KRIIING KRIIING KRIIING

Luhan terbangun dari tidurnya karena lengkingan suara jam weker itu. Ingin rasanya ia membanting benda menyebalkan itu. Dengan lesu, tangannya meraih benda mungil tersebut dan segera menekan tombol 'OFF' tepat di bagian belakangnya.

Kedua mata hazelnya yang sedari tadi tertutup kini terbuka dengan lebar ketika ia menatap posisi jarum jam weker itu. Buru-buru Luhan beranjak dari kasur dan meraih handuk, lalu menuju kamar mandi.

"RUSA JELEK! KAU LAMA SEKALI! CEPAT TURUN! AKU SUDAH TERLAMBAT!"

"BISAKAH KAU TIDAK BERTERIAK SEPERTI ITU, ALBINO?! TUNGGU SEBENTAR!"

"AKU SUDAH MENUNGGUMU SETENGAH JAM! CEPAT LAH XI LUHAN!"

"IYA SEBENTAR, SHIXUN! PANGGIL AKU GEGE DASAR ANAK KECIL TIDAK TAU SOPAN SANTUN!"

Tak lama muncul seorang laki-laki yang tengah menuruni tangga. Melihat kakaknya sudah turun, anak laki-laki yang sedari tadi berteriak tersebut berjalan menuju pintu rumahnya. Walaupun sudah tahu dia akan telat, Luhan masih sempat-sempatnya menyambar roti sarapan pagi yang sudah tergeletak di meja makan.

"GEGE CEPAT! MAKANNYA DI MOBIL SAJA! SHIXUN SUDAH TERLAMBAT! " Anak berseragam SMP itu tiba-tiba sudah ada di sebelah luhan dan kembali berteriak ketika melihat kakaknya dengan santai memakan roti.

"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut sekali?" sosok pria muncul tiba-tiba.

"Lihat baba, rusa jelek itu lama sekali," adu Shixun kepada ayahnya itu.

"Dasar tukang ngadu," ejek Luhan dengan mulut penuh roti.

"Sudah-sudah. Kalian ini sudah besar tapi masih saja bertengar. Luhan, sarapan dan pakai sepatunya di mobil saja," ceramah ayahnya.

Luhan kalah telak. Merasa dirinya menang, Shixun menjulurkan lidahnya ke arah Luhan.

Sekitar 15 menit mobil yang mereka tumpangi menembus keramaian kota Beijing. Akhirnya mobil sedan hitam itu berhenti juga di gedung sekolah Shixun. Perjalanan belum berakhir di sana, untuk mencapai sekolah Luhan membutuhkan 10 menit lagi. Luhan santai-santai saja karena jam masih menunjukan pukul 07.25 mengingat sekolahnya baru masuk pukul 8, berbeda dengan Shixun yang masuk pukul 7.30.

Setelah berpamitan dengan ayahnya, Luhan turun dari mobil dan berjalan menuju kelasnya. Setelah sampai di depan kelas, Luhan menghela nafas. Ia berharap melihat Xiumin sedang makan roti moka kesukaannya, Yixing yang sedang mengerjakan tugas dan Kris yang sedang melaksanakan ritual tidur tampannya. Dengan mantap ia melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Seperti biasa, kelas Luhan memang sangat gaduh. Walaupun sudah kelas 2 SMA, tapi sepertinya teman-teman sekelasnya masih bermental anak TK. Lihat saja, ada yang sedang main kejar-kejaran, ada yang lempar-lemparan pesawat kertas, ada yang sedang tidur, ada yang ribut sendiri sambil memainkan handphone-nya, ada yang sedang bernyanyi-nyanyi tidak jelas, bahkan ada yang sedang berpacaran.

Ketika ia menuju tempatnya duduk, harapan Luhan sirna sudah. Melainkan Xiumin, Kris, dan Yixing, yang ada di hadapannya malah Lay, Chen dan Tao yang sedang melakukan rutinitas ketiga sahabatnya itu. Rasanya Luhan ingin menangis.

Dengan lesu, ia mendudukan dirinya di kursi.

"Khau kenapah lu?" tanya Chen dengan mulut penuh dengan roti.

"Kau bertengkar dengan si albino lagi?" tanya Tao

"Aku baik-baik saja," jawabku sambil tersenyum kecut.

Tak lama bel masuk berbunyi. Suasana di kelas itu langsung berubah. Suara gaduh makin jelas terdengar jelas saat Guru mereka semakin dekat ke ruangan kelas. Mereka berlari heboh mencari tempat duduknya masing-masing, persis seperti anak TK. Luhan sama sekali tidak tertarik untuk belajar. Bukan karena ia malas atau apa, tapi pikirannya melayang entah kemana. Luhan ingin sahabat-sahabatnya kembali.

Satu minggu berlalu sejak 'transformasi' ketiga sahabatnya itu. Keadaan Luhan semakin kacau. Permainan basketnya menurun. Bahkan saat Shixun memainkan PSP milik Luhan, dia sama sekali tidak marah. Padahal, biasanya akan terjadi 'perang' antara kakak beradik itu.

Luhan melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kelas. Seperti biasa, ia sudah disambut oleh kegaduhan teman sekelasnya. Luhan menghela nafas berat kemudian duduk di kursinya.

"Lu, kau ini kenapa sih? Sudah satu minggu ini diam terus," tanya Chen.

"Iya nih, padahalkan biasanya kau yang paling cerewet, Lu," ujar Lay tak mau kalah.

"Aku baik-baik saja," kata Luhan.

"Ah, Luhan ga seru nih… jangan main rahasia-rahasiaan deh," kata Chen sambil merangkul pundak Luhan.

"Aku….Aku Cuma…..kaget…"

"Kaget kenapa?" Tanya Tao yang baru saja bangun tidur.

Luhan menghela nafas berat.

"Tapi kalian harus percaya,"

Ketiga temannya hanya mengacungkan jempol. Akhirnya luhan menjelaskan semuanya, mulai dari mereka makan sampai saat ketiga sahabatnya itu menjelma menjadi seperti ini.

"Kau…serius?" tanya Tao sedikit ragu.

Luhan hanya menganggukan kepalanya pelan.

"Kami mengerti lu, tapi…" Kata Sambil melirik Tao dan Lay.

"Tapi apa?" Tanya Luhan.

"Ceritamu itu kalau dijadikan novel bagus juga, HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHA," lanjut Chen sambil terbahak. Lay dan Tao juga ikut tertawa karena omongan Chen tadi.

"Ish! Tadi katanya mau percaya! Dasar menyebalkan," ujar Luhan seraya menghentakkan kakinya dan pergi keluar kelas.

"Yah yah yah…Luhan marah kaaaan. Kau sih Chen," hardik Lay sambil memukul bahu Chen.

"Sudah lah biarkan saja. Palingan juga sebentar lagi kembali seperti biasa," ujar Tao kemudian melanjutkan ritual tidurnya.

Luhan mengerang frustasi. Ia menjambak rambut madunya. Ia sudah kehabisan akal. Atau memang dia kehilangan akal sehatnya? Ribuan pertanyaan mengiang di kepalanya. Rasanya ia ingin kabur dari bumi ini. Bagaimana cara mengembalikan ketiga sahabatnya seperti semula? Ia merindukan sahabat-sahabatnya. Luhan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.

"Hei rusa jelek!" sahut adiknya dari ambang pintu.

"Ada apa Shixun? Kalau kau datang kemari hanya untuk mengajakku bertengkar, lebih baik kau pergi sana," kata Luhan sambil menutup wajahnya dengan bantal.

"Cih, aku kesini berniat baik tau!"

Akhirnya Luhan bangkit dari kasurnya.

"Ada apa?"
"Sekarang sudah jam delapan kurang sepuluh menit," kata Shixun sambil melihat jam yang ada di dinding kamar Luhan.
"Iya aku tahu, lalu hubungannya denganku apa?"
"Woah! Kau kerasukan apa ge?" tanya Shixun antusias.

"Aku kerasukan setan yang suka makan ocah SMP yang kerjaannya mengganggu sepertimu. Apa kau mau aku makan?" jawab luhan sambil memutar bola matanya.

"Hiiiiiih dasar menyebalkan. Cepat turun, acara kesayanganmu sebentar lagi mulai," ujar Shixun sambil menutup pintu.

"Tunggu, didi!,"

"Apa lagi, ge?" tanya Shixun.

"Acara apa?"

"Sepertinya gege benar-benar kerasukan," ujar Shixun sambil menyandarkan tubuhnya di daun pintu.

"Cepat katakan acara apa atau kau benar-benar aku makan, Xi Shixun"

"Exo showtime gege-ku yang cantiiiik~ Tau ah, kau buang-buang waktuku saja, sudah baik aku beritahu, dasar rusa jelek," katanya sambil membanting pintu kamar Luhan.

Luhan mendengus kesal. Dasar anak albino tidak sopan.

Tunggu, tadi kata Shixun Exo Showtime? Berarti akan ada Chen, Tao dan Lay. Atau malah Kris, Xiumin dan Yixing? Buru-buru Luhan turun dari kasurnya, tapi naas…..

.

.

.

.

BRUKK!

Bokongnya dengan mulus mendarat di lantai karena kakinya terbelit selimut. Luhan meringis sambil mengelus-elus bokongnya. Dia menyibakkan selimut sialan itu kemudian keluar dari kamarnya menuju ruang tv.

.

.

.

BINGO!

Dugaan Luhan benar.

Bagus! Jadi, ceritanya mereka tukar posisi, begitu? Dan sahabat-sahabatnya yang lenyap ternyata menjelma menjadi 3 laki-laki yang sekarang ada di televisi?

'Ya tuhan, cobaan macam apa ini?' batinnya

Luhan sedikit kaget melihat ketiga sahabatnya itu. Dengan pakaian modis bermerk yang sudah pasti mahal, mereka terlihat jauh lebih keren dari biasanya—kecuali Kris yang memang selalu tampil seperti itu. Xiumin terlihat lebih tampan menggunakan baju seperti itu dan Luhan baru sadar kalau ternyata Yixing keren juga, biasanya kan dia tidak pernah peduli dengan apa yang dia pakai, bahkan dia lebih sering terlihat seperti belum madi. Apalagi kalau dia sudah bengong.

Seketika perasaan itu kembali. Ia merindukan mereka. Luhan ingin sahabat-sahabatnya kembali. Bagaimana pun caranya mereka harus kembali.

TBC


a/n: Wifi rumah sudah kembali seprti semula *lalayeye

semakin banyak review semakin cepat diupdate yaaaa

*pyoong~~~