-XXX-
Bell of the White Hare
Secret Chapter
-xxx-
CHAPTER 10 C
Part II
The Void of Loneliness
-XXX-
ーーー
哀しい景色がいつも一番奇麗に
心の深くに残るのはどうして
躊躇う月影まだ沈みきれずに
夜の中に二人を閉じ込めていた
さようなら
今まで言葉に出来なくて
何度も貴方を傷つけたけれど
ここから一人で帰れる道だから
月の明るいうちに指を離して
ーーー
ーXoXー
Mereka masih belum sampai di Echigo. Perjalanan mereka cukup jauh hingga membutuhkan waktu berhari-hari. Terik matahari seolah membakar kulit hingga mengeringkan dedaunan yang perlahan mulai gugur.
Meski pada hari-hari itu mereka melakukan perjalanan hanya berdua, tetapi tak ada perubahan dengan hubungan mereka. Tak ada pembicaraan menyenangkan yang bisa Suzu ceritakan pada Takatora. Dulu di saat mereka memiliki waktu luang setelah menyelesaikan pekerjaan, biasanya Takatora akan mengajaknya jalan-jalan. Senyuman dan tawa selalu menyinggahi suasana hati mereka.
Namun sayangnya hari-hari itu takkan bisa kembali lagi. Memang Suzu pernah mengatakan bahwa ia akan melakukan apapun yang ia mau agar tidak menyesal di kemudian hari. Namun saat ini ia tak memiliki niat untuk melakukan itu.
Meskipun misalnya atmosfer diantara mereka kembali reda, namun kenyataan bahwa mereka akan berpisah akan membuat raga keduanya akan semakin sengsara. Ia takkan bisa mengabulkan permintaan Takatora untuk bersembunyi dari kekacauan yang mengguncang negeri serta dunia ini. Itulah rantai yang mengekangnya.
Apakah ia telah memutuskan hal yang baik atau tidak, Suzu tak berani menjawab. Namun jika itu menyangkut perubahan pada Takatora saat ini, ingin sekali ia mengatakan kalau pria itu tak seperti biasanya.
Suzu belum pernah melihat matanya kosong seperti itu sebelumnya, kilauan biru gelap yang seharusnya terpancar telah mati begitu saja. Juga genggaman pada pergelangan tangan Suzu begitu kuat, seolah menolak untuk melepasnya. Sekarang pun bekas genggamannya terlihat memerah. Tak seperti biasanya, dulu ia dengan lembut menjalinkan tangan dengan miliknya. Tangan kekar itu begitu hangat dan seolah-olah Suzu merasa terlindungi olehnya.
Ternyata memang benar, kematian Oichi beberapa waktu yang lalu benar-benar telah mengubah Takatora. Meski sebagai prajurit tak sepatutnya melibatkan perasaan pribadi, namun Takatora tak peduli. Jika itu menyangkut orang yang selama ini sangat berpengaruh padanya, ia akan melakukan apapun demi keselamatan mereka. Meski harus mengotori kedua tangannya dan kehilangan kehormatan sebagai prajurit atau bahkan mengorbankan nyawa jika itu dapat membuat mereka bisa selamat.
Ia hanya memiliki harapan pada mereka, bukan pada dirinya sendiri. Kini yang hanya bisa ia lakukan adalah tetap bertahan hidup bagaimana pun caranya, sesuai dengan ucapan Nagamasa dan Oichi saat itu.
Takatora ingat pesan terakhir Oichi yang disampaikan oleh Suzu pada malam itu.
『己の生き方に誇りを持てください。』
Membawa harga dirinya untuk tetap bertahan hidup. Tanpa itu ia takkan bisa menumbuhkan kesetiaan. Namun sulit bagi Takatora untuk menerapkannya untuk dirinya sendiri.
Bahkan Suzu pun juga meminta hal yang sama. Ia selalu mengatakan bahwa ia takkan membiarkan Takatora berjuang sendirian. Ingin sekali Suzu meringankan beban dan menyinari kegelapan pada hatinya, namun ia gagal.
Suzu mempedulikannya, sama seperti Nagamasa dan Oichi. Kekaguman dan kebaikannya tak pernah terlepas dari hati Takatora. Ia akhirnya menemukan orang yang ingin ia lindungi dengan segenap hatinya.
Tetapi kematian Oichi saat itu, dengan mata kepalanya sendiri. Takatora akhirnya menyadari bahwa melindungi saja tidak cukup dari kengerian negeri ini. Orang yang ia percayai tak seharusnya mendahului dirinya. Awalnya Takatora tanpa ragu bersedia mempertaruhkan nyawanya. Namun takdir, hingga kini tak membawanya ke jalan yang ia inginkan. Perintah terakhir Nagamasa untuk tetap bertahan hidup benar-benar telah mempengaruhi takdirnya.
Maka dari itu, orang yang satu-satunya tersisa dalam hidupnya, yang amat berharga dan istimewa dari siapapun. Suzu, ia akan membawanya jauh dari malapetaka yang mengguncang dunia dimana mereka hidup. Kali ini ia akan memastikan memurnikan kembali tangannya dari busuknya negeri ini. Melakukan cara yang berbeda tak seperti saat melindungi mantan majikannya. Tetapi Takatora tak pernah tahu, bahwa dirinya seolah menyembunyikan benda keramat yang tak tersentuh. Karena Suzu sesungguhnya tak pernah mengharapkan perpisahan diantara keduanya.
Meski keduanya sudah tahu bahwa mereka saling mencintai, tapi perasaan serta emosi itu takkan bisa mengalir selama yang mereka inginkan. Karena takdir tak pernah memberikan tanda sekecil apapun kecuali mereka tahu kematian adalah akhir dari segalanya. Apapun yang mereka lakukan. Mereka takkan bisa menemukan akhir yang bahagia bagaikan kisah dongeng.
...
"Suzu...? Kau baik-baik saja?" tanya Takatora yang menunggangi kuda, ia menahan Suzu yang duduk menyamping di depannya.
Napas gadis itu terengah-engah dan berat, kedua matanya terpejam, wajahnya berkeringat. Takatora membuka sarung tangan hitamnya dengan gigi kemudian menaruh telapak tangannya di kening Suzu. Hasilnya rasa panas seakan ikut membakar tangannya. Pria itu memastikan kembali keadaannya dengan menempelkan dahi mereka. Hasilnya masih sama. Perjalanan mereka yang terlalu jauh bahkan musim panas terlalu berat untuk Suzu. Dirinya memang tak pernah melakukan perjalanan sejauh ini sebelumnya.
"...Sial, kita masih jauh dari kota," desis Takatora. Kemudian Takatora mengambil hyotan . "Kau bisa minum?"
Suzu membuka matanya yang terasa sangat berat, napasnya semakin berat dan kencang. Melihat kondisinya terlalu lemah, tanpa berpikir panjang Takatora meneguk air itu kemudian menautkan mulutnya dengan milik Suzu, dengan hati-hati mendorong air tersebut ke dalam mulutnya. Beruntung Suzu masih sadarkan diri dapat menelannya airnya.
"Takatora-san..." lirih Suzu pelan.
"Bertahanlah sedikit lagi. Kita akan sampai ke kota, lalu kita akan beristirahat disana sampai kau sembuh."
"...baik."
Mendengar suara lemahnya begitu menyakitkan raga pria itu, tak hanya suaranya tapi juga kondisi tubuhnya yang lemah dan pucat pasi. Takatora mengeratkan dekapannya kemudian mencium batang hidung Suzu. "Tidurlah."
Suzu kemudian memejamkan mata. Takatora kembali menjalankan kuda hitamnya, menendang perut kuda itu agar bisa berjalan lebih cepat.
"Berhenti."
Suara seorang wanita tak dikenal menangkap pendengaran Takatora, ia menarik tali kekang untuk menghentikan kuda. Wanita yang baru saja menyuruhnya untuk berhenti muncul dari atas dahan pohon. Memiliki surai hitam panjang yang dikepang, mengenakan sebuah topeng burung gagak dipasang pada wajahnya.
"Padahal bukan ini yang kuharapkan. Kau sudah mengecewakanku, kelinci."
Suzu kembali membuka mata, menoleh kearah wanita itu. "Kau... Kagome-neesama?" lirih Suzu pelan.
Takatora langsung menoleh menatap gadis yang berada di pangkuannya itu, matanya terbelalak terkejut. Tak menyangka bahwa wanita yang pernah berniat untuk membunuhnya itu adalah kakaknya sendiri.
"Jangan memanggilku dengan nama itu lagi. Dulu ayahmu telah memberiku nama 'Sango'. Memang dari awal aku tak memiliki nama tapi panggil aku dengan nama itu." Wanita itu membuka topengnya.
"Apa maumu?" geram Takatora. Ia menyusupkan tangannya ke pedang yang ia selipkan di pinggang.
"Takatora-san, tunggu. Dulu dia telah membantuku saat di Shizugatake. Jadi aku ingin bicara dengannya sebentar," pinta Suzu sambil menahan tangannya dengan lemah, mencegah pria itu menghunuskan pedangnya pada wanita yang padahal hampir membunuh Suzu.
Takatora mengarahkan biji matanya kembali ke wanita bernama Sango itu. Menyadari tatapannya, Sango menyipitkan mata. "Apa? Kau menganggapku penghalang? Ah, ya, tentu saja aku penghalang bagimu." Sango menaikkan bahu.
Suzu mengalihkan pandangannya ke Takatora lalu kembali ke kakaknya, alisnya menyempit cemas apa yang akan mereka perdebatkan.
"Dan aku yakin, kau takkan mengubah niatmu untuk membawa kelinciku ke tempat terpencil disana."
Takatora kemudian turun dari kuda, ia melepas dekapannya dan menyuruh Suzu untuk memegang tali kuda agar ia tak terjatuh. "Tuan...?"
"Jangan bergerak dari sana. Aku akan melindungimu apapun yang terjadi."
"'Melindungiku'? Sebenarnya apa yang..."
Sango kemudian turun dari pohon. "'Menerima segalanya', eh? Jangan membuatku tertawa. Kelinci, apa kau akan tetap melarikan diri? Menerima perasaanmu dibuang begitu saja?"
"...eh?" Suzu memindahkan pandangannya ke kakaknya.
"Jangan katakan padaku kalau kau lupa dengan perkataanmu sendiri. Betapa bodohnya diriku terlalu mudah mempercayai ucapanmu pada waktu itu. Pada akhirnya, kau sendiri telah menyerah."
"Sebenarnya aku..."
"Tak perlu menjelaskannya padaku," potong Sango. "Apapun alasannya aku sudah paham kalau kau sepenuhnya menyerah pada pria ini. Kau bodoh." Sango kemudian mengeluarkan cakar dari lengan pakaiannya. Mengarahkan ujung bilah pisau itu di depan Takatora yang belum berkomentar apapun. "Mungkin membunuh kalian berdua, masalah akan selesai. Heh, seharusnya dari awal aku melakukan ini."
"Enyahlah, onna. Tak ada untungnya jika kau membunuhku atau pun Suzu. Jika kau tak mengubah pikiranmu sekarang juga, nyawamulah yang akan melayang."
Sango mendengus. "Lelucon yang buruk, Tuan Ksatria. Tapi sayang sekali aku tidak akan menuruti siapapun. Karena selama ini aku hidup dengan kemauanku sendiri!" Sango langsung menerjang kearah Takatora.
"Nee-sama, jangan!" teriak Suzu. Niatnya untuk segera turun dari kuda berhenti ketika kepala Suzu mendadak kesakitan. Penglihatannya tiba-tiba menjadi gelap dan sulit untuk membuka kembali matanya.
"Dasar bodoh! Sudah kubilang jangan bergerak dari sana!" bentak Takatora sambil berusaha menahan serangan Sango dengan pedangnya.
"Tadi kau bilang kau akan melindunginya? Konyol sekali, apa gunanya kau melindunginya sedangkan kau hanya berniat untuk mengurungnya sendirian!?" Sango masih menahan serangan Takatora untuk mendapatkan celah. Ia langsung melemparkan shuriken kearah gadis lemah yang hanya bisa duduk diatas kuda itu.
"Suzu!"
Shuriken tersebut berhasil menyayat kulit lehernya, namun beruntung tak mengenai urat nadi pada lehernya. Darah segar mulai mengalir dengan pelan. "Ukh...!"
"Keparat!" umpat Takatora, ia langsung melepas gesekan senjatanya dengan cakar kuat Sango sehingga wanita itu mulai kehilangan keseimbangan. Namun ketika melihat sebuah seringai pada wajahnya, ia langsung mengeluarkan bom asap. Menyadari itu, Takatora langsung mengayunkan pedangnya ke tangan wanita itu. "Takkan kubiarkan...!"
Darah segar mulai mengotori bilah pedang saiken milik pria itu. Tangan kanannya terputus hingga mengeluarkan darah yang lebih deras. "Nee-sama!" pekik Suzu.
Sango mendesis setelah mundur beberapa langkah. Manik emasnya meratapi tangannya yang kini sudah terpisah dari anggota tubuhnya. Sango menggigit bawah bibirnya menahan sakit. Namun mimik wajahnya berubah, sebuah seringai terukir pada bibir Sango. "Heh... hehe... Ah, sakit sekali," desahnya setelah tertawa. "Sudah lama sekali aku tidak melihat darah dari dalam tubuhku." Ia menjilati sisa darah pada pergelangan tangannya. "Merah sekali. Warnanya persis sekali dengan matamu, kelinci."
"N-Nee-sama...?" Suzu memandang wanita itu ngeri begitu melihat darah segar mengalir dari pergelangan tangannya. Kedua kelopak matanya terbelalak, bergetar ketakutan begitu penglihatannya terkunci melihat merahnya cairan tersebut.
Takatora hanya menyipitkan mata lurus pada wanita itu. Dia gila. Dia bahkan tak terlihat ketakutan atau merasa terancam. "Nee, Suzu. Apa kau menyukai darah?"
"Eh...?"
Sango menyeringai lebar, tatapan penuh haus darah seolah begitu mengancam raga gadis itu. "Habisnya benar, bukan? Apa kau tidak paham maksudku?" Lalu ia menuding Takatora dengan tangan kiri. "Kau ingin mengikuti pria ini, artinya kau akan melihat pertumpahan darah dan terus membekas pada ingatanmu. Kau tidak takut sama sekali, 'kan?" Sango mengulurkan tangan kearah Suzu, seolah ingin membawa gadis itu dari Takatora. "Daripada mengikutinya, kau bisa melihat lebih banyak jika kau bersamaku." Jika ia menerima uluran tangannya, itu artinya ia akan menjadi pembunuh yang haus darah seperti Sango.
"Bukan...!" Suzu menggeleng kencang. "Aku bukan ingin melihat pertumpahan darah! Aku bukan ingin melihat peperangan! Karena aku memang terlahir di dunia penuh kekacauan ini, aku harus melewati semua itu! Karena aku-"
"Kau tak perlu menjawab pertanyaan konyolnya!" Takatora kembali maju, berniat untuk menghabisi wanita itu dengan sekali serang. Namun naas, pedangnya terlepas dari genggaman begitu Sango melayangkan tendangan ke tangannya. "Ugh!"
"Bagaimana jika warna merah itu mengalir dari pria yang kau cintai ini?"
Dengan cepat, ia mencabut kunai dari kantong kakinya dan segera menghunuskannya kearah dada Takatora.
"TIDAK!" Suzu langsung turun dari kuda dan mengejarnya. Meski kepalanya begitu sakit luar biasa, ia berhasil merebut kunai tersebut dari genggaman Sango.
"...!" Sepasang manik emasnya terbelalak, tak menduga Suzu berhasil menghentikan serangannya.
Takatora pun tak kalah kaget, Suzu berhasil melindunginya. Meski dengan keadaan tak memungkinkan, dia dapat menghentikan Sango.
Suzu kemudian mundur beberapa langkah. Menghunuskan kunai tersebut pada urat nadi di lehernya, ia berniat membuka lebar luka pada lehernya yang sedikit tersayat oleh lemparan shuriken Sango barusan. "Jika kalian tidak berhenti, aku akan..."
Darah yang mengalir dalam tubuh Takatora kembali mendidih. "Apa yang kau pikirkan!?" bentak Takatora menghampirinya dengan penuh amarah. Suzu terperanjat ketakutan. Ditepisnya kunai tersebut dari genggaman Suzu.
Sementara itu disaat yang sama, Sango mengambil saiken milik Takatora. Kemudian mulai menerjang kearah mereka, bersiap untuk menusuk mereka sekaligus.
"Takatora-san, awas!" pekik Suzu setelah melihat kakaknya bersikeras untuk membunuhnya.
Tepat setelah pekikan Suzu menangkap kedua indera pendengarannya, Takatora langsung mendorong Suzu. Seketika ujung pedangnya menusuk bahu pria itu.
"TAKATORA-SAN!"
Tangan Suzu berpindah ke wajah begitu cipratan darah Takatora mengotori mukanya. Kedua matanya membulat sempurna penuh kengerian meratapi darah segar itu. "Tidak..." Kedua kakinya seketika melemah sehingga tubuhnya mulai rubuh, kedua kakinya menyentuh tanah. Menatapi Takatora yang terpaku merasakan sakit yang luar biasa pada luka tusukan di bahunya.
"Hehe..." Sango menyeringai puas, lalu ia menarik kembali saiken itu dari bahu Takatora. Darah kembali bercucuran begitu bilah pedang keluar dari tubuhnya. Dengan sekuat tenaga Takatora menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuh.
"Kau lihat, Suzu? Kau melihatnya, 'kan? Merah darahnya, perlahan-lahan orang ini akan mati." Sango kemudian mengarahkan ujung pedang itu kearah Suzu. "Berikutnya, kau saja, ya? Aku cukup puas melihat wajahmu. Aku ingin melihat bagaimana raut wajah pria ini ketika ia melihatmu mati di depannya-"
Belum sempat selesai berbicara, Takatora langsung menahan bilah pedangnya, tak peduli akan sayatan yang dalam pada telapak tangannya. Sedangkan tangan sebelahnya mengambil kunai yang jatuh di rerumputan. "Enyahlah."
Tanpa segan-segan ia langsung bangkit menyayat leher wanita itu, tepat dimana urat nadinya berdenyut sehingga darah wanita itu pecah seketika. Sorot mata emasnya mulai kehilangan cahaya, napasnya langsung tercabut. Tubuh wanita itu rubuh sehingga cucuran darah segarnya mengotori rerumputan.
Manik merah gadis itu terkunci melihat mayat baru yang masih hangat tersebut. Tak ada lagi tanda ia masih bernapas bahkan tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Suzu menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya mulai sesak dan kencang melihat pemandangan mengerikan itu dengan mata kepalanya.
"TIDAAAK!" Raungan tangis Suzu kembali pecah. Air matanya mengalir deras bercampur dengan cipratan darah yang mengotori wajahnya.
Di sisi lain, Takatora mengambil pedangnya kemudian menyeka darah yang membasahi bilah besi itu. Biji biru matanya melirik kearah Suzu dengan tatapan kosong.
"Mengapa ia harus menangisi orang yang berniat untuk membunuhnya?"
Suzu kemudian menghampiri mayat baru itu, ketika ujung jarinya hampir menyentuhnya. Takatora langsung menahan pergelangan tangan gadis itu dengan kuat.
"Kita pergi."
"Tapi, nee-sama! Nee-sama... Kenapa Tuan membunuhnya?! Dia-"
Takatora menggertakkan gigi mendengar lontaran dari mulut gadis itu. Dirinya mulai muak oleh Suzu yang tak mengerti alasan mengapa ia rela melakukan hal sekeji seperti membunuh kakaknya.
"Diam!" bentak Takatora memotong ucapannya, menutup mulut Suzu dengan telapak tangan, mencengkram pipinya dengan kuat untuk membuatnya berhenti berbicara. "Kau seharusnya sadar karena aku melakukan ini demi kebaikanmu! Kau boleh saja membenciku. Tapi aku takkan membiarkan siapapun menyentuhmu!"
Melihatnya raut wajah Suzu yang kesakitan, Takatora segera melepas cengkraman dengan kasar sehingga gadis itu merintih kesakitan.
"Wanita keparat itu ingin mengembalikanmu ke kekacauan ini! Bahkan akan lebih parah jika kau mau mengikutinya dibandingkan aku. Nyawamu akan menjadi taruhannya! Aku takkan menerima itu!" Takatora menahan kedua bahu Suzu dengan kuat sehingga terasa sakit. "Turuti perkataanku, Suzu. Aku takkan membiarkanmu mati. Terserah jika kau ingin mengutukku, tapi aku melakukan apa yang terbaik demi dirimu."
Ketika Takatora berniat untuk menariknya, Suzu langsung menepis tangannya. "Tidak! Sudah cukup, Takatora-san...! Kenapa Tuan mau melakukan ini sedangkan pada akhirnya kita takkan pernah bersama lagi!? Seharusnya Tuan membiarkanku pergi sendirian dan semua ini takkan terjadi! Jika nee-sama datang menemuiku, aku bisa mengatakan padanya kalau aku takkan kembali kesana! Aku akan mengatakan kalau aku takkan menemuimu lagi! Tuan tidak perlu melakukan semua ini! Tuan sudah terlalu banyak memberikan banyak hal padaku! Sedangkan aku takkan pernah bisa melakukan hal yang sama seperti Tuan!" Suzu mulai membentak, air matanya masih mengalir deras.
Kini ia telah mengeluarkan segala yang membebani hatinya. Takatora belum pernah melihatnya berbicara dengan lantang. "Semua ini salahku, jadi Tuan tak perlu melakukannya. Bukankah Tuan menyakiti dirimu sendiri!?"
Hening, Takatora mengalihkan pandangan. "Aku tak peduli apa yang terjadi dengan diriku."
Suzu mengangkat kepalanya agar bisa menatap pria itu. "Tapi aku peduli!"
"Aku takkan menyerah sampai kau benar-benar aman dari semua kegilaan ini." Takatora langsung menarik pergelangan tangan Suzu.
"...T-Tidak. Aku tidak mau...!" Suzu bersikeras melepas genggaman tangannya.
"Suzu!" bentak Takatora dengan keras.
"Aku tidak mau! Aku tidak ingin ini...! Takatora-san yang kukenal... bukan yang seperti ini...!"
Takatora mendesis. "Percuma...!" Tanpa mengatakan apapun lagi, Dengan cepat pemuda itu menariknya lebih dekat, menahan punggung kepalanya kemudian menautkan bibirnya dengan milik Suzu. Gadis itu membelalakkan mata, tiba-tiba ia merasakan sakit di bibirnya. Setitik darah mengalir dari ujung tepi bibir Suzu.
"Nnh!" Suzu merintih kesakitan, sepasang matanya terpejam rapat menahan sakit.
Seketika Takatora memutuskan tautan tatkala mendengar rintihannya, tubuh Suzu langsung melemah. Cengkraman pada jinbaori-nya seketika mengendur. Takatora langsung mendekap gadis itu erat, sangat erat.
Suzu memejamkan matanya yang mulai terasa berat. Melihat kesadarannya telah menipis, Takatora kemudian berdiri, menggendong gadis lemah itu.
Sedikit demi sedikit, hujan mulai menetes dari langit membasahi kepala mereka. Gumpalan awan gelap tak mengalihkan pandangan Takatora dari Suzu yang tak sadarkan diri. Cipratan darah miliknya mulai mengalir bercampur bersamaan tetesan hujan. Kelopak mata Takatora menurun, sendu tersirat pada sorot mata birunya.
-XXX-
Tatkala sensasi hangat menggelitik telinganya, akhirnya Suzu membuka mata dengan perlahan seraya mengumpulkan nyawa. Yang pertama ia lihat ialah seorang pria, tak salah lagi dia adalah Takatora. Dengan tatapan hampa memandang Suzu yang baru saja siuman. Hening menyambut kedua belah pihak.
Suzu kemudian melihat sekitar. Ruangan asing, hanya diberi penerangan berupa lilin. Dia belum pernah berada disini, namun ketika melihat kamar tersebut tergelar satu futon dan sebuah meja. Tak salah lagi sekarang mereka berada di penginapan.
Tapi Suzu merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia baru menyadari tak sehelai kain pun membaluti tubuhnya. Dengan posisi terbaring diatas pangkuan Takatora, sisi kepalanya bersandar pada dadanya, dan tangan kuat pria itu menahan tubuhnya. Pria itu tak mengenakan apapun selain hakama. Tubuh mereka dibalut dengan selimut untuk saling menghangatkan diri. Tak hanya itu, Suzu juga bisa melihat luka di bahunya yang telah dibalut dengan perban.
Suzu yang berniat untuk menjauh dihentikan oleh Takatora. "Kau akan kedinginan jika aku membiarkanmu dengan pakaian basah kuyup. Kita akan menginap disini sampai besok jika hujan telah berhenti."
"..." Suzu menurunkan kepalanya, wajah manisnya bersemu rona kemerahan. Ia merapatkan kakinya dan menyilangkan lengan di depan dada. Ia mulai takut untuk beranjak apalagi tetap berada di atas pangkuannya.
Kulit mereka saling bersentuhan, kehangatan menyapu kulit mereka ketika Takatora mengeratkan dekapan. Seakan tak mau melepasnya. "...Aku baik-baik saja. Jadi Tuan tidak perlu..." gumam Suzu terbata-bata.
"Bicara apa kau? Tidakkah kau sadar demammu masih tinggi?"
Suzu merapatkan bibirnya. "Kenapa Tuan masih memperdulikanku? Aku bisa pulang sendirian ke Sado. Jadi Tuan-"
"Aku tidak akan berhenti memperdulikanmu sampai aku mengantarmu kesana dengan selamat."
"..." Suzu sudah menduga ia tetap bersikeras. Ia takkan bisa mengubah niat pria itu sampai kapanpun. Apapun yang akan ia lakukan, Takatora akan terus menariknya hingga ia benar-benar selamat dari segala malapetaka.
Pikiran gadis itu teralihkan ketika Takatora meraih wajahnya dengan sebelah tangan. Menempelkan dahinya dengan milik Suzu, tapi gadis itu spontan menjauh dan menolak untuk saling berkontak mata.
Belum menyerah, Takatora mendaratkan kecupan di puncak kepala Suzu, menghirup aroma harum rambutnya ke bawah sampai ke pelupuk matanya. Telunjuknya menahan dagu Suzu, lalu saling berbalas pandang, sepasang kelopak mata Suzu bergetar seakan ia ketakutan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Tanpa menunggu lebih lama, Takatora menautkan bibirnya, mendorong lidahnya masuk ke dalam mulut Suzu. Sebutir obat berhasil ditelan begitu menyadari Takatora membantunya untuk menyembuhkan diri.
Takatora memberi jarak diantara wajah mereka, memberi waktu sejenak untuk Suzu sebelum pria itu kembali menekan bibirnya lebih dalam. Lidahnya menjilat bawah bibir Suzu untuk membuka pintu masuk agar ia dapat menjalinkan lidah mereka.
Tak dapat melawan, Suzu berusaha menahan desahan, hanya dapat mencengkram selimut yang membalut tubuh mereka berdua. Begitu lidahnya bergesekan dengan milik Suzu, saliva mengalir dari ujung tepi bibirnya. "Nnh...!"
"Apakah bibirmu masih sakit?" tanya Takatora setelah memutuskan kecupan. Kini ia melumat bawah bibir Suzu. Merasakan tekanan meski pelan, Suzu merintih kesakitan. "...Seharusnya aku tak melakukan itu," lanjut Takatora. Kemudian ia memindahkan kecupan ke rahang lalu ke leher kurus Suzu.
"T-Takatora-san, jangan..." Suzu melenguh. Namun ketika merasakan hisapan pada lehernya, bagian dimana bekas luka sayat yang kecil oleh serangan Sango sebelumnya. Suzu tak sengaja mengesampingkan kepalanya, memberi ruang lebih luas untuk Takatora dapat lebih mencicipi kulitnya. Mendapat kesempatan itu, Takatora menggigitnya. Suzu memekik kaget sekaligus kesakitan.
Kemudian tangan Takatora yang menahan bahu Suzu bergerak turun menyentuh gundukan lembut dadanya. Meremasnya dengan pelan sembari melanjutkan permainan indera pengecapnya dengan telinga Suzu. "T-Tidak... Takatora-san..."
"Kalau begitu kau ingin aku bagaimana...?" Takatora menahan tubuh Suzu untuk duduk diatas pangkal pahanya, kedua kaki Suzu melingkar di pinggang Takatora. Ia membenamkan wajah di dada Suzu kemudian menjilati puncak dadanya.
"J-Jangan...!"
"Kau masih saja berkata begitu..." Takatora mengabaikan permohonannya, ia mulai mengisap dengan kuat sedangkan tangan kanannya mengusik puncak sebelahnya. Punggungnya sedikit terangkat begitu merasakan rangsangannya.
Takatora memutuskan hisapan, jarinya masih menjepit puncak dada Suzu dengan dua jari. Biji mata birunya terkunci memandang wajah gadis itu. Kedua matanya terpejam rapat, alisnya menyempit dan mulutnya sedikit terbuka. Namun setitik bulir air mata membasahi sebelah matanya mengunci perhatian Takatora. Dia terlihat sangat menawan, selalu berhasil mendebarkan hatinya setiap dipandang.
Pria itu menyandarkan kepala Suzu ke bahunya. "Jangan takut." Suzu tak bisa menjawab, isakannya masih belum berhenti. Takatora kemudian mencium bibir kecilnya lagi. Mencoba untuk mendapatkan kepercayaan darinya. Kali ini ia berusaha untuk tidak menyakitinya, mengingat sebelumnya Takatora hampir kehilangan kendali sampai menggigit bawah bibirnya hingga berdarah.
"Uuhn..." Suzu mencengkram bahunya, berusaha menahan sakit pada bibirnya.
Takatora membaringkan gadis itu di atas futon, Suzu mengesampingkan posisi tubuhnya ke samping dan menutup wajahnya dengan kepalan tangan. "T-Tidak... kumohon jangan lagi..."
Takatora menghela napas. Nampaknya ia memang tak bisa melanjutkan sesi senggama dengan gadis itu.
Tentu saja, dia sangat ketakutan sejak Takatora membunuh kakaknya.
Takatora memberikan selimut pada Suzu, namun niatnya berhenti ketika melihat kondisi tubuhnya yang masih tak stabil. Tubuhnya merinding kedinginan, panas demamnya semakin tinggi. "Suzu..." Takatora memeluk gadis itu dari belakang, membenamkan wajahnya diatas kepala Suzu. Berharap dapat menghangatkan gadis itu.
"Tuan... maaf..." lirih Suzu sambil terisak. "Maaf... maafkan aku... Ini semua salahku. Jadi kumohon biarkan aku..."
Setelah apa yang ia lakukan pada kakaknya- membunuh wanita itu. Mengapa dia harus meminta maaf? Apakah ia menyalahkan dirinya lagi? Apakah ia menganggap semua yang ia lakukan adalah kesalahan besar?
Tidak, permintaan maaf adalah kalimat yang sia-sia. Takdirlah yang seharusnya disalahkan.
Takatora menyusupkan telapak tangannya pada wajah Suzu. "Jangan katakan itu," ujar Takatora lembut. Kemudian Takatora kembali mempertemukan bibir mereka. Suara erangan manis Suzu dan decapan lidah kembali mengisi keheningan kamar.
"J-Jangan, Tuan akan tertular dengan demamku..." Suzu memutuskan kecupan dengan terengah-engah.
"Itu lebih baik, jika tertular maka kau akan sembuh. Aku tak keberatan."
"Eh...?" Takatora kembali menautkan bibirnya dengan Suzu.
Melihat tubuh gadis itu yang tak terbalut sehelai kain pun, mendorong dirinya untuk menyentuh gadis itu lagi. Dia benar-benar sudah melupakan permohonan Suzu barusan.
Tangan kekarnya mengusap kulit pahanya yang halus, mendaratkan kecupan di lututnya setelah menegakkan sebelah kakinya. Suzu memejam mata dan merapatkan bibirnya, ia menutup bagian kewanitaannya dengan kedua tangan.
Namun Takatora memindahkan tangan kecilnya itu lalu menyusupkan jarinya di bagian diantara kakinya. "T-Takatora-san...!" Suzu melipat kedua kakinya menyamping, tapi Takatora masih bisa merangsang kewanitaan gadis itu. "J-Jangan...!"
Lidahnya menyusup ke lipatan lembab kewanitaannya seraya mengocok area itu dengan dua jari. Menikmati bagian sensitifnya yang mulai basah di tiap lipatan. Tak hentinya mengusik area titik kelemahannya.
Tidak, dia tak ingin merasakan ini lagi. Suzu ingin menghentikannya. Tetapi sensasi yang tak ia pahami itu benar-benar telah menguasai akal sehatnya. Suzu meracau lemah, rangsangannya begitu kencang dan dalam, juga keras hingga terasa begitu sakit dan nikmat secara bersamaan.
Suzu mulai ingin merasakan lebih, dia ingin melakukan hal itu lagi dengan Takatora. Sensasi terbakar di dalam intimnya membuat Suzu ingin mengeluarkan semua yang tertahan di kewanitaannya. Erangan manis yang keluar dari mulutnya begitu kencang dan menggoda pendengaran Takatora. Sepasang matanya sedikit terbuka dan mulai basah akan air matanya.
Namun ingatannya dirasuki saat pria itu membunuh satu-satunya keluarganya.
"Tidak...! Berhenti...!" Dengan lemah gadis itu mendorong kepala Takatora. Pria itu mengeluarkan jarinya yang basah akan nektar Suzu. Tetapi Takatora tak menyangka terdapat sedikit darah pada nektarnya. Kemudian pemuda itu meratapi wajah gadis yang terbaring lemah dibawahnya sejenak.
Wajah Suzu benar-benar sudah basah akan air mata, tangannya mencengkram kuat bantal di kepalanya.
Dia ketakutan.
Takut padanya.
Ternyata memang benar, gadis itu takkan pernah bisa menjadi miliknya.
Kelopak mata pria itu menurun, kemudian beranjak dari futon dan menghentikan kegiatan. Ia mengambil pakaian kering kemudian membantu Suzu memasangnya. "...Istirahatlah," gumam Takatora sembari bangkit setelah selesai.
Pemuda itu berjalan keluar kamar setelah memasang pakaian dengan membawa sebotol sake.
Suzu meratapi pria itu pergi, linangan air matanya semakin deras sehingga penglihatannya mulai basah dan sulit untuk melihat. Rasa perih di matanya dan sakit kepalanya membuatnya ingin tidur. Namun ia tak ingin sendirian. Ia ingin merasakan pelukannya yang hangat seperti waktu itu. Semuanya terasa sangat dingin.
Ia takut sendirian.
Ia tak ingin membayangkan kenyataan dimana dia akan sendirian.
Sementara itu Takatora berdiri di balkon, ia menuangkan sake pada cawan lalu meminumnya dengan sekali teguk. "...Apa yang telah kulakukan?" desisnya sembari mengurut dahi.
Seisi kepalanya mendera, mengingat wajah Suzu yang ketakutan akibat ulahnya. Dia telah membuatnya menangis, telah membuatnya takut. Takatora mengumpat dirinya sendiri ketika mengingat kebodohannya.
-XXX-
Keesokan harinya, Suzu bangun dari tidurnya. Sebetulnya ia takut untuk bangun, tak ingin Takatora kembali menyerang tubuhnya. Ia membuka matanya yang masih berat, kemudian duduk dengan perlahan. Suzu merasakan bagian bawah perutnya terasa sakit. Gadis itu yakin penyebabnya adalah karena 'kegiatan' yang mereka berdua lakukan.
Baru sadar yukata yang ia kenakan milik Takatora. Pakaian itu terlalu besar untuknya. Kemudian ia memerhatikan sekitar, Suzu tak melihat Takatora di dalam kamar. Suzu bergegas beranjak, membasuh wajah dan pergi mencarinya di luar penginapan.
Tidak, dia tidak mungkin...
Dia mulai khawatir apakah Takatora benar-benar menuruti permintaannya untuk pergi sendirian ke Sado. Ketakutannya akan ditinggal sendirian kembali mempermainkan perasaannya. Layaknya seekor kelinci yang kehilangan dan kesepian, tak tahu dimana jalan untuk kembali.
Setibanya di luar, ia menemukan Takatora yang tengah sibuk menyandangkan barangnya diatas kuda. Ketika menyadari Suzu hanya berdiam diri memandangnya dari pintu depan penginapan, Takatora mulai menghampirinya.
"Bagaimana dengan kondisi tubuhmu?"
Ketika Takatora menaikkan tangan menuju wajahnya, tak sengaja Suzu mundur selangkah. Walau Takatora telah menduganya, ia tetap berniat menyentuh pipi Suzu lalu berpindah ke dahinya. Demamnya sudah menurun.
"...Kau masih ingin istirahat lebih lama?"
Suzu menahan napasnya, dengan canggung mulai berbalas pandang dengan pria itu. Tetapi ia langsung menjatuhkan pandangannya ke bawah lalu menggeleng.
Pria itu menurunkan sentuhan tangannya dari wajahnya. "Baiklah, kalau begitu kau harus bersiap-siap sekarang-"
"Anu..." Suzu memotongnya.
Takatora menoleh. "...Apa?"
Suzu masih menurunkan kepala. Dengan gugup, kedua tangannya mencengkram lengan baju yukata-nya yang besar. "Bagaimana dengan luka pada bahumu, Tuan? Dan... apakah Tuan sudah tidur tadi malam?" tanya gadis itu dengan suara pelan. Karena sejak malam itu, ia tak melihat Takatora beristirahat di kamar. Apakah Takatora menyewa kamar lain atau tidak, Suzu tak yakin. Atau mungkin Takatora tidur di futon yang tak sama dengannya.
Suzu mulai mencemaskan dirinya lagi. Entah ia harus merasa lega atau sebaliknya, Takatora sendiri tak tahu harus berekasi seperti apa.
"Sudah, tapi kurasa aku terlalu banyak minum tadi malam," jawab Takatora. Ia memindahkan tangannya menuju puncak kepala Suzu, membelai surai peraknya yang halus bagai sutera. "Tak perlu mencemaskanku."
Kedua matanya setengah terbuka ketika merasakan sentuhan lembut itu. Entah kapan terakhir kalinya ia merasakan ini, Suzu merasa bodoh karena tak bisa mengingatnya. Ia amat merindukan sentuhan lembutnya.
"Suzu...?"
Takatora menghentikan belaiannya, kemudian menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Pertanyaan yang berkumpul di sorot matanya ketika menatap manik merah gadis itu basah akan sebulir air bening di pelupuk matanya.
Suzu segera menyeka air matanya. "A-Ah, aku baik-baik saja, kok, Tuan. Kalau begitu, aku akan siap-siap terlebih dahulu." Kini Suzu sudah bisa menatap matanya, meskipun begitu ia tampak masih gugup.
Takatora menurunkan kedua tangannya. "Ya, aku akan menunggumu."
Suzu bergegas masuk ke dalam penginapan dan mempersiapkan diri. Pria itu menatap gadis itu pergi ke kamar. Ingatannya tertuju pada saat air mata kembali membasahi manik indahnya. Akan tetapi, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari air matanya itu.
Itu bukanlah air mata pertanda ia takut sama seperti sebelumnya. Tetapi menandakan kesedihan sekaligus kerinduan. Apakah air mata itu menyangkut tentang dirinya, Takatora tak tahu.
"Kau memang buruk dengan setiap hal yang menyangkut perasaanmu."
Ucapan Yoshitsugu melintasi pikirannya. Ia mendecak, merutuk pria itu di dalam hati.
-XXX-
Mereka memulai perjalan mereka kembali menuju Echigo. Sesampainya disana mereka menumpangi sebuah kapal yang berlayar ke Pulau Sado.
Matahari perlahan terbenam, pancaran sinar jingga kemerahan memantul laut biru. Pemandangan itu memikat perhatian Suzu, mengunci perhatiannya dengan mata berbinar. Perlahan cahaya matahari itu mulai tak terlihat hingga laut pun kehilangan kilauannya. Namun itu sama sekali tak membuat Suzu kecewa. Keindahan laut begitu menakjubkan baginya.
"Apakah ini pertama kalinya kau melihat laut?"
Pertanyaan Takatora langsung dijawab Suzu dengan anggukan.
"Um. Dulu ayahku pernah memberitahuku, saat aku masih sangat kecil. Ayah dan ibuku merayakan kelahiranku ke keluarga ibuku yang menetap di Pulau Sado. Setelah beberapa lama, kedua orang tuaku kembali pulang ke desa tempat tinggal ayah. Jadi aku belum pernah melihat laut selama ini."
Takatora melirik kearah gadis itu, sebuah senyuman sendu terukir pada wajahnya. Entah mereka memiliki pikiran yang sama, namun Takatora berpikir kalau ini adalah pertama dan mungkin terakhir kalinya untuk melihat laut yang sama dengan gadis itu. "Lautnya seperti pantulan cermin langit malam," lirih Suzu.
Suzu kemudian menurunkan kepala, matanya melirik sekilas kearah Takatora. "Um... kalau Tuan sendiri? Bagaimana?" tanya Suzu pelan.
Sudah berapa lamanya Suzu tak mengajaknya mengobrol? Takatora langsung menghiraukan pertanyaan itu, sebelah tangannya bertumpu di atas kayu pembatas kapal. "Sama sepertimu. Ini juga pertama kalinya."
Suzu menengadahkan wajahnya dengan mata setengah melebar, tak menduga jawabannya.
"Memang dulu aku sudah pernah berkeliling untuk mencari majikan yang pantas kulayani setelah jatuhnya Azai. Tapi tak pernah terlintas di pikiranku untuk melewati pesisir hanya untuk melihat laut."
Suzu hanya mengerjapkan mata, kemudian mengarahkan pandangannya kembali ke laut yang terpantul oleh cahaya malam. Dari ujung tepi mata Takatora, biji mata birunya melihat seulas senyuman kecil menghiasi wajahnya.
"Takatora-san selalu seperti itu..." bisiknya.
Senyumannya membuat pria itu terpana, betapa ia amat merindukan kehangatan pada senyumannya itu. Kapan terakhir kali Suzu tersenyum seperti itu? Selama ini, sejak Takatora membawanya jauh dari Nagahama, ia kesulitan untuk tersenyum. Kesedihan selalu menyinggahi paras manisnya sejak saat itu.
-XXX-
Sesampainya di Pulau Sado, mereka mulai mencari dimana kediaman keluarga ibu Suzu. Sesuai dengan perkataan Suzu saat ia meminta izin pada Hideyoshi. Kediaman itu masih dibiarkan berdiri meski tak berpenghuni karena suatu alasan. Semua anggota keluarganya sudah meninggal dunia satu persatu karena penyakit keturunan yang dialami mereka.
Mereka akhirnya menemukan kediaman itu, rumahnya terlihat begitu luas dan bisa didiami banyak orang. Namun setelah Suzu memberitahunya tentang keluarga ibunya, Takatora tak dapat mengatakan apapun, menghiburnya pun tak bisa karena ia tahu itu semua akan percuma.
Ketika mereka hendak memasuki gerbang, seorang wanita tua menghampiri mereka berdua. "Mohon tunggu! Kalian siapa...?" tanya wanita tua itu panik.
Wanita itu kemudian memindahkan pandangannya ke Suzu. "Rambut perak itu... Jangan-jangan Anda adalah putri dari nyonya besar...?"
Suzu mengerjapkan matanya terkejut, lalu dengan segera ia menyingkap tudung kepalanya. "Um... aku Shiraishi Suzu. Maaf sudah tiba-tiba datang kemari tanpa pemberitahuan. Aku..."
Belum selesai Suzu berbicara, wanita tua itu langsung menangkap kedua tangan Suzu. "Suzu-sama...! Anda sudah tumbuh dewasa! Syukurlah Anda masih hidup! Kukira Anda sudah berada di atas langit bersama mereka. Saya sangat takut! Mohon maafkan saya karena tak dapat melakukan apapun untuk menolong Anda. Saya mohon maaf!" ucap pelayan tua itu sembari menunduk dalam.
"Tidak apa kok. Tak perlu meminta maaf, nenek tak salah apapun."
Takatora melirik sekilas tatkala kedua manik birunya menangkap senyuman tipis terbentuk pada paras Suzu.
Wanita itu mengangkat kepala, menatap Suzu dengan berlinang air mata. "Suzu-sama... Selamat datang kembali."
-XXX-
"Suzu-sama, saya telah mempersiapkan air hangat. Silakan berendam. Nona pasti lelah karena sudah jauh-jauh datang kemari."
"Terima kasih. Nenek juga sebaiknya istirahat, jangan memaksakan diri, ya?"
"Baiklah, terima kasih banyak, Suzu-sama." Dia pun undur diri, meninggalkan Suzu membasuh diri di pemandian.
Wanita tua itu kemudian melewati lorong, menemukan Takatora yang tengah duduk di roka yang menghadap ke taman. Menyaksikan satu persatu daun yang berguguran. Tak lama lagi musim gugur akan datang, pikir Takatora.
"Permisi, Tuan. Bolehkah saya bertanya?" Takatora menoleh kearahnya. "Maaf jika saya menanyakan hal yang tidak sopan tapi saya ingin tahu. Apakah Anda kekasih dari Suzu-sama?"
"Bukan, aku tak memiliki hubungan khusus dengannya," jawab Takatora dengan tenang setelah mengarahkan pandangannya ke langit malam.
Pelayan itu mengerjapkan mata. "O-Oh, mohon maaf atas ketidaksopananku." Kemudian wanita tua itu duduk dihadapan Takatora kemudian menunduk dalam sehingga dahinya menyentuh lantai kayu. "Tapi, saya memiliki satu permintaan. Kumohon jagalah Suzu-sama. Dengan usia tua ini, saya tak memiliki waktu banyak untuk menjaganya. Sudah bertahun-tahun saya melayani nyonya besar dan saya mulai menyadari sempitnya kesempatan bagi saya untuk mempertahankan kembali keluarga ini."
Tatapan Takatora kosong seperti biasa ketika mendengar permintaan wanita itu. Lalu ia mengalihkan pandangan kembali ke langit, menerawang jauh ke angkasa.
Dirinya tahu kematian tak pernah memiliki kepastian yang jelas. Tak ada satu pun yang dapat menghindarinya. Takatora sangat sadar akan hal itu. "Sayang sekali, seharusnya kau tidak menaruh harapan terlalu besar padaku. Karena aku bukanlah orang yang pantas untuk Suzu."
"Maaf...?" Wanita itu langsung mengangkat kepala dengan mata terbelalak.
Tanpa mengatakan apapun lagi, ia beranjak lalu bertolak meninggalkan wanita tua yang kebingungan itu. Takatora memutuskan untuk beristirahat di kamar tamu yang telah disiapkan. Ia berencana akan kembali ke Nagahama besok pagi.
Dan melepas segalanya pada saat itu juga.
Melepaskan gadis itu dari genggamannya.
Langkah Takatora berhenti ketika melihat kamar Suzu yang diterangi dengan lilin. Dia masih belum tidur, dari bayangannya ia tengah menulis diatas meja.
Niatnya untuk memasuki kamarnya tertunda ketika seisi ingatannya teringat saat air mata dan ketakutan tersirat pada wajahnya. Jika ia menemuinya lagi, mungkin Takatora takkan bisa mengendalikan diri. Tindakan dan ucapannya hanya akan menyakiti Suzu.
"Takatora-san...?"
Mendengar namanya dipanggil menarik dirinya dari lamunan. Sekarang ia tak bisa pergi begitu Suzu menyadari keberadaannya dari dalam. "...Apa aku boleh masuk?"
"Ya. Silakan." Lantunan nada suaranya sama sekali tak ada pertanda ia takut atau pun ragu. Terdengar lembut seperti nada khasnya yang seperti dulu.
Kemudian Takatora menggeser pintu shoji dan masuk. Dia sengaja membiarkan pintu terbuka, mengingatkan dirinya agar tak terlalu mendekati Suzu yang mungkin akan khawatir jika pintu kamarnya ditutup. Takatora mengerjapkan mata ketika melihat kertas kusut berserakan di belakangnya.
Biji mata birunya lalu memandang sosok Suzu yang mengenakan yukata putih yang hampir menandingi surai perak rambutnya. Sosoknya semakin terlihat seperti dewi yang jatuh dari langit. Yang jauh lebih mengalihkan perhatian Takatora adalah sorot mata Suzu yang lembut begitu memikat. Entah apa yang membuat suasana hatinya membaik. Takatora dengan cepat mengalihkan pandangan dan membuang gairah yang menyinggahi dirinya. Lalu Takatora melirik kearah meja. "Apa yang kau tulis?"
"Ah, maaf kamarku berantakan. Sebenarnya aku ingin menulis surat untuk Yoshitsugu-san dan yang lain."
"...Surat? Untuk apa?" Takatora menyipitkan matanya.
Menyadari tatapan tajamnya membuat Suzu terkelu, ia bergegas mengumpulkan kertas-kertas itu. "Maaf, kalau begitu aku... akan membuangnya," sahut Suzu pelan. Raut wajahnya kembali berubah sendu.
Takatora kembali mengumpat diri begitu melihat perubahan wajah gadis itu. Takatora menghela napas ringan dengan hidung, menutup lalu membuka kembali matanya, berusaha untuk menenangkan diri.
Takatora menghampirinya, menahan tangan Suzu untuk berhenti meremas kertasnya. "Aku tidak pernah melarangmu melakukannya. Aku akan memberikan surat itu pada mereka."
Suzu mengangkat wajahnya, berbalas pandang dengan pria di depannya itu. "Terima kasih banyak, Takatora-san." Sebuah senyuman lembut menghiasi wajahnya.
Senyuman itu lagi.
Dia memang amat merindukan senyuman itu, tapi ia masih terus bersikeras untuk tidak terlalu berkontak mata dengannya. Kemudian Takatora melepas genggaman, hening menyambut kedua pihak.
Tak lama kemudian Suzu menguak keheningan. "Takatora-san... anu, apakah aku juga boleh berbalas surat dengan..."
Jeda, mereka saling berkontak mata kedua kalinya. Karena merasa terlalu lama menatapnya, Suzu kembali menurunkan kepala. "...ah, bukan apa-apa. Mohon lupakan."
Dari tatapannya barusan, Takatora paham Suzu berniat untuk mengirim surat padanya setelah mereka berpisah. Namun itu artinya ia akan mengingkari satu-satunya permintaan Takatora. Suzu langsung membuang niatnya.
Gadis bermanik merah itu kembali menyembunyikan kesepiannya. Takatora tahu itu.
Tangan Takatora terulur meraih wajah cantik gadis itu. Perlahan menurunkan kepalanya, mengurangi jarak diantara wajah mereka. Suzu memejamkan mata, Takatora tak menduga ia akan bersiap menyambut ciumannya. Di saat bibir mereka saling menekan, Takatora dapat mendengar lenguhan manisnya yang pelan. Dengan senang hati menyambut ciuman ringan dari pria yang ia cintai itu.
"Suzu...?" Takatora menangkup wajahnya dengan lembut, menghapus sebulir air mata yang membasahi pelupuk matanya yang indah.
"Takatora-san, kumohon..." Kedua tangan mungilnya bergetar meraih punggung tangan kekar pria itu diwajahnya. Lalu ia mengangkat wajahnya dan membuka mata. Menatap lekat pria itu hingga ia tenggelam pada iris biru laut milik Takatora. "Jangan pergi."
Kedua alis pria itu menyempit memandang wajah penuh air matanya, hatinya tergerak membawa gadis ke dalam rengkuhannya. Dengan putus asa mengeratkan dekapan, seakan tak ingin melepasnya meski hanya sedetik. Ia menahan punggung kepala Suzu, membenamkan wajah gadis itu di bahunya. Napas pria itu bergetar dan berat. Memejam rapat matanya, menahan air mata yang hendak mengalir dari mata tajamnya. Tangisan gadis itu seakan menggulung paru-parunya, jiwanya semakin retak mendengar tangisan kesedihannya.
Mereka kemudian meregangkan pelukan, Takatora kembali menautkan bibirnya dengan milik Suzu. Kali ini kecupan mereka lebih dalam, menjalinkan lidah secara bersamaan. Takatora membuka sedikit matanya, melihat air matanya yang mengalir deras.
Tak selang berapa lama, Takatora mulai memutuskan ciuman dan melepas pelukan. Tak ingin membuatnya menderita lebih jauh. "Sebaiknya kau tidur lebih awal. Kau pasti lelah."
"T-Takatora-san..." Suzu menarik lengan bajunya, menghentikan Takatora yang hendak bangkit. "Kumohon, malam ini saja... temani aku... untuk terakhir kalinya..."
Takatora mengerjapkan matanya, kemudian melepas genggaman Suzu dengan pelan. Gadis itu menurunkan matanya kecewa. Takatora berdiri di hadapan pintu tanpa menoleh ke belakang.
Hal yang bisa ia lakukan hanyalah mengisi relung kesepiannya sebelum mereka berpisah. Jika itu yang dia inginkan...
"...Dengan begini akan lebih adil, ya?" gumam Takatora sembari menutup pintu shoji. Ia mulai menghampiri Suzu, menyusupkan telapaknya pada wajahnya yang merona merah, Menekan bibirnya sebagai jawaban permintaan Suzu.
Perlahan tangannya menanggalkan yukata putih Suzu sehingga tubuhnya kini tak terbalut satu helai kain pun. "Buka pakaianku, Suzu," bisiknya sebelum menghirup aroma Suzu, membenamkan wajah ke bahunya.
"B-Baik..." Suzu pun menurutinya.
Takatora kemudian membawa Suzu ke dalam pelukannya, tubuh mereka yang tak terbalut dengan satu helai kain pun saling bersentuhan. Disisi lain, semu rona merah yang menghiasi wajah gadis itu terlihat jelas oleh Takatora. Tetapi Suzu langsung menyembunyikan wajahnya, bersandar di dada bidang pria itu. Diam-diam, ia mendaratkan kecupan kecil di tubuh kekarnya, melihat luka di sekujur tubuh Takatora selalu berhasil membuat hatinya tergerak.
Takatora mematikan pelita yang menyala di dalam kamar. Hanya diterangi sinar keperakan bulan yang menembus jendela kamar. Cahaya pucat itu begitu mirip dengan surai indah Suzu.
Tanpa menunggu waktu lagi, ia mendaratkan kecupan pada leher kurusnya. Begitu merasakan kecupan mesra itu, kedua mata Suzu langsung terpejam rapat. "Uh..." Suzu juga merasakan ujung lidahnya menjilat kulit sensitifnya dengan perlahan dan lemah lembut. Tangan kuatnya mengusap punggung Suzu dengan pelan, merasakan tiap lekukan yang tercipta pada kemolekan tubuh rampingnya. Suzu bergemetar seakan dirinya meleleh begitu merasakan setiap sentuhan dan kecupannya.
Sedangkan tangan bebasnya mengusap kulit pahanya yang halus. Lalu bergerak keatas mengusap perut, pinggul lalu terakhir ke gundukan kecil yang terbentuk di dadanya. Suzu kembali mendesah pelan, kedua matanya masih terpejam. Pinggangnya sedikit menegang merasakan sentuhan kuatnya. Takatora kemudian membawa gadis itu lebih dekat sehingga gadis itu duduk diatas pangkal pahanya.
Setelah Takatora memutuskan kecupan pada leher, Suzu membuka separuh matanya. "T-Tuan... maaf. Sejak tadi aku mengeluarkan suara aneh. Bahkan dulu aku juga..."
"Tak ada yang aneh. Kau tak perlu menahannya. Malah aku ingin mendengarnya..." ucap Takatora sebelum mulai mengusik buah dada Suzu.
"Uh...!" Gadis bersurai perak itu lalu mencengkram bahu Takatora, namun ia berusaha untuk tidak melukai bahunya yang masih belum pulih. Suzu membuka sedikit matanya, memastikan apakah pria itu kehilangan diri lewat sorot matanya yang menyala akan nafsu. Tetapi kini matanya terpejam, alisnya tak berkerut. Suzu baru menyadari lidahnya bergerak lebih pelan, memberi waktu untuk Suzu menikmatinya. Desiran itu membuat Suzu tak bisa menahan perasaannya, kini dirinya semakin mencintai pria itu.
Kemudian ia mengulum puncak dada Suzu, kembali memainkan putingnya yang sudah mengeras dalam mulutnya dengan lidah. Tangannya yang bebas mengusap kewanitaannya yang masih dibalut dengan fundoshi yang mulai lembab oleh cairan pelumas. Suara lenguhan serta erangan manis kembali memanjakan pendengaran Takatora. Sehingga aliran desirnya semakin kuat untuk memuaskan hasrat mereka, namun ia tak ingin mengakhirinya terlalu cepat dan lebih mengendalikan dirinya.
Bagaimana pun juga, malam ini adalah malam terakhir untuk mereka berdua. Dimana dunia seolah-olah diisi hanya mereka berdua, hanya ada Takatora dan Suzu. Dimana mereka bisa saling mengekspresikan rasa cinta mereka, keputusasaan, ketakutan dan juga kekaguman. Meskipun keduanya tahu cinta mereka takkan pernah bisa mengalir selama yang mereka inginkan. Setidaknya mereka ingin mendapatkan momen dimana mereka dapat mengungkapkan segalanya. Masih banyak yang ingin diketahui tentang masing-masing jati diri mereka. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.
Takatora kemudian membaringkan Suzu di futon. Meski tatapannya ketakutan, namun gadis itu menatap pria itu dengan mata penuh dengan hasrat untuk menghabiskan waktu sisanya bersama pria itu. Sebelumnya, ia tak berani berbalas pandang, selalu menurunkan pandangannya setiap Takatora ada di depannya. Itu membuat Takatora lega melihat perubahan Suzu sekarang.
Takatora menyelitkan anak rambut Suzu, kemudian mendaratkan ciuman di kening, lalu kebawah menuju pelupuk matanya dan terakhir di batang hidungnya.
Merasakan janggal pada rautnya, Suzu menangkup wajah Takatora. "Takatora-san...? Anu... Kenapa wajahmu berkerut seperti itu?" tanya Suzu dengan suara pelan.
Pria itu membisu sejenak, lalu mengecup singkat telapak tangannya. Kemudian membiarkan tubuhnya menghimpit tubuh mungil Suzu, ia membenamkan wajah diatas belahan dadanya. "Sejujurnya... aku tak ingin melepasmu."
Suzu mengerjapkan mata. Namun saat ini ia masih belum bisa menjawab.
"Ini terlalu berat. Tapi demi dirimu... aku tak ingin kehilangan seseorang yang penting bagi kehidupanku untuk kesekian kalinya. Maaf..."
"Um, aku mengerti kok. Memang sayang sekali kita takkan bisa lebih dekat lagi, tapi aku... senang."
Takatora mengepalkan tangannya, mencengkram alas futon dengan kuat. "...Kau tak perlu menghiburku. Kau sama sekali tidak bahagia. Kebahagiaanmu yang sesungguhnya telah kurebut darimu."
"Tidak, Tuan salah," jawab Suzu lembut. "Meski pada akhirnya kita berpisah. Aku bersyukur bisa bertemu dengan Takatora-san."
Takatora mengangkat wajah dan mengendurkan cengkraman, menatap lekat gadis itu. Sesungguhnya ia tak ingin mendengar untaian kata kehangatan dari gadis itu, karena bagaimana pun juga ia tak pantas mendengarnya karena pada akhirnya pria itu tetap harus meninggalkannya sendirian.
Takatora mulai menyusupkan kedua tangannya di tubuh gadis itu, menekan bibirnya dengan milik Suzu setelah berbaring disampingnya. Mereka tak memejamkan mata, memutuskan untuk saling menenggelamkan diri kedalam keindahan manik mereka masing-masing.
Mereka tak bernapas, lidah mereka kembali saling terjalin, mencicipi rasa manis dari indera pengecapnya. Desiran bergairah yang menghubungkan mereka sampai membuat saliva mengalir dari tepi bibir Suzu.
Mereka sempat memutuskan ciuman sejenak tiap mereka hendak menarik napas lalu kembali berciuman. Entah sudah berapa detik, Takatora kemudian menyusupkan lengannya pada punggung kepala Suzu, membawanya lebih dekat dan memainkan puncak dadanya. Meremas dan menjepit kuncupnya dengan jemari. Erangan Suzu kembali mengisi kesunyian kamar itu.
Sementara itu tangan sebelahnya menyentuh bagian kewanitaannya yang masih dibalut dengan fundoshi. Pria itu memandang wajah Suzu, memastikan apakah dia masih ketakutan. Sejujurnya dia merasa sedikit ragu karena tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Takut akan kehilangan kendali sehingga akan menyakiti Suzu lagi.
Takatora menarik napas sejenak, membuang keraguan dan mencari cara agar membuatnya nyaman. Ia mulai menekan jarinya untuk mengusik kewanitaan Suzu. "Kau baik-baik saja?"
"...U-Um." Suzu membuka sedikit matanya dan mengangguk pelan. Takatora merasa sedikit lega begitu mendengar ritme napasnya masih teratur. Ia ingat sebelumnya Suzu sempat hampir kehilangan napas karena tak dapat mengendalikan ketakutannya.
"Aku akan membuatmu merasa lebih nyaman... Tetaplah tenang."
Lalu Takatora menyusupkan jemarinya ke dalam fundoshi Suzu. "Ah..." Menyadari kewanitaannya mulai sedikit basah, Takatora mulai membuka balutan kain itu kemudian pindah untuk menjilat nektar yang membasahi intimnya.
Suzu terperanjat, ia menutup mulutnya dengan punggung tangan untuk menahan pekikan yang hampir meluncur. Lagi-lagi tubuh Suzu seakan terkena sambaran petir merasakan rangsangan lidahnya. Lidahnya bergerak pelan, mencicipi rasa manis yang membasahi intimnya. "T-Tuan...!"
Suzu mengerang lebih kencang begitu lidahnya mengocok lubang sensitifnya. Kenikmatan itu tak henti mengikis akal sehatnya. Dirinya pun hampir lupa apa yang membuat mereka kembali menghabiskan malam bersama.
Suzu mulai menantikan kedatangan kejantanannya yang pernah memasuki tubuhnya saat mereka memadu cinta. Kewanitaannya seakan terasa terbakar ketika benda itu masih belum datang ke dalam tubuhnya.
Takatora pindah berbaring disebelah Suzu, seraya menahan tubuhnya dengan lengan bawah sementara tangannya kembali mengusik dada Suzu saraya memainkan telinganya dengan bibir. Sebelah tangannya lagi mulai merangsang pintu masuknya yang lembab dari sebelumnya. Kedua kaki Suzu menegang begitu merasakan usikan di titik kelemahannya. Suzu melebarkan kakinya agar dapat mendalamkan hujaman jarinya. Erangannya terdengar kecil, merasakan sensasi yang memabukkan dirinya.
Takatora kembali pindah mengisap kuat puncak dadanya. Gesekan jari di dalam tubuhnya membuat kenikmatan itu semakin besar. Suzu memejamkan mata dengan rapat, menarik surai hitam pria itu dengan lemah. Suzu tak hentinya mendesah dan merapal nama Takatora. Erangannya mendorong Takatora untuk menggerakkan jarinya lebih kencang dan keras. Jarinya tak henti mengusik titik lemah Suzu, bergerak keatas dan kebawah dengan cepat. Pinggul Suzu sedikit menegang, kenikmatan itu terus berlipat-lipat.
"Tak apa, kau tak perlu menahan..." bisik Takatora.
Suzu memekik saat mencapai puncak. Setelah selesai menjamah kewanitaannya, Takatora mulai melepas hakamaseraya menjilat jarinya dari nektar Suzu.
Gadis itu melirik kearah batang tegang miliknya, ia bahkan tak ingin mengedipkan matanya. Semu rona merahnya semakin menggelap ketika Takatora sadar Suzu menatapnya begitu penasaran. Takatora mendengus pelan. Sebelumnya ia memang tak memberinya kesempatan untuk memperlihatkannya pada Suzu. "Kita mulai...?"
Suzu menjawab dengan anggukan. Kemudian Takatora menggesekkan kejantanannya dengan pintu masuk Suzu. Mengusik gadis itu untuk meyakinkan bahwa ia betul-betul menantikan ini. Erangan kenikmatan kembali meluncur dari mulutnya. "Uahh...!"
Suzu tampaknya menyukai gesekan barusan. Meski ia menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan erangan, ia sama sekali tidak mengatakan untuk berhenti. Takatora kembali menggesekkan tombak perkasanya yang sudah menegang ke lipatan kewanitaannya.
"K-Keras..." desah Suzu sebelum menggigit bawah bibirnya. Sembari terus menggeseknya dengan ritme yang bertambah, Takatora mengecup rahangnya sehingga kini Suzu menengadahkan kepalanya.
Takatora masih membutuhkan waktu untuk memanjakan gadis itu. Ia tak ingin memaksa tubuh rapuhnya untuk terhubung dengannya karena tak ingin menyakitinya. Sampai pintu masuknya sedikit melebar, ia masih membutuhkan cara untuk menggairahkan sesi pemanasan. Meskipun dirinya kesulitan menahan diri untuk menyatukan tubuh mereka.
Tubuh Suzu mendadak menggelinjang ketika mereka mencapai puncak. Takatora merasa jijik karena membiarkan cairan putih miliknya sedikit mengotori perut Suzu. Namun dia masih belum puas, ia masih belum ingin mengakhirinya.
"Takatora-san..." Tak sempat menyeka cairan tersebut dari perutnya, Suzu memanggilnya terengah-engah, meraih wajah Takatora lalu mencium bibirnya.
Takatora terpaku begitu merasakan bibir lembutnya menekan dengan miliknya. Sebelumnya ia tak pernah mendahuluinya untuk berciuman. Meski ia belum begitu pandai menggerakkan bibirnya, Takatora menyambutnya dan menekan bibirnya lebih dalam.
"...Kumohon, aku... aku ingin..." desah Suzu tersipu setelah memutuskan kecupan. Takatora mengangguk paham. Tanpa membuang waktu, Takatora mulai memasuki kejantanannya ke dalam intim gadis itu dengan perlahan tapi kuat.
Kini erangannya terdengar lebih kencang, sedangkan Takatora menggeram. Lorong gadis itu tetap sempit meski ia telah mengusiknya agar dapat melebarkan pintu masuk, tubuh mungil dan rapuhnya masih belum terbiasa dengan hubungan intim meski sebelumnya sudah pernah mereka lakukan.
"Suzu. Suzu... tenanglah," panggil Takatora lembut sambil mengusap wajah gadis itu begitu mendengar ritme napasnya tak beraturan. Matanya terpejam rapat, kedua tangan kecilnya mencengkram kuat bantal di kepalanya. Ketakutan kembali memainkan akal sehatnya.
Suzu membuka sedikit matanya ketika Takatora memberikan kecupan pada kelopak matanya yang sedikit basah akan air mata. Tangannya membelai rambut Suzu, berusaha untuk menenangkannya.
Perlahan ketakutannya menipis dan napasnya tak lagi sesak. Kelopak mata Suzu mulai berlinang oleh bulir air matanya. "T-Takatora-san... maaf."
"...Kau ingin berhenti?" tanya Takatora dengan tenang seraya mengusap wajahnya.
Suzu menggeleng kencang. "J-Jangan...! Kumohon, sampai selesai... aku ingin..." lirih Suzu seraya meraih wajah maskulinnya.
Takatora tersenyum tipis, lalu mendaratkan kecupan di telapak tangan Suzu yang berada di wajahnya. "Begitu. Sejujurnya aku juga tak ingin berhenti sekarang."
Takatora kembali mendorong dirinya lebih dalam. Dirinya juga mencoba untuk tetap tenang agar tak menyakitinya. Kaki ramping Suzu berguncang ketika kejantanannya akhirnya penuh terbenam dalam tubuhnya.
Takatora menarik napas lebih dalam, kedua manik biru lautnya memandang wajah Suzu yang tengah merasakan kenikmatan yang menguasai sekujur tubuhnya. Gadis itu selalu terlihat begitu menawan di matanya.
"Katakan padaku jika aku menyakitimu..."
Suzu menyadari betapa besarnya kejantanan pria itu hingga tiap hujaman terus membentur titik paling sensitifnya. Takatora menaikkan kaki Suzu ke pinggangnya, berharap dapat membentur masuk lebih dalam lagi.
"Hwahh...! Aaah...!" Suzu meracau lemah.
"Kkh... Suzu..." Takatora mulai menambah kecepatan ritme gerakan. Tak berhenti menghujam sehingga lahar putih mengalir keluar dari intim mereka yang menyatu. Gadis itu terasa lebih lembut dan lunak dari sebelumnya. Mungkin berkat Takatora dapat menahan diri lebih lama, Suzu pun kini terlihat tidak terlalu kesakitan.
Napasnya bergetar, ia berusaha keras untuk mengendalikan diri. Dengan tubuh mereka saling berhadapan, Takatora menghimpit tubuh mungil Suzu dan menahan badannya untuk membawanya lebih dekat.
"T-Takatora...-san...! Aahh!" Suzu mencengkram rambut hitam legamnya, begitu hujamannya membentur tepat bagian yang sensitif. Sensasi panas yang membakar birahi mereka semakin meluap-luap akan setiap hujaman hingga terasa begitu nikmat.
Mendengar desahan manisnya, Takatora kembali menambah kecepatan hujamannya, mendorongnya lebih dekat. Masih belum puas, pemuda itu menautkan bibirnya dengan Suzu, saling menjalinkan lidah demi mendapatkan kenikmatan yang lebih.
Suara kecipak persetubuhan serta erangan yang memenuhi kamar begitu memanjakan pendengaran kedua pihak. Takatora memejamkan mata dan menggertakkan gigi. Tak lama lagi lahar panas akan membanjiri intim Suzu. Tubuhnya terus berguncang tiap hujaman yang Takatora berikan. Cairan putih mulai semakin membanjiri kewanitaan Suzu, namun mereka masih belum selesai.
Takatora kemudian membawanya kembali duduk diatas pangkal pahanya. Menahan pahanya sembari menambah ritme kecepatan. "T-Takatora-san...! Takatora-san...!" pekik Suzu berulang kali. Lengan rampingnya melingkar di sekitar leher Takatora. Ia menggigit kecil tapi kuat di bahu pria itu begitu merasakan kehadirannya lebih kuat. Beruntung Takatora sama sekali tidak keberatan.
Kejantanannya kini benar-benar sudah masuk dan penuh di dalam. Intim mereka yang menyatu terus membentur mulut rahimnya. Suzu juga ikut menggerakkan pinggulnya untuk merasakan lebih kenikmatan yang terus berlipat-lipat. Kehadiran Takatora di dalam tubuhnya semakin kuat. Mereka bisa merasakan intim masing-masing sangat basah dan licin memberikan keuntungan bagi mereka untuk memacu lebih cepat. Suara kecipak persetubuhan dan erangan keduanya semakin terdengar keras mengisi suasana panas dalam kamar.
"A-Aah! Ada yang... keluar lagi...! T-Takatora-saaan...!" Suzu menjerit kencang ketika intimnya menyempit melepaskan cairan putih meluap dan membanjiri di dalam kewanitaannya. Takatora membiarkan kejantanannya mengeluarkan semua benihnya di dalam tubuh Suzu.
Ia memagut bibir gadis itu seiring melepas puncak nafsu yang tersisa meluber di intim kedua pihak. Suzu melenguh kuat dalam kecupan Takatora, mata mereka saling terpejam rapat. Merasakan akhir dari kenikmatan yang telah meledak di dalam tubuh.
Takatora menghela napas panjang setelah melepas pagutan bibir, mengistirahatkan kelelahannya dengan membenamkan wajahnya ke rambut Suzu. Dengan lemah Suzu merangkulnya sembari mengusap surai hitam pria itu. Membiarkan kejantanannya masih di menancap dalam tubuh Suzu. Mereka berdua menarik napas sembari saling memeluk.
"Suzu..." bisik Takatora menguak keheningan.
"...Y-Ya, Tuan?"
Ia meregangkan pelukan dan berkontak mata dengan Suzu. "Jika kau tak keberatan, aku masih belum ingin mengakhirinya sekarang."
"Eh... Ah." Rona wajah Suzu yang kemerahan semakin menggelap. Ia menganggukkan kepala dengan tersipu. "Um... aku juga..."
Takatora mendengus pelan. Sebelum memulai kembali permainan, Takatora menekankan bibirnya dengan milik Suzu. Dengan hati-hati dia mulai mengubah posisi, masih dengan keadaan 'menyatu'. Lalu saling menjalinkan kedua tangan mereka sebelum kembali bergumul.
Momen tersebut merupakan momen paling hebat sekaligus paling menyedihkan dalam hidup Suzu. Disebut paling menyedihkan karena satu hal, mereka takkan pernah tahu kapan waktunya mereka akan dipertemukan kembali. Sejak saat itu, mereka mencoba untuk melarikan diri dari kesepian dan mengisi kehampaan di dalam diri mereka masing-masing. Kehampaan dari kesepian itu ada di dalam diri mereka. Ada di dalam diri semua orang.
Perang yang tak pernah membawa kepastian. Baginya, kehebatan bertarung Takatora tiada tandingannya dibandingkan dengan pendekar yang lain, tetapi saat takdir tidak berada di pihaknya, tidak ada yang dapat menjamin nyawa Takatora di medan perang.
Bahkan untuk Suzu itu sendiri, meskipun ia akan sendirian. Kematian tak akan memberikan pertanda sekecil apapun. Apapun bisa terjadi padanya. Tetapi setidaknya Takatora telah mengurangi peluang itu dari diri Suzu.
-XXX-
Pagi pun datang menyambut, Takatora yang terbiasa bangun lebih awal meninggalkan Suzu yang masih terlelap. Tanpa perlu membangunkannya, ia memasang kembali yukata Suzu agar pelayan rumahnya tak tahu apa yang telah mereka lakukan.
Tetapi ketika Takatora hendak memasang yukata putihnya, Suzu membuka matanya dengan perlahan. "Ah... Takatora-san?"
"Maaf, aku tidak sengaja membangunkanmu."
"Tuan akan bersiap-siap sekarang?" tanya Suzu sembari bangkit.
"Ya, aku tak ingin kau sampai panik jika pelayan rumah ini menemukanmu dengan keadaan telanjang," sahut Takatora sambil membantu Suzu memasang pakaiannya.
Wajah manisnya kembali merona. Dia benar, jika pelayannya itu menemukannya dalam keadaan tak berpakaian di dalam kamarnya sendiri. Suzu takkan bisa menemukan jawaban yang tepat untuk menjelaskannya.
Suzu kemudian melirik kearah Takatora yang sibuk memasangkan obi untuknya. Pria itu mengenakan jinbaori biru miliknya yang seperti biasa, tetapi tak ada baju besi yang melindungi tubuhnya. Jika ia memasangnya, mungkin luka pada bahu dan telapak tangannya tak akan pernah ada.
"A-anu... Tuan tidak perlu repot. Aku bisa melakukannya sendirian, kok. Lalu..." Takatora mengerjapkan matanya kearah Suzu, menyadari rona wajahnya yang kemerahan. "Bagaimana dengan lukamu, Tuan?"
Takatora kemudian melepas tangannya dari pakaian Suzu. Lalu melirik sekilas ke bahunya. "...Aku akan mengganti perbannya nanti."
Suzu mengerjapkan matanya kaget. "Jangan, Takatora-san! Lukanya akan semakin parah kalau dibiarkan dengan perban lama!" ucap Suzu menasehatinya. Lalu ia bergegas bangkit dari futon dan mengambil peti kecil berisi obat-obatan. Takatora hanya membisu melihat prilakunya yang kembali seperti dirinya yang dulu.
Suzu kemudian duduk dihadapannya dan menaruh peti obat itu disampingnya lalu mengambil perban di dalam peti itu. "U-Um, Tuan... Aku akan menggantinya jadi..."
"Ya." Takatora kemudian melepas jubahnya dan menanggalkan kimono pada bahunya lalu perban yang melilit di bahunya dilepas.
Gadis itu membelalakkan mata ketika melihat lukanya. Melihat reaksi Suzu, Takatora mengambil perban itu dari tangannya. "Biar aku saja yang melakukannya. Kau tak perlu melihat lukanya."
Suzu menggeleng kencang. "T-Tidak, setidaknya biarkan aku yang bertanggung jawab. Aku tidak bisa tenang kalau aku membiarkan Takatora-san yang menutup lukanya..."
Takatora menghela napas, lalu kembali memberikannya pada Suzu. "Baiklah..."
Suzu mengangguk lalu mulai melilitkan perban baru di bahunya, tusukannya begitu dalam sampai Suzu merasa ngilu jika ia yang merasakannya. Jika Suzu yang terkena tusukan pada saat itu, dirinya pasti akan mati kehabisan darah.
Dan mungkin itu akan menghilangkan harapan Takatora untuk melindunginya. Ia akan kehilangan dirinya sendiri semakin dalam.
Takatora bisa merasakan napas hangat dan lembut Suzu menggelitik kulitnya. Godaan, memang. Tapi Takatora tahu Suzu sama sekali tak bermaksud melakukannya dengan sengaja. Setelah selesai, Suzu mulai mundur. Takatora kembali memasang pakaiannya. "Apa aku mengikatnya terlalu erat, Tuan?"
"Tidak." Takatora mengusap kepala Suzu kemudian bangkit. "Kalau begitu, aku harus bersiap-siap untuk berangkat. Aku akan memberitahumu setelah aku selesai."
"Baik..." Suzu mengangguk.
Kemudian Takatora bertolak meninggalkan kamar tanpa menoleh sedikitpun. Suzu yakin pasti sulit baginya untuk berusaha menahan perasaannya pada Suzu. Seperti yang ia katakan malam itu, berat baginya untuk melepasnya.
Lalu bagaimana dengan Suzu sendiri? Ia merasa dirinya juga kesulitan untuk mencoba melupakan dan melepaskan segalanya. Apapun ia lakukan demi memenuhi permintaan pertama dan terakhir Takatora. Tapi, ternyata itu memang sangat sulit.
-XXX-
Setelah Takatora menggantungkan barangnya di atas kuda. Wanita tua yang merupakan kepala pelayan rumah itu menghampirinya.
"Anda bisa datang lagi jika memiliki waktu senggang. Suzu-sama pasti akan selalu menunggumu."
Takatora menoleh ke belakang. "Benarkah? Kalau begitu setelah aku pergi, katakan padanya untuk tidak perlu menungguku. Yang akan kuhadapi adalah perang, kapan saja aku bisa mati disana. Karena itu tak ada gunanya menunggu kedatanganku."
Pelayan itu terbungkam mendengar jawaban dinginnya, lalu pandangan mereka teralihkan ketika melihat kedatangan Suzu.
Ia telah mengganti pakaiannya dengan furisode yang terlihat anggun. Sanggulan kecil pada sisi kanan kepalanya diikat dengan pita tipis berwarna merah jambu. Ia meminta pelayan pribadinya itu untuk undur diri dan membiarkan mereka berbicara sendirian.
"...Takatora-san benar-benar akan pergi, ya," lirih gadis itu menundukkan kepala.
"Ya. Jaga dirimu."
Suzu mengangguk dan tersenyum kecil. Ia akan merindukan kehangatan senyumnya yang menyinggahi hatinya. Namun kali ini Takatora berusaha tak terpana melihat senyumannya. Ia tak ingin menyesali keputusannya.
"Ah, lalu... surat yang kutulis sudah selesai. Untuk Yoshitsugu-san, Aki-san dan Natsuko, lalu Masanori-san, Kiyomasa-san dan Mitsunari-san." Suzu tertawa kecil. "Aku menulis terlalu banyak. Aku merasa sedikit gugup memikirkan bagaimana reaksi mereka setelah aku berada disini."
Takatora menerima surat-surat itu lalu menyimpannya. "Sebenarnya aku juga ingin memberikan surat pada Tuan." Pria itu mengerjapkan matanya mendengar itu. "Tapi, itu tidak adil, ya. Malahan itu artinya aku mengingkari permintaan Tuan satu-satunya..."
Suzu memang telah kembali ke dirinya yang seperti biasa. Antara lega atau sebaliknya, hatinya masih tak bisa tenang. Takatora mengumpat dirinya sendiri di dalam hati. Apa yang sebaiknya ia lakukan agar bebannya, ia sama sekali tak tahu.
Melihat raut wajahnya yang kosong, namun Suzu yakin ia masih berpikir keras. Hatinya masih goyah dan berat menerima kenyataan. Suzu tersenyum kecil.
"Sebelum itu..." Suzu perlahan mendekat, "Kumohon, katakan padaku." Gadis bersurai perak itu meraih tangan kanan Takatora. Menggenggamnya dengan kedua tangan kecilnya. Suzu masih bisa merasakan bekas luka sayatan di telapak tangannya. Ia merasa gugup tapi masih ada sesuatu yang bisa ia katakan untuk membuka kegelapan pada hatinya.
「私のこと、愛しているのですか?」
Takatora membelalakkan mata lebih lebar, tapi kemudian langsung mengalihkan pandangan. Ia menurunkan tangan, tetapi Suzu bersikeras menahan tangannya. "Kau salah."
"Itu bohong, 'kan?" Kedua tangan mungilnya kemudian meraih wajah pria itu. Matanya setengah terbuka ketika merasakan sentuhan lembut pada wajahnya. Membuatnya kembali berbalas pandang dengan gadis itu. "Kumohon, katakan. Demi Takatora-san dan demi diriku. Untuk terakhir kalinya, aku ingin mendengarnya. Dengan begitu, aku tidak akan menyesali apapun."
"Kaulah yang berbohong!" Takatora menahan pergelangan kedua tangannya. "Jika aku mengatakan itu, kau akan menyesalinya di kemudian hari! Dan aku juga akan menyesalinya! Aku akan tetap meninggalkanmu sendirian. Takkan ada yang berubah, itu sama sekali tak berguna!"
Wajah tersenyumnya masih belum menurun.
「 私は、貴方を 愛していますよ。」
Takatora menyipitkan matanya. "Kuberitahu kau sekali lagi. Aku takkan mengatakannya. Aku tak pantas... mengatakan itu padamu."
"Ini adalah permintaan terakhirku, Takatora-san. Jika memang suatu hari aku menyesalinya, tapi aku takkan menyesal dengan perasaanku sendiri. Walaupun aku sendirian, tapi perasaan ini akan selalu menemaniku. Mana mungkin aku tak merasakan perasaan Tuan. Selama ini, Tuan begitu memperdulikanku hingga kini."
"Kau salah, aku telah menyakitimu."
"Tapi Tuan telah memperdulikanku hingga kini dan sampai akhir."
Takatora membeku sejenak, iris mereka kembali bertemu. Ia seolah-olah tenggelam memandangi manik merah delimanya yang berkilauan.
"Aku menerima itu, karena aku mencintai Takatora-san. Meskipun awalnya terasa berat, aku akan terus berjalan melewati pintu yang telah Tuan bukakan untukku."
Setelah apa yang dia lakukan padanya selama ini, apakah dirinya masih pantas menerima untaian kata tulus dari gadis itu? "...Kau."
"Kumohon, Takatora-san. Aku ingin mendengarnya."
Takatora kemudian menggerakkan kedua tangannya untuk meraih wajah gadis itu. Namun ia menarik niatnya, menurunkan tangan dan mengepalkan tangan. Biji biru gelapnya kembali terkunci memandang gadis itu. "Suzu..."
"Ya, Takatora-san?"
Takatora kemudian memberikan pelukan erat, membenamkan wajahnya diatas puncak kepalanya. Aneh, tapi begitu nyaman. Perlahan rasa sakit dan beban itu perlahan memulih.
Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Selama ini, gadis itu yang sudah mengetahui kebaikan bahkan keburukan dirinya. Sadar bahwa ia menganggap gadis itu adalah sebagian dari jiwanya.
「俺の...半身。」
Takatora menarik napas untuk mengatur ketidakteraturan ritme detak jantungnya. Semua ketakutan itu perlahan sirna, kehangatan itu telah mendekap jiwa dan raganya. Takatora merasa dirinya mulai bisa mengatakan semuanya dengan jelas.
「俺も 、お前のことを愛していた。」
Suzu memejamkan mata, senyuman tulus mengembang pada bibir tipisnya.
「うん、ありがとうございます。」
Takatora mengeratkan dekapannya, sehingga kedua kaki Suzu hampir tak menginjak tanah. Ia menenggelamkan wajahnya di pundak kecilnya. Membiarkan setetes demi tetes bulir bening mengalir dari pelupuk mata pria itu. Suzu memejamkan mata seraya melingkari tangannya di punggungnya. "Maafkan aku..."
"Jangan minta maaf..." Suzu meraih rambut pria itu dan membelainya dengan lembut.
"Jika waktunya telah tiba. Aku akan datang menjemputmu."
"Ya, aku akan selalu menunggumu, Takatora-san."
Meskipun tidak sesuai dengan permintaan Takatora, namun mereka berharap perasaan mereka takkan membawanya menuju penyeselan yang dalam. Mereka takkan membuang perasaan itu.
Kemudian Takatora melepas dekapan kemudian memberikan kecupan hangat pada bibir tipisnya. Memberikan ciuman perpisahan untuk terakhir kalinya. Dengan senang hati, Suzu menyambutnya. Mereka berdua menangis, antara pertanda kesedihan maupun kebahagiaan.
"Aku ingin kau menerimaku."
"Aku menerimamu selalu."
"Aku ingin terus mencintaimu."
"Aku menyayangimu."
"Aku ingin tetap seperti ini."
"Selalu dan selamanya."
"Aku selalu ingin melindungimu."
"Kau sangat berharga untukku."
"Aku ingin kau menghentikanku."
"Aku ingin menghentikanmu."
"Aku tak ingin mengakhirinya."
"Aku tak ingin melupakannya."
"Aku tak ingin melepasnya."
"Aku tak ingin berpisah."
"Tapi..."
"Kuharap ini bukan perpisahan untuk selamanya."
Tak ada seorang pun yang tahu.
Jika jalan yang akan ditapaki ini salah.
Meskipun dunia yang akan mereka pandangi berbeda.
Meskipun mereka tak tahu kapan masa datang yang mereka harapkan akan datang.
Meskipun mereka tak terselamatkan sekalipun.
Meskipun mereka sendirian...
Mereka akan tetap bertahan hidup.
Dan akan terus mencari pintu takdir yang akan membawanya menuju masa depan.
『私、高虎さんに出会えて、よかったな...。』
ーXXXー
ーーー
ーXXXー
'Kita tidak bertemu orang-orang secara tidak sengaja. Mereka bermaksud untuk menyeberangi jalan kitauntuk sebuah alasan.'
Beberapa orang menyatakan itu salah. Mereka mengira bahwa hal itu hanyalah sungguh kebetulan dan tidak akan pernah menyatukan seseorang dengan orang lain yang menyebrangi jalan kita. Takdir yang telah tertanam pada setiap orang memang berbeda-beda. Aku juga beranggapan bahwa itu salah.
Tapi seiring berjalannya waktu, waktu membuktikan kalau aku tidak benar. 'Alasan' itu benar-benar terbukti, walaupun rasanya terlambat bagiku untuk menyadarinya. Aku tak punya pilihan selain menerima takdir itu. Bukan dalam arti terpaksa. Seiring berjalan waktu, aku senang bisa menapaki takdir ini.
Andaikan saja akhir cerita dari setiap manusia seperti kisah dongeng, tapi itu tidak mungkin. Yang menjadi pertanyaan pada setiap dongeng adalah, apa yang akan terjadi pada mereka setelah itu? Bagaimanapun awal atau akhirnya, kematian pasti akan menjemput mereka, sebagai bukti bahwa dulu mereka pernah hidup. Itulah yang dunia ajarkan padaku.
Dunia ini adalah dunia yang hancur. Umat manusia mengejar perdamaian yang tak kunjung datang. Perbedaan mereka membuat dunia ini dipenuhi perang yang tak ada habisnya. Mati atau bertahan hidup. Melarikan diri atau menerima takdir. Yang lemah akan mati dan yang kuat akan hidup. Hanya terdapat kebahagiaan sesaat. Semua pilihan itu sama menakutkan.
Benar.
Meskipun itu semua benar.
Tapi...
Meski selama hidup ini penuh kesengsaraan dan penderitaan yang selalu datang dan akan pergi bila kebahagiaan sesaat datang menyinggahi hidup. Tapi, aku akan menerimanya dengan tulus. Karena itulah, kami akan terus mencarinya dan bertahan hidup.
ーーー
夜明けに怯えてる頼りない未来を
眩しさと涙で迎えよう
一人で生まれて一人で生きられずに
二人に戸惑って泣くのはどうして
慰めたいとか抱きしめていたいとか
奇麗なだけの心で生きて行けなくて
何度も振り向きながら
開く戻れない扉
明日へ続いてる最後の標
冬から春へ風が吹いて
やがて花が薫るように
繰り返す日々の中いつも
心よ咲き誇れ
押し寄せる黎明
月はもう見えない
ここから始めよう
今日と明日
さよなら
見送る影がやがて白く
優しい時の中へ消えて行くまで
~ Kalafina, 明日の景色
ーーー
-XXX-
ー
つづく
ー
-XXX-
A/N : Masih ada satu chapter lagi. Tapi bakal di-update di hari yang akan datang *plak. Apakah bakal sad end? Good end? Happy end? Normal end? Atau bad end? Saya juga gak yakin *woe*
