Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Story © Clovery
Kazei Yuuki © Clovery
Warning : AU, Fantasy, OC, OOC, typo, 1st fict, and more.
Don't Like? Don't Read ^^
Chapter 2
Kuroko Tetsuya huh?
Seorang gadis tengah berdiri di depan sebuah bangunan dengan nuansa antik yang terasa. Berkali kali ia melihat ke pergelangan tangan kanannya yang berhias sebuah jam tangan berwarna keperakan.
Kazei Yuuki tengah menunggu seseorang.
Kegiatannya terinterupsi oleh dering smartphone miliknya. Ia sedikit mengeryit ketika melihat nama yang tertera di layar.
"Moshi-moshi? Dimana kau? Aku sudah di depan toko selama 20 menit kau tahu?" Yuuki langsung saja mendamprat seseorang dibalik teleponnya.
"Hahaha maafkan aku Yuuki-chan. Aku lupa menghubungimu tadi, kami berangkat pagi pagi sekali ternyata. Khawatir jika jalan tol penuh." Riko tertawa dipaksakan disana. Yuuki menghela napas pelan.
"Hah, baiklah. Aku akan cari sendiri. Memangnya kau sudah dapat hadiah untuk Satsuki?" ya, mereka sebenarnya berjanji untuk bertemu pagi ini di toko barang antik yang sering dikunjungi mereka bertiga. Dengan tujuan membeli hadiah untuk ulang tahun teman mereka, Momoi. Momoi menyukai barang barang klasik sebenarnya.
"Sebenarnya sih belum. Kau carikan ya!"
"Tidak"
"Ayolah Yuuki"
"Tidak"
"Yuuki-chan kau manis lho. Ayolah carikan ya?"
"Terserah"
"Yuuki! Aku mohon."
"Ya sudah, kau cari sendiri. Jaa" Yuuki mengakhiri telepon secara sepihak. Tak peduli dengan Riko yang kini tengah sibuk mencaci maki dirinya entah dimana.
Yuuki akhirnya memutuskan untuk mencari hadiah sendiri, sebelum ia melangkah masuk ke dalam toko. Ponselnya berdering sekali lagi. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, ia langsung menekan tombol hijau dan bicara.
"Kubilang tidak ya tidak!" Skak mat! Siapapun disana pasti sadar bahwa Yuuki kini tengah naik pitam.
"Eh? Yuuki-chan apa yang tidak?"
Krik
Sebuah suara terdengar diseberang sambungan telepon itu. Tentu saja bukan suara Riko, Yuuki masih mengenali bahwa suara itu adalah suara Momoi. Yuuki masih terdiam. Ah aku salah ya?
"Yuuki-chan?"
"Eh eh maaf Satsuki! Aku kira kau orang yang menghubungiku sebelumnya. Haha, ada apa?" Yuuki tertawa canggung.
"Oh begitu tak apa. Sebenarnya aku menghubungimu karena ada sedikit masalah dengan Mannequin yang kita pesan." Masalah? Lagi? Yuuki menghela napas.
"Hah, apa itu?"
"Jadi, tadi saat aku pergi ke tempat yang kau tunjukkan kemarin. Mereka bilang hanya memiliki 9 mannequin wanita dan 10 mannequin pria saja."
"Oh begitu? Tak masalah, pakai saja semua untuk di toko. Aku akan cari sendiri kapan kapan, dan untuk yang wanita, akan aku carikan juga nanti." Yuuki sedikit bersyukur karena bukan masalah yang begitu rumit.
"Kalau begitu baiklah. Akan aku urus pengiriman, dan kau transfer uangnya ya!" Momoi bernapas lega, karena ia kira, Yuuki akan marah. Mengingat kejadian beberapa menit lalu.
"Ya, kalau begitu sampai jumpa" Yuuki mematikan sambungan sepihak lagi.
._.
Bunyi gemerincing bel terdengar ketika Yuuki membuka pintu kaca toko antik itu. Sebenarnya, bangunan itu adalah sebuah ruko. Jadi, suasananya tak begitu berdebu seperti toko antik lain. Bersih, membuat siapapun betah untuk berlama-lama di sana. Karena selalu terawat.
Seorang wanita tersenyum dari balik meja kasir, menyambut pelanggannya kali ini. Wanita awal 30 tahunan itu tampak sangat ramah dan bersahabat.
"Selamat datang Nona, apa yang kau cari?" Wanita itu masih setia dengan senyuman di wajahnya.
"Ah itu, aku ingin barang antik yang sedikit, umm manis?" Satsuki suka sesuatu yang manis. Itulah kira – kira isi pikiran Yuuki saat ini.
"Manis? Mungkin benda-benda dengan ukuran kecil akan berguna. Kau bisa memilihnya di rak yang ada di ujung sana Nona" Wanita penjaga toko itu menunjuk arah rak yang ia maksud.
"Terima kasih" Yuuki beranjak kearah rak paling ujung. Disana banyak sekali benda-benda antik dengan ukuran relatif kecil.
Ia memandang benda benda itu, menaksir yang mana cocok untuk Satsuki. Namun nihil, ia tak bisa berpikir saat ini. Ia lempar pandangannya ke arah lain, eksistensi sebuah kain penutup di pojok ruangan menarik perhatiannya.
Rasa ingin tahunya terlalu tinggi saat ini, ia pandangi sejenak dan menerka apa yang ada di balik kain usang itu, lalu perlahan namun pasti, tangan kanannya terulur untuk menggapai kain tersebut.
10 cm
7cm
5cm
"Nona?"
Gerakannya terhenti karena kehadiran wanita penjaga toko tadi.
"Kau ingin melihatnya?" Wanita itu menatap entah benda apa yang tertutup kain itu.
"Sejujurnya, aku penasaran haha" Yuuki tertawa canggung lagi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita itu menarik pelan kain penutup agak usang itu.
Yuuki tak bisa berkata apa-apa, binar azure seolah menghipnotis dirinya. Tampak usang namun bersinar. Ia masih terpaku dengan apa yang dilihatnya. Sampai wanita penjaga toko tadi menepuk pelan pundaknya. Dan berkata.
"Ini adalah sebuah mannequin kuno. Namanya, Kuroko Tetsuya." Lagi-lagi wanita itu tersenyum.
He? Mannequin? Kuro siapa?
Seolah paham akan pandangan bingung Yuuki, wanita itu menunjuk ke arah bawah, sebuah dasar penyangga yang menjadi tempat berpijak mannequin di depannya ini. Di sana terukir, sebuah nama, Kuroko Tetsuya.
Yuuki menatap mannequin pria yang sedikit lebih tinggi darinya itu, dari bawah ke atas, dari atas ke bawah. Kulitnya seputih susu meskipun sedikit terhalangi debu, tubuhnya proporsional, wajahnya tampan, hidungnya mancung, matanya sejernih laut dan setenang langit musim semi, serta rambutnya berwarna biru muda. Tuhan, Yuuki bersumpah, ia terpesona oleh sebuah boneka.
"Kuroko Tetsuya huh? Sudah berapa lama benda ini di sini?" Yuuki mulai tertarik.
"Mannequin ini sudah sangat lama di sini, ketika aku masih sekolah dasar benda ini sudah di sini. Sebenarnya, kami ingin membuang boneka ini besok, untuk menambah ruang di toko ini. Boneka yang malang." Wanita itu tertawa pelan, di akhir kalimatnya. Tawa miris.
Entah apa yang merasuki Yuuki saat ini, mungkin bening azure itu menghipnotisnya sekali lagi,dan membuat dua buah kata yang bersatu menjadi kalimat itu, begitu saja terucap dari bibirnya.
"Akan kubeli"
._.
Aku tak percaya pada apa yang telah aku lakukan. Pergi ke toko barang antik sendirian, entah kebetulan atau apa, ada sebuah mannequin tua, aku butuh sebuah mannequin juga, dan berakhir membelinya. Lalu sekarang? Aku sedang duduk bersila di balik pintu, menunggu kiriman boneka yang ku beli tadi. Kenapa kurir itu sangat lama hah?! Apa aku salah memberikan alamat? Entahlah..
Genap 2 jam aku menunggu. Wanita tadi bilang, akan mengirimnya pukul 4 sore ini. Tapi, pukul 4 sudah terlewat satu setengah jam lalu. Aku terlampau antusias saat ini. Lelah dan tak sabar membuatku memaki pintu didepanku berkali-kali. Aku menyerah, aku bangkit berdiri hendak pergi ke dapur demi mengaliri tenggorokanku dengan segelas air.
Baru saja 2 langkah aku meninggalkan pintu, bel rumahku berdering. Dengan secepat kilat, aku berbalik dan membuka pintu itu.
Aku tak bisa menahan senyumku. Kurir itu datang! Kurir pengantar barang datang! Aku hampir memeluk kurir di depanku itu, jika saja kata malu tak ada di dalam kamusku.
Sebuah kotak besar ada di lantai. karsur berwarna coklat muda yang sudah ku tunggu sejak tadi.
Setelah menandatanganni tanda terima. Langsung saja, kotak kardus yang aku yakini berisi potongan tubuh (?) Kuroko Tetsuya itu aku bopong ke dalam rumah.
Dengan semangat, aku buka kotak besar itu, meskipun agak susah memindahkannya tadi, berat kau tahu?
Di dalam kardus itu, bagian-bagian tubuh mannequinku tersusun rapi. Mungkin jika ada orang yang melihat bagaimana antusianya aku mengeluarkan tangan dan kaki boneka ini, mereka pasti mengira aku adalah seorang penderita penyakit jiwa yang sedang bermain dengan korban mutilasi. Namun, siapa peduli? Toh aku sendirian di rumah ini.
Setelah semua bagian tubuhnya kurasa lengkap, aku mulai menyadari bahwa, ia sangat kotor. Debu masih setia hinggap di kulit porselen itu.
Aku tak bisa menahan diriku. Sebuah lap, sebaskom air,dan sabun sudah aku siapkan.
Dan sekarang?
Akan ku mandikan kau Kuroko Tetsuya.
._.
Setelah memastikan mannequin baru tapi lama miliknya bersih. Yuuki memindahkan satu persatu bagian boneka itu ke kamarnya yang ada di lantai 2. Dan merangkainya menjadi sebuah tubuh. Setelah memasang sebuah celana panjang dan sebuah kaos berlengan panjang juga, ia pun memandangi mannequin itu dengan seksama.
Satu kata yang terlintas di otak Yuuki saat ini. Tampan.
Selesai memandangi benda mati di depannya. Yuuki mengalihkan pandangannya kepada jam dinding berwarna hijau di kamarnya. Setengah sepuluh malam. Sudah selarut ini kah?
Yuuki melangkah pelan ke meja kerjanya, merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Dia terlalu lelah hari ini, lelah lahir dan batin.
Tak ada yang ia lakukan selain menyangga kepalanya dengan kedua tangan yang ia tekuk di meja. Ia tolehkan kepalanya, hingga ia bisa menatap sekali lagi boneka porselen di sudut kamarnya itu, menutup kedua matanya seiring kantuk yang menyerang.
Sebelum seluruh kesadarannya terenggut, ia bergumam pelan.
"Kuroko Tetsuya huh?"
Dan semuanya gelap.
.TBC.
Author's Note
Hai.. terima kasih sudah menyempatkan membaca fic gaje ini..
Terima kasih juga bagi yang sudah mem-fave dan follow ch 1 kemarin.
Author bener-bener seneng ada yang baca fict ini.. T^T
Author sadar, fic ini masih jauh dari kata bagus, jadi..
Mohon kritik dan sarannya! Flame pun nggak masalah :D
Review please.. ^^
