Previous Chapter 1 :

" Wajahmu pucat, Sunbae" ujarnya sambil memegang erat lengan Yoongi. "Jangan sok tahu Park, wajah ku memang sudah pucat dari lahir." Ucap si Min terdengar malas lalu melepas paksa tautan tangan Jimin darinya. Langkah Yoongi ia mulai lagi dengan berlari kecil menjauhi Park Jimin dibelakangnya. Jimin tak tinggal diam, dia segera menyusul Yoongi didepannya dengan aura khawatir terlihat diwajahnya.

Namun belum sempat keduanya menyelesaikan putaran terakhir, salah satu dari mereka – Yoongi tergeletak pingsan dihadapan Jimin. Sontak membuat pemuda Park itu langsung menghampirinya dan memangku kepala Yoongi dipangkuannya. Jimin menepuk pelan kedua pipi mulus Yoongi dengan sembari berusaha menyadarkannya. "Hei, Sunbae sadarlah."

.

.

_dyn_

Chapter 2: Karena berkatmu aku dapat melihat lagi cahaya yang dulu hilang kini kembali lagi menaungi hidupku.

Title : ILLUMINATIVE

By : dyn_amity

Park Jimin & Min Yoongi

[MinGa/MinYoonMin]

Caution :

WARN! BL! BROMANCE! YAOI! BXB! TYPO!

DON'T BE A PLAGIAT || RnR Pleaseeu ...

DON'T JUDGE AUTHOR. OK!

Saat itu mata Jimin terus terfokuskan pada sosok yang tengah terbaring lemas diatas ranjang UKS. Bagaimana tidak sudah 10 menit sejak dia membaringkan Yoongi, si Jungkook masih saja belum datang dengan membawa dokter sekolah pesanannya. Hal itu membuat Jimin khawatir dengan keadaan ketua kesiswaan tersebut yang kini tengah menggumam kecil tapi masih bisa didengar oleh Jimin " dingin ..." ujaran si Min sudah setengah tersadar.

"Sunbae ... kau sudah sadar?" Jimin memajukan wajahnya berniat mendengar lebih jelas racauan kecil Yoongi. "dingin Park ..." yang mendengarnya tertegun sebentar mendengar suara halus Yoongi selagi dia belum sadar penuh. Tangan si Park terulur menyentuh dahi si Min yang tadi terasa hangat kini terasa dingin bercampur dengan keringatnya.

"Sunbae kurasa kau – " kalimat Jimin terpotong, terkejut mendapati tangannya yang tadi menyentuh dahi si Min kini terbawa oleh tangan mungil nan halus Yoongi untuk digenggamnya. " – demam." Lanjut Jimin sedikit tercicit diakhir kalimatnya.

Park Jimin tahu bahwa kini Min Yoongi membutuhkan tangannya untuk membuat keadaaannya sedikit membaik. Dia semakin mempererat tautannya guna membuat nyaman siswa yang dipeganginya, meski tak dipungkiri ada debaran aneh merayap disekitar area hatinya. Merasakan bahwa mungkin ada ribuan kupu-kupu yang tengah mengelitikinya tanpa ampun setelah si Manis datar ini berujar membuat Jimin terbatu ditempat dengan debaran jantung yang sepertinya telah rusak.

" Aku merasa lebih baik dari sebelumnya, terima kasih Park ..." lalu tangan Yoongi yang satunya dia daratkan untuk menumpuk diatas tangan Jimin yang tengah memegangi tangan yang satunya.

.

Tak berapa lama Jungkook pun datang dengan membawa Dokter sekolah bersamanya. Jimin segera menyingkir dan melepas tautannya tangan dari Yoongi, digantikan oleh dokter yang kini tengah memeriksa si Min.

"Hyung, Yoongi Sunbae tidak apa-apakan?" tanya si Jeon yang berada di sebelah Jimin. Si Park mengedikkan bahu sambil tatapannya mengarah kepada Yoongi yang sudah diperiksa. "Aku juga tak tahu Kook, semoga saja dia baik-baik saja."

"Min Yoongi tidak apa-apa, dia hanya terserang demam biasa." Ujar Lim Changkyung – sang dokter sekolah dengan senyum terpatri diwajah tampannya. Keduanya hanya mengangguk secara bersamaan lalu mengucapkan terima kasih. " Kalau begitu aku kembali lagi ke aula, masih ada banyak orang yang akan donor darah disana. Dan juga jangan lupa ingatkan Yoongi untuk meminum obat yang sudah aku sediakan ya." Lalu dokter Lim itu meninggalkan keduanya dengan senyum hangat.

.

"Uhm... maaf Hyung aku datang lama..." Jungkook berujar kepada Jimin perihal kedatangannya yang terhitung lama. Jimin mengangguk lalu menepuk bahu Jungkook perlahan " Aku mengerti, tak usah dipikirkan. Yang penting si Ketua kesiswaan itu sudah di periksa keadaannya." Jimin berucap dengan tengan dan menurunkan lagi tangannya dibahu Jungkook.

Si Jeon menganggukkan kepalanya bersyukur bahwa Jimin tak marah karenanya, lalu matanya melirik kearah jam yang melingkar di tangan kekarnya. Jungkook teringat sekarang adalah jam pelajaran keduanya yaitu pelajaran Kimia yang diajar oleh Kang Ssaem si guru killer yang sangat diantisipasi keberadaanya. Ia harus buru-buru masuk ke kelas sebelum guru itu mendahuluinya, kalau tidak habislah nilai ujiannya akan dikurangi sepuluh setiap telat semenit saja.

Jungkook melirik Jimin yang berjalan menuju Yoongi yang tengah terbaring.

"Hyung, aku harus cepat masuk kelas, aku ada kelasnya Kang Ssaem sekarang. Jadi bisa kau menjaga Yoongi Sunbae selagi aku tak ada. Aku janji nanti istirahat akan kesini menjaganya bergantian denganmu."

Park Jimin membalikkan badannya mengarah pada Jungkook berada. Alis Jimin terangkat sebelah dengan ujaran Jungkook tadi. "Kenapa harus aku yang menjaganya. Kau pikir aku tak punya kelas juga apa? Lagi pula akan ada petugas Uks yang akan menemaninya bukan?" Jimin berujar dengan nada tak terima.

"Benar juga, tapi tadi diperjalanan aku bertanya kepada anggota kesehatan selagi mencari dokter katanya mereka akan selesai sampai sore jadi mungkin takan ada yang berjaga di Uks." Senyum kikuk si Jeon terukir setelahnya berujar sambil memegangi tengkuknya yang tak gatal.

Jimin berpikir keras untuk menerima bujukan Jungkook atau tidak. Lagi pula bukan dia yang menyebabkan Yoongi pingsan tadi malah dia yang membantu untuk membawanya kesini. Dan sekarang juga ia disuruh untuk menjaganya pula selagi petugas Uks atau teman-teman belum datang. Tapi disisi lain, dirinya juga tidak tega meninggalkan Yoongi yang sakit sendirian disini.

" Jadi bagaimana Hyung?"

Jimin mengangguk pelan tanda menyetujui bahwa ia akan menjaga Yoongi selagi tak ada sesiapapun selain dia disini. " Cepatlah pergi sebelum Kang Ssaem masuk. Tapi sebelumnya bisa kau kekelas ku dan dia dulu, memberitahu Taehyung temanku dan teman sekelasnya Yoongi Sunbae bahwa dia sakit dan aku izin menjaganya sampai jam istirahat nanti." Setelah mendengar tuturan dari Jimin, Jungkook dengan segera menganggukkan kepala dan berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Jimin dengan Yoongi disana.

.

.

.

_dyn_

Sudah lebih dari tiga puluh menit sejak Yoongi diperiksa, si Manis judes itu masih belum juga membuka bahkan memperlihatkan mata tajamnya itu walau secuil penglihatannya kepada Jimin yang kini tengah memfokuskan retina kepadanya. Ini membuat si Park berpikir bahwa sosok ini pingsan lagi dan atau lebih parah dia meninggal. Park Jimin menggelengkan kepalanya keras atas opsi kedua pemikirannya.

Jalannya detik jam itu membuat kelopak mata Jimin merapat sedikit demi sedikit. Dia mengantuk dan lelah juga setelah menjalankan hukuman tadi pagi. Selang demikian dia menyadarkan dirinya lagi walau dirinya ingin sekali tertidur selagi menunggu Yoongi terbangun. Menunggu sesuatu yang lama itu rupanya membosankan dan melelahkan juga ya? pikir Jimin disela kegiatan mengantuknya. Tapi memang sihir kantuk menyerang Jimin dengan ganas dan membuat kesadaran si Park perlahan berkurang.

Jadilah Park Jimin tertidur dengan kepalanya yang berada disisi kiri ranjang yang ditempati Yoongi. Entah mungkin Jimin terlalu lelah atau apa, dia tak sadar bahwa tangannya kini tengah bertumpuk dengan tangan halus milik ketua kesiswaan disebelahnya.

.

.

Yoongi terbangun beserta erangan kecil keluar dari mulutnya karena pening melanda kepalanya.

Jimin juga terbangun menyadari gerakan kecil yang diketahui berasal dari Yoongi tersebut. Dia mengangkat kepalanya berniat melihat keadaan si Min. "Sunbae, kau sudah bangun." Suara serak khas orang baru bangun tidur tervokal dari Jimin.

Yang mendengar tuturan si Park tak menanggapi malahan dia bertanya perihal dia dan Jimin mengapa ada ditempat yang sama berduaan pula. " Park kenapa kau ada disini? Dan juga apa yang terjadi denganku, kenapa ada disini bersamamu?" tanya Yoongi dengan suara yang sama dengan Jimin tadi.

Si Park sudah sadar sepenuhnya lalu menatap obsidian Yoongi dihadapannya. "Kau tak ingat Sunbae? Kau pingsan saat menjalankan hukuman terlambat pagi tadi. Dan yang membawamu kesini itu aku. Dan juga aku pula yang harus menjagamu selagi teman-teman mu atau anggota kesiswaan belum ada yang datang menjengukmu."

Min Yoongi hanya terperangah mendapati kenyataan bahwa dia dibantu oleh Park Jimin si adik kelas tengil yang beberapa hari lalu sempat membuatnya kesal. Sialan kemana pula teman dan juga anggota kesiswaan tersebut saat dirinya tengah sakit begini dan belum ada yang menjenguknya sama sekali, rutuk Yoongi dalam hati setengah kesal.

Ekor mata Yoongi menangkap pergerakan Jimin disebelahnya. Dia melirik sekilas apa yang tengah dilakukan si Park tersebut. "Sunbae, minumlah obat ini supaya kau lebih baikan." Jimin menyodorkan minum beserta obat yang diberi oleh Dokter Lim tadi. Tangan Yoongi tergerak untuk menampa benda yang diberikan Jimin namun dia terbengong saat pemilik marga Park itu menahan pemberiannya kepada si Min.

" Tapi sebelumnya Sunbae sudah makan belum, uhm?" tanya Jimin dengan tangan yang masih memegangi obat dan juga air minum. Gelengan pelan Yoongi menjadi jawabannya. Lalu pemuda Park tersebut menyimpan lagi benda yang ada ditangannya ke nakas meja disampingnya. Kemudian dia mengambil sebuah benda sejenis plester untuk dipakaikan didahi Yoongi. "Kau masih belum pulih. Ya sudah pakai ini dulu sebelum kau memakan obatnya." Tambah Jimin segera membuka penutup plester tersebut.

Yoongi menolak diberi plester tersebut. " Kau pikir aku anak kecil apa dipakaikan itu segala." Ujar pemuda Min menolak maksud Jimin untuk memakaikan itu kepadanya." Sudah pakai saja dulu, ini sebagai pereda demam sementara ." si Min melengos tak percaya bahwa kini si Park tengah mendiktenya.

Jimin mendekatkan diri kearah depan Yoongi berniat memakaikan plester. Sangat dekat malah sampai membuat orang yang didekatinya hampir mati karena menahan nafas beratnya karena saking dekat wajah Jimin didepannya.

Park Jimin sudah selesai memakaikan plesternya di dahi Yoongi. Dia mengulum senyum tampannya."Bagaimana ? sudah baikan Sunbae?" tanya Jimin kepada Yoongi yang saat ini sudah bernafas dengan normal lagi. Pemuda Min itu hanya mengangguk pelan lalu berujar pelan kepada Jimin " Hum, lumayan. Gomawo Park."

Park Jimin terperangah mendapati retinanya merekam pemandangan Yoongi tersenyum kecil kepadanya. Namun itu hanya berlaku beberapa detik saja digantikan oleh riuh kedatangan Jin, Namjoon dan juga Hoseok yang terburu-buru memasuki pintu UKS bersamaan.

"Yoongi~ya kau sakit apa?" Jin datang duluan kehadapan Yoongi dan menyapa Jimin yang berada diseberangnya." Oh, Jimin kudengar dari Jungkook katanya kau yang menjaga Yoongi. Terima kasih ya sudah mau menjaga sahabat kami yang galak ini." Setelahnya terdengar suara pekikan keluar dari mulut Jin karena lengannya dicubit gemas oleh Si Min.

Jimin hanya menganggukan kepala ringan menanggapinya sambil tersenyum.

"Sialan darimana saja kalian? Kenapa baru datang sekarang eoh?" si Min berujar kesal kepada ketiga sahabatnya itu. Yang ditanya hanya menyengir lebar kepada Yoongi."Maafkan kami ya baru bisa datang sekarang. Kau tahukan tadi itu pelajarannya Kim Ssaem si guru kebanyakan materi itu. Kami sudah berinisiatif menjengukmu setelah mendengar kau sakit dari Jungkook tapi sialnya kita tak diizinkan oleh Kim Ssaem itu." Ujar Hoseok panjang lebar dengan nada sebal diakhirnya.

"Iya kau tahu sendirikan." Namjoon menambahkan lagi diringi anggukan dari Hoseok dan juga Jin. Ingin rasanya Yoongi menyumpahi ketiga sahabatnya ini tapi bukan saat ini dirinya juga masih lemah tak bisa berbuat apa-apa lagi selain berbaring. Jadinya dia hanya mengangguk mengerti tanpa harus memperlebar lagi ujarannya.

Jimin tahu kondisi, dia mengajukkan diri untuk meninggalkan tempat karena urusannya menjaga Yoongi sudah selesai. " Maaf, Sunbae menyela pembicaraan, sepertinya aku harus pergi kekelas sekarang, berhubung sudah ada teman-teman Sunbae datang." Ujar Jimin menatap kearah Yoongi sekilas dan membungkukkan badannya kepada ketiga orang lainnya disana lalu melangkah keluar ruangan.

Setelah Jimin meninggalkan mereka berempat suasana sempat hening beberapa detik sebelum Jin berujar "Yoongi~ya kau lucu, apa yang ada didahimu itu nak, kau seperi anak kecil. Apa Jimin yang memakaikannya untuk mu hum?" Min Yoongi menyentuh dahinya sendiri lalu menatap sinis kearah Jin dkk yang sedang mengulumu tawa. Sialan mereka itu suka sekali menggoda Yoongi. "Berisik! Lebih baik kalian belikan makanan untukku. Aku harus minum obat sekarang juga!."

.

.

.

_dyn_

Jimin tak tahu benar kenapa hatinya terasa ringan ketika berinteraksi dengan si kaku Yoongi tadi. Tapi percayalah bahwa kini Jimin sangat yakin ingin menempatkan hatinya dimana dan untuk siapa sekarang. Meski dirinya pun masih belum tahu sebab dan akibat dirinya ingin menaruh hatinya didalam lautan dalam dan dingin yang tak pernah tersentuh milik Min Yoongi itu.

.

"Lemparanmu meleset Jim." Ujar Taehyung yang tengah berada disisi lapangan menonton sesi latihan basket Jimin. Tapi Jimin memilih bungkam tak meresponnya masih bergelung dengan bola yang ada ditangannya, sibuk mendribble dan juga memantulkannya kearah ring basket.

.

Pikiran Jimin tersita karena memikirkan apakah Yoongi sudah baikan atau tidak. Makanya dia jadi tak berkonsetrasi latihan sendiri dan tak menghiraukan kicauan Taehyung yang tengah memperhatikannya dari tadi.

Taehyung merasa ada yang berbeda dari Jimin yang biasanya. Atau mungkin ada yang tidak beres dengan Si Park setelah menjaga si Ketua Osis itu. Apa mungkin bisa saja seperti dulu Jimin pernah jatuh cinta kepada seseorang dia akan banyak berubah tingkahnya tak seperti biasa. Tahyung terdiam memikirkan kemungkinan dari satu pemikirannya yang benar tadi.

Apa jangan – jangan Jimin. menyukai Yoongi Sunbae? Taehyung tercengang sendiri akan pemikirannya yang satu ini.

"Oh !Yoongi Sunbae ... sedang apa kau disini." Teriak Taehyung memanggil nama si Ketua kesiswaan, namun nyatanya tidak ada Yoongi atau siapapun disana. Ide taehyung untuk membuat Jimin menghentikan kegiatannya ternyata berhasil. Jimin berhenti dari kegiatannya dan menoleh kepada sahabat karibnya yang tengah menatapnya sambil menampilkan cengiran kotaknya.

Jimin mengedarkan pandanganya bermaksud mencari sosok yang dipanggil Si Kim tadi. Tapi nihil yang ada hanya gelegar tawa memenuhi gendang telinga menangkap suara dari sumber Kim Taehyung.

"Astaga, kenapa kau Jim? Dari tadi aku berceloteh panjang lebar kau sama sekali tak merespon, dan sekarang aku iseng saja memanggil nama Sunbae itu kau langsung menengok kesegala arah untuk mencarinya. Jangan bilang kau suka pada Sunbae judes seperti dia Jim?" Ujar Taehyung sambil berlalu menghampiri Jimin di tengah lapangan. Jimin melirik sinis kepada Taehyung yang tengah menggodanya. "Berisik Tae, kau mengganggu latihanku. Dan juga jangan sok tahu kau jika tak ingin bola ini nyasar ke kepala mu nantinya." Lalu Jimin melempar jauh bola bundar itu kearah keranjang basket itu.

Taehyung menanggukkan kepala mendengar elakan yang disuarakan Si Jimin sekarang, sebenarnya masih banyak yang ingin Taehyung suarakan tapi melihat bagaimana Jimin bereaksi sekarang sepertinya tak memungkinkan sebab Si Park kini tengah menenukkan wajahnya kesal kepadanya dan Taehyung tak ingin membuatnya lebih kesal lagi padanya.

Taehyung membalikkan lagi tubuhnya untuk kembali lagi keposisinya disisi lapangan , namun belum sempat dia sampai dirinya dibuat bingung akan kedatangan Yoongi Sunbae dihadapannya. "Yoongi Sunbae? Sedang apa kau disini, seharusnya kau ada di ruang kesehatan kenapa kesini ? Taehyung bertanya kepada Sunbae dihadapannya yang masih terlihat pucat dengan plester penurun demam yang tertempel didahinya. Arahan mata Yoongi tertuju kepada orang yang berada dibelakangnya yang sibuk memainkan bola basket dilapangan."Oh, kau mencari Jimin. Yaak , Park Jimin ini ada Yoongi Sunbae mencarimu."

Dia menghiraukan lagi ujaran kosong Taehyung yang dipikirnya bohong saat dia mendengar si Kim menyebut lagi nama si ketua kesiswaan tersebut. Jimin masih saja asyik memainkan bola yang ada ditangannya. Sampai pada akhirnya dia menyerah mendengar teriakan absurd yang disuarakan si Kim begitu merdu menyapa pendengarannya.

"YAK! PARK JIMIN, AKU TIDAK BOHONG. INI ADA YOONGI SUNBAE TENGAH MENCARIMU SIALAN!"

Jimin terkesiap melihat pemandangan yang berada di belakang Taehyung sekarang ini.

"Yoongi Sunbae." Jimin berucap lirih kearah Min Yoongi disisi lapangan tengah menunggunya.

.

.

_dyn_

Jimin masih tak mengerti arah jalan Tuhan yang diberikan kepadanya. Pasalnya hal ini seperti Tuhan memberikan akses jalan yang lurus tanpa hambatan untuk bisa berdekatan atau pun berkomunikasi lagi dengan Yoongi yang super kaku dan datar ini. Dirinya juga yang belum bisa yakin seratus persen kalau dia menyukai si ketua kesiswaan, makanya dia juga bingung apakah pilihannya untuk mulai menyukai Yoongi saat ini adalah pilihan yang tepat.

.

.

"Hey, Park, Terima kasih untuk yang tadi." Yoongi berkata pelan tapi masih bisa didengar oleh Jimin yang berada disampingya. Jimin menengok kearah kakak kelasnya dan tersenyum kecil."Kau kan sudah mengatakannya tadi diruang Uks, kenapa berterima kasih lagi."

Mereka kini sedang berada disebuah bus untuk pulang dan yang tak bisa dipercaya oleh Jimin adalah Yoongi yang memintanya sendiri dengan alasan kalau teman-temannya tidak bisa mengantarnya pulang karena ada les tambahan sepulang sekolah jadi dia meminta Jimin untuk pulang bersamanya. Awalnya Jimin bingung antara mau dan tidak menerima ajakan tersebut. Tapi akhirnya Jimin menerimanya dan pulang bersama si ketua kesiswaan yang sedang sakit itu.

" Iya sih, tapi aku bukan tipe orang yang sekalinya ditolong oleh orang lain akan melupakannya begitu saja seperti kebanyakan orang yang tak tahu terima kasih. Jadi aku berterima kasih sekali lagi kepadamu." Jimin mengembangkan senyum setelah mendengar alasan kenapa si Min ini mengucapkan terima kasih lagi kepadanya. Jimin mengangguk setuju " Baiklah, aku terima ucapan terima kasihmu, Sunbae."

.

.

Perjalanan mereka masih panjang dan keadaan bus sudah penuh dengan murid sekolah yang pulang dan orang yang memenuhi bus yang ditumpangi oleh Yoongi dan Jimin. Tak sedikit orang dan para siswa yang tak kebagian tempat duduk jadi mereka hanya dapat berdiri dan berpegangan ditempat yang disediakan.

Bus berhenti sebentar dihalte untuk memuat lagi penumpang seorang Nenek-nenek dan juga cucunya. Jimin berinisiatif untuk menawarkan tempat untuk keduanya yang sepertinya kebingungan karena tempat duduk telah terisi semua.

"Halmeoni, duduk disini saja." Jimin bangkit dari duduknya dan mempersilahkan nenek itu duduk dengan cucunya dan bersebelahan dengan Yoongi. Sementara Jimin kini berdiri dengan tangan yang berpegang pada tali pegangan bus yang ada dengan menghadap kearah duduk Yoongi.

Yoongi bingung tak tahu harus berbuat apa melihat bagaimana Halmeoni yang ada disebelahnya seperti tak berdaya memangku cucunya yang bisa terbilang besar dan juga berat.

Jadi Min Yoongi tanpa berpikir panjang melakukan hal yang sama seperti Jimin tadi bangkit dan memberikan tempat duduknya kepada cucu nenek tersebut dan si nenek tadi berujar terima kasih kepada si Min, dan ditanggapi oleh senyum hanga milik Yoongi.

"Sunbae, seharusnya kau tetap disana. Kau kan masih sakit." Jimin berujar dengan Yoongi yang menghampiri disebelahnya dengan memegang pegangan tali yang yang ada. "Aku kasihan melihat Halmeoni itu, dia seperti akan menjemput ajalnya karena terus memangku cucunya yang besar itu." Ujar Yoongi sembari melirik sekilas kepada cucu si nenek yang sedang tidur di bangku yang sebelumnya ia duduki.

"Tapi kau kan masih sakit, Sunbae, lagi pula ..."

"Tak apa, selagi aku masih bisa berdiri aku akan tetap berdiri dan bertahan. Itu yang diajarkan oleh orang tua kepadaku" Jimin hanya bisa mengangguk mendengar selaan Yoongi meski pembicaraan dipotong tiba-tiba oleh si Manis kaku dihadapannya.

.

Wangi feromon citrus yang dikeluarkan oleh Yoongi serasa menguar menghiasi dinding hidung Jimin yang kecil. Bagaimana tidak kini tubuh Jimin dan Yoongi hampir menempel satu sama lain karena semakin banyak orang yang masuk di jam pulang kerja saat ini. Debaran aneh dirasakan Jimin karena tubuhnya sekarang semakin menempel pada Min Yoongi yang berada disebelahnya. Itu makin membuatnya bisa merasakan lebih wangi tubuh Yoongi, membuat Jimin tak sadar melengkungkan senyum yang penuh arti.

Sedangkan Min Yoongi tak sadar jika tubuhnya menempel dengan Jimin. Dia sibuk dengan rasa pening yang menderanya akibat terlalu lama berdiri. Tubuh Yoongi oleng kedepan tapi dengan sigap tangan Jimin menangkap tubuh si Min dan menegakkan kembali tubuh Yoongi.

"Sunbae, kau lelah?" Jimin khawatir kalau sakit Yoongi bertambah karena sejak 15 menit yang lalu dia berdiri dan tidak duduk. Yoongi hanya mengangguk, "Aku sangat lelah, Jim." Park Jimin terenyuh mendengar kata-kata yang dilontarkan Yoongi tadi. Biasanya Yoongi akan memanggilnya 'Park' tapi sekarang apa dia tak salah dengar 'Jim'.

Jimin mengesampingkan hal itu dulu, sejujurnya ia masih tak menyangka jika abang kelas satu ini akan memanggilnya seperti orang yang sudah akrab dengannya.

Dengan segera Jimin mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru bus dan tak menemukan tempat duduk kosong untuk Yoongi. Dia bingung harus berbuat apa untuk membuat si Min baikan, lalu tangan Jimin spontan saja ia tempatkan dipinggang Yoongi untuk menopang bobot tubuh si Min agar tak terhuyung atau oleng seperti tadi.

"Maaf, Sunbae a-aku melakukan ini. tapi tak ada lagi pilihan lain bangku yang lain sudah penuh semua dan aku tak ingin kau seperti tadi lagi, jadi aku melakukan i-ini. Kalau kau tidak suka, aku akan melepaskannya ..." Ujar Jimin sedikit terbata karena takut Yoongi menolak niat baiknya. Tak disangka Yoongi tak melarang Jimin melakukannya dan kini Yoongi tengah mengubah arahan berdirinya menghadap Jimin dengan wajah yang masih pucat.

"Terima kasih, Jim. Kau masih mau menolongku lagi." Lalu dengan sengaja Yoongi menyenderkan kepalanya kesisi bahu Jimin dan memejamkan matanya. Tanpa tahu bahwa kini Jimin kini tengah tersenyum tidak jelas dengan debaran jantung yang terpompa begitu cepat. Entah untuk alasan apa Jimin sedikit khawatir jika orang yang berada dihadapannya ini akan mendengar suara bombardir hatinya yang berdentum keras untuk seorang Min Yoongi.

.

.

.

To Be Continued ...

07'15'2017

Dyn Note:

Chapter 2 is UP!

Wahh siapa nih yang nunggu kelanjutan nih epep Low mutu innih hah? Gimana makin gaje ya J haha emang :b Elu-elu pada ya ... MeanieSeries1706 || .161 || vtan368 || || sugaberry || RenRenay but gomawo yaa udah sudi mapir dilapak gw yang masih bilik kek gini gak layak huni :') semoga mampir lagi dan gak bosen yeh J

Special Thank To Uri Maknae rasa Oppa , I.M yang udah bersedia debut di epep gw meski cuma jadi remahan manis yang sayang untuk dilewatkan. Kapan – kapan dah gue buat yang Monsta X tapi pairing ShowKi aja deh bikos gue gak rela kalo elu yg jadi perannya ntar gue baper lagi, dan lagi gue juga kgk tau sapa sih sebenernya couple elu tuh, Minhyuk? Kihyun? ato Joohoney?

I.M : kapel gua kan elu dyn, elah siapa juga tuh, nama yang elu sebutin tadi hah gue gak kenal.

Gw : (kejer ditempat sambil mimisan)

Okelah guwe akhirin ini dulu dan titip pesen sama klean yang udah mampir dan siapin sejuta kata untuk chap ini yahhh /wink/

.

.

Last But Not Least ... Review Juseyooo ...

RnR pleaseu untuk keberlangsungan ff dan juga gue /wink again/

©dyn_amity