Title : Kampus Biru
By : Gremory Chan
Rating : M
Genre : Romance
Pairing : Sasuke Uchiha x Sakura Haruno
Disclaimed : ©Mashashi Kishimoto
Warning : Typo,gaje,bahasa tidak baku,gak mutu
* ano... karena banyak yang minta buat bikin lanjutan dari fic yang me bikinin deh,dan...pastinya masih blm dan kritikan masih dibutuhkan...oke happy reading guys ^^
* Kampus Biru *
.
.
.
"Krriiiiriring...riiiinggggggggg." Jam waker-ku berbunyi saat aku masih tertidur lelap, dengan malas aku meraih benda yang bersuara berisik yang terletak di meja lampu disamping tempat tidurku ini.
Berlahan aku membuka mata, melirik jam wekerku yang sudah menunjukan pukul 08.10 pagi, "ssshh!cepat sekali pagi datang." dengan malas aku bangun menggerutu sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuhku, masih menggunakan piyamaku aku beranjak pergi kekamar mandi meninggalkan tempat tidurku untuk segera mandi.
Kaca dikamar mandi itu memantulkan bayangan tubuhku yang telanjang tanpa sehelai benang,memandanginya,menaggumi tubuhku sendiri,aku tersenyum bangga, "Eh..hei,apa itu?luka apa itu?." aku bertanya tanya pada diriku sendiri, penasaran aku mendekatkan diri kekaca itu,memastikan luka apa yang menodai leher dan kedua buah dadaku.
"Aah kusso! tanda ini, sial...Sasuke!" tanda itu mengingatkanku dengan kejadian kemarin malam,Iya Sasuke yang melakukannya, "Tidak... bagaimana aku menyembunyikannya,ah kenapa aku baru menyadari ini,Hinata...apa dia melihatnya kemarin itu,kenapa dia diam saja." aku masih bertanya tanya apakah Hinata dan yang lainnya melihat bekas cupangan Sasuke itu.
Berkali-kali aku menggosok tanda kebiruan itu dari leher dan buah dadaku dengan sabun,tetap saja,noda itu tidak menghilang,hmm.. biar saja aku terlihat bodoh, sungguh aku tidak tau cara menghilangkan tanda sial ini dari leher putihku.
"Ah baiklah hanya cara ini untuk menutupi hal memalukan ini!", aku pun segera mandi dan berpakaian, "Syal biru kemana?" aku mengacak-acak isi lemariku mencari syalku, "oh ini dia." akhirnya aku menemukan syal dari dalam lemariku.
Aku segera melingkarkan syal dileherku,berharap semua tidak melihat tanda kebiruan ini,sudah terlambat,aku segera berangkat kekampus meninggalkan kamarku.
.
.
.
Sesampaiku dikampus beberapa orang memandangiku, mungkin dimata mereka aku gadis kurang waras,memakai syal dimusim panas, apa boleh buat dari pada noda sial itu dilihat orang.
Aku berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah ramai, "Sakuraaaa...!" Suara yang tak asing itu memanggil namaku, aku menoleh kesumber suara itu,yaah benar saja, Hinata melambaikan tangannya dari bangku taman, aku pun tersenyum dan berlari menghampirinya.
"Selamat pagi Hinata chan," sapaku dengan senyum manis,
"Selamat pagi Sakura,ka-kau kenapa?baik baik saja?", tanya Hinata sedikit cemas melihat penampilanku.
Aku duduk disamping Hinata, "Ah..hehehe...tidak Hinata aku hanya,sedikit tak enak badan", haa tentu saja aku menjawab sekenanya, tapi aku yakin wajahku tetap terlihat kalau aku sedang berbohong.
"Oh..syukurlah,kau sudah makan Sakura chan?", tak mau memaksaku untuk mengaku, Hinata membuat topik baru.
"Belum...hari ini aku bangun terlambat.." jawabku sambil menggaruk kepalaku,
"Kebetulan,hari ini Naruto kun tidak masuk kuliah,kalau begitu kita makan dahulu saja Sakura,tidak perlu menunggu Naruto kun", Hinata mengajakku kekantin,dan aku mengiyakannya dan berjalan kekantin bersama Hinata.
Sesampaiku dikantin aku memesan semangkuk bakso tahu kesukaanku,sedangkan Hinata memesan satu piring mie goreng, tak terlalu lama kami menunggu pesanan kami, karena kak Ayame segera menghidangkan sarapanku dan Hinata,dan akupun segera melahapnya selagi hangat.
Tak lama setelah bakso dimangkuk itu tandas perutku mulai tak asik,mungkin sebaiknya aku ketoilet.
"Hinata chan...aku pergi ketoilet titip tasku sebentar ya.." aku pamit ketoilet dan menitipkan tasku ke Hinata yang masih menikmati santapannya.
"Iya Sakura chan,aku akan menunggumu." jawab Hinata sambil melahap mie goreng kesukaannya.
Aku pun meninggalkan Hinata sendirian dimeja kantin berjalan ke toilet dan menyelesaikan urusanku.
Baru saja aku keluar dari toilet yang bertuliskan FEMALE ,aku melirik seseorang yang juga baru saja keluar dari toilet bertuliskan MALE itu.
Pemuda berambut raven,bermata hitam itupun juga melirikku.
DEG! perasaan ini, tak mau berlama-lama berada didekatnya aku menundukan kepalaku,bergegas cepat beranjak dari tempat ini,baru saja aku melangkah tangan yang kekar itu dengan cepat mencengkeram lenganku.
"Buru buru sekali Sakura chan?" suara baritone-nya menggema diruangan itu,membuat jantungku semakin berdegup.
"Ssh..Sasuke! apa yang akan kau lakukan? biarkan aku pergi." aku menjawab tanpa memandang wajahnya.
"Kau kenapa?kau baik baik saja?apa kau sakit,kenapa kau memakai syal?" Kata Sasuke, semakin menghimpitkan tubuhnya ketubuhku... Sial aku tidak bisa lari. "Kenapa kau diam Sakura? wajahmu merah, kau sakit?". Laki-laki tampan bernama Sasuke itu bertanya dan semakin mendekatkan wajahnya kewajahku,nafas hangatnya tersasa membelai bibirku.
"Emm... bisakah kau menjauhkan mulutmu dari wajahku Sasuke...aku tidak suka bau nafasmu!"
"Benarkah Sakura?" Sial! dia malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku, sesak.. aku memejamkan mataku saat nafas hangatnya terasa semakin mendekati bibirku.
CUP! Sebuah ciuman mendarat dibibir mungilku.
"Lepaskan aku Sasuke! brengsek!" aku mendorong tubuh Sasuke, namun tidak membuatnya menjauh, tenagaku terlalu lemah.
"Kasar sekali Sakura..." kata Sasuke dengan nada datar, "seharusnya kau bersikap lebih lembut terhadap seorang pria!" Sasuke mendorong tubuhku dengan kasar, sehingga tubuhku menabrak pintu toilet pria dan masuk kedalamnya.
Sasuke mengunci pintu toilet, manik hitam itu menatap tajam kearahku, mencengkeram kedua lenganku dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya, memelukku erat membuat nafasku sesak.
Sedetik kemudian Sasuke mendaratkan ciumannya lagi kebibirku.
"Meemm...emm..emm..Sash..emh..sukeeh...lepas...kan !" aku mencoba berontak,memukul-mukul dada bidangnya,tapi dia tetap mencengkeram tubuhku.
"Mau kemana Sakura?eemm...emmh!" Sasuke terus menciumku, memaksaku, bahkan sekarang ciuman tadi berubah menjadi jilatan, semenit kemudian menjadi hisapan, lidah Sasuke membelit lidahku mengajaknya menari didalam mulutku, tangan kekarnya kini meremas salah satu dada besarku,sialan Sasuke.
"Mmm...aahh...hentikan Sasuke! atau aku akan teriak!" Ancamku kepada pemuda Uchiha yang sebenarnya sangat aku cintai.
"Coba saja kau teriak." lagi lagi jawaban yang sangat datar, nafasnya memburu dan dengan kasar tangannya membuka syalku, tak dapat disembunyikan lagi terlihatlah noda biru yang telah dia buat kemarin malam.
"Ooh jadi ini yang membuatmu menutupi leher indahmu?" tanya Sasuke memiringkan kepalanya menatapku, "seharusnya kau bangga cherry, Uchiha Sasuke yang melakukannya." Sasuke kembali menenggelamkan bibirnya keleherku, membuat kissmark lagi disana.
"Aaaahh...jangan lagi Sasukeh..!" Aku merintih menahan rasa geli yang membuat bulu-buluku meremang, kedua tanganku tertekuk sejajar diantara dada Sasuke dan dadaku, tanganku menahan tubuhnya agar tidak menyentuh tubuhku, tapi tenaga Sasuke terlalu kuat untuk aku tolak sehingga akupun kembali jatuh kedalam dekapannya.
"Sakura...diamlah, aku tidak akan menyakitimu!" iris Onyx-nya yang tajam menatap Emeraldku yang mungkin mulai sayu, dan kembali bibir basahnya memagut bibirku dengan lembut.
Akupun mengalah membiarkan bibir Sasuke bermain dibibirku, kedua tanganku meremas krah baju berwarna biru kelam milik pemuda Uchiha yang tampak mempesona itu,aku menikmati deru nafas beraroma mint yang menghipnotisku,walau aku masih terlalu jaga image untuk tidak membalas lidahnya yang membelit panas lidahku.
"Sasuke!" Brak! brak! brak! Suara pintu diketuk dengan kasar dari luar sana, Aku dan Sasuke sedikit terkejut dengan suara itu, ah! tidak bahkan sebenarnya aku sangat panik, Sasuke melepaskan tubuhku dan meninggalkan aktifitasnya.
"Sasuke!" Suara perempuan itu membuat kesadaranku semakin baik, sepertinya aku mengenalnya, iya itu suara Ino.
"Sebentar Ino! kau menggangguku!" Bentak Sasuke,sementara tanganku semakin gemetar.
"Kau terlalu lama didalam sana sayang..." timpal Ino dengan lembut.
Sementara aku terus terdiam dengan wajah panik, dengan tatapannya saja aku mengerti Sasuke memberi isyarat agar aku jangan menampakan diri, tak lama Sasuke membuka pintu dan meninggalkan aku sendiri didalam toilet pria.
Aku menghapus air mataku, ada rasa sesak didadaku, perih dan sakit, Sasuke memperlakukanku bagai mainannya, aku semakin sakit saat aku menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya, dan kenyataannya dia sudah mempunyai Ino, Belum puas menangis akupun segera keluar dari toilet setelah yakin mereka tak ada disana, aku merapikan lagi baju dan syalku, dan bergegas menghampiri Hinata.
.
.
"Sakura chan?" Hinata menatapku heran,melihatku dengan mata sedikit bengkak berdiri disampingnya dengan wajah tertunduk.
"Maaf Hinata chan,aku harus pergi", akupun mengambil tasku dan pergi meninggalkan Hinata,menyembunyikan tangisku.
"Sakura chan,tunggu..." Hinata mengejarku dan berlari terburu-buru, "Sakura chan, kau kenapa?kau bisa menceritakan semua kepadaku, bukankah kita berteman?" Lanjut Hinata.
Akupun berbalik kearah Hinata, tak kuasa menahan tangis akupun memeluknya dan menangis dipundaknya.
"Hiks...hiks...aaahaaaaaaaa...Hinata chan..." aku menangis sejadi jadinya,tidak perduli semua melihat kelakuan konyolku,menatapku dengan tatapan aneh.
"Sa..Sakura chan..ada apa?" Hinata semakin bingung, "Kita bisa bicarakan ini Sakura chan,jangan menangis disini,semua melihatmu", lanjut Hinata.
Setelah menenangkanku Hinata mengajakku ketaman belakang kampus, setelah hatiku sedikit tenang aku pun menceritakan semuanya kepada Hinata, dia sangat marah kepada Sasuke, dan berencana melaporkannya pada Naruto kekasih tercintanya.
"Memalukan! aku tidak menyangka Sasuke kun bersikap jahat terhadapmu Sakura, memanfaatkan perasaan orang lain untuk kesenangannya sendiri", kata Hinata.
Aku masih terdiam disamping Hinata, meremas erat tasku, Hinata yang masih tampak marah atas aduanku tiba-tiba berdiri.
"Aku akan mencari Sasuke kun!" kata Hinata.
"Ja jangan Hinata chan, Biarkan saja aku simpan sendiri,aku hanya berbagi cerita kepadamu",
"Tapi Sakura, dia akan terus memperlakukanmu seperti itu, aku senang jika Sasuke bersamamu, tapi tidak dengan status dan keadaan yang seperti ini". jelas Hinata.
"Terima kasih Hinata chan,aku baik baik saja." aku pun memeluk Hinata.
.
.
.
Jam menunjukan pukul 16.30 dikampus Konoha.
"Sakura chan, maaf hari ini aku langsung ke restoran Tousan, kau tidak apa kan pulang sendirian?" tanya Hinata, iris amethystnya menyiratkan kekhawatirannya terhadapku.
"Tidak, aku tidak apa apa Hinata, masih sore masih banyak taksi kan." jawabku,dengan senyum yang semoga saja bisa membuat Hinata percaya aku baik-baik saja.
"Yasudah, hati hati Sakura chan, aku akan menjemputmu nanti malam,kita kekafe biasanya" kata Hinata mencoba menghiburku, lalu Hinata masuk kedalam mobil jazz merahnya.
"Iya Hinata, salam buat Tousan dan Kaasanmu ya." jawabku basa basi,
"Baiklah... akan ku sampaikan salammu Sakura, jaaaa..." Hinata menjalankan mobilnya dan melambaikan tangannya kearahku.
"Hati-hati Hinata chan,jaaa..."
Semenit kemudian mobil Hinata sudah tidak terlihat, aku menghela nafas danberjalan keluar parkiran kampus untuk mencari taksi.
Mungkin sekitar 15 menit aku menunggu taksi, tak ada tanda-tanda lewat, kampus mulai sedikit sepi, aku mulai jenuh, mungkin wajahku terlihat masam, lalu tanpa aku sadari tiba tiba ada telapak tangan kekar dan kasar menutup kedua mataku dan kemudian tanganku dikunci dengan tangannya lalu menyeret tubuhku, aku mulai berteriak minta pertolongan, namun dengan sigap tangan itu membekap mulutku.
Aku didorong dengan kasar, tubuhku jatuh tersungkur diatas rerumputan, tempat itu aku mengenalnya, itu adalah dibelkang kampus,akhirnya aku bisa melihat siapa yang membawaku kesini, tiga orang berbadan besar berwajah kriminal berpakaian jaket kulit hitam, tak lama sesosok wajah cantik muncul dari koridor kampus menghampiri kami.
"Ooow...tikus kecil sudah tertangkap ya." Gadis berambut pirang panjang itu bersuara, berkacak pinggang dengan sombongnya.
"I ino?a apa yang kau lakukan?" emeraldku terbelalak,mulutku ternganga, tak percaya atas apa yang aku lihat.
"Hah! memberi pelajaran kepadamu gadis jalang!" "Pllak!" Ino menampar pipiku,
"Ah!" aku menjerit kesakitan, ada sedikit darah ketika aku meraba bibirku, air mataku mulai meleleh lagi.
"Berani sekali kau menggoda Sasuke, jangan fikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di toilet tadi!" bentak Ino, "bahkan dindingpun bisa bicara gadis bodoh!" serunya,tangannya menjambak rambut permen kapasku dengan kasar,menyisakan rasa sakit.
"Ino... aku tak bermaksud menggoda Sasuke, dia yang menggangguku!" aku berusaha menjelaskan, tapi ino tak percaya.
"Hah! persetan! semua wanita menyukai Sasuke,termasuk kau! jangan bermimpi kau bisa merebut Sasuke dariku! " teriak Ino, "Hei kalian! cepat beri gadis jalang ini pelajaran! agar dia tidak mengganggu Sasuke lagi!" perintah Ino kepada 3 pria besar itu.
Aku mulai ketakutan, ketika pria pria itu mendekatku, Ino menyeringai menang, sementara tubuhku mulai bergetar ketakutan, aku terus memohon agar aku tidak disentuh orang orang menyeramkan itu, tapi tidak ada yang mendengarku.
Pria berambut cokelat itu menindihku yang masih bersimpuh diatas rumput, pria menjijikan itu meremas kedua payudaraku, dan dua yang lainnya mulai meraba pahaku.
"Jangaaan...!tolong lepaskan akuuuh!" aku berteriak meminta tolong, tak ada seorangpun yang datang, aku masih berusaha memberontak tindakan kasar itu.
Kraaaak...! Baju pinkku dirobek, syal biruku entah dibuang kemana, pria besar itu bersiap menarik braku.
"Bug!" Sebuah tendangan mengenai wajah pria diatasku yang siap memperkosaku,
akupun cepat duduk dan merapikan pakaianku yang sudah tak mampu menutupi semua tubuh atasku.
"Sasuke!" Aku dan Ino terkejut, akupun merasa lega.
"Kau mengganggu kesenangan kami anak muda!" kata pria besar yang sepertinya ketua preman itu,dengan wajah suramnya.
"Cih! brengsek! beraninya kalian menyentuh Sakura!" bentak Sasuke, mata Onyx tajam itu menatap jahat ketiga preman itu, tersirat kemarahan yang amat sangat dimata yang memabukkan Sakura beberapa saat tadi.
"Sa sayang." Ino gugup memanggil Sasuke, mata birunya menatap tak percaya Sasuke datang dan membela Sakura.
"Diam kau Idiot!" bentak Sasuke pada Ino, Ino membelalakan matanya, tampak terpukul atas kata-kata Sasuke. "Pakai ini Sakura!" Sasuke melemparkan jaket bergambar kipas merah putih dipunggungnya untukku, tak menunggu lama akupun cepat memakainya menutupi tubuhku yang tak tertutup sempurna tadi.
"Aahhh sial, aku akan menghajarmu anak muda!" ketiga pria besar itu maju bersama mengeroyok Sasuke, terjadi perkelahian tidak seimbang, dua lawan tiga, Sasuke dengan susah payah menghajar ketiga preman suruhan Ino, tangannya meninju si preman botak, kakinya menendang si preman yang berjanggut tipis, dan kali ini Sasuke terkena tinju diwajahnya, aku hanya bisa menjerit melihat Sasuke yang mulai kepayahan dikeroyok tiga orang penjahat itu.
"Buugh!" Satu tinju mengenai ulu hati Sasuke, Sasuke terjatuh memegangi ulu hatinya yang nyeri,
"Uggghh..." Sasuke susah payah berdiri, lalu terjatuh lagi wajahnya mulai pucat,
"Sial! lari...lari...ayo lari bodoh!" Teriak Ino kepada 3 preman yang terlihat panik melihat keadaan Sasuke.
Ino dan ketiga anak buahnya pun lari ketakutan karena Sasuke mulai pucat pasi, aku pun tak kalah panik dan khawatir.
"Sasukeee...hiks...Sasuke..." akupun menangis, sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"hn..ja jangan menangis bo doh..." Kata Sasuke terbata bata, dalam keadaan seperti itupun Sasuke tetap ketus seperti kebanyakan Uchiha lainnya, "Cepat rawat aaku,atau aku akan mati!" Lanjut Sasuke, pemilik manik onyx itu berlahan terpejam, aku menangis memeluknya, mangkhawatirkan keadaannya, tak lama kemudian Kiba dan Gaara menemukan kami karena mencari Sasuke yang pamit ketoilet tapi lama tak kembali.
TBC
Yossh...gak ada Lemon sama sekali ya T.T cape nulisnya,lagian udah kepanjangan kayaknya,mungkin next chapter.
Buat yang udah review terima kasih semuanya... walau gak banyak jujur saja cuma kalian yang bikin me mau cepet2 updatenya ^^
