The Awesome Family
.
.
.
Warning : AU, TYPO, OOC, GARING, GA JELAS, RANDOM, BAHASA RAKYAT.
.
.
.
Halo semua. Aomine Reika disini.
Putri dari keluarga Aomine ini sedang bergerumul menyendiri dikamarnya, memikirikan tentang bagaimana nasib Manga buatannya. Kalau kalian bertanya tentang kegiatannya saat ini, maka dengan mudahnya pertanyaan itu dapat dijawab. Ia tampak sedang menggambar sebuah Manga. Manga apa? Yaoi lha!
Tumbuh besar dan dididik di keluarga yang terdiri dari dua orang papa, membuatnya sangat terinspirasi untuk membuat Manga dari kisah kehidupan mereka. Apalagi kadang mereka suka romantisan tanpa sadar. 'Kan sang Fujoshi keluarga mereka bisa kena anemia dan jantung gara-gara ngeliat ke-so-sweet-an tersebut.
"Papa Ryoutaaaa." Panggil Reika.
Yang dipanggil menoleh pada si pembuat suara, "Ada apa, Reikacchi?"
"Aku mau bikin Manga, pa. Mau minta inspirasi ama papa."
"Wah, tumben sekali! Tenang saja, papa bakal membantu Reikacchi! Tapi…" merasakan ada hal yang janggal ayah berkepala kuning itu bertanya, "Reikacchi mau bikin Manga tentang apa?"
"Yaoi." Jawab Reika spontan.
"Yaoi itu… semacam Homo..'kan?"
"Iya, pa."
"YA AMPYUN, REIKACCHI. SEJAK KAPAN KAMU SUKA BEGITUAN?"
Mulai deh tabiat lebay papanya tercinta itu keluar.
"Sejak… Aku jadi anak papa..?"
"SEJAK LAHIR DONG?!"
Reika memutar bola matanya, bingung kenapa papanya bisa sebego ini. Mungkin otak papanya kurang beraktifitas.
"Ya, pokoknya gitu deh, pa. Makanya, coba ceritain pengalaman papa sama Papa Daiki."
" GA MAU! KAMU BIKIN MANGA TENTANG HOMO! PAPA MAU CERITA KALAU KAMU UDAH BIKIN MANGA YANG BENER!" kata Ryouta yang panik akan masa depan anaknya.
Tenang saja, Ryouta. Masa depan Fujoshi tidak suram kok. Lagian, Ryouta juga. HOMO ngomong HOMO.
"Pa, NGACA DULU DEH, baru ngomong." Sahut Reika mulai sensi.
Kata bermakna denotasi itu langsung terngiang sebaliknya dikepala Ryouta. Ia benar-benar mengambil sebuah kaca dan melihat bayangan dirinya didalam benda tersebut.
"Kamu ngapain suruh papa ngaca? Papa udah tahu kok kalau papa ganteng!" ujar Ryouta sewot.
Tahu ah, makan hati ngomong sama papa kayak gini.
"Papa Ryouta! Ceritakan kenapa papa mau sama Papa Daiki yang jelek ini?"
Pemuda berkulit gelap itu langsung menyambar pembicaraan kedua anggota keluarganya, "Enak saja! Kamu nggak tahu 'sih kalau Papa itu sebenarnya ganteng!"
"Terus? Kenapa sekarang papa jelek kayak usus sapi?"
"Maksudnya?" Daiki menautkan alisnya.
"Ya, kayak usus Sapi—Hitam, Jelek, Abstrak."
ANJIRRR. ANAK GA TAHU DIRI.
Tapi, kalau dipikir-pikir yang diucapkan putri keluarga Aomine itu ada benarnya juga.
Daiki hanya dapat mengelus-ngelus dadanya. Menahan amarah yang hampir ia muntahkan kepada putri tercintanya yang sangat polos—frontal.
"Seenaknya, ya! Masa' papa sendiri dibilang usus sapi! Muka asli papa itu sebenernya kayak boiben korea gitu!"
"Terus sekarang kok bisa sehancur ini?"
JLEB. NANCEPPP. FRONTAL AMAT.
"Reika, kalau kamu sekali lagi ngomong kayak gitu, papa kutuk kamu jadi batu." Sahut Daiki sambil memberikan sorotan tajam kepada putrinya itu.
Reika bergidik ngeri. Ia tentu masih ingin menjalani kehidupan yang manis dan dipenuhi ehem-homo-ehem. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin lebih baik dikutuk jadi batu dibandingkan dikutuk menjadi usus sapi sejenis ama papanya.
"Muka papa jadi kayak gini soalnya—
—Operasinya gagal."
'Dakinya sih ketebelan, makanya mukanya juga susah buat dibentuk.' Batin Reika
BLETAKKK!
"Adaww! Papa Daiki ngapain pukul kepalaku?!"
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, jadi sebaiknya kuperingatkan kau terlebih dahulu sebelum mengucapkan kata tabu—daki—itu. "
Cih. Ternyata dia tahu pikiran Reika. Ga bisa dinistain diam-diam lagi deh.
"Emangnya Daikicchi pernah operasi pelastik? Bohong. Seumur-umur duit dikumpulin juga cuma buat beli majalah porno." Sahut Ryouta sinis.
"Hah? Enak saja! Kau masih tidak tahu alasan aku ngumpulin duit?"
"Apa? Untuk makan? Hidup? Ngerokok? Majalah porno? Bayar listrik dan air ledeng? Judi Bola? Beli narkoba? Sewa cewek?"
ASTOGEH RYOUTA. ASUMSINYA GA ADA YANG LEBIH BAGUS APA? APALAGI YANG PALING TERAKHIR.
"Cih. Kau belum tahu ternyata. Aku itu ngumpulin duit, buat membahagiakanmu." Kata Daiki sembari mengecup singkat bibir Ryouta.
Yang lain hanya merona melihat aksi yang dilakukan suaminya tercinta. Dan mahluk berjenis hawa satu-satunya di keluarga itu hanya berbinar-binar sembari kalang-kabut mencari tissue untuk menghentikan pendarahan dari hidungnya.
"DA-DA-DA-DAIKICCHI! ADA REIKACCHI! JANGAN CIUM-CIUM SEMBARANGAN." Katanya sembari mendorong wajah Daiki agar menjauh darinya.
"Biarkan dia melihat. 'toh katanya nyari refrensi atau inspirasi 'kan?" kata Daiki sembari tersenyum nakal.
"Betul itu, papa! Tumben papa mengerti Reika!" katanya sembari menaikkan ibu jarinya.
"DAIKICCHI! KALO DAIKICCHI LANJUTIN, ENTAR BAKAL AKU GUGAT CERAI!"
"Halah, paling nanti abis cerai kamu nangis-nangis terus minta nikah lagi." Kata Daiki yang sudah siap untuk menurunkan celana yang dikenakan Ryouta.
"DAIKICCHIII!"
Reika hanya ngikik sendiri. Rasanya bahagia sekali mendapat refrensi tanpa perlu maksa sampai musti gosokin daki papanya itu biar hilang.
PLAAKKK!
Sebuah tamparan kuat dari Ryouta dilayangkan ke Daiki.
"DAIKICCHI JANGAN MACEM-MACEM DI DEPAN REIKA! DIA MASIH DI BAWAH UMUR!"
"Apaan 'sih. Aku 'kan cuma mau membuktikan saja."
"BUKTIIN APANYA COBA! MESUM-SSU! DAIKICCHI PIKIRANNYA CUMA PUSAR KEBAWAH AJA!"
"Tapi, aku cuma mikir begitu kalau sama kamu."
"ARGHHHHHHHH." Teriak Ryouta, depresi. Mungkin dia lelah dengan tingkah laku suaminya yang mikirnya begitu saja.
"Interupsi!" Teriak Reika.
Kedua orangtuanya serentak menoleh dan menjawab, " Kenapa, Reika/Reikacchi?".
"Aku mau tanya!" sahutnya dengan semangat.
"Mau tanya apa-ssu?"
"Aku mau tanya, bagaimana posisi Papa Ryouta sama Papa Daiki pas melakukan 'ITU' ?" tanyanya tanpa dosa.
ANJRIT REIKA BUKANNYA BANTU RYOUTA GANTI TOPIK MALAH PANAS-PANASIN SAJA.
-xxxx-
Setelah mendapat jurus Kamehameha(?) dari Ryouta, Daiki pun hanya bisa tersungkur dengan babak belur dipinggir sofa.
"Kok kamu tega begitu 'sih sama aku? Aku 'kan cuma menunjukan kasih sayangku padamu, Beibs." Jawab Daiki dengan nada alaynya sembari mengusap perutnya yang menjadi korban seorang Aomine Ryouta.
Ew. Geli banget ya, udah ngomong aku kamu, pake "Beibs" lagi. Ew.
"Habisnya, Aominecchi yang mulai duluan-ssu!" jawab Ryouta. "Dan hentikan panggilan 'beibs' yang menggelikan itu! Dasar Polisi Alay!" sahut Ryouta.
"Kalau Reika ga boleh tanya soal 'ITU', Papa Daiki gombalin Papa Ryouta dong." Sahut Reika bersikukuh.
Daiki langsung menengok ke arah Ryouta, dan Ryouta hanya menghela nafas sembari memberikan pandangan 'buruan turutin apa yang dia mau biar cepet kelar'. Dan dibalas dengan tatapan 'oke' dari Daiki. Gombalan merupakan hal yang mewarnai kehidupan Daiki. Ia tidak akan pernah lelah atau bosan menggombali Ryouta.
"Ehem." Buka Daiki. "Ryouta, kamu tahu ga kenapa aku kerja sebagai polisi?"
"Emang kamu polisi? Bukannya satpam?" jawab Ryouta yang sepertinya masih sensi gara-gara Daiki mencemarkan pikiran anaknya(?).
Daiki frustasi.
"Argh. Jawab ajah!"
"Aku ga tahu, emangnya kenapa?"
"Supaya aku bisa memenjarakanmu di hatiku." Daiki tersenyum seperti waktu dia SMP.
Ah, jujur. Senyuman itu merupakan titik yang paling menggemaskan yang dimiliki seorang Aomine Daiki. Senyum yang merengut hati seorang Kise Ryouta—yang sekarang telah berganti menjadi Aomine Ryouta. Senyum yang dimilikinya kala kepolosannya merajalela waktu SMP.
Tapi, tetap saja. Ryouta adalah tipe pria yang tidak mau kalah. Ia tidak akan membiarkan Daiki mengalahkan perasaan kesalnya kali ini.
"Daikicchi…" panggilnya.
"Iya?"
"Tahu ga apa bedanya kamu sama Cheese Cake?" Ah. Kali ini Ryouta membedakan suaminya dengan makanan penutup kesukaannya.
"Apa?"
"Kalau Cheese Cake 'tuh enak."
"Kalau aku?" tanya Daiki dengan suara yang berharap ia akan mendapatkan pujian manis dari Ryouta.
"Kalau kamu enggak."
JLEB. SAKITNYA NTUH DI SINI NIH.
"Ih! Papa kok tega gitu sih! Kasian 'tuh si Papa Daiki!" sahut Reika sembari nunjuk-nunjuk papa gelapnya yang kejang-kejang mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya(?) tercinta.
"Udah biarin aja. Oh, iya-ssu. Bagaimana kalau—"
BRAKK.
Suara pintu memecah keheningan.
"Tadaima." Ucap suara puber remaja laki-laki. Segeralah ia beranjak dari sana menuju Ruang Tamu. Tempat dimana seluruh keluarganya berkumpul.
Kepala keluarga Aomine yang tadi terjangkit kejang langsung menoleh kearahnya.
"Akhirnya lu pulang juga ya, tuyul." Sapa Daiki pada Ryouki.
"Enak ajah! Gue ga botak, dasar bokap bejat!"
"Tapi, lu 'kan suka keluyuran kayak tuyul. Manalagi kadang bajunya kotor kayak babi ngepet abis nyusruk. Dan gua cuma bejat sama papamu doang,yul!"
"Bodo amat mau bejat sama siapa! Pokoknya Papa tetep bejat! Udah bejat, gelap lagi! Makanya aku jadi gelap gini kulitnya!"
"Hush, Aniki ga boleh gitu, papa itu ga gelap, cuma item lecek ajh."
JLEB.
"Ah, Reikacchi juga ga boleh gitu, papa kamu ga item lecek. Dia tuh. Putih. Putih dongker."
JLEB.
Hadeh, suram amat hidup lu, Daiki. Dinistain ama sekeluarga.
-TBC?-
A/n : Setelah sekian lama akhirnya Kai update juga :")
Betewe this is some reply~
RaniRii, Overact, San, Ruki-chan SukiSuki'ssu; Sangkyuu for the review QwQ Here is the chapter yang udh lama ga apdet", sorry for the long waiting :"
MocchanTheZombie; Sangkyuu for the review! Iyah, Kai juga butuh banyak asupan AoKise saat ini :") mudah-mudahan ini cukup memuaskan hasrat Aokisemu nak(?) / dibuang
AoKi; Sangkyuu for the review! Lanjutannya bakal mayoritas AoKise, tapi Kai emang niat buat nyisipin pair lain, kayak NijiHai :3 Kalau mau rikues silahkan~ Kai juga lagi membutuhkan pair yang pas buat lanjutin fic ini w)/
Shizuka Miyuki; Sangkyuu for the review! Ahh, sayang banget plot-ku langsung ketahuan(?) /plek, kita sehati beuts, aku waktu bikin fic ini mau nistain si Aokise terus kamu ngereview gitu, ohmaigat kita sehati 3 /dibuang
Yuma; Sangkyuu for the review! aww, emangnya mau endingnya gmana :"3 ? Please give Kai some advice 3
Gommen ya kalo fic ini lebih ringkes dibanding yang sebelumnya, tangan Kai lagi mager (males gerak) mana lagi otak juga lagi mentok buat lanjutin ceritanya :")
Please give Kai some review, favorites and follow to make Kai update faster than before w )/ /dibuang
Thnx for reading! Love you readers~ xDDDD
