Creepy Guy
Chapter 1: Be Mine.
.
.
Summary: Kim Taehyung akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang diinginkannya. Penuh aura dominasi, keras kepala dan dingin membuat tidak ada yang berani menentang kalimatnya. Siapapun akan tunduk padanya.
.
.
Suasana ruangan ini hening dan mencekam. Tangannya yang saling bertautan diatas pahanya sudah berkeringat karena gugup. Kepalanya terus tertunduk menatap ujung sepatu yang dipakainya.
"Ibu berharap kau tidak akan terlambat lagi, Jungkook-ah"
Jungkook hanya mengangguk pelan. Sama sekali tidak berniat menyela setiap kalimat yang di lontarkan gurunya. Jungkook tidak ingin membuat gurunya semakin marah dan membuat masalah baru. Ia hanya ingin ini cepat berlalu.
"Sekarang kembalilah ke kelasmu. Nanti sepulang sekolah jangan lupa bersihkan toilet."
Jungkook kembali mengangguk dan mulai beranjak dari duduknya. Tubuhnya menunduk sedikit sebagai formalitas sebelum berjalan menuju pintu keluar.
Dalam hatinya terus mengumpat. Jika saja tadi pagi Jungkook tidak bertemu dengan orang itu, dia tidak akan terlambat. Brengsek!
Jungkook menutup pintu ruang konseling dengan pelan. Semoga dia tidak datang kesini lagi karena ruangan itu benar-benar menyeramkan.
Kakinya melangkah menyusuri koridor yang sudah sepi. Tentu saja, bel masuk kelas sudah berbunyi sedari tadi.
"Lihat saja! Aku akan membalasnya nanti. Hanya karena dia kaya bukan berarti dia bisa memperlakukanku seenaknya."
Jungkook mengepalkan tangannya. Dia akan menunjukkan pada orang itu siapa Jeon Jungkook sebenarnya.
Kakinya tiba-tiba berhenti melangkah saat melihat figur yang sejak tadi menjadi bahan umpatannya di ujung koridor.
Sial. Sial. Sial.
Tubuhnya berbalik 180 derajat dan berjalan kearah ruang konseling lagi. Pokoknya orang itu tidak boleh menyadari keberadaan Jungkook.
"Jeon Jungkook."
Kakinya berhenti melangkah saat seseorang memanggil namanya dari belakang tubuhnya.
Brengsekkkk bisakah kau tidak menggangguku sehari saja.
Jungkook berbalik dengan senyum lebarnya melihat orang itu berjalan mendekat, "O-oh su-sunbae. Kau disini?"
Lelaki didepannya terkekeh pelan, "Apa? su-sunbae? Dimana keberanianmu? Sepertinya kemarin kau menolakku dengan angkuh dan sekarang su-sunbae?"
Jungkook ingin sekali memukul wajah mengesalkan lelaki ini. Namun tangannya hanya bisa mengepal di sisi tubuhnya dan mulutnya tertutup rapat.
"Wah. Kau tidak bisa bicara sekarang? Padahal kemarin kau dengan lancar mengatakan 'Aku. Tidak. Akan. Menikah. Denganmu.'." ucap lelaki itu mengikuti cara bicara Jungkook.
Brengsek! Brengsek! Brengsek!
Tangannya terlipat didepan dada. Matanya menatap Jungkook dari ujung kepala sampai ujung kakinya, lalu menatap matanya. Jungkook sedikit bergidik risih karena tatapan lelaki itu.
"Katakan sesuatu." titahnya dengan wajah angkuh
Jungkook mendengus, "Aku harus ke kelas sekarang." ucapnya sedatar mungkin.
"Tidak."
Jungkook menatap lelaki didepannya horor. Bisa-bisanya lelaki ini mengatur Jungkook seenak jidatnya.
"Aku akan ke kelas sekarang. Tae-hyung-sun-bae." ucapnya penuh penekanan berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
Jungkook berjalan melewati tubuh Taehyung. Kakinya melangkah semakin cepat karena Jungkook tidak ingin bernafas di tempat yang sama dengan Iblis seperti Taehyung.
Kepalanya menoleh kebelakang untuk memastikan lalu bernafas lega saat menyadari Taehyung tidak mengikutinya. Syukurlah psikopat itu tidak mengganggunya hari ini.
.
.
Jungkook melipat tangannya diatas meja dan membenamkan wajahnya. Bel istirahat sudah berbunyi namun Jungkook enggan untuk pergi ke kantin. Kepalanya terasa berat dan berdenyut sakit. Pertengkarannya dengan Ibunya kemarin kembali terngiang.
"Kenapa kau bisa terlambat, Kook? Tumben sekali."
Kepalanya terangkat sedikit untuk melirik Seokjin yang duduk disebelahnya lalu kembali pada posisinya, "Hm.. ada masalah sedikit."
"Kau sakit?"
Jungkook menggeleng kecil sebagai jawaban. Dia hanya merasa malas untuk melakukan apapun. Moodnya benar-benar buruk hari ini.
"Taehyung sunbae mengganggummu lagi?"
Jungkook meringis mendengar nama yang disebutkan Seokjin. Telinganya terasa panas bahkan hanya dengan mendengar nama iblis itu.
"Jangan menyebut namanya, Jin. Dia itu setan, dipanggil sedikit bisa-bisa langsung datang."
Seokjin tertawa mendengar ucapannya. Namun, Jungkook bersungguh-sungguh, Taehyung itu seperti setan, iblis, voldemort. Pokoknya menyeramkan.
"Jeon Jungkook!"
Jungkook mengumpat dalam hati. Sudah diduga Taehyung pasti akan datang. Iblis tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja.
Kepalanya terangkat pelan dan langsung disuguhkan dengan figur Taehyung yang berdiri angkuh disebelah mejanya.
"Ayo keluar!"
Matanya mengerjap beberapa kali. "Sebentar lagi masuk kelas, sunbae."
Taehyung memainkan lidahnya didalam mulutnya yang sedikit terbuka. "Bolos!"
Setelah itu Jungkook ditarik begitu saja meninggalkan pandangan horor dari teman sekelasnya.
"Tapi hari ini ada tugas yang harus aku kumpul-aww"
Taehyung tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Jungkook terkejut dan menabrak punggung Taehyung.
"Kau memilih tugasmu atau ibumu?"
Jungkook meneguk ludahnya gugup.
Taehyung melirik kearah Jungkook melalui sudut matanya. Seringai tercetak dibibirnya, "Jika sampai besok kau tidak memutuskan pilihanmu, aku pastikan rumahmu akan tersita."
Jungkook mendelik. Taehyung pasti benar-benar gila.
"su-sunbae."
Taehyung membalikkan tubuhnya dan kini menatap Jungkook lamat-lamat. Kakinya maju satu langkah membuat Jungkook menjauh satu langkah.
"Tadi pagi kau meninggalkanku saat aku belum selesai bicara."
Bibir Jungkook terkatup rapat, dalam hatinya mengumpat atas kebodohan yang dilakukannya tadi pagi.
Tubuhnya menegang saat tangan Taehyung menyentuh punggungnya dan menariknya hingga tubuh bagian depan mereka bersentuhan.
Jungkook menoleh kekanan dan kekiri, takut-takut seseorang akan memergoki mereka. Netranya menatap Taehyung takut-takut.
"Kau pikir dengan kabur dariku akan berarti kau selamat? Jangan bermimpi, Jungkook-ah."
Wajah Taehyung mendekat dan berhenti tepat didekat telinga Jungkook. Bibirnya mengukirkan senyum remeh.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Jeon-Jung-Kook." bisiknya dingin dan penuh penekanan saat melafalkan namanya.
Tubuh Jungkook menegang. Jantungnya berdebar menggila saat Taehyung menjilat lidahnya sensual dan memberikan gigitan kecil disana.
Keringat menetes dipelipisnya. Jungkook ingin mendorong Taehyung namun tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan.
Kepala Taehyung berpindah dan kini wajah mereka saling berhadapan. Tangan pemuda itu terulur dan mengamit dagu Jungkook.
"Pikirkan ini baik-baik, Jeon. Aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan."
Taehyung menatap matanya tajam dan menunjukkan seringai yang mengerikan dibibirnya. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Jungkook dalam gerak lambat seiring dengan wajahnya yang semakin mendekat.
Jungkook akhirnya berhasil menguasai dirinya. Sebelum semuanya terlambat, dengan cepat Jungkook menekuk kakinya hingga lututnya membentur sesuatu yang berada diantara paha Taehyung.
Lelaki itu mengerang keras. Seluruh kontak fisik mereka terlepas dan tubuhnya mundur beberapa langkah. Kedua tangannya menangkupkan sesuatu yang dibentur keras oleh lutut Jungkook.
Jungkook sedikit meringis melihat ekspresi kesakitan Taehyung. Namun dia tidak peduli, Iblis itu yang memulainya lebih dulu kan?
Bibirnya tersenyum lebar, akhirnya dia bisa membalaskan sedikit dendamnya pada Taehyung. Rasanya lebih menyenangkan dari memenangkan hadiah rumah.
"Maaf, sunbae. Tapi aku tidak akan mengubah pilihanku. Aku tetap tidak akan menikah denganmu."
"Brengsek kau, Jeon Jungkook."
Jungkook menatap Taehyung yang terduduk dilantai. Sepertinya sangat sakit. Jungkook bersyukur karena memiliki kaki yang kuat, Haha.
"Sepertinya kau memiliki urusan lain, sunbae. Jadi aku sebaiknya pergi."
Kakinya melangkah ringan meninggalkan Taehyung yang mengerang keras bahkan mengumpat padanya. Jungkook tidak peduli dan tidak akan pernah peduli.
.
.
Jungkook menaikkan tudung hoodie putihnya. Tubuhnya dengan cepat masuk ke dalam kerumunan siswa sekolahnya yang melangkah keluar sekolah.
Badannya sedikit dibungkukkan agar tidak ada yang melihatnya. Semoga tidak ada yang melihatnya. Termasuk,
"Jungkook-ssi."
Sial.
Kepalanya menunduk dalam, mencoba mengabaikan panggilan itu. Namun terlambat, orang itu menarik tas ranselnya hingga tubuhnya terhuyung kebelakang nyaris terjatuh.
Sial.
"Jungkook-ssi."
Jungkook terpaksa mengangkat kepalanya dan tersenyum takut-takut, "a-ah.. Namjoon-ssi."
"Kau menghindariku?"
Kepalanya menggeleng cepat dengan tangan yang melambai-lambai di udara, "Tidak.. Tidak mungkin aku menghindarimu."
Namjoon tersenyum, Jungkook bersumpah itu adalah senyum kematian untuknya. Namjoon itu seperti malaikat pencabut nyawa dan datang untuk mengambil nyawa Jungkook lalu menyerahkannya kepada Iblis.
"Setelah kau melakukan sesuatu pada Taehyung, wajar saja jika kau menghindariku."
Jungkook mengumpat dalam hati saat melihat senyuman Namjoon yang semakin lebar.
"Aku diminta untuk menjemputmu. Kau ingin aku menggunakan cara lembut atau cara kasar?"
Matanya mengerjap beberapa kali. Kemarin Jungkook menolak ajakan lembut Namjoon, lalu dirinya berakhir pingsan dan terbangun di ranjang iblis. Tidak, tidak lagi.
Kepalanya mengangguk kecil, "Baiklah. Aku akan ikut denganmu."
Namjoon tersenyum lalu membukakan pintu mobilnya untuk Jungkook.
"I-ini?"
Namjoon mengangguk, "Kemarin kau mengatakan tidak menyukai Taehyung karena dia tidak memiliki mobil sport berwarna merah. Jadi kemarin malam Taehyung langsung membelinya untukmu"
Mulutnya menganga. Tidak menyangka Taehyung menanggapi serius ucapan Jungkook. Padahal Jungkook hanya mengucapkannya asal untuk mencari alasan menolak Taehyung. Oh, tentu saja. Taehyung berasal dari keluarga kaya, dia bisa membeli apapun yang dia mau.
"Gila. Dia pasti benar-benar gila."
Namjoon hanya tersenyum sopan menanggapinya.
Jungkook kembali menganga saat masuk ke dalam mobil Taehyung. Kursi yang didudukinya benar-benar empuk.
"Astaga ini empuk sekali."
Jungkook membenturkan punggungnya pada sandaran kursi. Bibirnya tersenyum lebar. Rasanya benar-benar nyaman.
"Kau menyukainya?"
Jungkook mengangguk lalu menggeleng cepat. Ini milik si iblis dan Jungkook tidak boleh menyukainya.
"Aku menyukai mobilnya tapi aku tidak akan mengubah pilihanku." ucapnya mantap
Namjoon terkekeh pelan, "Dia tidak akan melepaskanmu begitu saja, Jungkook-ssi."
Bibirnya mendengus mendengar kalimat Namjoon, "Kenapa dia begitu ingin menikahiku?"
Namjoon menoleh kearahnya sebentar lalu kembali fokus pada jalanan didepannya. "Entahlah. Mungkin Taehyung menganggap kau lelaki yang menarik."
.
.
Lidahnya kembali membasahi bibirnya yang terasa kering. Matanya memandang horor pintu megah didepannya. Pintu menuju dunia kegelapan baginya.
Namjoon menekan password pada intercom lalu membukakan pintunya untuk Jungkook.
Dahinya mengernyit, "Kau tidak ikut masuk?"
"Tuan muda hanya ingin berbicara dengan anda, Jungkook-ssi."
Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering saat pintu dibelakangnya tertutup rapat. Bahkan sekarang Jungkook seperti menyerahkan dirinya kepada iblis neraka.
Kakinya melangkah ragu. Matanya menatap sekeliling ruangan takut-takut. Tidak ada siapapun disini.
"Kau sudah datang rupanya."
Tubuhnya menegang saat suara itu menyapa pendengarannya. Jungkook hanya diam ditempat, tubuhnya tidak bisa bergeser kemanapun saat langkah kaki itu terdengar mendekat.
Alarm tanda bahaya mulai bersuara dalam benaknya. Tidak, aku akan mati sekarang.
"Angkat wajahmu."
Jungkook tidak menggubrisnya. Kepalanya tetap menunduk memandang kakinya dan kaki Taehyung yang berhadapan.
"Haruskah aku memaksamu?"
Wajahnya terangkat pelan membuat senyuman mengerikan terukir dibibir Taehyung.
"Bagaimana perasaanmu setelah melukai 'adikku'?" tanyanya menyindir
Jungkook meneguk ludahnya susah payah. Sial, seharusnya Jungkook menendangnya juga tadi agar iblis ini tidak banyak bertingkah padanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan, sunbae? Aku harus segera pulang. Sebentar lagi aku harus bekerja."
Jungkook tidak berbohong. Sebentar lagi memang jadwal part-timenya dimulai dan Jungkook tidak ingin terlambat lalu gajinya akan terpotong. Jungkook membutuhkan uang.
"Sudah ku katakan untuk berhenti bekerja."
Kepalanya kembali tertunduk, "Aku butuh uang."
Taehyung menghembuskan nafas kasar, "Menikah denganku dan aku akan memberikanmu uang setiap saat."
Jungkook menatap tajam kearah Taehyung. Rahangnya mengeras dan giginya bergerit kesal. Taehyung bahkan lebih buruk dari iblis.
"Aku tidak butuh uangmu." ucapnya dingin
Jungkook benar-benar tidak menyukai orang kaya karena mereka dengan mudah merendahkan dan menginjak harga diri orang lain. Maka dari itu Jungkook tidak menyukai Taehyung dengan segala sifat angkuh yang dimilikinya.
Taehyung menarik kerah bajunya hingga tubuh mereka berhimpitan. Netra pemuda itu berkilat marah, sepertinya tidak suka dengan apa yang didengarnya.
"Kau tau kenapa orang miskin menjadi semakin miskin?"
Suara berat Taehyung terdengar dingin dan sarat akan emosi di pendengarannya. Bibirnya terkatup, tidak berniat menjawab pertanyaan Taehyung. Terlihat jelas dalam mata Jungkook bahwa dia sangat membenci Taehyung. Sampai kapanpun.
Wajah Taehyung mendekat dan berbisik dingin di telinganya, ".. karena mereka terlalu menjunjung harga diri yang tidak ada harganya."
Taehyung melepaskan pegangannya pada kerah baju Jungkook lalu menjejalkan tangannya pada saku celana. Bibirnya tersenyum lebar, seperti tidak pernah terjadi apapun.
Rahang Jungkook mengeras, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.
Brengsek!
Taehyung mengangkat bahunya ringan, "Apa sulitnya menjadi istriku dan mendesah dibawahku? Setelah itu kau akan dapatkan semuanya."
Kepalan tangan Jungkook melayang ingin menghantam wajah Taehyung, "Bangsa-"
Taehyung menangkap pergelangan tangannya dan meremasnya kuat. Bibirnya mengukirkan senyum remeh, "Ingin memukulku, huh?"
Tangannya dihempaskan kasar. Jari panjang Taehyung langsung mengamit dagunya dan menekannya kuat.
Jungkook tetap mempertahankan tatapan menantangnya walaupun dagunya terasa nyeri karena terlalu dicengkram kuat.
"Mungkin kau menolak karena belum pernah merasakannya, Jeon. Bagaimana kalau kita coba sekarang?"
Matanya terbelalak saat bibir Taehyung menyentuh bibirnya dan langsung melumatnya kasar. Jungkook ingin menjauhkan tubuhnya, namun Taehyung menggigit bibir bawahnya yang membuatnya mengerang.
Begitu bibir Jungkook terbuka, Taehyung melesakkan lidahnya dan menyesap kuat lidah Jungkook.
"ngghhh.."
Jungkook membelalakkan matanya saat tanpa sadar suara itu lolos dari tenggorokannya. Tidak, Jungkook tidak menikmati ciuman Taehyung. Sama sekali tidak.
Taehyung terlihat menyeringai dalam ciumannya. Lidahnya menjilat bibir bawah dan menyesap sudut bibir Jungkook sebelum mengakhiri ciuman panas mereka.
Punggung tangannya mengusap bibirnya yang basah, "Kau menikmatinya, kan?"
Jungkook mengelap bibirnya kasar. Matanya terasa panas saat menyadari bahwa begitu mudah Taehyung merendahkannya.
"Brengsek!"
Taehyung tersenyum lebar seolah itu sebuah pujian untuknya. "Sekarang ikut denganku."
Tangan Taehyung terulur untuk menggapai tangan Jungkook. Namun Jungkook menyentakkan tangannya kasar.
Taehyung terkekeh kecil, "Ah- baru kuingat kau suka kekerasan."
Dengan cepat Taehyung mengangkat tubuh Jungkook dan menyampirkannya dibahu, benar-benar seperti membawa karung beras.
Jungkook memberontak. Menyentak-nyentakkan kakinya ke udara mencoba membuat Taehyung limbung dan menjatuhkannya.
Taehyung menggeram kesal. Tidak bisakah lelaki ini hanya menuruti keinginan Taehyung. Dengan kesal satu tangan Taehyung yang bebas menampar dan meremas kuat bokong Jungkook.
"Bangsat! Kau pikir apa yang kau sentuh, hah?"
Taehyung hanya tertawa renyah dan kembali meremas bokong Jungkook.
"Hanya meremas bokong calon istriku, memangnya tidak boleh?"
Taehyung menurunkan tubuh Jungkook cepat membuat Jungkook sedikit limbung dan hampir terjatuh jika Taehyung tidak segera memegang pinggangnya.
"Lepaskan aku, brengsek!"
Taehyung mengangkat kedua tangannya ke udara, "Ow- maaf jika aku menyentuhmu."
Bibir Jungkook mencebik kesal, "Aku ingin pulang."
Baru saja Jungkook melangkah tangan Taehyung langsung menghadang jalannya. Bola matanya berputar malas.
"Apalagi yang kau mau?"
Jari telunjuk Taehyung menunjuk hidungnya, "Kau. Aku mau dirimu."
Kaki Taehyung melangkah maju, membuat Jungkook mundur. Namun, punggungnya langsung membentur pintu dibelakangnya.
Sial.
Taehyung terlihat menyeringai membuat Jungkook ingin mencabik-cabik bibir lelaki itu agar tidak bisa menyeringai lagi.
Tangan Taehyung terulur ke belakang tubuhnya membuat Jungkook sedikit memiringkan tubuhnya. Waspada dengan apa yang akan dilakukan iblis ini. Tangannya memegang tuas pintu lalu mendorongnya pelan membuat Jungkook ikut terdorong masuk.
Mata Jungkook sedikit mengintip ke dalam ruangan, ternyata sebuah kamar tidur. Tapi ini bukanlah kamar tidur Taehyung, karena seingat Jungkook saat Namjoon membawanya kesini dan dia terbangun di kamar Taehyung, kamar lelaki itu terlihat mewah sedangkan kamar ini terlihat lebih feminim.
Tangan Taehyung mendorongnya, sehingga tubuhnya kini benar-benar masuk kedalam kamar itu. Tidak jangan katakan Taehyung akan macam-macam padanya.
"Diam disini. Aku akan kembali lagi nanti."
Belum sempat Jungkook memproses kalimatnya, Taehyung langsung menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Pupil matanya melebar. Tangannya memukul-mukul pintu didepannya dengan keras. Berharap Taehyung akan membukakan pintunya.
"BUKA PINTUNYA, BRENGSEK! INI SAMA SAJA DENGAN KAU MENCULIKKU. AKU BISA MELAPORKANMU KE POLISI."
Taehyung terkekeh mendengar teriakan Jungkook. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, "LAKUKAN SAJA APA MAUMU."
Bibirnya tersenyum lebar, ini pertama kalinya Taehyung merasa senang saat seseorang berteriak padanya.
Kepalanya menoleh saat melihat Namjoon berjalan mendekatinya. Namjoon menunduk sebentar sebelum bicara,
"Tuan muda anda harus ke perusahaan sekarang. Sebentar lagi rapat antar-"
"Aku tau."
Namjoon kembali menunduk, menunggu perintah selanjutnya yang akan diberikan Tuan mudanya.
"Kau diam disini. Pastikan dia tidak keluar dari kamarnya. Aku akan pergi sekarang."
"Baik, Tuan."
Taehyung kembali pada wajah dinginnya lalu melangkah menjauh. Namun langkahnya berhenti dan kepalanya menoleh kearah Namjoon dengan tatapan tajamnya.
"Jangan sampai kau menyentuhnya." ucapnya dingin kemudian berlalu begitu saja.
Namjoon menghembuskan nafasnya lega saat mendengar suara pintu depan yang tertutup. Kepalanya menoleh kearah pintu yang terus dipukul keras.
"YA! LEPASKAN AKU DARI SINI, BRENGSEK!"
Suara Jungkook terdengar serak. Sepertinya berteriak sampai tenggorokannya kering. Namjoon menghembuskan nafasnya pelan. Rasanya kasihan juga melihat Jungkook seperti ini.
"Maaf, Jungkook-ssi. Tuan muda sedang pergi sekarang. Jadi lebih baik kau tidak berteriak lagi dan melukai tenggorokanmu."
Hening sebentar. Mata Namjoon mengerjap beberapa kali saat tidak mendapatkan balasan dari Jungkook.
"Namjoon-ssi. Bisa kau lepaskan aku?"
Namjoon tersenyum kecil, "Tuan muda yang membawa kuncinya, Jungkook-ssi"
Jungkook terdengar mengerang keras didalam sana dan mengumpat beberapa kali.
"Jika anda butuh makan atau minum, disana ada kulkas. Anda bisa memakan apapun yang anda suka. Semua fasilitas yang ada di dalamnya bisa anda gunakan, Jungkook-ssi."
Jungkook mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Wow, Jungkook baru menyadari fasilitas disini benar-benar lengkap.
Bahkan ada komputer juga, jadi Jungkook bisa main game kan? Kepalanya menggeleng keras.
"Ayolah, Jeon Jungkook. Kau sedang berada dalam penjara iblis sekarang. Tidak seharusnya kau bermain game" bisiknya pada diri sendiri
"Jungkook-ssi?"
Jungkook menoleh kearah pintu yang tertutup saat mendengar suara Namjoon memanggilnya.
"Iya?"
"Saya akan pergi sebentar. Saya harap anda akan baik-baik saja di dalam sana."
Bibirnya mendengus, "Baiklah. Aku akan baik-baik saja disini."
Pandangannya kembali mengarah pada komputer. Pikirannya berkecambuk antara main game atau tidak.
Jungkook melangkahkan kaki telanjangnya pada karpet beludru yang menjadi alas lantai. Bahkan ini benar-benar terasa lembut dan nyaman dikakinya.
Tangannya merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari ibunya. Nafasnya menghela sebentar lalu memutuskan untuk menjawab panggilan itu.
"Hallo eomma.."
"Kau sudah menentukan pilihanmu, Jungkook-ah?"
Suara ibunya terdengar serak dan sarat akan kelelahan. Jungkook sadar Ibunya benar-benar lelah dengan semuanya.
Ayahnya meninggal dan mewariskan banyak hutang yang membuat hotel milik ibunya terancam bangkrut. Dan saat seperti ini, Taehyung datang menawarkan diri untuk menjadi investor di hotel ibunya dengan satu syarat,
Jungkook harus menikah dengannya.
Matanya terpejam erat dan nafasnya berhembus pelan, mencoba untuk mengendalikan emosinya.
"Jungkook-ah."
Suara ibunya kembali menyapa. "Besok adalah hari terakh-"
"Aku akan menikah." ucapnya cepat
"Apa yang kau katakan tadi?"
Matanya terpejam lalu kembali terbuka. Ini cara satu-satunya yang bisa dilakukannya untuk Ibunya. Maka Jungkook akan melakukannya.
"Aku akan menikah dengan Kim Taehyung."
Ibunya terdengar memekik senang lalu mengucapkan terimakasih berulang-ulang kali. Bibirnya tersenyum kecil, semoga saja ini pilihan yang tepat untuknya dan juga ibunya. Semoga saja.
Jungkook menatap keluar jendela. Percakapan dengan Ibunya ditelfon tadi kembali terngiang. Matanya memandang kosong.
Apakah dirinya akan baik-baik saja dengan lelaki seperti Taehyung? Apakah ini awal dari nerakanya?
Jungkook kembali menghembuskan nafasnya dalam. Rasanya benar-benar sesak.
Kepalanya menoleh saat mendengar seseorang membuka pintu kamar. Memandang takut-takut saat pintu itu mulai terbuka lebar.
Diambang pintu Taehyung berdiri dengan senyum mengerikannya. Kakinya melangkah mendekati Jungkook yang berdiri kaku dan berhenti setelah berada cukup dekat dengan lelaki itu.
Matanya memandang Jungkook dalam, "Selamat datang di duniaku, sayang."
Jungkook tau, semuanya tidak akan baik-baik saja.
.
.
.
Bersambung..
Author's Note:
Haiiii~
Aku datang lagi, semoga gak pada bosen sama aku ya hehe
Seperti yang aku bilang di prolog, kalo ini dibuat setelah 'My Psychopath' kelar. Jadi kemarin" musti nuntasin ff itu dulu hehe maaf bikin nunggu lama
Aku kaget plus seneng saat liat respon kalian di prolog kemarin
Tapi itu juga sekaligus jadi beban buat aku. Aku takut kalian kecewa sama ff ini, makanya aku edit ff ini berkali-kali meski jadinya tetep gini" aja hehe
Aku harap kalian gak kecewa ya, dan aku bakal berusaha lebih baik lagi.
Dan juga jangan lupa reviewnya yaa
Thanks
Aii-nim
2017.07.06
