Tittle: Kataomoi
Disclaimer: Naruto dan High school DxD bukan punya saya
Genre: Superanatural, Romance, Comedy.
Pairing: Uzumaki Naruto x Rias Gremory(oke, mungkin bakal ada harem tapi mini harem aja.)
Rated: M
Summary: Uzumaki Naruto, seorang pemuda SMA yang kelewat baik hati harus bersedia menerima kenyataan dirinya mati karena hal itu. Namun, apakah itu akhir semuanya?
Warning: Typo,Adult theme, Sexual theme, Violence, etc.
A/N : Oke, kuharap chapter ini memperjelas cerita hehehe. Maaf jumlah wordnya kurang karena masih kuanggap sebagai sambungan dari chapter 1. Untuk yang request fic dengan tema balas dendan karena dikhianati akan kupikirkan idenya tapi mungkin publishnya bukan sekarang. Mungkin sekitar pertengahan September nanti. Kelamaan kah? Ya, saya juga mohon maaf karena itu. Karena fic yang lainnya juga harus diselesaikan ? kalau deal nanti aku buat hehehe.
Keterangan: '…..' (ini suara batin atau suara misterius jikalau dicerita ini muncul lagi)
"…." (Bicara biasa)
Chapter 2 : Pedang
Disebuah ruangan terlihat seorang gadis berambut merah yang sepertinya sedang berada dalam situasi buruk. Mengapa demikian? Bisa dikatakan seperti itu karena dirinya terikat di sebuah kursi dengan mulutnya ditutup paksa menggunakan sebuah lakban hitam.
"Hmmpppfff!" Gadis itu berusaha memberontak akan tetapi ikatan tersebut terlalu kuat untuk sedikit cairan bening menetes dari tepi mata indah pemilik surai merah itu. Dirinya tak menyangka harinya bisa sesial ini. Mulai dari hampir tertabrak truk hingga disekap seperti sekarang.
Ditabrak? Ah, dirinya teringat pada penolongnya itu. Dirinya bahkan belum mengucapkan terima kasih pada orang itu meskipun dia tidak mengetahui nasib pemuda tersebut. Dirinya hanya mengingat ketika seorang pria yang dia cintai segera menghampirinya dan memberikan pelukan untuk menenangkan dirinya. Setelah itu ia tak ingat apapun sampai tersadar diruangan kecil ini.
Kriet!
Perlahan pintu besi ruangan tersebut terbuka. Mata gadis itu menampakkan ekspresi penasaran dan senang. Dirinya berharap ada yang menyelamatkannya dari tempat itu.
Didepan pintu tersebut berdiri seorang pria berambut perak panjang dengan memakai sebuah tuxedo putih. Wajah pria itu terlihat rupawan adanya. Rambut peraknya diikat kuncir satu kebelakang. Namun, sorot matanya bukanlah sorot mata manusia.
"Rias…" Pria itu memanggil nama gadis dihadapannya dengan tatapan layaknya psikopat. Ditangan kanannya telah ada sebuah pisau kecil untuk melakukan pembedahan. Terlihat langkah pria perak itu mulai aneh. Dia seperti ilmuwan gila.
"Euclid-kun…" Ketakutan tergambar jelas diwajah Rias. Dia tak pernah melihat ekspresi semacam ini muncul dari wajah pria tersebut. Dirinya hanya mengenal sisi lain pria itu.
"Rias sayang, waktunya kau menjadi satu denganku." Euclid kemudian memotong urat nadi dipergelangan tangan kirinya. Darah mengalir secara perlahan kelantai tempat mereka berpijak melewati semacam pola yang tergambar dilantai. Perlahan sebuah pola Hexagram disertai aksara aneh bersinar dari bawah lantai.
Sringgg!
Rias hanya terdiam ketakutan melihat hal tersebut. Baginya ini sudah berada diluar pemahaman akal sehatnya. Dia selalu berpegang pada ilmu pasti untuk menjelaskan semua fenomena yang ada. Namun, kali ini sebuah peristiwa diluar nalarnya terjadi.
"Ukh!" kedua mata gadis itu membulat ketika melihat dibelakang Euclid telah berdiri beberapa makhluk bertubuh aneh dengan mata merah menyala. Makhluk tersebut sebagian memiliki tubuh layaknya manusia namun mereka memiliki perbedaan mencolok dibanding manusia yakni sayap kelelawar.
Euclid berjalan secara terhuyung-huyung mendekati Rias. Pria setengah gila ini lalu membuka perban yang membekap mulut gadis itu. Perlahan diarahkan wajah indah itu menghadap wajahnya. "Rias….. kau akan menjadi persembahan terbaikku." Pria berambut perak ini menatap dalam kedua mata biru gadis tersebut.
"A-apa maksud semua ini?" Rias masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia menolak percaya kalau orang dihadapannya sekarang adalah Euclid Lucifuge, pemuda yang dicintainya selama ini.
"khu, khu , khu. Rias, Rias. Kau tidak sadar bahwa selama ini aku selalu mencari saat-saat dimana diriku bisa membunuhmu?" Pria itu menggengam wajah gadis itu dengan kasar. Ditariknya secara perlahan wajah gadis itu agar mendekat padanya.
"A-apa? kau pasti bohong! Euclid yang kukenal bukanlah orang seperti ini!" Rias menolak percaya kepada kenyataan dihadapannya itu. Dia hanya mengingat sosok pria ini sebagai si baik hati dan selalu menemaninya.
"Hah! Kau terlalu naïf! Kau pikir ada orang bodoh yang mau mengasuh anak yatim piatu sepertimu selama ini tanpa alasan jelas hah?" Euclid menatap Rias dengan wajah tatapan psikopatik berat. Pisau ditangan kanannya dimainkannya keleher gadis itu seolah siap menyayat halus kulit mulus tersebut.
"!" Rias kembali teringat kenangan buruk dikepalanya 4 tahun lalu, sebuah hari yang ingin dia lupakan didalam ingatannya.
XXXXXXXXXXXXXX
4 tahun lalu
Disebuah hutan, terlihat seorang anak perempuan berusia belasan tahun sedang berlari kencang membelah sunyinya hutan. Air mata terus mengalir dari kedua matanya. Anak muda itu baru saja mengalami hari paling mengerikan didalam hidupnya. Dia kehilangan keluarganya.
"Kaa-san… Tou-san….Nii-san…." Lirihan gadis itu menyertai langkah kakinya. Dia tak tahu harus kemana. Dirinya hanya bisa berlari sejauh mungkin dari bahaya dibelakangnya. Rambut merahnya acak-acakan karena hal tersebut.
"Grrr!" semacam bunyi geraman hewan terdengar dari belakang gadis itu. Hal inilah yang membuat gadis berambut merah tersebut berlari layaknya orang kesetanan. Terlihat dibelakangnya ada lima ekor hewan berbentuk layaknya anjing namun mempunyai kepala tiga sedang mengejarnya seperti mengejar mangsa.
Brukh!
Entah sial atau apa, gadis tersebut tersandung sebuah batu. Otomatis dirinya mendarat ditanah dengan keras. Perlahan kulitnya robek akibat kasarnya permukaan tanah. Darah mulai mengalir dari kulit yang robek itu. Gadis tersebut hanya bisa meringis menahan sakit. Tangisnya sudah habis untuk segala hal memilukan tadi.
'Hiks.." Dirinya kini hanya bisa terbaring ditanah sembari melihat kawanan anjing aneh itu semakin mendekatinya. Dirinya kini hanya bisa memejamkan matanya mengetahui nyawanya pasti lunas kali ini.
Zrash!
Sebuah bunyi tebasan menyadarkan dirinya dari rasa putus asanya. Perlahan dia membuka matanya dan melihat seorang pemuda berambut perak bersinar akibat cahaya bulan sedang berdiri melindunginya dari para anjing tersebut sembari memainkan pedangnya.
"Bertahanlah, ini tidak akan lama!" pemuda itu sekarang melesat kearah para anjing tersebut. dia mengeluarkan sebuah botol air dan menuangkan semacam air kebesi pedangnya. Kemudian, dengan piawai dirinya menebas satu persatu makhluk itu menggunakan senjatanya.
Sementara itu, anak perempuan tersebut memandanginya dengan wajah tak percaya. Dirinya sekarang merasa melihat seorang pahlawan. Pemuda tersebut terus menyerang semua lawannya meskipun mendapat gigitan dari para anjing itu. Perempuan inipun hanya terdiam melihat pertarungan itu.
Akhirnya, setelah sejam bertarung. Pemuda itu menghampiri gadis tersebut. Dengan tubuh berlumuran darah dirinya berjalan sempoyongan kearah gadis itu.
"Hey, sekarang sudah aman. Maafkan aku yang datang terlambat. Semua ini kesalahanku." Pemuda itu memasang ekspresi memilukan. Terlihat penyesalan amat jelas dari wajahnya. "Namaku adalah Euclid. Aku adalah exorcist yang hendak membasmi iblis disini. Namun, tak kusangka mereka menyerang keluargamu saat sedang berada sungguh menyesal. Akibat keterlambatanku semua menjadi seperti ini. Kau bisa menghukumku akibat ini." Pemuda itu kemudian berlutut dihadapan gadis muda itu.
Gyut!
Gadis muda itu memeluk Euclid dengan erat. Tangannya bergetar hebat, nampaknya sang gadis sedang merasakan dilema didalam hatinya. "T-tolong, aku tidak tahu harus bagaimana lagi setelah ini. Mereka telah mengambil semua milikku. Ini bukan salahmu…..ini adalah sebuah takdir kejam…." Gadis itu ternyata lebih dewasa dibanding penampilannya.
Gyut!
Euclid membalas pelukan itu. "Tenanglah, ada aku disini. Aku akan bertanggung jawab atas semua ini." Tak terasa tangis gadis itu meledak karena hal ini.
XXXXXXXXXXXXX
Plak!
Sebuah tamparan menyadarkan lamunan Rias. Matanya nampak bergetar hebat melihat orang yang menamparnya tak lain adalah Euclid, pria yang dia cinta. Air mata itu semakin deras mengalir dari wajahnya. Dirinya tak menyangka mendapat hari sesial ini.
"Dengarkan aku kalau aku bicara!" Euclid memegangi pipi Rias dengan tangan kirinya. Dia menekan pipi tersebut secara kuat sampai gadis ini meringis kesakitan.
"Hah, tahukah kau sebuah fakta penting? Sebuah fakta lucu yang akan kuceritakan padamu karena bagaimanapun kau akan mati setelah ini." Euclid kemudian menjilat lembut pipi gadis itu. Dia bertingkah seolah-olah dirinya sang penguasa sekarang.
"…apa…..?"Rias kini hanya mencoba menjawab secara otomatis. Mentalnya sudah tergoncang karena hal ini. Dia merasa bahwa sebaiknya ada yang membangunkannya dan mengatakan bahwa semua ini hanya mimpi buruk.
"Khu, khu, khu. Akan kuberitahukan sebuah fakta menarik padamu." Euclid tertawa layaknya orang gila. Dia kemudian mengambil sebuah botol vodka diruangan itu. Kemudian dia sejenak menenggak miras itu. "Ahh~" Rasa alkohol tersebut semakin merusak susunan syarafnya yang memang sudah rusak.
"Rias Gremory, tahukah kalau yang membunuh anggota keluargamu tak lain dan tak bukan adalah aku! Ya, aku membunuh mereka semua! Hahaha! Tak kusangka memakai anjing kampung seperti itu sudah lebih dari cukup untuk membunuh mereka!" Euclid tertawa lagi. Kali ini dia melempar botol vodka miliknya kelantai sampai pecah.
Prangg!
Begitulah bunyi dari botol itu. Tak jauh berbeda dengan hati Rias dirinya hanya memasang tatapan sebuah rasa sakit menyeruak didalam dirinya. Rasa tersebut bercampur dengan ketidakpercayaan.
"Bohong….KAU PASTI BOHONG! EUCLID YANG KUKENAL BUKANLAH SEPERTI DIRIMU!" Rias berusaha menyangkal semuanya. Air matanya mengalir deras. Perlahan tapi pasti, sebuah aura hitam keluar dari tubuhnya.
"Hahaha! Inilah yang aku tunggu. Aku selama 4 tahun ini berakting layaknya seorang ksatria dihadapanmu cuma untuk hari ini! Kupikir akan lebih mudah melakukan ekstraksi jika kau sekarat, tapi ternyata ada gangguan tadi siang. Maka dari itu, sekarang akan kumulai ritualnya." Euclid mulai merapal mantra-mantra aneh. Perlahan hitam tersebut menyembur keluar dari tubuh Rias.
"Arrggghhh!" Rias merintih kesakitan sekarang. Segala macam sakit kini sudah komplit melengkapinya. Dari sakit hati sampai sakit fisik.
'Tolong….tolong…siapapun…..' Rias hanya bisa meratap sekarang. Dirinya sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Namun, niat hidupnya masih ada. Dia masih ingat dengan pengorbanan keluarganya untuk menyelamatkannya.
'Kau ingin kutolong?' sebuah suara terdengar entah dari mana. Rias yang mendengarnya menjadi terkejut.
'Ya, kumohon. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku hanya ingin semua ini berakhir.' Rias hanya bisa menjawab dari dalam hatinya karena rasa sakit teramat sangat membuat mulutnya membisu.
'Baiklah, sekarang aku kupinjamkan kekuatanku. Mulai sekarang hidupku adalah hidupku, begitupun denganku.' Suara tersebut mengeluarkan semacam perjanjian lisan kepada Rias.
Rias yang mendengarnya hanya bisa menutup matanya perlahan sebagai tanda setuju. Yang penting dia harus tetap hidup.
Sringgg!
Sebuah cahaya kuning membuat ruangan tersebut bersinar terang. Euclid terkejut bukan main ketika melihat hal itu. Dirinya menutup matanya untuk menghindari silaunya cahaya itu. Para makhluk aneh ditempat itu juga menutup mata mereka karena silau.
Jrash!
Sebuah Katana berwarna hitam dengan garis merah pada bagian tengah terlihat menebas bahu Euclid. Katana itu memancarkan aura cahaya yang kuat namun tampak tenang. Gagangnya dipegang oleh seorang gadis berambut merah panjang. Mata biru gadis itu kini menjadi kekuningan entah karena apa.
"Argghhhh! " Euclid merintih kesakitan ketika bahunya tertebas katana tersebut. perlahan bahunya mulai berubah menjadi butiran debu. Pria itu dengan panik memotong bahu kanannya itu menggunakan pisau bedahnya yang memanjang.
Jrash!
Gadis bernama Rias itu tidak memberi kesempatan kepada Euclid untuk bertindak. Dengan cepat dia melakukan tebasan melintang keperut itu, tangan kirinya yang kosong menembakkan sebuah laser kearah para makhluk aneh tadi.
"Ohok!" Euclid memuntahkan darah segar dari mulutnya. Perlahan darah mulai mengucur deras dari perutnya. "K-kurang ajar!" Pria itu mengeluarkan sebuah pedang besar berwarna putih. Dia mencoba menebas kepala Rias.
Trank!
Rias bergerak seolah seorang pendekar pedang sejati. Dia dengan mudah mengindari tebasan liar tersebut dengan menggunakan Katana miliknya sebagai penangkis. Dia kemudian menyeret pedangnya yang masih menempel pada pedang Euclid secara cepat sehingga menimbulkan bunga api.
Jrash!
Sebuah tebasan kembali bersarang didada Euclid. "Arrggghhhh!" tebasan tersebut memiliki semacam efek korosif bagi tubuh Euclid. Pria itu kemudian menjatuhkan pedangnya. Dia secara tergopoh-gopoh merangkak kearah Rias karena rasa sakit dari tebasan itu.
"Rias…kau tidak serius ingin membunuhku kan? Kau bercanda ka-" omongan pria itu terhenti ketika Katana itu menembus kepala Euclid. Perlahan tubuh pria perak tersebut terbakar sebuah api emas.
"Arrggg! Panas! Awas kau Rias! Kau pasti akan kubunuh suatu hari nanti!" Andai saja itu benar. Namun, sekarang Euclid tinggal onggokan debu. Sementara itu, Rias mengalihkan perhatiannya kearah para makhluk aneh tersebut. Tanpa banyak bicara, dia melesat kencang sembari menngayunkan senjatanya.
"Arrrggghhhh!" begitulah kejadian mencekam diruangan tersebut terjadi. Rias membantai semuanya tanpa ampun. Namun, sebenarnya bukanlah dia dalang semua itu.
Setelah pembantaian itu, perlahan dari tubuh Rias keluar seorang pemuda berambut pirang. Mata biru langitnya nampak masih menampakkan sinar kehidupan. Sementara itu, tubuh gadis dihadapannya mulai terjatuh ketanah.
Hup!
Dengan sigap dirinya menangkap tubuh gadis itu. Dia kelihatannya bingung harus membawa gadis itu dia memutuskan untuk membawanya kesebuah gudang yang berada didekat tempat gudang sepi tak berpenghuni.
XXXXXXXXXXXXXXXX
Setibanya digudang itu. Dia membaringkan Rias disebuah kardus bekas yang ia lipat sedemikian rupa menjadi semacam kasur tipis.
Mata pemuda itu memandang sedih gadis dihadapannya. Dirinya tak menyangka nasib Rias begitu malang. Dirinya mendengar semuanya. Tak terasa tangan pemuda pirang itu mengepal kuat sendiri ketika mengingat wajah Euclid.
"Ya, setidaknya aku bisa hidup lagi berkat Azazel." Pemuda itu menghela nafas lega karena perjanjiannya kepada gubernur malaikat jatuh itu.
[Flashback]
"Kau hanya perlu mendengarkanku." Pria itu menyeringai sembari mengepakkan kedua belas sayap hitamnya. Dialah Azazel, gubernur malaikat jatuh.
"Baiklah, aku akan mendengarkannya." Pemuda itu memasang wajah serius sekarang. Jujur, dirinya masih punya banyak hal yang harus dia selesaikan dan kematian ini membuat semuanya kacau.
Azazel tersenyum tipis mendengarnya. Kemudian, dia mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna hitam dari sebuah laci. Perlahan dibukanya kotak itu.
Klak!
Kotak itu terbuka dan menampakkan sebuah gulungan. Azazel lalu membuka gulungan tersebut sembari melukai jarinya. Dia mengoleskan darah bekas luka itu didalam lembaran itu.
Sringg!
Sebuah cahaya bersinar dan mengubah gulungan itu menjadi sebuah pedang hitam dengan kesan anggun terpancar darinya. Dibagian gagangnya terdapat sebuah garis kosong yang tampaknya belum terisi apapun.
"Naruto, apakah kau percaya bahwa Tuhan menciptakan sebuah alat yang mampu untuk membunuhnya?" Azazel mengajukan sebuah pertanyaan diluar nalar manusia lagi.
"Kurasa aku tidak percaya. Kenapa Tuhan menciptakan sebuah kelemahan untuk kesempurnaan-Nya?" Tampaknya pemuda bernama Naruto itu tak percaya akan perkataan Azazel. Lagipula, untuk apa membunuh Tuhan?
"Hahaha, kau memang manusia normal. Namun, itulah daya tarik darimu. Baiklah, percaya atau tidak memang ada alat seperti itu. Mereka disebut [Longinus]. Longinus dibuat oleh Tuhan dengan memasukkan kekuatan super dahsyat pada setiap 13 Longinus didunia ini." Azazel memberikan penjelasan secara singkat dan mudah dimengerti.
"Hmm, aku mengerti. Jadi, apa hubungannya denganku?" Naruto berbalik menanyakan hal itu kepada Azazel. Rasanya tidak ada hubungannya antara dirinya dan sesuatu bernama Longinus itu.
"Hahaha, tentu saja ada. Longinus merupakan varian dari Sacred gear. Sacred Gear sendiri semacam alat yang merupakan berkah dari Tuhan kepada umat manusia. Nah, sekarang kau akan menjadi bagian dari itu." Azazel membuat sebuah kalimat yang membuat Naruto menaikkan alisnya karena bingung.
"Maksudmu?" pemuda pirang ini tak paham perkataan Azazel kali ini.
"Kau akan menjadi sebuah Sacred Gear." Azazel memasang senyum senangnya.
"Maksudmu?" Naruto menjadi semakin bingung. Beragam tanya muncul dikepalanya akibat perkataan Azazel.
Azazel hanya tertawa melihat reaksi Naruto. Dirinya lalu memilih menyesap wine yang masih tersisa digelasnya. "Baiklah, kau harus tahu. Ada beberapa Longinus dengan jiwa makhluk mistis didalamnya. Tuhan mampu menyegel dua ekor naga surgawi, seekor singa suci. Kemudian sebuah pertanyaan muncul dikepalaku. Bisakah aku melakukan hal yang sama? Jawabannya ternyata bisa. Aku berhasil menyegel seekor naga didalam Sacred Gear buatanku. Kemudian aku mencoba berkreasi lagi dengan patokan itu." Azazel kemudian memamerkan pedang dihadapannya itu.
"Pedang ini kuberikan nama Shusui, Sword of Light. Ini merupakan Sacred gear buatanku yang paling kubanggakan. Dia memiliki kemampuan campuran dari seluruh pecahan Excalibur yang kuberikan semacam proses replikasi . Aku meluangkan waktu lumayan lama untuk kreasiku ini. Dia juga telah kuberikan kemampuan sinkronisasi dengan tubuh nyatamu. Jadi, kau akan menjadi sebuah pedang hidup!" Azazel tersenyum bangga pada karyanya ini.
"Aku juga bisa memodifikasinya lain kali bila aku menginginkan adanya perubahan. Jadi, apakah kau menerima tawaranku? Jadilah sebuah Sacred Gear, Naruto! Demi keluargamu dan orang yang kau cintai!" Azazel mencoba mendorong Naruto agar menjadi apa yang dia inginkan.
Naruto sekarang hanya bisa terdiam. Perlahan dia mengingat semuanya sejak kematiannya. Dia melihat tangisan keluarganya serta para sahabatnya. Tak lupa juga Rias, gadis yang ia cintai meski cintanya hanya satu arah.
Grep!
Naruto menggengam pedang tersebut dengan cahaya kuning bersinar terang dari pedang itu. Secara perlahan pedang tersebut tersedot kedalam tubuh pemuda pirang tersebut.
"!" pemuda pirang tersebut merasakan perubahan drastis pada tubuhnya. Perlahan dirinya merasa mendapat semacam juga muncul semacam tato berpola dua pasang sayap hitam. Naruto lalu menoleh kelengannya karena ada semacam sensasi panas menjalar dari sana.
"Apa itu?" Naruto menatap bingung pada tatonya itu.
Azazel hanya tersenyum mendengar itu. "Itu hanya merek dagang hahaha." Jawaban ini membuat Naruto Sweatdrop."Baiklah, sekarang selamatkanlah gadis yang kau cintai itu. Kini dia sedang dalam bahaya. Kemampuan bertarungmu telah kuatur otomatis ketika kau bergabung dengan Shusui. Sekarang buatlah kontrak dengannya." Azazel kemudian memperlihatkan sebuah layar ajaib diatas ruangan itu. Layar tersebut mempertontonkan seorang gadis berambut merah sedang disiksa oleh pemuda berambut putih.
Naruto terkejut bukan main melihat hal itu. "H-hey, aku harus bagaimana?! Kontraknya bagaimana?" Kepanikan melanda pemuda itu.
Azazel yang melihat itu hanya tersenyum melihat hal itu. "Tenanglah, biarkan semuanya mengalir apa adanya." Pria itu memunculkan sebuah gerbang gaib dan menendang keluar Naruto.
"Azazel-teme!" Naruto perlahan lindap ditelan gelap.
[End Flashback]
XXXXXXXXXXXXXX
"Ukh!" sebuah erangan menyadarkan Naruto. Pemuda itu kemudian menoleh kearah bawah dimana gadis tersebut telah terbangun dari pingsannya.
"Dimana aku?"Rias perlahan membuang tatapannya kesegala arah. Mencoba mencari petunjuk. Tak lama setelah itu, tatapannya fokus pada sosok pirang disampingnya.
"!" Dirinya sekarang teringat akan semuanya. Pemuda inilah yang menolongnya tadi dan juga membunuh…..Euclid.
Ah, nama itu lagi. Nama itu bagaikan semacam cairan korosif yang membuat hatinya meleleh hancur perlahan. Dirinya tak menyangka bahwa seorang pria baik semacam itu merupakan jelmaan setan.
Tess
Perlahan air mata itu kembali mengalir. Dia hanya bisa menangisi semuanya. Dirinya merasa kosong sekarang. Dia ingin hidup tapi untuk apa?
"Tenanglah." Sebuah suara lembut terdengar ditelinganya. Suara tersebut entah kenapa menenangkan hatinya. Suara asing yang membuat kegundahannya terhapus secara perlahan.
Rias lalu menatap dalam sosok itu. "Siapa kau?" sebuah tanya terucap dari bibir mungil tersebut. Sebuah tanya penuh rasa penasaran dan pengharapan agar terlepas dari derita ini.
"Aku adalah separuh darimu." Pemuda itu menunjukkan sebuah tato dua pasang sayap hitam yang bersinar memancarkan sinar kekuningan. Kemudian, lengan Rias juga memancarkan sebuah hal sama. Mereka berdua kini hanya saling menatap didalam diam.
TBC
Oke, mungkin kalian bingung hahaha. Tapi disini Naruto bukan Datenshi. Dia adalah roh yang dimasukkan kedalam Sacred Gear oleh Azazel. Mungkinkah? Biar profesor Azazel menjawabnya kelak hahaha. Idenya mungkin banyak yang bakal bilang kayak Guilty Crown ataupun Noragami. Ya, nggak salah juga sih. Tapi ide paling aslinya dari komik X blade. Jadi, simpelnya petarung disini adalah Rias. Semoga kalian suka aja ^_^
Oke, sekian dulu chapter satunya, seperti biasa. Silahkan berikan koreksi, saran, ataupun ide bagi fic ini. Terima kasih buat yang mau Review, fav, ataupun follow fic ini. Review kalian merupakan sumber inspirasi dan pembangkit semangat bagi author untuk melanjutkan cerita. Mind to review?. Sekian dan terima kasih ^_^.
