SUMMARY:
Hidup Jinyoung berada dalam persimpangan yang rumit. Jika ia salah memilih, sudah pasti ia akan tersesat. Mark adalah rumah yang menawarkan cinta tulus dan kenyamanan tanpa syarat, sedangkan Jaebum adalah istana dengan kerikil tajam di sepanjang jalan setapak yang siap merobek kaki-kaki kecilnya.
THE STORY BEGIN
Seorang gadis cantik sedang sibuk menyemprot bunga-bunga di tokonya agar selalu tampak cantik dan segar, secantik dan sesegar dirinya. Gadis itu memakai sleeveless A-line dress warna peach selutut yang dipadu dengan pump shoes warna senada membuatnya terlihat secantik bunga-bunga di tokonya. A-line dress dan gaun dengan desain simpel yang lainnya adalah signature style-nya, omong-omong. Dengan kata lain, ia selalu mengenakan dress selutut hampir setiap hari dan ia selalu bisa membuat variasinya untuk empat musim di Korea. Oh,juga jangan lupakan rambut hitam lebat berpotongan classic long bob sebahunya yang digelung dengan model chignon sedikit berantakan membuatnya semakin terlihat menawan sekaligus menggemaskan.
Gadis itu memiliki segala kesempurnaan ragawi. Tubuh semampai yang sedikit berisi dengan perut rata serta dada dan bokong yang tak terlalu besar namun kencang, kulit putih langsat semulus porselen yang bersinar sehat, kaki jenjang mulus nan menggoda, dan jangan lupakan leher jenjangnya yang hampir selalu terekspos -karena gaya rambut chignonnya- membuat para lelaki menahan napas selama beberapa detik. Dan wajahnya? Jangan ditanya! Ia memiliki wajah oval yang sempurna dengan mata yang berbinar indah, hidung kecil yang cantik, serta bibir menawan yang membuat siapapun ingin mencicipi sensasinya. Dia benar-benar sebuah mahakarya, menurut pendapat banyak orang.
Dan itu merupakan salah satu alasan mengapa banyak sekali pria yang rela mendatangi tokonya secara langsung untuk membeli bunga alih-alih memesan via telepon ataupun website Noona Florist -nama toko bunga miliknya- , karena di toko itu terdapat seorang dewi yang menyaingi kecantikan Aphrodit yang melegenda yang membuat mereka rela mengantri demi menikmati keindahan karya seni yang nyata dan hidup berwujud seorang gadis cantik nan anggun.
Ya, gadis itu adalah Park Jinyoung. Biasa dipanggil dengan nama Jie. Gadis cantik pemilik Noona Florist yang terkenal di Seoul. Tokonya sudah memiliki banyak pelanggan tetap seperti wedding organizer, rumah produksi, interior designer, kafe, restoran, hotel, perusahaan-perusahaan, orang-perorangan, hingga stasiun televisi yang hampir setiap hari membutuhkan bunga dari tokonya untuk berbagai acara yang mereka adakan. Yang salah satu dari mereka adalah acara musik mingguan yang selalu memesan buket bunga dari tokonya untuk diberikan kepada pemenang polling di acara tersebut. Sebut saja MusicWorld, acara musik yang diproduseri oleh Mark Tuan, kekasih Park Jinyoung.
Seorang pria bertubuh jangkung berpakaian gaya street style dengan paduan jaket hoody berwarna creme yang ditumpuk dengan jaket jeans dan celana jeans berpotongan lurus warna hitam serta disempurnakan dengan sepatu keluaran Pierre Hardy warna hitam yang terlihat sangat keren, memasuki Noona Florist yang membuat beberapa lelaki yang mengantri disitu mendesah kecewa. Tentu saja perilaku mereka membuat Jinyoung menahan senyum gelinya, bagaimana pun ia sangat tahu mengapa mereka bersikap seperti itu karena Mark lah penyebabnya. Pria itu tanpa canggung langsung mendatangi Jinyoung lalu mencium pipi dan memeluk pinggangnya dari samping yang membuat pria-pria genit disitu iri setengah mati.
Setelah bercakap-cakap selama beberapa saat, Jinyoung menyandang baguette bag warna hitam di pundaknya lalu pergi bersama Mark, yang lagi-lagi membuat para pria itu mendesah kecewa kemudian ikut keluar dari toko bunga itu. Asal tahu saja, beberapa dari mereka memang sengaja kesana bukan untuk membeli bunga, melainkan hanya untuk melihat bunga yang bernama Jinyoung.
Jinyoung menyandarkan punggungnya di jok mobil Ford New Focus Sport milik Mark. Ia membuka tatanan rambut chignon-nya kemudian mendesah lega sambil memejamkan mata.
Mark yang melihatnya hanya tersenyum kecil sambil mengacak gemas rambut Jinyoung.
"Ah! Aku lega sekali." Ujar Jinyoung membuka percakapan." akhirnya aku terbebas dari pria-pria iseng itu." Desahnya lega sambil menyisiri rambutnya yang berantakan karena ulah Mark.
Mark tersenyum manis lalu mencubit gemas pipi Jinyoung." Salahkan wajahmu yang kelewat sempurna itu, Babe," kata Mark sambil menjalankan mobilnya." Dan sebaiknya kau tidur, karena perjalanan dari Seoul ke Incheon membutuhkan waktu satu jam."
Jinyoung tak mengindahkan perintah Mark, ia malah membuka mini cosmetic case-nya untuk mengambil pressed mineral powdernya kemudian membubuhkannya ke wajahnya sambil berceloteh,"Aku harus terlihat cantik kan saat bertemu dengan adikmu? Aku tak mau mempermalukanmu, Oppa." Katanya manja dengan masih berfokus pada riasan di wajahnya.
Mark mengerang lalu menoleh sebentar,"Kau itu sempurna Babe, sem-pur-na, bahkan Yi En tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu." Katanya-
"Gombal," Sahut Jinyoung.
Lalu gadis itu berkata panjang lebar dengan nada sarkastik."Lagipula mana mungkin aku menang melawan saudara kembarmu yang katanya mirip denganmu itu? Dia pasti sangat cantik.. oh tentu saja karena dia identik sekali denganmu, kau kan tampan sekali, omong-omong. Dan jangan lupakan semua barang yang menempel di tubuhnya, pasti harganya selangit dan dia akan terlihat seperti butik berjalan,"
Mark baru akan membuka mulutnya untuk menyanggah tetapi Jinyoung sudah memotongnya," aku pasti akan minder. Dan aku tak ingin terlihat terlalu buruk di depannya, Oppa."
"Ya.. ya.. lakukan saja. Wanita dimana pun sama saja." Mark mengendikkan bahu tanda menyerah atas kecerewetan Jinyoung dan Jinyoung yang tak terima, tiba-tiba memukul lengan atas Mark dengan keras yang membuat pria setampan malaikat itu tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil menggoda kekasihnya yang sensitif.
.
Jinyoung selesai berdandan tepat ketika mobil Mark memasuki kawasan Incheon setelah berhasil melewati jembatan panjang yang menghubungkan Seoul dan Incheon menuju kawasan bandara. Dan sesampainya ia di bandara dan turun dari mobil Mark, ia menggamit lengan pria itu kemudian mereka berjalan bersama sambil mengobrol akrab dan sesekali tertawa bahagia.
.
Mereka menunggu saudara kembar Mark beserta tunangannya di terminal kedatangan bandara Incheon.
.
Jinyoung masih menggamit mesra lengan Mark, omong-omong. Tujuannya terselubungnya sih agar ia bisa berbagi beban tubuh dengan Mark jadi kakinya tak terlalu pegal, karena memakai pump shoes membuat kakinya sedikit pegal. Apalagi mereka menunggu sambil berdiri karena semua tempat duduknya penuh.
Setelah kurang lebih sepuluh menit menunggu, akhirnya yang dinanti datang juga.
Gadis sangat cantik dan imut yang terlihat sangat berkelas dan glamour, dengan rambut ikal panjang berwarna pirang, kulit putih pucat semulus porselen, tubuh langsing yang seksi, dan pahatan wajahnya yang sempurna, seperti Mark. Benar-benar sangat mirip. Oh dan jangan lupakan crepe sleeveless keluaran Marc Jacob warna hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna seolah gaun itu memang diciptakan khusus untuknya, peep toe shoes warna peach keluaran Manolo Blahnik yang membuat kaki jenjangnya terlihat begitu sempurna, dan tas tangan Prada Saffiano berwarna senada dengan sepatu yang membuatnya benar-benar terlihat seperti butik berjalan.
Jinyoung benar-benar dibuat terpana oleh penampilan Yi En. Dan dia lebih terpana lagi ketika melihat cara berjalan Yi En yang tampak seperti model runaway profesional. Sedangkan Mark hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli.
Wanita memang selalu iri dengan penampilan wanita lain.
Dan setelah gadis bernama Yi En itu sampai di hadapan mereka, Mark langsung memeluknya erat bahkan mengangkat-angkat tubuh langsing itu hingga membuat gadis itu memukul-mukul kepala Mark karena malu. Jinyoung hanya bisa tersenyum geli melihat kedekatan mereka.
Setelah melepas pelukannya dari Mark, gadis cantik itu tiba-tiba memeluk ringan Jinyoung, lalu berkata blak-blakan tanpa intro." Kau pasti Jinyoung yang selama setahun ini selalu diceritakan oleh Mark kepadaku." Todongnya.
"A-Apa?" Dan Jinyoung hanya bisa terkejut mendengar pertanyaan -yang lebih tepat disebut sebagai pernyataan- itu.
Lalu Mark berinisiatif untuk memperkenalkan Jinyoung,"Ah, ya dia-"
"Sayang, kenapa kau meninggalkanku? Untung kau tidak tersesat."
Tiba-tiba jantung Jinyoung terasa berhenti berdetak. Ia pasti limbung jika saja Mark tak memeluk pinggangnya sejak ia akan diperkenalkan pada Yi En tadi.
'Suara itu.. wajah itu.. Jaebum Oppa.. apa itu benar-benar kau?'
Jinyoung tak berani menatap pria yang sekarang memeluk pundak Yi En dengan mesra itu. Pria itu belum juga menyadari keberadaan Jinyoung karena ia sibuk menceramahi Yi En sambil membenahi poni rambut gadis itu yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali.
"Maaf sayang, oh iya, perkenalkan dia pacar Mark Oppa." Kata Yi En sambil mengarahkan tangannya ke arah Jinyoung yang mau tak mau membuat tunangannya -Jaebum- ikut mengarahkan pandangan dan tangannya ke arah Jinyoung untuk bersalaman. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa kekasih Mark yang diperkenalkan oleh tunangannya.
Park Jinyoung yang selama tujuh tahun ini tak pernah bisa menghilang dari pikirannya.
Terlebih ia terpana melihat penampilan Jinyoung yang sekarang. Kemana perginya kaos polos dan jaket varsity itu? Dan juga celana jeans beserta sepatu sneakers-nya?
Jaebum menelan ludah.
Pandangan mereka bertemu kemudian Jaebum berusaha menetralisir jantungnya yang hampir meloncat dari rongganya itu secepat mungkin, kemudian dia mengulurkan tangannya kepada Jinyoung sambil tersenyum." Aku Im Jaebum, senang berkenalan denganmu." Katanya dengan nada sedikit canggung.
Jinyoung mendongak menatap Jaebum kemudian dia mengulurkan tangan diiringi senyuman yang dipaksakan." aku Park Jinyoung."
.
Jaebum dan Jinyoung sama-sama terdiam sementara Yi En dan Mark mengobrol akrab sambil berjalan menuju parkiran. Jaebum masih memeluk pundak Yi En dari samping, sedangkan Mark memeluk pinggang Jinyoung dengan mesra. Mereka tak perlu bersusah payah membawa koper, karena enam koper yang membuat mereka terkena denda ratusan dolar karena overweight itu, dibawa oleh porter menuju mobil Mark.
.
Jinyoung masih saja terdiam meskipun sudah berada di dalam mobil Mark. Sedangkan Mark yang menyadarinya, akhirnya menggenggam tangan Jinyoung dengan lembut sambil bertanya," Kau kenapa, Babe? Apa terjadi sesuatu?"
Jinyoung menatap wajah Mark dengan raut wajah sendu. Ia merasa bersalah karena ia belum benar-benar mencintai Mark. Ia merasa bersalah karena jantungnya masih berdetak kencang ketika melihat Jaebum kembali, dan ia merasa bersalah karena Mark begitu baik kepadanya.
Kemudian Jinyoung mencium tangan Mark yang menggenggam tangannya," aku baik-baik saja, Oppa," katanya sambil tersenyum."Kita berangkat sekarang?" Tawarnya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Dan Mark tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena sikap Jinyoung yang sangat manis kepadanya, karena jujur saja, mereka -lebih tepatnya Jinyoung- sangat jarang bersikap manis seperti itu.
Sementara perilaku mereka mendapat sorakan kekanakan dari Yi En, Jaebum justru mendengus di dalam hatinya. Ia benar-benar tak menyukai pemandangan itu. Ia merasa sangat cemburu, karena dia memang masih mencintai Jinyoung meskipun sudah tujuh tahun mereka tak saling bertemu dan berkomunikasi.
Sesampainya mereka di Seoul, mereka langsung menuju kafe untuk sekedar mengobrol sekaligus mengisi perut yang sudah kelaparan.
Mereka duduk berhadapan di sofa panjang dekat jendela, dengan Mark dan Jinyoung duduk berdamping, begitu juga dengan Yi En dan Jaebum. Dan jangan lupa, posisi duduk Jinyoung langsung berhadapan dengan Jaebum membuat mereka semakin canggung.
Yi En membuka percakapan setelah meminum sedikit signature chocolate hazelnut-nya," Jadi, bisa kalian jelaskan padaku awal mula kalian bisa saling mengenal?" katanya santai sambil menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Jaebum.
"Bukankah sudah kuceritakan dari dulu? Aish kau ini-" kata Mark malas namun buru-buru dipotong oleh Yi En," Maksudku versi Jinyoung."
Jinyoung mendongak menatap Yi En, saat ia hampir membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan gadis itu, Mark sudah terlebih memeluk pundaknya kemudian mengatakan awal mula pertemuan mereka dengan runtut dan detail.
.
Waktu itu acara musik mingguan yang diproduseri oleh Mark sedang tapping, dan bunga yang dipesannya tak jadi dikirim karena ada kendala internal di florist langganannya. Tiba-tiba saja salah seorang technical crew menunjukkan website Noona Florist yang ternyata milik Jinyoung. Mark menyetujui untuk menggunakan florist itu untuk sekali saja demi kelancaran program yang dipimpinnya. Dan ia benar-benar memutuskan untuk terus berlangganan bunga pada florist itu sejak ia melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang gadis cantik yang memakai wrapped dress warna burlywood dengan tas selempang dan sepatu ballet yang membuatnya tampak begitu anggun bak seorang dewi, yang mengantar buket bunga yang dipesan Mark ke studio MusicWorld.
Ia sengaja menabrak gadis itu agar bunga yang dibawanya jatuh sehingga dia bisa menolongnya. Dan sejak itulah, dia sering berkunjung ke florist milik Jinyoung untuk melakukan pendekatan. Dan usahanya selama tiga bulan itu tak sia-sia, Jinyoung menerimanya sebagai kekasih saat pria itu menyatakan cinta di backstage yang disaksikan oleh para idol pengisi acara –yang sengaja dimintai bantuannya oleh Mark- waktu itu.
.
"Norak sekali."
Komentar pedas itu berasal dari mulut Yi En yang membuat Jinyoung melupakan sejenak rasa canggungnya kemudian tersenyum geli sambil menepuk-nepuk sayang bahu Mark. Sedangkan Mark hanya mendengus kesal.
Saudara kembarnya itu memang seseorang yang sangat blak-blakan, sungguh bertolak belakang dengan karakternya yang pendiam dan cool. Namun saat ia hanya berdua saja dengan Jinyoung, ia akan menjadi orang yang sangat cerewet melebihi ibu-ibu hamil yang minta perhatian suami. Ya, itu semua karena ia merasa sangat nyaman dengan Jinyoung.
"Oh ya Jie, kudengar Mark ini pacar keduamu?" tanya Yi En penasaran.
Mark yang melihat Jinyoung kebingungan untuk menjawab pertanyaan frontal dari saudara kembarnya itu akhirnya menengahi," Maksud Yi En, apakah benar kalau kau hanya berpacaran satu kali sebelum berpacaran denganku.. begitu, Babe." Kata Mark sambil mengusap lembut rambut Jinyoung.
Kalimat Mark itu berhasil membuat Jaebum tersedak Americano-nya, karena, hell, Mark mengatakan kalimat itu saat ia sedang minum,dan untungnya dia masih bisa bersikap cool seolah tak terjadi apa-apa.
Jinyoung tak juga menjawab, ia malah meminum matcha latte-nya dengan santai seolah dia tak punya tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan Yi En. Dan lagi-lagi Mark yang turun tangan.
Ia meminum matcha Latte-nya kemudian mengatakan," Jie bilang dia hanya berpacaran satu kali waktu SMA, benar kan, Babe?" tanyanya sambil menatap mesra wajah Jinyoung dan Jinyoung hanya mengangguk ragu, lalu pria itu melanjutkan," Mantan pacarnya bernama Brian Kang."
Yi En mengangguk mengerti lalu menyendokkan marble cinnamon chocolate cake ke dalam mulutnya. Sedangkan Jaebum lagi-lagi tersedak, kali ini tersedak ludahnya sendiri.
"jadi selama ini aku sama sekali tak dianggap sebagai mantan pacarnya? Sialan!" batin Jaebum frustasi.
Jinyoung tak ingin terlibat terlalu lama dalam situasi yang tidak mengenakkan itu, maka,"Err.. Oppa, bisakah kita pulang sekarang? Aku sangat lelah." Kata Jinyoung sambil memegangi lengan Mark agar Mark mau segera mengantarnya pulang.
Dan akhirnya Mark mengantar Jinyoung pulang ke apartemennya kemudian membawa Jaebum dan Yi En menuju apartemen miliknya.
.
Selama perjalanan pulang, Jinyoung hanya diam saja tanpa mempedulikan Mark. Bahkan hingga mereka sampai di apartemen Jinyoung, gadis itu tetap tak bergeming bahkan tak mengucapkan selamat malam kepada Mark maupun kepada Jaebum dan tunangannya.
Hari ini sungguh hari yang melelahkan bagi tubuh –dan juga hatinya-, dan ia yakin setelah ini hidupnya akan terasa sulit lagi, karena kehadiran seorang Im Jaebum, pria yang sampai saat ini masih menghuni salah satu ruang di hati Jinyoung, yang menghalangi Mark untuk bisa masuk sepenuhnya ke dalam hatinya.
Mereka bertiga sampai di apartemen Mark. Yi En langsung mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tengah apartemen Mark dan menyandarkan kepalanya sambil mendesah lega. Jaebum duduk agak jauh dari gadisnya dan asik dengan kesibukannya sendiri –mencari infomasi tentang Jinyoung via Safari di iphone 6+ miliknya-. Sementara Mark pergi ke dapur untuk mengambil minuman kaleng untuk mereka bertiga.
Lalu Mark duduk di sebelah Yi En sambil membuka kaleng cola-nya lalu meminumnya kemudian nyeletuk," Kenapa kalian merepotkanku? Bukankah kalian orang yang kaya raya sehingga tak perlu repot-repot menumpang di rumah orang?" Dia meminum kembali cola-nya kemudian menambahkan,"Kalian benar-benar merepotkan."
Yi En menoleh ke arah Mark di sampingnya dan tersenyum imut lalu menjawab dengan nada yang tak kalah imut," Interior apartemen kami belum di desain, Oppa."
"Kau hanya perlu menyewa jasa desainer interior di Korea sebelum datang kesini, sebenernya." Jawab Mark tak santai.
Yi En mencebik lalu menarik napas dalam, kemudian memulai ceramahnya," Oppa, kau tahu pasti bahwa aku lebih suka mendesain dengan tanganku sendiri, karena itu lebih memuaskan bagiku. Kau bahkan sangat tahu alasanku mengambil kuliah double degrees di jurusan managemen bisnis dan desain interior dalam waktu yang bersamaan, dan, ya, aku tak mau menyia-nyiakan kuliahku di jurusan desain, omong-omong." Pungkasnya sambil mengendikkan bahu.
Jaebum tak bergeming melihat perdebatan mereka, membuat Mark kembali berceloteh."Lalu kenapa tunanganmu itu serius sekali memainkan ponselnya? Sepertinya dia sedang mencari gadis Korea." Godanya dengan seringai usil pada Yi En.
Yi En hanya tersenyum masam sambil menyikut perut Mark, dia tak mau menanggapi, bahkan mulai mencari topik pembicaraan baru.
Gadis itu melihat sekeliling ruangan apartemen Mark, dan dia menemukan hal-hal kecil yang menarik perhatiannya. Ada beberapa bingkai kecil yang menempel di dekat televisi raksasa milik Mark yang isinya foto-foto Mark bersama dengan Jinyoung. Foto-foto yang terlihat manis dan penuh cinta. Bahkan hanya dari foto-foto itu saja, Yi En bisa menilai bahwa Mark begitu mencintai Jinyoung, meskipun pria tampan berwajah malaikat itu dulunya adalah playboy kelas kakap yang sangat gila wanita, namun sekarang –pada faktanya- Jinyoung lah yang berhasil membuatnya bertekuk lutut tanpa syarat. Bahkan Yi En tak habis pikir mengapa Mark membiarkan ornamen yang terkesan feminim itu mengganggu apartemennya yang biasanya selalu terkesan maskulin dengan cat pastel warna gelap dan furniture yang sangat manly. Tetapi sekarang apartemen kakak kembarnya itu tak lagi terkesan terlalu maskulin, karena ada saja foto atau barang-barang yang manis di setiap sudut ruangan, dan juga bunga tulip asli warna putih yang bertengger manis di meja ruang tengahnya.
'Ini semua pasti ulah Jinyoung.' pikir Yi En praktis.
"Oppa, desain apartemenmu bagus juga." Celetuk Yi En sambil mengambil setangkai bunga tulip putih dari vas-nya yang berasal dari kaca bening tinggi berbentuk prisma.
Mark menjawab sambil mengambil bunga itu dari tangan Yi En lalu mengembalikannya ke dalam vas," Jinyoung yang mendesain ini semua," katanya ringan lalu melanjutkan,"dia berbakat kan?"
Lalu Yi En menyandarkan kepalanya di bahu Mark," Ya, tapi tak sebaik desainku."
Kemudian Mark mengacak gemas rambut Yien," Tentu, karena dia bukan lulusan desain sepertimu, dia itu lulusan Ilmu Hukum, jika kau ingin tahu."
"Lalu kenapa dia malah membuka florist?" tanya Yi En penasaran dengan tampang imut dan mata berbinarnya.
Mark terkekeh sambil mencubit hidung mancung adiknya dengan gemas," Karena itu adalah passionnya. Dia masuk jurusan Hukum karena kesasar. Jadi selama kuliah, dia mendalami desain dan juga industri bunga."
"Ah, pantas saja kau jatuh cinta padanya, dia benar-benar gadis yang hebat." Puji Yi En tulus.
Jaebum yang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh tunangannya itu langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah kakak adik kembar identik itu. Sedangkan Mark yang merasa pembicaraan sudah selesai, menyuruh mereka untuk tidur di kamarnya. Sedangkan dia mengalah untuk tidur di sofa, toh sofa baru pilihan Jinyoung memang sangat nyaman untuk dijadikan tempat tidur.
Jaebum mengamati isi kamar Mark saat Yi En sedang pergi mandi. Dan hal pertama yang ditemukannya adalah pigura raksasa yang menempel di atas kepala ranjang. Pigura itu membingkai sebuah foto yang sangat artistik. Di foto bernuansa hitam putih itu, terdapat Jinyoung yang berbaring sambil tersenyum nyaman sedangkan Mark menindihnya sambil mencium kening Jinyoung dengan penuh cinta. Foto itu diambil hanya sebatas leher Jinyoung dan dada Mark, karena memang hanya berfokus pada ciuman manis di kening Jinyoung dan sepertinya mereka berdua tidak memakai baju, atau entahlah, Jaebum tak bisa mendeskripsikannya, karena seni memang tak bisa didefinisikan. Tapi yang pasti foto itu terkesan sangat romantis dan manis, serta tak terkesan vulgar sama sekali.
Jaebum mengagumi foto itu, dan merasakan cemburu di saat yang bersamaan.
Karena tak tahan melihat foto itu terlalu lama, akhirnya Jaebum memutuskan keluar dari kamar menuju ruang tengah sambil menunggu Yi En selesai mandi. Dan tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia mendengar Mark sedang menelepon seseorang sambil berbaring di sofanya. Meskipun tak tahu siapa peneleponnya, namun Jaebum berani memastikan bahwa itu adalah Jinyoung, karena nada bicara Mark yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya Babe, mereka tidur di kamarku, dan aku tidur di sofa yang kita beli minggu lalu, rasanya sungguh nyaman."
"Apa kau yakin tak mau mengantar bunganya sendiri?"
"Aku benci mengatakannya, tapi besok ada DAY6 dan Winner."
"Oh Jie-ku yang paling cantik sedunia, besok aku pastikan kau bisa berfoto dengan mereka jika kau mau mengantarnya sendiri."
"Tentu saja aku ingin memamerkanmu, karena semua orang harus tahu kalau kau hanya milikku."
"Besok aku tunggu di lobi, jangan masuk ke studio sendirian, aku tak mau mata genit mereka menatapmu terlalu lama. Oke?"
"Baiklah, bye Babe, aku sangat mencintaimu!"
Obrolan mesra Mark itu membuat Jaebum tak tahan lagi. Akhirnya dia kembali ke kamarnya dan tidur dengan cara membungkus dirinya dengan selimut. Ia benar-benar kesal dan cemburu berat.
To Be Continued
Did this fanfic still worthy to be continued?
Review, Please.
.
MIND TO REVIEW?
Terima kasih untuk yang review, fav, and follow.
Keep in touch! *smooch*
Sincerely,
.
Salvia Im
