Sakura selalu menunggu saat-saat dimana adiknya,

Uchiha Sasuke kembali Memanggilnya Nee-chan seperti dulu,

tetapi ia tidak mengira bahwa begitu waktunya tiba, akan menjadi begitu menyakitkan.

"Kau diidolakan semua orang."

"..."

"Bagaimana rasanya dielu-elukan?! Kasihan sekali mereka, terpukau oleh dirimu yang bahkan sampai sekarang masih dipertanyakan daya tariknya."Sakura kembali melanjutkan ucapannya meskipun hanya abaian yang ia dapatkan.

"…."

"Berpura-pura tidak peduli, bersikap sok cool, mentang-mentang banyak yang menyukai di sekolah."

"…."

"Heh, Sasuke!"

"…."

"Aku sedang mengajakmu bicara, setidaknya respon aku!"Sakura melempar bantalnya kearah Sasuke, tapi ia tidak mengira kalau bantal itu akan tepat mengenai kepalanya. Aneh. Seharusnya dia menghindar.

"Kau sedang mengajakku bicara? Yang benar saja. Yang kudengar sedari tadi hanyalah cacian dan makian. Kalau sudah selesai, silahkan keluar. Membuat hawa disini makin gerah saja."Sasuke menekan remot pintunya, dan sekarang pintu itu terbuka, onyx itu melirikkan matanya ke pintu, mengisyaratkan Sakura untuk segera enyah dari hadapannya.

"Sialan!"rutuk Sakura, Ia berjalan dengan kesal dan geram kearah pintu kamar Sasuke yang seolah-olah menyuruhnya bergerak lebih cepat.

"Tunggu.. Aku berubah pikiran."

Sakura Nee-chan

A Naruto Fanfiction by Anfidoos

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Warning: OOC, Typo(s), EYD, etc

.

.

.

DLDR

Chapter 2

"HAH? P-putra U-chi-chiha katamu?!"Sakura tergagap dan segera saja menolehkan kepalanya melihat lelaki yang sedang dielu-elukan oleh seantero kelas, dan benar saja, ia speechless, tak dapat mengatakan apapun, bahkan raut wajahnya menjadi terlihat sangat bodoh. Bagaimana mungkin lelaki itu adalah.. adiknya sendiri.

"Tuh kan speechless. Dia itu.. Uchiha Sasuke."ucap Ino dengan bangganya, Sakura masih tak mengira bahwa lelaki yang setengah mati membuat dirinya penasaran ternyata adalah orang yang kemarin ia lempar garpu, Uchiha Sasuke.

Jadi orang yang menjadi trending topic dan dibicarakan oleh semua gadis barusan adalah Sasuke? Sakura sangat memahami, Sasuke memang memiliki rupa yang lumayan, tidak terlalu buruk. Hm, sedikit tampan, mungkin. Ah baiklah, sebenarnya dia sangat tampan. Bahkan meskipun Sakura membencinya, tapi memang begitulah kenyataanya, meskipun sangat enggan untuk diakui, setidaknya dirinya tak ingin menjadi munafik dengan mengatakan kalau Sasuke buruk rupa. Jadi modal pertama menjadi idola adalah tampang, kemudian hal lain yang sedari tadi dipuji-puji kaum hawa seperti tak ada hari esok adalah sifatnya. Inilah yang sulit untuk dipercaya. Cool katanya? Sasuke adalah satu-satunya makhluk tak berperasaan dengan ekspresi datar luar biasa, belum lagi sifat cueknya yang membuat lambungnya terasa mual bertahan berlama-lama bila melihatnya, dan sifat dinginnya yang tak tertandingi sejagat raya. Mereka menyukainya? Sepertinya dunia sudah terbalik.

Oh iya, satu poin penting lagi yang sangat mendukung popularitasnya dan daya tariknya adalah karena dia seorang putra Uchiha, semua orang mengetahui hal itu, tentu saja ia sangat dihormati, mengingat betapa banyaknya dana yang disumbangkan Ayah untuk sekolah. Tidak akan ada yang tidak tahu betapa kaya-nya keluarga Uchiha, tentu saja karena hal itu mereka berlomba-lomba untuk mendekati Sasuke. Ya, setelah dipikir-pikir Sakura merasa begitu bodoh, ia harusnya menjadi satu-satunya yang membutuhkan nama itu untuk mendongkrak rasa percaya dirinya, setidaknya ia akan lebih dihormati, tetapi yang terjadi ia malah menyembunyikan identitasnya sebagai keluarga Uchiha dan berakhir seperti ini, terkucilkan dan tidak memiliki banyak teman. Tapi semua itu bukannya tanpa alasan, sekali lagi mendapatkan teman karena tergiur harta orang tua adalah kenyataan terburuk yang enggan Sakura terima. Lebih baik menjadi murid normal meskipun resikonya untuk anak kurang sosialisasi seperti dirinya adalah minimnya teman yang mendekat. Sasuke bahkan tetap menyandang nama itu meskipun tanpanya, jelas ia masih bisa bertahan dengan kelebihan-kelebihan lain yang ada pada dirinya.

"Hey!"Ino membangunkan lamunan Sakura.

"Uchiha Sasuke?"Sakura memutar otak, akan aneh kalau ia bersikap datar dan tidak menunjukkan ketertarikan, Ino pasti akan mengira ada sesuatu yang salah. "kau benar, dia tampan!"

Demi apapun Sakura ingin rasanya segera kabur dan membersihkan lidahnya yang baru saja mengucapkan kata-kata menjijikan seperti barusan. Lalu apa yang harus dilakukan? Ia benar-benar ingin menuntut ilmu dengan tenang setidaknya sampai tiga tahun kedepan, ia benar-benar tidak ingin memiliki sangkut paut apapun dengan lelaki minim ekpresi itu. Dan satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah berpura-pura tidak mengenalnya, bersikap normal seperti gadis lain yang berteriak histeris bila melihatnya, dan memuji-mujinya sosoknya, tapi apa dirinya akan tahan memainkan peran sejauh itu?Yah, tidak ada pilihan lain.

"kau menyukainya juga kan? Syukurlah kau masih normal."Ino memeluk Sakura gemas, bagaimanapun menurut Ino, Sakura memang setidaknya harus memiliki ketertarikan dengan seorang lelaki, apakah ia akan terus berkencan dengan bukunya sampai tua nanti? Ino tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.

"Apa kenormalan seseorang diukur dari suka tidaknya mereka terhadap seorang lelaki? Ada-ada saja."ucap Sakura, ia memang akan berpura-pura mengidolakan Sasuke, tetapi hanya menjadi kedok, ia juga tak mau terlalu mendalami perannya dengan menjadikan Sasuke sebagai idola sejatinya seperti yang lain. Cih! Tidak sudi.

"Tidak juga sih, tapi kan.. Ah lupakan! Berdebat dengan seorang gadis berjidat lebar yang ambisinya hanya menjadi nomor satu dan nekat memacari buku hanya membuang-buang waktuku."Cerocos Ino, berdebat dengan Sakura tidak akan ada habisnya. Lagipula kalaupun dilanjutkan hanya akan berakhir dengan kekalahan telak dirinya.

….

Kantin nampak sangat ramai, dan sialnya Sakura kalah suit dengan Ino sehingga mau tidak mau ia harus berdesakan di kantin untuk memesan makanan. Padahal ia hanya akan memesan dua bungkus takoyaki dan dua kaleng soda, untuk Ino dan dirinya, tetapi tetap saja ia harus berdesakan demi mendapatkannya.

Setelah kerja kerasnya berdesakan akhirnya Sakura mendapatkan pesanannya, kemudian menghampiri Ino yang sedang menyisiri rambutnya sembari bercermin dengan kamera depan di hp-nya. Ia duduk di pojokan kantin dan menyisakan tempat duduk untuk Sakura.

"Hey.. ayo sini!"Ino menepuk-nepuk bangku panjang di sampingnya, mengisyaratkan Sakura untuk duduk disana.

"Apakah tiap hari harus begini, mengantri hanya untuk mendapatkan makanan? Apa tidak ada kantin lain?!"Sakura mulai sebal melihat Ino yang hanya bersantai duduk-duduk dan bersolek, sedangkan dirinya harus berpanas-panasan dan berdesakan di kantin, ya meskipun memang sudah seharusnya, siapa suruh kalah suit.

"Banyak kantin tentunya, tapi kita bisa apa?! Kita harus memanjakan mata kita."jawab Ino mulai melahap takoyakinya.

"Memanjakan mata, pantatku! Yang ada mataku perih melihat orang bejibun sebegitu banyaknya."

"Apa kau masih belum menyadari alasan mengapa kantin ini begitu ramai? Tentu saja karena ada dia."Ino melirikkan matanya ke depan serong kanan (duh, kaya dansa) atau kira-kira menunjuk angka dua pada jarum jam, Uchiha Sasuke sedang duduk disana dengan seorang lelaki berambut kuning. Ah, jadi itu alasannya kenapa kantin begitu ramai. Ya, adiknya itu memang ada disana, meminum soda sambil mencueki teman kuningnya yang nampak berceloteh panjang lebar. Tetapi apa yang dapat dilihat? Sasuke tidak melakukan hal menarik apapun, tidak ada pertunjukkan debus ataupun sulap, tetapi ia masih saja dikerubungi. Sebegitu besarnyakah pesonanya?

"Pantas saja. Dan kau sudah mengetahui itu tapi tetap mengajakku kemari? Kau bisa dibunuh oleh Sai kalau dia tau."

"Tenang saja, Sai sedang ada di ruang seni. Semalam ia berceloteh mengenai keinginannya berkunjung ke ruang seni sekolah ini, pastinya ia akan terlena disana dan tidak tertarik untuk ke kantin. Aku aman, tenang saja!" respon Ino meminum sodanya, Sakura dapat melihat kalau Ino saja benar-benar kagum dengan Sasuke, padahal ia sudah memiliki Sai yang tidak kalah tampan.

"Kenapa kalian tidak mengajak kami?!" ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah Sakura, dan orang tersebut adalah Tenten, ia tampak sebal. Di belakang Tenten ada Karin dan Hinata, Karin juga terlihat kesal, hanya Hinata yang datar tanpa ekspresi, tetapi dapat juga di kategorikan sedang kesal mengingat gadis itu lebih sering tersenyum biasanya.

"Gomen-ne, tadi aku lapar sekali. Tapi kenapa kalian terlihat begitu murung? Merusak pemandangan saja." Ucap Ino melihat ekspresi ketiga temannya yang kurang mengenakkan, sedangkan Sakura hanya terdiam menyantap takoyaki-nya yang tinggal sepotong.

"Aku sebal sekali dengan gadis-gadis kelas lain yang berlomba-lomba memberikan hadiah pada Sasuke. Bersikap sok manis padanya, membuatku jijik."tutur Tenten.

"Apa yang membuatmu kesal? Biarkan saja. Apa kau sebenarnya juga akan memberikan dia hadiah? Dan kau keduluan mereka?"sela Ino.

"Apa maksudmu? Tentu saja tidak. Aku akan mendapatkan hatinya secara perlahan-lahan, membuat dia mengerti siapa diriku sehingga dia akan jatuh hati padaku, benar-benar murni bukan karena materi, tapi yang kusesalkan setengah mati adalah karena mereka memberikan barang-barang yang tak masuk akal, dan aku takut Prince Uchiha-ku akan terlena dengan itu."

"Barang-barang tak masuk akal seperti?"Ino mulai penasaran, ia mengira hal seperti itu hanya terjadi di sinetron-sinetron, tetapi itulah yang terjadi.

"Jam tangan, sepatu, kaus, kemeja, topi, dan masih banyak lagi."

"Hah.. uhuk..uhuk.."Sakura tersedak, ia tak mengira bahwa hal seperti itu akan terjadi. Okelah, Sasuke mungkin memang tampan, dan ia memiliki karisma, tetapi mengelu-elukan namanya, mengerubunginya seperti gula yang di kerubungi semut, dan memberikannya hadiah-hadiah mahal bukankah terlalu berlebihan?

"Kau baik-baik saja, Sakura-san?"Hinata mengambilkan soda milik Sakura dan menyodorkannya pada Sakura, Sakura segera menerimanya dan meminumnya, kemudian mengangguk pada Hinata yang tersenyum manis padanya. Dibandingkan Karin ataupun Tenten, Hinata jauh lebih ramah.

"Kau pasti kaget mendengar itu kan, jidat? Aku juga tidak habis pikir ternyata banyak sekali yang mengidolakan Uchiha Sasuke sampai segitunya. Padahal kita semua tau, kalau Uchiha Sasuke adalah anak keluarga terkaya se-Konoha, sudah jelas dia tidak membutuhkan barang-barang seperti itu. Aku juga mengidolakannya, tapi aku tidak segegabah itu."cerocos Ino, yang hanya direspon anggukan oleh Sakura.

"Iya, kau benar. Tapi ada yang lebih menyebalkan dibanding itu."Karin mulai angkat bicara, sedari tadi ia hanya terdiam dan hanyut dalam kekesalannya. "lihatlah para gadis terkutuk disana, apa maksudnya duduk di depan Sasuke dengan membusungkan dadanya seperti itu, bahkan aku tadi melihatnya menarik roknya sendiri keatas, mencoba mendapat perhatian Prince Uchiha-ku dengan pahanya. Bagaimanapun, Prince Uchiha-ku adalah lelaki normal, bagaimana kalau ia terbuai dengan kelakuan gadis murahan itu?"

"Tetapi sedari tadi Uchiha Sasuke hanya memalingkan muka dari para gadis itu, ia hanya meminum sodanya dan mendengarkan cerita Uzumaki Naruto."jelas Hinata sedikit menenangkan kekesalan Karin, meskipun yang terlihat tak ada perubahan emosi sama sekali di wajah Karin.

Sepertinya dari segerombol gadis-gadis itu, hanya Sakura yang asik menghabiskan sodanya. Sudah dibilang meskipun akan berpura-pura mengidolakan Sasuke, tetapi ia tak akan sejauh itu sampai harus marah-marah hanya melihat Sasuke dengan gadis lain. Dan, mengenai para gadis yang menggoda Sasuke, Sakura yakin Sasuke bukan lelaki seperti itu. Bahkan meskipun lelaki normal akan terbuai dengan gadis se-seksi itu, Sasuke tak akan terjebak dengan hal itu. Jujur saja hal itu benar-benar menjijikan. Meskipun mendengar Karin dan Tenten yang menyebut Sasuke 'Prince Uchiha-ku' juga tak kalah menjijikan.

"Kenapa kau diam saja, Sakura? Kau tidak kesal?"Ino melihat Sakura yang hanya berekspresi datar, memang Sakura tidak bisa begitu menggilai seorang lelaki, tetapi bagaimana bisa ekspresinya bisa sedatar itu? Ino tak habis pikir.

"Apa maksudmu? Aku juga kesal."respon Sakura mengerucutkan bibirnya, benar juga. Setidaknya ia tetap harus sedikit mendalami perannya, memantapkan kesungguhannya bermain peran dengan bersikap seolah benar-benar mengidolakan Sasuke meskipun hanya sedikit, dan merasa kesal seperti yang lain meskipun lagi-lagi adalah hanya kepura-puraan.

…..

"Uchiha-kun, aku dengar Uchiha-kun suka sekali dengan tomat. Aku membuat sendiri sup tomat khusus untuk Uchiha-kun."seorang gadis tanpa ragu mendekati Sasuke yang memutar bola matanya bosan, sudah berapa gadis yang menawarinya berbagai makanan dan ia tolak, Sasuke tidak mengerti kenapa mereka tak menjunjung tinggi martabat seorang gadis? Gadis seharusnya bersikap manis dan menjaga perilakunya, bukan dengan bersikap sok manis dan menggodanya.

"Sasuke-san, aku membuat jus tomat untuk Sasuke-san, aku tidak menjamin rasanya, tetapi aku menyajikannya dengan sepenuh hati, kurasa hal itu akan membuat rasanya menjadi lebih baik."gadis lain ikut mendekat, menyodorkan segelas jus berwarna merah yang tadi diakunya isinya jus tomat, dia mengatakan apa? Menyajikannya sepenuh hati? Apakah ia baru saja disuruh meminum jus tomat yang sudah di campuri hati? makan tuh hati.

"Puding tomat adalah yang terbaik, Uchiha-kun. Apalagi cuacanya sedang panas-panasnya. Puddingnya begitu manis, semanis wajah Uchiha-kun siang ini."gadis yang lain lagi ikut mendekat tak mau kalah, apakah hari-harinya akan berjalan seperti ini terus? Ia berharap mendapat ketenangan di sekolah barunya, tetapi yang ada justru semakin buruk.

"Wah wah.. kau benar-benar diidolakan, Teme.. Sepertinya aku membawa keberuntungan bagimu. Tidak dulu tidak sekarang, semua orang jadi mengidolakan dirimu, mereka bahkan melupakan Aku yang jelas-jelas memiliki—"Naruto nyerocos sambil memasukkan sumpit yang sudah dililiti ramen ke mulutnya dengan lahap, namun ucapannya sudah dipotong Sasuke yang nampak tak memedulikan omongannya.

"Aku akan mengatakan ini, jangan menyuruhku mengulangnya."Sasuke meremas kaleng sodanya, Ia sedikit kesal. Namun yang terjadi justru para gadis itu terpukau melihat dirinya melakukan hal sesepele itu, membuatnya menyesal melakukan hal tersebut. "Ini adalah kali terakhir kalian memberikan hal-hal seperti ini, aku tidak menyukainya. Jadi berhentilah menggangguku dan membawa barang-barang serta makanan tidak perlu padaku. Aku tidak mau dikasihani."

Gadis-gadis yang sedari tadi mencoba mendekati Uchiha Sasuke hanya menunduk, sedangkan kerumunan gadis lain mulai membubarkan diri, setelah dipermalukan di depan umum seperti itu, mereka hanya menunduk, seorang dari mereka bahkan sudah menitikkan air mata. 'Bagus, Sasuke!'melihat itu Sasuke menggumam dalam hati. Gadis-gadis itu pasti membencinya, mereka tak akan lagi sudi mengganggu dirinya, tidak hari ini, besok, maupun seterusnya.

"Uchiha-kun, maafkan kami.. telah mengganggu waktu santai Uchiha-kun, tetapi kami tidak bermaksud melakukan itu. Kami hanya ingin membantu Uchiha-kun."

"Iya, kami juga tidak bemaksud memandang rendah ataupun mengasihani Uchiha-kun dengan memberikan barang-barang ini, kami hanya tertarik dengan Uchiha-kun, kami akan sangat senang bila Uchiha-kun mau memakai barang-barang yang kami berikan, sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan atau merasa kasihan. Maafkan kami Uchiha-kun."

"Kami minta maaf sedalam-dalamnya, Sasuke-san. Tetapi apapun yang terjadi, kami tak akan pernah membenci Sasuke-san, kami akan terus mendukung setiap langkah Sasuke-san, kami justru berterimakasih pada Sasuke-san karena sudah mengingatkan. Sekali lagi, kami minta maaf, dan terimakasih banyak, Sasuke-san."

Masing-masing dari mereka bertiga menunduk lemas, menunggu reaksi Sasuke. Bahkan setelah ditegur dan dipermalukan di depan umum, mereka tidak membenci dirinya, mereka bahkan meminta maaf. Sulit dipercaya.

"Aku cukup tersanjung."Sasuke meninggalkan kantin, melenggang tidak peduli pada gadis-gadis itu, ia bahkan meninggalkan Naruto yang masih melahap ramennya, meskipun Naruto sudah mencoba menghentikan dirinya, tetapi ia tidak peduli. Yang sekarang harus dilakukannya adalah buru-buru meninggalkan kantin, ia terlalu malas dengan semua adegan drama yang baru saja terjadi.

…..

Sepeda Sakura berjalan melewati jalan-jalan sempit, rodanya terus berotasi mengiringi dirinya yang kelelahan mengendarai kendaraan kesayangannya, peluh terus menetes di dahi dan pelipisnya, ia tidak mengira perjalanan rumah-sekolah begitu melelahkan untuk ditempuh, padahal bila ditempuh dengan mobil hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit, dan jelasnya lagi tidak ada energi yang terbuang sia-sia.

"Kalau begini tiap hari, kaki-kakiku akan membengkak."Sudah berapa kali tak terhitung dirinya mengeluh, tetapi ia tidak akan menyerah. Ini pilihan yang diambilnya, sebuah pilihan bodoh. Orang mana yang akan bersusah-susah mengendarai sepeda saat ia bisa diantar supirnya menggunakan mobil dan tidak menghabiskan tenaga serta waktunya. Sasuke pasti sudah sampai dua puluh menit yang lalu, dan sekarang ia sedang mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur-tiduran di kasurnya yang dingin dan AC yang menyejukkan. Sial! Kenapa memikirkan Sasuke.

Akhirnya gerbang rumah Uchiha nampak di depannya, ia sedikit bersorak dalam hati, senyum sumringah sempat terlihat di wajahnya yang kusut berpeluh. Tetapi ternyata butuh waktu 10 menit dari gerbang sampai benar-benar masuk ke pintu rumahnya. Kalian bisa memperkirakan sendiri bagaimana kondisi rumah Uchiha yang sering disebut-sebut sebagai bangsawan terkaya se-Konoha itu, yang jelas rumah itu bisa digunakan untuk keluarganya tinggal, hanya itu yang dapat Sakura jelaskan. Ia tidak mau berpanjang lebar.

"Siang, Nona Sakura!"Kakashi, sopir pribadi dirinya dengan Sasuke sekaligus kepala pelayan pria di rumahnya, ia melempar senyum kearah Sakura dan segera menerima tas yang sudah Sakura ulurkan padanya, biasanya Temari yang melakukannya, mungkin dia sibuk mengurusi hal lain.

Sakura terlalu lelah untuk berbasa-basi pada Kakashi, ia segera berlari kearah tangga dan menuju ke kamarnya, bayangan kasur yang sedari tadi menggodanya selama bersepeda sudah tidak dapat ia tahan. Begitu membuka pintu kamarnya, ia segera berlari menghempaskan dirinya ke kasur, ia tiduran telentang. Kedua tangannya ia ayunkan untuk merasakan lembutnya sprei yang menyelimuti kasurnya itu.

'Bagaimana Mama bisa tega meninggalkan kamu sendirian, Nak?!'Sakura menggumam, dia tidak sedang berbicara pada seseorang, ia sedang berbicara pada kasurnya. 'Kau begitu lembut.'Mungkin bagi orang-orang yang belum mengenal Sakura akan menarik kesimpulan ia mungkin memiliki kesalahan pada otaknya, karena terkadang ia mengajak bicara benda mati, mengeluhkan atau menceritakan sesuatu, bahkan membagi kebahagiaannya pada benda tak bernyawa tersebut. Padahal spesies yang bernama manusia belum punah.

Setelah pikirannya tenang, ia kembali membayangkan apa saja yang baru saja terjadi pagi ini. Namun yang paling mengganggu adalah perihal Sasuke, meskipun ia tak bisa mengelak kalau Sasuke mamang tampan, tetapi melihat para gadis seperti bertekuk lutut padanya benar-benar membuatnya ternganga. Bahkan di hari pertama, ia sudah dikenal oleh berbagai gadis, tidak hanya satu angkatan, bahkan beberapa senpai juga berani mendekatinya. Bahkan mereka sudah berlomba-lomba memberikan hadiah berupa barang-barang mahal dan makanan, perlu kalian tau bahwa ini masih hari pertama. Apa tak ada kegiatan penting yang dapat mereka lakukan selain itu?

Sakura bangkit dari tempat tidurnya, meskipun ia enggan sekali bertanya pada Sasuke, tetapi ia penasaran. Apakah dulu dia juga sudah diidolakan layaknya artis holliwood? Sebenarnya sedikit memalukan, tetapi Sakura benar-benar ingin tau rasanya diidolakan banyak orang. Pasti mengangumkan mengetahui banyak orang yang tertarik pada diri kita, apapun itu Sakura harus menanyakannya.

…..

Sakura berjalan keluar kamarnya, meskipun harga diri yang ia korbankan ia harus menanyakan banyak hal pada Sasuke, ia mengutuk pada dirinya sendiri kenapa bisa memiliki rasa penasaran yang begitu dalam pada hal-hal seperti itu. Ia memencet bel pintu kamar Sasuke yang tepat berada di samping kamarnya, kamar Sasuke memang di pasang pintu yang sudah di desain seperti pintu rumah, terdapat bel dan CCTV yang memantau siapa yang hendak memasuki kamarnya, bahkan ia punya remot untuk mengendalikan pintunya. Bukan berarti semua pintu kamar yang ada di rumah Uchiha ini di desain seperti itu, hanya Sasuke saja yang menggunakannya. Entah apa yang ada dipikiran bocah itu dengan memasang pintu seperti itu, memangnya ia punya rahasia yang tidak ingin dia ketahui siapapun? Atau mungkin dia diam-diam berbisnis barang illegal, atau berpesta alcohol di dalamnya. Tetapi tidak mungkin, Ayah memasang CCTV di tiap kamar sehingga keadaan setiap kamar terpantau, termasuk kamar Sakura sendiri. Tentu saja tidak ada CCTV di kamar mandi dan kamar pakaian, memangnya Uchiha Fugaku tipe orang seperti itu?

"Apa yang kau lakukan di depan kamarku? Menyingkirlah!"speaker di pintunya berbunyi, suara bernada belagu itu muncul dari sana, membuyarkan lamunan Sakura. Tak usah ditebak siapa pemilik suara itu, jawabannya terlalu jelas.

"Buka pintunya! Aku mau masuk."Sakura menekan tombol kecil disana untuk mengirimkan suaranya agar dapat didengar dari dalam.

"Untuk apa?"

"Sudah cepat buka!"

"Jangan harap!"

"Apa yang sedang kau lakukan? Aku akan meminta Kakashi untuk membukanya."

"Silahkan."

"Aaah.. ayolah buka!"Sakura semakin kesal, sepertinya inilah alasan Sasuke memasang pintu sialan itu. "atau aku akan menyiramkan air ke speaker ini."

Hening. Kemudian pintu terbuka, Sasuke sedang tiduran di sofa kamar, sudah lama ia tidak masuk ke kamarnya, dulu ia sering masuk tanpa ijin ke kamar Sasuke, dan membuat barang-barangnya berantakan, tetapi semenjak Sasuke memasang pintu sialan itu bulan lalu, ini adalah pertama kalinya dirinya masuk.

"Kau diidolakan semua orang."Sakura menghempaskan dirinya di springbed Sasuke dengan sprei bermotif bendera Amerika itu, dan mengacak-acak apa saja disana, bahkan ia menendang-nendang gulingnya sampai jatuh.

"..."

"Bagaimana rasanya dielu-elukan?! Kasihan sekali mereka, terpukau oleh dirimu yang bahkan sampai sekarang masih dipertanyakan daya tariknya."Sakura kembali melanjutkan ucapannya meskipun hanya abaian yang ia dapatkan, ia tidak bermaksud untuk mengatakan kalimat yang barusan, ia hanya ingin bertanya bagaimana rasanya dielu-elukan, tetapi Sasuke pasti akan mengira bahwa dirinya iri pada lelaki itu, sehingga Sakura menambahkan kalimatnya.

"…."

"Berpura-pura tidak peduli, bersikap sok cool, mentang-mentang banyak yang menyukai di sekolah." Sakura meninju-ninju bantal yang tergeletak disana, beberapa kali, meskipun tak akan ada yang terjadi dengan bantal yang tentunya memiliki kualitas yang tidak bisa diremehkan itu, entah berapa kali dan seberapa kuat Sakura memukulnya, bantal itu masih saja kembali ke posisinya semula, membuatnya semakin geram saja, belum lagi si-empunya bantal yang tentunya jauh lebih menyebalkan dibandingkan bantal itu.

"…."

"Heh, Sasuke!"Sakura mulai habis kesabarannya, setidaknya ia harus merespon sesuatu. Yang sekarang Sasuke lakukan hanyalah tiduran di sofanya dan bermain game disana, cara dia mengacuhkan sakura benar-benar sempurna, karena itu memang tidak dibuat-buat, tapi murni seratus persen. Bahkan sepertinya Sasuke tidak menganggap kehadiran Sakura di kamarnya, meskipun baru beberapa menit gadis itu datang, kamarnya sudah berubah bentuk. Sasuke sama sekali tidak merespon ucapannya, padahal ada banyak hal yang ingin Sakura tanyakan padanya.

"…."

"Aku sedang mengajakmu bicara, setidaknya respon aku!"Sakura melempar bantalnya kearah Sasuke, tapi ia tidak mengira kalau bantal itu akan tepat mengenai kepalanya. Aneh. Seharusnya dia menghindar.

"Kau sedang mengajakku bicara? Yang benar saja. Yang kudengar sedari tadi hanyalah cacian dan makian. Kalau sudah selesai, silahkan keluar. Membuat hawa disini makin gerah saja."Sasuke menekan remot pintunya, dan sekarang pintu itu terbuka, onyx itu melirikkan matanya ke pintu, mengisyaratkan Sakura untuk segera enyah dari hadapannya.

"Sialan!"rutuk Sakura, Ia berjalan dengan kesal dan geram kearah pintu kamar Sasuke yang seolah-olah menyuruhnya bergerak lebih cepat.

"Tunggu.. Aku berubah pikiran."ucap Sasuke, ia kembali memencet tombol di remot pintunya dan kali ini pintu kamarnya tertutup rapat. "Bersihkan kekacauan yang barusan kau buat!"

"APA?!"Sakura membelalakkan matanya, emeraldnya serasa mau jatuh dari tempatnya. "kau kira aku mau melakukannya?!"Sakura menendang guling yang sudah ada di lantai ke arah Sasuke, tentu saja guling itu tak seenteng kapas, tidak mungkin benar-benar melayang ke arah Sasuke, guling itu hanya berpindah tempat akibat tendangan kakinya.

"Cepat bereskan."Sasuke tak berpaling dari video gamenya, ia tak menatap Sakura barang sekejap.

"Aku bahkan tak sudi meminta Temari untuk membersihkan kamarmu, jadi jangan harap. Mana remotnya, Aku mau keluar!"

Sasuke tak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda akan memberikan remotnya pada Sakura, ini pertanda buruk. Bagaimanapun, ia benar-benar membutuhkan remot itu untuk keluar. Dia tidak mungkin kan, terjebak di dalam kamar ini bersama lelaki menyebalkan itu dan baru bisa keluar jika sudah membersihkan kamarnya? Berani sekali dia menyuruh-nyuruh.

"Remot ini tak akan tersentuh sampai kamar ini kembali seperti semula."seringai tipis nampak di wajah Sasuke, bagaimana mungkin Sakura bisa memiliki saudara sebangsa iblis seperti Sasuke?

Sakura mulai mengambil bantal-bantal yang berserakan di lantai, sepertinya memang tak ada pilihan. Lagipula memang dirinya yang telah menyebabkan kekacauan ini, tetapi tetap saja bila lelaki itu merespon pertanyaannya dari awal ia tidak akan melakukan hal itu. Menyebalkan! Tentu saja Sakura tidak melakukannya dengan sepenuh hati, seperempat hati saja tidak sudi. Padahal Sasuke bisa menyuruh Temari atau pembantu lain membersihkan kamarnya, kenapa harus dirinya?

"Aku heran kenapa lelaki menyebalkan seperti itu menjadi idola di sekolah, padahal masih banyak lelaki yang ada, kenapa harus mengelu-elukan iblis?!"Sakura membuka mulutnya, ia tidak mengharapkan jawaban apapun, amarahnya yang sedari tadi ia tahan tak bisa terbendung lagi, ia sudah kelewat kesal.

"Kau harus tau, tak ada iblis yang setampan ini."tak dinyana, ternyata Sasuke merespon, meskipun respon yang ia keluarkan bahkan akan lebih baik lagi bila tidak usah di ucapkan, Sakura menyesal setengah mati kenapa harus menaruh rasa penasaran pada lelaki sialan itu? Dan sedari tadi ia menunggu respon lelaki jadi-jadian itu? Bahkan dirinya sampai repot-repot mendatangi kamarnya dan sekarang terperangkap di dalam bersamanya. Dan yang paling buruk dari semuanya, ia harus membersihkan kamar orang tak tau diri itu.

"Dasar bodoh! Muka seperti itu kau bilang tampan?! Kau harus sering berkaca dasar lelaki tak tau diri!"

"Aku sudah bosan mengagumi wajahku sendiri."

"Siapa yang menyuruhmu mengagumi? Tak ada yang perlu di kagumi. Mata onyx itu, siapa yang akan tertarik dengan mata setajam mata elang seperti itu? Lalu hidung semancung itu mana mungkin enak dilihat? bibir setipis silet, bagaimana mungkin warna bibir seorang lelaki bisa semerah muda itu? Rambut yang mencuat tidak jelas dan lebih mirip pantat ayam, leher yang kelewat jenjang, dada yang bidang seperti petak sawah, tinggi menjulang seperti bamboo untuk panjat pinang, dari semua itu mana yang akan membuat wanita tertarik?"

"Aku baru tau ternyata kau pandai memuji."

"Aku tidak sedang memuji sialaaannn!"Sakura kembali mengacak-ngacak sprei yang baru saja ia bereskan, dan sekarang spreinya bahkan lebih acak-acakan dari keadaan semula.

"Tutup mulutmu dan kembali bereskan, Aku harus makan siang."Sasuke menjawab angkuh, kemudian Ia berjalan kearah pintu, Sakura tetap memandang Sasuke lekat-lekat, begitu lelaki itu menekan remot dan pintunya terbuka, ia merasa perlu melakukan sesuatu, tetapi apa? Sebelum pintu benar-benar tertutup, sebuah senyuman tampak di wajah Sasuke, mungkin bukan senyuman, melainkan seringaian. Sakura tetap memandang Sasuke yang terus saja menyeringai sampai pintu benar-benar tertutup.

"Siaaaallll! Kenapa aku malah memperhatikan lelaki bodoh itu?! Seharusnya Aku tadi ikut keluaarr! Ahh.. sialaaan!"

"Sakura-chan, Okaa-san diberitahu kakashi kalau kamu mengendarai sepeda ke sekolah, Nak. Apa benar?" Suara Uchiha Mikoto dari telpon nampak cemas, Ibu tiga anak itu memang sedang ada di Singapura menemani suaminya yang sedang menemui client disana.

"Hm, seperti biasa, Okaa-san."Sakura menjawab dengan mulut penuh, ia memang sedang sarapan dan bersiap berangkat. Sejak SMP, demi menyembunyikan identitasnya, Sakura bahkan tidak pernah diantar oleh Kakashi. Ia selalu bersepeda, bahkan sahabat terdekatnya-pun tidak mengetahui dimana rumahnya, Sakura selalu menolak bila Ino memintanya berkunjung, bila Ino tau rumahnya, identitasnya juga akan ketahuan. Ia sudah melakukan hal itu sedari dulu, tidak mungkin rencananya rusak sekarang.

"Tetapi dari rumah ke SMP kan dekat, Sayang. Tetapi untuk menempuh perjalanan ke SMA, bukannya jaraknya sekitar tiga kali lipat jalan ke SMP?"Ibunya masih mencemaskannya, suaranya masih terdengar khawatir. "lupakan tentang sepeda, Sakura-chan. Berangkat bersama Sasuke saja diantar Kakashi."

"Aku tidak akan terlambat, Okaa-san."

"Tetap tidak, Sakura-chan. Dulu Otou-san membela kamu karena jarak ke SMP memang dekat. Tak akan terlalu lelah bila ditempuh dengan sepeda, tapi kali ini jaraknya bahkan tiga kali lipat, dan Otou-san melarang, apalagi Okaa-san. Kakashi sudah ditugaskan Otou-san untuk mengantar dan menjemput kamu dengan Sasuke."Suara Ibunya mulai meninggi, Sakura menggigit bibir bawahnya bingung, ia tak ingin membuat ibunya marah, tetapi sekali lagi ia punya alasan yang kuat. Namanya mencari mati kalau berangkat diantar mobil mewah apalagi bersama Sasuke, rahasia yang sudah ia tutup-tutupi selama ini tidak akan Ia biarkan dengan mudahnya terbongkar.

"Baiklah, Okaa-san."

"Oke, Sayang. Jaga diri kamu ya, salam untuk Sasuke."rasa khawatir yang sedari tadi menyelimuti suara Ibunya sudah menghilang, nampaknya ia sudah tenang, Sakura menutup telponnya setelah menjawab 'Oke', dan membalas kecupan kecil dari ibunya yang terdengar dari ponselnya, dengan kecupan yang sama.

"Nona sekarang bisa bersiap, saya akan mengantar Nona Sakura ke sekolah, Tuan Sasuke sudah di mobil."Kakashi yang sudah diberi perintah oleh Ayahnya sudah mengambil tas Sakura yang ia letakkan di kursi sebelah yang ia gunakan untuk sarapan. Sakura menghabiskan minumnya dan menuruti supirnya, ia berjalan terseok-seok ke depan.

"Cepatlah!"suara yang sudah familiar di telinga Sakura sekaligus suara yang paling membuat ia kesal itu terdengar dari dalam mobil.

"Ah, Kakashi. Bawa sepedaku di belakang mobil,ya.. lalu turunkan aku di tengah jalan, Aku mohon."Sakura memasang puppy eyes-nya membuat Kakashi tak kuasa untuk menolak permintaan nona mudanya itu.

"Tetapi Tuan dan Nyona sudah—"

"Mereka tidak mengatakan kalau mereka melarang membawa sepedaku ke sekolah, kan aku tetap berangkat diantar olehmu ke sekolah, bahkan dengan Sasuke."

"Baiklah."Meskipun ragu akhirnya Kakashi menyetujui permintaan Sakura, membuat ia lompat-lompat kegirangan sebelum menyambar pintu mobilnya dan masuk, disana sudah ada seseorang yang sekarang tengah duduk di tengah dengan wajah suram dan tangan yang terlipat di dada.

Perlahan tapi pasti mobilnya itu bergerak, membawa kedua bocah Uchiha itu meninggalkan rumahnya. Semakin lama kecepatan mobil yang di bawa Kakashi itu semakin cepat, apalagi jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Di dalam mobil, Sasuke masih melipat tangannya, ia bahkan tidak menanyakan sama sekali alasan kenapa Sakura selalu meminta mengendarai sepeda, ia juga tidak terlihat ingin membuka pembicaraan.

"Sasuke, kau dekat dengan Sai?"tiba-tiba saja Sakura membuka mulut, mungkin saja kekasih Ino itu dekat dengan Sasuke. Bila hal itu terjadi akan gawat sekali, bagaimana jika Sai tau kalau Sakura bersaudara dengan Sasuke? Ia tak bisa membayangkan, Ino yang pasti akan marah besar mengetahuinya. "Jangan katakan pada siapapun kalau kita bersaudara, ingat perjanjian itu."

"Apa di sekolah kau tak punya teman?"respon yang diberikan Sasuke malahan balik bertanya, ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Sakura sama sekali dan menanyakan hal lain.

"Apa maksudmu! Tentu saja aku punya."Sakura merasakan getaran ketakutan pada suaranya, dirinya yang kesulitan bergaul pasti akan diketahui Sasuke cepat atau lambat.

"Aku tak yakin gadis yang sulit bergaul sepertimu akan punya teman, apalagi kau menyembunyikan identitas Uchiha dan hanya menuliskan nama depan saja, seperti tak punya asal-usul keluarga yang jelas. Orang manapun akan berpikir dua kali untuk memintamu menjadi temannya."

Ternyata Sasuke mengetahui semuanya, tidak hanya soal dirinya yang kesulitan bersosialisasi, ia bahkan mengetahui perihal menyembunyikan identitas dan penghapusan nama keluarga di namanya saat mendaftar sekolah.

"B-bagai.. bagaimana kau tau?"

"Kalau kau terus begitu, kau tak akan punya pasangan ke acara itu."

"Acara apa?"

"Tidak, lupakan saja."Sasuke menatap jam yang terlingkar manis di tangannya, dan segera menyuruh Kakashi mempercepat laju mobil yang di jawab anggukan oleh Kakashi.

Sakura melongo, ia mencerna kata-kata Sasuke. Sepertinya ia pernah mendengar kata-kata itu. Ah ya, Ino juga pernah menyebutkan hal itu, apa akan ada acara yang mengharuskan tiap orang datang berpasangan? Apa yang harus dilakukannya? Siapa yang akan ia ajak sebagai pasangannya? Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu gusar, kalau memang benar akan ada acara semacam itu, lebih baik ia mati saja, ia bahkan belum mengenal satupun lelaki yang ada di kelasnya, teman perempuan saja belum semuanya ia kenal, bahkan ia masih canggung bila hendak membuka suara pada tiga orang yang sudah Ino kenalkan kemarin. Bagaimana nasib dirinya kalau tak ada lelaki yang dapat ia ajak ke acara itu? Sakura, tamatlah riwayatmu!

TBC

Aku bingung mau ngomong apa, aku bales review aja ya.. aku ngga begitu puas sebenarnya sama update'an kali ini.

hanazono yuri : ini udah lanjut, ya kalem hubungannya bakalan makin baik tapi pelan-pelan,ya..wkwk

Kiki RyuSullChan : Ini udah apdet, tapi ngga bisa sekilat ituu.. hehe.. sebenarnya sih, udah diketik lama, tapi ada gangguan#eh, malah curcol.

Manda Vvidenarint : jelasnya nanti ada sesuatu kok, diantara mereka.. iya, aku juga penasaran #baka, sapa yang bikin ceritanyaa -_-

kimmy ranaomi : makasiiiihh (peluk cium) #ih, aku apaan-_- ini udaah lanjuuut :)

azizaanr : Iya, Sasusaku dong. Mereka kan peran utamanyaa..wkwk. Btw, aku masih newbie, ngga pantes di panggil senpai. :)

6934soraoi : Iya, entahlah kenapa bisa rusak gitu tulisannya, gomen-ne.. Ehm, gimana ya? tunggu selanjutnya aja,ya :) #sok privacy, wkwk. Summary-nya? Wah, aku awalnya ngga yakin sama summary-nya.

misakiken : Hehe, jadi itu Sakura bukan kaget karena perubahan fisik atau apa, dia cuma kaget ternyata cowo yang jadi trending topic itu sodaranya sendiri. Hehe.. gitu. Wkwk

mmm : Oke, makasiih.. Iya, aku juga merasa begitu #tapi ngga dibenerin,ya-_-.. Iyaa.. semangaattt! makasiih :)Chinatsu : Ini udah apdett.. :)nah : Iya? makasiiih :) Ini udah apdeeett :)

Udah, gitu aja wkwk.. Terimakasiiihh buat yang udah mau baca ff abal-abal kaya gini-_- , aku sangat bahagia karyaku di hargai :)

RnR ya, kalo boleh :)