Kazuka : yay! chapter 2 datangg!!!
Yukina : Oh, ngapdet juga... Kirain bakal lo telantarin....
Kazuka : sebisa mungkin ENGGAK!! Kazu cinta pair ini!! Hue.... langsung jatuh cinta begitu liat dari pertama, meski di anime-nya Tite Kubo bikin yang cowok mati!!
Yukina : yah, ini pair langka sih... Tapi ada beberapa orang yang ternyata sepemikiran ama kamu yah.....
Kazuka : yah, begitulah..... Akh, udahlah, ntar kepanjangan talkshow-nya readers pada ngomel..... Key, baca aja.....
****I'm Not Yuri!****
BLEACH © TITE KUBO
I'm Not Yuri! © kazuka-ichirunatsu23
Soi Fon berjalan gontai ke kelas. Hari ini Jum'at. Agenda pertama dari sekolah hari ini adalah perpisahan dengan Yoruichi-sensei.
Satu pertanyaan yang menakutinya semnejak ia mendengar kabar Yoruichi akan pindah.
Bisakah ia tetap eksis di bidang yang ia sukai tanpa penyemangat, pembimbing, sekaligus partner yang tepat?
Dimana ia pikir, tak ada lagi orang yang akan lebih hebat dari Yoruichi. Padahal ia begitu memimpikan, suatu saat nanti, ia juga akan seperti Yoruichi, guru olahraga yang ahli di bidang lari cepat yang dikagumi murid-muridnya. Ia berlatih mati-matian supaya bisa menjadi sehebat Yoruichi yang ia rasa begitu jauh dari jangkuannya. Tapi bagaimana jadinya jika pelatih terhebatnya harus pergi bahkan sebelum ia menguasai dan melampauinya?
Soi Fon melempar pelan tasnya ke atas meja. Langsung duduk dan memandang ke luar tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Ehn.... Ohayou, Soi Fon....." seorang gadis bermata violet menyapanya.
"Eh, Rukia-san? Ohayou...." jawabnya malas.
"Apa benar, Yoruichi-sensei akan pindah?" Rukia menarik bangku, duduk di sebelah Soi Fon.
"Begitulah....." Soi Fon cemberut.
"Hn.... Soi Fon.... Kau tahu gosip yang sedang beredar di kelas kita tidak?" Rukia memelankan suaranya, mendekat pada Soi Fon, melirik sekitar, apakah ada mata yang sedang mengawasi mereka.
"Gosip apa?"
"Hn.... Ada yang mengatakan.... Bukan aku lho..... Aku juga mendengar dari mereka.... Katanya.... Kau yuri ya? Penyuka sesama jenis?"
"Ha? Aku? Yuri? Aku sudah biasa mendengarnya kok....."
"Kau tidak menepisnya? Itu gosip buruk yang merusak namamu..... Katanya, kau punya hubungan khusus dengan Yoruichi-sensei. Soalnya mereka sering melihat kau dan Yoruichi-sensei berdua...."
Soi Fon tertawa kecil. "Kalau aku yuri, kenapa Yoruichi-sensei menikah dan mau pergi ikut suaminya?"
"Yah.... Aku juga tidak tahu.... Tapi aku dengar dari mereka begitu....."
"Aku bukan yuri, Rukia-san.... Aku cuma sangat mengaguminya. Salah ya?"
"Err.... Tidak juga sih....." Rukia mengangkat bahunya.
"Mereka beranggapan seperti itu, pasti karena aku yang tidak pernah dekat dengan laki-laki, dan selalu bersama Yoruichi-sensei. Aku cuma mengaguminya. Aku lebih suka mengurus cita-citaku daripada hal-hal yang berkaitan dengan laki-laki...." Soi Fon memutar bola matanya.
"Begitu ya? Hn.... Maaf ya, jadi menyampaikan sesuatu yang aneh-aneh kepadamu...." Rukia berdiri.
"Tak apa. Biasa saja." Soi Fon kembali cuek, Rukia meninggalkannya sendirian lagi.
Haha.... Yuri? Konyol.... Batin Soi Fon geli.
Peringatan dari pengeras suara sekolah kemudian terdengar. Perintah berupa permintaan bagi murid-murid untuk berkumpul di halaman membuat mereka mau tak mau harus menurutinya.
"Ya... Anak-anak.... Terima kasih telah berkumpul. Kali ini, acara perpisahan sederhana dengan salah satu guru kita, Yoruichi Shihouin yang akan pergi ke luar kota beberapa hari lagi." suara salah satu guru membuka acara kecil-kecilan di pagi itu.
Soi Fon cuek. Ia hanya asyik mendengarkan musik dari earphone yang dipasangnya sembunyi-sembunyi.
Basa-basi dimulai. Tak banyak murid yang memperhatikannya. Sebagian cuek, sebagian asyik mengobrol dengan koloninya sendiri, tapi ada juga yang memasang tampang serius.
"Minna.... Selamat berjuang ya! Baik-baik dengan guru yang baru. Dan yang penting, kembangkan kemampuan kalian." tutup Yoruichi, disela pidato perpisahannya.
Soi Fon menatap kosong. Siapapun dapat menebak apa yang sedang dipikirkannya. Menatap kosong tanpa ekspresi, menggambarkan bahwa ia sedang merenung dalam. Kehilangan guru tersayang pasti sangat tidak menyenangkan.
"Dan, aku ingin memberikan sesuatu pada salah seorang murid kesayanganku....." Yoruichi memandang sekeliling dengan tatapan mengandung tanya tanya besar.
"Soi Fon, bisa kau maju kesini?" tanyanya berlanjut, melirik pada Soi Fon yang sedang berada di ujung barisan paling kiri.
Soi Fon tersentak kaget. Teman-temannya mendorong-dorong tubuh mungilnya, membuyarkan lamunan mimpi akan cita-cita yang sedang dilakukannya barusan. Dengan tatapan kesal pada teman-temannya ia pun maju menuju Yoruichi di depan barisan.
"Nah, Soi Fon. Terima ini. Kenang-kenangan dariku." Yoruichi menyerahkan sebuah kotak kecil berbalut kertas kado kuning cerah.
"Yo.... Yoruichi-sensei?"
"Ya, terimalah. Kuharap kau senang menerimanya. Belajar yang baik ya!" Yoruichi mengacak-acak rambut Soi Fon.
Soi Fon tertunduk malu, dan ia mengalihkan pandangannya ke arah teman-teman di barisannya. Banyak yang saling berbisik mencurigakan, menatap penuh tanda tanya, dan ada juga yang terkikik tak jelas. Soi Fon yakin, teman-temannya sedang membicarakan sesuatu tentang dirinya, terbukti dari tatapan mengesalkan dari mereka.
"Semuanya, maaf ya, jangan anggap aku tak adil hanya karena memberikan hadiah ini pada satu orang. Aku sayang kalian semua! Ja nee! Selamat melanjutkan cita-cita kalian! Semua kesalahanku, tolong jangan kalian masukkan hati ya! Ganbatte kudasai!!" Yoruichi melambaikan tangannya pada seluruh murid, bersiap meninggalkan tempatnya berdiri saat ini.
Soi Fon bersiap untuk kembali ke barisan asalnya. Tapi tangan Yoruichi menahan bahunya sebentar, seraya membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Teruskan cita-citamu ya! Kejar aku! Tapi, jangan lupa hakikatmu sebagai remaja yang butuh cinta...." katanya menepuk-nepuk pelan bahu Soi Fon, dan pergi darinya.
"Yoruichi-sensei....." Soi Fon menatap punggung Yoruichi.
Ia tertegun sebentar. Mencari makna yang jelas dari perkataan Yoruichi-sensei barusan. Tapi, ah, ia kurang mengerti. Biarlah ia renungkan nanti. Ia pikir, itu pasti nasihat terbaik yang pernah dimilikinya. Segera ia kembali ke barisan. Walau ia enggan. Pasti ribuan pertanyaan menjengkelkan akan mampir di telinganya dari mulut-mulut tak berperasaan disana.
"Buka Soi Fon! Buka hadiahnya sekarang!" sambut seorang temannya.
"Iya! Ayo, buka! Kami ingin tahu apa isinya!!" desak yang satu lagi.
Soi Fon menurutinya tanpa berkata-kata. Tangannya dengan tangkas merobek kertas pembungkus itu tanpa keraguan.
Pelan-pelan dibukanya. Semua teman yang mengerubunginya menatap dengan penuh rasa penasaran.
"Wah! Gelang! Kerennya!!" saat Soi Fon mengangkat benda itu dari kotak kecilnya.
"Wah!! Romantis sekali! Seorang guru wanita memberikan gelang pada salah seorang murid wanitanya!!" celetuk salah seorang dari samping kanan Soi Fon.
Soi Fon menatapnya dengan kesal. "Apa maksudmu, hah? Romantis?"
"Ahahahaha!!!" orang itu dengan tidak bertanggung jawab langsung kabur tanpa mempedulikan Soi Fon yang kesal setengah mati.
"Gelang? Aku mencurigai kalian, Soi Fon. Tidak biasanya seorang guru memberikan hadiah pada muridnya saat ia akan pergi. Gelang lagi. Tapi aku akan lebih curiga kalau Yoruichi-sensei memberikan cincin padamu!" singgung satu orang lagi. Membuat Soi Fon hampir menendang orang itu kalau dia tidak kabur sepuluh detik sebelumnya.
"Soi Fon, jangan-jangan kalian....."
"Yuri?" sambung salah seorang kompak dengan orang sebelumnya.
Soi Fon mendengus kesal. Ia benar-benar marah sekarang. Ia tidak suka dibilang seperti itu. Ia cuma KAGUM! Bagaimana caranya agar ia mampu membuktikannya?
Muak dengan celetukan-celetukan menyakitkan hati itu, Soi Fon pergi meninggalkan mereka yang seperti tidak punya rasa penyesalan. Ia hanya menyendiri di pojok halaman sementara yang lain masih berada dalam barisan, memperhatikan siapa lagi yang berada di depan mereka, sekedar acara basa-basi ala guru-guru.
Ia memasang gelang itu. Gelang perak itu memiliki sebuah 'ekor' berupa untaian tulisan "GANBATTE!". Sebagai semangat tambahan jika melihatnya.
Soi Fon tersenyum kecil. "Terima kasih, Yoruichi-sensei...."
"Yuri!"
"Hii....."
Ucapan-ucapan nakal itu hinggap lagi di telinga Soi Fon. Dilihatnya kesana, teman-temannya ada yang menatap beraura mengejek, tapi di lain sisi ia juga melihat teman-teman yang menatapnya penuh simpati, dan wajah mereka seperti mengatakan, "Jangan pedulikan mereka, sabarlah." Orang-orang itu adalah Rukia, Orihime, Momo, dan Tatsuki yang memang terkadang menghiburnya.
"Aku bukan yuri, bakayaro!!!" Soi Fon meneriakkan kata-kata itu, seraya berlari cepat, yang memang merupakan keahliannya, menuju lapangan belakang sekolah. Telinganya panas mendengar kata-kata tak bermutu itu.
***
Soi Fon terduduk lelah. Nafasnya memburu, keringatnya berlomba turun dari pelipis hingga dagunya.
Semenjak Yoruichi pergi, ia hanya berlatih sendirian.
Kali ini juga, sudah seminggu Yoruichi pergi.
Padahal kali ini bukan pelajaran kosong yang membebaskannya untuk berlatih tenang. Malah Ukitake-sensei sedang mengajar di kelas. Tapi ia tak peduli itu. Ia sedang mood untuk berlatih kali ini, ingin memecahkan rekor Yoruichi berlari cepat.
Tapi, hingga tulang-tulangnya merengek lelah, rekor itu belum juga ia capai.
Seandainya ada Yoruichi disini, mungkin akan lain ceritanya. Apapun tentu akan lebih enak jika bersama pelatih bukan?
Ia sekarang sendirian. Tak ada guru, pelatih, pengawas, bahkan satu teman atau partner pun yang bisa diajak berbagi soal cita-cita yang sangat ingin dikejarnya, diraihnya.
"Yoruichi-sensei...." ucapnya pelan.
Tulisan penyemangat di gelang yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu tak juga bisa membuatnya berdiri lagi. Tubuhnya sudah terlalu lelah, tak bisa merespon semangatnya yang begitu menggebu untuk terus berlatih.
Sejurus kemudian, Soi Fon menggerakan kepalanya ke belakang.
"Siapa disana?"
"Jawab! Aku tidak suka orang yang bersembunyi seperti itu! Pengecut!" katanya kembali.
Matanya menatap tajam ke sela pepohonan di dekat lapangan kosong itu. Ia yakin beberapa detik yang lalu ada seseorang disana. Ia mampu merasakan itu, instingnya meyakinkannya.
"Hei!! Keluarlah!" Soi Fon berdiri, membalik badan.
Tapi tak ada jawaban.
"Ah, pengecut. Main kabur."
Soi Fon sebetulnya sangat ingin meneruskan berlatihnya. Tapi, yah, ia sudah tak mampu lagi. Ia lebih memilih kembali ke kelas, siap dengan resiko apapun atas kemalasannya masuk kelas hanya karena berlatih.
***
Kapanpun ada waktu, waktu itu untuk berlatih.
Motto Soi Fon yang selalu dipegangnya. Semenjak kecil ia senang berlari-larian, bahkan teman-temannya pun ia tantang untuk lomba lari cepat.
Beranjak remaja, ia mulai mengenal cabang olahraga lari cepat. Tambahlah ia suka dengan bidang itu, dan bertemu Yoruichi yang ia anggap pelatih terbaik sepanjang masa, dan belum mampu ia tandingi hingga detik ini.
Nasihat Yoruichi, "Selalulah berlatih jika ada waktu dan kesempatan."
Hal itulah yang menjadi pangkal dari motto tadi.
Berlari di koridor sekolah dan naik tangga dengan cepat pun ia anggap sebagai latihan.
Pagi ini juga, ia sudah bersiap akan memulai langkah cepatnya, menerobos kerumunan orang-orang yang berjalan pelan menyusuri koridor yang lumayan luas itu.
Soi Fon tersenyum bangga ketika orang-orang menatapnya kagum akan lari cepatnya. Bukan menyombong, tapi membuatnya semakin yakin, inilah jalan hidupnya.
BRUAKH!
Suara tabrakan antar dua umat manusia itu tak dapat terhindarkan. Karena larinya, tiba-tiba Soi Fon menabrak seseorang.
"Awh...." Soi Fon meringis pelan, memegangi kepalanya yang sakit akibat berbenturan dengan seseorang tersebut.
Soi Fon kesal. Dalam sejarah hidupnya baru kali ini ia lari cepat hingga menabrak seseorang. Padahal ia sudah mengontrol sebaik mungkin agar tidak menabrak objek apapun yang ada di depannya. Soi Fon yakin, pasti orang ini juga sedang berlari dengan kecepatan yang sama dengannya.
Tapi siapa? Soi Fon tidak pernah menemui satu orang pun di sekolahnya yang bisa lari secepat dirinya, kecuali Yoruichi. Yang tentunya sudah tidak berada di sekolah ini lagi.
"Kalau lari hati-hati!" seru orag yang menabraknya tadi.
Soi Fon membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih agak terasa melayang-layang.
"Yoruichi-sensei??!!" pekiknya, saat menatap langsung ke mata orang tersebut.
Orang yang tengah berdiri di depannya hanya mengernyitkan dahi, menatap Soi Fon bingung.
-To Be Continued-
Kazuka : Fuah.... akhirnya bisa selesai juga.... Ngetiknya mepet banget, abis besoknya ada ulangan sih...
Yukina : INI ADALAH SISWI YANG SANGAT AMAT TAK PANTAS UNTUK DITIRU!!!! *pake mike dengan sound system berkekuatan 1000 watt PMPO -??-*
Kazuka : Lah, biarin lah. Suka-suka gue tau! Pala gue mampet dirasukin pelajaran mulu! Ya nyantai aja, bikin fic..... *cuek ala bebek tetangga*
Yukina : banyak bacot....
Kazuka : Lha kamu? Belagak pendiam lu! Semuanya pada belum tau aja asli lo gimana!!
Yukina : *swt*
Kazuka : Apa? ngambek? protes?
Yukina : *cuek, asyik mantengin sesuatu*
Kazuka : ngapain lo? *penasaran, mepet ke Yukina*
Yukina : *tatapan curiga* geser dikit napa? ntar ada yang nabok gue karena lu dekat-dekat.....
Kazuka : *blushing* Urusai! Apaan sih yang lu baca?
Yukina : nih, review-an dari chapter 1! Jawab gih!
Kazuka : *nyiapin sesuatu yang gede*
Yukina : apa itu?
Kazuka : nih, cara baru bales review dariku!! *ngebentangin poster gede, isinya balesan review*
ISI POSTERNYA :
Jawaban review:
Jess Kuchiki : hwah.... Jess udah tau kan? haha.... nih, kazu masukin yang kata Jess, mata si pairnya mirip ama Yoruichi!! Emang mirip!! Tetep ikutin ya!
Ruki_ya_ch : hn... udah bisa nebak kan? di akhir chapter ini ada clue-nya!
: OOI!!! *ngejawab pake toa dari puncak Himalaya* nih, udah muncul di chapter 2!
NaMie AmaLia : Iya!! Yukina suka biru!!! karena kazu juga suka biruu!!! *meluk Yukina ama NaMie bareng*
Kishina Nadeshiko : eh, ada OC baru nih! Kenalan dong ama OC kazu!! *nyorongin Yukina*
Qie Kurosaki : pairing terbaru di FFn nih! Yay! dah apdet nih!
Orange Burst : Iya!! Pengen coba pair unik!
Hinamori14137 Yoriko : yang jelas bukan Oomaeda! haha.... Hn... makasih sarannya ya!!
Chizu Michiyo : hn... kayaknya Chizu udah bisa nebak nih.... Hehe...
whitenight-sapphire : makasih, makasih!! udah apdet yo!!
RodeoHyourinmaru: makasih, makasih.... iya, Yukina tuh asisten, hn.... mungkin mau saia sebut sebagai 'best partner'.... eh, kazu CEWEK lho!! Dari mana kau duga saia nih cowok???
red-deimon-beta : makasih.... makasih.... Kira? Oh, no! He's mine!! *ditendang, digorok, dikemplang* bukan... Di akhir cerita udah terungkap kan?
---
Kazuka : naah.... cara unik gue nih!
Yukina : alah... apaan nih??
Kazuka : biarin! Weeekk! Ini baru percobaan.... Ehn.... Kii-chan, apa ini cuma persepsi kazu aja ya.... kazu milih olahraga yang Soi Fon sukai tuh lari cepat, karena kazu mikir, dia tuh memang cocok, abis aslinya kan shunpo-nya hebat, nah, gitu aja..... Apa lari cepat ini gak mirip Kobayakawa Sena dari Eyeshield 21?
Yukina : yah... memang sih... tapi kan itu tentang football? sedangkan kazu, kan cuma sampingan aja, dan genre utamanya bukan itu, tapi persahabatan dan romantisme kan?
Kazuka : hnn.... mungkin bener juga katamu. Menurut readers gimana? Padahal gak sengaja lho.... waktu ngetik salah satu chapter, kazu baru nyadar! .
Yukina : begitulah. Itu cuma kebetulan. Bukan kesengajaan, karena author ini sendiri gak paham Eyeshield 21.
Kazuka : eh, tumben lu dukung gue?
Yukina : ini kan demi keberhasilan ficmu sendiri! Kalo nih fic gagal, lu paling pundung sendiri gak jelas di pojok kamar..... Ya elu mesti dikasih semangat dan dukungan!!
Kazuka : Jangan bongkar aib!!
Yukina : masi mending gue cuma cerita itu! Coba kalau yang lain, misalnya, sisi rahasia kehidupan cintrongmu! Cinta pertamamu! Bakal ancur kan reputasi lo!
Kazuka : *blushing parah* BEGOO!!! Rahasia terbesar gue tau! Kenapa jadi diomongin disini?!!
Yukina : ya makanya!! Be positive, friend! Because positive thinking is the best way for reach the success!!!
Kazuka : alah. Sok pake Inggris-Inggrisan pula! Emangnya lu belajar dimana? Ikutan dong!!! *muka tembok*
Yukina : topik nyasar! udahlah. talkshow gak jelas untuk chapter ini nyampe sini aja. Tunggu chapter selanjutnya ya!! Tetep setia!!! ^^
