CHAPTER 1

.

.

.

.

.

.

ALL HAKYEON'S POV

.

Aku segera berlari dan menghampiri namja berwajah bulat dengan rambut cepak tersebut. Dia adalah Ravi! Raviku yang sangat kurindukan.

Ah, bahkan ia baru menyadari keberadaanku saat aku sudah ada di sampingnya.

"Ravi!" seruku sembari memeluknya, namun bukannya balas memeluk ia justru berusaha menjauhkanku.

"Nuna, jangan gitu ah, malu-maluin aja." Ia merengut dan menyeret koper besarnya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya membenahi posisi tali ranselnya yang melorot.

"Iya, iya. Ayo kita ke kafeku, mobilnya disana!"

Ravi memang bukan namja romantis, tapi aku sangat yakin ia mencintaiku. Nyatanya setelah bertahun-tahun menjalin hubungan dengan terpisah oleh jarak hubungan kami masih baik-baik saja dan tak pernah kudengar sekalipun berita bahwa ia selingkuh.

"Kamu mau makan apa? Biar aku telepon Minhyuk supaya dia masak dulu, jadi kamu bisa langsung makan sesampainya disana," ucapku saat kami sudah dalam perjalanan menuju ke kafeku, Ravi yang mengemudikan mobil.

"Nanti aja, biar aku lihat menunya terus milih disana aja," ucapnya padahal aku tahu ia pasti lapar.

"Ya sudah." Aku memilih untuk mengalah saja. Masa kami bertengkar gara-gara hal sepele di hari pertemuan kami yang pertama setelah sekian lama.

Beberapa saat kemudian kami telah tiba di kafeku, ya memang Ravi meminta untuk ke kafe terlebih dahulu sebelum kembali ke rumahnya karena kedua orang tua Ravi belum kembali dari tempat kerja mereka sedang kekasihku yang tampan ini melupakan kunci rumahnya di kost.

"Hoi! Ken, Hyuk!" sapa Ravi penuh semangat begitu ia tiba di ambang pintu dapur dan bertemu dengan kedua orang itu.

"Ravi!"

"Ravi hyung!"

Mereka bertiga saling berpelukan hingga melupakanku.

Oh! Saat menoleh aku mendapati namja misterius itu memandangi kami. Untuk pertama kalinya ia mengalihkan padangan dari layar gadget-nya, setahuku.

Kulihat-lihat, dia tampan juga. Yah, walaupun itu tak akan membuatku berpindah hati. Tapi yang aku heran, kenapa namja setampan dia selalu sendiri. Tidakkah dia mempunyai kekasih? Atau dia juga menjalani long distance relatioship?

"Hei, hei! Fokus kesini!" Hyuk berbicara dengan cukup lantang sambil menunjuk Ravi.

"Iya, iya." Namja itu kembali fokus pada tab di tangannya dan aku kembali pada Raviku.

Para pengunjung telah pergi sedikit demi sedikit hingga menyisakan satu orang manusia berkaos hitam dengan celana panjang putih di meja nomor empat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit yang berarti sebentar lagi kafe ini akan tutup namun ia masih terlihat tenang, tak terganggu dengan aktivias para pegawai yang membersihkan meja-meja di sekitarnya sama sekali. Aku sih sudah tak heran lagi, ia kan baru beranjak dari tempat duduknya jam sembilan tepat.

"Dia itu, setiap hari datang kesini dari pagi sampai malam?" tanya Ravi dengan berbisik. Kami berdua tengah duduk di belakang meja kasir saat ini.

"Yup. Sejak hari pertama buka. Dia patut diberi bonus atau diskon spesial karena dia pelanggan paling setia."

"Dan paling betah," sambungnya. "Memangnya dia tak punya pekerjaan?"

Aku mengendikkan bahuku. "Mana kutahu?"

Ravi mengangguk dan menutup laptop di hadapannya. "Aku penasaran."

"Aku juga."

"Kenapa tak kau ajak kenalan?"

"Eh?"

"Tanya saja siapa namanya."

"Kamu nggak cemburu?"

Ravi terkekeh. "Kalau aku cemburuan sudah dari dulu kita putus. Kan memang kamu sangat cerewt dan sok akrab terhadap semua orang. Aku sudah terbiasa dan tak terganggu akan hal itu. Tambah satu orang kenalan yang misterius tak masalah kan?"

"Kapan-kapan kucoba."

Suara langkah kaki yang mendekat memaksaku untuk bangkit dari dudukku yang nyaman dan mengusirnya secara halus karena kami sudah hampir tutup, hanya tinggal menunggu satu orang pelanggan setia pulang.

"Ah, Eunkwang, kukira..." Ternyata bukan pelanggan kemalaman melainkan namjachingu juru masak kami sekaligus sahabatku – Minhyuk.

"Mau jemput Minhyuk."

Belum sempat aku menjawab yang dibicarakan sudah muncul dari pintu dapur dengan ransel biru muda di punggungnya. "Hakyeon, Ravi, aku pulang ya," pamitnya lalu menggandeng kekasihnya keluar dari ruangan.

"Bye Hakyeon, Ravi." Eunkwang melambaikan tangan pada kami.

Ekor mataku menangkap namja itu memperhatikan gerak-gerik Minhyuk dan Eunkwang hingga keduanya menghilang di balik tembok. Ah, mungkin dirasanya Minhyuk dan Eunkwang mengganggu ketenangan.

Kuperhatikan, namja itu mulai mengemasi barang-barangnya, menghabiskan tegukan terakhir dari es teh manis yang dipesannya dan mulai berjalan kemari.

Dia sudah hampir pergi setelah membayar makanan dan minuman yang ia habiskan disini hari ini ketika Ravi mengulurkan tangan mengajaknya berkenalan, "aku Ravi, kamu? Sepertinya kita pernah bertemu sebelum ini."

Ia tampak berpikir beberapa saat sebelum membalas jabatan tangan kekasihku. "Aku Leo, ya sepertinya kita pernah bertemu di gym, tapi itu sudah lama sekali."

Ya, Ravi memang sering ke gym dan namja itu sepertinya juga kalau dilihat dari tubuhnya yang atletis.

Manusia yang akhirnya kuketahui bernama Leo tersebut meninggalkan kami begitu saja, padahal aku lihat Ravi masih ingin bicara lebih dengannya. Ya kemajuan besar ia mau memperkenalkan dirinya. Walaupun hanya pada Ravi dan mengacuhkanku.

.

.

.

.

.

"Hai, Leo," sapa Ravi yang sedang menyapu teras kafe ketika Leo datang. Namjachinguku ini rajin sekali, pagi-pagi sudah datang dan membantu.

"Hai," balas Leo lirih dan langsung menuju ke meja favoritnya tanpa basa-basi lebih lagi.

Aku juga ingin menyapanya tapi masih ada rasa takut, takut tidak dijawabnya.

"Pesan seperti biasa?" tanya Ken yang kebetulan sedang membersihkan meja di dekat Leo.

Laki-laki bermata tajam itu hanya mengangguk lalu fokus pada smartphone di tangannya. Ken, sudah terbiasa dan langsung menuju ke dapur guna menyampaikan pesanannya pada Minhyuk. Ya, kami semua – kecuali Ravi mungkin – sudah terbiasa dengan Leo. Selama dia tidak berbuat yang aneh-aneh dan selalu membayar apa yang dipesannnya it's okay.

Kembali aku merebut baki berisi pesanan Leo dari tangan Ken. "Biar aku saja."

Hati-hati kuletakkan piring dan gelasnya pada sisi meja yang kosong. "Selamat menikmati, eum, Leo. Kalau butuh sesuatu panggil aku saja, aku Hakyeon," ucapku sedikit panjang sementara ia hanya menyimak dan beralih pada gelas di hadapannya begitu aku selesai berbicara. Ya, mungkin dia memang pendiam dan susah untuk beradaptasi dengan orang baru. Aku sempat kenal beberapa orang yang seperti itu sebelumnya dan bisa mengerti.

Ken dan Minyuk telah menantiku dengan ekspresi aneh di dapur begitu aku masuk untuk mengembalikan baki.

"Namanya Leo?" tanya Minhyuk dengan berbisik.

"Kamu sudah kenal sama dia?" kini ganti Ken yang bertanya.

"Ravi yang ngajak dia kenalan lusa," jawabku lirih, takut terdengar olehnya karena suasana kafe sedang sepi dan jarak dari meja nomor empat dengan dapur ini tak terlalu jauh, bahkan bisa dibilang dekat. "Dia pernah berapa kali ketemu Ravi di gym dulu."

..

.

.

.

end or continue?