"Maaf Seokjin-ssi, kurasa kau belum bisa debut bersama yang lain. Kauㅡharus di training lagi"

"Ah, ya. Aku mengerti, PDnim"

.

.

Alunan piano mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan. Jari-jari lentik Seokjin menari-nari diatas tuts dengan luwesnya.

Urin neomu dalla

Jal algo itjanha

Seoroui jinsimeul

Aneul su eobtjanha

~

Pertama kali Seokjin melihat Namjoon adalah ketika dia menonton debut stage group besutan agensinya, Bulletproof Boy Squad; teman-teman seperjuangannya. Namjoon masih sangat muda kala itu. Dia datang dengan American Style-nya. Seokjin tersenyum ketika mengingat pertama kali Namjoon memperkenalkan diri kepada para trainee sebagai lyricist di agensi mereka. Seokjin ingat, Namjoon yang masih sangat muda merasa malu sehingga dia bergerak gelisah sambil mengusap lehernya.

Seokjin teringat bagaimana rasanya saat melihat Namjoon berbicara dengan orang disekelilingnya kala itu. Melihat bagaimana auranya menguar. Walaupun malu-malu tapi Seokjin sadar betul, Namjoon memiliki aura yang kuat dan mendominasi; membuat Seokjin merasakan getaran di dalam dirinya

.

.

Ihaehaji anha

Gieokhaji anha

Neul malppunin maldeul

Gidaehaji anha

~

Sejak dia gagal debut, Seokjin sempat terpuruk namun Namjoon sedikit membuatnya kembali merasa bersemangat dalam menjalani masa traineenya. Seokjin selalu mencuri kesempatan untuk bisa sekedar melewati ruang kerja Namjoon yang letaknya dibagian belakang gedung sementara Seokjin biasa latihan di bagian depan gedung lantai dua. Sesekali, Seokjin rela berjalan memutar. Atau saat jam istirahat, Seokjin pergi ke toilet yang letaknya didekat ruang kerja Namjoon dan jaraknya jauh dari studio dance.

Seokjin sedikit terkekeh ketika mengingat bagaimana teman-temannya merasa kesal saat diminta untuk menemani Seokjin ke toilet.

'Diatas ada toilet kenapa harus kebawah? Kau mau mengerjaiku ya?!' – keluh Yugyeom, salah satu teman yang sering Seokjin ajak untuk menemaninya memutari gedung padahal hanya mau ke toilet; siapa tau bertemu Namjoon.

.

.

Alunan musik berhenti sejenak. Seokjin menyentuh dadanya. Terasa aneh; degupan bercampur rasa sesak, hangat, dan menggelitik bercampur jadi satu. Hanya beberapa detik setelahnya, Seokjin menarik napas panjang.

Nan neoreul saranghae, dan permainan pianonya kembali berlanjut.

Nan neoreul saranghae

Nan neoreul saranghae

Nan neoreul saranghae

~

"Kim Seokjin?"

Seokjin masih ingat bagaimana Namjoon memanggilnya untuk pertama kali setelah pertemuan mereka (yang sebenarnya hanya perkenalan formal karena mereka tidak benar-benar kenal satu sama lain). Saat itu, agensi heboh karena akan mengirim salah satu trainee untuk ikut program survival khusus idol. Itu bukan gaya agensi mereka, sungguh. Tapi mereka (para produser) melakukannya; dan Seokjin yang dikirim untuk ikut acara semacam itu.

"Semoga beruntung. Semangat!"

Dunia Seokjin terasa berhenti. Disemangati oleh orang yang kau sukai, siapa yang tidak senang? Seokjin sampai melompat-lompat saking senangnya. Dia juga jadi orang bodoh seharian karena tak bisa berhenti tersenyum. Orang-orang jadi merasa aneh sekaligus ngeri melihat Seokjin tersenyum lebar sampai rasanya pipi itu mau robek.

.

.

Nan neoreul saranghae

Nan neoreul saranghae

Ttaseuhan geudaeui songillo

~

Semakin hari semakin jatuh. Semakin dia jatuh pada pesona Namjoon, semakin dia berusaha bangkit untuk meraih apa yang seharusnya dia capai. Impiannya, harapannya; karirnya. Namjoon menjadi cambuk bagi Seokjin untuk terus bekerja keras menjadi penyanyi. Jika merasa down, Seokjin akan memandangi Namjoon agar semangatnya kembali.

Seokjin pikir, salah satu cara agar bisa dekat dengan Namjoon adalah debut. Ya, karena Namjoon hanya bekerja sama langsung dengan penyanyi yang sudah debut. Kadang dia iri pada teman-teman terdahulunya yang sudah debut. Mereka bahkan hampir setiap hari dihubungi oleh Namjoon untuk datang ke studionya.

Tapi apa mau dikata. Seokjin justru gagal lagi di acara itu hingga dia sadar, dirinya malah semakin jauh dari harapannya itu. Karir dan Namjoon.

ㅡ "I Love You", Seokjin's cover song, 2015.

.

.

.

.

.

A Song Cover

Chapter 2

.

.

.

.

.

Suara riuh tepukan menyapa indera pendengaran Seokjin. Dia membuka kedua matanya yang terpejam secara perlahan. Ada bekas airmata di pipinya. Seokjin sedikit terkejut menyadari bahwa dia menangis.

Tidak. Dia baru saja menangis didepan Namjoon.

"Sial" Seokjin sedikit menarik kembali cairan yang keluar dari hidungnya dan buru-buru mengusap wajahnya. Airmatanya tidak banyak tapi dia tau bahwa akan sangat kentara jika dia barusaja menangis.

Namjoon masih bertepuk tangan.

"Wah. Aku merinding. Sumpah" ucap Namjoon dengan wajah berbinar yang seolah tak percaya pada apa yang barusaja dia lihat.

"Aku baru pertamakali mendengar kau bernyanyi secara langsung. Ini jauh lebih indah dibanding mendengar hasil rekamanmu. Sungguh, Jinseok kau membuatku benar-benar merinding. Lihat ini" Namjoon menunjukkan tangannya pada Seokjin seolah ingin memberitahu bahwa bulu-bulunya berdiri.

"Ck, jangan berlebihan Namjoon-ssi" Seokjin tersipu. Dia meninju ringin bahu Namjoon yang masih berada didekatnya.

Namjoon tertawa. Ia meraih kursi dan mengambil posisi didekat Seokjin yang masih berada didepan piano.

"Kau sampai menangis. Lagu ini pasti sangat sangat sangaaaattt berkesan bagimu" Namjoon terdengar melebih-lebihkan ucapannya. Seokjin salah tingkah, dan tersipu pastinya.

"Ah, ya" Seokjin merasakan tatapan Namjoon jadi dia menunduk seolah sedang memandangi tuts piano sembari meraba-raba dengan jarinya.

"Apa kau sedang mengungkapkan isi hatimu?"

Seokjin menghentikan gerakannya. Dia memandang Namjoon yang sedang memandanginya. Kali ini tatapan Namjoon tidak seperti tadi; yang berbinar dan seolah takjub.

Kali ini tatapan Namjoon terlihat serius dan penuh selidik seolah ingin tau apa yang ada dipikiran Seokjin.

Seokjin tersenyum canggung.

"Apa terlihat jelas?"

Kali ini Namjoon yang terkejut. Awalnya, Namjoon pikir Seokjin akan menyangkal (seperti kebanyakan orang) tapi sepertinya tidak. Ya, tidak. Seokjin tidak menyangkal.

Namjoon mengangguk. "Kau bahkan menangis. Wah, siapa orang beruntung yang bisa membuatmu jatuh hati ya?"

Seokjin terdiam namun dadanya bergemuruh. Ingin rasanya dia berteriak dihadapan wajah Namjoon dan mengatakan bahwa dirinya lah yang membuat Seokjin seperti ini. Namun Seokjin menggeleng dan kembali memberi senyum pada Namjoon.

"Kapan kita rekaman?" kali ini Seokjin tidak boleh larut dengan perasaannya sendiri. Dia harus tetap fokus dan menggunakan kesempatan 'terakhir' ini dengan baik.

Namjoon sedikit tergagap.

"Ah, yㅡya rekaman. Um, sepertinya kita bisa melakukan ini secepatnya. Kau yang memainkan instrument sendiri kan?"

Seokjin mengangguk mantap.

"Aku akan menghubungi staff lain agar kita bisa mengambil gambar saat kau rekaman"

"Apa?" Seokjin terkejut.

"Ada pengambilan gambar?"

Namjoon tersenyum dan mengangguk.

"Keren kan?" tanpa Namjoon sadari, lengannya sudah terayun mengarah ke kepala Seokjin dan mengacak rambutnya. Namjoon baru saja mengacak rambut Seokjin.

"errr" Seokjin menegang. Kontak fisiknya dengan Namjoon membuat dia merasakan mode siaga hingga akhirnya dia sedikit menjauh dari Namjoon.

"Namjoon-ssi, tanganmu. Hehe" payah. Seokjin merutuk dalam hati. Kenapa dia yang malah terlihat konyol?

Namjoon tersadar dan dengan sigap menarik kembali lengannya. Dia langsung mengusap lehernya. Hatam bagi Seokjin untuk mengerti gerakan malu-malu Namjoon. Seokjin hanya menahan tawa sekaligus degupan jantungnya yang semakin tak bisa ditoleransi lagi batas kecepatannya.

"Maaf, Jinseok"

Seokjin mengangguk, memaklumi. Satu hal yang melintas dipikirannya saat ini ialah; ia harus mengingat setiap detail hal yang hari ini ia lakukan dengan Namjoon karena setelah hari esok, tak akan ada lagi kesempatan.

Dia harus pergi dengan tenang.

Maksudnya, pergi dengan perasaan lega. Ya, Seokjin benar-benar menyerah.

"Jja! Persiapkan dirimu untuk besok, Jinseok. Istirahatlah dengan baik. Besok kita punya hari yang panjang" ujar Namjoon sambil menepuk-nepuk bahu lebar Seokjin.

Hari yang panjang. Kuharap begitu. Setidaknya untuk sekali aku bisa melaui hari yang panjang denganmu.

Seokjin mengangguk.

"Arasseo, Kim NamjoonPDnim!"

.

.

.

to be continue

Akhirnya bisa lanjut /hiks. Aku terharu liat respon kalian, sungguh. Gak nyangka aja. Pokoknya terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mau review:

Guest, eksa203, mutianafsulm, honeymoon, lombokriwit, Mint D, Nico 984, Kookiee92, sunkistmyung, Park RinHyun-Uchiha, overtee, Buzlague, mjjujuw, Eat Jinnie, QnQueen, ORUL2, dan kaisooexo.

Juga tidak lupa buat yang sudah fav/follow walaupun tidak review. Terimakasih banyak *bow.

Sedikit lagi kita sampai, yeay(v)