Thousand Years
NCT
Lee Taeyong
Jung Jaehyun
Johnny Seo
Rated M
BoyxBoy
Ketika kisah cinta Bella-Edward kembali terulang dalam sejarah keluarga Cullen. Cinta segitiga yang menyakitkan. Jika ingin, ia tak ingin memilih. Jika boleh, ia tak ingin jatuh cinta.
.
.
.
Sudah seminggu sejak Taeyong memulai harinya sebagai seorang murid sekaligus manusia biasa. Beberapa kali teman-temannya mengajaknya untuk hang out bersama, begitu mereka menyebutnya. Menghabiskan waktu hingga larut hanya dengan mengobrol di beberapa kafe. Taeyong senang bisa belajar banyak dari teman-temannya. Seperti kafe. Taeyong tak pernah pergi ke kafe sebelumnya. Ia hanya memakan makanan buatan ibunya. Ya, meski makanan kafe tidak seenak makanan ibunya.
Dan juga musik. Musik yang Taeyong dengarkan di kafe benar-benar menarik baginya. Selama ini ia hanya mendengarkan koleksi-koleksi piringan hitam yang dihadiahkan Edward untuknya. Terkesan jadul memang, tapi meskipun ayahnya memberikan hadiah ipod padanya untuk mendengarkan lagu, Taeyong lebih senang ketika melihat benda bulat pipih berwarna hitam itu berputar.
Tapi iringan musik di kafe yang dikunjunginya berbeda. Tidak seperti lagu-lagu di ipod miliknya yang terkesan upbeat, para penyanyi kafe itu selalu membawakan lagu jazz. Oh, betapa Taeyong jatuh cinta denga genre musik satu itu.
Dan juga belajar berbohong. Seumur hidupnya, hanya sekali Taeyong pernah berbohong. Dulu, ketika ia kecil pada ibunya. Saat itu usianya lima tahun. Ayah dan ibunya selalu mewanti-wanti agar ia tak terlalu jauh bermain ke dalam hutan. Tapi hari itu, ia terlalu antusias mengejar kupu-kupu dan masuk terlalu dalam ke dalam hutan. Memang tak ada hal buruk yang mencelakakannya. Ia hanya bertemu dengan seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap. Taeyong tak terlalu ingat bagaimana wajahnya karena tertutup topi. Taeyong mengira pemuda itu hanya lah manusia biasa. Pemuda itu cukup baik. Ia memuji dirinya manis dan mengusak rambutnya. Bahkan pemuda itu mau mengantarkan Taeyong pulang ke rumahnya. Di usianya yang masih sangat belia itu, Taeyong tak tahu betapa bahayanya menunjukkan rumahnya pada orang asing seperti yang ia lakukan.
Taeyong berbohong pada ibunya. Berbohong kalau ia tak bermain ke dalam hutan. Dan setelah itu Taeyong berjanji tak akan berbohong lagi. Karena ibunya mengurungnya seharian di dalam kamar. Taeyong lupa, ibunya bisa mengetahui kebohongan sekecil apapun.
Tapi kini Taeyong berbohong lagi. Ia pikir, jika itu bukan ibunya tak akan jadi masalah. Ia berbohong pada Taeil dan Doyoung yang menawarkan tumpangan sampai ke rumah karena sudah terlalu larut. Taeyong berbohong jika ia ingin mampir ke rumah salah satu saudaranya yang lebih dekat untuk bermalam disana.
Ia berbohong agar Taeil dan Doyoung tak jadi memberikan tumpangan. Bukankah itu artinya ia berbohong demi kebaikan? Ia tak menunjukkan kediamannya pada siapa pun meski pun Taeil dan Doyoung bukan orang asing lagi untuknya kan?
Dan satu hal lagi yang Taeyong pelajari dari teman-temannya. Bagaimana caranya bersosialisasi. Sering ditarik Ten kemana-mana, atau diseret Doyoung ke ruang osis ketika para anggota osis sedang tidak rapat membuat Taeyong tahu banyak nama di minggu pertama sekolahnya.
Taeyong benar-benar bersyukur kakeknya menyarankan ayahnya untuk memasukkannya ke sekolah biasa, bukan hanya mengurung diri di rumah saja. Banyak hal-hal baru yang Taeyong temukan. Dan tentu ini lebih mengasikkan daripada menghabiskan waktu di rumah.
"Hyung, sudah menentukan klub apa untuk bergabung?"
Kini ia tengah menemani Donghyuck duduk di pinggir lapangan sembari menonton Mark yang tengah bermain basket di tengah lapangan. Taeil dan Doyoung akan selesai rapat beberapa saat lagi. Sementara Ten dan Sicheng masih harus mengurus klub dance sebelum bergabung dengan mereka. Hari ini, klub jurnal, klub yang diambil Donghyuck tidak ada kegiatan sehingga Donghyuck menemani Taeyong sampai yang lain selesai dengan kegiatannya.
Ya, selama ini Taeyong berpindah-pindah klub untuk menemukan klub apa yang cocok untuknya. Sekedar melihat bagaimana jalannya klub. Pertama kali Ten dan Sicheng yang menariknya menuju klub dance. Taeyong tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada para anggota klub yang begitu luwesnya menari mengikut ritme musik. Tapi, untuk bergabung dengan klub itu setidaknya Taeyong harus berpikir berulang kali. Melakukan satu putaran sempurna saja Taeyong belum bisa. Dan ia itu ceroboh. Menahan tubuhnya seimbang sebentar saja belum tentu bisa.
Kedua, ia ikut bersama Doyoung dan Taeil ke klub vokal. Taeyong senang mendengarkan harmonisasi yang tercipta dari kumpulan anggota klub vokal. Namun Taeyong pikir suaranya tak sebagus Doyoung atau sesempurna Taeil untuk bergabung ke klub itu.
Ketiga, Donghyuck mengajanya ke klub jurnal. Klub jurnal adalah kumpulan orang-orang yang senang berbicara, seperti Donghyuck. Saat Taeyong berkunjung mereka tengah membicarakan headline untuk majalah sekolah. Bahkan Seungkwan, salah satu anggota klub mewawancarai Taeyong. Ia bilang ingin menaruh berita tentang Taeyong, si murid baru jelmaan anime. Duh, anime itu apa saja Taeyong tidak tahu.
Dan terakhir, adalah klub Mark, basket. Sebenarnya Taeyong sudah pasti tidak akan masuk ke klub yang berbau olahraga. Dan ia juga tak bergitu tertarik untuk menontonnya. Jujur, saat keluarga Cullen bermain baseball, Teaeyong lebih suka bermain dengan Ruby, anjingnya di padang rumput yang luas itu. Bahkan saat Emmet memaksanya memegang pemukul baseball, Taeyong malah balik mengejar pamannya itu sembari mengancamnya dengan pemukul baseball di tangannya.
Bahkan Taeyong tak tertarik untuk menonton pertandingan baseball kelewat keren keluarga Cullen itu. Sekarang saja, kalau bukan karena Donghyuck yang mengatakan ingin melihat Mark bermain basket, mungkin Taeyong lebih memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan. Membaca buku adalah salah satu hal yang ia lakukan untuk membunuh waktunya selama ia mendekam di dalam rumah.
"Tampaknya belum, Hyuckie. Lagipula belum semua klub kukunjungi kan?"
Donghyuck memajukan bibirnya. Ah, pasti anak ini akan mengeluh kenapa Taeyong tak memilih klubnya saja.
"Kupikir hyung mau memilih klubku."
Tuh kan.
Taeyong tersenyum sebelum mengacak-ngacak surai coklat kemerahan Donghyuck. Donghyuck sungguh menggemaskan. Walau sering menjahili yang lain dan temasuk dirinya yang tak luput dari kejahilannya, Donghyuck tetap lah yang paling muda dari yang lain. Anak itu sering bermanja-manja pada hyung-nya. Taeyong senang jika bersama Donghyuck. Ia tak pernah bersama yang lebih muda sebelumnya. Di keluarga Cullen, meski semuanya terlihat muda, tetapi usia mereka sungguh menakutkan jika mendengar kenyataannya. Dan ia lah yang paling muda, jadi ia lah yang sering dimanja oleh yang lain.
"Aku tak pintar membuat artikel seperti itu, Donghyuck. Apalagi mencari-cari berita seperti itu."
"Memangnya apa yang hyung sukai?"
Apa yang aku sukai?
Dulu ia sering ikut ayahnya berburu binatang untuk stok kantong darah di kulkas rumah mereka. Biasanya Taeyong hanya akan melihat bagaimana ayahnya begitu cepat dan lihai membunuh binatang-binatang itu dengan tangan kosong. Disini memang ada klub pencinta alam. Taeyong memang sering bermain di hutan dan tinggal di gunung. Tapi tahu klub pencinta alam tinggal berhari-hari di alam dan jauh dari ayah dan ibunya, tentu itu sudah dicoret dari daftar Taeyong sejak awal ia mendengar penjelasan setiap klub dari Doyoung.
Ia suka menemani Alice melukis ketika semua keluarga Cullen berkumpul. Lukisan Alice benar-benar indah. Meski Edward sering bercanda bahwa lukisan Alice itu menakutkan, karena bisa jadi lukisan-lukisan itu adalah spoiler tentang masa depanmu. Alice pernah mengajarinya menorehkan kuas di atas kanvas. Tapi lukisannya malah diejek habis-habisan oleh Emmet. Taeyong tak pernah mau lagi menyentuh kuas dan kanvas setelah puas melampiaskan kekesalannya dengan menumpahkan cat ke baju mahal Emmet.
Itu artinya, klub seni juga harus dicoret dari daftarnya.
Oh, juga klub-klub yang berbau olahraga. Sepertinya tidak ada klub yang tersisa untuknya.
"Mungkin aku akan memikirkannya lagi, Hyuck."
"Kenapa hyung tak ikut kluf fotografi saja?"
"Fotografi?"
Taeyong lupa dengan klub satu itu. Doyoung memang tak menjelaskan secara rinci tentang klub itu serinci ia menjelaskan klub-klub yang lain. Karena katanya, klub fotografi seperti mati suri. Anggotanya saja hanya lima orang, itu yang terakhir Doyoung tahu.
"Yaaa, siapa tahu dengan wajah manis dan seperti anime milik hyung klubnya jadi hidup lagi."
Kenapa Taeyong selalu lupa untuk mencari apa itu anime di rumah?
"Sepertinya idemu tidak buruk."
"Nah, kalo begitu nanti aku bisa minta bantuan hyung untuk mengambil beberapa gambar untuk keperluan majalah sekolah. Kau tahu, para anggota klub fotografi tak begitu terbuka dan jarang terlihat di sekolah ini. Pokoknya benar ya, hyung, kau harus benar-benar masuk klub itu. Besok kuantarkan hyung ke ruangan klub fotografi."
Taeyong tak bisa mengelak karena tampaknya Donghyuck sudah ingin menutup pembicaraan mengenai klub. Karena sekarang ia sudah sibuk berteriak histeris saat Mark yang entah sejak kapan sudah selesai dengan latihannya dan memberi hadiah pada Donghyuck berupa kaos basketnya yang basah dengan keringat.
Ya, Mark Lee baru saja melempar kaos luaran basketnya yang bernomor punggung 10 itu ke wajah Donghyuck.
Telinga Taeyong sudah biasa mendengar suara melengking Donghyuck, Ten dan Doyoung tiap hari kok. Jadi ia sudah biasa untuk melihat pertengkaran ala kucing dan anjing Mark dan Donghyuck. Oh, jangan lupakan Ten dan Doyoung yang sedikit lebih parah dari Mark dan Donghyuck.
.
.
.
"Ini kertas apa?"
Johnny memutar bola matanya malas saat Yuta masih bertanya. Kurang jelas kah deretan huruf di atas kertas putih itu. Johnny pikir Yuta sudah terlalu lama tinggal di Korea, jadi hangul bukan masalah lagi untuknya. Lagipula bocah bodoh itu sudah di tingkat akhirnya di sekolah menengah. Tak pantas jika ia masih berlagak bodoh.
"Kau bisa baca kan?"
"Bisa, bodoh. Maksudku kenapa fotografi? Tahu apa kau tentang fotografi?"
Tanpa rasa bersalah, Yuta merobek kertas formulir pengisian klub menjadi dua bagian.
"Ya! Apa yang kau lakukan bodoh?!"
Kali ini biarkan Yuta yang memutar bola matanya.
"Dengar ya, Johnny Seo yang agung. Kau ini menyamar jadi siswa di tingkat akhir. Untuk apa kau mendaftar klub lagi? Kau hanya perlu berpura-pura untuk belajar sepanjang waktu untuk menghadapi ujian akhir yang mereka bilang seperti neraka itu."
"Memangnya ada peraturan anak tingkat akhir tak boleh ikut klub? Bukankah kau saja masih ikut klub sepak bola bodohmu itu."
Jika tak ingat berapa usia Johnny yang sebenarnya, rasanya Yuta ingin menendang kepala Johnny sekerasnya, menggantikan bola sepak kesayangannya yang kebetulan tak ada bersamanya.
"Itu karena aku sudah masuk klub itu dari tingkat pertama aku bersekolah disini. Jangan melakukan tindakan yang membuat dirimu terlihat lebih bodoh lagi lah, John."
"Kau selalu bilang aku bodoh. Kemarin juga. Dan sebelum kemarin juga. Kau lupa berapa perbedaan usia kita?"
Yuta mendengus malas.
"Kau memang bodoh, Johnny Seo. Dan ingat, usia tak terlalu dipentingkan dalam kelompok kita. Lagipula kau tak akan tumbuh menjadi lebih tua dari keadaan tubuhmu yang sekarang."
"Kau harus mendapatkan formulir yang baru untukku. Sekarang."
"Lagipula kenapa harus fotografi sih?! Kenapa tidak masuk ke klubku? Badan sebesar raksasa sepertimu tak pantas masuk klub yang isinya anak-anak phobia pergaulan seperti mereka, tahu."
Johnny meraih kertas formulir yang sudah terpisah menjadi dua bagian. Berusaha menyatukannya sehingga tulisan sajin terlihat disana.
"Karena Taeyong akan ikut klub itu."
Harusnya Yuta tak usah bertanya jika sudah tahu semuanya tak jauh-jauh dari murid baru tingkat dua itu.
"Masih banyak cara lain untuk mendekatinya. Kau masih punya beberapa bulan untuk melakukan pendekatan. Ya, asal tak kau habiskan hanya mengikutinya layaknya pengintai seperti seminggu belakangan ini sih."
"Itu masalahnya."
Yuta sendiri tak menyangka, sosok sekuat Johnny tak bisa berbuat apa-apa di depan si murid baru. Meski Yuta sudah bosan berulang kali mendengar cerita kenapa Johnny harus memilih Taeyong dari sebanyak remaja di Seoul, bahkan sampai rela memalsukan usianya agar bisa lebih dekat dengan si murid baru itu, tetap saja apa yang Johnny lakukan terlihat konyol di matanya.
"Sungguh, kalau yang lain tahu bagaimana kau di sekolah, kau bisa habis jadi bahan tertawaan mereka."
Tampaknya ejekan dalam kelompoknya akan bertambah. Topik bagaimana seorang Johnny Seo dengan tubuh besarnya itu memakai seragam sekolah yang terlihat bagitu ketat di tubuh kelewat berototnya sudah basi. Akan ada topik baru yang Yuta bawa saat kembali nanti.
Tentang si bodoh Johnny yang mengejar sang pujaan hati.
.
.
.
Sudah lama sejak Yunho menginjakkan kakinya di ruangan ini. Mungkin yang terakhir adalah 17 tahun yang lalu? Saat Taeyong resmi menjadi anggota termuda keluarga Cullen.
Ruangan rahasia yang hanya diketahui oleh seluruh kepala keluarga Cullen. Artinya hanya Carlisle, Emmet, Jasper, Edward, ia dan Jacob yang sudah menjadi bagian keluarga Cullen semenjak menikahi Renesmee.
Ruangan ini biasanya hanya digunakan untuk pembicaraan yang sangat penting, yang harus dibicarakan oleh para kepala keluarga sebelum memberitahunya pada anggota keluarga yang lain. Yunho bahkan baru sekali masuk ke dalam ruangan ini. Tepat setelah sehari anak semata wayangnya lahir.
Diantara keheningan para lelaki di ruangan, Emmet memilih memecahkan ketidaknyamanan yang tercipta dengan membuka suara untuk pertama kali.
"Jika membawa anggota keluarga baru seharusnya kau tak perlu mengumpulkan kami semua disini, Carl. Bukankah jika bersama yang lain akan lebih baik dalam menyambut anggota keluarga baru kita?"
Ya, saat Carlisle menghubunginya kemarin malam, dan ia mengambil penerbangan paling pagi menuju Forks, ayah angkatnya itu memang sudah memberitahu sebagian besar alasan kenapa mereka semua harus kembali berkumpul disini. Lagi, keluarga Cullen kedatangan anggota baru. Itu artinya Taeyong bukan lagi anggota termuda di keluarga Cullen.
Di sudut ruangan, cukup jauh dari sofa tempat ia dan para kepala keluarga lainnya termasuk Carlisle duduk, tampak pemuda yang sedari tadi hanya memandang keluar jendela. Enggan berbaur dengan yang lainnya di ruangan itu.
Yunho paham. Ia juga kurang lebih seperti itu dulu. Jika Edward tak merangkulnya dan Alice memeluknya, mungkin ia akan mati kebosanan menatap ujung sepatunya saat itu.
"Ia lebih parah darimu dulu, Jas."
Emmet menyikut Jasper, yang hanya menatap datar pemuda berotot itu.
"Dan ia lebih pucat darimu, Edward."
Tampaknya Jacob sendiri tak bisa menahan dirinya dengan ketidaknyamanan di ruangan ini. Mungkin di pikirannya sekarang, ia menyesali bergabung dengan keluarga Vampir. Kalau bukan karena Renesmee sang istri, ia pasti sudah menolak habis-habisan meski dulu ia selalu ikut campur dengan keluarga Cullen.
"Mungkin ia memang akan lebih sulit daripada Jasper dulu."
Curang. Edward selalu mencuri start. Ia pasti sudah membaca isi kepala Carlisle dan si anggota baru Cullen sejak mereka berdua masuk ke dalam ruangan ini.
Helaan nafas dari Carlisle bukannya membuat suasana tidak nyaman sedikit mencair, tapi malah menambah hawa tidak enak di dalam ruangan.
"Namanya Jung Jaehyun. Ia memiliki beberapa nama, seperti Jay Jung, Jung Yoonoh, Jeffrey Jung, yah setidaknya itu yang kutahu."
"Jung? Namanya sama seperti margamu, Yun!"
Yunho menatap sekilas sosok bernama Jaehyun itu. Sebelum kembali menatap Carlisle.
"Kenapa ia memiliki begitu banyak nama?"
"Pasti ia mantan pembunuh sadis atau penjahat kelas dunia. Kalau dilihat dari namanya sih, ya, bisa jadi ia serial killer yang sering disewa bos-bos untuk membunuh orang-orang. Atau mungkin dia mantan bos mafia?"
Emmet mulai berbicara tak masuk akal."Bodoh. Tak ada alasan untuk Carl menyelamatkan tipe orang seperti itu."
"Kalau begitu jangan hanya berbagi info dengan Edward, Carl! Beritahu kami sebenarnya ia dulu siapa dan kenapa kau mengubahnya menjadi Vampir."
Dari air muka Carlisle yang berubah, Yunho tahu, malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka bertujuh.
.
.
.
"Kau yakin tak ingin memikirkannya lebih lama lagi, Tae? Maksudku, apa tak terlalu terburu-buru? Kau masih punya banyak waktu. Setiap klub terbuka kapan saja untuk menerima formulir pendaftaran."
Itu pertanyaan yang kesekian yang Ten ulangi dari pagi tadi. Bahkan berlanjut sampai ke meja kantin tempat biasa mereka makan siang bersama.
"Min Yoongi, ketua klub. Dingin dan kurang ekspresif. Tak ada yang tahan berbicara dengannya lebih dari lima menit."
Dan sejak kapan Doyoung bahkan sampai tahu anggota klub itu? Sampai membuat daftarnya di kertas seperti itu?
"Jeon Jungkook, tingkat dua. Tampan tapi kasar. Tak ada yang berani mendekatinya sejak insiden ia yang meninju salah satu senior di hari pertamanya bersekolah."
"Park Jimin, tingkat dua. Tak satu pun murid yang pernah melihatnya membuka mulutnya. Tak ada seorang pun yang pernah mendengar suaranya, tidak dengan teman sekasnya, bahkan para murid yang pernah menjadi anggota fotografi sekali pun."
"Kim Namjoon, tingkat tiga. Banyak yang menjauhinya karena menurut mereka ia pembawa sial. Setiap berada di dekatnya, selalu saja kesialan terjadi. Entah itu tersandung tali sepatu, terpeleset di tengah lorong, terjatuh dari tangga."
"Dan yang terakhir Kim Seokjin, tingkat tiga. Tak ada yang mau mendekatinya karena ia selalu terlihat bersama Min Yoongi dan Kim Namjoon."
Taeyong menatap Doyoung yang melipat kembali kertas yang baru saja ia baca. Tunggu, sebenarnya yang anggota klub jurnal itu Donghyuck atau Doyoung? Kenapa Doyoung bisa mendapat informasi sedetail itu?
"Jadi Tae, aku benar-benar melarangmu untuk masuk ke dalam klub itu."
"Oh ayolah hyung! Mugkin apa yang anak-anak sekolahan ini bicarakan tak seburuk kenyataannya? Kau hampir saja merusak keinginan Taeyong-hyung untuk ingin bergabung dengan salah satu klub!"
Ucapan Donghyuck disambut putaran bola mata Doyoung.
"Aku mendapatkan info ini dari anggota klub jurnal, Lee Donghyuck. Jadi kau bilang kalau klubmu itu membuat-buat berita? Dan Jung Taeyong, sekali kubilang tidak ya tidak."
"Memangnya kau ibunya Taeyong-hyung?"
Hal yang langka dimana Mark berpihak pada Donghyuck dibanding bersama para hyung-nya. Mark yang biasanya memilih berkomplot dengan para hyung untuk memojokkan maknae mereka itu tampaknya mulai bosan dan memilih untuk berkomplot dengan si maknae.
"Sicheng.."
Taeyong menatap Sicheng dengan tatapan memelas. Biasanya, jika yang lain tengah cekcok, dan Taeil sibuk menengahi mereka, hanya Sicheng lah yang pendiam yang bisa ia andalkan.
"Sebenarnya aku juga tak setuju jika kau masuk klub itu, Tae. Maaf.."
Taeyong mengerang pelan.
"Oke! Kalau begitu aku tidak usah masuk klub saja. Selesai!"
Taeyong meremas kertas formulir pendaftaran klub yang sedari tadi ada di tangannya dan melemparnya ke sembarang arah. Dengan wajah ditekuk, ia mulai menyantap makanan yang ada di depannya dengan sedikit bantingan sendok dan garpu.
"Tanggung jawab, hyung! Taeyong-hyung jadi marah kan!"
"Bocah diam saja. Ini untuk kebaikannya juga."
"Taaaeee~ kau tahu kami menyayangimu kaaann? Apa yang kami lakukan ini demi kebaikanmu? Aku janji akan mencarikan klub lain yang cocok untukmu. Masih banyak klub yang belum kita datangi kan?"
Taeyong membanting sendok dan garpu di tangannya cukup keras, membuat semua yang ada di meja terdiam seketika.
Taeyong menghela nafas panjang. "Tak usah, Ten. Mungkin lebih baik jika aku menghabiskan waktuku di perpustakaan. Siapa tahu nanti aku bisa direkrut menjadi penjaga perpustakaan."
Meski tersembunyi, tapi semua yang ada di meja itu bisa mendengar nada sarkastik dalam ucapan Taeyong. Ten dan Doyoung saling pandang sebelum keduanya sama-sama menatap Taeil. Yang paling tua sedari tadi hanya diam. Dan tampaknya ia tak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki mood Taeyong karena si ketua osis hanya mengangkat bahunya tak tahu harus berbuat apa.
Mark dan Donghyuck sedari tadi saling sikut. Melirik Taeyong, lalu menatap sinis Ten dan Doyoung. Seolah menuduh orang yang merusak mood Taeyong adalah mereka berdua.
Tak ada yang membantu, tidak sampai Sicheng membuka suaranya.
"Bagaimana kalau kita coba kunjungi klubnya dulu?"
.
.
.
Taeyong melangkahkan kakinya dengan hentakan-hentakan kecil sepanjang lorong. Ia ditinggalkan oleh teman-temannya yang sibuk dengan klub masing-masing. Jika kemarin-kemarin Taeyong akan menunggu dengan manis di perpustakaan, kali ini Taeyong tak sama sekali ingin mengunjungi tempat yang langsung menjadi tempat favoritnya di hari pertamanya sekolah.
Tadi siang Sicheng bilang mereka bisa mengunjungi klub fotografi untuk melihat seperti apa klub itu sebenarnya. Menggunakan jabatan ketua osis dan wakil ketua osis yang dipegang Taeil dan Doyoung, tentu mudah. Dan Ten juga Doyoung sudah setuju, meski terpaksa. Tapi begitu bel berbunyi,
"Maaf Tae! Osis ada rapat mendadak. Aku sudah dihubungi Taeil-hyung berulang kali. Besok bagaimana? Kutemani besok saja ya bersama Taeil-hyung?"
Itu alasan Doyoung sebelum kelinci jadi-jadian itu berlari keluar kelas bahkan tanpa membereskan barang-barang di atas mejanya.
"Tae, aku dan Sicheng harus mengurus beberapa hal karena kompetisi bulanan semakin dekat. Kalau besok aku pasti bisa menemanimu. Besok saja ya?"
Itu Ten. Karena ia sudah membawa nama Sicheng, berarti si pemberi usul juga tak bisa menemaninya.
Dan Taeyong tak mungkin mememinta Donghyuck dan Mark. Satu alasan pasti, Taeyong melihat Mark menyeret Donghyuck ke arah lapangan basket. Mungkin untuk menemaninya latihan. Taeyong tak ingin mengganggu keduanya.
Akhirnya Taeyong memutuskan untuk mengunjungi klubnya seorang diri.
Sebenarnya Taeyong sudah pernah sekali melewati ruangan klub fotografi. Tapi ruangan klub itu tampak gelap, sepertinya tidak ada kegiatan klub hari itu. Semoga saja hari ini ada salah satu anggota klub di ruangan sehingga Taeyong bisa bertanya-tanya mengenai klub.
Tentu mengabaikan ucapan Ten sebelum ia dan Sicheng pergi keluar kelas.
"Tunggu kami di perpustakaan seperti biasa, Tae. Jangan mengunjungi klub itu sendiri. Jangan pernah berpikiran sampai kesitu dan duduk manis di perpustakaan sampai salah satu dari kami datang menjemput."
Meski Taeyong senang saat teman-temannya peduli, tapi Taeyong bukanlah anak kecil lagi. Ia bahkan bukan yang paling muda, jadi ia bebas melakukan apapun seorang diri kan?
Taeyong memang tak tahu banyak soal fotografi. Tapi ibunya selalu senang mengabadikan setiap momen dengan kamera. Dengan begitu ia bisa melihat kembali dan mengenang momen itu. Meski para Vampir menganggap itu hal konyol. Karena kebanyakan dari mereka tak peduli dengan apa yang sudah terjadi. Toh mereka masih akan hidup lama kan, bukan mati esok hari?
Taeyong bisa melihat pintu ruangan klub fotografi yang berada di ujung lorong. Ia mempercepat langkahnya ketika melihat pintu itu sedikit terbuka. Itu artinya ada seseorang di dalam sana. Tampaknya Taeyong sedang beruntung.
Atau tidak?
TBC
.
.
Thanks for your reviews : dtime, tyngst, ExileZee, Park RinHyun-Uchiha, krystalizedjung, nanoni3, livanna shin, glowbeeugene, Yongyongieee, tehpoci, LDHLTY151, mybestbaetae, jisungswag, kyung, Guest(?)
Di chapter ini mungkin banyak yang belum keungkap. Seperti Han-ssi yang tiba-tiba gak dijelasin kenapa freak out kaya gitu. Di chapter-chapter selanjutnya pasti bakal keungkap satu-satu kok. Aku kaya nabung konflik, hehe. Again, thanks for reading and reviewing ^^
