A THOUSAND YEARS

Naruto©Masashi Kishimoto

Story©Ivyluppin

Warning : Shotacon, Vampic, AU, OOC, and many kinda…

Main pair : Sasunaru & Gaanaru(slight)

.

.

Chapter 2

.

Sesuatu yang empuk, sesuatu yang dingin, sesuatu yang tebal dan putih. Sesuatu yang terasa mencair dan membasahi telapak tanganmu saat kau menyentuhnya. Salju. Lapisan salju yang tebal di tanah di pertengahan musim dingin yang beku. Di Eropa tengah dan tenggara, musim dingin terkadang ancaman kematian bagi penduduk sekitar yang lemah. Ancaman menakutkan yang dipastikan selalu datang setiap tahunnya. Sehari saja kau berbaring di atas tumpukan salju, kupastikan esoknya tubuhmu mati membeku.

"Nggh.." seseorang mengerang kecil, meremas sesuatu yang berada di bawah tubuhnya. Terasa amat dingin di tangan dan saat ia menyentuh kepalanya yang berdenyut-denyut, tangannya terasa basah.

"Pusing." Keluhnya pelan.

Perlahan matanya yang bulat terbuka dan kedua punggung tangannya ia gunakan untuk mengusap matanya dalam untuk menghilangkan pandangan kabur di kedua iris sapphire-nya. Kepalanya masih sedikit pusing saat ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru mata angin lalu beberapa detik kemudian kedua bola matanya membulat.

"Dimana ini?" pekiknya dengan suara bergetar.

Namikaze Naruto bocah berambut pirang dengan perawakan mungil dan berumur 8 tahun yang tiba-tiba terbangun di antara pohon-pohon tusam besar bewarna hitam -yang menjulang terlalu tinggi ke atas dengan dahan-dahan yang kokoh untuk dipanjat- dan sekelilingnya yang terlihat putih tertutup salju Naruto kecil tampak kebingungan sekaligus ketakutan. Ia berdiri perlahan, masih terus memandang sekeliling seperti bocah linglung.

Kedua alisnya menaut, ia mencoba memikirkan sesuatu yang dapat ia ingat sebagai alasannya bisa berada disana. Tapi betapa pun kerasnya ia mencoba, pikirannya tak mempu mengingat apapun kecuali namanya sendiri. Ia menjadi ketakutan.

Langkah kecilnya berjalan tanpa arah, siapa kira jika ia hanya berjalan berputar-putar tanpa tujuan. Tak ada yang ia lihat selain salju dan jejeran pohon tusam dengan batang-batangnya yang besar lurus setinggi kurang lebih 60m. Naruto berhenti sebentar, ia mulai merasa kelelahan. Wajahnya jelas masih terlihat binggung bercampur shock, ia menundukkan kepalanya, mengamati kaki telanjangnya -yang entah kapan baru ia sadari- tenggelam sedalam 5cm di bawah permukaan salju. Tubuhnya mulai mengigil hingga wajahnya nampak kemerahan seperti tanaman Solanum lycopersicum terutama di pipi cuby yang masih menampakkan lemak bayi.

Naruto kecil melihat sekeliling, ia bisa melihat jejak kaki yang dapat ia tebak milik siapa. Sekarang baru ia tahu bahwa ia hanya berputar-putar saja.

"Ibu...aku ingin pulang." Gumamnya, hal yang wajar dikatakan oleh semua anak kecil saat mereka merasa ketakutan karena sesuatu atau hal lainnya walaupun toh ia menderita hilang ingatan.

Dalam diam Naruto terisak. Ia hampir menangis saat cepat-cepat ia menengadahkan kepalanya ke atas. Membiarkan genangan air mata pada kedua bola matanya. Ia tak suka menangis, ia merasa benci jika air matanya menetes ke bumi. Entah karena apa ia berpikir begitu, ini bukan keharusan hanya saja hampir seperti kebiasaan.

Dari genangan air mata yang sedikit memburamkan pandangannya, Naruto bisa melihat matahari yang terlihat bukan seperti matahari, kenapa? Karena menurut Naruto, ia hanya melihat bayangan kuning yang mengambang di atas sana, di balik langit yang mendung dan terlihat sedih.

"Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Disini dingin sekali." Ujar Naruto entah pada siapa, kepalanya masih menengadah namun saat ia merasa air matanya tidak mungkin menetes ia memandang ke depan. Kemudian ia kembali menunduk.

Di bawah sana, di telapak kakinya yang tenggelam di salju yang terasa dingin. Naruto bisa merasakan kulitnya mulai mati rasa. Ia merasa tidak boleh diam saja, kalau tetap seperti ini bukankah artinya ia pasrah?

Langkah kaki cepat yang terbilang lari itu terus saja menapaki jalanan dengan salju-salju yang akan menengelamkan kakinya hingga beberapa centimeter dan membuat langkahnya terasa amat berat dan melelahkan. Kali ini Namikaze Naruto tidak berbelok-belok ia menempuh rute lurus , terus lurus. Hingga pada sebuah tempat dimana ia merasa sudah tidak sanggup lagi, Naruto berhenti dan bernafas seperti ikan koi di daratan. Wajahnya yang memerah lebih karena kedinginan serta bibir mungilnya yang memucat dan bergetar sudah cukup menjelaskan keadaannya yang payah.

Naruto masih meraup udara dingin dengan rakus saat ia mendengar sesuatu dari sisi kanan tubuhnya. Saat ia menolehkan pandangannya, matanya membulat. Sebuah kereta kuda melaju dengan kecepatan penuh ke arahnya.

Dari balik kemudi, si Kusir berteriak. "Awas nak!" teriakkan yang cukup keras.

Sayangnya! Naruto tak punya refleks menghindar secepat kilat jika ia mau selamat. Seharusnya saat seperti ini ia akan memejamkan mata seperti kebanyakan orang-orang yang sedang pasrah. Tapi ia tidak bisa, bagaimana pun ia mencobanya. Matanya masih melebar dengan bibir yang mengatup rapat.

Dari pandangannya yang -nyaris- tak memiliki harapan menggelap untuk kematian. Naruto merasakan tubuhnya ditarik dengan kuat dan terasa sedikit melayang. Sekarang ia tahu rasanya menjadi daun gugur dan beterbangan di antara gulungan angin kecil yang mengajaknya bercanda. Sempat ia dengar suara ringkikan keras dari arah lain.

Sangat cepat dan sensai aneh terasa mengelitik perutnya saat sebuah suara tertangkap oleh pendengarannya "Kau tak apa?"

Naruto mematung, tidak tahu harus berkata apa. Terakhir kali ia sudah merasa hampir mati saat kereta kuda melaju cepat di depannya yang menyisakan jarak tak lebih dari 3 meter. Naruto menunduk, kejadian barusan begitu ajaib di kepalanya. Lalu karenanya ia tersenyum kecil.

"Kau tak apa?" suara itu lagi, dengan kalimat yang sama namun melantun dengan nada khawatir yang lebih.

Naruto menengadahkan kepalanya dan melihat seseorang memandangnya dengan sepasang iris amber dari jarak cukup dekat. Lagi-lagi ia tidak bicara.

"Brother, kurasa ia masih shock." Teriak seseorang dari balik punggung pria tersebut dengan nada nyaring.

Tanpa menoleh, sang pria yang dimaksud hanya tersenyum. Perlahan ia berdiri dan terlihat menjulang di hadapan Naruto.

Pria itu menatapnya sejenak, lebih dari penampilannya "Kau mau ikut?" tanyannya kemudian.

Naruto hanya mengangguk.

Ia berjalan dengan tangan yang digandengan oleh pria di depannya menuju kereta kuda dengan dua orang laki-laki yang berdiri di sana. Salah satu di antara mereka bersandar di depan pintu masuk sedangkan yang lain yang Naruto yakini seorang kusir tengah menenangkan kudanya dengan cara mengelus-elusnya.

"Refleks yang bagus brother." Puji pemuda yang bersandar di pintu kereta. Wajahnya yang tirus memandang lurus ke arah Naruto lalu tersenyum.

Mereka masuk ke dalam kereta, Naruto dapat merasakan rasa hangat dan aroma vanilla di dalam kereta kuda yang ia tumpangi. Tangannya kecilnya menyentuh permukaan tempat duduk dari kain beludru bewarna coklat kehitaman. kaki-kakinya yang kecil tak sampai pada permukaan lantai kereta, ia melihat kakinya seperti melayang di udara. Telapak kakinya yang terasa mati rasa hampir ia lupakan saat seseorang menyentuh dengan sebuah telapak tangan besar.

"Kakimu membeku, apa kau baik-baik saja? Maksudku apa kau tidak terluka?" tanya pria yang sama.

Naruto menggeleng. Ia menatap pria beriris oniyx yang menatapnya kalem. Rambut hitam yang disisir ke belakang terlihat lebih dari cocok dengan garis wajahnya yang menunjukkan ketampanan. Sangat tampan, dan semua orang akan mengatakan hal yang kurang lebih sama saat bertemu pria dihadapannya tersebut.

"Apa kau bisu?" tanya seorang laki-laki berambut hitam lain di sebelah pria tersebut dengan senyuman lebar yang sedikit aneh.

"...tidak, aku hanya lelah." Jawab Naruto kemudian. Tidak ada orang yang boleh mengatakan ia bisu.

"Suara yang manis." Kekeh pria yang memiliki rambut lebih pendek.

"Shisui, hentikan kekehanmu itu! Kau membuatnya takut." Ujar pria berambut panjang dengan tegas.

"Aku tidak takut." Naruto meralat ucapan pria tersebut. Dan tidak ada yang boleh mengatakan bahwa ia penakut. Naruto merasa dirinya anak kecil yang pemberani. Buktinya saat di hutan tadi atau saat ia hampir mati barusan, Naruto tidak benar-benar menangis bukan?

"Siapa namamu nak?" tanya pria tersebut kemudian.

"Namikaze Naruto, salam kenal. Terima kasih telah menolongku paman."

"Oh, apa aku terlihat setua itu?" pria tersebut mengernyitkan alisnya tidak ada yang berani memanggilnya 'paman' dalam kurun waktu hidupnya yang panjang "Aku Uchiha Itachi dan dia Uchiha Shisui. Salam kenal juga nak." Pria beriris oniyx yang mengenalkan namanya sebagai Itachi tersenyum ramah. Shisui di sampingnya ikut tersenyum tapi Naruto berpikir ia lebih suka jika orang itu menampakkan wajah datarnya yang sempat ia lihat beberapa detik yang lalu. Di mata Naruto, senyuman Shisui seperti mau membelah wajahnya menjadi dua bagian.

Keheningan berlangsung sementara ketika Naruto terdiam menatap keluar jendela melihat jejeran pohon tusam yang terlewati dengan cepat. Kereta kuda yang nyaman pikirnya. Naruto menghembuskan nafasnya, membiarkan carbon dioksida yang ia keluarkan menggulung di udara di sekitar hidung dan mulutnya.

Di depannya, pria bernama Itachi ternyata terus memandanginya dengan raut wajah datar. Bola matanya memandang 'satu titik' entah apa itu darinya. Sedangkan Shisui hanya memandang hutan dengan malas dari balik kaca. Wajahnya tidak bisa dibilang datar, karena dilihat dari bibirnya pria itu tengah menarik sebuah garis di bibir hingga membentuk sebuah senyuman.

"Naruto, bagaimana kau bisa berada di sana? Dengan pakaianmu yang tipis bahkan tanpa alas kaki?"

Naruto berpikir sejenak. Ia sama sekali tidak punya jawaban untuk itu "Aku tidak tahu paman."

"Panggil aku Itachi jika kau tidak keberatan...dimana kau tinggal? Aku bisa mengantarmu." Itachi masih menatap titik yang sama, bukan wajah Naruto.

"...aku tidak tahu, aku hanya ingat saat aku terbangun di antara pohon-pohon tinggi yang mengelilingiku dan hamparan salju yang terasa sangat dingin, aku sungguh tidak ingat apapun selain namaku saja." Naruto menunduk.

Sebuah tangan terjulur dan menyentuh pipinya. Naruto mengerutkan kening, rasanya sedikit aneh tapi ia tidak tahu apa itu "Itachi , tanganmu dingin. Apa kau sakit? Apa kau juga berbaring di salju sepertiku? Tanganmu sangat dingin."

Tak berniat menarik tangannya dalam genggaman tangan kecil Naruto, Itachi hanya tersenyum simpul. Ia mengelus pipi Naruto yang terasa hangat di tangannya. "Benarkah? Mungkin, musim dingin Rumania membuatnya terasa dingin." Ia menjawab dengan nada terkejut yang dibuat-buat lalu ia kembali tersenyum sedangkan Shisui di sebelahnya terkekeh tanpa menolehkan pandangannya sama sekali.

"Rumania? Dimana itu?" tanya Naruto polos.

"Di sini, Ini adalah daerah Rumania tepatnya pedalaman Rumania. Kau kira dimana?"

"Entahlah." Naruto mengendikkan bahu, ia baru tahu sekarang dirinya berada di Rumania. Sebuah daerah yang terdengar amat asing di telinganya.

"Kau mau ikut denganku?" usai menatap iris cinnamon Naruto, lagi-lagi Itachi kembali menatap titik yang sama pada dirinya dengan pandangan tertarik.

"Kemana? Ke Rumania?" tanya Naruto pandangan wajah ingin tahu.

"Hahaha...kita sudah berada di Rumania, nak. Aku akan mengajakmu tinggal di Manor milikku untuk sementara itu pun jika kau setuju." Saat Itachi mengatakannya Shisui menolehkan wajahnya dan menatap Itachi dengan pandangan 'kau yakin?' atau 'ini bukan kau yang biasanya' lalu beberapa detik kemudian ia tersenyum lebar.

"Bolehkah? Apa aku tidak merepotkan?" tanya Naruto senang dengan wajah memerah.

"Ya, asal kau tidak menangis dan meminta permen padaku."

Naruto menggeleng kuat "Aku tak suka permen."

Itachi tertawa renyah, dan mengacak rambut Naruto. Tanganya yang besar mengelus permukaan leher Naruto dengan lembut mengirimkan rasa geli yang nyaman. Lalu ia membuka mantel bulunya dan memakaikannya pada Naruto.

Shisui melirik sekilas hal tersebut. Ia bisa melihat sesuatu yang menarik minat kakaknya pada bocah ini. Dan sebenarnya hal itu juga menarik minatnya bahkan ia bersumpah saat mereka tiba di Manor. Semua orang akan merasa tertarik dengan Naruto. Dengan semua yang bocah itu miliki, semuanya terutama aroma darahnya yang memabukkan. Shisui hampir saja kelepasan jika ia tidak berusaha mengabaikan rasa haus yang membakar kerongkongannya saat pertama kali Naruto berada dalam satu kereta dengannya. Itulah mengapa ia mengalihkan pandangannya dari pemuda tersebut hampir sepanjang perjalanan mereka.

Shisui berpikir, kakaknya lebih dari hebat karena ia bisa menahan sisi liarnya di depan bocah tersebut terlebih menyentuh langsung lehernya dan merasakan aliran darah yang tercium manis pada indera penciumannya yang tajam. Ia sempat terkejut saat kakaknya mengajak bocah itu untuk tinggal. Apa yang kakaknya rencanakan dengan memelihara mangsa dalam kandang? Apapun itu ia merasa tertarik.

.

:: A Thousand Years ::

.

Hio Manor.

Dari sebuah bukit yang terlihat diantara semak-semak dan rimbunan pohon besar yang menjulang. Hio Manor, begitulah para penduduk sekitar menyebutnya sebenarnya nama asli Manor tersebut adalah Mangekyo Hio -orang-orang boleh saja memanggilnya dengan nama pendek- sebuah Manor yang berdiri kokoh dari kejauhan, siapapun bisa melihatnya dengan kasat mata baik bangunannya maupun pagar tinggi yang menjulang di sekelilingnya. Terlihat mengerikan dengan warna ivory keabu-abuan serta aura misteri yang selalu menyelubunginya. Tidak ada orang yang pergi kesana. Sebenarnya bukannya tidak ada orang yang mau kesana, namun jarak yang jauh dan tidak memiliki kepentingan membuat orang-orang tidak pernah berkunjung kesana. Para penduduk tidak pernah sekalipun melihat pemilik Manor besar yang menurut rumor masih anggota bangsawan Amatera yang pernah berkuasa awal abad ke 12. Tapi terkadang ada seseorang dari sana yang berkunjung ke desa, walau mereka hanya pelayan Manor. Namun aura mereka terasa berbeda dari orang biasa. Saat berkunjung, mereka hanya membeli bahan makanan dan saat sudah selesai mereka cepat-cepat kembali. Tidak banyak bicara, itulah yang sering dikatakan penduduk pada umumnya untuk para pelayan Manor tersebut.

Dan sekarang saat sebuah kereta kuda berhenti tepat di depan Hio Manor. Beberapa pelayan menyambut mereka penuh hormat. Shisui turun mendahului, setelahnya Itachi , baru Naruto menyusul di belakangnya. Saat Shisui turun, ia memasang senyum lebarnya ke arah jejeran pelayan-pelayan tersebut. Mereka diam saja sambil tersenyum hormat namun entah mengapa saat Itachi turun, serentak seluruh orang di sana berlutut penuh hormat dan berujar lantang "Selamat datang Lord Itachi ." Lalu saat Naruto turun, tubuh mereka menegang dengan kepala mereka menengadah dan mata mereka terpejam seakan menikmati suatu sensasi yang melewati indera penciuman mereka.

"Bagaimana kabar Manor ini?" suara lantang Itachi memecahkan apapun kegiatan mereka.

"Baik Tuan, sangat baik seperti terakhir kali anda meninggalkannya." Ujar seorang pemuda perambut pirang pucat yang bagian mata kanannya menggunakan penutup seperti seorang bajak laut.

"Mmh, kerja bagus Deidara." Deidara mengangguk senang. Ia adalah ketua pelayan di Manor ini. Terlihat masih muda tapi ia sangat cekatan.

"Terimakasih atas pujian anda Tuan."

Iris bewarna abu-abu milik Deidara memandang ke arah Naruto yang menatap Manor dengan pandangan terkagum-kagum, wajahnya terlihat sangat manis saat ia tersenyum dengan semburat merah di kedua pipi putihnya. Mata sapphire jernih miliknya memandang kesana kemari hingga bertumbrukkan dengan sepasang mata abu-abu milik Deidara. Ia berjenggit melihat pandangan pemuda itu menelusurinya.

Dari balik sepasang mata bewarna abu-abu miliknya, Deidara bisa melihat jika itu anak manusia ia juga bisa merasakan aroma manis menguar dari dalam tubuh bocah kecil yang berdiri di samping Tuan besarnya. Sedikit tertutup dengan aroma Itachi memang dikarenakan bocah itu menggunakan mantel bulu milik Tuannya yang terlihat amat kebesaran hingga mantel itu menyapu permukaan tanah.

Deidara mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku miliknya melukai telapak tangan pucatnya. Ia menahan keinginannya untuk menerjang bocah tersebut dan mengobati rasa haus yang tiba-tiba muncul.

"Disini, ia adalah tamu. Jadi perlakukan bocah ini dengan baik. Aku tidak mentolerir apapun tindakan kalian yang membahayakannya." Suara lantang milik Itachi menyadarkan mereka semua dari rasa haus yang membakar. Perlahan Deidara menormalkan kembali keinginannya. Bocah di depannya jelas-jelas masuk dalam teritori Uchiha Itachi . Berani menyentuhnya, maka kematian bahkan terdengar lebih baik dari hukuman Itachi .

"Kami mengerti, my Lord." Ujar semua orang bersamaan.

.

.

.

Seorang pelayan wanita berambut hitam klimis yang mejuntai sampai di bawah tulang pipi dengan poni miring dan mata unggu muda yang menyiratkan pandangan merendahkan dengan pakaian pelayan kebesaran untuk tubuh kecilnya terlebih lengan bajunya yang terlalu panjang hingga tangan-tangannya tenggelam di dalamnya berjalan sebagai pemandu Naruto. Bebebapa saat yang lalu Itachi menyuruh pelayan wanita bernama Luppi Bash ini untuk mengantarkannya ke suatu ruangan yang akan menjadi kamar tidurnya selama di sini.

"Kita sampai." Ujarnya dingin sambil membuka pintu memperlihatkan sebuah kamar yang luas dengan beberapa perabotan antik dan furniture mahal. Mata Naruto menyapu semua sudut ruangan dengan pandangan kagum hingga ia melihat sebuah ranjang yang besar dengan selambu-selambu bewarna putih yang menjuntai dan terikat di masing-masing sudut. Sungguh mewah pikirnya.

"Apa ini kamarku?" tanya Naruto tak percaya.

"Kau pikir? Ini memang terlihat berlebihan untuk ukuran bocah sepertimu, tapi Tuan Itachi yang memerintahkannya. Jadi nikmatilah." Luppi berjalan menjauh setelah ia melemparkan kalimat terakhirnya yang terkesan sinis.

Naruto menjulurkan lidahnya memandang punggung Luppi yang berjalan menjauh. Seingatnya Naruto tidak mengatakan sesuatu yang menusuk hati wanita yang berlalu dihadapannya tersebut tapi wanita itu justru bersikap sinis padanya dan ini membuat Naruto kesal. Memangnya dia salah apa?

Naruto masuk ke dalam kamar yang akan ia tempati untuk beberapa waktu ke depan. Mengamati ruangan tersebut dengan mata berbinar.

Warna kamar bercat putih dengan arsitektur bergaya Renaissance dengan ornamen dalam gaya arsitektur Eropa yang cenderung detail, rumit, dan mahal. Tidak terlalu berlebihan seperti halnya arsitektur bergaya Barock atau kesan kelam yang kerap kali diusung pada bangunan bergaya Gothic. Proporsi yang harmonis di mata orang awam sekalipun, dengan bentuk-bentuk denahnya yang sangat terikat oleh dalil-dalil sistematis yakni bentuk simetris, jelas, dan teratur dengan teknik rekontruksi yang bersahaja yang ditangani dengan menggunakan daya nalar atau pikiran yang rasional. Sebenarnya, keseluruhan bangunan Manor ini tidak murni bergaya Renaissance namun sentuhan kebudayaan Baro-Rococo yang meninggalkan gaya klasik dilihat dari tidak adanya langgam Dorik, Ionik, ataupun Korintia yang biasanya kita temui pada bangunan bergaya Renassance asli. Arsitektur yang begitu menakjubkan, tidak hanya dalam kamar yang ditempati oleh Naruto namun juga keseluruhan bangunan ini yang baru-baru ia ketahui bahwa perancangnya berusaha menghubungkan mantra di tiap bagian bangunan dengan satu modul atau satuan panjang yang menjadi dasar. Meskipun Naruto tidak tahu apapun tentang seni bangunan tapi ia merasa siapapun perancangnya orang itu pastilah orang keren yang punya selera tinggi.

Kaki mungilnya melangkah menuju ranjang besar yang terlihat nyaman. Dengan semangat Naruto berlari dan melemparkan tubuhnya tepat di tengah ranjang. Rasanya teramat nyaman, begitu empuk. Jiwa anak-anaknya menyuruhnya berguling-guling kesana kemari, ia menarik sebuah bantal dan memeluknya erat. Ia terkejut saat dilihatnya sehelai bulu angsa menyembul dari bantal yang ia peluk. Bulu angsa, jadi itulah yang membuat ranjangnya teramat empuk dan nyaman pikirnya.

"Layanan kamar." Suara dari balik pintu menghentikan kegiatannya. Naruto bangkit dan duduk di tengah ranjang tak bermaksud membukanya karena ia enggan meninggalkan ranjang miliknya.

"Masuklah! Aku sama sekali tidak menguncinya." Kata Naruto dengan suara keras.

Dari balik pintu yang tinggi sebuah troli menyembul disusul seseorang berbadan kecil yang mendorongnya dari belakang. Naruto memasang wajah berpikir, seseorang yang baru memasuki ruangannya memiliki rambut pirang redup dan sepasang mata bewarna unggu bulat dan besar, tingginya tak lebih dari tinggi badan Naruto bahkan mungkin sama, di pipi orang itu ada bintik-bintik hitam yang terlihat lucu di mata Naruto.

"Hai." Sapa orang itu dengan wajah cerah dan mata lebarnya yang terbuka penuh.

"Hai." Tanggap Naruto dengan wajah bingung.

"Perkenalkan, namaku Tobi Gerald. Kau bisa memanggilku Tobi. Orang-orang disini juga memanggilku seperti itu karena Tobi adalah namaku. Jadi siapa namamu?" bocah bernama Tobi menautkan alisnya.

"Namikaze Naruto, panggil aku Naruto. Salam kenal Tobi...apa yang kau bawa?" jari Naruto menunjuk pada sebuah benda yang tertutup tudung makanan dari metal.

"Entahlah, bagaimana jika dibuka saja?" tanyanya.

Naruto tertawa untuk sesuatu yang ia anggap lucu. Lalu ia mengangguk dan menanti sesuatu yang tengah dibuka oleh bocah bernama Tobi di depannya.

"Astaga! Ini makanan. Aku lupa jika ini makanan. Tuan Itachi menyuruh Teuchi membuatkan makanan untukmu dan Teuchi menyuruhku untuk mengantarkannya padamu." Tobi tertawa dengan kesalahannya sendiri.

"Benarkah? Kalau begitu aku ingin ke tempat Itachi dan mengatakan terima kasih padanya."

"Tidak perlu, Naruto. Tuan Itachi tidak bisa diganggu sekarang. Kau makanlah!"

Makanan yang enak dan mengenyangkan. Naruto menyantapnya lebih seperti orang kelaparan. Cepat dan sedikit berantakan tapi di depannya Tobi tidak mengatakan apapun, ia berdiri diam dengan wajah yang tidak berhenti tersenyum dan menatapnya dengan mata ungunya yang lebar. Naruto mengamati anak yang terlihat seumuran dengannya sambil menghabiskan makanannya. Tobi memiliki gigi yang lucu. Dua gigi depannya terlihat lebih besar dan membuatnya seperti gigi Kaninchen. Naruto terkekeh kecil dan itu membuatnya tersedak.

"Kau tersedak? Apa supnya terlalu panas? Apa terlalu asin? Apa supnya terlalu kental? Apa supnya justru terlalu hambar? Teuchi tidak terlalu pintar membuat sup. Totsuka koki kami sedang pergi ke Prusia. Jadi Teuchi sebagai asistennya menggantikan tugasnya. Tapi Teuchi jauh lebih hebat dalam membuat dessert." Cerocos Tobi tanpa jeda.

"Tidak tidak, ini enak sekali. Aku hanya tertawa melihat gigi depanmu yang seperti kelinci."

"Benarkah? Tidak ada yang pernah berkata demikian padaku. Tapi pemikiranmu terdengar tidak buruk. Dulu aku pernah memelihara 4 ekor kelinci tapi Totsuka mengambilnya dan menjadikan mereka santapan makan malam. Padahal aku sudah terlanjur menamai mereka. Lunuganga, Verona, Lumina, dan Bawabawa...bukankah itu nama yang lucu. Tapi sayang sekali." Dengan wajah tertekuk Tobi menunduk.

Naruto memandang dalam diam, tidak bermaksud membuka suara. Ia membiarkan keadaan hening sementara yang hanya memperdengarkan dentingan alat makan yang sudah ia coba pelankan suaranya. Hampir 2 menit Tobi terus menunduk dan Naruto merasa tidak enak.

"Kau tak apa? Kelincimu pasti sudah berada di surga." Ujar Naruto dengan suara tenang.

"Kelinciku? Bagaimana kau tahu aku punya kelinci yang sudah mati?" cepat-cepat Tobi mengangkat kepalanya memandang Naruto dengan ekspresi heran yang alami. Ia menatap binggung ke arah Naruto yang sama bingungnya dengan perkataannya barusan.

"Kau menceritakannya padaku barusan. Tidak ingat?" tanya Naruto.

Tobi menggeleng penuh dan membuat Naruto mendesah. Tobi adalah seorang anak seumuran dengannya yang memiliki masalah dengan daya ingat pikir Naruto kemudian.

.

.

.

Ruang kerja Uchiha Itachi .

Perapian di depan sofa besar bersinar hangat dan menimbulkan bunyi retak serta bunyi letupan kecil pada kayu yang terbakar api. Sebuah karpet dari bulu beruang kutub berada di sebelah kanan perapian. Seseorang berambut hitam duduk dengan kaki menyilang menghadap lurus dan terpaku ke arah perapian yang berkobar. Tangan kananya menggengam segelas cairan bewarna merah pekat sambil menyeringai.

"Sampai kapan kau akan menampung anak itu di sini brother?" ujar laki-laki bernama Uchiha Shisui.

"Entahlah." Jawab seseorang beriris amber dari balik meja kerjanya dengan tangan menopang wajahnya.

"Kau tidak berencana terus menampungnya hingga adik bungsu kesayanganmu kembali bukan?" tanya Shisui dengan nada serius.

"Mungkin." Jawaban pendek masih dilemparkan Itachi .

"Kau yakin? 'Adikmu' itu tidak seperti kita. Dia jauh lebih berbahaya dan liar, tunggu dulu apa kau bermaksud menjadikan bocah Namikaze itu sebagai makanannya?"

"Hahaha...suaramu terdengar khawatir Shisui." Itachi tertawa mengejek "Tentu saja tidak, Naruto bocah yang manis, kurasa dia mungkin menyukainya...ngomong-ngomong kapan dia pulang dari Skandinavia? Bukankah ini sudah satu bulan berlalu?" tanya Itachi kemudian.

"Kudengar lusa. Sai akan pulang bersamanya...aku tidak sabar."

"Ya...aku pun begitu. Aku tidak sabar menanti kedatangannya." Dalam suara tawanya Itachi merasakan ketertarikan pada sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.

-tbc-

Hi Minna-san !

Bukan bermaksud menelantarkan fanficku hanya memang sibuknya setengah mati. Jarang tidur juga, sedih bangetlah. Intinya aku belum sempet update fic lain karena memang masalahnya di waktu. Cerita ini sudah jadi, hanya tinggal di edit jadi aku buat pancingan pertama moga fic lain bakal update cepet setelahnya.

Thanks banget yang udah selalu menunggu, seneng banget ada yang menanti haha *ketaunbangetjomblo

Okay, see ya in the next chap

-with love Ivyluppin-