Disclimer : All Characters BELONG to Masashi Kishimoto

.

.

. . . . OoOoO . . . .

Part Two

Lovely, goodbye

. . . . OoOoO . . . .

.

.

Suatu malam, aku terbangun karena kudengar kaca jendelaku diketuk oleh seseorang. Aku mengucek mataku sesaat, dan menemukan Hinata yang melambai dari luar. Bulan sudah memasuki musim gugur. Cuaca diluar seharusnya dingin sekali. tapi, Hinata tetap mengenakan gaun biru tak berlengan yang semakin hari terlihat semakin pudar warnanya, meski senyumnya tetaplah sama.

"A-Apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa kau memanjat ke lantai dua?" aku membuka jendela kamarku, dan membawanya masuk. Lengannya yang tersentuh oleh kulitku begitu dingin, "Kau … baik-baik saja?" gadis itu mengangguk pelan. sebaliknya, ia memberiku sebuah kerang laut berukuran segenggam tangannya.

"Aku punya sesuatu yang bagus. Coba dengarkan suara didalam kerang ini," ia mendekatkan mulut corong kerang ke telingaku. Terdengar sebuah alunan melodi yang damai dan begitu bening. seperti, mengingatkanku akan hutan tempat Hinata tinggal.

"Kau … dapat darimana?"

"Ada di danau. Aku menemukannya saat sedang bermain air disana. Hehe!" tangannya membentuk tanda V. bisa kulihat ujung gaunnya yang masih menyisakan basah, dan membuatnya terasa semakin dingin.

"Sebaiknya kau ganti baju. Nanti sakit," gadis itu menggeleng.

"Daripada mengkhawatirkanku, coba cek kotak suratmu," ia menunjuk kebawah, tepat di depan gerbang rumah dimana kotak surat kediaman Uchiha berdiri.

"Ada apa memangnya?" tanyaku penasaran. Ia hanya menggeleng pelan.

"Lihat saja sendiri," ia tersenyum lagi. Aku berlari keluar dari kamar dan menuju kotak surat di tengah malam berbintang. Kutemukan sepucuk surat berwarna putih didalamnya.

Untuk Sasuke, sahabatku.

Dari, Naruto

Ternyata surat dari Naruto.

Aku berlari kembali kekamar, dan hendak menemui Hinata lagi. Namun gadis itu telah menghilang. Jendela kamarku terbuka, dan gordennya melambai ditiup angin. Secepat itukah ia datang dan pergi? aku tidak mengerti, bahkan sampai sekarang, sosok Hinata terasa misterius bagiku. Dengan nafas yang lagi-lagi menghela, kurebahkan tubuhku diatas kasur, dan menerawang surat yang saat itu berada tepat diatas kepalaku.

oOo

Hai, bodoh! Ini aku!

Bagaimana kabarmu? Gimana sekolahmu? Menyenangkan tidak? Disini aku senang sekali! temanku banyak, tapi tidak ada yang semenarik dirimu. Haha! anggaplah aku sedang berbaik hati dan memujimu dengan sukarela XP

Hei, kau mau dengar sesuatu? Aku masuk ke klub Sepak Bola terkemuka di negara tempatku saat ini bersekolah. Inggris! Sas! Aku jadi pemain Inggris mulai detik ini. XD kuharap, suatu saat aku punya waktu untuk pulang ke Jepang dan menunjukkan plakat penghargaan serta medali emas yang sudah kudapat selama bersekolah di sini! Hihihi! Bersiap-siaplah terpukau! Sasuke! bersiap-siaplaaah!

Aku menunggu balasanmu lho! Ingat lho! Kau harus membalasnya, segera!

oOo

Aku melipat surat itu masuk. Dan berniat untuk membalasnya, tapi tidak sekarang. Karena aku merasa belum ingin menulis. Aku tidak punya sesuatu yang bagus untuk diceritakan. Kehidupanku tidak ada yang patut dibanggakan. Sampai sekarang, identitasku sebagai anak buangan Uchiha belum juga terungkap. aku sungguh menjadi aib bagi keluarga Uchiha. Rasanya malu sekali, untuk sekedar membalas surat Naruto saat ini. Ia tidak terlihat seperti si bodoh jaman dahulu. Naruto yang sekarang, sudah menjadi sosok yang luar biasa.

Aku semakin malu.

Aku tidak berani menatap wajahku sendiri di cermin. Ini terlalu memuakkan.

Bagian mana yang akan merubah hidupku? Bagaimana bisa Hinata berkata dengan percaya diri bahwa cita-citaku akan tercapai? Aku sudah menuruti perintahnya, untuk tidak merasa sakit hati dan membenci hidupku, tapi rasanya susah sekali, meski sekedar untuk mengatakan bahwa aku bisa bangkit. Ini susah sekali.

Sampai pada suatu hari, ayah tiba-tiba saja memanggilku. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menurutinya, dan datang ke ruangan ayah dengan perasaan was-was. Ia duduk bersimpuh di tempatnya. Masih dengan yukata hijau kusam dan teh obatnya, ia menatapku dengan serius.

"Duduk, Sasuke," ia memerintahku demikian. Tanganku sudah menggenggam notes kecil yang melingkari leherku dengan kuat. pulpen biru di tanganku yang satunya lagi bergetar karena gugup. Aku menelan ludah, "Jadi, aku takkan berbasa-basi," ia meletakkan teh obatnya di meja dan membetulkan posisi duduknya menjadi bersila, "Mulai besok lusa, Presiden akan menginap dirumah kita, untuk melakukan kerja sama yang sangat besar dengan keluarga Uchiha. Kira-kira, beliau akan menginap disini selama lima hari … " jantungku berdetakan, saling berlomba-lomba, "Yang kuminta kepadamu saat ini adalah, beres-beres dan tinggalkan rumah Uchiha untuk sementara waktu," mataku membulat lebar saat mendengar kalimat egoisnya yang satu itu, "Ayah lelah jika harus menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang sama dari warta berita tentang sosokmu. Jadi, hari ini berkemaslah. Ayah sudah siapkan apartemen untukmu,"

Aku menulis dengan tangan yang bergetar penuh.

'Ayah mengusirku?'

Wajahnya tetap dingin dan kaku, tapi bisa kulihat beberapa butir peluh keringat menuruni pipinya yang tua,

"Bukan seperti itu … hanya saja ayah–"

'Baiklah, aku mengerti Ayah. Aku akan pergi'

Aku menutup notes kecilku dan kembali mengalunginya di leher. Setelah membungkuk hormat, akupun pergi meninggalkan ruangan Ayah. Aku tak butuh penjelasannya karena pada akhirnya, semua ini akan selesai dengan ending yang sama. Aku tetap saja akan pergi dari rumah, dan tidak ada hal yang bisa menerimaku di keluarga Uchiha saat ini.

Kakiku melangkah dingin, pergi meninggalkan singgasana Uchiha yang nyaman. Ibu baru saja pulang kemarin, tetapi aku belum sempat melihat rupanya. Kurasa, aku harus menunggu tiga bulan lagi untuk melihat ibu. Nafasku mulai berembun. Udara diluar semakin beku, rasanya ingin mati saja.

wajahku yang menunduk, melihat bayangan gelap yang sepertinya memunggungiku dari belakang. Cahaya sorot lampu di ujung jalan membuat sinar bayangannya semakin panjang. Perlu kau ketahui, kalau saat itu langit sudahlah malam. Aku menoleh dengan wajah yang memerah karena cuaca dingin.

"Hei!" Sosok itu telah kembali, menyapaku, menemaniku.

"H-Hinata … " napasku terengah dengan hembusan angin yang menusuk tulang. Syal dileherku semakin mencengkeram erat, seolah tidak memberikan celah kepada angin untuk membekukan leherku. Sementara gadis itu tersenyum. Kulihat kakinya yang tak bersepatu, dan gaun biru yang semakin hari semakin kusam, "Ini … pakailah," aku melepaskan jaket cokelat selutut milikku, dan meletakkannya pada tubuh mungil Hinata yang tenggelam dengan jaketku.

"Makasih," ia berujar pelan, dan singkat. Senyumnya tak pernah hilang.

Tangannya meraihku, dan menarikku dengan lembut. tanpa banyak bicara, aku membiarkannya berjalan menuntunku pada sebuah tempat. dan aku tidak tahu dimana itu.

"Sampai … " lagi, ia berujar tenang.

Aku berada di sebuah tempat yang terasa asing bagiku. Padahal jaraknya hanya beberapa mil dari rumah. Dalam hati aku hanya bertanya-tanya,

"Dimana ini?"

"Masa lalu," Hinata menjawabnya cepat. Aku menoleh padanya, untuk beberapa saat. Kemudian, kembali menatap seberang, tepat dimana berdirinya sebuah bangunan kuno yang dapat diketahui bahwa itu adalah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi pintu pagarnya yang terbuat dari kayu sangat tinggi, dan aku yakin di dalamnya ada sebuah kebun yang cukup luas.

pada tembok disamping pintu pagar, terdapat sebuah plat nama keluarga yang kelihatannya tidak asing bagiku.

'Uchiha'

"Rumah ... ku," suaraku terdengar sakit. Tanpa basa-basi, kudekati rumah itu dan memutar knop pagarnya, kemudian menariknya sekuat tenaga, hingga akhirnya pintu pagar itu terbuka. Tiba-tiba saja hembusan angin terbang meniup sekelilingku, guguran daun semanggi berhamburan membuat mataku nyaris tak bisa melihat apa-apa.

"A-Apa ini?"

"Tenang, Sasuke-kun," Hinata menyentuh pundakku yang menegang. Seketika dedaunan yang gugur itu tersapu angin kencang dan terbang ke atas langit. Tanpaku sadari, hari menjadi siang, dan matahari bersinar terik.

"Bagaimana bisa?" setiap detik aku bertanya. Namun Hinata tak meresponnya. Ia menjawab semuanya dengan 'keajaiban' yang telah ia tunjukan padaku.

"Pergi ke halaman belakang yuk!" ia menarik tanganku lagi, memutari sudut rumah dan menemukan sebuah ayunan kecil di belakang halaman. Samar-samar aku melihat sesosok pria dan wanita, yang sedang mengayunkan anaknya diatas ayunan.

"Itu … aku?" tatapku tak percaya. Rasanya aku tak ingat punya memori sebahagia itu. Ayah yang menatapku dengan senyuman, ibu yang mengelus kepalaku. Kakak yang ikut berayun di ayunan sebelahku. Aku terdiam cukup lama, menikmati semuanya, hingga meresap kedalam batin. Aku ingin merekamnya lagi kedalam memori otakku.

"Sasuke … jangan lari-larian!"

"Kemari, peluk ayahmu,"

"Haha! anak baik! Nanti ibu buatkan sup tomat kesukaan Sasuke,"

"A-Ayah … Sasuke mau main ayunan lebih lama sama Itachi,"

"Jangan begitu … kakakmu ada PR Matematika saat ini,"

"Tidak apa ayah. Itachi juga masih ingin main sama Sasuke,"

"Baiklah, tapi jangan keluar rumah ya. Main di sekitar sini saja,"

"Iya, Ayah,"

"Kak! ada Koi baru di kolam kita! Sebaiknya kita kasih nama saja!"

"Bagaimana kalau Zuzu-nyan,"

"Phu! Jelek banget kak!"

Air mataku jatuh. Aku tidak ingat, kakakku pernah mengelus kepalaku selembut itu.

"Kau menyukainya? Saat itu umurmu masih tujuh tahun," tidak heran kenapa aku melupakan kenangan yang satu itu, "Setelah koma, nyaris setengah dari masa lalumu terlupakan. Maksudku, alasan membawamu kemari adalah, aku ingin memberitahu, bahwa ayahmu, tidaklah sejahat yang kau kira," aku hanya menunduk, lesu. Pusaran angin kembali bertiup di sekelilingku. Tanpa sadar, aku sudah terpental lagi ke sebuah tempat. letaknya berada di sebuah toko roti, dan aku melihat ada ibu disana. Tentu saja, aku versi kecil juga.

"Kau mau yang mana Sasuke?"

"Semuanya enak, bu … Sasu mau yang itu," tanganku menunjuk ke sebuah etalase paling atas, dengan roti kering rasa bawang. Ibu tersenyum ramah. Itu wajah yang luarbiasa, bagaimana mungkin aku tega melupakannya?

"Sasuke suka roti ya? Kapan-kapan kita kesini lagi, oke?"

"Yaaa! nanti Sasu buatkan roti terenak untuk Ibu!"

jadi, kurasa inilah cita-cita pertamaku. saat aku masih begitu polos, saat aku belum menerima realita pahit dalam hidupku. Saat aku belum pernah merasa putus asa untuk terus hidup.

"Sasuke?"

"Ya?"

"Mau pulang?" lidahku kelu. Hinata masih tersenyum ramah disana. Tapi kulihat, kulitnya begitu pucat.

"Kau baik-baik saja?" gadis itu mengangguk patuh. Wajahnya seolah menampakkan keceriaan tiada henti. Benar-benar mirip bunga matahari. Kuning bersinar, cantik dan berkilauan. Hanya kali ini, aku merasa ada sesuatu yang mati.

"Ayo pulang,"

"Tidak," Hinata menautkan alisnya heran.

"K-kenapa?"

"Temani aku … sebentar lagi," aku menggenggam tangannya kuat. dingin sekali. kulitnya sudah seputih salju kini. Ia memejamkan matanya sejenak. Senyumnya berubah menjadi bibir yang lurus, tak berekspresi.

"Kau, belum puas, melihat-lihat?" kepalaku menggeleng pelan. kutatap matanya begitu lekat.

"Sebentar saja," dengan refleks, tanganku menariknya, berlari menuju arah yang tak tentu. Kakiku melangkah begitu saja, menuju sebuah cahaya di ujung pandang. terang, silau, sampai akhirnya, aku kembali tiba di dalam hutan yang gelap, dan remang.

Cahaya kunang-kunang di atas danau, lotus biru yang tersiram bulan, akar-akar pohon raksasa yang bertumpuk dan belukar-belukar yang rimbun.

Aku kembali, di tempat Hinata.

"Izinkan aku menginap di sini," aku merasa ada sesuatu yang menyerang batin. Dan rasanya menyakitkan. Karena hampa, gelap, dan dingin. Kurang lebih begitulah, setelah perjalanan waktu kutempuh beberapa saat yang lalu dengan Hinata.

Ia mengangguk pelan. aku melihatnya, bola mata perak itu berkaca-kaca. Tapi aku tak mau menyinggung masalahnya. Karena aku tidak mau mendengar apa-apa saat ini. Cukup buatku nyaman saja, dengan duduk disampingku.

Itu sudah cukup.

"Kau berniat untuk terjaga sampai malam, eh?" Hinata menoleh sekilas saat mendengar suaraku. Pipinya terlihat semakin pucat. Begitu putih, melebihi kapas dan salju, " … kalau kau tidak keberatan, aku mau menemanimu sampai terlelap," Hinata terkikik sendiri di sana. tangannya menciptakan cipakan air didalam danau.

"Aku … tidak tidur Sasuke,"

'Kemari, disini. Tempat dimana kami beristirahat. Hutan penuh kilau cahaya. Mendengar melodi pohon, dan peri'

aku mendengar suara itu lagi. Lantunan merdu dari bibir Hinata. Gadis itu menyanyikan sebuah lagu untukku. Tanpa pernah berhenti. Seolah ia tahu, bahwa aku merasa gusar, untuk beberapa waktu tadi.

'Langit jingga yang cantik. Dan lampu di ujung jalan. Aku hanyalah sebuah angin. Yang bertiup pada waktu malam. Berhembus tiada henti. Berlari sampai dedaunan mati. Aku si penjaga, membantumu terlelap, membuatmu merasa nyaman. Anginku kan bertiup, menemani hidupmu'

Tanpa sadar, aku tertidur, bagaikan dihipnotis.

'Sayonara, Sasuke-kun'

Suara itu semakin menjauh. Aku begitu takut, saat menyentuh pipiku yang begitu hangat, dan bibirku yang lembab. rasanya seperti habis mencium sebuah permen kapas.

'Sayonara'

Mataku terbuka perlahan.

Gadis itu bagaikan tersapu, menghilang seperti debu, beterbangan diatas langit, hingga sosoknya tak dapat dikenali lagi. Hinata membentuk segumpal udara, awal mula, warnanya biru terang. Namun saat fajar menyingsing, ia sudah berbaur menjadi angin yang transparan, angin yang tak dapat dilihat, hanya bisa dirasakan.

Aku terdiam untuk beberapa waktu.

Dan ketika matahari mulai meninggi, kakiku melangkah pergi, kembali ke rumah. Entahlah, saat itu aku tidak tahu, sudah berapa hari waktu terlewat. Dan aku sadar, saat keluar dari hutan, sekelebat cahaya yang menyilaukan menghalangi pandanganku. Warnanya kuning terang. Aku tidak bodoh, dan menganggap itu adalah Matahari. Karena sinar yang menerpa tubuhku saat itu tidaklah hangat.

"SASUKE!" setelahnya, suara jerit Histeris menggema diantara gendang telingaku. Belum sempat mataku menyimak dengan seksama, seseorang telah menabrak tubuhku dan memelukku dengan erat, "SASUKEE!" ia terus menjerit-jerit. Pundakku basah karena air matanya. Wanita itu beraroma Cinnamon.

Dia Ibuku.

" … " Aku masih terdiam. Tentu saja, karena aku bisu. Mataku menelusur ke sekeliling, begitu banyak pria berseragam hitam. Dan ada suara bising seperti baling-baling yang membuatku terkejut. Ketika kutengok diatas langit, sebuah helikopter berada tepat diatas kepalaku. Menyinariku, dengan cahaya kuning atau semacamnya.

"Kenapa kau tidak pulang-pulang nak! Ibu mengkhawatirkanmu! Maafkan ayahmu, ia tidak bermaksud menyakitimu! Tolong berhentilah, berhentilah menganggap dirimu sebagai aib," Ibuku menangis tersedu-sedu. Memangnya aku menghilang berapa hari? "Ibu tahu, Ibu dan ayah telah berbuat salah. Maafkan kami berdua nak. M-Maaf, Sasuke! Ibu minta maaf!" suaranya terdengar kembali lantang dan menyedihkan.

Ia melepaskan dekapannya, kemudian menatap mataku dengan bola mata hitam yang cemerlang. Aku … merasa kaku didepannya.

"Sasuke," Ibuku menggenggam erat tanganku, "Ayo pulang. Semua sudah menunggumu … ibu mohon. Kau masih mau menerima ibu dan ayah kan?"

aku melepaskan genggaman tangan milik Ibu. Dan beralih kepada notes kecil yang entah kenapa masih tergantung manis di leherku, kemudian menuliskan sesuatu disana.

'Aku … boleh pulang?'

Dan tulisan singkat itu membuat Ibu kembali menangis lagi. Didepanku.

.

.

oOoFujioOo

.

.

Jantungku kembali was-was. Ayah telah berdiri di depanku, dengan wajah kakunya, seperti biasa. Saat melihat wajahnya, otakku memutarkan beberapa adegan kekerasan yang berupa-warna, menyerangku tanpa belas kasihan. Begitu, membabi buta.

"Sasuke, kenapa kau tidak menuruti kata-kataku?" alisnya menajam. Uratnya terlihat tegang, dengan pelipis yang berkerut. Rasanya aku tamat disini, "Kenapa kau tidak menginap di apartemen yang kuanjurkan padamu? Kemana saja kau selama ini?"

'Maafkan aku'

"Jangan hanya meminta maaf! Katakan padaku, kemana saja kau setahun ini! SASUKE!" mataku membulat lebar. Setahun aku menghilang? Rasanya, aku cuman pergi tiga jam, "Kau tidak tahu, Seberapa gusarnya aku saat mengetahui kau hilang tanpa jejak!" sekarang, ia melakukan hal yang sama seperti Ibu. Aku melihatnya sekilas, mata ayah berair dan begitu merah, "Dasar anak bodoh!" kemudian ia menonjokku hingga terjungkal jatuh.

Apa maunya orang tua ini?

'Bukankah … itu bagus? Ayah jadi, tak perlu repot-repot menyembunyikanku dari media massa?'

Ayah terdiam. Aku kembali menulis lagi,

'Kukira … inilah yang terbaik. Membuat diriku hilang, dan ayah bisa menganggapku telah mati'

"Maafkan aku … " ia jatuh berlutut di depanku. Wajahnya menunduk. Aku kaget, dengan ekspresinya yang satu itu, "Maafkan aku. Selama ini ayah egois, dan begitu kejam kepadamu," ia mengambil bertumpuk-tumpuk koran, dan melemparnya tepat didepan mataku.

'Sasuke Uchiha ternyata putra dari Fugaku-sama dan selama ini telah di sembunyikan identitasnya'

'Anak bungsu Uchiha menghilang!'

'Fugaku-sama mengerahkan seluruh tim pencari terbaiknya ke penjuru dunia'

'Sudah setengah tahun tidak ada kabar maupun hasil yang positif dari kasus pencarian anak bungsu Uchiha'

'Fugaku-sama meminta maaf kepada anaknya'

'Uchiha-sama rela membatalkan seluruh kontrak kerjasamanya dengan presiden dan pengusaha besar lainnya demi mencari Sasuke'

'Sasuke … kembalilah. Sebuah kesan pendek dari Naruto Uzumaki'

Begitu banyak tajuk yang membicarakan diriku. aku tak hentinya menyorot lembaran kertas usang itu, membaca satu demi satu koran yang berada di depan mataku saat ini. Yang kemudian, aku kembalikan pandangan ini kepada ayahku. Wajahnya menunduk lesu, penuh penyesalan.

"Mulai hari ini, kau adalah anakku Sasuke. kau boleh berhenti bersandiwara. Kau boleh mengatakan kepada siapapun bahwa darah Uchiha mengalir di nadimu. Dan, mulai besok … " ucapannya terpotong, sekedar untuk mengambil napas dalam, "Kau kusekolahkan secara privat, dari guru-guru terbaik kenalan ayah. Katakan, kau ingin menjadi apa? akan kupanggil mereka semua untuk menggebermu yang sudah ketinggalan banyak pelajaran,"

Aku menunduk hormat, sebagai formalitas atas rasa terimakasihku kepada Ayah.

'Izinkan aku … menjadi seorang ilmuwan'

Dan, ayah menuruti kemauanku. Ia memberiku guru-guru terbaiknya. Aku disodori banyak buku, dilatih untuk praktek terhadap banyak hal dan mengisi lembar ulangan tiap minggu. Aku tidak main-main saat itu. aku bersungguh-sungguh ingin belajar. Karena masih ada banyak hal yang ingin kugapai. Termasuk, menjadi seorang ilmuwan.

Aku dikejutkan oleh kedatangan Naruto beberapa hari setelah aku kembali. ia rela berangkat dari Italy, dan meninggalkan pertandingan finalnya, hanya sekedar ingin menemuiku.

"SASUKE! DASAR BAJINGAN!" seperti ayah, ia menonjok pipiku sebagai salam pembuka, "Kau tidak balas suratku! Aku menunggunya setiap detik sejak mengirimkan itu padamu! Dasar brengsekkk! Arghh!" tangannya memelukku begitu erat. Rasanya sampai sesak … napas.

BUGH!

Aku memukul punggungnya, sebagai isyarat bahwa aku ingin terlepas.

"M-Maaf! Kau tidak bisa napas ya tadi? maaf, hehehe! Aku terlalu senang saat melihatmu kembali," aku merasa hidup saat ini. Hinata tidak bohong padaku. gadis itu berkata jujur. Ini semua berkat dukungannya, aku bisa merubah hidupku, dan bahkan, masa depanku.

Tapi, sampai saat ini aku masih bertanya-tanya. Hinata tak pernah kembali lagi. Sejak saat kulihat ia menghilang bagaikan debu, Hinata tak pernah muncul seperti dahulu. Semua ini terasa sia-sia. setiap hari, kusempatkan diriku untuk kembali ke hutan ketika malam tiba. Namun, bibir danau saat itu terlihat redup. Cahaya kunang-kunang disana bahkan terasa kosong bagiku. Lantunan suara lembutnya sudah tak menggema lagi. Dengan perasaan hancur, aku kembali kerumah. Dan itu kulakukan setiap harinya. Tak pernah menyerah. Meskipun aku selalu dibuat kecewa, karena penantianku bagaikan harapan kosong.

Penantian yang menginginkan sosoknya kembali

Bahkan tidak jarang aku selalu memeriksa jendela kamar ketika beranjak tidur. aku selalu menoleh kesana, berharap ada suara ketukan kecil dari jemari tangannya. Berharap, ada senyuman kecil, yang terpampang dari bibirnya dibalik jendela. Namun, jutaan kali kulakukan itu setiap malam, hal yang sama selalu terulang. Hanya ada dedaunan yang berlambai, dan langit yang kelam nan kejam.

Aku frustasi

Aku merasa gila

Aku merindukannya

Aku menginginkannya

Aku … mencintainya

Sampai tujuh tahun telah berlalu. Sosoknya tetap, tidak kembali. diumurku yang kedua puluh enam tahun, aku berhasil mengabulkan banyak permohonanku. Sedikit demi sedikit, aku membuat perkataan Hinata menjadi benar adanya.

Setelah kuliah kilatku berakhir, aku mendirikan sebuah toko roti di dekat hutan tempat Hinata berada. Sambil terus belajar, aku mengelola usaha bakery bahkan sampai toko mungil di pinggir hutan itu menjadi sebesar pabrik tekstil. Naruto adalah pelanggan pertamaku. dan ia memulainya dengan mencicipi roti kering rasa bawang, yang menjadi favoritku sejak kecil. Bocah itu sudah menjadi pemain super-professional kini. Bahkan, ia memiliki dua buah rumah, dan keduanya begitu mewah. Yang satu terletak di Barcelona, sedangkan yang satunya lagi bersebelahan dengan rumahku di Tokyo pinggiran. Yang pasti, aku mencari lokasi tempat tinggal, dimana ada laut yang bisa kupandangi untuk melepas penat.

Tak berhenti sampai di situ, aku melanjutkan kuliahku kembali di umur yang ke duapuluh tujuh. Aku begitu fokus pada pekerjaanku dan studi-ku tanpa kenal ampun. Ibu kadang rela pulang dua minggu sekali dari Perancis, sekedar untuk menasehatiku agar tidak terlalu berlebihan dalam belajar.

'Makasih, bu'

Bahkan sampai sekarang, notes kecil dan pena biru tua, masih menemani hidupku, sampai detik ini.

.

.

oOoFujioOo

.

.

Pada umurku yang ke duapuluh delapan tahun, Pernikahan Naruto telah berlangsung, begitu meriah. Ia menikahi seorang gadis keturunan Jepang-Perancis, yang ternyata adalah teman sejak kecilnya sekaligus cinta pertamanya.

oOo

Untuk, Sasuke Uchiha

Naruto Uzumaki (25thn) & Sakura Haruno (22thn)

oOo

Mereka kelihatan begitu bahagia, ketika beberapa lembar foto Prewedding-nya dikirimkan kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya, meskipun aku sendiri bertanya-tanya kapan waktuku untuk meminang seseorang akan tiba.

Namun, waktu tetap saja berjalan, tanpa menghiraukanku. Meskipun begitu, kali ini aku tidak membuang-buang waktu. Untuk pertamakalinya, aku bisa kembali berbicara dengan alat elektro yang kuciptakan.

"Katakan sesuatu, Sasuke! ayo!"

"Cobalah nak, ucapkan sesuatu,"

"Sasuke, aku ingin dengar suaramu,"

Naruto, Ibu, Ayah dan Itachi yang berdiri di depanku, menatap wajahku dengan penuh penasaran.

"Hi-na .. ta,"

"APA?" mereka seolah tuli dengan mulutku yang masih terbata.

"Hi-nata. Hutan. Angin,"

sekarang mereka semua terdiam cukup lama. mungkin tidak mengerti dengan kata-kata yang kukatakan saat ini. Melihat wajah yang kebingungan itu, aku merasa lucu.

"Langit jingga yang cantik. Dan lampu di ujung jalan. Aku hanyalah sebuah angin. Yang bertiup pada waktu malam. Berhembus tiada henti. Berlari sampai dedaunan mati. Aku si penjaga, membantumu terlelap, membuatmu merasa nyaman. Anginku kan bertiup, menemani hidupmu," sekarang wajah-wajah itu berubah menjadi kagum. Ada sinar mata yang berkilauan saat mereka mendengar bait lagu yang kukatakan saat itu.

"Apa itu … Sasuke?" dan aku hanya bisa tersenyum, ketika Naruto menanyakannya.

Aku masih hapal, dengan sepenggal lirik yang pernah Hinata nyanyikan padaku jaman dahulu. Yah, sampai saat ini, aku tidak pernah menceritakan soal gadis itu kepada siapapun. Karena aku sengaja merahasiakannya, dan berniat ingin membuat sedikit kejutan di suatu hari.

Aku sedang melakukan penciptaanku yang kedua. Kali ini bukanlah sebuah alat bantu untuk berbicara ataupun sejenisnya. Aku, membuat sebuah robot. Dengan tekstur kulit selembut kapas, putih bagaikan salju, berwajah kecil dengan rambut indigo panjang yang cemerlang. Aku membuat robot yang mirip dengan Hinata. Dan kupastikan, bahwa aku akan membuatnya, sesempurna mungkin.

"Whoa! Cantik sekali!"

"Seleramu bagus, Sasuke. hehe!"

"Mirip, seperti manusia sungguhan,"

"Tidak, ini bahkan terlalu cantik untuk seukuran manusia,"

Robot itu tidak kuletakkan di dalam museum setelah melakukan pameran di sebuah Hall ekslusif kota Tokyo. Aku membawa Hinata pulang kerumah, dan ku-setting dirinya sebagai istri abadiku.

"Okaerinasai … Sasuke-kun," meskipun begitu, aku tidak mengatur sebuah program baginya agar langsung jatuh cinta padaku.

Tidak.

Aku hanya memberikan sebuah hati kepadanya, yang jika diperlakukan dengan baik, akan semakin berkembang dan bisa menjadi rasa suka.

"Tadaima, Hinata,"

Dan aku bersyukur, bisa memilikinya lagi walau kutahu bahwa gadis yang tinggal denganku saat ini adalah ciptaanku sendiri.

"Sasuke, aku menulis sebuah surat untukmu. Baca ya! Dan pastikan, kau membalasnya!" setiap malam, Naruto selalu saja meneleponku, Dan mengatakan bahwa ia meletakkan sebuah surat di kotak pos. aku tahu ini bodoh,

tidak, sangat bodoh.

apalagi dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa rumahku dengan Naruto hanyalah berjarak tiga meter. dan permainan Ini dilakukannya hampir setiap hari. Rasanya benar-benar aneh, dengan umur yang sudah terbilang tua, aku bersurat-suratan dengan pria yang baru saja memiliki seorang anak laki-laki.

"Hhh …" dengan setengah melek, aku melangkah keluar rumah dan mengambil sebuah surat didalam kotak pos.

Dan Naruto berbohong padaku.

Saat ini, tidak hanya satu- ada dua pucuk surat yang tersimpan rapi didalam kotak posku. Yang satu sampulnya krim pucat, sementara yang satu lagi, warnanya biru laut. Aku penasaran, dengan surat beramplop biru itu. lantas, setelah mengunci pintu rumah dan beranjak tidur di kasur, aku membuka isi surat tersebut dan membacanya dengan seksama.

Halo, Sasuke-kun

Ini aku … Hinata

Mataku terbelalak kaget dengan kalimat pembukanya.

oOo

Kau sudah dewasa sekarang, aku turut bersyukur melihatmu bahagia. Dan aku juga ingin berterimakasih, bahwa ternyata kau membuatkanku sebuah robot yang mirip sekali dengan diriku. XD aku sangat menyukainya Sasuke, sungguh.

Kau mungkin bertanya-tanya kenapa aku tidak menemuimu lagi, hei?

Sepertinya kau harus tahu jawabannya hari ini.

Eksistensiku adalah untuk menopangmu yang sedang rapuh. Aku terlihat hidup dan nyata, jika ada seseorang yang sedang membutuhkan bantuanku. Dan orang itu adalah kau. Dan selamanya, hanyalah kau. Aku bertugas untuk menuntunmu ke dalam rasa nyaman. Mengembalikan semangat hidupmu, dan juga … menemanimu, sebagai teman di saat apapun.

Kalau boleh jujur, aku bukanlah manusia … Sasuke.

Tolong jangan takut, karena aku yang sesungguhnya, adalah angin.

Sulit dipercaya? Itulah kenyataannya. Aku selalu hilir mudik di musim gugur. melihatmu dari balik jendela, menemanimu disaat kau sedang bekerja keras, mengantarmu tidur disetiap malam dan bahkan, menunjukkan jalan ketika kau membutuhkan arah dan menarik dirimu kembali ketika kau kehilangan tujuan. Selama ini aku selalu berada di dekatmu. Walaupun, wujudku tidak tampak seperti dulu, aku tetaplah hidup, Sasuke.

Ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku bisa menulis surat untukmu.

Tuhan sedang berbaik hati mengizinkanku untuk mengenalmu. Setelah kau mempunyai tujuan hidup, saat itu pula, aku berhasil menyelesaikan tugasku dan pergi dari hadapanmu. Maaf ya, aku baru bisa mengatakannya sekarang. Walaupun begitu, aku tetap akan menjagamu, dari suatu tempat. agar suatu saat, ketika kau merasa rapuh, aku bisa menghiburmu, meskipun yang kulakukan saat itu hanyalah sekedar meniupkan angin sejuk ketika kau kepanasan XD

Dan oh– ya. ada hal lain yang ingin kukatakan padamu.

Awalnya, kukira aku akan menuliskan surat perpisahan, dan memintamu untuk melupakan aku. Namun nyatanya, aku tidak bisa. Tolong, jangan pernah lupakan keberadaanku. Karena, aku juga mencintaimu.

Juga?

Sebenarnya aku tahu persis perasaanmu di masa lalu XD tapi kuharap, kau yang sekarang juga merasakan hal yang sama seperti itu. mungkin ini seperti lelucon, sebuah angin jatuh cinta pada manusia. Kau boleh tertawa saat ini Sasuke, tapi aku akan tetap menyukaimu.

Dan terakhir, Semoga hidupmu menyenangkan

Selamat tinggal.

Hinata, Anginmu

P.S : Robotmu mendapat banyak pujian ya? Apakah aku secantik itu? XD

oOo

Air mataku jatuh, membasahi surat Hinata. Saat itu langit begitu terang, meskipun hari sudahlah malam. Milyaran bintang bertabur membentuk sejuta rasi. Malam ini, aku merasa damai.

"Sasuke-kun, K-Kau belum … Tidur?"

"Sebentar lagi," robotku, adalah istriku.

Dan aku memang mencintainya, dengan sungguh-sungguh.

"Maa, Oyasuminasai … " senyumnya begitu sama dengan Hinata. Aku bahagia sekali, aku terlalu senang untuk melihat sesosok baja berwajah Hinata, menyelinap masuk kedalam selimut disampingku.

Dan ketika aku mencapai penghujung usia, Tuhan masih memberikanku hadiah istimewa-Nya yang begitu berharga. Di umur ku yang mencapai sembilan puluh lima tahun, aku masih diberi kesempatan untuk menatap langit pagi di musim gugur. Dan, suatu hari, aku merasakan hembusan hangat yang mengelilingiku ketika kursi roda elastis milikku, di dorong oleh Hinata menyusuri halaman belakang rumah.

"Hi-na .. ta,"

dan aku tahu, bahwa itu adalah tanda dimana Anginku ingin menyapaku, seperti yang dilakukannya setiap pagi sejak surat itu kusimpan rapi, hingga maut datang dan mencabut nyawaku.

.

.

.

Owari

A/N : Gimana? Kuharap ini cukup mengharukan :) thanks for reading, and Support SasuHina Days Love! XD dan maaf, jika unsur romantis di Fic ini begitu sedikit dan tidak terlalu terekspos m(_,_)m

Viva SasuHina!

RnR Guys? XD

-Fuun-