain any commercial profit from publishing this story.

Bagi yang bertanya-tanya kenapa saya meletakkan pengakuan di chapter pertama, alih-alih chapter terakhir sebagai klimaksnya, Anda akan menemukan jawabannya di sini. Sh—t happens sometimes.

Seperti biasa, A/N saya simpan di bagian paling bawah agar bisa diskip lebih mudah. Be warned!

Omong-omong, ada yang ingat bahwa mafia sebenarnya berasal dari Italia, bukan Jepang? X'D Saya juga lupa. Terima kasih karena telah mengingatkan, Amano-sensei.

Oh, and please, enjoy yourself.


"Aku suka... Tsu-kun."

Dan itu adalah kata-kata terakhir yang didengarnya dari Kyouko setelah sekian lama.


One year later

Vongola Headquarter, Sicily, Italy

Sawada Tsunayoshi kini terduduk di dalam ruang kerjanya di Vongola Headquarter, Italia, memandangi taman di balik jendelanya. Sudah setahun lebih sejak kepindahannya dan para Penjaga-nya ke Sisilia, meninggalkan Kyouko, Haru, dan semuanya di Namimori nun jauh di Jepang sana (Hibari mengancamnya bahwa jika mereka tidak segera kembali setelah satu tahun, ia akan menggigit sang ketua Vongola hingga mati, tetapi anehnya Tsuna tidak menemukan tempat dalam pikirannya untuk peduli). Perpisahan it memang menyakitkan, tetapi perlu; Kyouko dan Haru masih punya beberapa tahun untuk diselesaikan di bangku kuliah sementara Tsuna dan para Penjaga-nya punya urusan penting terlibat pertemuan tahunan aliansi Vongola di Italia. Pertempuran-pertempuran yang dilakukan Tsuna terhadap mafia-mafia di Namimori sudah mulai menarik terlalu banyak perhatian, dan kini sudah saatnya mereka menjelaskan.

Dan lagi, ada Kyouko. Dada Tsuna terasa sesak setiap kali wajah gadis tersebut terbayang di kepalanya. Ia belum menyatakan jawabannya atas pernyataan Kyouko, dan ia merasa Kyouko sudah menarik kesimpulan tentang jawaban tersebut dari sikap Tsuna sendiri yang lebih menarik diri sejak itu dinilai dari jumlah surat yang terhitung banyak dan usaha-usaha untuk berkomunikasi yang tidak ditanggapinya. Mereka berdua belum bercakap-cakap sepatah kata pun setelah pesta barbeque; Tsuna tengah tercabik di antara keinginan untuk menghubungi dan menjauh dari Kyouko dalam satu saat yang sama.

Belum lagi, urusannya di dunia mafia juga memenuhi pikirannya. Ia harus bicara di depan para petinggi keluarga aliansi dalam hitungan jam, dan ingatan tentang itu membuatnya merasa mengalami nervous breakdown; keringatnya bercucuran, jantungnya berdetak cepat, dan terkadang ia merasa tanah di bawah telapak kakinya bergetar menyiksa. Tetapi setiap kali itu terjadi, ia mengingat-ingat pelajaran-pelajaran Reborn—kalau ada di antara itu semua yang bisa disebut pelajaran alih-alih student abuse—untuk mengontrol dirinya dengan lebih baik. Tarik napas dalam-dalam, fokus. Jangan biarkan pikiranmu melayang ke mana-mana. Ya. Begitu, rasanya jadi jauh lebih enak. Dia kan sudah mempersiapkan diri selama setahun, seharusnya ini tidak lagi membuatnya gugup.

Tsuna membuka matanya yang terpejam dan dirinya tidak terkejut ketika ia melihat guru privatnya berdiri menggunakan pintu sebagai sandaran. Sudah lima tahun penuh lamanya Reborn menjalankan tugas sebagai seorang tutor terhadapnya, dan meski sejarah mencatat bahwa Reborn lebih banyak memperlakukannya sebagai mainan daripada sebagai seorang murid, itu semua tidak mengurangi rasa hormat dan percaya yang dimiliki Tsuna terhadapnya.

Fedora hitam kelam yang bertengger di atas kepala pria berwujud bocah berusia lima tahun tersebut menunduk ketika sang pemilik berbicara. "Kau akan bicara mewakili Vongola dalam 36 jam, dan dapat kulihat bahwa dirimu yang sekarang masihlah Dame-Tsuna yang biasa."

"Reborn." Tsuna mengalihkan pandangan, menatap tangannya sendiri yang mengepal di depan kedua kakinya. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

Sebelah alis Reborn naik. "Kau sudah sampai sejauh ini, mengambil penerbangan pertama untuk pindah ke Italia bersama dengan ketuju Penjaga-mu dan mempersiapkan diri selama satu tahun, untuk memberitahuku hal itu?"

"Aku masih tidak ingin menjadi mafia."

Keheningan menyusul kata-kata jujur Tsuna. Entah mengapa, lebih mudah untuk berterus terang kepada seseorang yang kauanggap paling memahamimu. Reborn mendengus.

"Kau setuju untuk mengambil peran sebagai Vongola Decimo sejak lama."

"Memang," kata Tsuna sabar, "dan aku setuju hanya karena aku ingin melindungi teman-temanku, hanya itu sa—"

"Kau memiliki posisi terkuat sebagai kandidat Vongola Decimo."

"Hanya karena kandidat-kandidat pengganti Nono yang lain tewas terlalu awal," Tsuna bersikeras, "juga—"

"Kau masih bisa bertahan hidup hingga sekarang sehingga nyaris tidak ada alasan untuk menyingkirkanmu dari daftar kandidat kalaupun masih bisa."

"Hanya karena teman-temanku kebetulan selalu ada di sana untuk menyelamatkan batang leherku," nada bicara Tsuna meninggi, "serta, untungnya, mencegahku mendapatkan kematian dini dalam prosesn—"

"Dan Primo," suara Reborn memotong lebih keras lagi, "telah menyerahkan segala yang ia miliki, mewariskan apa yang berharga baginya kepadamu—keluarganya, tekadnya, kepadamu. Dan kau tahu kau tidak bisa menyangkal hal itu."

Tsuna menatap tutornya putus asa. Reborn tidak membantu dengan menyodorkannya semua argumen ini. Tidakkah Reborn mengerti? Semua hal mafia ini—semua urusan kotor ini, dunia yang dipenuhi keburukan dan kejahatan di setiap jengkal sisinya ini, bukanlah tempatnya berada. Ia hanya menginginkan kehidupan normal, kehidupan yang wajar dimiliki pemuda seusianya dan—

"Kau bilang padaku, kau akan menyelesaikan semuanya dan mengembalikan kehidupan normal kita semua."

Gigi Tsuna bergemeletuk frustrasi. Demi Tuhan, ini bukan saatnya untuk mengingat Kyouko.

Reborn, menyadari bahwa ada sesuatu yang lain yang sedang memenuhi pikiran muridnya, mengamati Tsuna dengan saksama. Kemudian bibirnya membentuk seulas seringai.

"Kau ingat apa yang terjadi pada salah satu latihan terakhirmu dengan Hibari di masa depan?" tanya Reborn. "Di mana kau bertemu dengan pemimpin-pemimpin Vongola terdahulu?"

Tsuna melempar tatapan tajam kepada Reborn. Pertama benaknya mengulang memori tak diinginkan berulang kali hingga kepalanya sakit, kemudian Reborn sendiri mulai mengoceh tak jelas—apa sih yang salah dengan semua orang hari ini?

Reborn mengabaikan itu dan menarik gagang pintu terbuka, bersiap untuk keluar sebelum melempar pandang serba tahu kepada murid favoritnya.

"Kalau kau ingin pemecahan masalah," kata Reborn, "kusarankan untuk mengingat-ingat apa yang telah mendorong dirimu yang payah itu hingga menjadi seperti sekarang. Dan setelah kau menemukannya, aku tidak akan menolak secangkir espresso sebagai gratifikasi."

Pintu pun berdebum menutup. Tsuna mendengus.

Gratifikasi, katanya. Ha.


"Aku tidak pernah tahu sebelumnya," kata Yamamoto Takeshi, "bahwa Vongola punya ruang untuk berlatih tinju."

Hari sudah mulai sore di Sisilia kali itu. Yamamoto, yang terpisah dari rombongan Gokudera, Lambo, Chrome dan Ryouhei, malah berakhir menemukan Tsuna di ruangan paling tak terduga yang bisa ditemukannya.

Ruangan tersebut sangat, sangat luas, memiliki beberapa ring terpisah. Di daerah yang tidak ada ring-nya, ada beberapa benda yang bisa digunakan untuk berlatih sendirian—kantung-kantung tinju berbobot 50 kilogram, kantung tinju paling ringan yang tergantung ke langit-langit. Salah satu dari kantung-kantung tinju itu tengah dihajar tanpa belas kasihan, tidak lain, oleh sang Vongola Decimo sendiri.

Tsuna memberikan tanda bahwa keberadaan Yamamoto disadari olehnya, tetapi belum bicara satu patah kata pun. Yamamoto pun mendekati sang bos Vongola kesepuluh, dan Tsuna mundur menjauh dari kantung tinju sasarannya.

"Nono pernah memberitahu Onii-san tentang tempat ini, dan Onii-san memberitahuku," jelas Tsuna tanpa ditanya. "Ia bilang, ini adalah tempat yang bagus untuk melepaskan stres."

Yamamoto melirik kantung tinju target sasaran Tsuna. Kondisi tubuhmu ketika kau sedang berolahraga dan ketika kau sedang mengalami tekanan kurang lebih sama; itulah alasan yang membuat orang-orang yakin bahwa dengan berolahraga kau juga bisa menghadapi stresmu dengan lebih mudah. Tetapi saat ia melihat kantung tinju sasaran Tsuna sudah tidak berukuran silinder sempurna lagi—diakibatkan oleh beberapa pukulan ekstra keras yang sama-sekali-bukan-Tsuna yang telah merusak bentuknya, serta sesuatu yang dicurigai Yamamoto sebagai residu Dying Will Flame—Yamamoto dapat menarik kesimpulan lain dari kegiatan Tsuna.

That's one hell of a stress.

"Dan apakah itu membuatmu merasa lebih baik?" tanya Yamamoto, bersandar di jendela dan melipat kedua lengannya.

"... Tidak. Tidak, barang satu derajat pun."

"Oke," Yamamoto sudah menduganya. "Mungkin sekarang waktunya untuk bercerita kepada seseorang."

Tsuna mendengus. "Aku bicara kepada Reborn hari ini."

"Dan?"

"Sejujurnya," kata Tsuna datar, "aku tidak tahu."

Pria berambut cokelat itu masih terengah-engah, tetapi jika ia tidak sedang begitu Yamamoto yakin temannya akan menghela napas panjang. Yamamoto memutuskan untuk diam dan menunggu hingga Tsuna mau bersikap terbuka kepadanya—karena Tsuna yang sekarang telah menjadi begitu tertutup, begitu berahasia, sehingga menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak. Tsuna merebahkan diri di lantai setelahnya. Bertinju membutuhkan kekuatan fisik yang tidak sedikit, dan dari dulu Tsuna tidaklah cocok untuk kegiatan seperti itu.

Apapun yang sedang mengganggu pikirannya sekarang, pasti itu adalah sesuatu yang sangat besar.

Tetapi Tsuna tidak membutuhkan dorongan lain selain keheningan untuk mulai menghamburkan sebagian dari seluruh beban pikirannya di situ dan saat itu juga.

"Aku harus bicara di depan para petinggi dan pemimpin keluarga aliansi Vongola dalam beberapa jam lagi, memberitahu mereka bahwa" —tenggorokan Tsuna terasa kering membicarakan ini— "Vongola, yang kupimpin sekarang, bukanlah kelompok mafia kejam seperti yang mereka bayangkan dulu."

Ini bukan topik baru bagi Yamamoto. Sudah bertahun-tahun mereka mencoba menjelaskan kepada semua pihak yang terlibat bahwa mereka... berbeda. Pertempuran tak terhitung yang mereka lakukan dalam beberapa tahun belakangan ini adalah buktinya—tetapi orang-orang itu, para kelompok yang sudah terbiasa berdiri bersandingan dengan Vongola sebagai para penjahat, tidak mungkin dapat dengan mudahnya menerima hal itu. Pertemuan ini diatur untuk memberi kesempatan kepada Tsuna untuk menjelaskan.

Hanya Tsuna yang tahu seberapa berat beban yang ditanggungnya.

"Kau tahu bahwa kami semua akan selalu mendukungmu, Tsuna," jawab Yamamoto dengan suaranya yang menenangkan. "Tidak peduli apa yang akan terjadi."

Dan Tsuna juga tahu itu. Dari berpuluh-puluh pertempuran yang pernah dialaminya, tidak pernah ada saat di mana keluarganya meninggalkannya.

Tapi konsekuensi tindakannya kali ini bisa jadi terlalu besar.

"Aku bisa kehilangan dukungan dari separo total keluarga aliansi," kata Tsuna, masih terengah-engah.

"Vongola bisa kehilangan dukungan dari separo total keluarga aliansi," kata Yamamoto, masih nyengir lebar.

Tsuna mendelik, tidak suka melihat Yamamoto mengulang kata-katanya semacam ini semua adalah lelucon lain. "Di antara mereka, bisa jadi ada yang malah berbalik memerangiku."

Yamamoto mengangkat bahu, terang-terangan bingung kenapa Tsuna memperkeruh situasi dalam pikirannya sendiri. "Di antara mereka, bisa jadi ada yang malah berbalik memerangi kita."

Erangan putus asa.

"Apa sih yang salah dengan kalian?!"

"Pertanyaan yang tepat adalah apa yang salah denganmu," kata Yamamoto datar. "Tidak ada yang bilang kau harus mengemban semuanya sendiri, Tsuna. Kau punya terlalu banyak teman untuk itu."

Kali ini, Yamamoto tidak menunggu Tsuna untuk menjawab sebelum meneruskan.

"Lagi pula, karena untuk merekalah kau melakukan semua ini, bukankah hanya akan adil jika kau membiarkan mereka untuk membantumu juga?"

Kemudian beribu-ribu kenangan terlintas di kepala Tsuna. Gokudera yang selalu ada di sana untuknya. Tawa keras Lambo setiap kali Tsuna bermain dengannya. Pelukan erat I-Pin yang hangat dan nyaman. Senyum Kyouko yang selalu memberinya semangat. Kesetiaan tanpa goyah yang disediakan Chrome untuknya. Tangan Ryouhei yang kuat, melingkari bahunya ketika pria tersebut menunjukkan persahabatannya. Hibari yang tidak pernah banyak bicara tetapi juga tidak pernah mengkhianati kepercayaannya. Rasa sakit yang tak terkatakan dalam tatapan Kyouko ketika mereka berhenti bicara dengan satu sama lain. Tangisan Haru di hari perpisahan mereka semua. Dan keheningan yang menyiksa ketika ia dan Kyouko bertukar pandangan, tanpa kata-kata, pada hari perpisahan di Bandara Haneda.

Justru karena semua yang ia lakukan adalah untuk mereka semua, rasanya semua ini sangat sulit untuk dihadapi.


"Anda punya pengunjung, Juudaime."

Itulah isi pesan singkat yang dikirim Gokudera ke ponsel Tsuna.

Tsuna segera memisahkan diri dari Yamamoto untuk membersihkan diri. Tubuhnya basah oleh keringat setelah berjam-jam dihabiskan di tempat berlatih. Konferensi terbuka baru akan dimulai besok malam, tetapi bisa jadi sudah ada anggota aliansi yang ingin melabraknya di tempat. Tsuna mempersiapkan mentalnya—dan sebuah colt python di balik jas hitamnya—lalu berjalan memasuki kantor. Betapa terkejutnya ia ketika, alih-alih menemukan pria separo-baya yang murka bukan kepalang di ruangan luas berlapis beludru merah tersebut seperti yang diharapkannya, ia menemukan gadis yang selama ini memenuhi pikirannya.

Sasagawa Kyouko berdiri, tampak tidak jauh berbeda daripada dirinya satu tahun yang lalu, dengan sesuatu dalam pandangannya yang memberitahu Tsuna bahwa kali ini ia tidak bisa melarikan diri.

"Halo, Tsuna-kun."

"Kyouko-chan," Tsuna menyembunyikan keterkejutannya. "Ada apa? Apa... sesuatu terjadi di Namimori?" Karena itu adalah hal terakhir yang diinginkan Tsuna sekarang.

Kyouko menggeleng.

"Semua baik-baik saja," jawabnya. "Sekarang waktunya liburan akhir tahun di Jepang. Aku memutuskan untuk mengunjungimu—tapi aku tidak sendiri. I-Pin-chan dan Fuuta-kun juga di sini, sudah pergi terlebih dahulu untuk mengunjungi Lambo-kun sementara Haru-chan bilang ia ingin melihat... Chrome-chan." Kyouko berhenti, terdengar ragu. "Dan Bianchi-san berkata bahwa ia punya urusan di suatu tempat, tetapi ia tidak bilang apa."

"Begitu."

Percakapan ini terasa canggung setelah satu tahun penuh kebisuan di antara mereka. Tsuna merasa telah bersikap kejam karena tidak membalas telepon maupun pesan-pesan Kyouko, tidak menulis balasan untuk kartu pos yang selalu dikirim gadis itu setiap bulan, dan tidak meluangkan waktu untuk menjelaskan sedikit saja tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sulit baginya untuk menatap Kyouko tepat di mata. Dan bahkan ketika ia sudah menemukan keberanian untuk melakukan itu, untuk kesekian kalinya di hari itu ia terkejut.

Gadis itu tidak bersuara, tetapi air mata telah meleleh dan jatuh dari pelupuk matanya, membasahi pipinya yang merah.

Uh-oh.

"Kyouko-chan!"

Tidak peduli seberapa canggung situasi di antara mereka tadi, pertahanan Tsuna runtuh juga ketika ia melihat gadis tersebut menangis. Sepersekian detik kemudian, Tsuna melintasi jarak di antara mereka dan meremas lengan atas Kyouko untuk menenangkannya—tetapi tubuh Kyouko telah berguncang begitu hebat karena isakannya tak berhenti dan jatuh ke depan, menabrak dada bidang Tsuna, membuat Tsuna nyaris kehilangan keseimbangan sekaligus terdiam tak bersuara dengan Kyouko di pelukannya.

"... Tsuna-kun," isaknya, "k-kenapa? Kenapa kau b-b-berhenti b-bicara kepadaku? Apa aku melakukan sesuatu yang s-s-s-salah? Apa salah jika aku jujur kalau aku m-m-menyukaimu? Kau bisa b-bilang k-kepadaku, maka aku akan m-mengerti! K-kenapa kau m-m-m-menyingkirkanku dari hidupmu b-begitu saja?"

Rasanya sakit ketika seorang perempuan menabrakmu hingga kau nyaris terjungkal, tetapi jauh lebih sakit lagi mendengar curahan hatinya ketika kau tidak bisa melakukan apa-apa tentang itu. Terutama jika ia adalah perempuan yang telah kaucintai seumur hidupmu.

Perlahan, Tsuna mengelus rambut Kyouko yang panjang dan mencoba mengeluarkan suara, tetapi Kyouko tidak menghiraukannya.

"K-kalau aku tidak boleh menyukaimu, b-b-bilang saja! Tapi jangan menghilangkanku d-dari kehidupanmu seperti itu! Apa k-kau tahu seberapa cemasnya aku k-k-ketika kau tidak mem-membalas surat-suratku? Kau bisa saja sudah t-t-tewas dan aku hanya akan d-diam di sana, tanpa t-tahu apa-apa!" Yang Kyouko tidak tahu, adalah sama sakit rasanya bagi Tsuna—malah barangkali lebih besar rasa sakitnya—untuk memisahkan hidup mereka berdua. "Apa aku telah jadi p-pengganggu? Apa aku seorang penghalang bagi k-k-karirmu? Atau aku—aku" —Kyouko sesenggukan begitu hebat di bagian ini sehingga gagal melanjutkan kata-katanya untuk sementara waktu— "aku tidak c-c-cukup baik bagimu?"

"Hei, hei—itu," Tsuna memotong sebelum Kyouko sempat menghamburkan kata-kata lain, mengeratkan cengkeramannya terhadap bahu Kyouko, "adalah omong kosong. Kyouko-chan adalah gadis paling mengagumkan yang pernah ada dalam hidupku, dan kau tahu itu."

Kali ini, semua perhatian Kyouko berhasil dipusatkan kepada dirinya. Tsuna menghela napas; beban pikirannya sangat tidak membantu pada saat-saat seperti ini, tetapi kelancaran bicaranya juga dipengaruhi oleh beban pikirannya itu sendiri.

"Sasagawa Kyouko," ulang Tsuna, "kau adalah gadis yang paling mengagumkan yang pernah ada dalam hidupku, kau dengar itu? Tetapi terkadang... terkadang, ada beberapa hal di dunia ini yang terlalu baik, terlalu sempurna, untuk dapat kaumiliki."

Kyouko menatapnya tidak percaya, air matanya masih menggenang. Butuh beberapa cegukan untuk membuatnya mampu mengatakan, "... Apa maksudmu?"

Tsuna tidak segera menjawab. Dengan gestur lembut, ia memberi isyarat kepada Kyouko untuk duduk di sofanya. Kyouko bahkan terlalu bingung untuk bisa memprotes. Tsuna menuangkan teh yang tersedia di troli di pojok ruangan dari teko yang telah disediakan sebelumnya, satu cangkir untuk dirinya dan satu cangkir untuk Kyouko, dengan harapan bahwa minuman berbau khas tersebut dapat menenangkan gadis itu.

Kyouko menerima cangkir tersebut dengan hati-hati, menunggu Tsuna untuk duduk sebelum mengulang pertanyaannya. "Apa... apa maksudmu, Tsuna-kun...?"

Tsuna menghirup tehnya yang sudah hangat, meletakkan cangkirnya di meja dan baru setelah itulah ia menjawab.

"Sebentar lagi aku akan bicara di... semacam, rapat umum para mafia. Semua orang akan hadir di rapat tersebut," kata Tsuna hati-hati, mencoba menggunakan bahasa sederhana agar Kyouko dapat dengan lebih mudah memahami maksudnya. Semua rasa gugup dan tegangnya hilang ketika teh hangat tersebut sudah dihirupnya, bahkan cara bicaranya pun menjadi lebih rileks kendati dirinya beberapa jam sebelumnya—dan dirinya bertahun-tahun sebelumnya—tidak akan pernah bisa bicara dengan Kyouko seperti ini. "Aku akan memberitahu mereka bahwa Vongola akan memutuskan hubungan dengan segala jenis bentuk kejahatan dan mulai bekerja untuk melindungi semua orang di sekitar kami."

Kyouko tidak melihat masalah di dalam cerita Tsuna, tetapi juga bisa melihat bahwa Tsuna punya sesuatu yang lebih untuk dibicarakan. Karena itulah ia bersabar untuk menunggu.

"Dan ketika aku melakukannya," lanjut Tsuna dengan berat hati, "ada beberapa konsekuensi yang bisa jadi harus kuterima. Pertama, aku—maksudku, Vongola" —pembicaraannya dengan Yamamoto mendadak kembali teringat— "bisa kehilangan dukungan dari beberapa pihak yang akan kehilangan minat terhadap diri kami, tetapi itu bukan hal yang begitu penting karena Dino-san pasti akan selalu mendukung kami dan membantu kami bangkit kembali, seperti yang telah dikatakannya." Kenangan akan senior yang menjaga dirinya seperti menjaga adiknya sendiri menghangatkan hati Tsuna. "Yang merupakan masalah adalah ketika, kedua, perang bisa dinyatakan terhadap kami yang membelot dari prinsip mafia modern. Dan perang ini... kemungkinan besar bisa jauh, jauh lebih besar daripada yang biasa kami hadapi di Namimori. Kalau kau ingin tahu seberapa mengerikan hal ini sebenarnya, ingat-ingat saja tiga tahun ke belakang."

Dan itu membuat Kyouko mengingat saat-saat menyeramkan dalam hidupnya, saat-saat penuh keputusasaan ketika dirinya hanya bisa menunggu sementara semua orang yang dikasihinya pergi ke medan pertempuran satu per satu hanya untuk pulang kembali dengan membawa luka. Tsuna menangkap tatapannya dan tersenyum berat.

"Ini memang sulit untuk diterima," kata Tsuna, "tetapi perlu. Perang yang kami prediksikan ini tidak hanya akan melibatkan kami para... mafia, tetapi orang luar yang memiliki hubungan dengan kami juga bisa terkena imbasnya. Aku sedang mencoba untuk melindungi kalian semua."

"Bagaimana kalau aku tidak peduli?" sergah Kyouko cepat, meletakkan cangkirnya di meja dan meraih tangan Tsuna. "Kakakku ada di sini, mau tidak mau aku sudah terlibat juga. Bagaimana kalau, meskipun itu semua terjadi, aku tetap memilih untuk berada di sampingmu?"

"Kasus Onii-san agak lebih rumit. Ia memiliki visi yang kurang-lebih sama denganku... dan Kusakabe-san sudah bicara, atas nama Foundation (dan Hibari-san secara tidak langsung) bahwa semua orang yang terlibat—terutama para warga Namimori—akan mendapat perlindungan." Tsuna berhenti sejenak. "Dan posisi Onii-san memang tinggi dalam Vongola, tetapi tidak cukup menarik perhatian untuk dapat membuat orang-orang menargetkan dirimu selama peranmu hanyalah sebagai adik perempuannya. Kita akan bicara tentang situasi yang jauh, jauh lebih berbeda jika kau adalah kekasihnya, atau kekasih dari... orang yang posisinya lebih tinggi daripadanya."

Tetapi meski Tsuna sudah menjelaskan semuanya seperti itu, Kyouko tidak bergeming. Tatapannya masih sama penuh dengan tekadnya seperti dari awal. Tsuna menghela napas, mencoba merubah pikiran Kyouko agar ia mau berkompromi.

"Kyouko-chan, apa kau tahu kenapa Gokudera-kun dan Haru masih belum bersatu hingga sekarang?"

Kyouko mengerjapkan mata. Itu adalah pertanyaan yang sangat random, dan ia tidak memiliki bayangan kenapa Tsuna mengungkit-ungkit hal itu. "... Tidak." Jujur, ia sudah lama mengira bahwa ada sesuatu di antara Gokudera dan Haru sejak mereka semua bersekolah di SMA yang sama (Bianchi bahkan berbuat lebih jauh dengan mengatakan bahwa itu adalah ketegangan seksual yang tak menemukan solusi), tetapi karena ternyata mereka tetap tidak berpacaran dan Haru selalu menolak untuk bicara lebih banyak tentang hal itu, maka Kyouko pun tidak merubah pendapatnya bahwa mereka berdua masih tidak lebih dari sekadar teman bagi satu sama lain.

Senyum Tsuna terlihat pahit sekarang. "Gokudera-kun sengaja menghindari segala macam bentuk hubungan pribadi dengan orang lain—termasuk, terutama, dengan Haru, karena ia tidak sanggup untuk menempatkan Haru dalam lebih banyak bahaya daripada yang sudah-sudah."

Mulut Kyouko terbuka.

"T-tapi, itu... bodoh," kata Kyouko tergagap ketika ia sudah menemukan kembali suaranya. Tsuna menggeleng.

"Sikap Gokudera-kun itu bukan tanpa alasan," jawab Tsuna. "Di masa awal pergerakan kami, ada sebuah keluarga ditemukan tewas terbantai. Satu keluarga lengkap, dengan ayah, ibu, dua orang anak yang manis, dan kakek-nenek mereka. Setelah penyelidikan dilakukan, ternyata itu semua terjadi karena sang ayah punya satu kaitan di masa lalunya dengan famiglia mafia dan sang mafia don merasa terancam dengan keberadaan sang ayah. Itu terjadi hanya karena satu kaitan yang terhubung dengan famiglia yang salah. Satu. Dan apa kau tahu seberapa banyak mafia kotor yang terhubung dengan Vongola?"

Kyouko terdiam. Tsuna memaksakan senyum lain. Sulit baginya untuk terus menyiksa, baik dirinya sendiri maupun Kyouko—terlebih lagi, justru, Kyouko, dengan kata-katanya.

"Kyouko," Sawada Tsunayoshi mengakhiri dengan berat hati, "terkadang, melepaskan orang yang kaucintai adalah salah satu wujud dari rasa cinta itu sendiri juga."


A/N:

I haven't met my muse for like, a really really long time and I felt like crying today, so... here's some drama for that.

Pertama-tama, tidak, kisah mereka tidak berakhir di sini. Kyouko tidak lantas kembali ke Namimori bahkan setelah Tsuna mendesaknya. Masih ada chapter ketiga yang harus saya tulis, dan saya harap dapat memuaskan... err, rasa ingin tahu dalam bentuk apapun yang datang kepada Anda setelah Anda membaca update ini.

Dan terima kasih saya berikan, khusus kepada Cocoa 2795, Glassed Loner (I hope you're happy, Senpai, because I paused the fluff for a moment so your heart won't fail because of the fluff X"D /ducks from anything that is coming to my head/), Hikaru Kisekine (saya terharu Anda selalu meluangkan waktu untuk merespon karya-karya saya! *-* Thank you for the continuous support!), dan Hikage Natsuhimiko (bisa jadi Chrome sebenarnya berencana untuk menggunakan ilusinya, tapi Kusakabe tidak tahu itu, kan? c:) atas tanggapannya yang luar biasa! Seperti yang Anda tahu, menyenangkan bagi author manapun untuk mengetahui apa yang pembaca pikirkan ketika mereka membaca jerih payah hasil imajinasi sang author X'D Dan saya harap saya berhasil dalam percobaan saya untuk... menggambarkan bagaimana perkembangan karakter Tsuna, Kyouko dan yang lainnya, tentu saja, setelah bertahun-tahun terlewati dari ending canon mereka. Maksud saya, for God's sake Amano-sensei—Kyouko itu salah satu karakter utama perempuan, kan? Give her some freaking character!

... Ya sudah. Omong-omong, soal omake saya... saya tidak menyangka bahwa itu akan berkesan sebegitu dalamnya. : Masalah tentang apa yang ada di antara 18 dan 96 sehingga Kusakabe setakut itu, well... what stays with Kusakabe, still stays with him. Saya rasa, saya akan butuh satu side story lagi untuk menjelaskan... jika ada yang menginginkan saya untuk melakukan hal itu.

(Lucu rasanya ketika saya menjawab pertanyaan tentang 2795 dan berakhir menyisakan pertanyaan-pertanyaan lain tentang 1896 dan 5986 sehingga sekarang Anda punya lebih banyak pertanyaan dibandingkan jawaban. Because I'm a sadist just like that.)

Dan sebelum Anda bertanya apa hubungan antara cerita ini dengan Meeting the Family, saya juga akan menjawabnya di chapter berikutnya. Please stay tuned.

Anyway. I hope you are satisfied with the update. Thank you for reading, and remember—comments bright any author's day!