Wushhhh!
Err ... baiklah kenapa angin tiba-tiba saja berhembus di belakang tengkukku, "Ehm ... Baiklah, angin yang berhembus tadi aku anggap itu sebagai tanda siapa saja yang memiliki tumbuhan ini mengijinkanku untuk memiliknya. Jaa ne!" Setelah mengatakan itu langsung saja aku berlari keluar dari Mansion itu menuju toko paman Jiraya, tapi ada sesuatu hal janggal yang baru kusadari ...
Mengapa gerbang Mansion itu tak terkunci? bukankah tak ada satupun yang dapat masuk ke sana? kecuali ...
oleh seseorang yang akan meminta sebuah permohonan kepada sang Vampire.
Enjoy Reading
BAB 2
—oOo—
"Nah Sakura-chan ini gajimu dan kau boleh pulang ini sudah malam," Aku menerima amplop putih itu dengan senyum tipis. Paman Jiraya mengusap kepalaku lembut, "Sakura-chan kau sudah bekerja terlalu keras. Kau masih sekolah dan sudah bekerja didua tempat dalam sehari sekaligus, apa kau tak lelah?"
Aku hanya menatap amplop yang ada ditanganku dengan sendu, "Ini memang berat untukku tapi bagaimanapun juga harus aku lakukan paman, jika aku tidak bekerja aku mau makan apa? belum lagi semua peralatan sekolah yang harus aku beli, ini sudah menjadi resiko untukku." ujarku lirih, paman Jiraya adalah teman Tou-san dan aku sudah menganggapnya sebagai pamanku sendiri, paman Jiraya sangat baik padaku.
Kulihat paman Jiraya memandangku sendu, "Kau memang seorang Hatake yang pantang menyerah ya? Haha sifatmu sungguh mirip dengan Tou-sanmu. Baiklah aku harap pemuda itu akan membuatmu bahagia kelak Sakura-chan." ujar paman Jiraya seraya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali ketika menyadari sesuatu, "Eh? pemuda? siapa paman? Tou-san sudah tidak muda lagikan? kenapa paman menyebutnya 'pemuda'?" Paman Jiraya hanya tersenyum aneh lalu masuk ke ruangannya tanpa menjawab pertanyaanku.
Akhirnya aku hanya mengedikan kedua bahuku tak perduli, "Baiklah, aku pulang ya paman. Jaa ne!" Aku sedikit berteriak di depan pintu ruangan paman Jiraya dan aku pun pergi setelah mendengar sahutan dari paman Jiraya di dalam sana.
"Ya Sakura-chan, hati-hati di jalan."
.
Kutatap sebuah rumah sederhana bertingkat di hadapanku dengan sendu, rumahku, rumah kami. Aku, Tou-san dan Kaa-san, masih teringat dengan jelas bayangan-bayangan ketika keluargaku masih utuh.
Kulihat bayangan di depan sana, Tou-san yang hendak berangkat kerja dan aku yang akan pergi ke sekolah dengan Kaa-san yang selalu mengantar kami sampai depan rumah, tak lupa kegiatan rutin yang Kaa-san lakukan sebelum kami benar-benar pergi yaitu merapikan kembali baju Tou-san yang sedikit kusut dan juga seragamku yang kurang rapi.
"Baiklah aku berangkat ya Kaa-san, Tou-san."
"Aku juga, Tou-san berangkat ya Kaa-san, Sakura-chan."
"Haha yere-yere, hati-hati di jalan ya Tou-san, Sakura-chan."
"Haha aku sayang Kaa-san dan Tou-san, jaa ne!"
"Ya kami tahu sayang, bahkan kami lebih mencintaimu Saki."
Entah sejak kapan liquid bening ini telah membasahi kedua pipiku, bayangan keluarga bahagia di hadapanku telah hilang entah kemana. Aku tahu aku tak seharusnya terlarut dalam kesedihan seperti ini.
'Ya Sakura kau harus kuat untuk Ayahmu!' Aku hanya tersenyum tipis mendengar suara iner-ku.
Mengusap kedua pipiku yang basah akhirnya aku pun mulai melangkah memasuki rumah dengan langkah santai lalu membuka pintu rumah yang ternyata tak terkunci.
Mungkin wanita itu sudah pulang, tumben wanita itu sudah pulang padahal waktu baru saja menunjukan pukul sembilan malam, "Tadaima." ujarku setelah mengganti sepatuku dengan uwabaki.
"Shh ... ahh ... ahh ... Ok-okaerihh ... Saku-chan ... nghh ... ahh ... le-lebih ce-cepathh Na-Nagato-kunhh ...,"
Deg!
Mataku terbelalak lebar melihat pemandangan menjijikan yang terpampang jelas di hadapanku saat ini, dia wanita jalang yang sangat aku benci tengah bercumbu panas dengan seorang pria berambut merah klimis tanpa sehelai benangpun di sofa milikku, ya sofa milikku! milik Tou-san dan Kaa-san.
"Ahhh ... sedikit lagi sayanghh ... ahh ... yahh seperti itu ... Ak-aku sampai Na-Nagato-kunhh ... AHHH!"
"Ghh!"
Aku masih diam mematung dan menatap mereka yang tengah memakai pakaiannya kembali dengan tatapan datar, setelah selesai kulihat pria yang kuketahui bernama Nagato itu menghisap cerutunya seraya duduk santai dan menatapku tanpa rasa bersalah sedikitpun, sedangkan wanita itu menghampiriku lalu mengelus pipiku lembut.
"Kau sudah pulang anakku? Mana uang gajimu bulan ini? Kau baru saja mendapatkannya bukan?" tanya wanita itu dengan nada lembut yang kentara sekali dibuat-buat, tanpa banyak bicara kubuka ranselku untuk mengambil sesuatu lalu setelah itu kuserahkan sebuah amplop putih kepadanya.
Dengan girang wanita itu membuka amplop putih itu tapi, "APA INI? KENAPA JUMLAH UANGNYA SEDIKIT SA-KU-RA?!"
Aku hanya menatapnya datar, "Uang itu aku ambil setengahnya untuk membeli peralatan sekolahku." jawabku enteng.
PLAK!
"Dasar anak bodoh! Kenapa kau memakai uang ini hah?! Kau tahu? uang ini adalah jatahku karena kau ...," wanita itu menunjuk keningku dengan tangan kotornya itu, "Sudah kujaga selama Ayahmu di penjara!" Wanita itu menamparku keras hingga kurasakan liquid kental mengalir dari sudut bibirku, aku tak meringis ataupun mengerang sakit akibat pukulannya itu karena tamparan dari wanita ini sudah menjadi makanan sehari-hariku.
"Maafkan aku, aku sangat membutuhkan uang itu untuk keperluan sekolahku. Aku tidak perduli kau akan menerima uang itu atau tidak, semua itu terserah padamu 'Kaa-san'." ujarku datar dengan sedikit penekanan ketika aku memanggilnya 'Kaa-san' cih. Setelah mengatakan itu aku berencana meningalkan wanita itu menuju kamarku, akan tetapi ...
"Tunggu anak bodoh!" Wanita itu menarik seragam sekolahku dengan paksa dan BREK! seragamku sobek hingga sebelah bahuku ter-ekspos sempurna menampilkan kulit bahuku yang putih bersih.
"Wow!" Dapat kulihat jelas pria berambut merah klimis yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan antara aku dan wanita jalang itu kini menatapku takjub, -ah lebih tepatnya menatap kearah tubuhku yang ter-ekspos.
"Apa maumu?" Setelah menatap tajam pria mesum itu, kualihkan tatapanku pada wanita jalang yang kini tengah menatapku murka.
Kulihat wanita di hadapanku ini menyeringai licik, "Jika kau mengurangi jatahku lagi maka jangan salahkan aku jika aku akan melemparmu ke tengah-tengah pria hidung belang!" Aku menatap wanita hina itu tak percaya.
"Wow, tidak sayang. Biarkan aku mencicipi tubuh perawannya dulu setelah itu baru kau melemparnya kepada para pria hyper sex itu." ujar pria berambut merah klimis itu menyeringai menghampiriku dengan keadaan topless lalu mengusap bahuku yang ter-ekspos dengan tangan kotornya itu, sentuhanya mulai merambat naik keatas dan jari telunjuk pria itu mencolek darah dari sudut bibirku lalu menjilatnya penuh nafsu.
Wanita berambut biru tua sebahu itu tertawa kecil lalu menjilat telinga pria bernama Nagato itu seduktif, "Tentu saja sayang, karena kau adalah pelanggan setiaku maka akan kuberikan bonus tubuh perawan anak tiriku yang manis ini untukmu, bukan begitu Sakura-chan?"
Aku menatap wanita menjijikan itu tajam, "Hn, terserah!" Lalu aku pun pergi meninggalkan wanita brengsek yang kini tengah tertawa puas bersama pria mesum menjijikan itu.
.
.
.
.
Keesokan harinya ...
Dengan langkah gontai kulangkahkan kakiku menuju atap, ya hari masih sangat pagi dan masih ada sekitar dua jam lagi bel masuk berbunyi jadi lebih baik kuhabiskan saja dua jam itu dengan bersantai diatap sekolah.
Disekolah kehidupanku sedikit tenang walau aku tak terlalu banyak teman tetapi setidaknya aku tak perlu ketakutan seperti dirumah, sekolah ini banyak siswa-siswa dari kalangan atas maka dari itu teman yang kupunya sangat sedikit err ... bukan sedikit sih, tapi hanya Ino dan beberapa orang saja yang mau berteman dengan putri dari seorang narapidana sepertiku. Aku tak bisa berbaur dengan siswa yang kaya karena gaya pertemananya sangat berbeda mereka begitu stylist dan memakai barang bermerek dan tentunya aku tak bisa mengikuti gaya hidup seperti itu yang begitu bertolak belakang dengan gaya kehidupanku yang sederhana.
Bangunan sekolah ini di luar tampak seperti bangunan tua tetapi sekolah ini sangat kokoh, walau terlihat sangat angker tetapi saat memasuki kedalam gedung semua fasilitas modern tersedia untuk kenyamanan siswanya, aku salah satu orang yang beruntung masuk kesekolah ini melalui jalur beasiswa karena kecerdasan yang kumiliki aku dapat gratis bersekolah di sini itulah yang patut kusyukuri.
Kini aku tengah menumpukan kedua siku-siku lenganku di dinding pembatas yang menjulang setinggi dadaku, kupejamkan kedua mataku untuk menikmati angin yang menerpa wajahku dan sedikit menerbangkan helaian rambut merah mudaku.
Suasana seperti inilah yang begitu kudambakan, tenang dan damai. Tapi kenyataan selalu bertolak belakang dengan apa yang begitu kudambakan, kenyataan pahit entah sampai kapan kehidupanku seperti ini.
Perlahan kubuka kedua mataku dan melihat jauh kebawah sana, terlihat dengan jelas halaman Mansion yang kemarin aku kunjungi. Aku memicingkan kedua mataku ketika melihat seorang gadis mengendap-endap menuju menara diseberang sana, awalnya aku tak perduli tapi melihat gadis itu adalah gadis berambut indigo aku langsung berlari menuruni tangga dan terus berlari keluar gerbang sekolah menuju Mansion itu untuk mengikuti gadis bernama Hyuuga Hinata itu.
Aku baru sadar akan satu hal, selama dua bulan terakhir ini aku tak pernah melihat Hinata lagi padahal ia adalah teman sekelasku dan gadis tadi apakah ia benar Hyuuga Hinata? si gadis gendut berkaca mata tebal. Tapi gadis yang kulihat tadi begitu cantik, sexy dan mempesona, Hyuuga Hinata ada apa sebenarnya dengan dia? dia begitu berbeda.
Setelah berhasil mengejar Hinata, aku berusaha mengikutinya dengan jarak aman. Kulihat Hinata memasuki pintu yang terbuat dari besi yang sudah berkarat dan tanaman menjalar hampir menutupi seluruh daun pintu.
Aku terus mengikutinya dari belangkang memasuki menara ini, ketika memasuki menara menyeramkan ini ternyata di dalam menara terdapat tangga melingkar yang sangat panjang menjulang ke atas menara. Aku mulai menaiki satu persatu anak tangga dengan perlahan, peluh mulai membasahi seluruh pakaianku. Semakin ke atas udara semakin terasa lembab dan gelap, tentu saja itu membuatku merasa tak nyaman.
Kriet!
Kulihat diujung tangga terdapat pintu lagi, gadis yang kuyakini adalah Hinata itu membuka pintunya, setelah terbuka ada sedikit cahaya keluar dari sana, aku mencoba mengintip dari balik pintu.
Deg!
Mataku terbelalak lebar saat melihat seseorang menggunakan jubah berawan merah hingga menutupi kepalanya berdiri tepat dihadapan gadis itu, wajahnya tak terlihat karena tertutupi jubah berkerudungnya itu.
Aku menatap Hinata tak percaya ketika aku melihatnya melucuti pakaian seragamnya satu persatu dilantai hingga kini gadis itu naked tanpa sehelai benangpun.
Glek!
Dengan susah payah aku mencoba menelan ludahku, peluh menetes dikeningku saat menyaksikan apa yang dilakukan mahluk itu pada Hinata. Apa kalian tahu apa yang makhluk itu lakukan? Makhluk itu memeluk tubuh Hinata yang polos tanpa busana.
.
.
.
.
"Suke-kun buat aku semakin cantik dan buat semua pria yang pernah mengganggu dan mempermalukanku bertekuk lutut padaku, lalu setelah itu buatlah mereka mati secara perlahan." Panturan dari mulut gadis bernama Hinata itu membuat Sakura membungkam mulutnya tak percaya.
Dulu Hinata hanyalah gadis jelek, gendut dan berkacamata tebal, ia selalu menjadi bahan ledekan dari semua murid pria di sekolahnya dan Hinata juga sering mendapat bully dari para siswa yang tak menyukainya.
"Hn, kau tenang saja selama kau bisa memenuhi keinginanku maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan."
'Itu suara pria!' batin Sakura tak percaya, perlahan Sakura mundur selangkah.
Trak!
Tanpa sengaja Sakura menginjak sesuatu hingga membuat sebuah suara nyaring dan tentu saja membuat makhluk yang bernama Suke itu menatap Sakura tajam dengan kedua iris merah pekatnya itu, pandangan Sakura dan mahluk itu bersibrobrok selama beberapa detik.
Deg! Deg! Deg!
Sakura tidak dapat melihat wajah makhluk itu dengan jelas tapi ia dapat melihat seberapa tajam dan dinginnya pancaran mata mahluk itu, Sakura mundur tiga langkah tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua mata makhluk itu dan sejurus kemudian Sakura berbalik lalu berlari menuruni anak tangga hingga ia menjauhi menara itu dan berencana kembali ke sekolahnya.
Sakura terus berlari dengan sekuat tenaganya, perasaan takut dan ngeri masih belum hilang dari dirinya, tatapan mengerikan makhluk itu membuat dirinya merasa terintimidasi dan kejadian yang berlangsung beberapa detik tadi tak bisa ia lupakan begitu saja.
Bruk!
Karena terlalu kalut akan perasaan dan pikirannya, tanpa sadar Sakura menabrak seseorang di hadapannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya seorang pemuda bemata hazel yang tanpa sengaja Sakura tabrak. Pemuda itu terlihat khawatir melihat keadaan Sakura yang sangat berantakan, wajahnya terlihat pucat dan peluh dingin membasahi seluruh wajahnya.
"Ya aku baik-baik saja, maafkan aku karena tak sengaja menabrakmu," ujar Sakura seraya membungkukan tubuhnya lama dihadapan pemuda itu.
"Hey tegakkan tubuhmu! jika kau terus membungkuk seperti itu aku berani jamin kau akan terkena kerusakan tulang dini," ujar pemuda berkacamata tipis itu, Akasuna no Sasori itulah namanya. Seorang dosen muda tampan berambut merah dan berwajah imut seperti err ... bayi itu adalah dosen yang sudah tiga tahun magang di Sekolahnya. Satu hal yang tak seorangpun tahu termasuk Ino sekalipun, Akasuna no Sasori adalah seseorang yang Sakura sukai.
"Ah iya, sekali lagi maafkan aku sensei," ujar Sakura dengan rona merah di wajahnya.
"Tidak apa-apa, lain kali kau harus hati-hati ya?" Sakura hanya mengangguk, Sasori yang melihat Sakura dipenuhi keringat berinisiatif mengambil sapu tangan di saku celananya dan memberikannya pada Sakura.
Sakura memandang sapu tangan dark blue itu dengan ragu tapi melihat Sasori memberinya isyarat untuk mengambilnya, akhirnya dengan pasti Sakura menerimanya.
"Terima kasih sensei, besok akan kukembalikan jika sudah kucuci," ujar Sakura seraya sedikit demi sedikit mengelap peluh di wajahnya dengan sapu tangan itu.
Sasori mengacak helaian merah muda gadis di hadapannya itu lembut, "Tidak usah terburu-buru, jika kau mau kau boleh memilikinya."
Sakura menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak sensei aku akan tetap mengembalikannya." Sasori hanya tersenyum mendengar jawaban dari salah satu muridnya itu, lalu ia pergi meninggalkan Sakura yang kini telah melangkah memasuki kelasnya.
.
Suasana di kelas itu begitu bising, para siswa tengah mengerubungi salah satu kursi yang terdapat seorang gadis indigo tengah duduk dengan angkuhnya, namun kerumunan itu buyar ketika dua orang pemuda berambut hitam jabrik dan salah satunya bertato segitiga di kedua pipinya menghampiri gadis itu.
"Hinata-chan mau berkencan denganku? Kau begitu cantik Hinata," ujar pemuda bernama Namikaze Menma itu dengan tatapan nakalnya mengajak sang gadis populer itu.
"Tidak Hime! lebih baik kau berkencan denganku saja!" ujar seorang siswa bertato segitiga merah dikedua pipinya itu.
"Ya! Jangan dengarkan dia Hina-chan lebih baik denganku saja!" sungut Menma tidak menerima panturan dari siswa bername tag Inazuka Kiba itu.
"Tidak! Denganku saja!"
"Aku!"
"Aku!"
"AKU!"
"Su-sudahlah Menma-kun, Kiba-kun. Aku akan berkencan dengan kalian berdua," ujar Hinata mencoba menenangkan kedua pemuda tampan itu.
"Benarkah?" tanya Menma dan Kiba bersamaan, Hinata mengangguk pelan.
"Tentu saja Kiba-kun, Menma-kun." jawab gadis itu malu-malu, namun semua orang yang memperhatikannya tak menyadari seringaian licik yang gadis itu sunggingkan disudut bibirnya termasuk Hatake Sakura yang kini menatapnya heran.
"Hey Ino!" panggil Sakura kepada sahabatnya yang kini tengah serius mengecat kuku-kukunya jari lentiknya.
"Hm?" sahut gadis blonde itu tanpa mengalihkan tatapannya dari kuku-kukunya itu.
"Ano, apa gadis itu adalah Hyuuga Hinata?" tanya Sakura ragu seraya menatap kearah Hinata yang kini tengah mengobrol dengan pemuda Namikaze dan Inazuka itu.
Ino mengikuti arah pandang Sakura lalu setelah itu ia menatap Sakura heran, "Tentu saja dia Hyuuga Hinata, kenapa?"
"Benarkah? kenapa dia berubah drastis seperti itu? bukankah dua bulan yang lalu dia masih berpenampilan gendut dan berkaca mata tebal? bahkan kupikir Hinata hilang selama dua bulan ini karena aku tak pernah melihatnya lagi." tanya Sakura penasaran, jujur saja Sakura sudah menebak apa penyebab dari perubahan drastis gadis Hyuuga itu, tetapi setidaknya ia ingin memastikan saja.
Ino menepuk keningnya pelan lalu menatap Sakura prihatin, "Bahkan hal besar itu kau tak tahu? Kau ini terlalu cuek dengan sekitarmu jidat! Begini aku beritahu padamu, kami semua para siswi tidak tahu apa sebenarnya yang membuat Hinata berubah drastis seperti itu hanya dalam waktu singkat ...,"
Sakura menatap Ino bingung, "Lalu bagaimana bisa dia berubah drastis seperti itu?"
Ino menghela nafas pelan, "Ada sebagian yang menyangka bahwa gadis itu operasi pelastik tapi aku berpikir mana mungkin? Kau tahukan Hinata adalah gadis dari keluarga sederhana jadi mana mungkin dia bisa melakukan operasi pelastik yang pembayarannya berjumlah satu bulan uang gaji karyawan seperusahaan? Dan jikapun ia melacurkan diri untuk mendapatkan uang itu juga tidak mungkin, oh ayolah bentuk tubuh Hyuuga Hinata yang bulat dipenuhi timbunan lemak itu tidak akan laku bahkan untuk pria hidung belang sekalipun. Jadi kami tidak tahu apa yang sebenarnya Hyuuga Hinata lakukan pada tubuhnya itu." Hati Sakura mulai was-was, jujur saja Sakura masih tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya tadi pagi.
'Semoga itu hanya halusinasimu saja, ya sejauh ini tak ada kasus serius tentang pembunuhan atau apapun itu seperti permintaan Hinata kepada makhluk itukan?. Ya itu pasti hanya halusinasimu saja Hatake Sakura!' Iner Sakura berteriak meyakinkan Sakura dan Sakura yang mendengar panturan dari iner-nya itupun mengangguk membenarkan, walaupun ...
Jujur saja hati kecilnya tak dapat dipungkiri merasa bahwa tadi pagi itu bukanlah sebuah halusinasi ataupun patamorgana.
.
—oOo—
Balasan Review
Anka-Chan: Ini udah update.
Guest: Wah merinding? Benarkah? xD haha seneng deh berhasil membuatmu merinding Kkk ~ iya ini udah update.
Manda Vvidenarint: Iya Vampire, penasaran? silahkan baca chapt 2 is update.
Uchiha Riri: Wah kamu suka? syukur deh :) ini udah update.
may: Siapa ya? xD jawabannya ada di chapter ini.
silent reader xD: Ini udah update, Saku ketemu Sasu? emh ... jawabannya ada di chapter ini.
hanazono yuri: Ini udah update :) ^^
Mikasa-Chan: Iya ini udah update.
Animea-Khunee-Chan: Haha bukan ko permintaan Saku bukan itu aja xD ini udah update.
