Terimakasih banyak buat yang sudah review/follow/fav, tentu saja buat silent readers juga. ;)

Arigatou gozaimasu~ #bow

.

.

Perkenalan untuk chapter 2…

Kise Ryota: Seorang top idol 21 tahun yang tinggal seorang diri, orangtuanya sudah meninggal sejak dia jadi artis. Waktu SMA, dia bermain basket. Ia tinggal di sebuah kos-kos an. Kamarnya dekat dengan kamar teman-teman SMAnya. Sedangkan rumahnya yang dulu diambil alih oleh orang yang ngaku-ngaku sebagai pewaris. Kise yang pe'ak pun tak mau repot-repot melawan atau manggil polisi, toh ia pikir uangnya udah banyak. Dasar pe'ak!

Akashi Seijuuro: Mantan ketua basket di SMA Kise. Dulu dia kaya raya, sekarang… err… melarat? Rumahnya disita pemerintah karena ketahuan korupsi. Dulu sifatnya kejam dan yandere, sekarang dia jadi gimana, ya?

Kuroko Tetsuya: Orang yang diakui Kise sebagai sahabat baiknya waktu SMA. Padahal Kuroko gak merasa.

Midorima Shintaro: Teman SMA Kise yang tsundere. Sekarang dia jadi ustadz yang sering nongol di TV. Tapi, sifatnya apa cocok disebut ustadz? Belum lagi kebiasaannya menghina orang lain.

Aomine Daiki: Best friend forevernya kise.

Murasakibara Atsushi: Sejak Kise SMA, dia suka banget makan. Gak tahunya malah jadi penjual minuman.

.

.

Our Rumble chapter 2

AYO KETEMUAN!

.

.

Siang itu, Kise merebahkan dirinya ke kasurnya. Hidupnya terasa sepi sejak tinggal sendiri. Membosankan pula. Apalagi ia harus berangkat pagi pulang tengah malam untuk syuting dan pemotretan. Rasanya ia sudah tak punya semangat masa muda. Namun apa manfaat kehidupan kalau bukan untuk dinikmati? Jadi, bagaimanapun juga, ia harus tetap menjalaninya.

Teman-temannya juga tak pernah protes dengan kehidupan mereka. Akashi si penjual gorengan keliling, Kuroko si guru Bahasa Indonesia, Aomine si tukang tambal ban, Midorima si ustadz terkenal, Murasakibara si penjual es teh keliling, Kise tak pernah mendengar mereka mengeluh sekalipun. Kalau mendengar mereka mengejeknya sih sering.

Berhubung hari ini adalah hari libur Kise yang biasanya terjadi sekali dalam 2 tahun (WHAT?!), jadi Kise ingin menjadikan hari ini BEST DAY EVER. Kise ingin mengajak teman-temannya ke sebuah restoran hanya untuk sebuah makan malam bersama.

Langsung saja, ia telepon temannya satu-persatu. Kangen banget rasanya. Kise, kan tak pernah menelepon mereka selama dua tahun ini karena pekerjaannya yang padat. 'Kira-kira nomor mereka masih aktif, gak, ya?'

Pertama, Kise menghubungi Aomine. Because he is his best friend. Setelah nada ke 3, akhirnya Aomine menjawab telepon Kise—dengan ogah-ogahan.

Kise: "Aominecchiiii~ aku kangen-ssu!"

Aomine: "Apaan? Jangan ganggu orang kerja, baka!"

Kise: "Nanti malam ke restoran Teikou, yah! Aku akan undang yang lainnya juga. Jangan lupa loh!"

Aomine: "Ho-hoi! Bukannya lu lagi kerja, ya?"

Kise: "Hari ini aku libur –ssu!"

Aomine: "Yowes, tapi kau yang traktir! Aku bokek."

Kise: "Okee! Jam 6 sore kumpul di restoran Teikou!"

Aomine: "Ya."

Kise: "Horeee~! Tepat waktu, ya!"

Aomine: "…"

Aomine langsung menutup telepon dari Kise saat suara Kise bertambah cempreng. Setelah menelepon Aomine, Kise langsung mencari nomor Kuroko di kontak dan memencet tombol ijo yang ada di kiri bawah HP Samsulnya.

Kuroko: "Moshi-moshi, siapa disana?"

Kise: "Aku!"

Kuroko: "?"

Kise: "Kurokocchi! Jawab dong!"

Kuroko: "Kise-kun, ada apa? Sekarang aku lagi ngajar, selamat tinggal."

Kise: "Kuro-"

PIIIPPPP~ Belum juga Kise menjelaskan, teleponnya sudah ditutup Kuroko. Kise menyandarkan dirinya di dinding. Lalu melihat dindingnya sudah agak berlumut. Ia langsung ingat sesuatu… Midorima!

Kise pun menelepon Midorima…

Midorima: "Assalamualaikum?"

Kise: "Midorimacchiii~ nanti malam ada waktu?"

Midorima: "…"

Kise: "Midorimacchi?"

Midorima: "…"

Kise: "MIDORIMACCHIII!"

Midorima tak kunjung menjawab, lalu samar-samar Kise mendengar Midorima ngobrol dengan seseorang. "Asisten! Panggilkan polisi! Ada orgil salah sambung!", begitulah kata Midorima. Sedangkan orang yang diajaknya ngobrol hanya bilang, "baiiikk, Shin-chan~!".

Kise langsung merinding disko. Gimana kalau Midorima serius. Tapi masa, dia tega bilang gitu sama temannya sendiri? Huhuhu…

Merasa sudah dikhianati Midorima, Kise berniat langsung menelepon Murasakibara. Tapi, saat dicoba berulang-ulang, Kise akhirnya sadar kalau nomor Murasakibara sudah gak aktif. Terakhir, dia mau menelepon Akashi.

Kise menepuk jidatnya pelan, ia baru ingat kalau Akashi gak punya HP. Jika sekarang ia ke kamar Akashi, mungkin Akashi lagi jualan keliling. Kise memutuskan untuk berkunjung ke tempat Aomine. Sedikit curhat mungkin bisa membuatnya tenang.

Bukannya kerja, Aomine sibuk ngopi sambil baca majalah di sofa yang udah sobek-sobek kena cakar kucing. Kalau saja bos nya (Tuan Hyuga dan Nyonya Riko) ada disini, Aomine pasti udah kena ceramah beruntun.

Kise duduk di samping Aomine. Tapi Aomine tak sadar. Kise pun menjambaknya dengan keras sambil menyapa Aomine, "Aominecchi!~"

Aomine menjerit kaget akan kehadiran Kise, "Gi-gila! Sejak kapan kau jadi mirip Tetsu!?".

Poor Kise, dua kali dibilang gila oleh kedua temannya. Pertama Midorima, sekarang Aomine…

"Aominecchi hidoi –ssu!"

"Jaa, apa yang kau lakukan disini? Pergi sana! Hush! Hush!" Aomine mengayun-ayunkan tangannya, mengusir Kise. Kise bimoli –bibir monyong lima senti.

"Hidoi –ssu.. Aku kan hanya berkunjung," ujar Kise. Aomine menghela nafasnya. "Punya nomor Murasakicchi yang aktif gak?"

"Gak," jawab Aomine singkat.

"Aku nggak percaya!" Kise nyolot, sok tau banget.

"Noh, cari aja di kontak! Cari sampai jamuran!" Aomine yang kesal menyodorkan HP Cress-nya tepat di depan wajah Kise. Kise meringis, ia pun mengambil HP Aomine dan menggeledah isinya.

Sebenarnya Kise juga sudah tahu kalau Aomine serius gak punya nomor Murasakibara. Ia hanya ingin sedikit jail saja…

Setelah puas menggeledah, Kise mengembalikan HP Aomine. Ia sweatdrop melihat apa yang ada di gallery Aomine. Cuma ada foto-foto Mai-chan sama foto selfie Aomine yang menurut Kise benar-benar gak keren. Isi inbox pesan Aomine, semuanya dari Momoi sama operator.

"Nee, Aominecchi, Midorimacchi kejam banget! Masa aku dibilang gila, sih?" Kise memulai sesi curhatnya. "Harusnya sebagai sesama artis, sebaiknya jangan gitu –ssu! Apalagi dia ustadz…" lanjut Kise dengan tampang mewek.

"Kenyataan, terima saja," Aomine menjawab tanpa ada rasa bersalah. Kise tambah mewek. Lalu ia pergi meninggalkan Aomine tanpa berkata apapun. Aomine tertawa kecil lalu melanjutkan aktifiktasnya yang tertunda tadi.

.

.

.

Sudah hampir pukul empat sore, Kise bergegas menuju kamar Akashi yang jaraknya hanya 3 kamar dari kamarnya. Kise mengetuk pintu kamar Akashi.

"Akashicchi~ Buka pintunya!" Kise mengetuk pintu secara cepat dan keras. Perlahan, pintu itu terbuka. Menampilkan sosok Akashi dengan mata panda. Wajahnya sedikit pucat, tubuhnya lemas.

"A-Akashicchi? Ada apa –ssu? Kau sakit?" tanya Kise. Agak aneh saja melihat temannya yang kadang galak nan kuat jadi loyo gini. Akashi menundukkan kepalanya.

"Mungkin, usiaku sudah tak lama lagi, Ryota…" jelas Akashi dengan suara lirih. Kise mewek lagi. Padahal terdengar jelas kalau backsound saat itu adalah lagunya Mbah Surip- Tak Gendong Kemana-mana…

"Ke-kenapa –ssu!? Jangan bilang begitu, Akashicchii!" Kise menggoyang-goyangkan tubuh mungil mantan kaptennya. Akashi hanya tersenyum, beda dengan senyum menyebalkan yang biasanya ia pakai.

"Aku… keracunan… weci…" ujar Akashi masih dengan suara pelan. Kise sweatdrop, "kenapa gak ke rumah sakit aja –ssu?"

"Aku bokek. Heleh, keracunan gorengan ae lho… Nanti juga sembuh sendiri," Akashi tertawa setan. Benar-benar beda dengan Akashi 1 menit yang lalu. Kise berpikir, Akashi keracunan atau kesurupan, sih?

"Jaa, Akashicchi, nanti mau makan malam bersamaku dan yang lainnya?" tawar Kise dengan sopan. Akashi terdiam sejenak. "Kalau gratis, aku mau," jawab Akashi dengan sangat sopan. Menyunggingkan senyum paksa di bibirnya.

"Okee! Jam 6, yaa! Jangan lupa sholat dulu –ssu! Aku ke rumah Murasakicchi dulu~!" Kise berlari ke kamar Murasakibara yang ada di samping kamar Akashi pas.

Dari jendela, terlihat Murasakibara sedang menikmati teh kotak dan biskuit Paris Kelapa sambil duduk lesehan di lantai.

"Murasakicchii~" Kise menggebrak-gebrak pintu Murasakibara dengan kasar. Murasakibara membukanya terpaksa, wajahnya terlihat sangat malas. Dia udah mandi belum, sih?

"Nanti jam 6 kalau mau pergi ke restoran Teikou, ya! Aku juga undang teman-teman, lho!" jelas Kise to the point. Wajah lesu Murasakibara langsung jadi ceria seketika.

"Tentu saja, Kise-chin!" jawab Murasakibara singkat. Ia langsung menutup pintu kamarnya dengan kasar tanpa mengucapkan terimakasih atau apa kek. Meninggalkan Kise yang melongo di depan kamar Murasakibara.

Jadi, yang belum Kise beritahu hanya Kuroko dan Midorima. Kise sudah menyerah untuk menghadapi ustadz bejat macam Midorima. Masa teman sendiri dibilang gila? Dasar Midorimacchi gila!

Kise tak menghubungi Kuroko dengan telepon. Melainkan dengan SMS. Selain ngirit suara juga ngirit pulsa, lho…

To: Kurokocchi

From: Kise Ryota

Kurokocchiiiii~ Aku kangen banget sama kamu! Gak terasa sudah dua tahun gak ngobrol, ya? Serius, aku kangen banget! Nanti datang makan malam bersama, ya! Di restoran Teikou pukul 6 sore! Jangan lupa sholat dulu…

Salam hangat,

#KISE

Dari SMS Kise yang panjang lebar itu, Kuroko hanya menjawab 1 kata, "baik".

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.18 WIB. Kise segera berangkat ke restoran Teikou, tempat janjiannya dengan teman-temannya. Tak lupa mengenakan kacamata hitam agar fangirlnya tak terlalu mengenalinya.

Begitu masuk, sudah ada Aomine yang melambaikan tangan padanya. Dilihatnya di meja yang ditempati Aomine. Ternyata Kuroko, Akashi, dan Murasakibara juga sudah datang. Lalu Kise duduk di antara Kuroko dan Akashi.

"Minna, aku kangen –ssu!" tanpa sadar Kise menitikkan air matanya. Dengan cepat ia mengusapnya sendiri pake kain terdekat –lengan baju Akashi. Kise melakukannya tanpa sadar, langsung saja Akashi menendangnya. Kise gak tahu kalau tadi Akashi sempat nginjak *piip* ayam waktu perjalanan.

"Sama," Akashi menepuk-nepuk pundak Kise. Padahal dia baru menendangnya.

"Makanya, sekarang cepat pesankan aku makan. Tadi aku gak sarapan tau! Uangku habis buat bayar kos!" rengek Akashi. Kalau Akashi merengek di komik Kurobas yang asli, wah, keajaiban dunia, tuh!

Semua mata langsung tertuju pada Akashi. Kasian banget nih anak orang, meskipun dulu nyebelin tingkat dewa.

Kise mengancung-ancungkan tangannya. Mau pesan makanan niatnya. Seorang pelayan pun datang padanya dan menyodorkan selembar menu. Sontak mereka berlima –kucuali Kuroko- langsung rebutan tuh lembaran. Untung aja sudah di laminating, jadi gak sobek.

"Aku pesan chicken katsu!" Kise memberi centang pada menu yang dipilihnya.

"Aku vanilla milkshake!"

"Hei, aku kan sudah bilang aku pesan nasi pecel! Kok malah kau centang yang tahu bumbu, Kise-chin!?"

"Ini pesanannya Kurokocchi –ssu!"

"Oi, aku pesan rendang! rendang!"

Mereka sangat ribut, sehingga menarik perhatian orang-orang. Selama 10 menit lebih, mereka masih tetap rempong ngomongin makanan. Saat itu juga ada pelanggan yang lapor akan ketidaknyamanan restoran itu karena kehadiran Kisedai.

Pemilik restoran (Alex) pun datang. Dengan sebuah gepyok (itu loh, yang buat membasmi nyamuk) di tangannya. Begitu sudah ada di depan Kise dan kawan-kawan, ia langsung memukul anggota Kisedai satu persatu menggunakan benda itu.

"Sa-sakit! Aku ini idol, KISE RYOTA! Kenal aku, kan?" Kise menyela. Lalu membuka kacamata hitamnya. Pemilik restoran itu menaikkan sebelah alisnya, heran. Rupanya ia tak mengenali Kise.

Lalu pandangan si pemilik restoran itu tertuju pada Akashi. Tiba-tiba saja ia berseru dengan tidak merdu, "AHAA! Mas-mas penjual gorengan! Gorenganmu enak bingits, aku minta tanda tangan! Ah, foto jugaaa~~"

Kise menganga tak percaya. Masa ketenarannya kalah dengan Akashi yang notabane penjual gorengan keliling. Kise menampar pipinya berkali-kali, masih tak percaya pada kenyataan. Aomine dan Kuroko menepuk-nepuk bahu Kise. "Sabar, Kise-kun…"

Setelah sang pemilik resto Teiko fangirlingan ria sama penjual gorengan, mereka pun memesan makanan. Sesuai janji, Kise bersedia untuk membayarkan makanan yang dipesan teman-temannya.

Tak disangka, masalah besar timbul. Kise lupa membawa dompet! Teman-temannya menatapnya dengan wajah khawatir. Mereka pun kabur bersamaan meninggalkan Kise yang mewek, bingung harus ngomong gimana ke penjaga kasir. Padahal mereka terlanjur pesan makanan banyak banget.

Dengan segenap keberanian, Kise pun menjelaskan semuanya ke penjaga kasir. Si penjaga kasir mengeluarkan deathglarenya. Dan mulai ngomel-ngomel gak jelas. Saat penjaga kasir hendak memanggil atasannya…

"Biar aku saja yang bayar dulu, tapi nanti gantiin uangku –nanodayo!" pria tinggi berkacamata dan berambut ijo menyodorkan uang ke penjaga kasir. Midorima muncul di saat yang sangat tepat.

Kise langsung meluk-meluk Midorima. Walau kadang nyebelin, bisa baik hati juga rupanya… Midorima melepaskan pelukan maut Kise, ia sedikit bergidik jijik.

"Cepat gantiin duitku –nanodayo! Aku membantumu hanya karena kau mantan temanku!" ucap Midorima sambil menaikkan kacamatanya. Kise merengut, "mantan –ssu?"

"CEPETAN GANTI!"

"Iya, iya, makasih tadi udah bantu…"

TAMAT

-dengan tidak elitnya-

Terimakasih banyaaaaak buat yang sudah baca sampai sini. Semoga kalian gak bosan ya, dengan humor garing buatanku^^ Maaf banget kalau kurang memuaskan.

Jaa, lanjut atau stop? :D

#Sheilla